Sang Penari: Kisah Cinta Yang Merah

cb56e56a1cb96c5216b23751b3c96712

Sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. Apalagi mereka yang hidup dalam perbedaan kelas dan merasakan beratnya gesekan sosial politik di tempat yang mereka diami. Bisa dipastikan panah dewa cinta tak akan melirik sama sekali.

Dapat dibilang film Sang Penari merupakan film tentang cinta. Menceritakan kisah cinta antara Rasun dan Srintil.

Namun sayangnya, kisah cintanya tidak semembara Cinta dan Rangga. Tidak juga seharu biru Habibi Ainun.

Kisah cinta Rasun dan Srintil terasa pahit dan pilu. Jenis cerita cinta yang ketika kamu selesai menontonnya seperti ada lobang bolong merongga di dadamu. Bagai luka yang membekas dan enggan kamu obati. Karena di sana letak kenikmatannya, luka perih yang bisa kamu mainkan karena ternyata rasanya menyenangkan.

Begitu pula Rasun dan Srintil, meski cerita mereka perih dan mengoyak kalbu, namun itu tidak berarti cerita mereka tidak indah.

Keindahan kisah cinta mereka berada pada polemik dan kehancuran mereka sendiri.

Sang Penari secara jenius menggabungkan unsur adat, seni, romansa, dan panasnya situasi politik dengan presentasi yang kuat dan juga menawan.

Film diawali dengan keriuhan kampung Dukuh Paruk pasca penggerebekan oleh pihak militer. Kemudian laki-laki berbaju tentara itu menemukan bapak tua buta yang masih mengingatnya.

Cerita pun bergerak dari sana. Sebuah flashback hitam akan bagaimana ronggeng yang menjadi jantung dari Dukuh Paruk hancur karena segenggam tempe bongkrek. Dan Srintil ada di tengah-tengahnya. Menyaksikan bagaimana penari ronggeng pujaannya keracunan, dan bagaimana warga desa begitu kejam membiarkan mayat kedua orang tuanya membusuk begitu saja.

Tahun berlalu, Srintil pun menjadi perempuan dewasa yang rupawan dengan segenap hasrat untuk joget, menjadi seorang ronggeng. Siap menyuburkan kembali ekonomi kampung dan berbakti pada Eyang leluhur.

Namun jalannya tidak mudah, pertentangan hadir dari Dukun Ronggeng. Dengan penuh rasa enggan, Rasun yang awalnya menolak Srintil menjadi seorang ronggeng mau tak mau membantunya dengan memberikannya keris kecil peninggalan penari ronggeng terdahulu. Itu semua menandakan bahwa Srintil adalah penari pilihan langit. Srintil pun resmi dinobatkan sebagai penari ronggeng yang baru.

Kejayaan Srintil pun membawa kemakmuran kampung, seisi Dukuh Paruk kembali riuh dengan geliat joget Srintil. Sampai cinta Srintil dan Rasun pun diuji dengan prosesi buka kelambu.

Sebuah adat di mana keperawanan sang ronggeng dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Rasun bukan lelaki kaya. Ia hanya pekerja serabutan, sedang ada ratusan laki-laki yang siap untuk meniduri Srintil. Ia bukan pesaing.

Tetapi hati Srintil sudah terpaut pada Rasun. Keperawanannya pun ia serahkan pada Rasun. Dengan konsekuensi Rasun meninggalkannya. Karena Rasun tidak mampu melihat Srintil menjadi ronggeng. Meminjam ungkapan yang dipakai oleh Rasun, “ia tidak mau melihat Srintil seperti pohon kelapa yang siapa pun bisa menaikinya”.

Rasun pergi, menjadi seorang tentara. Sedang Srintil tetap menari.

Tahun 65 takdir membawa mereka kembali bertemu, dengan situasi yang berbeda. Panasnya peta politik antara PKI dengan negara menyeret Srintil dan Rasun pada pusaran yang sama.

