Yeah, Cuma Mimpi Kok

dream

Dear xxxxxxxxxxxxxx,

Anggap aja gue lagi cerita sama lo ya.

Tadi pagi gue bangun dengan perasaan campur aduk. Gue bangun telat, awalnya karena sakit perut. Mungkin terlalu banyak makan sashimi semalam bareng Rei.

Gue makan di tempat resto sushi yang elo kasih tau ke gue. Yang akhirnya jadi favorit gue dan teman-teman gue.

Hebat lo, bisa bikin apa pun yang elo kasih ke gue jadi gue suka. Padahal gue picky banget anaknya.

Tapi ternyata bukan itu yang ngebuat gue kelamaan tidur.

Di mimpi tadi gue ngeliat elo bareng temen-temen elo. Bareng pacar lo yang baik itu dan ada bayi digendongan pacar lo. What happened next was you say hello to me, but you know, I was to afraid to response it.

Even simple thing like to ask ‘how are you’, i don’t even have that gut to talk to you. I don’t know why.

Masih teringat bagaimana gue cuma diem terus jalan nyelonong aja. Typical of me.

Dan gue ngeliat mimik kecewa elo, seperti wajah yang elo kasih ke gue saat terakhir kita ketemu. Wajah bingung dan sedih elo. Mungkin dalam hati elo bertanya-tanya, ‘kenapa kita harus berakhir seperti ini?’.

Tapi kenyataan di dunia nyata bahwa saat itu elo engga bisa berbuat apa-apa dan elo terlalu bingung dengan banyak hal.

Gue milih untuk pergi, karena itu kelewat painful buat gue.

Dan berakhirlah kita seperti ini, dua orang asing yang tidak sengaja bertemu, kali ini dengan memori. It was a sad moment for both of us. Even it just only fucking a dream.

I think I miss you.

Kata orang, kalau kita mimpi ketemu orang yang kita kenal, dan udah lama enggak ketemu. Artinya one of us lagi kangen, tapi enggak sadar aja di dunia nyata, karena semua perasaan itu kita tekan. Dan alam bawah sadar kitalah yang ngedeliver itu ke mimpi.

Dan gue baru sadar, kita udah engga ngobrol selama setahun ini.

Gue ngelewatin hari paling penting di hidup elo. Pernikahan elo.

Simplenya sih, ya karena gue engga diundang sama elo.

Padahal dulu itu adalah hal yang selalu kita bahas; makanan apa aja yang akan gue makan di sana, tentang dekor lo yang pengin kayak Star Wars (you such a geek), atau se-simple pertanyaan ‘gue dateng telat engga ya ke pernikahan elo?’. Dan kita selalu mengulang itu setiap harinya.

Fakta bahwa elo engga ngundang gue dan gue cuma bisa bilang, ‘selamat ya buat hari ini’ lewat LINE. Adalah titik di mana gue sadar, ini semua sudah berakhir. Engga ada lagi yang bisa diselamatkan.

Times goes by, gue bertemu dengan temen-temen baru di kantor lama gue yang gue engga nyangka bisa get along dan cocok banget. Kami semua hang out bareng, nginep bareng. Banyak deh. Hal-hal yang baru gue sadar engga pernah kita lakuin sewaktu sekantor dulu.

Oh iya, gue pindah kantor lagi. Elo tau kan gue anaknya engga suka sesuatu yang stagnan. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa gue marah banget sama elo saat itu. Ketika kita gini-gini aja. Elo lagi rajin ngediemin gue, padahal saat itu gue lagi berada di posisi yang  butuh elo banget.

Tapi kata orang-orang gue egois, karena elo juga lagi ribet sama persiapan pernikahan elo.

I see, kita sama-sama egois saat itu.

Tapi semuanya sudah lewat juga.

Setelah dua tahun, setelah mimpi itu pagi ini, hari ini gue pun dateng telat.

Bingung dengan semuanya gue pun menambah ketidakprofesional dengan menghilang dan pergi ke kamar mandi selama berjam-jam. Di sana gue cuma duduk di toilet dan berkubang dalam kesedihan ini entah kenapa.

