Review Film Love For Sale: Sebuah Layanan Cinta Yang Membekas

Screen Shot 2018-03-20 at 1.44.10 AM

Fenomena menjadi lajang di Indonesia di tahun 2018 ini sepertinya masih menjadi suatu momok menyedihkan bagi siapa pun dan di kelas sosial mana pun.

Seakan menjadi lajang adalah sesuatu yang hina. Semacam ada sebuah toa besar berteriak di depan muka yang mengatakan: HIDUP NGANA GAGAL, JO!

Padahal yah dibalik status lajang tersebut, jangan-jangan orang-orang yang kalian bilang gagal itu malah sudah mencapai suatu prestasi yang bahkan orang-orang yang memiliki pasangan pun belum tentu bisa raih.

Terlebih di era yang semakin modern ini, beberapa orang banyak yang memang memilih untuk tetap sendiri karena kesadaran mereka sendiri. Bukan karena takdir atau cap ‘tidak laku’ yang masyarakat kepo itu coba tempelkan secara paksa dan sepihak.

Tapi, memang ada juga para lajang yang secara sadar maupun tidak mengamini beberapa persepsi usang tersebut. Beberapa orang masih merasa belum ‘sempurna’ atau belum ‘lengkap’ karena belum menemukan ‘pasangan’ yang menjadi mitos dan legenda itu.

Rong-rongan itu pun diperparah lewat pertanyaan-pertanyaan ‘KAPAN NYUSUL?’ jahil yang muncul di setiap acara keluaga, reuni, atau pertanyaan basi-basi orang-orang ketika sudah lama tidak bertemu.

Padahal, orang-orang enggak mikir apa ya kalau nyusul menikah ataupun berpasangan enggak segampang dan semurah itu.

Enggak ada jaminan bahwa ketika seseorang berpasangan maupun menikah mereka akan menemukan kebahagiaan yang fana itu.

Dan, kawan, film Love for Sale dengan sangat baik mengargumentasikan daftar ‘kegelisan’ itu semua lewat naskah yang solid dan keseluruhan akting yang juara dari segenap para pemainnya.

Apa sih yang membuat film Love For Sale itu bagus?

  1. Akting menawan Gading dan Della sebagai Ricard dan Arini

Gading Martin sebagai Ricard di film ini tampil dengan totalitas dan keasikan yang menular. Karakter menyebalkannya sebagai bos percetakan yang strict dan dibungkus dengan kontras kesunyian hidupnya sehari-hari memberikan ruang simpati pada para penonton.

Seakan kita semua yang lajang dan sudah berumur ini bisa relate dengan apa yang Ricard rasakan sebagai seorang bujang lapuk (ditanya terus kapan membawa pacar, menikah, dll).

Background Ricard pun dimunculkan ke permukaan lewat transisi yang asik ketika Arini bertanya banyak hal tentang Ricard. Dan lewat percakapan antara Ricard dan temannya, perlahan penonton dibawa untuk mengetahui luka di masa lalu Ricard yang dibahasakan dengan dramatisasi yang mengena di hati.

Kisah Ricard yang tidak diizinkannya berpacaran oleh orang tuanya yang menjadi masalah dalam hidup Ricard pun pelan-pelan luntur lewat kehadiran Arini yang lovable. Seseorang yang masuk dengan tiba-tiba dan memberikan arti baru dan rutinitas menyenangkan dalam hidup Ricard yang terbatas.

Karakter Arini dimainkan dengan sangat menawan. Saya ulang lagi, sangat amat menawan dimainkan oleh Della Dartyan.

Arini tuh kalau di SMA, semacam cewek cantik minta ampun yang mau nyapa dan main sama siapa pun tanpa peduli kelas sosial dan politik view orang-orang. Mbak, kamu kok sempurna sekali sih?

Gerak-gerik juga pengucapan tiap-tiap dialog manjanya terasa sangat nyata dan tidak dibuat-buat. Sebagai seorang pendatang baru Della memberikan nafas menyegarkan juga magnet tersendiri yang tidak bisa ditolak siapa pun dalam film Love for Sale.

Chemistry yang dibangun antara Gading Martin dan Della menjadikan mereka sebagai pasangan on screen yang membuat penontonnya percaya dan ikut mabuk kasmaran.