Alih-alih didaftarkan menjadi penari istana seperti yang dijanjikan, Srintil yang tidak bisa membaca (pun seisi kampung Dukuh Paruk), nama mereka dijadikan simpatisan PKI. Yang nantinya daftar tersebut membawa mereka pada sang malaikat maut.

Melihat Srintil yang dibawa oleh tentara lainnya, Rusun dengan segenap kemampuannya berusaha untuk menyelamatkan Srintil. Namun semuanya terhalang. Srintil tetap pergi, kini ditangan sang maut.

Di akhir film, tahun berganti, Rasun secara tidak sengaja mendatangi bunyi gendang yang ia kenal di sebuah pinggir jalan. Di sana ia menemukan Srintil. Ia tetap perempuan yang sama yang ia kenal. Ia tetap menari. Namun saat mata mereka bertemu, Srintil kembali pergi. Kini dengan kelegaan.

Film pun ditutup dengan sangat poetik dan sinematik dengan tarian Srintil menuju ketiadaan yang panjang. Dan meninggalkan perasaan agoni dan gemetar haru saat scene tersebut usai.

Membahas Sang Penari

Sang Penari bukan film yang dibuat sembarangan. Film ini diangkat dari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karangan Ahmad Tohari. Salah satu buku sastra paling penting di Indonesia.

Film ini pun memakan riset selama dua tahun untuk memberikan keontetikan situasi terutama pada scene penggerebekan kampung oleh militer yang kemudian membawa pada pembantaian masal.

Menurut saya pribadi, jika dirunut ada empat pembahasan penting dalam film sepanjang seratus menit lebih ini. Yaitu mengenai:

  • Adat
  • Kisah Cinta
  • Tubuh Perempuan
  • Politik 65

Dalam aspek adat kita dapat melihat betawa piawainya Prisia Nasution memerankan Srintil. Musik dan tariannya begitu mistis, memikat siapa pun yang menyaksikannya. Jelas sekali bahwa dari awal tujuan hidup Srintil adalah menari, meneruskan rantai budaya dan membersihkan nama baik keluarganya yang kandung rusak karena kejadian semasa ia kecil. Tidak banyak film Indonesia yang begitu otentik mengangkat budaya awal ronggeng yang ditampilkan dengan layak. Tidak hanya sekadar tempelan dan pemanis. Namun secara sadar, peran tarian di sini adalah sentral dari bergeraknya cerita dari awal hingga akhir.

Hal yang juga penting diamati lebih dalam lagi adalah bagaimana dalam konteks film ini, sebagai penari ronggeng, tubuh Srintil adalah alat. Ia kendaraan untuk mendapatkan materi. Sesuatu yang sudah tidak asing di budaya yang patriarki di Indonesia ini. Namun yang menarik adalah, tubuh Srintil pun laksana potret keagungan maha kuasa. Siapa pun yang tidur dengan Srintil niscaya akan mendapatkan kesuburan dan kesuksesan.

Fenomena ini membuat Srintil memiliki power dan kendali di sana. Ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Meskipun, sangat disadari bahwa dalam masyarakat Dukuh Paruk, otoritas tubuh Srintil hanyalah sebatas adat. Sesuatu yang bisa mereka miliki bersama. Bukan lagi sesuatu yang bersifat personal.

Membahas politik, film Sang Penari patut diacungi jempol. Dengan berani film ini membahas kisah kelam tahun 65. Isu yang jarang hadir dalam perfilman Indonesia modern.

Betapa muatan politik di film ini mengalir dengan sangat jelas dan tepat pada temponya. Kerusuhan enam lima dengan nyata digambarkan dengan todongan dan teriakan tentara pada para warga yang tidak mengetahui apa pun. Rasa takut mereka menular di film ini.