Gue rasa gue cuma keingetan elo aja. Dan kenyataan bahwa elo bahkan engga inget ulang tahun gue kemarin semakin menguatkan gue untuk menghapus chapter tentang elo di hidup gue, sama seperti orang-orang lainnya di masa lalu gue.

Semoga elo baik-baik aja di sana. Gue harus balik kerja lagi, dan kali ini gue beruntung sedang bersama orang-orang yang emang bener-bener mau perjuangin gue di hidup mereka. Not like you who has given up on me.

Advertisements

Demam Awkarin

Screen Shot 2016-07-26 at 3.13.41 PM

Kemarin saya janjian makan malam dengan Tania, teman kantor lama saya. Pilihan kami jatuh pada tema all you can eat ala makanan Jepang di City Walk.

“DAGING, Jem!” teriak Tania girang.

Keakraban kami terjalin karena fakta bahwa kami sama-sama karnivora kelas berat dan, ehem, suka makanan gratisan.

Saat sampai di depan resto tersebut kami tercekat ketika melihat harga menu all you can eat yang terpajang, ada perasaan ragu muncul. Seperti, “Masihkah kami bisa hidup di bulan depan?”

Lalu Tania menggunakan otak ITBnya, dengan menghitung bill makanan kami (termasuk pajak) nantinya ditambah dengan hutang-hutang kartu kredit dan cicilan, dan mendapatkan hasil bahwa dapat dipastikan sebulan ke depan menu makanan kami hanya promag di mix dengan nutrijel rasa pandan.

Tapi didorong hasrat yang besar untuk memanjakan diri, kami pun melangkah pasti memasuki resto dengan dagu terangkat saat Mbak-Mbak pramusaji berteriak lantang, ‘MARI KAKAK!!!’ ketika menyambut kami berdua. Kami kalah dengan perut sekali lagi.

Setelahnya adegan yang terjadi, seperti para karnivora soleh lainnya yang melihat daging, kami pun makan dengan kalap. Tanpa rasa malu memesan daging setiap sepuluh menit sekali.

“Kok bisa enak banget ya daging? My LOVEEE,” ujar Tania sambil mengangkat irisan tebal daging tersebut lalu mencampurnya dengan rempah-rempah (yang gue lupa namanya, tapi enak) dan keju cair yang DEMI APA PUN ENAK BANGET. Ia sebut hal tersebut sebagai kontemplasi stadium tiga. Dunia mengecil. Yang tersisa hanya dia dan daging di tangannya.

Sejam sudah, waktu kami tinggal tiga puluh menit lagi. Sembari menunggu pesanan yang lain datang, Tania menunjukkan handphonenya kepada saya.

“Udah tau soal Awkarin? Liat videonya deh.”

Ada satu video yang berisi dua orang cewek berusia di awal dua puluhan sedang menjelaskan sesuatu soal ‘roda pasti berputar’ dan ‘semua orang pasti punya salah’ kemudian dilanjuti dengan iringan tangis histeris cewek satunya yang nantinya akan saya kenal dengan nama Awkarin.

Lalu dari satu video, Tania menunjukkan video lainnya, dan kami berakhir men-stalking Instagram Awkarin dan mantannya yang bernama Gaga (which adalah yang ia tangisi di video tadi. Gaga mutusin Awkarin sehari sebelum ulang tahun Gaga, dan Awkarin tetap buat pesta kejutan untuk Gaga, kali ini sebagai seorang teman saja, mengutip apa yang diutarakan Awkarin dalam videonya. Aw, sweet banget).

Tania pun menjelaskan dengan telaten siapa-siapa saja yang ada di dalam video-video Awkarin. Juga Tania ikut berkontribusi akan terbentuknya teori konspirasi mengapa Gaga mutusin Awkarin dan teori-teori alternatif lainnya. Dipastikan Tania menghabiskan waktu luangnya dengan sangat baik untuk menghafal rantai kehidupan sosial Awkarin.

“Dia mau ngasih kado DRONE dong ke si GAGA! Drone aja harganya minimal 13 JUTA! Gue mau ngasih kado sepatu ke pacar gue yang cuma 10 persen dari harga drone, harus nyicil enam bulan,” kata Tania heran.

