Terkadang, Ada Rasa Sakit Yang Bisa Dimaklumi

i
pic from tumblr

Hampir satu tahun saya tidak bertemu dengan teman saya satu ini, namanya Jeihan, seorang teman yang datang dari asas ‘dikenalin’ teman lain. Sebuah pola umum rantai pertemanan di Jakarta.

But, surprisingly we can get along. Karena Jeihan teman yang asik.

Asik karena Jeihan bisa diajak ngobrol topik receh tentang gosip underground para artis-artis Ibu Kota, siapa yang jadi simpenan siapa, sampai ke obrolan soal, ‘kenapa jadi single di Jakarta kok berat banget ya? Mungkin karena pengaruh kosmik dan konspirasi Yahudi di dalamnya ya, kak!’

Obrolan-obrolan random semacam itu lah.

Malam-malam kami ditemani dengan beberapa gelas bir dan batang rokok yang melegitimasi kami seolah menjadi bagian dari yang katanya masyarakat kelas menengah ‘ngehek’ Jakarta.

Oh, tak lupa untuk mengupdatenya di social media tentu saja.

(Tapi kenyataannya kami lebih banyak mengonsumsi martabak keju pinggir jalan sembari menyeduh kopi sasetan di kosan. Penjelasan yang tadi biar terlihat keren saja).

Talking about her, Jeihan dulu seorang penyiar di radio paling terkenal di kota Lampung. Pendengar dia banyak, karena seperti yang tadi saya singgung di awal. Jeihan seorang pribadi yang asik.

Time goes by, Jeihan dan beberapa teman dari Lampung memutuskan untuk hijrah melewati selat sunda, mengadu nasib di Ibu Kota Jakarta. Sampai semesta membawa Jeihan menjadi Mba-Mba kantoran, tepatnya sebagai Account Executive di salah satu radio swasta Jakarta yang sasaran pendengarnya para ‘pekerja muda’.

“Masih sama-sama di radio, Jem,” ujarnya suatu waktu.

Di kosan barunya yang berisi dua temannya yang lain (biar hemat katanya). Jeihan memasak pempek kesukaan saya (sebagai hadiah sudah lama tidak berjumpa, dia tahu betul saya penggila pempek). Sepanjang memasak (Jeihan memasak-saya update SnapChat) kami saling bercerita tentang apa saja yang kami lewatkan selama setahun terakhir.

Banyak yang terjadi, beberapa berubah, tapi ada hal yang masih tetap sama.

Jeihan menjadi satu-satunya orang lama di kantornya yang bertahan, di saat beberapa teman sejawatnya memilih untuk resign atau diberhentikan. Salah satu alasan mengapa Jeihan masih bertahan karena dia senang menjadi pusat perhatian. Ketika presentasi di depan calon klien, ia mendapatkan sensasi di mana semua mata memandang dirinya, semua telinga mendengarkan detail-detail yang ia ucapkan.

That’s the best feeling in the world, Jem,” akunya.

Good, if you do what you love.

Kemudian Jeihan berfikir sejenak.

“Sama dikejar target sih, Jem. Kalau hidup enggak ada target, pasti basi banget. Plain aja gitu.”

Ia memotong dengan telaten pempek yang sudah membatu dari freezer kulkas.

“Kalau target nikah gimana, Han?” tanya saya memberanikan diri.

Dia tertawa mendengar pertanyaan saya. Jeihan kini berusia dua puluh delapan tahun, dan masih single.

I already gave a chance to my ex-boyfriend to fix our relationship. But, ketika semua sudah dicoba. Dia tetap enggak berubah. Then, we decided to end our relationship.”

Ada jeda di sana. Kami melakukan platting ala-ala, kami memiliki ide menghias piring dengan beberapa cireng goreng.

“Tapi, beberapa bulan lalu. Something happened,” Jeihan mengangkat pempek yang sudah masak lalu menaruhnya di piring yang penuh dengan cireng goreng dan genangan cuko khas Lampung. (Bahkan saat menuliskannya saja, saya menelan air liur saya, saking nikmatnya).

“Apa tuh, kak?”

I met this guy. The perfect guy. Cowok paling cakep sepanjang karir percintaan gue.”

“SIAPA KAK? LIHAT DONG FOTONYA!” teriak saya antusias.

Dia lalu memamerkan foto si perfect guy itu, (tipikal cowok tampan di akhir dua puluhan, putih-rapih-badan berotot, tapi yes dia cakep) diringi seringai bangga tentu saja.

“Terus, doi ke mana?”

“Nikah sama pacarnya,” jawab Jeihan kasual sembari mengambil satu sendok pempek di piringnya.

“Perih kak.”

