Review Buku Aroma Karsa: Petualangan Aroma yang Memabukkan

Menuju weekend ada baiknya mengonsumsi bacaan seru @deelestari terbaru yaitu #aromakarsa yang bisa membawamu pada petualangan yang tak ingin kamu hentikan!

Advertisements

Processed with VSCO with 6 preset

Cendana dan melati tak pernah gagal membengkokkan ruang dan waktu.

Sebuah pembuka yang langsung membawa imaji para pembacanya masuk ke dalam dunia keluarga kaya Prayagung dengan segala rahasia di dalamnya.

Novel terbaru Dee Lestari yang cukup tebal, sebanyak 700-an halaman, mengangkat tema baru dalam perbukuan Indonesia. Yaitu dunia aroma.

Alasan mengapa Dee mengangkat tema tersebut karena ia merasa masih sedikitnya narasi cerita yang mendeskripsikan aroma sebagai kekuatan bercerita.

Kisah sentral Aroma Karsa berada pada pencarian Puspa Karsa. Sebuah kekuatan yang mampu memberikan pemiliknya kelanggengan kekuasaan.

Dari sana Raras Prayagung, pemilik perusahaan parfum terkemuka di Indonesia bernama Kemara, dengan sabar merencanakan ekspedisi tersebut selama berpuluh-puluh tahun. Sampai akhirnya Raras menemukan dua orang yang diramalkan dapat membantunya menemukan Puspa Karsa mengandalkan keistimewaan bakat mereka.

Mereka adalah Jati Wesi dan Suma.

Dua orang yang hidup dengan kontras kelas sosial berbeda namun memiliki satu persamaan yang mengunci mereka dari kebanyakan interaksi sosial orang pada umumnya.

Jati dan Suma dilahirkan dengan penciuman super yang sering kali menyiksa mereka dan dialienasi dari kesederhanaan hidup.

Dari sana konflik, petualangan, juga misteri menuju Gunung Lawu menjadi santapan bergizi untuk dibaca tanpa henti.

Seperti layaknya kisah petualangan, seiring berjalannya cerita satu persatu tabir peristiwa yang mencekam pun mengejar mereka.

Apakah ekspedisi pencarian Puspa Karsa akan berhasil?

Temukan jawabannya dengan membaca novel Aroma Karsa ya!

Saya sebagai pembaca di awal cerita sangat asik dibawa pada perkenalan kikuk antara Jati dan Suma. Meskipun sengit namun romansa melankolia Jati ke Suma sangat mengharu biru.

Mulai dari surat-surat cinta Jati yang tak pernah sampai, pembuatan parfum atas wangi tubuh Suma, juga keintiman yang dirasakan lewat kesamaan nasib melahirkan obsesi satu sama lain yang membuat kisah Jati dan Suma begitu manis juga pahit secara bersamaan.

Pembaca dibuat mabuk juga gemas dengan tingkah mereka berdua.

Dan bukan Dee Lestari namanya jika tidak melakukan riset mendalam untuk melahirkan tiap-tiap karya yang ia buat. Dee sampai pergi ke Singapura untuk mengikuti kelas pembuatan parfum dan berkunjung ke daerah Bantar Gebang untuk melihat langsung bebauan dan situasi yang ada di sana.

Sehingga dalam buku Aroma Karsa narasi dan deskripsi Dee yang begitu detail dan kaya akan dunia aroma terasa hidup hingga ke hidung pembacanya.

Namun, sejujurnya yang agak mengganjal buat saya sebenarnya ada di seperempat akhir halaman. Ketika tensi ekspedisi ke Gunung Lawu dimulai. Saya mengharapkan ada sesuatu yang besar terjadi. Seperti pertempuran epik atau pun tragedi-tragedi dengan drama yang meremukkan bak di cerita Game of Thrones.

Konspirasi yang dijahit dari awal cerita pun saat menuju akhir terhempas begitu cepat dan terkesan terburu-buru.

Terlepas dari itu semua, saat menamatkan cerita Aroma Karsa diri saya masih dihinggapi perasaan bungah yang menyenangkan. Petualangan setebal 700 halaman ini menciptakan sebuah dunia yang tidak pernah disadari sebelumnya. Dan rasa cinta saya pada karya Dee Lestari pun semakin mendalam.

Yang mau saya saluti dari peluncuran novel Aroma Karsa adalah strategi marketing yang dijalankan oleh Dee Lestari and co. Lewat campaign ‘menghidupkan kembali nuansa cerita bersambung’, Dee beserta segenap tim Bookslife membentuk komunitas yang bisa menjadi agen voluntir tersendiri untuk menyebarkan kekuatan Aroma Karsa ke banyak orang.

Mengumpulkan pembaca avid pada satu kanal merupakan langkah yang tepat. Karena dengan berinteraksi di sana ada suatu eksklusifitas yang mampu menggerakkan para anggota untuk menjalin keterikatan lebih dalam dari sekadar teknik marketing PO dan bonus tanda tangan belaka.

Saya pernah membahas lebih detail tentang pengalaman tribe digital Aroma Karsa di sini.

Ditilik lebih dalam lagi menurut kaca mata marketing digital, peluncuran Aroma Karsa dalam bentuk cerbung lewat sebuah paltform Bookslife membuktikan bahwa adaptasi adalah motor menuju penyelesaian jurang masalah.