“Duit dari mana ya dia?”

“Di endorse dari brand-brand di Instagram,” jawab Tania dengan ekspertnya. Seolah telah tamat membaca 101 Things About Awkarin.

Saat meneliti konten Instagram mereka berdua, sejujurnya harus diakui mereka memiliki estetika kualitas foto yang baik secara warna dan komposisi.

“Hmm, boleh juga nih anak,” puji saya. Tulus.

“Tapi, gue kalau jadi orang tua, engga mau loh anak gue kayak gini,” ucap Tania saat menghabiskan sisa daging terakhir kami.

“Itu egois engga sih? We judge her, talking shit about what she did, padahal kita saat labil-labilnya dulu engga jauh beda seperti Awkarin ya. We smoke, we got drunk, less PDA dan dronenya aja sih.”

“Bebas sih sebenarnya. Doi punya badan bagus plus sama borju juga. Kita yang kere pasti iri liatnya.”

Kami berdua tertawa miris, karena kenyataan sampai sekarang masih begini-begini aja kehidupannya.

“Tapi takut aja, ngeliat anak gue nantinya behavenya kayak gitu. Deep down gue tau, gue bukan manusia yang baik. Tapi setidaknya gue sekarang belajar untuk jadi lebih baik lagi,” aku Tania.

“Paham kok paham. Mungkin si Awkarin juga belum ke arah sana. Tapi engga adil buat dia dijadikan benchmark sebagai moral remaja di sini. Dia engga punya tanggung jawab apa-apa sih sebenarnya, terlepas banyaknya orang yang akhirnya ngikutin gaya hidup dia.”

Tania mengangkat pundaknya, “It’s her life then.”

Lalu datang Mbak-Mbak Pramusaji dengan selembar kecil total makanan kami yang ternyata engga kecil harganya.

Split bill ya, Mbak!” teriak kami kompak.

— –

Di jalan keluar, saya menumpang pulang dengan mobil Tania. Ketika hampir sampai depan kosan, kami harus memutar di depan lampu merah. Saat kami ingin berputar, dari arah depan ada satu motor yang seharusnya stay karena lampunya jelas-jelas merah, dia malah jalan selonong dengan santainya.

Kami berdua pun memaki-maki dengan kesal.

“Anak ANJING!”

“Jangan, anak anjing lucu! Kebagusan.”

“Apa dong?”

“Anak Farhat Abbas!”

Saat sampai depan kosan, saya berpamitan dengan Tania. Namun tidak beberapa lama ada sesuatu yang mengusik saya.

“Tan,” saya mengetuk kaca mobilnya.

“Apa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tania bingung.

“Elo sadar kan? Kita muterin mobil di jalan tadi juga sama salahnya dengan si pengendara motor tadi?”

“Ya kan itu jalanan terdekat ke sini, kalau muter di depan jauh.”

“Tetap salah engga sih?”

“Salah sih. Tapi udah nyampe juga. Udah gue ngantuk. Bye!”

Tania kemudian meninggalkan saya dengan lebih banyak hal mengganjal dalam kepala saya.

‘Kenapa kita harus marah padahal kita sama-sama salah? Kenapa harus ngerasa lebih baik?’

Saat sampai kamar saya mengintip kembali Instagram Awkarin kini dengan membaca beberapa komentar di postingannya. Lalu tak lupa melengkapi ke-kepoan saya dengan mensearch namanya di Google.

Banyak yang mendedikasikan tulisan tentang Awkarin, namun isinya lebih ke arah memojokan dan menyayangkan transformasi Awkarin yang sekarang.

Saya pun terpancing ketika membaca kemurkaan para penggiat moral internet yang merasa Awkarin bertanggung jawab atas tren gaya hidup ‘hedon vulgar, dan kebarat-baratan’ yang diikuti banyak anak muda di Indonesia. Sebuah kontra atas konon budaya timur yang sangat dijunjung tinggi di Indonesia ini. Entah deh budaya timur yang mana yang mereka bicarakan.

