Review Film Teman Tapi Menikah: Gemas-Gemas Gimana Gitu

Screen Shot 2018-04-19 at 12.06.44 AM

Apakah laki-laki dan perempuan bisa bersatu dalam ikatan pertemanan tanpa ada rasa suka pada satu sama lain?

Pertanyaan itu mungkin sering kamu dengar atau jangan-jangan sedang kamu jalani sekarang ini?

Nah buat yang sedang berada dalam dilema tersebut ada baiknya kamu menonton film manis satu ini berjudul Teman Tapi Menikah. Film yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama karya dari pasangan selebritas yang sedang naik daun: Ditto dan Ayu Diah Bing Slamet.

Kisah film Teman Tapi Menikah sangat sederhana, tentang Ditto yang memendam perasaannya selama 12 tahun pada Ayu dan seperti spoliler di judul filmnya: mereka berdua pun berakhir menikah bersama.

Tapi tentu saja selama dua belas tahun premis tersebut tidak dijalani dengan sesederhana itu. Pasti ada banyak naik turun yang dialami Ayu dan Ditto.

Seperti saat Ditto yang sabar melihat Ayu selalu berganti pacar dan dia hanya dijadikan senderan untuk memberikan contekan dan tukang antar jemput. Yang mana dilakukan oleh Ditto dengan ikhlas sekadar untuk bisa menemani dan melihat Ayu.

Secara pribadi saya sangat menikmati menonton film ini. Tidak ada plothole yang ganggu, tidak ada aktor-aktor dengan akting yang nyebelin, atau gangguan-gangguan teknis lain. Semuanya terasa pas pada porsinya.

Film Teman Tapi Menikah memang dikhususkan untuk mereka para penyuka film romansa yang sudah mengikuti kisah Ditto dan Ayu sebelumnya lewat bukunya atau akun media sosial mereka.

Dan bagi yang tidak mengikuti sama sekali, baik di media sosial atau membaca bukunya (seperti saya), ketika menonton film ini malah menjadi tertarik untuk mengulik kisah mereka berdua lebih dalam lagi.

Yang menjadi unggulan dalam film Teman Tapi Menikah adalah keseluruhan elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari para aktornya, baik yang utama maupun pendukungnya, semua berakting dengan sangat baik. Dan tepuk tangan paling meriah tentu saja diberikan pada Adipati dan Vanesha yang berakting dengan sangat natural dan menggemaskan. Para penonton, setidaknya saya, dibuat percaya bahwa mereka adalah dua orang teman yang memiliki kedekatan yang asik.

Menonton film ini, saya seperti melihat entitas tersendiri, saya tidak tahu seperti apa Ditto dan Ayu Diah di kehidupan nyatanya. Jadi, saya melihat keduanya berakting dengan sangat baik sesuai karakter yang mereka bawakan.

Gambar-gambar yang diproduksi dalam film ini pun BAGUS sekali. Meski ada beberapa yang glossy dan kuningnya terlalu berlebihan, namun memang tujuannya untuk menghasilkan gambar yang clean dan penanda sebagai kilas balik ke masa lalu. Jadi, masih bisa ditoleransi lah.

Favorit saya adalah bagaimana film ini merekam Bandung dengan begitu indah dan gambaran kosmopolitas juga upper class keluarga Ibu Kota yang tidak berlebihan namun tetap memabukkan.

Yang paling saya soroti adalah adegan pembuka film ini saat Ditto mendengarkan detail-detail suara di sebuah cafe saat menunggu Ayu datang. Semua terasa enerjetik dan menular. Settingnya seperti iklan yang menarik. Namun, sayangnya detail-detail tersebut berhenti di awal saja. Padahal saya menunggu ada keterikatan filosofi perkusi dengan cerita film ini. Sayangnya tidak ada.

Selebihnya film ini begitu cerewet dengan dialog-dialog yang penuh tanpa memberikan jeda pada gambar-gambar diam yang sebenarnya bisa bercerita sendiri.

Seperti saat Ditto naik bus menuju rumahnya saat menyadari ia butuh membeli mobil untuk bisa pulang bersama Ayu. Atau saat Ayu merasa dikhianati oleh Ditto ketika ia menyatakan perasaan sukanya pada Ayu dan Ayu akhirnya berkubang pada perasaan sedihnya di kamar tidur.

Dua scene tersebut pengambilan gambarnya terlihat sangat poetic dan berpotensi untuk memberikan kedalaman pada cerita dengan dramatisasi yang memang pas untuk kegamangan dan kesedihan yang ada pada plotpoint penceritaan.