Mengejar awareness di kalangan milenial akan terasa lebih mudah dijangkau karena toh mereka memang yang lebih ramah teknologi.

Media baru (yang meskipun banyak ditemukan bugs dll) tersebut berhasil menimbulkan behaviour yang diinginkan dari awal. Semangat menunggu membaca cerita bersambung. Ketika atensi dan word of mouth didapat, maka pergerakkan penjualan Aroma Karsa akan naik pula. Karena audience pool sudah ada, maka tinggal bagaimana me-retain user tersebut untuk tetap kembali.

Kejeniusan ini dapat dilihat akan bagaimana moderasi Dee Lestari yang turun secara langsung menjadikan semangat tersendiri para anggotanya untuk terus berinteraksi dalam kanal tersebut.

Fanbase memang mutlak sesuatu yang dibutuhkan dalam mempromosikan sebuah produk. Namun, terlepas sekeren apa pun gimmik marketing yang ada jika karyanya tidak mumpuni semua akan terasa sia-sia.

Beruntungnya Dee memeiliki kesemua formula tersebut: Karya yang bagus+fanbase kuat+teknik marketing komunitas = Another hits dari Dee Lestari.

 

View this post on Instagram

Tiga bulan mengikuti kisah #aromakarsa secara berkala di sebuah tribe digital membuat saya jadi tidak sempat untuk membaca buku yg lain. Karena memang seseru itu menunggu tiap minggu untuk bisa membaca cerita bersambung di dalamnya. Dan setelah menyelesaikan keseluruhan cerita, tidak ada penyesalan sama sekali. Kekuatan bercerita Dewi Lestari tetap memikat dan membuat adiktif. Maka sebagai pembuka #bacaanserufiguranjakarta di tahun 2018 ini, saya persembahkan sebuah novel yang akan membawa siapa pun yang membaca cerita ini masuk ke dalam petualangan aroma yang seksi, penuh misteri, dan terkadang lucu. Kengerian dan ketegangan yang terjalin akan mendorongmu jatuh pada peleburan dunia dongeng yang membuatmu akan berseru: semoga cerita ini tidak selesai-selesai. #aromakarsa

A post shared by Nurzaman (@zamanstories) on

Well, anyway, di Instagram saya membuat hashtag #bacaanserufiguranjakarta yang mengulas buku-buku seru yang siapa tahu bisa menemani me time kalian. Feel free untuk dilihat ya!

Screen Shot 2018-03-23 at 10.02.25 AM

Akhir kata sukses buat Dee Lestari untuk novel terbarunya dan untuk teman pembaca sekalian jangan lupa untuk membeli bukunya dan mulai membaui petualangan mencari Puspa Karsa. Siapa tahu kalian yang beruntung mendapatkannya 🙂

Review Film Rumah dan Musim Hujan: Kisah Janggal dan Mencekam yang Membuat Decak Kagum (SPOILER)

Screen Shot 2018-03-21 at 7.45.50 PM

Sebelum memulai review filmnya, ada sebuah artikel yang akan membantu menjelaskan pergantian nama film ini yang awalnya berjudul Rumah dan Musim Hujan menjadi Hoax yang sempat beredar di bioksop kemarin.

Kebetulan saya menonton film Rumah dan Musin Hujan versi Director’s cut di Kinosaurus pekan lalu. Jadi yang saya tonton adalah yang versi original.

Bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang merayakan buka puasa bersama di rumah Bapak mereka. Film dibuka dengan adegan satu keluarga yang memainkan permainan dari Korea, bernyanyi bersama sambil mengenalkan nama masing-masing secara bergantian di meja makan.

Semua berjalan begitu riang dan menyenangkan sampai pacar si anak pertama, Raga, kalah dan harus bernyanyi. Ada jeda di sana, Ragil (anak kedua, diperankan oleh Vino G Bastian) dan Ade (anak ketiga, Tara Basro) berbagi pandangan tidak suka saat Ade berniat untuk menyalakan rokok.

Kemudian satu persatu rahasia dan kejadian janggal anak-anak si Bapak pun mulai bermunculan saat mereka pulang dari acara buka puasa. Dan yang membuat film ini asik adalah pergantian alur di film ini dibuat berjalan mundur dan selalu dimulai dari scene pulang tersebut.

Film ini pun terbagi dari tiga cerita utama, yaitu:

Pertama, dibuka dengan kisah anak ke dua bernama Ragil yang hidup dengan si Bapak yang sudah pikun juga sepuh. Sehari-hari sang Bapak harus dituntun lewat lembaran-lembaran kertas berisi petunjuk untuk melakukan apa pun di dalam rumah.

Kisah Ragil dibuat sedikit lambat dengan menunjukkan aktivitas-aktivitas kepatuhan Ragil atas pengabdian terhadap Bapaknya.

Mulai dari mengganti genteng saat hujan dan lain-lain. Namun, dibalik itu semua ada perasaan khawatir dari sang Bapak yang tidak pernah melihat Ragil mengenalkan perempuan datang ke rumah.

Sebenarnya bisa ditebak bahwa dibalik kesan konservatif Islam yang ditunjukkan Ragil dengan tidak bersalaman bersama pacar sang kakak, Raga. Penonton sudah dibentuk persepsi oleh sang sutradara bahwa there is something wrong nih sama Ragil.