Karena serius deh. Memangnya Awkarin minta semua anak remaja di Indonesia ngeblonde-in rambutnya sambil teriak-teriak bilang anjing sambil ngerokok?

Engga toh?

Para anak-anak itu secara sukarela mengikuti Awkarin, seharusnya jika mereka considering apa yang Awkarin lakukan dianggap salah, adalah tugas para orang tua untuk meningkatkan komunikasi ke anak-anak mereka. Saya yakin, banyak orang tua yang sudah jarang mengecek dan berkomunikasi dengan anaknya jika membahas isu seperti ini.

Lalu salah siapa?

Ya enggak salah siapa-siapa.

Kita semua pasti pernah menjadi Awkarin di umur yang sedang ranum-ranumnya. Yang ingin mencoba banyak hal yang dulu dilarang oleh orang tua. Explore our body and sexuality.

About proudly doing stupid things for the sake of love, Sure we had an up and down moments when it’s about coping with hard break up. Also sometimes, we want to look badass by smoking, drinking alcohol and etc. We’ve been there before.

Bedanya sekarang di 2016 ini ada tren media sosial yang menghadirkan teknologi bernama Instagram dan aplikasi chat lainnya. Yang membuat Awkarin bisa memamerkan kehidupan pribadinya yang paling mikroskopik sekalipun.

Tapi mengapa dibanykanya anak muda yang juga sama seperti Awkarin, malah dia yang paling dikenal?

Karena ada demands yang tinggi. Semua orang diam-diam menyukai Awkarin. Seperti Tania. Di depan berkelakar, padahal dibelakang sebenarnya tahu betul apa yang akan dia lakukan di series vlog-vlog berikutnya.

Kenyataan bahwa di media sosial orang bisa bebas berkomentar apa pun yang mereka mau tanpa peduli dia kenal atau tidak dengan orang tersebut. Tinggal ketik di keyboard, mereka bisa mengetik hal-hal paling kejam, bengis, dan judgmental yang pernah ada. Seolah mereka yang memberi komentar menjelma menjadi nabi yang merasa memliki kehidupan lebih suci dibanding Awkarin.

Karena, siapa sih kita yang akhirnya memutuskan apa yang terbaik buat Awkarin? Liat saldo tengah bulan aja nangis, peduli amat ngurusin hidup orang. Biar itu jadi tugas orang tuanya dan Awkarin sendiri. Karena itu hak Awkarin sepenuhnya untuk menjadi seperti apa dirinya nanti. Bukan menuruti apa yang ‘society’ inginkan.

We do not walk in her shoes, so we know nothing about it. Tidak adil rasanya dengan semena-mena memberikan hujatan tanpa dasar pada dirinya.

Jangan-jangan kita sebenarnya tidak lebih baik dibanding Awkarin, jelas-jelas Awkarin tidak malu untuk menunjukan siapa dirinya, showing her true skin. Sedang kita, tak lebih dari orang yang tahu bahwa itu salah, terus melakukannya, lalu menutupinya dalam-dalam.

“Tapi, gue setuju. Gue engga mau anak gue nantinya kayak Awkarin. Anak gue harus kayak Maudy Ayunda,” saya mengirimkan chat tersebut ke Tania.

Menyedihkan bahwa kebanyakan dari kita menuntut seseorang menjadi sebersih Nabi, tapi diam-diam menikmati peran sebagai pendosa.

Yeah, life.

Sex and Sushi

nakedsushi.0

Di suatu jam makan siang setelah melalui meeting pagi yang melelahkan bersama klien. Saya, Kalula, Bian, dan Rei memutuskan untuk makan sushi di Lotte.

Alasannya karena, pertama kami baru gajian, kedua Lotte dekat dengan kantor kami, dan terakhir saya sudah merengek dari awal bulan ingin mencoba resto sushi baru yang konon chefnya adalah orang Jepang asli. Banyak yang datang ke sana dan bilang lidah mereka dimanjakan dengan keontetikan rasanya. Saya pun penasaran dibuatnya.