Mereka adalah korban. Korban ketidaktahuan yang diberantas karena kepentingan elit politik. Betapa adegan saat Srintil bertanya mengenai apa maksud dari namanya ditulis dalam sebuah carik kertas yang ia bahkan tidak dapat baca, adalah gambaran paling lugu mengenai keterikatan rakyat kecil dalam pusaran politik saat itu.

Korban kebanyakan di tahun enam lima mungkin adalah mereka yang sebenarnya tidak mengetahui apa itu komunisme, yang mereka tahu itu adalah partai yang memihak para petani. Dan dalam satu kali gilas, hampir jutaan korban rakyat jelata itu pun hancur dalam ketiadaan. Ini menegaskan bahwa kita, saya dan kamu, siapa pun itu adalah mahluk politik yang bisa saja terjerat konflik kapan pun.

Adegan yang mencekam antara militer dan ketakutan warga kampung digambarkan begitu realis hingga saat cerita cinta yang pilu itu selesai, film Sang Penari menawarkan menu lain bagi penontonnya.

Apakah kita akan mengingat sejarah ini lalu membongkarnya? Atau hanya diam membiarkannya?

Sembari kita memikirkan jawabannya, mungkin di sana, yang pasti Srintil akan terus menari. Hingga sendi-sendi dalam tubuhnya perlahan berhenti.

Advertisements

Love in the age of the internet

Saya sih bukan orang yang kompeten ya untuk ditanya tentang perkara hubungan atau komitmen. Pengalaman komitmen terlama dan teromantis saya hanya bersama series Friends, Game of Thrones, dan Sex and The City. Selebihnya? Ya sudahlah, anggap saja itu cuma ketidaksengajaan, sama-sama butuh, lalu selesai.

Tapi Thalia lain cerita, dia berpacaran dengan Agra sedari SMA. Dari berat badannya empat puluhan kilo, hingga sekarang di angka delapan puluhan kilo.

Seberat itulah cinta mereka berdua.

Namun sayang, beratnya cinta bukan menjadi parameter valid untuk langgengnya sebuah hubungan. Dua belas tahun berpacaran, hingga mendekati umur tiga puluh, Thalia belum melihat tanda-tanda akan ada janur kuning yang akan hadir di depan gang rumahnya.

“Bukan berarti gue tipe cewek yang gila nikah, dan maksa-maksa pacar gue buat buru-buru nabung ratusan juta buat pesta pernikahan yang besoknya orang-orang enggak bakal inget juga. Gue cuma pengein tahu hubungan ini akan ke mana. Goal sih pasti tentang menikah ya, tapi setidaknya gue secure dia memang mau menghabiskan sisa hidupnya sama gue. Kalau memang enggak, ya sudah, lebih baik selesai.”

Ia menghisap batang rokoknya dalam-dalam, dengan perlahan ia hembuskan asap rokoknya yang menggumpal putih. Ia pandang asap-asap rokok tersebut dengan pilu, lalu beralih menatap saya, ada senyum di sana. Meski saya tahu berat untuk ia lakukan.

Siapa sih yang bisa tersenyum setelah hubungan selama sepuluh tahun dibina hancur begitu saja, apalagi hanya karena rasa takut dan ketidakpercayaan. Hal yang ia rasa, seharusnya sudah lenyap dari hubungan mereka.

Tapi ternyata tidak, rasa takut dan ketidakpercayaan bukan sekadar ‘hanya’, mereka pondasi paling dasar. Jika salah-salah pasang, mereka akan jadi semacam jamur dalam hubungan. Yang jika tidak diangkat, akan mematikan mereka berdua.

“But I still do love him. Maybe not as much as before, tapi cukup buat gue untuk sudi saat bangun tidur di pagi hari, dan hal pertama yang gue lihat adalah muka dia. Muka bantal yang sepuluh tahun ini selalu ada, dan menyapa gue dengan mata ngantuknya yang terbuka sebelah.”

Kini Thalia benar-benar tensenyum. Pahit.

“Mungkin elo mau coba metode gue?”

“Apa tuh?”