2. Cerita segmented namun universal

Meskipun diniatkan bagi penonton berusia 21 tahun ke atas karena adanya beberapa adegan eksplisit. Sebenarnya secara general tidak membuat film ini benar-benar baru bisa dipahami bagi mereka yang harus sudah berumur saja.

Meski wajib diakui ada beberapa pengalaman yang memang akan sangat nendang bagi mereka yang sudah pernah mengalami ditinggal nikah orang tersayang sih.

Tapi, ya luka tetaplah luka, dan semua orang yang pernah merasakan ditinggalkan pasti dapat merasakan tertatih-tatihnya menyambut orang baru dalam hidup mereka dan menjadikannya sebagai rutinitas baru yang menghidupkan mereka kembali. Seperti kisah Ricard dan Arini tersebut.

Dan Love for Sale menyampaikan ide cerita tersebut dengan sentuhan yang elegan. Bagi mereka yang berada di usia dua puluhan akhir dan tiga puluh awal, pasti akan berbahagia karena pada akhirnya ada kisah cinta yang berada pada demografis mereka yang dieksekusi dengan baik.

3. Scene-scene indah dengan detail yang manis

Jika beberapa film romantis Indonesia ada yang ngegas dan langsung memberikan gambaran-gambaran eksplisit para pemainnya di kasur dengan bermandikan keringat. Atau kekonyolan lewat kemanjaan dan ketidaksengajaan bertemu yang tidak masuk akal.

Lain cerita dengan film ini. Love for Sale memunculkan keromantisan dengan wajar seperti kebanyakan pasangan nyata di luar sana.

Mulai dari adegan kekakuan awal bertemu, pendekatan yang malu-malu, sampai akhirnya kenyamanan satu sama lain yang tergambarkan dengan asik. Semua dapat ditemukan di scene-scene manis lewat pelukan santai di kursi, jalan-jalan di malam hari yang bermandikan cahaya lampu Jakarta, dan juga seks scene yang bukan sekadar jadi tempelan saja. (Itu merupakan seks pertama bagi Ricard dan Arini menuntunnya di sana.)

Semua fragmen-fragmen tersebut hadir bukan tanpa sebab melainkan memberikan makna tersendiri dalam hidup Ricard bersama Arini.

4. Musik yang menggenapi

Keindahan film ini datang dari kesederhanaan yang ada di dalamnya. Film Love for sale tidak butuh bejibun lagu khusus untuk menggambarkan ambience keresahan dan kasmarannya Ricard dan Arini.

Cukup dengan satu lagu pamungkas yang diputar di momen-momen pas, ruang visual itu pun terisi dengan tepat. Saya sebagai penonton dapat merasakan emosi-emosi yang terjalin antara Ricard dengan Arini.

Yang menariknya lagi, film Love for Sale berhasil keluar dari jebakan pakem film romansa Indonesia kebanyakan. Tidak ada happy ending, tidak ada tawa segar karakter yang akhirnya bersama.

Film ini menawarkan pilihan intepretasi pada para penontonnya untuk mereka menerka sendiri arah dari kehidupan Ricard pasca ditinggalkan Arini dan apa sebenarnya perusahaan Love Inc tersebut.

Sampai ya setelah keluar dari bioskop, semua penonton berdecak kesal dan gemas. Karena mereka setuju Ricard sangat tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Kami bersama Ricard. #TimRicard

Yang terbaiknya lagi yang saya sukai adalah film ini adalah Love for Sale memberikan ruang pada karakter Ricard untuk tumbuh dan berubah dari kondisi awalnya. Ricard akhirnya berani untuk keluar dari bubble hidupnya dan melakukan hal-hal yang dulu terlalu enggan untuk ia jalani.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Love for Sale menjadikan Ricard sebagai gambaran terdekat realitas terkini akan para warga lajang Jakarta yang sedang berusaha untuk memercayai kembali makna cinta dengan malu-malu di sudut-sudut jalanan Jakarta.

Pun jika kita beruntung  mungkin kita bisa seperti Ricard yang berkesempatan bertemu dengan orang baru yang siapa tahu cocok dan memberikan kenyamanan yang berbalas.

Selamat menonton di bioskop film kece yang memberikan kehangatan cerita setelahnya.

Advertisements

Author: figurandjakarta

Just a person who love to write when he cannot sleep

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s