Love in the age of the internet

Saya sih bukan orang yang kompeten ya untuk ditanya tentang perkara hubungan atau komitmen. Pengalaman komitmen terlama dan teromantis saya hanya bersama series Friends, Game of Thrones, dan Sex and The City. Selebihnya? Ya sudahlah, anggap saja itu cuma ketidaksengajaan, sama-sama butuh, lalu selesai.

Tapi Thalia lain cerita, dia berpacaran dengan Agra sedari SMA. Dari berat badannya empat puluhan kilo, hingga sekarang di angka delapan puluhan kilo.

Seberat itulah cinta mereka berdua.

Namun sayang, beratnya cinta bukan menjadi parameter valid untuk langgengnya sebuah hubungan. Dua belas tahun berpacaran, hingga mendekati umur tiga puluh, Thalia belum melihat tanda-tanda akan ada janur kuning yang akan hadir di depan gang rumahnya.

“Bukan berarti gue tipe cewek yang gila nikah, dan maksa-maksa pacar gue buat buru-buru nabung ratusan juta buat pesta pernikahan yang besoknya orang-orang enggak bakal inget juga. Gue cuma pengein tahu hubungan ini akan ke mana. Goal sih pasti tentang menikah ya, tapi setidaknya gue secure dia memang mau menghabiskan sisa hidupnya sama gue. Kalau memang enggak, ya sudah, lebih baik selesai.”

Ia menghisap batang rokoknya dalam-dalam, dengan perlahan ia hembuskan asap rokoknya yang menggumpal putih. Ia pandang asap-asap rokok tersebut dengan pilu, lalu beralih menatap saya, ada senyum di sana. Meski saya tahu berat untuk ia lakukan.

Siapa sih yang bisa tersenyum setelah hubungan selama sepuluh tahun dibina hancur begitu saja, apalagi hanya karena rasa takut dan ketidakpercayaan. Hal yang ia rasa, seharusnya sudah lenyap dari hubungan mereka.

Tapi ternyata tidak, rasa takut dan ketidakpercayaan bukan sekadar ‘hanya’, mereka pondasi paling dasar. Jika salah-salah pasang, mereka akan jadi semacam jamur dalam hubungan. Yang jika tidak diangkat, akan mematikan mereka berdua.

“But I still do love him. Maybe not as much as before, tapi cukup buat gue untuk sudi saat bangun tidur di pagi hari, dan hal pertama yang gue lihat adalah muka dia. Muka bantal yang sepuluh tahun ini selalu ada, dan menyapa gue dengan mata ngantuknya yang terbuka sebelah.”

Kini Thalia benar-benar tensenyum. Pahit.

“Mungkin elo mau coba metode gue?”

“Apa tuh?”

Pacarque. Aplikasi digital untuk cari pasangan, tinggal isi form dan tulis spesifikasi pasangan yang elo cari. Mulai dari background pendidikan, suku, tinggi badan, berat badan, panjang alat kelamin, sampai kekayaannya. Bisa ditambahin dengan jenis musik apa yang dia dengar, film atau buku favoritnya, dia cari komitmen atau cuma mau have fun. Semua bisa di custom sendiri. Bisa by geo lokasi juga lagi. Tinggal klik, tunggu alogaritma aplikasinya, vice verca, teman kencan pun hadir. Nyari pasangan enggak pernah segampang ini loh.”

Seperti mendengar pedagang obat-obat pinggir jalan, Thalia memandang saya takjub sekaligus bingung. Tapi mungkin lebih banyak tidak percayanya.

“Jadi elo kalau jalan sama orang, lewat aplikasi ini? Pacarque ini?”

“Jelas. Lumayan bisa makan enak gratis, kalau elo suka ya lanjut, kalau enggak tinggal cancel. Kayak elo belanja online aja, bedanya elo belanja pacar. Seru kan? Jadi udah enggak usah kaku mau cari omongan apa pas ketemu. Tinggal tanya, oh elo suka film ini, gue juga suka. Tinggal google dan kepo Instagramnya sedikit, udah ketawan deh dia orangnya seperti apa. Praktis dan hemat waktu.”