Saya, Bian dan Rei berangkat terlebih dahulu menggunakan Uber, sedang Kalula menyusul dengan gebetan-nya (do people still use term ‘gebetan’?). Saat sampai di resto sushi sushi tersebut, ternyata antriannya panjang minta ampun. Tiga puluh menit sudah kami menunggu, baik panggilan guest listatau kehadiran Kalula pun masih belum kunjung datang.

“Semoga sushi ini se-worthy itu untuk ditungguin,” desah Rei kesal.

“Pak Brian, silakan di meja lima,” panggil si Mba pramusaji kemudian. Kami akhirnya masuk dengan perut lapar dan hati yang berdebar karena jam 1:30 PM kami harus kembali ke kantor. Kami hanya punya waktu tiga puluh menit untuk makan.

Setelah sampai di meja, kami meneliti daftar menu yang sesuai dengan selera dan budget (karena masih ada 29 hari yang harus dilewati setelah gajian), akhirnya kami memutuskan untuk memesan dua sashimi mentah yang berisi lima slice besar salmon, dua piring toro, tiga volcano roll, tigaocha dingin, empat sake aburi (I’m so obsessed with it), dan tiga cawan musi.

Sambil menunggu pesanan datang, Brian menelfon Kalula menanyakan keberadaannya.

“Dia bilang sudah di depan, sendiri. Engga sama si gebetannya,” terang Brian.

“Loh, dia kan misah berangkatnya tadi karena mau jemput si Andra kan?” tanya Rei bingung.

I dunno, but thats what she said.

“Tau gitu dia bareng kita aja, bill Ubernya bisa di split empat orang, lebih murah,” ujar Rei kesal.

Kami bertiga mengagguk setuju, kemudian tertawa geli.

Kemudian tepat saat pesanan kami datang, muncul Kalula dari depan kami lalu duduk dengan air muka yang aneh.

“Mba, saya pesan sakenya ya satu. Tidak pake lama,” kata Kalula dengan nada tinggi.

“Kenapa sih?” tanya saya bingung.

“Emang anjing tuh cowok. Udah disamperin, udah gue dandan cakep gini, udah gue ikut Zumba sama diet mayo sampai pusing, eh dia masih loh enggak mau ngenalin gue ke teman-teman kantornya.”

Kalula memukul meja di depannya, membuat semua mata di tempat ini memandang ke arah kami. But sure, I can feel her pain through her shaking voice.

“Gue pikir, setelah beberapa bulan ini, its enough for him to choose me, rather than his girlfriend.” Sake pun datang, Kalula segera menegaknya.

“Kita laper, curhatnya nanti ya di kantor,” Bian mencoba melawak untuk mencarikan suasana.

It works. Kalula kemudian melampirkan senyuman diwajahnya. Lalu kami pun mulai memakan dengan brutal satu persatu sushi di depan kami.

I was romanticise everything about him, I do,” Kalula menyalakan rokoknya. Memulai prolognya sekali lagi.

“Seolah apa yang dia lakuin ke gue itu yang paling hebat. Dan ngebuat gue ngerasa, gue spesial. Padahal kenyataannya, dia emang gitu aja ke semua cewek. Dia cuma nganggep gue sekadar, women who cool to hang out with and easily to fuck with. Fuck my ass.

“Udah pernah back door? Sakit enggak? Pakai lubricant kan?” tanya Bian penasaran yang kemudian diriingi lemparan sumpit oleh Kalula.

Manajer kami sudah menelfon Bian. Kami pun memanggil Mba pramusaji untuk minta tagihannya.

Split bill atau gimana?” tanya Rei.

“Pakai kartu kredit gue dulu deh, nanti gue email detail tagihannya kayak biasa.” Brian memberikan kartu kreditnya.

Saat kami tengah sibuk dengan handphone masing-masing yang berisi chat dari teman sekantor minta dititipkan pesanan sushi juga. Kalula mengeluarkan alat make upnya. Menghapus eyeliner yang terpatri di matanya.

“I don’t believe in romance anymore. I think there is no such thing about romance. Because, romance only a pseudo projections of visual perception created by imaginations. I mean… people only made romance with good looking people, and shitnya gue ngelakuin itu ke dia,kata Kalula berapi-api.