Jadi, saya merasa film ini terlalu berisik menuntun para penontonnya untuk mengetahui emosi dan perasaan masing-masing karakter lewat dialog-dialog yang terus menerus mengulang kata-kata yang sama. Mungkin itu untuk kebutuhan quoting caption di media sosial kali ya. Yang sebenarnya saya rasa tidak perlu-perlu amat.

Sehingga tidak ada ruang ‘theater of mind’ para penontonnya untuk menerka-nerka ke mana jalan cerita ini seterusnya akan berjalan meskipun dengan ending yang sudah mereka tahu dari awal. Tidak masalah ketika kita sudah tahu akhir dari cerita tertentu, namun setidaknya dalam drama tentu saja penonton membutuhkan twist dan kejutan-kejutan sendiri untuk membuat tensi cerita agar tetap naik dan menarik.

Terlepas dari itu, film ini cukup berhasil untuk memberikan emosi pada penontonnya ketika adegan Ditto yang akhirnya menyatakan perasaannya pada Ayu di Cafe. Umpan-umpan di awal yang sudah ditaruh untuk siap memburai emosi penonton saat Ayu menolak Ditto berhasil dengan sempurna menarik kailnya untuk dikoyak pada flashback yang asik saat Ayu akhirnya pun menyadari betapa penting arti Ditto dalam hidupnya.

Ditambah musik-musik pengiring yang hadir dengan seru. Terutama saat muncul lagu Melupakanmu dari Endah n Rhesa juga lagu yang dibawakan Iqbaal Ramadhan. Secara keseluruhan dapat mengisi momen-momen sedih, senang dan romantis dengan manis.

Saya senang sekali bisa menonton film remaja ‘cinta-cintaan’ yang dibuat dengan proper dan akhirnya menghasilkan kesinergisan antara isi cerita dan elemen-elemen lainnya. Salut untuk para kru dan aktor di film ini!

Kembali lagi ke pertanyaan awal apakah dua orang dengan gender yang berbeda bisa berteman tanpa ada ketertarikan seksual satu sama lain? Jawabannya ya cuma kamu sendiri yang tahu. Tapi jangan lupa untuk berjuang memberitahukannya kalau-kalau kamu suka.

Anyway another observation sepanjang film ini adalah:

  1. Fashion secara keseluruhan film ini tuh sudah asik, penggambaran Ditto yang kece dan gaul dengan sempurna terwakilkan dari pemilihan style dan baju yang pas dari awal sampai akhir. Tapi KENAPA WIG DI MASA SMP GANGGU BANGET SIH?
  2. Terus tiga baju terakhir yang dipakai Ayu mulai dari baju kuning di cafe, kemudian adegan dia ngasih tau pacarnya kalau Ditto menyatakan perasaan (rambut dia berantakan ga jelas juntrungannya juga anting dan dan kalung bunganya yang segede-gede gaban itu ganggu banget). Paling epik adalah baju pas dia ke Bali. Itu baju yang dipakai labil banget. Mau bikini atau levis atau apa sih? Enggak ngerti.

Selebihnya semua masih oke untuk ditonton seru-seruan bareng pacar atau teman yang lagi kamu kode-kodein.

Selamat menonton!

 

Advertisements

Ages Just a Number, Don’t They?

Setiap tahunnya gue selalu iseng ngebuat satu tulisan buat kado ulang tahun gue sendiri. Semacam refleksi atau cuma omong kosong sentimentil belaka.

Tahun ini gue dua puluh delapan tahun aja dong. Mayan ya. Mayan TUAAAAAA.

Di umur yang segini tuh banyak teman-teman gue yang sudah masuk ke stage ‘dewasa’. Mereka tunangan, menikah, nyebokin pantat bayi, dll.

Sedangkan di dunia gue, prioritas gue masih tentang harapan untuk bisa makan daging-dagingan dan sushi-sushian pas gajian nanti *itu juga kalau duitnya nyisa* *pointed to AB STEAK dengan penuh ancaman*

Screen Shot 2018-04-15 at 11.05.32 PM
LIHAT KAN? BETAPA SEKSI, BETAPA MENGGODA!

Tapi, ya memang seperti itu adanya. Dan gue menyukainya.

Kalau dihitung-hitung gue baru lima tahun juga jadi manusia dewasa yang akhirnya bekerja, menjadi bagian dari kelas menengah ngehek yang selalu mengeluh tentang pekerjaan dan gaji di media sosial, dan akhirnya dalam beberapa tahun terakhir gue seperti kembali terkoneksi dengan diri gue sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang gue curiga mereka menyadari keberadaan gue pun tidak.