Dan benar saja. Setelah melewati menit-menit kontras dengan sang Bapak yang bermain wayang sedang Ragil yang membaca Al-Qur’an. Ada satu rahasia tersembunyi yang coba Ragil utarakan ke Bapaknya namun selalu ia ulur.

Scene tersebut dengan sabar dimunculkan oleh Ifa lewat percakapan Ragil bersama seseorang di kotak Yahoo Messenger.

Ragil ternyata adalah seorang Gay. Keengganannya untuk berterus terang diwakilkan lewat mimik ketersiksaan Ragil yang selalu ia coba sembunyikan pada Bapaknya lewat senyumannya.

Lalu saat mati lampu, twist kisah Ragil pun dihidupkan dengan dimunculkannya partner Ragil di depan pintu. Dalam gelap mereka berdua pun bercumbu melawan berisiknya deras hujan di luar dan sesaknya rahasia yang menyiksa mereka berdua in the closet.

Yang menjadi pertanyaan dari cerita pertama ini adalah ketika sang Bapak meminta maaf kepada Ragil karena ia menamakannya dengan nama tersebut.

Kisah kedua, yang menjadi favorit saya, adalah tragedi yang dialami Ade yang diperankan oleh Tara Basro dengan intensitas kengerian yang menular.

Berasa sekali capeknya jadi si Ade jika dihadapkan dengan situasi yang dia alami.

Vibe bahwa kisah Ade adalah kisah mistis sudah terasa saat diperjalanan pulang Ade harus diganggu oleh suara tangisan di depannya. Yang ternyata adalah sosok laki-laki yang mendorongnya jatuh ke pelosok sawah (sampai sekarang saya masih tidak tahu apakah laki-laki itu adalah manusia atau mahluk astral. Apakah Ade diperkosa atau cuma diganggu saja? Semua masih menjadi tanda tanya)

Sambil menangis saat pulang ke rumah barunya. Sesampainya di sana Ade harus mengalami kengerian dan teka teki akan kembaran gaib sang Bunda yang mengganggunya sepanjang malam.

Sebanyak tiga kali sosok duplikasi gaib sang Bunda mengerjainya berkali-kali. Membuat Ade hampir kehilangan kewarasannya.

Kemunculan pertama saat Ade sedang mandi dan Bunda muncul dari belakang, Bunda mengepel dan meminta Ade membuka pintu rumah yang ternyata adalah….

Bunda yang baru pulang belanja membeli sikring lampu baru. Lalu ke mana Bunda yang di kamar dan meminta Ade membuka pintu?

Kemudian setelah Ade mulai percaya bahwa ini adalah Bunda yang asli, saat Ade hendak mengambil belanjaan berupa pajangan pohon pisang dalam bentuk asli. Sang Bunda yang seharusnya di kamar mandi tiba-tiba datang dari dapur membawa teh.

Ade mulai goyang. Lalu membiarkan Bunda membuatkannya teh dan Bunda pun pergi untuk solat.

Dan saat sosok ketiga Bunda sedang solat, sebuah telfon mengguncang mental Ade. Telfon tersebut berasal dari Bunda yang tidak bisa datang ke rumah.

Lalu, mana sebenarnya yang Bunda ‘asli’?

Kekuatan bagian cerita Ade ini ada di akting ke dua aktornya. Tara Basro dan Jajang C Noer. Terlebih akting Jajang C Noer yang bermain dengan begitu mencekam dan akan menghantui siapa pun yang melihat bagaimana ia mencoba untuk meminta Ade memeluknya. Kengerian itu begitu nyata keluar dari mata dan senyum palsu Jajang C Noer.

Cerita bagian kedua ini ditutup dengan statement Ade yang masih menjadi tanda tanya. Saat memukul sang Bunda Ade berkata: akhirnya aku tahu apa arti nama mas Ragil!

Yang terakhir, adalah kisah Raga yang dibawakan oleh Tora Sudiro. Dimulai dengan dongeng Raga tentang ulang tahun sang Bunda menurut tanggalan Jawa pada sang kekasih, Sukma.

Dari cerita Raga dikisahkan bahwa ketika seorang manusia berada dalam kandungan, sebenarnya mereka memiliki tiga saudara kembar. Yaitu saudara ketuban, ari-ari, dan pusar. Ketiga saudara itu menjaga sang janin dan akan muncul secara bersamaan setiap si janin ulang tahun di tanggalan Jawa.

Dari ketertarikan sana, Sukma pun diminta Raga untuk mengikuti permainan ‘kepercayaan’ saat menyetir. Mata Sukma ditutup dan harus mengikuti instruksi Raga saat menyetir. Setelah berhasil melewatinya, Sukma pun mengajak Raga untuk bercinta di dalam mobil.

Selama beberapa menit gerakan penuh kenikmatan diiringi dengan desahan panas berganti menjadi sebuah jeritan panjang. Ternyata Raga terlanjur ‘keluar’ tanpa menggunakan pelindung.

Dirundung panik, Sukma pun berfikir dia akan hamil. Berbagai cara ia cari untuk bisa menghalangi sperma Raga masuk ke dalam rahimnya.

Lama mencari, mereka menemukan sebuah artikel dalam majalah kesehatan wanita (yang anehnya ada begitu banya dikoleksi oleh Raga) bahwa yang manjur adalah lompat-lompat sambil meminum jus nanas.