“Am I right?” tanya Kalula penuh kekalutan setelah tidak ada respon dari teman-temannya.

“Excuse me, what are you just saying?” jawab kami bertiga kompak.

Whatever,” Kalula mengibaskan tangannya.

Lalu kami pun keluar dari Lotte dengan tenang. Tanpa Kalula yang berapi-api, atau imajinasi Bian yang sudah masuk ke klasifikasi porno.

Karena supir Uber tidak mau mengangkut empat penumpang, akhirnya kami berempat berpisah. Saya dan Kalula terpaksa harus naik taksi.

Di dalam taksi, Kalula tidak banyak bicara. Ia memandang kosong ke jendela. Riuh dengan isi kepalanya sendiri atas apa yang terjadi siang tadi.

“Gue udah pakai eyeliner, Jem. Sejam gue dandan di kamar mandi tadi. Elo tau kan artinya?” tanya Kalula tiba-tiba.

“Bahwa elo tadi telat ngumpulin report?” jawab saya sekenanya.

Kalula tersenyum tipis. Ini adalah yang seharusnya ia dengar, dibanding kata-kata racun seperti you’ve fallin’ for him.

“I can feel you, La. It happens to best of us, you falling with him who made butterfly on your stomach, you romanticise all things about that person. About the way he look, the way he talk, or what ever when he speak up his mind. Everything that comes out of his mouth feels like song in your head.”

Kalula masih menatap ke luar mobil, entah mendengarkan atau tidak.

“I was set all high expectation till I realised, he just not that good. He just like rest of us who have flaw and could harm me. And when I’ve get hurt, there’s no such good thing about alien or stupid dragon from his favourite series anymore.” Kalula meneteskan air matanya. Sepertinya ini bukan sekadar masalah tidak dikenalkan oleh teman-teman Andra.

I mad at that person. But, actually I mad with myself. Because, the only person that I can blame is myself. Andra engga pernah minta buat gue jadi selingannya,” Kalula dengan kasar menghapus segera genangan air yang keluar dari matanya.

Kami sampai di kantor dengan perut kenyang, tapi Kalula membawa jiwanya yang kosong bersamanya.

Hey, how about the sushi?” tanya seorang teman saat sampai di meja kerja.

“Hmm, sushinya biasa aja. Engga seheboh apa kata orang-orang,”

Lalu saya tersadar. Mengutip apa yang Kalula bilang, ‘manusia cenderung untuk meromantisasi apa pun. Dan melupakan rasa aslinya’. Jangan-jangan orang-orang yang datang ke resto sushi itu sebenarnya merasakan apa yang saya rasakan juga, biasa saja. Tapi karena semua orang terlanjur bilang enak, dan ini menjadi tempat wajib orang-orang gaul, mereka terjebak untuk melanjutkan kebohongan romantisasi rasa itu.

Pada akhirnya, yang dinikmati bukan sushinya, melainkan imaji kenikmatannya. Tidak ada yang lebih meyedihkan ketika hidup bahagia dalam suatu ketiadaan.

Terkadang, Ada Rasa Sakit Yang Bisa Dimaklumi

i
pic from tumblr

Hampir satu tahun saya tidak bertemu dengan teman saya satu ini, namanya Jeihan, seorang teman yang datang dari asas ‘dikenalin’ teman lain. Sebuah pola umum rantai pertemanan di Jakarta.

But, surprisingly we can get along. Karena Jeihan teman yang asik.

Asik karena Jeihan bisa diajak ngobrol topik receh tentang gosip underground para artis-artis Ibu Kota, siapa yang jadi simpenan siapa, sampai ke obrolan soal, ‘kenapa jadi single di Jakarta kok berat banget ya? Mungkin karena pengaruh kosmik dan konspirasi Yahudi di dalamnya ya, kak!’

Obrolan-obrolan random semacam itu lah.

Malam-malam kami ditemani dengan beberapa gelas bir dan batang rokok yang melegitimasi kami seolah menjadi bagian dari yang katanya masyarakat kelas menengah ‘ngehek’ Jakarta.

Oh, tak lupa untuk mengupdatenya di social media tentu saja.