Akhirnya gue kenal lagi nih sama si Nurzaman yang ternyata ada beberapa mimpi dia yang belum kesampaian. Ternyata apa yang membentuk gue saat ini adalah apa yang terjadi di masa lalu. Dan…. harus gue akui ada beberapa luka masa lalu yang mau gue selesaikan. Ya itu tentang si R dan D. Diri gue yang versi tersakiti beberapa tahun lalu itu ternyata masih ada di sana, menuntut untuk diselesaikan.

Haha sad ya, masih aja. (Ketika hari ini pun mereka enggak inget ini hari ulang tahun gue haha).

Tapi, gue juga baru engeh sih. Enggak usah deh si “someone that I cannot have”, temen-temen yang gue consider deket juga terkadang cuek sama ulang tahun gue. Padahal kalau mereka ulang tahun gue excited dan ikutan nyumbang kado loh (lah jadi pamrih).

Kalau tahun-tahun yang lalu gue bisa drama tiga babak banget soal itu. Muka udah pasti ditekuk dan bete seharian deh. Haha.

Tapi setelah setahun terakhir ini gue merasakan keacuhan itu tumbuh malah dari dalam diri gue sendiri. Gue berasa jadi ignorant dan lebih ke yaudah aja gitu.

Gue masih sih ambisius ke beberapa hal yang sifatnya memang penting untuk hajat orang banyak macem kerja buat keluarga gue. Tapi, yang sifatnya personal gitu gue jadi, yaudahlah ya say…. Ada yaudah enggak ada juga yaudah.

Karena mungkin setahun ini tanpa gue sadari adalah tahun yang berat buat gue. Gue kehilangan sahabat paling deket gue. Namanya Dita. Dia meninggal Februari lalu. Sampai sekarang gue masih enggak percaya dia udah enggak ada.

Nyokap masih suka ngoreksi gue kalau gue nyebut nama Dita enggak pake kata ‘almarhum’.

Ya gimana, gue masih ngerasa ini cuma momen di mana kita lagi ga ketemu aja. Dan kayak tahun-tahun sebelumnya, pasti ada satu kesempatan di mana kita ketemu lagi. Tapi ternyata ini beda. Dita bener-bener udah engga ada. Dan gue engga bisa berbuat apa-apa lagi.

Jadi sejak dari situ, gue jadi ngehargain waktu lebih maksimal sih. Gue fokus ke sesuatu yang emang bener-bener matter ke gue dan mereka nganggep gue matter juga.

Seperti keluarga, buku-buku yang harus gue baca, film-film dan series yang harus gue tonton, dan beberapa teman gue yang emang beneran investasiin waktu buat gue. Emang jadinya sedikit sih orang yang ada di hidup gue.

Tapi, semua itu adalah sesuatu yang mungkin layak untuk gue terima. Ini hasil dari benih perbuatan gue selama ini. Dan yang gue dapat ya itu. I can’t complain.

I mean, gue enjoy kok sama hidup gue yang sekarang. Meskipun kadang sepi itu datang dan sesekali gue bodo amat dengan cry sendirian sampe ketiduran. Tapi yaudah, gue engga bisa buat apa-apa lagi. Kali ini tuh gue benaran ngerasain sepi yang sampe ngerong-rong di ulu hati gitu.

Beberapa kali gue bisa halau itu semua sih dengan makan-makanan enak. Ya jadi happy sih emang, tapi nyesek pas bayarnya. Haha. Lama-lama gue kelilit hutang kartu kredit jadinya gegara si sushi dan daging-daging all you can eat itu.

Terus ya balik lagi ke soal R dan D yang gue ubek lagi selama dua bulan terakhir ini. Sebenarnya gue enggak minta apa-apa sih selain ketemu dan mengutarakan yang emang gue pengen bilang ke mereka. Terus abis itu yaudah bye bye.

Toh memang selama empat tahun terakhir masing-masing dari kita udah ga kontak lagi. Jadi seharusnya ini bukan hal yang besar. Tapi ya gitu mereka masih jadi pihak yang males ketemu dan bohong banget kalau gue enggak ngerasa di treat jadi sampah lagi kaya dulu.

Tapi, ya udahlah. Umur gue udah 28 tahun sekarang dan gue ga tau berapa waktu yang tersisa buat gue. Dan gue cuma mau hidup dengan damai dan jadi orang baik aja yang ga jahat sama orang.

Dan tadi malam, tepat jam 12 gue merayakan ulang tahun gue sendirian di pojokan Mcd di Pasfest (deket dari kosan). Sambil menyesap beberapa batang rokok gue merasakan kesepian itu mulai menjalar ke dada gue. Namun kali ini mereka lebih bersahabat.

Seolah mereka mau bilang, yang gue punya sekarang adalah cuma diri gue sendiri dan gue harus mulai terbiasa dengan itu. Anehnya, gue merasa itu semua sudah cukup.