Saat hendak keluar mencari jus nanas, tiba-tiba di luar rumah Raga kedatangan sang mantan. Rani.

Dari sana konflik pun terjadi. Panas karena tiba-tiba melihat sang mantan hadir di hidup Raga lagi, Sukma pun memutuskan untuk pergi dari rumah Raga. Namun, ditahan Raga. Rani berkilah bahwa kedatangannya karena alasan ia dipukuli suaminya dan butuh tempat menginap.

Permainan kecohan pun hadir di sana, apakah Rani benar-benar datang ke Raga karena meminta suaka perlindungan atau hanya mencari perhatian Raga saja?

Lalu tanpa diduga, Rani menceritakan pada Sukma bahwa Raga mandul. Dengan keterkejutan itu, Sukma meninggalkan rumah Raga dengan kesedihan dan memberikan tawa pada wajah Rani.

Film pun ditutup dengan satu keluarga si Bapak itu (minus si Bunda yang masih tidak tahu ada di mana) dengan makan bersama lagi.

Alasan mengapa film Rumah dan Musim Hujan begitu keren:

  1. Menonton film ini benar-benar memberikan pengalaman sinematik yang penuh dengan ketegangan dan teka-teki yang menyelimuti setiap cerita di dalamnya. Kejutan demi kejutan dihadirkan Ifa melalui intensitas cerita yang tadinya berjalan pelan kemudian ngegas di pertengahan sampai akhir. Semua pertanyaan yang Ifa sisipkan di bagian-bagian tertentu memberikan kekesalan sendiri buat saya. Karena apakah ini adalah sebuah plot hole yang tak terselesaikan atau memang Ifa sengaja menggoda penontonnya dengan itu semua.
  2. Adegan-adegan simbolik di film ini begitu lokal dan mengena. Seperti ketakutan seorang anak laki-laki yang mengaku sebagai Gay dimunculkan Ifa sebagai contoh awareness yang baik akan keberadaan mereka.
  3. Akting para aktor yang tenggelam pada karakter dan cerita masing-masing menghantarkan keseruan yang membawa saya sebagai penonton untuk ikut menanti apa yang akan terjadi berikutnya pada nasib mereka.

Dibalik keunggulannya tersebut, sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di kepala saya atas cerita di film ini. Seperti:

  1. Apa arti nama Ragil dalam keluarga tersebut? Jika ditelusuri dalam bahasa Jawa Ragil berarti anak terakhir. Lalu apakah Ade bagian dari keluarga tersebut atau bukan? Atau paling ngerinya adalah, apakah Ade nyata atau tidak?
  2. Bagaimana nasib si Bunda. Apakah itu asli atau hanya sosok goibnya yang dibunuh oleh Ade?
  3. Apakah Raga dan Rani bersekongkol untuk menyingkirkan Sukma keluar dari rumah? Apakah permainan tersebut sesuatu yang biasa mereka lakukan untuk kesenangan semata? Dilihat dari banyaknya buku kesehatan wanita yang Raga simpan dan ucapan sang Bapak yang mengatakan bahwa hubungan Rani dan Raga sebenarnya belum selesai sedikitnya menegaskan teori tersebut. Namun, di akhir cerita tersebut saat kamera menuju wajah Raga yang tertidur. Tidak ada gambaran senyuman seperti Rani. Mana yang sebenarnya terjadi?
  4. Terakhir. Laki-laki yang ditemui Ade di jalan itu manusia atau bukan? Apakah Ade diperkosa atau hanya diganggu setan belaka?

Ingin sekali rasanya mendapatkan jawaban-jawaban itu semua dari mas Ifa.

Well, anyways, mungkin untuk di bioskop mainstream film ini sepertinya tidak akan bisa ditemukan lagi. Jika teman-teman tertarik untuk menontonnya bisa dilihat jadwal pemutaran yang siapa tahu hadir lagi di Kineforum dan Kinosaurus.

Review Film Love For Sale: Sebuah Layanan Cinta Yang Membekas

Screen Shot 2018-03-20 at 1.44.10 AM

Fenomena menjadi lajang di Indonesia di tahun 2018 ini sepertinya masih menjadi suatu momok menyedihkan bagi siapa pun dan di kelas sosial mana pun.

Seakan menjadi lajang adalah sesuatu yang hina. Semacam ada sebuah toa besar berteriak di depan muka yang mengatakan: HIDUP NGANA GAGAL, JO!

Padahal yah dibalik status lajang tersebut, jangan-jangan orang-orang yang kalian bilang gagal itu malah sudah mencapai suatu prestasi yang bahkan orang-orang yang memiliki pasangan pun belum tentu bisa raih.

Terlebih di era yang semakin modern ini, beberapa orang banyak yang memang memilih untuk tetap sendiri karena kesadaran mereka sendiri. Bukan karena takdir atau cap ‘tidak laku’ yang masyarakat kepo itu coba tempelkan secara paksa dan sepihak.

Tapi, memang ada juga para lajang yang secara sadar maupun tidak mengamini beberapa persepsi usang tersebut. Beberapa orang masih merasa belum ‘sempurna’ atau belum ‘lengkap’ karena belum menemukan ‘pasangan’ yang menjadi mitos dan legenda itu.

