Cerita Tentang Kehidupan Sosial Media

1_YH5NTrbpgIwSKiOznqcOww
Photo credit: Lance Hossein Tagestani, Nadine Klingen, Lode Woltersom, Dionne Cats, Suleiman Alaoui, Wies Hundling, Elsemieke Uijen and Chiara Aerts.

Sebagai netizen ranting retweet dan repost meme-meme tidak berfaedah juga garing namun ku suka, ada beberapa hal yang membuat gue lama-lama khawatir dengan aktivitas internet akhir-akhir ini.

Dengan Facebook membeli Instagram dan akhirnya merubah alogaritma feed Instagram menjadi seperti Facebook, lama kelamaan gue merasa melihat diri gue seperti hidup dalam bubble yang dipilih oleh orang lain untuk gue jalani tiap harinya.

Apa yang gue lihat dan baca setiap kali buka sosial media adalah sesuatu yang sudah terfilter dengan sendirinya oleh satu mesin yang merasa beberapa hal yang gue cuma sekali dua kali ‘like’ dan ‘komentar’ adalah sesuatu yang menjadi interest gue luar dalam. Data-data behavior internet gue terekam dan mesin itu akan memberikan referensi konten-konten yang ‘mereka pikir’ adalah gue banget.

Padahal faktanya yang namanya sesekali bukan berarti itu yang mau gue lihat tiap hari juga kali bung!

Sekarang setiap buka Facebook dan Instagram gue jadi jarang ngeliat orang-orang yang memang dekat sama gue, alih-alih malah orang-orang asing dan beberapa teman yang ga begitu dekat namun karena asas gue pernah like satu dua kali mungkin foto bayi atau suatu aktivitas sosial media mereka dulu banget. Berakibat gue terpaksa jadi tau banget update paling mikroskopik akan hidup mereka. Padahal enggak perlu-perlu amat loh.

Dan impactnya? Gue kehilangan momen dan kabar dari orang-orang yang memang dulu jadi alasan utama gue untuk bikin Facebook. Inner circle gue. Semua itu terkikis karena beberapa dari mereka jarang update sosmed, dan platform-platform macam Facebook dan Twitter berpikir mereka enggak relatable buat gue. Hello…. gue malah penasaran sama yang itu dibanding si xxxxx yang suka pamer bayinya yang baru bisa cebok sendiri.

Terkadang gue pun jadi merasa asing dengan kehidupan sosial media gue.

Tanpa sadar gue mengizinkan hal ini terjadi dalam hidup gue karena gue pun tidak punya kuasa atas akun gue sendiri. Salahnya juga adalah gue yang sudah terlanjur ketergantungan dengan sosial media ini merasa apa yang beredar di dalamnya adalah sesuatu yang lebih penting ketimbang apa yang terjadi di dunia nyata. Gue berperan di dalamnya.

Gue masih inget banget ketika dulu Twitter masih begitu booming dan berpengaruhnya di tahun 2008-2011, gue dan teman-teman kampus yang rajin ngetwit dan rumpi di sosial media pasti akan merasa risih ketika hal yang kita bahas di Twitter kebawa pada ranah dunia nyata dan sehari-hari.

Kita akan geli sendiri ketika ada yang bahas hashtag atau jokes yang kita sering pakai di Twitter. Apa yang terjadi di twitter, stay di twitter kali ah.

Namun setelah enam tahun berlalu, batas antara dunia nyata dan dunia di sosial media jadi sesuatu yang bias.

Bahkan dulu ada anekdot bahwa setiap orang harus punya dua nama, nama asli dan nama akun twitter. Kini persona itu berubah menjadi satu tubuh. Avatar pun menjadi nyata. Internet benar-benar telah menjadikan kita semua warganya mau tidak mau. Secara kasual kita menjadikan internet bagian hidup terpenting dan terprivat yang tak terpisahkan.

Kita bisa lebih ekspresif, berani, bahkan bodoh di sosial media.

Masalah yang bersinggungan di sosial media kini bisa berujung panjang dan pahit di dunia nyata. Meski kadang ada yang berbuah manis, namun di bubble gue sekarang sepanjang apa pun yang gue lihat adalah pertarungan kata-kata kasar dan argumen-argumen yang membuat polusi pikiran. Bikin eneg.