Pacarque. Aplikasi digital untuk cari pasangan, tinggal isi form dan tulis spesifikasi pasangan yang elo cari. Mulai dari background pendidikan, suku, tinggi badan, berat badan, panjang alat kelamin, sampai kekayaannya. Bisa ditambahin dengan jenis musik apa yang dia dengar, film atau buku favoritnya, dia cari komitmen atau cuma mau have fun. Semua bisa di custom sendiri. Bisa by geo lokasi juga lagi. Tinggal klik, tunggu alogaritma aplikasinya, vice verca, teman kencan pun hadir. Nyari pasangan enggak pernah segampang ini loh.”

Seperti mendengar pedagang obat-obat pinggir jalan, Thalia memandang saya takjub sekaligus bingung. Tapi mungkin lebih banyak tidak percayanya.

“Jadi elo kalau jalan sama orang, lewat aplikasi ini? Pacarque ini?”

“Jelas. Lumayan bisa makan enak gratis, kalau elo suka ya lanjut, kalau enggak tinggal cancel. Kayak elo belanja online aja, bedanya elo belanja pacar. Seru kan? Jadi udah enggak usah kaku mau cari omongan apa pas ketemu. Tinggal tanya, oh elo suka film ini, gue juga suka. Tinggal google dan kepo Instagramnya sedikit, udah ketawan deh dia orangnya seperti apa. Praktis dan hemat waktu.”

“WOW!”

“Mau coba?”

“Sebentar-sebentar! Hello… mereka orang asing! Kalau salah satu dari mereka adalah penjahat kelamin atau serial killer bagaimana?”

“Kan ada kualiti kontrolnya, jadi buat jadi member di sana elo dicek sistem gitu. Jadi benar-benar tersaring.”

“Tapi…”

“Apa bedanya sama elo ngajak ngobrol orang asing di cafe, kantor, atau tempat umum lainnya. Elo enggak bakal tau dia seperti apa kan sifatnya. Bahkan lebih random, elo harus menghabiskan pendekatan yang alot dan lama. Hanya untuk tahu seperti apa orangnya. Bagus kalau cocok, lah kalau enggak? Buang-buang waktu. Pakai aplikasi pacarque elo cuma butuh satu kali klik.”

“Tapi..”

“Enggak ada jaminan juga bakal langgeng antara ketemuan dari digital atau real life. Coba aja dulu, baru komentar.”

Thalia hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan.

“Entahlah. Gue cuma ngerasa, kalau gue nanti coba, gregetnya enggak ada aja.”

“Greget apa? Lo dikasih minimal tiga pilihan loh. Kalau banyak yang cocok, bakal banyak daftar orangnya, elo tinggal geser kiri kalau enggak suka, dan geser kanan kalau elo suka. Bisa bikin back up plan juga lagi. Enggak cocok satu, bisa langsung ke opsi berikutnya.”

Thalia makin kelihatan tidak tertarik.

“Greget yang gue maksud adalah saat kita sibuk ngejalanin hari-hari bareng untuk memecahkan misteri pasangan kita. Kita jadi tumbuh bersama dia untuk tahu dia orang yang seperti apa, dan pada akhirnya kita punya itu sebagai bekal kecocokan yang akan membuat masing-masing jadi berkompromi satu sama lain dan berbahagia karenanya. Bukannya itu poin dari sebuah komitmen? Ketika perbedaan melebur menjadi sebuah pengertian?”

“Elo cuma punya dua jam waktu ketemu sama mereka sehabis pulang kerja. Enggak ada waktu buat kencan konvensional seperti itu lagi. Lagian lo gagal juga kan?”

“Tapi setidaknya gue punya memori. Gue punya pembelajaran. Organik. Enggak cuma lewat klik klik di google atau media sosial.”

Tapi saya tetap ngotot memberikan handphone saya dan membuatkan keanggotan Thalia di pacarque. Setelah tiga puluh menit, akun Thalia pun selesai dibuat.

