Semacam Review Film Jomblo Jika Tidak Salah

Tahun itu 2006, gue berumur enam belas tahun dan masih duduk di bangku kelas dua SMA. Banyaknya waktu yang ada kala itu membawa gue membaca novel berjudul Jomblo karya Adithya Mulya.

Bukunya bagus. Banget. Dan sejak itu gue ngefans sama Adithya Mulya. Lalu gue pun membaca buku keduanya, Gege Mengejar Cinta. Tidak ada yang lebih indah dan menyakitkan daripada membaca buku tersebut.

Adithya Mulya mampu membuat gue ketawa dan nangis di waktu bersamaan. Begitu kuat, sampai meyakinkan diri gue selama bertahun-tahun yang datang bahwa gue ingin menjadi sosok pria seperti Gege. Yang menantikan cinta dengan sabar dan hati-hati.

Hingga pada akhirnya, sepuluh tahun sudah, cinta yang gue nantikan dengan sabar dan hati-hati itu tidak pernah hadir dan hanya berupa kepingan-kepingan cerita picisan yang usang seiringnya waktu. Janur kuning sudah menyilang dan semua sudah berubah.

Tidak ada Gege, tidak ada cinta yang berbalas, persis seperti yang diceritakan Adithya Mulya. Hanya menyisakan gue yang betul-betul menjelma menjadi si hopeless romantic. Bedanya gue dengan Gege, gue sinis, apatis, dan lebih judes.

Mau gimana lagi? Hidup di Jakarta kalau enggak gitu bisa stress kali.

Lalu di tengah malam minggu di Juli 2017 yang random, padahal besok pagi-paginya gue harus dokumentasiin tunangannya Firman. Gue memilih begadang dan membuka file-file film di hardisc dan menemukan film Jomblo. Tidak disengaja tentu saja.

Jomblo menurut gue merupakan karya terbaik Hanung Bramantyo dalam mengadaptasi cerita dari novel dan meneterjemahkannya ke bentuk visual. Dulu film ini begitu iconic, sampai membawa nama Ringgo Agus menjadi bintang film besar. Akting Ringgo yang memiliki kemampuan komedi yang khas membuat adegan saat ia memakai kostum ayam mengelilingi kampus menjadi scene yang menggemaskan.

Seperti melihat cowok nerdy khas Michael Cera. Kalau adegan itu di reproduksi ulang dan yang main adalah Raditya Dika atau para komika-komika gengnya, hasil yang didapat mungkin adalah candaan yang dipaksakan dan ngebuat gue mau muntah. Like, “Nyet ape sih!”.

Namun di film Jomblo semua terasa effortlessly, menandakan bahwa pembuatannya tidak main-main.

Setelah beres nonton filmnya, after taste yang didapat masih sama. Film Jomblo masih menyisakan perasaan sesak setelahnya. Menandakan bahwa film Jomblo memang sebuah karya dengan presentasi yang baik.

Masih di tahun yang sama, saat DVD filmnya keluar si R langsung membelinya dan kita berdua nonton di kamarnya dengan khidmat.

Di tengah-tengah film, ia kemudian berkomentar, “Gue harus kuliah di Bandung, punya geng seperti di film ini.”

Menarik, film selalu mampu menggerakan orang untuk menjelma menjadi salah satu karakter di dalamnya atau hidup dalam narasi cerita yang mereka sukai.

“Bagian mana yang elo suka?” tanya gue setelahnya.

“Konsep pacarannya, kuliah di Bandung bebas ya,” jawabnya sederhana.

Memang. Bahkan hubungan Lani dan Agus begitu ideal untuk dimiliki.

Lalu, saat kami berdua masuk waktu kuliah. Tidak ada satu pun di antara kami yang berkuliah di Bandung. R masuk jurusan Teknik seperti yang ada di film Jomblo, R berpacaran dan berselingkuh, R memutuskan hubungan beberapa kali, R berhubungan sex pada akhirnya, dan R menjadi jomblo lagi. Namun kini mengganti referensi filmnya.

Gue?

Dulu mencintai R, melupakan R, jika sedang sendiri kadang kangen dengan R, lalu bertemu D, D punya pacar lain, R hadir lagi, R brengsek lagi, dan voila kami tidak berbicara selama bertahun-tahun. Namun kadang rindu itu masih ada.

Tapi kini di umur 27, gue menyadari bahwa obsesi kami untuk menghidupkan narasi Jomblo dan segenap sekuens di dalamnya. Atau  mengingingkan menjadi atau menemukan karakter persis seperti di film tersebut adalah sebuah usaha kesia-siaan.

Karena yang kami lupa, semua itu hanya film. Semua hanya rekaan. Dan mungkin propaganda.

Seperti menyesap kepahitan yang menempel di lidah, jika dalam satu waktu berkunjung ke Bandung atau menyebut salah satu keyword yang berhubungan dengan film atau novel Jomblo.

Bagai terprogram, kenangan dan perih itu pun hadir menjadi satu paket. Mengingatkan gue dengan sedikit mengejek bahwa gue pernah sebodoh itu percaya bahwa sex harus menunggu saat nikah dan cinta adalah milik semua orang.

Karena kenyataannya, keduanya hanya bohong belaka.

fictions_jombloadit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s