Kami kemudian beranjak menuju ruang santai di dekat AC. Berebut memakan pempek kapal selam yang dibanjiri cukonya yang pedas.

“Tapi, itu adalah tiga bulan terbaik sepanjang hidup gue,” kata Jeihan. Tulus.

“Karena…..”

“Di kasurnya enak, bok!” Kami tertawa girang sekali.

“Masa sih cuma perkara cakep doang?” tanya saya penasaran.

“Gue cocok sama dia, selera musik kami sama. Dia denger PANAMA, Jem. Jarang yang tau band itu padahal loh. Terus so on and so on. Sampai gue waktu itu harus masuk Rumah Sakit. Puji Tuhan semua di cover sama kantor, ENAM FUCKIN JUTA soalnya. Pedihnya, gue ke Rumah Sakit sendirian, daftar sendirian, sampai resepsionisnya bilang, langsung ke UGD aja. Dan itu pun gue masuk ke UGD sendirian. Hahaha. Nasib jadi single.”

“Terus”

“Dia telfon gue. Gue masih inget suara panik dia. Saat itu dia belum bilang tentang perasaannya ke gue, I’m still considering him as a good friend aja. Pas gue kasih tau gue stay di UGD. Engga pake lama dia langsung nyusul ke Rumah Sakit.”

Thing you do for love.”

“Hahaha. Love? Really?” Jeihan tertawa sinis, agak ragu dengan term ‘Love’ yang saya maksud.

“Dari situ dia baru bilang, dia suka gue, dan takut kehilangan gue. Dan best partnya adalah, I already knew dia udah punya calon buat dinikahin. Kenapa gue bilang best part, karena asli deh. Cewek, kalau dipuji-puji lebih baik dibanding cewek lainnya, dijamin langsung klepek-klepek.”

Then..

“Ya sudah, kami sering jalan bareng. Intens, sepanjang tiga bulan itu. Sampai di mana, hari pernikahan dia. And we say goodbye. Properly. No drama.

Really? Se-casual itu?”

“Sangat! Bahkan sampai dia bilang, abis dia nikah beberapa bulan terus bakal divorce sama istrinya, I say NO.”

“Kenapa? Bukannya elo suka dia?”

I believe Karma does exist, bitch!” Kami mengangguk mengamini.

Perut saya pun mulai bereaksi, penuh dengan tumpukan pempek dan cerita Jeihan. Tersisa dua potong pempek di piring kami.

“Habisin, Jem.”

“Kenyang, Kak!”

Sembari menunggu perut rehat sejenak, Jeihan memainkan handphonenya lalu memutar satu buah lagu.

You say it used to be different, mmm mhm mhm
I know it’s safe but won’t you take me home
You know it could have been different, mmm mhm mhm
You say you wish that it was over 
— Panama.

“Ini our theme song,” jelasnya.

“Masih kangen ya?”

“Sangat, Jem!”

“Sepi ya kasur?” Tawa kami mengisi seisi ruangan.

One of the biggest reason, perhaps, I was fallin for him because of his look. Gue masih random lihat-lihat foto berdua sama dia yang dulu-dulu. Tapi engga, ada memori di mana kami benar-benar terkoneksi. Perasaan itu mutual. Sayangnya, ada periode berakhirnya. Tak ubahnya seperti pempek ini”

“Kenapa jadi ke pempek deh?”

“Ya itu. Ibaratnya, perut elo udah kenyang banget, mau dipaksain juga buat makan tuh pempek elo bakalan engga mau. Sesuka apa pun elo sama pempek itu. Karena bukan cuma elo bakalan sakit perut, tapi porsi untuk enaknya bakalan ilang. Karena memang udah kenyang aja. Jadi yang elo pengen inget enaknya aja,” Jeihan terdiam.

“Paham kan elo?”

Saya menganggukkan kepala.

We just two people who fallin in love in the wrong time. Sayangnya dia mau nikah, bukan mau sunatan.”

Kami berdua kemudian melupakan sisa pempek di piring kami. Ada spasi kosong beberapa menit kemudian, di mana pikiran kami berkhayal ke satu imaji membayangkan ketika kami memiliki kekuatan super untuk dapat mengkristalkan suatu momen atau mengulang kembali momen singkat terbaik dalam hidup kami.

“Gue balik ya! Besok masih harus ngeburuh.” Jeihan ada di dapur sedang mencuci piring kotor bekas pempek tadi.

“Kadang yang enak harus dibersihin juga ya, Jem. Hahaha. Hati-hati, Jem.”

Kemudian saya pun pulang, saat pintu kosan Jeihan tertutup saya membawa satu pertanyaan yang tersisa,

‘Seandainya……’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s