“Selesai, profil elo udah jadi. Tinggal klik tombol search.”

Dengan malas Thalia menekannya, tidak sampai satu menit, Thalia mendapatkan sepuluh foto profil laki-laki yang sesuai dengan kolom-kolom pertanyaan yang ia isi.

“Wow! Ada sepuluh laki-laki yang cocok dan tertarik dengan profil gue? Terus?”

“Tinggal pilih, ajak ngobrol aja.”

Sepuluh menit kemudian, Thalia pun tenggelam dengan percakapannya dengan kesepuluh laki-laki yang cocok dengannya.

“Masih mau bahas Agra?”

“Agra, who?”

“Mantan elo.”

“Oh, sorry, soalnya yang masih live cuma Ardian, Surya, Danzel, dan Arka. Enggak ada Arga.”

“Terserah deh.”

Saya pun meninggalkan Thalia pergi, dan secara diam-diam membawa pulang satu pertanyaan yang tersisa dari obrolan kami. Pertanyaan yang saya ragu untuk tanyakan pada diri saya sendiri sedari dulu.

Dengan majunya teknologi dan kemudahan sistem digital yang ada, mengapa jatuh cinta tidak pernah menjadi mudah?

Dengan banyaknya pilihan, mengapa malah semakin sulit untuk menentukan?

Apa yang sebenarnya manusia cari?

Atau tepatnya, apa yang saya benar-benar cari?

tinderfeature1

27

happy_birthday

Hari ini saya berulang tahun. Ke dua puluh tujuh. Angka yang menarik. Karena saya selalu menganggap diri saya akan selalu terjebak pada angka dua puluhan awal dan tidak akan bergerak ke mana-mana, karena I don’t know, I feel forever young (masih tinggal dengan orang tua, lajang, tanpa tanggung jawab pada apa pun selain diri sendri dan belum pernah mencuci dan menggosok baju sendiri. I know, malu-maluin banget).

Lalu menuju pergantian umur, yang saya lakukan ternyata bukan membuat daftar doa dan keinginan yang belum tercapai seperti saat tahun-tahun sebelumnya, melainkan dengan seksama saya membuat daftar restoran mana yang memberikan makanan gratis untuk promo ulang tahun.

Yeah, right, food before everything.

Banyak perubahan dalam hidup, saya banyak belajar, namun terkadang masih sering banyak buat salah sih. Tapi ya sudahlah, namanya juga hidup. Enggak ada yang sempurna. Cuma Dian Sastro dan Habib Rizieq yang bisa jadi sempurna.

Tapi, entahlah, ulang tahun ke dua puluh tujuh tahun saya masih sama seperti ulang tahun ulang tahun saya sebelumnya. Saya melewati dan merayakannya sendirian. Hanya beberapa orang (yang mana dua orang saja; Wulan dan Dita) yang notice bahwa saya berulang tahun dan agaknya mereka berfikir perlu untuk mengucapkan selamat pada saya.

Jika dulu saya masih memiliki teman-teman terdekat yang masih rela meluangkan waktunya untuk sekadar menelfon dan menghanturkan doa. Sekarang saya harus terima mereka sedang tertidur lelap dengan suami di samping mereka saat jam dua belas malam berganti.

Semuanya berubah dan saya makin berkompromi dengan itu semua. Terutama pada kenyataan-kenyataan bahwa; bumi itu bulat dan tidak akan menjadi datar selain jika kiamat datang; sushi masih makanan terenak; dan serial Friends itu lucu banget. (Dan, yeah, harus lunasin tagihan kartu kredit tahun ini).

Tapi selebihnya ya saya senang-senang aja sih dengan apa yang saya punya sekarang. Dulu saya selalu berdoa untuk hal-hal yang saya miliki saat ini. Dan setelah ada, sudah seharusnya tugas saya mensyukurinya. Bukan lagi banyak meminta. Karena jika terus meminta, takutnya saya tidak pernah sadar dengan apa yang sudah saya raih dengan berdarah-darah. (Beneran, saya beberapa tahun terakhir kena ambien, feses saya berdarah, literally).