IMG_8606
Ini aku abisin sendiri dong…

Jadi, gue mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang masih ingat hari ini adalah hari ulang tahun gue dan dengan tulus mendoakan gue. Gue terharu banget dan sangat menghargai itu.

Semoga doa-doa baik kalian didengar dan berbalik ke kalian ya.

Selamat ulang tahun, Nurzaman! 🙂

Sarah Sechan: Tentang Semesta Era 90an dan Keunggulan Ikonnya!

Sarah Sechan merupakan salah satu VJ MTV ASIA di era 90an yang memenangkan banyak hati penontonnya di Asia Tenggara, terlebih di Indonesia. Sepanjang karirnya di MTV ASIA, Sarah Sechan menjadi asosiasi ikon remaja dengan gayanya yang lucu dan cuek. Tak pelak, setelah dua puluh tahun lebih berlalu, Sarah Sechan masih menjadi memori paling menyenangkan pada tiap-tiap orang yang pernah menontonnya di layar kaca mereka kala itu.

Termasuk saya.

Setelah menuliskan posting-an tentang MTV dan secuil menyinggung tentang betapa pentingnya keberadaan Sarah Sechan dalam hidup saya di sini.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.40 PM

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.03 PM
Seneng banget pas tulisan direspon Teh Sarah

Ada dorongan tersendiri dari dalam diri saya untuk menjelaskan alasannya dan mengapa menurut sudut pandang saya penting sekali untuk memiliki kembali ‘Sarah Sechan’ dalam kehidupan generasi digital saat ini. At least, minimal untuk adik saya lah yang baru memasuki bangku SMA.

Awal Mengenal Sarah Sechan

Saya lahir tahun 1990 dan pertemuan pertama saya dengan Sarah Sechan adalah menontonnya di serial televisi berjudul Olga Sepatu Roda tahun 1996 atau 1997 jika saya tidak salah ingat. Om-Om saya di rumah adalah penggemar novel Lupus dan Olganya Mas Hilman Hariwijaya, dari sana lah saya jatuh cinta membaca kisah epik Olga dengan Radio Gaganya.

Saat membaca novel-novel Olga terbayang akan sosok perempuan cuek, lucu, dan super nyebelin namun kita sayang. Lalu saat melihat Sarah Sechan membawakan peran tersebut di televisi bareng dengan Cut Mini sebagai sahabatnya, Wina. Sarah Sechan sukses menghidupkan karakter Olga luar dalam.

Yang paling saya ingat tentu saja saat Sarah Sechan diam-diam kabur dari kamarnya di malam hari sambil menenteng sepatu rodanya untuk pergi siaran yang mana berakhir ketahuan dan kena omel Mamih. (Mamih tuh enggak pernah hafal nama radio Gaga. Dia kalau ngomel pasti akan bilang: YA ETA, RADIO HAHA, RADIO TATA, RADIO LALA. HAHAHA. Lucu deh si Mamih).

Screen Shot 2018-04-12 at 7.58.14 PM

Betapa dulu menonton Olga di jam empat sore selama satu tahun mendorong saya untuk merengek dibelikan sepatu roda saat kenaikan kelas (namun sampai umur sebesar ini saya tidak pernah memilikinya. Maklum sobat miskin sejak lahir).

Lalu setelah legitimasi menjadikan Sarah Sechan sebagai idola tetap di antara power ranger, Doraemon, dan Sailor Moon. Tak disangka di satu sore sebuah kejadian merubah segalanya.

Saya masih ingat dengan jelas, setelah semalam suntuk menghafal surat-surat pendek Alquran agar besoknya lulus tes duluan dan bisa pulang dengan cepat demi menonton Olga tanpa ketinggalan satu detik pun.

Saya bergegas ke ruang keluarga, mengambil kuda-kuda untuk duduk rapi di depan televisi ditemani satu piring Indomie Goreng dengan toping chiki Taro yang sudah disiapkan Ibu saya.

Dengan jantung berdebar saat logo Indosiar berganti opening theme dan lagu sinetron Olga seperti biasa, scene pertama pun diawali dari depan pintu kamar Olga saat Mamih membangunkan Olga untuk sekolah. Saat pintu kamar terbuka, Olga merengek sebal karena Mamih mengganggu tidurnya.

Ada yang aneh. Saya tidak menemukan Sarah Sechan. Namun, mengapa perempuan di televisi tersebut dipanggil Olga? Lalu setelah lima belas menit berlalu, saya baru menyadari YANG JADI OLGA BUKAN SARAH SECHAN.

Mereka mirip. Tapi OLGA bukan SARAH SECHAN.

Saya yang masih enam tahunan kala itu tidak dapat mengekspresikan betapa sedih dan jengkelnya diri saya.