“WOW!”

“Mau coba?”

“Sebentar-sebentar! Hello… mereka orang asing! Kalau salah satu dari mereka adalah penjahat kelamin atau serial killer bagaimana?”

“Kan ada kualiti kontrolnya, jadi buat jadi member di sana elo dicek sistem gitu. Jadi benar-benar tersaring.”

“Tapi…”

“Apa bedanya sama elo ngajak ngobrol orang asing di cafe, kantor, atau tempat umum lainnya. Elo enggak bakal tau dia seperti apa kan sifatnya. Bahkan lebih random, elo harus menghabiskan pendekatan yang alot dan lama. Hanya untuk tahu seperti apa orangnya. Bagus kalau cocok, lah kalau enggak? Buang-buang waktu. Pakai aplikasi pacarque elo cuma butuh satu kali klik.”

“Tapi..”

“Enggak ada jaminan juga bakal langgeng antara ketemuan dari digital atau real life. Coba aja dulu, baru komentar.”

Thalia hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan.

“Entahlah. Gue cuma ngerasa, kalau gue nanti coba, gregetnya enggak ada aja.”

“Greget apa? Lo dikasih minimal tiga pilihan loh. Kalau banyak yang cocok, bakal banyak daftar orangnya, elo tinggal geser kiri kalau enggak suka, dan geser kanan kalau elo suka. Bisa bikin back up plan juga lagi. Enggak cocok satu, bisa langsung ke opsi berikutnya.”

Thalia makin kelihatan tidak tertarik.

“Greget yang gue maksud adalah saat kita sibuk ngejalanin hari-hari bareng untuk memecahkan misteri pasangan kita. Kita jadi tumbuh bersama dia untuk tahu dia orang yang seperti apa, dan pada akhirnya kita punya itu sebagai bekal kecocokan yang akan membuat masing-masing jadi berkompromi satu sama lain dan berbahagia karenanya. Bukannya itu poin dari sebuah komitmen? Ketika perbedaan melebur menjadi sebuah pengertian?”

“Elo cuma punya dua jam waktu ketemu sama mereka sehabis pulang kerja. Enggak ada waktu buat kencan konvensional seperti itu lagi. Lagian lo gagal juga kan?”

“Tapi setidaknya gue punya memori. Gue punya pembelajaran. Organik. Enggak cuma lewat klik klik di google atau media sosial.”

Tapi saya tetap ngotot memberikan handphone saya dan membuatkan keanggotan Thalia di pacarque. Setelah tiga puluh menit, akun Thalia pun selesai dibuat.

“Selesai, profil elo udah jadi. Tinggal klik tombol search.”

Dengan malas Thalia menekannya, tidak sampai satu menit, Thalia mendapatkan sepuluh foto profil laki-laki yang sesuai dengan kolom-kolom pertanyaan yang ia isi.

“Wow! Ada sepuluh laki-laki yang cocok dan tertarik dengan profil gue? Terus?”

“Tinggal pilih, ajak ngobrol aja.”

Sepuluh menit kemudian, Thalia pun tenggelam dengan percakapannya dengan kesepuluh laki-laki yang cocok dengannya.

“Masih mau bahas Agra?”

“Agra, who?”

“Mantan elo.”

“Oh, sorry, soalnya yang masih live cuma Ardian, Surya, Danzel, dan Arka. Enggak ada Arga.”

“Terserah deh.”

Saya pun meninggalkan Thalia pergi, dan secara diam-diam membawa pulang satu pertanyaan yang tersisa dari obrolan kami. Pertanyaan yang saya ragu untuk tanyakan pada diri saya sendiri sedari dulu.

Dengan majunya teknologi dan kemudahan sistem digital yang ada, mengapa jatuh cinta tidak pernah menjadi mudah?

Dengan banyaknya pilihan, mengapa malah semakin sulit untuk menentukan?

Apa yang sebenarnya manusia cari?

Atau tepatnya, apa yang saya benar-benar cari?

tinderfeature1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s