Saya juga sudah mulai enjoy dengan pekerjaan saya yang sekarang, yang selalu makan siang sendirian dan enggak pernah ngomong itu. Hampir setahun dan saya makin nunggu-nunggu kapan THR ditransfer ke rekening saya.

Mimpi saya pun jadi enggak muluk-muluk seperti tahun kemarin, at least saya sudah mencoba. Dan, yeah, gagal semua. Kurus enggak, jadi vlogger enggak, bikin youtube channel barengan juga gagal, nulis novel enggak jalan-jalan. Auk ah!

Tapi, saya langganan fitnes lagi sih, terus masih suka nulis-nulis outline novel, tapi kalau buat vlog dan sebangsanya sih memang sudah enggak ada harapan ya.

Dunia romansa saya pun masih kering aja, tidak seperti tahun lalu, masih ada si eye candy. Tahun ini total saya cuma berkomitmen dengan facebook dashboard, excel report, netflix dan makanan.

Tapi, yeah, saya masih beruntung toh, masih diberikan sehat jasmani dan rezeki sama Yang Maha Esa. Semua keluarga masih lengkap, masih ada rumah yang nyaman untuk ditiduri, kerjaan yang masih bisa buat bantu-bantu sekolah adik, dan kelengkapan organ tubuh yang lain.

Seharusnya itu lebih dari cukup.

Mungkin dua puluh tujuh dalam hidup saya adalah tentang duduk tenang dan diam sejenak, lalu mensyukuri yang masih bertahan dan setia di hidup saya.

Now, let me spend my time wisely with my books, tv series and foods.

Then, I think I’m just doing fine with my life.

A Day with Dewi Lestari

Sabtu kemarin, tanggal satu april dua ribu tujuh belas tepatnya di jam dua siang, setelah telat dua jam datang ke sebuah seminar di Galeri Nasional, dengan terburu-buru saya menghampiri deretan bangku depan di mana teman saya sudah menunggu dengan memberikan tampang sebal.

Setelah meminta maaf, saya langsung memfokuskan diri pada tiga perempuan yang ada di panggung depan. Penampakannya adalah: pencahayaan yang buruk, banner acara yang terlalu kecil dengan design yang tidak mematuhi tata warna dan prinsip keterbacaan (bagaimana bisa seseorang membuat sebuah spanduk dengan dasar warna merah cenderung gelap dan menimpanya dengan tulisan berwarna hitam? Well, terima kasih, we can’t see your words for sure), lalu dengan kesalahan teknis mikrofon yang sangat menggangu, yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara dengungan keras dan tajam, akhirnya secara resmi semua ke clumsy-an itu menandakan acara talkshow sudah dimulai.

Sang moderator, perempuan muda pemenang debat nasional yang sepertinya tidak berbakat menjadi seorang moderator, karena dia terlalu terburu-buru dalam menyampaikan tiap resolusi diskusi dengan aksentuasi yang kelewat grenyek- tau kan ketika seseorang tidak memiliki dinamika rendah tingginya volume suara dan intensitas suara yang terlalu nyaring, jenis suara yang membut setiap ucapannya terdengar seperti orang marah-marah. Tidak ada kelunakan di dalamnya, dan sangat tidak bisa dinikmati. Girl, for sure you should stay on debate.

Dan yang membuat saya rolling eyes adalah dia tidak berusaha untuk menyebut kedua nama pembicaranya dengan nama asli, dia memilih untuk memanggil mereka dengan sebutan mba-mba sekalian. To be honest for me is so disturbing, sorry. Tapi sesekali ada lah beberapa momen di mana saya terpana dengan beberapa pemilihan kata-katanya. Seperti saat dia mau mengajak para hadirin untuk bertanya dan dia mengucapkan kata-kata yang kurang lebih, saya tidak akan membiarkan tiap-tiap pertanyaan anda mendingin sendiri. Damn gurl! But I love her confidence actually, all my shitty comments just because I was really really annoy about the way she deliver her words toward the speakers. Just being honest here.

