Yeah, Cuma Mimpi Kok

dream

Tadi pagi gue bangun dengan perasaan campur aduk. Gue bangun telat, awalnya karena sakit perut. Mungkin terlalu banyak makan sashimi semalam bareng Rei.

Iya tempat makan sushi yang elo kasih tau ke gue. Yang akhirnya jadi favorit gue dan teman-teman gue.

Hebat lo, bisa bikin apa pun yang elo kasih ke gue jadi gue suka. Padahal gue picky banget anaknya.

Tapi ternyata bukan itu yang ngebuat gue kelamaan tidur, di mimpi gue, gue ngeliat elo bareng temen-temen elo. Bareng pacar lo yang baik itu dan ada bayi digendongan pacar lo. What happened next was you also said hello to me, but you know, I was to afraid to response it.

Even simple thing like ‘how are you’ really did not effect my guts to talk with you. I don’t know why.

Masih teringat bagaimana gue cuma diem terus jalan nyelonong aja. Typical of me.

Dan gue ngeliat mimik kecewa elo, seperti wajah yang elo kasih ke gue saat terakhir kita ketemu. Wajah bingung dan sedih elo. Mungkin dalam hati elo bertanya-tanya, ‘kenapa kita berakhir seperti ini?’.

Tapi kenyataan bahwa saat itu elo engga bisa berbuat apa-apa. Elo terlalu bingung dengan banyak hal. Lalu gue yang sangat painful. Dan berakhirlah kita seperti ini, dua orang asing yang tidak sengaja bertemu, kali ini dengan memori. It was a sad moment for both of us. Even it just only fucking dream.

I think I miss you.

Kata orang, kalo kita mimpi ketemu orang yang kita kenal, dan udah lama engga ketemu. Artinya one of us lagi kangen, tapi engga sadar aja di dunia nyata, karena semua perasaan itu kita tekan. Dan alam bawah sadar kita ngedeliver itu ke mimpi.

Dan gue baru sadar, kita udah engga ngobrol selama setahun.

Gue ngelewatin hari paling penting di hidup elo. Pernikahan elo.

Simplenya sih, ya karena gue engga diundang. Padahal dulu itu adalah hal yang selalu kita bahas; makanan apa aja yang akan gue makan di sana, tentang dekor lo yang pengin kayak Star Wars (you such a geek), atau se-simple pertanyaan ‘gue dateng telat engga ya ke pernikahan elo?’. Dan kita selalu mengulang itu setiap harinya.

Fakta bahwa elo engga ngundang gue dan gue cuma bisa bilang, ‘selamat ya buat hari ini’ lewat LINE. Adalah titik di mana gue sadar, ini semua sudah berakhir. Engga ada lagi yang bisa diselamatkan.

Times goes by, gue bertemu dengan temen-temen baru di kantor lama gue yang gue engga nyangka bisa get along dan cocok banget. Kami semua hang out bareng, nginep bareng. Banyak deh. Hal-hal yang baru gue sadar engga pernah kita lakuin sewaktu sekantor dulu.

Oh iya, gue pindah kantor lagi. Elo tau kan gue anaknya engga suka sesuatu yang stagnan. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa gue marah banget sama elo saat itu. Ketika kita gini-gini aja. Elo lagi rajin ngediemin gue, padahal saat itu gue lagi berada di posisi yang  butuh elo banget.

Tapi kata orang-orang gue egois, karena elo juga lagi ribet sama persiapan pernikahan elo.

I see, kita sama-sama egois saat itu.

Tapi semuanya sudah lewat.

Setelah dua tahun, setelah mimpi itu, hari ini gue pun dateng telah. Dan gue menambah ketidakprofesional dengan cara menghilang dan pergi ke kamar mandi. Gue cuma duduk di toilet dan berkubang dalam kesedihan ini.

Gue rasa gue cuma keingetan elo aja. Dan kenyataan bahwa elo bahkan engga inget ulang tahun gue kemarin semakin menguatkan gue untuk menghapus chapter tentang elo di hidup gue, sama seperti orang-orang di masa lalu gue lainnya.

Semoga elo baik-baik aja di sana. Gue harus balik kerja lagi, dan kali ini gue beruntung sedang bersama orang-orang yang emang bener-bener mau perjuangin gue di hidup mereka. Not like you who has given up on me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s