Rong-rongan itu pun diperparah lewat pertanyaan-pertanyaan ‘KAPAN NYUSUL?’ jahil yang muncul di setiap acara keluaga, reuni, atau pertanyaan basi-basi orang-orang ketika sudah lama tidak bertemu.

Padahal, orang-orang enggak mikir apa ya kalau nyusul menikah ataupun berpasangan enggak segampang dan semurah itu.

Enggak ada jaminan bahwa ketika seseorang berpasangan maupun menikah mereka akan menemukan kebahagiaan yang fana itu.

Dan, kawan, film Love for Sale dengan sangat baik mengargumentasikan daftar ‘kegelisan’ itu semua lewat naskah yang solid dan keseluruhan akting yang juara dari segenap para pemainnya.

Apa sih yang membuat film Love For Sale itu bagus?

  1. Akting menawan Gading dan Della sebagai Ricard dan Arini

Gading Martin sebagai Ricard di film ini tampil dengan totalitas dan keasikan yang menular. Karakter menyebalkannya sebagai bos percetakan yang strict dan dibungkus dengan kontras kesunyian hidupnya sehari-hari memberikan ruang simpati pada para penonton.

Seakan kita semua yang lajang dan sudah berumur ini bisa relate dengan apa yang Ricard rasakan sebagai seorang bujang lapuk (ditanya terus kapan membawa pacar, menikah, dll).

Background Ricard pun dimunculkan ke permukaan lewat transisi yang asik ketika Arini bertanya banyak hal tentang Ricard. Dan lewat percakapan antara Ricard dan temannya, perlahan penonton dibawa untuk mengetahui luka di masa lalu Ricard yang dibahasakan dengan dramatisasi yang mengena di hati.

Kisah Ricard yang tidak diizinkannya berpacaran oleh orang tuanya yang menjadi masalah dalam hidup Ricard pun pelan-pelan luntur lewat kehadiran Arini yang lovable. Seseorang yang masuk dengan tiba-tiba dan memberikan arti baru dan rutinitas menyenangkan dalam hidup Ricard yang terbatas.

Karakter Arini dimainkan dengan sangat menawan. Saya ulang lagi, sangat amat menawan dimainkan oleh Della Dartyan.

Arini tuh kalau di SMA, semacam cewek cantik minta ampun yang mau nyapa dan main sama siapa pun tanpa peduli kelas sosial dan politik view orang-orang. Mbak, kamu kok sempurna sekali sih?

Gerak-gerik juga pengucapan tiap-tiap dialog manjanya terasa sangat nyata dan tidak dibuat-buat. Sebagai seorang pendatang baru Della memberikan nafas menyegarkan juga magnet tersendiri yang tidak bisa ditolak siapa pun dalam film Love for Sale.

Chemistry yang dibangun antara Gading Martin dan Della menjadikan mereka sebagai pasangan on screen yang membuat penontonnya percaya dan ikut mabuk kasmaran.

2. Cerita segmented namun universal

Meskipun diniatkan bagi penonton berusia 21 tahun ke atas karena adanya beberapa adegan eksplisit. Sebenarnya secara general tidak membuat film ini benar-benar baru bisa dipahami bagi mereka yang harus sudah berumur saja.

Meski wajib diakui ada beberapa pengalaman yang memang akan sangat nendang bagi mereka yang sudah pernah mengalami ditinggal nikah orang tersayang sih.

Tapi, ya luka tetaplah luka, dan semua orang yang pernah merasakan ditinggalkan pasti dapat merasakan tertatih-tatihnya menyambut orang baru dalam hidup mereka dan menjadikannya sebagai rutinitas baru yang menghidupkan mereka kembali. Seperti kisah Ricard dan Arini tersebut.

Dan Love for Sale menyampaikan ide cerita tersebut dengan sentuhan yang elegan. Bagi mereka yang berada di usia dua puluhan akhir dan tiga puluh awal, pasti akan berbahagia karena pada akhirnya ada kisah cinta yang berada pada demografis mereka yang dieksekusi dengan baik.

3. Scene-scene indah dengan detail yang manis

Jika beberapa film romantis Indonesia ada yang ngegas dan langsung memberikan gambaran-gambaran eksplisit para pemainnya di kasur dengan bermandikan keringat. Atau kekonyolan lewat kemanjaan dan ketidaksengajaan bertemu yang tidak masuk akal.

Lain cerita dengan film ini. Love for Sale memunculkan keromantisan dengan wajar seperti kebanyakan pasangan nyata di luar sana.

Mulai dari adegan kekakuan awal bertemu, pendekatan yang malu-malu, sampai akhirnya kenyamanan satu sama lain yang tergambarkan dengan asik. Semua dapat ditemukan di scene-scene manis lewat pelukan santai di kursi, jalan-jalan di malam hari yang bermandikan cahaya lampu Jakarta, dan juga seks scene yang bukan sekadar jadi tempelan saja. (Itu merupakan seks pertama bagi Ricard dan Arini menuntunnya di sana.)

Semua fragmen-fragmen tersebut hadir bukan tanpa sebab melainkan memberikan makna tersendiri dalam hidup Ricard bersama Arini.

4. Musik yang menggenapi

Keindahan film ini datang dari kesederhanaan yang ada di dalamnya. Film Love for sale tidak butuh bejibun lagu khusus untuk menggambarkan ambience keresahan dan kasmarannya Ricard dan Arini.