Dibalik semua deksripsi judes saya, saya cuma mau bilang bahwa di antara ketiga orang yang ada di panggung tersebut ada seorang perempuan yang tulisannya sudah saya baca dan kagumi sejak saya duduk di kelas dua SMP. Waktu itu tahun dua ribu empat, dan umur saya baru empat belas tahun. Saya memegang bukunya dan kebetulan membaca karyanya secara acak. Yang saya baca pertama kali adalah bukunya yang berjudul PETIR. Dengan filosofi nama-nama karakter yang menurut saya lucu (spolier alert: Nama Etra dan Watti berasal dari pekerjaan Ayah mereka dibidang listrik) membuat saya tertarik untuk menamatkan buku tersebut. Sejak saat itu saya menyimpan nama Dewi Lestari sebagai penulis favorit saya.

Dan setelah sepuluh bukunya yang saya baca dan ratusan or ribuan jam yang saya habiskan dengan membaca seluruh isi blognya dari tahun dua ribu delapan. Akhirnya saya bisa bertemu dengan Dewi Lestari secara langsung.

Dan yang terbaiknya adalah, ia menyebut nama saya dan tatapan mata kami bertumbuk beberapa detik (kondisi ini terjadi karena saya mengajukan pertanyaan juga sih haha).

Momen sepanjang satu jam setengah di hari Sabtu yang mendung itu terasa tidak nyata. Itu DEWI FUCKING LESTARI duduk terpisahkan hanya beberapa kaki dari tempat saya berada dan kenyataan bahwa kami berbagi oksigen yang sama dalam satu ruangan adalah sebuah GOALS checklist yang akan saya kristalkan dalam memori hidup saya.

Terutama setelah saya mengatakan pada DEWI LESTARI secara langsung bahwa cerpen MENCARI HERMAN adalah cerpen terbaik yang pernah saya baca sepanjang hidup saya.

Ok, enough story about being fanboy I guess.

Kembali tentang seminar tadi, dengan tema Indonesia Menulis, para mahasiswa UI jurusan Hukum ini menghadirkan dua penulis perempuan kece dengan dua perspektif yang menarik. Ada Agnes Davonar sang penulis novel best seller seperti; Surat Kecil untuk Tuhan, My Idiot Brother dan Gaby. Beberapa cerpen dan novelnya telah diangkat ke pelbagai layar lebar dan sukses di pasaran. Menghadirkan sebuah topik yang menurut saya penting untuk dibagi pada para penulis pemula. Yaitu tentang membuat brand, konten, dan marketing sebuah karya.

Kemudian Dewi Lestari, sosok yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi tentang kemampuan teknis penulisannya, membagikan beberapa tip dan cerita pahitnya pada masa-masa awal penulisan buku maha penting SUPERNOVA.

Dua pembicara yang berprofesi sebagai penulis best seller ini membagikan resep penulisan dan post production penulisan yang sangat applicable bagi para penulis pemula. Secara bebas akan saya list di bawah ini:

