THE MACCABEES

Hujan di Jakarta begitu mengerikan. Dengan petir dan awan hitamnya yang mengamuk, membuat semua orang ngeri untuk keluar. Bahkan tak ada anak kecil yang sudi bermain dengan lebat airnya. Dari balik kaca kantor, saya melihat buliran-buliran air yang tidak berhenti turun.

Cradle me

I’ll cradle you

I’ll win your heart with a woop-a-woo

Pulling shapes just for your eyes

Tiba-tiba dari Spotify, satu lagu yang dulu saya dengar tiap harinya berputar dengan santainya.

Dengan beberapa detik musik intro tersebut, berhasil membawa saya pada satu memori sekitar empat tahun silam. Satu keping cerita tentang saya dan D.

Kala itu hujan begitu lebat, kami sedang berada di hotel sekitaran Depok. Ada acara pernikahan dan saya mengajaknya untuk menjadi fotografer menemani saya. Saat acara selesai kami berdua pergi menuju ke satu kamar hotel yang sudah disediakan.

Lelah memotret seharian, kami memutuskan untuk langsung tidur. Saya yang tidak tidur semalaman tentu saja menjadikan momen ini sebagai pembalasan. Saya ingin tidur senyenyak-nyenyaknya sebelum check out jam sembilan malam nanti.

Lima belas menit berlalu, kami hanya menghabiskan waktu dalam diam. D akhirnya hanya bermain game di handphonenya. Dari samping saya mengamati wajahnya yang begitu serius, dia sedang melepas kaca matanya. Garis mukanya yang bundar dan hidungnya yang besar terlihat seperti tokoh di komik-komik. Lalu bulu matanya yang lentik membuat saya tidak bisa berhenti tersenyum.

Di mata saya, dia sempurna kala itu. Dia sempurna dengan ketidaksempurnaannya.

Dan saat itu, saya begitu jatuh cinta dengannya.

Kami yang akhirnya bersama dan tidak terpisahkan jarak delapan jam di kereta ekonomi tentu saja jadi kebahagiaan tersendiri buat saya.

Saya mendekat ke arahnya, menempelkan kepala saya di badannya. Saya menggapai wajahnya perlahan. Kami berciuman sesaat, dan ia pun melanjutkan permainanya kembali.

 Saya berbisik lirih padanya, ‘I hope it’s gonna last forever’.

 So with toothpaste kisses and lines

I’ll be yours and you’ll be

Lay with me, I’ll lay with you

We’ll do the things that lovers do

Put the stars in our eyes

Dia menaruh handphonenya, menatap mata saya dengan senyum jahilnya. Kemudian kami pun kembali berciuman. Kali ini lebih lama, mata kami terpejam, nafas kami bertaut menjadi satu. Saya masih ingat bagaimana wangi parfum lavendernya yang menelusuk ke hidung saya saat itu, meninggalkan jejak memori seperti sekarang. Setiap detail kulit kami yang bersentuhan, bagaimana rasa asam dan manis dari bibirnya, dan bunyi deras hujan dari luar menjadikan momen itu begitu intim. Dunia mengecil dan hanya menyisakan kami berdua.

Setelah selesai dia hanya berkata, ‘tidur saja sekarang, you haven’t sleep all day’.

Dan di tengah hujan yang deras, yang menjaganya untuk tidak pulang, dia berada tepat di jangkauan tangan saya. Saya masih ingat panas tubuhya yang menghangatkan, jugapelukan tangannya ditubuh saya.

 Semua masih begitu jelas, meski hingga saat ini.

 ‘Do you love me,’ tanya saya.

‘I’m afraid I don’t love you,’ jawabnya jahil.

‘Really? Please, please, please love me,’

Menyedihkan, kami berdua tertawa dengan alasan yang berbeda.

Mata saya tak kuasa menahan lebih lama lagi. Detik berikutnya saya akhirnya terlelap dengan damainya.

Beberapa jam kemudian, saya terbangun dengan suara pintu yang terbuka, dalam kondisi masih setengah kantuk, saya tidak tahu apa ini dalam mimpi atau betulan. Saya melihat D pergi, membawa semua barangnya, tak menyisakan apa pun.

Dalam kondisi setengah sadar, saya mengucapkan, ‘jangan pergi’, mungkin gaungnya begitu lirih hingga D tidak dapat mendengarnya.

Malamnya saya terbangun, melihat tidak ada siapa pun di kamar hotel tersebut. Tidak ada pesan selamat tinggal atau apa pun. Hanya kekosongan yang menganga dari dalam. Harum wangi lavender masih menempel di bantal di samping saya.Hujan yang deras di luar sana, dinginnya AC kamar, ditambah saya hanya seorang diri, mendadak menjadi serangan rasa sepi yang begitu dalam.

Ia pergi lagi. Hanya itu yang berputar di kepala saya. Saya mengulang kata tersebut dalam diam.

Saya akhirnya keluar dari kamar dengan pertanyaan yang tersisa, apakah D benar-benar mencintai saya?

And with heart shaped bruises

And late night kisses, divine

So with toothpaste kisses and lines

Stay with me, I’ll stay with you

Doin’ things that lovers do

What else to do?

Saya kembali ke masa sekarang. Di depan laptop yang berisi banyak list pekerjaan dengan deadline hari ini. Saya pun menyudahi throwback dengan D. Mengganti lagu di playlist Spotify saya. Tapi sayangnya hujan masih begitu deras meradang.

Saat hendak mengambil minum, terbesit pemikiran di benak saya, secuil pertanyaan, apakah yang terjadi saat itu; ciuman kami, canda kami, adalah nyata atau hanya terjadi dalam mimpi saya saja?

 Entahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s