Saya cuma bisa teriak-teriak memanggil Ibu saya untuk memastikan bahwa yang saya tonton adalah Sinetron dengan judul yang benar dan memang perempuan berambut panjang di televisi kala itu bukan Sarah Sechan.

Ibu saya yang melihat ketantruman anaknya tentu saja bingung, lalu ia buru-buru mengecek jadwal-jadwal sinetron yang biasa ada di koran. Setelah membaca dua kali judulnya setelah iklan, Ibu saya dengan yakin memastikan bahwa yang saya tonton adalah sinetron yang benar.

“TERUS KENAPA OLGANYA BEDA?” saya masih ingat rengekan saya kala itu.

“YA MANA MAMAH TAU! Dia sakit kali makanya diganti,” jawab Ibu saya mencoba menenangkan.

Dari situ saya pun menganggap bahwa Sarah Sechan sedang izin sejenak karena sakit dan pasti akan kembali lagi.

Seperti kejadian Bu Sarti, Guru saya waktu kelas 1 SD dulu yang pernah izin satu minggu tidak masuk mengajar dan digantikan guru lain. Lalu di hari Senin depannya kami murid-muridnya bertemu dia lagi. Mungkin akan seperti itu polanya. Pikir saya kala itu.

Namun, setelah empat episode berlalu dan saya tidak melihat Sarah Sechan kembali.

Dari sana saya pun patah hati dan berjanji tidak akan pernah menonton sinetron Olga Sepatu Roda lagi yang tidak ada Sarah Sechannya.

MTV dan Sarah Sechan

Datanglah masa di mana Tante-Tante saya menyanyikan lagu, …BABY ONE MORE TIME! berulang-ulang tanpa bosan.

Jadwal menonton televisi di rumah saat jam empat sore yang sudah lama saya tinggalkan pun tiba-tiba digeserkan oleh Tante-Tante saya.

Ada apa nih?

Penasaran saya pun ikut nonton bareng. Tante saya dan teman-temannya yang sudah SMA kelas akhir kala itu berbisik-bisik centil tentang peruntungan zodiak dia dan pacarnya.

“Apa sih itu ZODIAK? Apa sih itu pacar?” tanya saya bingung.

Karena berisik, mereka pun mengusir saya.

Lalu saat mereka sudah siap mencatat apa yang ada di televisi, saya melihat satu perempuan berambut hitam panjang dengan bulu-bulu putih di lehernya.

ITU KAN SARAH SECHAN!

Saya pun ikut meriung ke tempat di mana Tante-Tante saya dan teman-temannya mencatat dengan khidmat apa yang diucapkan oleh Sarah Sechan.

Ini semacam kisi-kisi ujian EBTANAS apa gimana sih? Pikir saya.

Tapi bodo amat lah. Saya akhirnya bisa melihat Sarah Sechan kembali di layar televisi.

Sejak itu setiap harinya di ANTV, diiringi dengan video-video lagu dari luar negeri dan band-band lokal. Dengan khusuk saya menyaksikan Sarah Sechan ngebanyol dengan Jamie Aditya di MTV Land. Mewancari penyanyi-penyanyi luar seperti GIL, SHANIA TWAIN, dan RICKY MARTIN dengan bahasa inggris yang lancar dan gimmik-gimmik lucu.

Tidak ada yang berubah dari Sarah Sechan, ia tetap menghibur meskipun namanya bukan lagi Olga dan ketika dia ngomong entah kenapa tiba-tiba muncul teks berjalan di bawahnya.

Sebagai anak kecil yang terlanjur ngefans saya sih senang-senang saja melihat Sarah Sechan lagi meskipun sebenarnya saya tidak terlalu paham juga apa yang ia bicarakan dan teks berjalan itu tulis sih. Hehe.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.16 PM

Bukan Melulu Tentang Kecantikan

Mengapa Sarah Sechan bisa begitu ikonik di masanya bahkan sampai sekarang?

Apa sih yang membuatnya disukai banyak orang dan keunggulannya dibanding presenter-presenter lainnya?

Sarah Sechan memiliki keotentikan dirinya yang membuatnya diingat oleh banyak orang. Lewat celetukannya yang khas, pemikiran-pemikiran terbukanya yang diutarakan lewat bahasa simple dan lugas, juga pembawaan personalitynya yang menyenangkan membuat dirinya menjadi ‘suara’ akan generasinya.

Generasi yang sedang berada dalam transisi reformasi kala itu, ia menjadi pembebas di sana. Ia si perempuan modern yang melihat sesuatu dengan sudut pandang yang kosmopolitan namun tetap ajeg dengan kearifan lokal yang ada.