Tiap-tiap orang merasa suara dan pendapatnya adalah yang paling penting dan wajib untuk semua orang tahu. Padahal yang namanya lapisan sosial bakal ada aja gesekan, pasti ada perbedaan. Karena tiap orang memiliki standar mereka sendiri, taste mereka sendiri, it doesn’t mean ketika satu opini elo ditentang oleh sebagian orang itu artinya mereka adalah haters atau ngajak berantem.

Ya mungkin simply karena mereka hidup dengan definisi yang berbeda yang kebetulan aja sekarang berbagi ruang yang sama di internet sama elo. Jadi jangan sewot dan merasa ini rumah aing terserah aing. Karena masalahnya tiap orang yang pakai internet bisa punya akses buat lihat jejak digital elo.

Kejadian yang paling menjengkelkan tentu saja kalau melihat ada orang yang mulai bawa isu SARA dengan ucapan kasar dan merendahkannya itu. Gue yang labil dan drama ini tentu saja kepancing untuk komentar. Ujungnya? Ya, perang bacot.

Percaya deh, di awal-awal pasti sangat sulit untuk menghindari dorongan untuk tidak berkomentar. Pasti gemas ngeliat kebodohan-kebodohan yang berseliweran. Tapi akhirnya gue sadar bahwa meladeni itu semua hanya buang-buang waktu, energi, dan kuota.

Untungnya kini di Facebook sudah ada fitur unfollow namun tetap bisa berteman demi asas masa lalu dia orang yang baik namun kini dia berubah jadi orang yang layak untuk dihindari.

Selain ketiadaan sopan santun di internet yang meresehakan lagi adalah fenomena orang-orang yang terobsesi dengan angka-angka like, followers, dan komentar. Metriks-metriks itu yang akhirnya membuat alogaritma bekerja dan menentukan bahwa hal-hal tertentu menjadi penting dan viral. Terlepas penting tidak pentingnya postingan tersebut.

Padahal secara konten apa yang sebenarnya jadi advokasinya?

Akhirnya, yang menyedihkan adalah semua angka itu kini jadi yang paling matter dalam sebuah kesuksesan seseorang di internet. Mereduksi hal besar menjadi pertanyaan, berapa nanti yang ngelike? Berapa followersnya? Berapa yang bakal reach kontennya?

Angka-angka dan kepopuleran semu itu akhirnya mencungkil sesuatu yang paling penting. Untuk apa konten itu dibuat dan akan berpengaruh seperti apa nantinya? Akankah merubah sesuatu?

Sudah banyak sekali contoh nyata beberapa orang yang melacurkan dirinya demi genapnya kenaikan jumlah angka-angka like dan followers di sosial media mereka. Kita semua diperbudak oleh itu semua.

Kapan terakhir kali bisa ngobrol tanpa semenit dua menit enggak ngeliatin gadget? Kapan terkahir kali bisa makan tanpa harus pusingin nanti make filter foto apa dan pake quotes sok pinter dan nginggris yang mana lagi? Kapan terkahir kali jalan-jalan santai tanpa harus mikirin ganti-ganti baju demi ootd dan benar-benar nikmatin suasana, manusia, dan lingkungan yang disekitar?

Gue tau sosial media juga penting, hence ironisnya gue bahkan dapet duit dan kerja di bidang sosial media. Namun gue sadar, kini sosial media berubah jadi monster yang pelan-pelan makan kewarasan dan kepedulian kita sebagai manusia. Bukan lagi jadi sarana silaturahmi dan cerita-cerita sharing bermakna lagi.

Maka dari itu, lewat gegap gempita dunia internet juag sosial media yang sangat bising akhir-akhir ini. Terkadang gue berfikir, obsesi mencintai diri sendiri yang berlebihan, bibit-bibit fitnah dan kebencian yang sudah terlanjur menggunung dan ditelan mentah-mentah oleh banyak orang, akan seperti apa ya ujungnya nanti?

Apakah ini semua berakhir seperti di salah satu episode epik Black Mirror? Ketika teknologi, internet, dan sosial media menjadi pisau tajam yang tak lagi membantu namun hanya menjadi alat destruktif yang melukai dan menghabisi apa pun  yang tidak seirama dengan tujuannya.

Akankah itu terjadi dalam waktu dekat? Atau yang menakutkan adalah sebenarnya itu semua sudah terjadi dan gue terlambat untuk menyadarinya.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Tentang Kehidupan Sosial Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s