(Tapi kenyataannya kami lebih banyak mengonsumsi martabak keju pinggir jalan sembari menyeduh kopi sasetan di kosan. Penjelasan yang tadi biar terlihat keren saja).

Talking about her, Jeihan dulu seorang penyiar di radio paling terkenal di kota Lampung. Pendengar dia banyak, karena seperti yang tadi saya singgung di awal. Jeihan seorang pribadi yang asik.

Time goes by, Jeihan dan beberapa teman dari Lampung memutuskan untuk hijrah melewati selat sunda, mengadu nasib di Ibu Kota Jakarta. Sampai semesta membawa Jeihan menjadi Mba-Mba kantoran, tepatnya sebagai Account Executive di salah satu radio swasta Jakarta yang sasaran pendengarnya para ‘pekerja muda’.

“Masih sama-sama di radio, Jem,” ujarnya suatu waktu.

Di kosan barunya yang berisi dua temannya yang lain (biar hemat katanya). Jeihan memasak pempek kesukaan saya (sebagai hadiah sudah lama tidak berjumpa, dia tahu betul saya penggila pempek). Sepanjang memasak (Jeihan memasak-saya update SnapChat) kami saling bercerita tentang apa saja yang kami lewatkan selama setahun terakhir.

Banyak yang terjadi, beberapa berubah, tapi ada hal yang masih tetap sama.

Jeihan menjadi satu-satunya orang lama di kantornya yang bertahan, di saat beberapa teman sejawatnya memilih untuk resign atau diberhentikan. Salah satu alasan mengapa Jeihan masih bertahan karena dia senang menjadi pusat perhatian. Ketika presentasi di depan calon klien, ia mendapatkan sensasi di mana semua mata memandang dirinya, semua telinga mendengarkan detail-detail yang ia ucapkan.

That’s the best feeling in the world, Jem,” akunya.

Good, if you do what you love.

Kemudian Jeihan berfikir sejenak.

“Sama dikejar target sih, Jem. Kalau hidup enggak ada target, pasti basi banget. Plain aja gitu.”

Ia memotong dengan telaten pempek yang sudah membatu dari freezer kulkas.

“Kalau target nikah gimana, Han?” tanya saya memberanikan diri.

Dia tertawa mendengar pertanyaan saya. Jeihan kini berusia dua puluh delapan tahun, dan masih single.

I already gave a chance to my ex-boyfriend to fix our relationship. But, ketika semua sudah dicoba. Dia tetap enggak berubah. Then, we decided to end our relationship.”

Ada jeda di sana. Kami melakukan platting ala-ala, kami memiliki ide menghias piring dengan beberapa cireng goreng.

“Tapi, beberapa bulan lalu. Something happened,” Jeihan mengangkat pempek yang sudah masak lalu menaruhnya di piring yang penuh dengan cireng goreng dan genangan cuko khas Lampung. (Bahkan saat menuliskannya saja, saya menelan air liur saya, saking nikmatnya).

“Apa tuh, kak?”

I met this guy. The perfect guy. Cowok paling cakep sepanjang karir percintaan gue.”

“SIAPA KAK? LIHAT DONG FOTONYA!” teriak saya antusias.

Dia lalu memamerkan foto si perfect guy itu, (tipikal cowok tampan di akhir dua puluhan, putih-rapih-badan berotot, tapi yes dia cakep) diringi seringai bangga tentu saja.

“Terus, doi ke mana?”

“Nikah sama pacarnya,” jawab Jeihan kasual sembari mengambil satu sendok pempek di piringnya.

“Perih kak.”

Kami kemudian beranjak menuju ruang santai di dekat AC. Berebut memakan pempek kapal selam yang dibanjiri cukonya yang pedas.

“Tapi, itu adalah tiga bulan terbaik sepanjang hidup gue,” kata Jeihan. Tulus.

“Karena…..”

“Di kasurnya enak, bok!” Kami tertawa girang sekali.

“Masa sih cuma perkara cakep doang?” tanya saya penasaran.