Cukup dengan satu lagu pamungkas yang diputar di momen-momen pas, ruang visual itu pun terisi dengan tepat. Saya sebagai penonton dapat merasakan emosi-emosi yang terjalin antara Ricard dengan Arini.

Yang menariknya lagi, film Love for Sale berhasil keluar dari jebakan pakem film romansa Indonesia kebanyakan. Tidak ada happy ending, tidak ada tawa segar karakter yang akhirnya bersama.

Film ini menawarkan pilihan intepretasi pada para penontonnya untuk mereka menerka sendiri arah dari kehidupan Ricard pasca ditinggalkan Arini dan apa sebenarnya perusahaan Love Inc tersebut.

Sampai ya setelah keluar dari bioskop, semua penonton berdecak kesal dan gemas. Karena mereka setuju Ricard sangat tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Kami bersama Ricard. #TimRicard

Yang terbaiknya lagi yang saya sukai adalah film ini adalah Love for Sale memberikan ruang pada karakter Ricard untuk tumbuh dan berubah dari kondisi awalnya. Ricard akhirnya berani untuk keluar dari bubble hidupnya dan melakukan hal-hal yang dulu terlalu enggan untuk ia jalani.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Love for Sale menjadikan Ricard sebagai gambaran terdekat realitas terkini akan para warga lajang Jakarta yang sedang berusaha untuk memercayai kembali makna cinta dengan malu-malu di sudut-sudut jalanan Jakarta.

Pun jika kita beruntung  mungkin kita bisa seperti Ricard yang berkesempatan bertemu dengan orang baru yang siapa tahu cocok dan memberikan kenyamanan yang berbalas.

Selamat menonton di bioskop film kece yang memberikan kehangatan cerita setelahnya.

Review Film The Seen and Unseen: Kehilangan Yang Sunyi

Sekala-Niskala

Film Sekala Niskala atau lebih dikenal dengan judul The Seen and Unseen menawarkan sebuah pengalaman sinematik yang menghadirkan dua kontras penceritaan visual akan dunia yang terlihat (nyata) dan tak terlihat (gaib).

Lahir sebagai kembar pengantin, Tantra dan Tantri menjalani kehidupan mereka bersama-sama. Berbagi ruang yang bahkan tak tersentuh oleh orang tua mereka sendiri. Namun, keintiman itu tiba-tiba saja hilang di suatu siang saat Tantra dengan sengaja mengambil sebuah telur pemujaan yang ia jadikan panganan makan siang bersama Tantri.

Saat mereka berbagi putih telur untuk Tantri dan kuning telur untuk Tantra, sebuah suara jatuh yang begitu keras menarik perhatian Tantra. Ia menghampiri suara tersebut meninggalkan piringnya dan Tantri seorang diri.

Mungkin ini hanya sekadar suara kendaraan mogok belaka, pikir Tantri tidak peduli. Lama Tantri menunggu, namun hingga petang tak ada tanda-tanda Tantra kembali pulang.

Bergerak dari sana cerita kemudian berfokus pada kesunyian dan kesepian dunia Tantri. Kamera pun membawa para penonton untuk menyelami semesta Sekala Niskala dari sudut pandang seorang anak kecil perempuan yang ditinggalkan saudara kembarnya.

Dengan sangat magis film ini berhasil membungkus adegan demi adegan akan bagaimana Tantri mengatasi kesedihannya. Misteri dan imajinasi melebur indah dalam semesta Niskala yang Tantri buat.

Kehilangan Tantri pun begitu puitis tergambarkan lewat gerakan tarian yang menyayat siapa pun yang melihatnya. Membawa saya sebagai penonton merasakan spektrum kesedihan Tantri yang tak terucap.

Tak hanya itu, kedalaman luka Tantri dengan simbolik disajikan dengan cerdas lewat adegan penolakan Tantri untuk masuk ke kamar rumah sakit melihat Tantra yang terbaring tak berdaya.

Di sana terlihat Tantri masih belum mau menerima kondisi Tantra yang sekarat. Adegan tersebut meninggalkan perasaan kehilangan yang begitu sunyi. Menghentak panjang di kursi bioskop saya.

Screen Shot 2018-03-19 at 2.19.51 PM

Sepanjang film ini memang tak ada jeritan yang menusuk atau gambaran kesengsaran yang berlebihan layaknya sebuah film sedih.

Namun, di sanalah sebenarnya kekuatan film The Seen and Unseen. Kesederhanaan cerita yang begitu kaya akan emosi dan pesan-pesan tersembunyi lewat simbol-simbol gambar yang begitu indah mampu mengular pada batin penonton.

Keintensan adegan pun dibuat secara berlapis dalam film ini.

Di awal film ketegangan tercipta saat banyaknya orang berkumpul pada sebuah kamar rumah sakit membopong badan kecil Tantra. Dari kejauhan Tantri melihatnya dengan getir. Kemudian secara perlahan kamera bergerak menuju tangan Tantri yang menggenggam telur begitu erat hinggah pecah. Menghantui kecemasan yang menanti di adegan-adegan berikutnya.

Kemistisan film ini pun begitu terasa di aktivitas-aktivitas biasa seperti ketika Tantri hendak makan sebuah telur di rumah sakit, saat mengupasnya yang ia dapat hanyalah berisi putihnya saja. Ia tak dapat menemukan kuning telur di mana pun. Sebanyak apa pun ia mengulangnya.

