Sex and Sushi

nakedsushi.0

Di suatu jam makan siang setelah melalui meeting pagi yang melelahkan bersama klien. Saya, Kalula, Bian, dan Rei memutuskan untuk makan sushi di Lotte.

Alasannya karena, pertama kami baru gajian, kedua Lotte dekat dengan kantor kami, dan terakhir saya sudah merengek dari awal bulan ingin mencoba resto sushi baru yang konon chefnya adalah orang Jepang asli. Banyak yang datang ke sana dan bilang lidah mereka dimanjakan dengan keontetikan rasanya. Saya pun penasaran dibuatnya.

Saya, Bian dan Rei berangkat terlebih dahulu menggunakan Uber, sedang Kalula menyusul dengan gebetan-nya (do people still use term ‘gebetan’?). Saat sampai di resto sushi sushi tersebut, ternyata antriannya panjang minta ampun. Tiga puluh menit sudah kami menunggu, baik panggilan guest listatau kehadiran Kalula pun masih belum kunjung datang.

“Semoga sushi ini se-worthy itu untuk ditungguin,” desah Rei kesal.

“Pak Brian, silakan di meja lima,” panggil si Mba pramusaji kemudian. Kami akhirnya masuk dengan perut lapar dan hati yang berdebar karena jam 1:30 PM kami harus kembali ke kantor. Kami hanya punya waktu tiga puluh menit untuk makan.

Setelah sampai di meja, kami meneliti daftar menu yang sesuai dengan selera dan budget (karena masih ada 29 hari yang harus dilewati setelah gajian), akhirnya kami memutuskan untuk memesan dua sashimi mentah yang berisi lima slice besar salmon, dua piring toro, tiga volcano roll, tigaocha dingin, empat sake aburi (I’m so obsessed with it), dan tiga cawan musi.

Sambil menunggu pesanan datang, Brian menelfon Kalula menanyakan keberadaannya.

“Dia bilang sudah di depan, sendiri. Engga sama si gebetannya,” terang Brian.

“Loh, dia kan misah berangkatnya tadi karena mau jemput si Andra kan?” tanya Rei bingung.

I dunno, but thats what she said.

“Tau gitu dia bareng kita aja, bill Ubernya bisa di split empat orang, lebih murah,” ujar Rei kesal.

Kami bertiga mengagguk setuju, kemudian tertawa geli.

Kemudian tepat saat pesanan kami datang, muncul Kalula dari depan kami lalu duduk dengan air muka yang aneh.

“Mba, saya pesan sakenya ya satu. Tidak pake lama,” kata Kalula dengan nada tinggi.

“Kenapa sih?” tanya saya bingung.

“Emang anjing tuh cowok. Udah disamperin, udah gue dandan cakep gini, udah gue ikut Zumba sama diet mayo sampai pusing, eh dia masih loh enggak mau ngenalin gue ke teman-teman kantornya.”

Kalula memukul meja di depannya, membuat semua mata di tempat ini memandang ke arah kami. But sure, I can feel her pain through her shaking voice.

“Gue pikir, setelah beberapa bulan ini, its enough for him to choose me, rather than his girlfriend.” Sake pun datang, Kalula segera menegaknya.

“Kita laper, curhatnya nanti ya di kantor,” Bian mencoba melawak untuk mencarikan suasana.

It works. Kalula kemudian melampirkan senyuman diwajahnya. Lalu kami pun mulai memakan dengan brutal satu persatu sushi di depan kami.

I was romanticise everything about him, I do,” Kalula menyalakan rokoknya. Memulai prolognya sekali lagi.

“Seolah apa yang dia lakuin ke gue itu yang paling hebat. Dan ngebuat gue ngerasa, gue spesial. Padahal kenyataannya, dia emang gitu aja ke semua cewek. Dia cuma nganggep gue sekadar, women who cool to hang out with and easily to fuck with. Fuck my ass.