Meskipun berbahasa inggris dengan lancar, namun bukan berarti ia melupakan budayanya. Sarah Sechan hadir dengan perpaduan itu semua.

Kepercayaan dirinya, etos kerjanya, juga kemandiriannya memberikan sesuatu yang sudah jarang ditemukan di era digital ini. Ia perempuan yang berpegang kuat pada prinsip. Dapat kita temukan lewat tindakan-tindakannya seperti: saat pernikahan pertamanya ia tidak mau media meliputnya, saat ia menutup akun media sosialnya, dsb.

Ketika semua orang berlomba-lomba menjadi si cantik dan menjadi ‘sama’. Dari dulu Sarah Sechan berusaha untuk mencari apa yang menjadikannya berbeda, spesial, dan dekat dengan banyak orang.

Formula tersebutlah yang membuat Sarah Sechan terus dikenang oleh banyak orang. Sarah Sechan terasa dekat karena kebodorannya. Ia tidak berusaha menjadi si paling cantik, namun menjadi teman yang menemani siapa pun yang menontonnya. Namun, secara bersamaan aura bintangnya pun keluar lewat talentnya yang memang membuat orang nyaman berlama-lama menontonnya dan berlomba-lomba ingin menjadi temannya atau menjadi seperti dirinya.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.00 PM

Saya rasa kualitas itu lah yang membuat Sarah Sechan unggul daripada yang lain.

Semesta Era Tahun 90an

Tahun 90an adalah era di mana televisi menguasai tiap-tiap ruang di rumah banyak orang. Media pesaingnya kala itu adalah radio dan printed media (majalah dan koran).

Semesta yang terbentuk kala itu adalah informasi yang datang yaitu secara berkala dan harus dicari. Itu membuat beberapa selebritas memiliki misterinya sendiri. Termasuk Sarah Sechan.

Sampai sekarang saya masih penasaran, seperti apa sih konten yang Sarah Sechan bawakan saat menjadi penyiar radio pagi hari di bawah arahan Mutia Kasim?

Media kala itu membentuk glorifikasi akan kemodernan lewat pembangunan kota Jakarta yang megah dan artis-artis yang rupawan.

Vibe tahun 90an memang gempar dengan pemberontakan dan hedonisme modern.

Dan Sarah Sechan berada di dalamnya dengan konsep yang banyak orang inginkan. Anak muda yang sukses lewat karir entertainment. Menjadi penyiar radio, VJ, dan pemain sinetron.

Khayalan dan ilusi akan semesta 90an tersebut membuat orang-orang menyimpan mimpi tersebut dan berkeinginan bahwa jika dewasa nanti, atau sesukses nanti, mereka ingin menjadi seperti Sarah Sechan.

Setidaknya untuk saya kala itu. Mimpi menjadi VJ atau penyiar radio menjadi bucket list yang saya simpan diam-diam.

Sarah Sechan VS Generasi Now!

Seperti yang saya singgung sebelumnya, yang membuat Sarah Sechan mencuat dan membekas adalah ia menjadi suara untuk generasinya. Ia adalah representasi anak muda modern dengan pemikiran terbuka.

Yang mana pemikiran-pemikirannya kala itu mengubah dan menginfluence banyak orang. Ada kedalaman berfikir yang membuatnya dihargai dan bertahan hingga sekarang.

Jika dibandingkan dengan mereka yang berada dalam semesta digital. Sesungguhnya perbedaan tersebut kontras sekali.

Kini, pengukuran akan ‘influence’ hanya dilihat dari angka dan bukan bobot maupun kualitas kontennya.

Mereka-mereka yang pamer harta lewat kehidupan sehari-hari akhirnya menjadi sampah pikiran yang menjadi lucu-lucuan semata. Namun, pada praktiknya tidak memberikan efek berarti pada generasi yang menontonnya.

Apa sih sumbangsihnya? Apa sih legacynya pada nantinya?

Sedangkan di tahun 90an, kebebasan untuk berekspresi seperti itu bagi anak muda adalah sesuatu yang mahal. Dan Sarah Sechan dengan jelas menggerakkan anak-anak muda di masanya untuk bereksperimen dengan pemikirannya, terbuka dengan hal yang baru, banyak membaca dan berani mengutarakannya.

Ketika kepekaan dan humanisme bersuara dalam diri Sarah Sechan tetap ada, maka ia akan relevan sampai kapan pun.


Kekhawatiran saya mungkin berlebihan, namun menemukan role model yang dapat memotivasi untuk menjadi lebih baik adalah sesuatu yang mahal di masa sekarang. Kebanyakan mereka-mereka di semesta digital muncul bagaikan toxic dengan drama yang membuat orang berteriak: APAAN SIH YANG BEGINIAN KOK BANYAK YANG NONTON!