Pesan simbolik yang menyiratkan bahwa Tantri tak akan bertautan kembali dengan Tantra.

Sepanjang film ini, dunia imajinasi-imajinasi Niskala Tantri yang berkunjung menemui Tantra seperti sedia kala menebarkan kerinduan khas anak kecil.

Tak ada pertanyaan belibet dan keingintahuan yang menganggu. Mereka bertemu untuk bersenandung bersamanya, mendongeng, dan menemani satu sama lain.

Hingga di penghujung film dengan kabar bahwa Tantra semakin kritis. Dengan menyesakkan Tantri menari dan terus menari untuk merasakan sisa-sisa kehadiran Tantra untuk terakhir kali. Namun, sayang, ia tak lagi dapat menemukan Tantra. Sekalipun di dunia Niskala.

Puncak tekanan itu pun menghancurkan pertahanan Tantri. Tantri menangis dan mengakhiri tariannya di kamar rumah sakit yang kosong.

Ia tahu ia harus melepas kepedihannya. Tantri pun merelakan Tantra pada akhirnya.

Ketabahan hati Tantri yang tiada dua tersebut menggetarkan hati dalam menuju ruang bernama keikhlasan.

Screen Shot 2018-03-19 at 2.20.13 PM

Melewati prosesi Adat, Tantri pun berkunjung ke pantai, kembali bersembahyang bersama orang tuanya, dan kemudian makan sendirian dengan telur putih kesukaannya sembari ditimpah cahaya sore Bali yang hangat. Menutup keseluruhan film The Seen and Unseen dengan begitu indah.

Film besutan karya Sutradara perempuan keren Kamila Andini ini memenangkan Grand Prize kategori Generation Kplus International Jury untuk film berdurasi panjang terbaik di ajang perhargaan Berlin International Film Festival 2018. Menjadikan film The Seen and Unseen sebagai film pertama dari Indonesia yang menerima penghargaan Grand Prix di Berlinale. Prestasi yang sungguh membanggakan di kancah perfilman Indonesia.

Kamila Andini mengisi film ini dengan simbol-simbol dan gambar-gambar indah tak biasa yang ada di Bali. Suatu kemewahan visual yang sudah jarang ditemukan dalam film Indonesia.

Di saat berada pada dunia Sekala (terlihat), gambaran terang dan kehidupan penuh warna dimaksimalkan di sana. Sawah yang hijau, langit yang biru, dan kehadiran Ibu menjadi sebuah kesatuan.

Sedang secara sendu, Kamila menciptakan semesta Niskala (tak terlihat) dengan mendebarkan dan mencekam. Gelapnya malam, riuhnya anak-anak kecil gaib, juga bulan yang terbentang jauh menghadirkan kesenjangan yang begitu kontras namun tetap indah.

Ketenangan para pemain mudanya pun patut diacungi jempol. Secara solid karakter Tantra dimainkan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena dengan apik. Terlebih ketabahan Ni Kadek Thaly Titi Kasih sebagai Tantri yang begitu mencuat kuat. Setengah dari kekuatan film ini berasal dari akting miliknya.

Kesemua elemen tersebut seperti harmonisasi musik yang mampu menyihir saya sebagai penonton untuk masuk dalam dunia kehampaan anak-anak yang mencoba menghindari kesedihan dengan menghidupkan ketiadaan melalui dunia imajinya.

Mitos dan kebudayaan Bali pun tidak sekadar hanya menjadi tempelan yang cetek. Kamila sebagai sutradara menghadirkan kedekatan isu tersebut sebagai esensi dalam film ini. Wajah sosial masyarakat kelas dua pun dengan nyata digambarkan lewat kamar rumah sakit Tantra.

Film ini begitu istimewa dan bertalian. Luka dan penolakan Tantri adalah kesedihan bagi siapa pun yang pernah ditinggalkan. Karena pada nyatanya kehilangan memang akan selalu menyakitkan.

Screen Shot 2018-03-19 at 12.38.36 PM

Note: Semua foto, poster, dan gambar merupakan hak cipta dari film The Seen and Unseen.

Titi Kolo Mongso

Yang arti populernya adalah once upon a time atau terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah pada zaman dahulu. Merupakan idiom yang menandakan sebuah cerita dongeng dimulai.

Tiba-tiba saja seorang teman mengirimkan sebuah foto berisi caption tersebut. Diambil dari Instagram seseorang yang, hmmm, katakanlah berarti di hidup saya untuk waktu yang cukup lama.

Delapan tahun.

Bila di persentasekan secara detail: 1 tahun bahagia, 2 tahun tersiksa, 1 tahun numb. Sisanya ya lihat-lihat dari kejauhan namun kadang rindu. Ngomong-ngomong, sekarang dia sudah menikah dan punya anak.

Saya enggak tahu sih siapa nama anaknya dan bagaimana bentuk wajahnya. Tapi sepertinya dia bahagia.

Saya? Tentu saja mundur begitu jauh. Dia kan sudah tidak dalam rengkuhan saya lagi. Dia begitu asing dalam bentuknya. Sedang saya hanya berjalan di tempat saja.