“Udah pernah back door? Sakit enggak? Pakai lubricant kan?” tanya Bian penasaran yang kemudian diriingi lemparan sumpit oleh Kalula.

Manajer kami sudah menelfon Bian. Kami pun memanggil Mba pramusaji untuk minta tagihannya.

Split bill atau gimana?” tanya Rei.

“Pakai kartu kredit gue dulu deh, nanti gue email detail tagihannya kayak biasa.” Brian memberikan kartu kreditnya.

Saat kami tengah sibuk dengan handphone masing-masing yang berisi chat dari teman sekantor minta dititipkan pesanan sushi juga. Kalula mengeluarkan alat make upnya. Menghapus eyeliner yang terpatri di matanya.

“I don’t believe in romance anymore. I think there is no such thing about romance. Because, romance only a pseudo projections of visual perception created by imaginations. I mean… people only made romance with good looking people, and shitnya gue ngelakuin itu ke dia,kata Kalula berapi-api.

“Am I right?” tanya Kalula penuh kekalutan setelah tidak ada respon dari teman-temannya.

“Excuse me, what are you just saying?” jawab kami bertiga kompak.

Whatever,” Kalula mengibaskan tangannya.

Lalu kami pun keluar dari Lotte dengan tenang. Tanpa Kalula yang berapi-api, atau imajinasi Bian yang sudah masuk ke klasifikasi porno.

Karena supir Uber tidak mau mengangkut empat penumpang, akhirnya kami berempat berpisah. Saya dan Kalula terpaksa harus naik taksi.

Di dalam taksi, Kalula tidak banyak bicara. Ia memandang kosong ke jendela. Riuh dengan isi kepalanya sendiri atas apa yang terjadi siang tadi.

“Gue udah pakai eyeliner, Jem. Sejam gue dandan di kamar mandi tadi. Elo tau kan artinya?” tanya Kalula tiba-tiba.

“Bahwa elo tadi telat ngumpulin report?” jawab saya sekenanya.

Kalula tersenyum tipis. Ini adalah yang seharusnya ia dengar, dibanding kata-kata racun seperti you’ve fallin’ for him.

“I can feel you, La. It happens to best of us, you falling with him who made butterfly on your stomach, you romanticise all things about that person. About the way he look, the way he talk, or what ever when he speak up his mind. Everything that comes out of his mouth feels like song in your head.”

Kalula masih menatap ke luar mobil, entah mendengarkan atau tidak.

“I was set all high expectation till I realised, he just not that good. He just like rest of us who have flaw and could harm me. And when I’ve get hurt, there’s no such good thing about alien or stupid dragon from his favourite series anymore.” Kalula meneteskan air matanya. Sepertinya ini bukan sekadar masalah tidak dikenalkan oleh teman-teman Andra.

I mad at that person. But, actually I mad with myself. Because, the only person that I can blame is myself. Andra engga pernah minta buat gue jadi selingannya,” Kalula dengan kasar menghapus segera genangan air yang keluar dari matanya.

Kami sampai di kantor dengan perut kenyang, tapi Kalula membawa jiwanya yang kosong bersamanya.

Hey, how about the sushi?” tanya seorang teman saat sampai di meja kerja.

“Hmm, sushinya biasa aja. Engga seheboh apa kata orang-orang,”

Lalu saya tersadar. Mengutip apa yang Kalula bilang, ‘manusia cenderung untuk meromantisasi apa pun. Dan melupakan rasa aslinya’. Jangan-jangan orang-orang yang datang ke resto sushi itu sebenarnya merasakan apa yang saya rasakan juga, biasa saja. Tapi karena semua orang terlanjur bilang enak, dan ini menjadi tempat wajib orang-orang gaul, mereka terjebak untuk melanjutkan kebohongan romantisasi rasa itu.

Pada akhirnya, yang dinikmati bukan sushinya, melainkan imaji kenikmatannya. Tidak ada yang lebih meyedihkan ketika hidup bahagia dalam suatu ketiadaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s