Mungkin zaman berganti, trend bergeser, tapi yang coba ingin saya sampaikan sebenarnya sesederhana jika tidak bisa menjadi NADYA HUTAGALUNG, jadilah SARAH SECHAN.

Kita semua tidak harus menjadi sama kok. Semua memiliki keunikannya sendiri dan berbanggalah dengan itu.


Jika dulu Sarah Sechan biasa membacakan surat anak nongkrong MTV di acara MTV Most Wanted. Anggap saja tulisan ini adalah surat yang tidak pernah terkirim dari seorang penggemarnya yang dulu sering curi-curi menonton idolanya saat disuruh mengaji meskipun saat menonton ia tidak terlalu mengerti apa isinya.

Namun, yang pasti ia merasakan sesuatu yang ketika besar nanti ia akan mengerti artinya. Namanya kebahagian. Dan kini mengenang Sarah Sechan tidak akan lepas dari kebahagiaan itu sendiri.

Terima kasih Sarah Sechan untuk masa kecil yang seru mulai dari Olga Sepatu Roda dan MTVnya. I love you, Teh 🙂

Salam,

Figuran Jakarta.

Referensi Film: Sakit Yang Enggak Berdarah Part 3 [SPOILER]

Halo teman-teman, Figuran Jakarta kembali lagi dengan referensi film yang siap merobek kalbu bagi tiap-tiap netizen yang menontonnya.

Sebelumnya kalian sudah menonton film-film yang ada di PART 1 dan PART 2 belum?

Kalau sudah, maka gue akan menyelesaikan trilogi daftar film yang memang sangat layak diapresiasi dengan tumpukan cemilan, beberapa lembar tisu, dan sedikit keikhlasan dari penontonnya.

Karena pengajian patah hatinya akan segera dimulai!

Siap-siap masuk ke dalam semesta para pasangan yang berawal mesra dan manja namun diakhiri dengan perasaan sesak yang menyiksa. Bisa jadi faktor utamanya adalah si doi yang enggak suka-suka banget ternyata. Padahal yang di sini sudah diusahain segitunya banget loh mas dan mbaknya.

sntc 1

Yuk, mulai pegang erat-erat perasaannya!

500 Days of Summer (2009)

Film yang melambungkan nama Zooey Deschannel ini merupakan cikal bakal dari konsep FRIENDZONE yang ngeselin.

Ketika you lagi sayang-sayangnya terus doi nyelonong pergi dan bilang, “BUT, YOU ARE MY BEST FRIEND!”

HILLAAAAW!

500-days-of-summer-500-days-of-summer-3617632-574-241

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Cerita film ini begitu sederhana hingga setiap orang pasti pernah merasakan yang dirasakan oleh Tom ketika bertemu dengan Summer.

500 hari yang merubah hidup Tom, kadang ia berada di atas angin dan kebanyakan pada tahap mengikhlaskan Summer.

Summer memang menarik, Summer memang cantik, Summer mungkin adalah segala hal yang diharapkan Tom ada pada satu orang.

Namun, seperti yang dikatakan sang Narator dalam film ini:

If Tom had learned anything… it was that you can’t ascribe great cosmic significance to a simple earthly event. Coincidence, that’s all anything ever is, nothing more than coincidence… Tom had finally learned, there are no miracles. There’s no such thing as fate, nothing is meant to be. He knew, he was sure of it now.

original

Mungkin memang benar adanya beberapa orang hadir dalam hidup kita bukan untuk memiliki satu sama lain, tapi untuk menjadi sebuah pengalaman dan pembelajaran. I know, ini klise banget. Tapi, ya mau bagaimana lagi?

Konsep hubungan kan adalah dua orang yang seiya dan sekata, kalau cuma satu orang aja yang bilang iya kamu bisa apa?

Bisa GILAAAAA! Hahaha canda ah.

500-days-of-summer quote

Adegan Paling Ngehek:

Aing yang kala itu masih berumur 19 tahun dan masih ranum-ranumnya melihat dunia yang penuh pelangi ini tetiba hancur lebur ketika melihat adegan film dengan komposisi kontras EKSPETASI dan REALITA.

Wah, bangsat sih!

Gue haqul yakin. Setiap dari kita pasti pernah lah ngekhayalin dan nyetting sesuatu untuk ketemu di doi dengan begitu sempurna. Ibarat panitia, kita tuh seksi acara. Bikin schedule dan breakdown acara detail banget. Nanti di lima belas menit awal bikin jokes ini, terus menit kemudian ajak ngobrolin ini itu ini itu. Terus bawa ke sini itu. Wah, digiring lah itu opini publik pada koridor-koridor yang direncakan.