Lalu, dalam rangka mencoba menuntaskan cerita novel saya yang tidak kunjung-kunjung diketik dan hanya diulur-ulur saja. Saya menemukan tulisan lama saya tahun 2012 silam. Di periode 2 tahun tersiksa seperti yang saya sebutkan di atas.

Sekonyong-konyongnya saya jadi ingat dia dan sedih sendiri lagi.

Saya jadi bertanya ke diri saya sendiri dengan begitu serius, mengapa saya bisa sebodoh itu ya?

Tahun-tahun saya terbuang sia-sia dengan hanya berisi pertanyaan-pertanyaan enggak penting akan eksistensialisme hubungan antara kami berdua. Seperti; Apa dia pernah sedikitnya mencintai saya? Atau minimal tertarik dan kami memiliki perasaan mutual yang sama? Atau jangan-jangan saya selama ini berhalusinasi dan ke GE-ERan sendiri saja?

Yang terpahitnya sih, mungkin dia memang baik sama semua orang dan saya cuma another ‘semua orang’ itu. Tidak ada yang spesial, tidak ada yang perlu dibanggakan.

Jika iya, ya saya mau bagaimana lagi. Saya cuma bisa tersenyum kecut mengetahui itu semua. Bahwa bertahun-tahun saya hanya mengarang sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada. Sesuatu yang tidak pernah terjadi namun saya yakini ada. Yaitu perasaan berbalas darinya.

Saya mendedikasikan banyak tulisan yang isinya ternyata hanya hoax belaka. Dan betapa bodoh bahwa saya ikut memercayai khayalan saya sendiri. Lalu, orang lain yang melihatnya, membacanya, dan mengenal kami berdua sudah jelas pasti terpingkal-pingkal sendiri. Bergidik jijik dengan apa yang saya rasakan.

Sedih rasanya, sesuatu yang saya anggap penting hanya bualan receh semata di mata orang-orang.

Lalu, betapa terkejutnya saya saat si teman itu menambahkan cerita dibalik foto tersebut dengan tambahan flashback saat saya ke Semarang dan beberapa tahun pertama saat saya pertama kali mengenal si ‘itu’.

Quote langsung dari omongannya (saya enggak nambah-nambahin loh ya): “Dia pernah bilang, dia bisa jadi diri sendiri selama itu bareng sama elo. Dan sama elo, dia selalu ketawa bahagia. Sesuatu yang enggak pernah gue lihat saat dia bareng orang lain, bahkan ketika sama pacarnya sendiri. Mungkin secara fisik gue dekat sama doi, tapi secara keterikatan perasaan, gue rasa elo yang lebih tahu. Dia hormatin elo dan saat elo dateng ke Semarang tempo itu dia ngasih sesuatu yang enggak pernah dia kasih sama siapa pun. Waktu dan rahasia-rahasia dirinya yang enggak pernah dia bagi dengan siapa pun, kecuali elo. Dan itu artinya cuma satu.” (Anyway, mereka berdua sahabat karib gitu.)

Sontak saya menahan diri saya untuk tidak terlalu bahagia mendengarnya. Saya tidak langsung percaya begitu saja. Jika dilihat dari sejarahnya kan saya cuma keset di hidup dia. Saya cuma opsi ke dua. Si side kick, bukan pemeran utama.

Jadi, saya cuma tertawa saja mendengarnya. Namun, dengan kesungguhan si teman itu mengatakan tambahan sesuatu yang membuat pertahanan saya perlahan retak.

“Dia juga suka sama elo, gue tahu itu. Tapi keadaan keluarga dan sistem yang membuat dia untuk ngelawan perasaan ke elo. Jadi dia enggak bisa bilang itu semuanya ke elo dan cuma bisa lari.” Dan si teman kemudian menceritakan background lengkap keluarga si ‘itu’ yang begitu agamis dan sangat mengedepankan keteraturan.

Sesuatu yang sungguh bertolak belakang secara keseluruhan dengan kondisi saya.

Saya takut untuk memercayai itu semua. Meskipun jika saya percaya, pertanyaan berikutnya adalah: Untuk apa?

Sebagai penutup curhat sepanjang empat jam itu, si teman memberikan ucapan baik hati yang mampu membuat pertahanan terakhir saya jebol juga.

“Untuk elo tahu bahwa elo enggak gila. Elo enggak jatuh cinta sendirian. Seperti halnya hidup, ini tragedi lain yang ada di dalamnya. Enggak ada yang salah dengan elo atau pun dia. Cuma keadaan yang memaksaan itu semua terjadi. Seenggaknya elo tahu, dia membalasnya dengan cara dia sendiri.”

Saya? Cry tentu saja. Nafas saya naik turun tidak beraturan dan saya menangis sesenggukan melepaskan luka di dada yang tertahan terlalu lama.

Saya akhirnya bisa dengan lantang mengatakan, saya tidak gila.

Dia mencintai saya juga dan itu semua bukan khayalan pepesan kosong semata.

Dan mengetahui itu semua buat saya lebih dari cukup. Meskipun endingnya dia tetap menjadi milik orang lain dan sayangnya pernyataan-pernyataan berbalas itu tidak keluar dari mulutnya langsung.

Namun, dari sana perlahan luka-luka dan kerapuhan yang saya tutupi dan bawa tiap hari akhirnya dapat beristirahat sejenak.

Saya resmi terbebas dari ketakutan dan pertanyaan-pertanyaan usang yang kini sudah tidak relevan lagi.