  1. Dewi Lestari dan Agnes mengajarkan kita bahwa kegagalan bukan akhir dari sebuah perjuangan. Mereka menceritakan tentang penolakan demi penolakan dari para penerbit besar pada masa awal penulisan mereka. Tidak putus asa, mereka pun memutuskan untuk menerbitkan buku mereka secara mandiri. Dan hasilnya? Best seller! Terlebih untuk Agnes, dia telah memiliki kontrak eksklusif dengan sebuah brand coklat yang membuatnya menjadi penulis established dengan karya yang belum terbit, tapi sudah diperebutkan banyak orang. Pencapaian yang terbilang sukses untuk penulis di Indonesia.
  2. Menulislah karena itu adalah sebuah panggilan hati dan bukan karena faktor uang. Secara komikal Dewi Lestari menceritakan kisahnya tentang bagaimana dulu saat ia mengikuti satu buah lomba cerpen di sebuah majalah dengan honorium 75 Ribu yang di masa itu sangat besar sekali bagi anak SMP. Dengan pedenya dia sudah membuat daftar ke mana saja uang itu akan pergi. Setelah dua bulan berlalu dan namanya tidak pernah hadir dalam deretan pemenang bulanan, akhirnya ia sadar ia telah gagal. Sampai kuliah pun ia terus mengalami penolakan dan kegagalan yang membuatnya akhirnya sadar bahwa karya tulisannya tidak pernah menang dikarenakan tidak sesuai dengan kriteria majalah-majalah tersebut. Entah tulisannya terlalu pendek untuk sebuah cerbung, atau terlalu panjang untuk sebuah cerpen. Yang akhirnya membawa dirinya pada keputusan bahwa ia akan menulis untuk dirinya sendiri. Untuk sebuah pencapaian kepuasan aktualisasi dirinya di usia 25 tahun. Untuk membuktikan ia telah menang atas dirinya sendiri. Sebuah sprit awal yang sangat perlu ditanamkan pada tiap-tiap penulis pemula bahwa, mulailah menulis karena itu hal yang paling penting untuk diri kamu sendiri. Bukan karena untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
  3. Marketing strategi adalah sesuatu yang kadang kala luput oleh para penulis di Indonesia. Karena memang sejatinya tugas penulis adalah menulis dan menyerahkan pemasaran buku pada penerbit. Namun bagi mereka yang berkeinginan untuk menerbitkan buku secara mandiri, bagian marketing adalah hal yang krusial. Karena mereka harus tahu bagaimana mendistribusikan buku mereka dan sampai di tangan para pembaca. Agnes menceritakan kisahnya yang menurut saya sangat strategis, yaitu dia membuat sebuah blog dan menuliskan ratusan cerpen di sana dan membuat traffic dan hit websitenya tumbuh secara organik. Setelah mendapat angka jutaan viewers ia menawarkannya pada penerbit. Dengan bargain seperti ini, penulis menjadi memiliki peluang lebih untuk membuat karya mereka diterbitkan. Karena mereka telah lebih awal membuat brand dan audience mereka sendiri.
  4. Simpan semua tulisan lama. Karena kata Dewi Lestari, kita tidak akan pernah tau kapan tulisan-tulisan tersebut akan menjadi fragmen-fragmen support yang penting dalam penyatuan sebuah manuskrip. Kadang it helps. Puisi-puisi dalam novel Supernova jilid pertama tadinya berasal dari bank data Dewi Lestari, yang akhirnya ia rajut menjadi sebuah kesatuan dalam bukunya tersebut. Dan sebut saja Filosofi Kopi, Madre, juga Perahu Kertas yang berasal dari harta karun lama Dewi Lestar. Jika dia tidak pernah menyimpannya, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk membaca karya-karyanya tersebut. Jadi sepayah apa pun tulisan kamu, just keep it. We don’t know how those writings will help us.
  5. It sound cliche but please NEVER GIVE UP. Karena menyelesaikan tulisan bukan pekerjaan semalam jadi. Dan setelah jadi pun bukan barang mudah untuk menerbitkannya. Jadi tetaplah berjuang. Karena jika menjadi seorang penulis adalah benar-benar mimpimu, jangan pernah berhenti mengejarnya.
P_20170401_152638_BF
Selfie bahagia dengan Dewi Lestari

Obrolan Sabtu kemarin agaknya membuka pikiran saya bahwa memang menjadi penulis adalah pekerjaan seumur hidup. Dan kata menyerah tidak ada di dalamnya. Semangat untuk teman-teman yang sedang ingin memulai atau sudah menjalani proses mencapai mimpinya menjadi penulis!