“Gue cocok sama dia, selera musik kami sama. Dia denger PANAMA, Jem. Jarang yang tau band itu padahal loh. Terus so on and so on. Sampai gue waktu itu harus masuk Rumah Sakit. Puji Tuhan semua di cover sama kantor, ENAM FUCKIN JUTA soalnya. Pedihnya, gue ke Rumah Sakit sendirian, daftar sendirian, sampai resepsionisnya bilang, langsung ke UGD aja. Dan itu pun gue masuk ke UGD sendirian. Hahaha. Nasib jadi single.”

“Terus”

“Dia telfon gue. Gue masih inget suara panik dia. Saat itu dia belum bilang tentang perasaannya ke gue, I’m still considering him as a good friend aja. Pas gue kasih tau gue stay di UGD. Engga pake lama dia langsung nyusul ke Rumah Sakit.”

Thing you do for love.”

“Hahaha. Love? Really?” Jeihan tertawa sinis, agak ragu dengan term ‘Love’ yang saya maksud.

“Dari situ dia baru bilang, dia suka gue, dan takut kehilangan gue. Dan best partnya adalah, I already knew dia udah punya calon buat dinikahin. Kenapa gue bilang best part, karena asli deh. Cewek, kalau dipuji-puji lebih baik dibanding cewek lainnya, dijamin langsung klepek-klepek.”

Then..

“Ya sudah, kami sering jalan bareng. Intens, sepanjang tiga bulan itu. Sampai di mana, hari pernikahan dia. And we say goodbye. Properly. No drama.

Really? Se-casual itu?”

“Sangat! Bahkan sampai dia bilang, abis dia nikah beberapa bulan terus bakal divorce sama istrinya, I say NO.”

“Kenapa? Bukannya elo suka dia?”

I believe Karma does exist, bitch!” Kami mengangguk mengamini.

Perut saya pun mulai bereaksi, penuh dengan tumpukan pempek dan cerita Jeihan. Tersisa dua potong pempek di piring kami.

“Habisin, Jem.”

“Kenyang, Kak!”

Sembari menunggu perut rehat sejenak, Jeihan memainkan handphonenya lalu memutar satu buah lagu.

You say it used to be different, mmm mhm mhm
I know it’s safe but won’t you take me home
You know it could have been different, mmm mhm mhm
You say you wish that it was over 
— Panama.

“Ini our theme song,” jelasnya.

“Masih kangen ya?”

“Sangat, Jem!”

“Sepi ya kasur?” Tawa kami mengisi seisi ruangan.

One of the biggest reason, perhaps, I was fallin for him because of his look. Gue masih random lihat-lihat foto berdua sama dia yang dulu-dulu. Tapi engga, ada memori di mana kami benar-benar terkoneksi. Perasaan itu mutual. Sayangnya, ada periode berakhirnya. Tak ubahnya seperti pempek ini”

“Kenapa jadi ke pempek deh?”

“Ya itu. Ibaratnya, perut elo udah kenyang banget, mau dipaksain juga buat makan tuh pempek elo bakalan engga mau. Sesuka apa pun elo sama pempek itu. Karena bukan cuma elo bakalan sakit perut, tapi porsi untuk enaknya bakalan ilang. Karena memang udah kenyang aja. Jadi yang elo pengen inget enaknya aja,” Jeihan terdiam.

“Paham kan elo?”

Saya menganggukkan kepala.

We just two people who fallin in love in the wrong time. Sayangnya dia mau nikah, bukan mau sunatan.”

Kami berdua kemudian melupakan sisa pempek di piring kami. Ada spasi kosong beberapa menit kemudian, di mana pikiran kami berkhayal ke satu imaji membayangkan ketika kami memiliki kekuatan super untuk dapat mengkristalkan suatu momen atau mengulang kembali momen singkat terbaik dalam hidup kami.

“Gue balik ya! Besok masih harus ngeburuh.” Jeihan ada di dapur sedang mencuci piring kotor bekas pempek tadi.

“Kadang yang enak harus dibersihin juga ya, Jem. Hahaha. Hati-hati, Jem.”

Kemudian saya pun pulang, saat pintu kosan Jeihan tertutup saya membawa satu pertanyaan yang tersisa,

‘Seandainya……’.