Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s