Setan Itu Bernama Waktu

Sadarkan kamu, hal paling mengerikan dari hidup di dunia ini adalah betapa kamu tidak sadar bahwa hal yang paling manakutkan sebenarnya ada di depan matamu. Bercongkol jelas tanpa kamu terganggu dengannya. Hari-hari kamu pun bergumul dengannya, menjalaninya bahkan dengan canda dan tangis, dan kemudian secara diam-diam saat kamu lengah, entah bahagia atau depresi, dia akan mengambil semua yang kamu punya tanpa kamu tahu. Meskipun kamu sadar, kamu tidak dapat melakukan apa pun. Karena dia bermain dengan licin. Dan kamu terjebak didalamnya. Tanpa bisa melawan atau berargumentasi.

Setan jahat itu bernama waktu.

Waktu.

Sesuatu yang menandai batas terhadap apa yang kamu jalani di hidup ini. Sering kali ia datang dengan cepat, kemudian melambat, dan yang paling ditakutkan adalah menghilang.

Lalu pertanyaan itu muncul. Seberapa sudah kamu mengatur waktu yang ada? Atau jika ingin lebih dramatis lagi, waktumu yang tersisa?

Jika hidup seperti dalam film, dalam transisi scene babak 1 menuju babak 2 akan datang layar hitam dengan musik statis dan secara perlahan di tengah-tengah akan muncul tulisan, dua tahun kemudian atau dua puluh tahun yang lalu.

Secara acak scene akan berjalan seperti biasa. Tokoh di dalamnya pun bermain sesuai perannya, namun semua terukur, semua bergerak pada tempatnya. Pada plot yang sudah solid.

Namun di kehidupan nyata, fast forward atau pun flashback sesuatu yang tidak bisa dijalani. Sayangnya hanya bisa dikenang.

Tapi, yah, manusia kan hanya kumpulan tumpukan daging yang memiliki segudang emosi dan memori yang selalu mereka bawa dan tangisi.

Kebanyakan sih terjadi saat Jumat malam datang saat tumpukan kerjaan begitu menggunung dan dengan sengaja kamu tinggalkan. Kemudian dengan payah badanmu dibawa jalan sendirian ke sebuah restoran Jepang yang sudah kita tahu bahwasanya setelah makan di sana dapat dipastikan tiga minggu ke depan usus-usus di perut hanya akan di isi dengan bungkusan mie instan. Namun tak apalah, kadang kamu butuh momen kontemplasi itu.

Untuk bergumul dengan si waktu, menandakan setan keparat itu masih memilikimu, mengendalikanmu.

Saat irisan gemuk salmon di restoran Jepang itu datang, secara resmi malam antara kamu dan si waktu pun dibuka.

Kamu tuang kecap asin itu di mangkuk kecil, warna hitam pekatnya mencair dan dengan cepat mengisinya dengan angkuh. Dengan telaten kamu memadukan wasabi pedas berwarna hijau itu di atas tubuh salmon merah muda yang sudah membuat mulutmu berliur.

Kemudian momen terbaik pun datang, kamu tabrakan daging salmon itu ke dalam mangkuk kecil tadi. Bermandi kecap asin, kamu masukkan daging salmon mentah itu ke dalam mulutmu.

Gigitan pertama membuatmu meringis kegirangan. Begitu nikmat, seolah si setan waktu itu menghentikan langkahnya. Kamu tersesat dalam kenikmatan. Dan mengulangnya lagi hingga empat kali, dan daging salmon di depanmu habis sudah.

Lalu dengan sopan, si waktu akan berdehem pelan, mencoba menarik perhatianmu.

“Ya?” tanyamu.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” ujar si waktu dengan tidak sabar.

“You running outta time? Mungkinkah waktu kehabisan partikelnya sendiri?”

Rasa penasaran itu keluar dari mulutmu. Sang waktu hanya memutar matanya tak tertarik. Pertanyaan klasik, pikirnya. Tentu saja semua ada batasnya, bahkan waktu sekalipun.

“Yang bergerak pasti akan berhenti,” ucapnya malas.

Kamu mengangguk, mencoba memahami. Sekalipun kamu tahu, di luar sana orang akan melihatmu berbicara dengan dirimu sendiri.

“Lalu apa?” tanya setan keparat itu dengan lebih mendesak.

“Aku mau balik ke lima belas tahun yang lalu.”

Sang waktu memandangmu tajam.

“Kenapa kali ini jauh sekali?”

“Karena semuanya berawal dari sana dan harus berakhir di sana,” jawabmu pasti.

“Tidak.. tidak.  Tidak bisa sejauh itu. Kamu tahu peraturannya.”

Matanya pun selesai memandangmu. Berharap kamu pun sadar bahwa ini usai dan kamu bergegas pulang.

Namun niatmu kelewat keras dan kamu tahu si setan waktu itu punya banyak cara licin untuk membuat permintaanmu jadi nyata. Ia hanya mengulur, bermain-main dengan emosimu.

“Tapi aku adalah si penghenti waktu. Kamu tentu ingat itu.”

Dan tepat setelah ucapan itu, setan waktu itu mengeluarkan jam pasirnya, meninggalkannya di atas mejamu, lalu sebelum ia menghilang, dalam satu petikan jarinya udara di dalam ruangan itu menjadi kosong, badanmu seperti mengapung tinggi. Kamu kesakitan. Teramat sakit hingga kamu lupa apa artinya sakit.

“Kamu tahu resikonya.”

Matamu memerah, perutmu seperti ditusuk seribu pisau tajam yang menggantung kekal tanpa bisa diserabut. Nafas yang tadi berjalan seperti tercekat hebat, entah telah berapa lama, kamu pun berhamburan dengan perih yang termat nyeri.

Di situ kamu sepakat untuk menyadari bahwa kamu telah kehilangan seperapat waktumu di masa depan, hanya untuk mengulang apa yang telah usang dan terlewat di masa lalumu yang membosankan itu.

shutterstock_271332740

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s