Tapi ya balik lagi, manusia yang merencanakan Tuhan yang menentukan.

Kalau kamu sudah rapi jali bawa cincin dan tetiba ke sana malah melihat si doi yang tunangan dengan orang lain ya kamu harus sabar. Namanya juga lyfe. Enggak semua hal bisa kita dapet bukan?

Quotes TER-ANZEEENK!

Kalau kata Mbak Summer: “There’s no such thing as love, it’s fantasy…”

Dan ya mungkin benar apa kata doi dan band Efek Rumah Kaca, mungkin seharusnya jatuh cinta itu biasa-biasa saja.

La La Land (2016)

Film ini menggambarkan dengan jelas celetukan “Susahnya pas sama kita, pas sukses sama orang lain.”

Cerita film La La Land adalah sesungguhnya kisah percintaan bittersweet yang hakiki.

Dua orang yang sedang berjuang mengejar karir masing-masing di kota besar, bertemu dan cocok, kemudian satu sama lain saling support. Namun, di tengah jalan seperti banyaknya perjuangan yang lain, pasti akan berkubang pada titik paling rendah dan menanyakan kembali ke diri sendiri.

“Apakah ini benar yang gue cari dan cintai selama ini?”

Lalu munculah perasaan rendah diri dan menyesal. Kemudian menyerah dan kembali pulang kampung.

Tapi, karena Mas Sebastian sudah cinta dengan tulus dan ingin melihat Mbak Mia bahagia, ya dia rela aja blusukan cari rumah si Mbaknya untuk ngasih tau bahwa, “AYO JANGAN NYERAH! SATU KASTING LAGI AJA!”.

Yup, dan Mbaknya pun kasting dan alhamdulilahnya keterima.

Sweet kan? Lalu bitternya di mana?

Ya saat si Masnya mundur dari hidup Mia dan menginginkan yang terbaik baginya.

And the story end, tahun berlalu, dan semua orang sudah punya pasangan masing-masing. It’s over. Entah deh kalau ditanya apakah perasaannya masih ada atau enggak.

Sudah menikah kan belum tentu memutus sendi-sendiri perasaan romantis sama orang lain enggak sih? *cari pembelaan*

large

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Jelas ya, bahwa ada masa seseorang atau bahkan kamu juga pacaran lama, susah bareng sama dia untuk mengejar sesuatu. Tapi, pas dia berhasil eh malah sama orang lain.

Jangan marah, jangan kesel, jangan sedih.

Karena rezeki dan pasangan memang sudah ada yang mengatur ya kan. Mungkin memang ini yang terbaik bagi kalian berdua.

Mungkin ya. Mungkin itu berarti 50% IYA, 50% ENGGAK.

Terserah kalian percayanya condong ke mana.

Adegan Paling Ngehek:

Gue suka banget ngeliat kisah cinta yang memang tumbuh dan enggak cuma manis manja grup aja. I mean, terkadang kekuatan harus diuji dengan beban yang ada bukan? Dan ketika beban diberikan dan masih balik aja karena enggak ada perasaan nyesel, itu artinya cuma satu enggak sih?

Ya mungkin dia memang segitunya banget sama kamu.

Dan pas si Mas Sebastian main di gig ketika Mia datang sama suaminya lalu mereka seperti flash back dan mempertanyakan, “Bagaimana ya kalau kita enggak pernah ketemu? Apa yang akan terjadi?”

Film pun diakhiri dengan isak tangis satu bioskop.

w8RVfun

Quotes TER-ANZEEENK!

Screen Shot 2018-04-11 at 10.00.55 AM

Blue is The Warmest Color (2013)

Tahun 2013 merupakan tahun yang syahdu untuk film-film percintaan. Memenangkan penghargaan Palme d’Or di tahun 2013, Blue is The Warmest Color muncul sebagai film dengan tema percintaan lesbian dengan eksekusi yang poetic dan indah.

Sejatinya film ini adalah tentang kisah cinta pertama dan perjuangan di dalamnya. Bagaimana menghalau jahatnya mulut teman-teman dan meredakan konflik dengan pasangan itu sendiri.

Kisah percintaan yang hetero saja sudah berat bukan main, apalagi dengan yang ini.

Film Blue is The Warmest color dengan cantiknya menangkap isu seksualitas lewat simbol visual yang kuat.

Mulai dari sosok Emma yang berambut biru dan adegan-adegan lainnya yang didominasi lampu-lampu warna biru membuat visual film ini begitu hangat dan seksi.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa pun yang pernah jatuh cinta untuk pertama kali dan menemukan satu sosok yang mengajarkan diri kita untuk menjadi pribadi yang tumbuh dan melakukan hal apa pun yang pertama kali dengan si doi.

Yang pertama memang tidak pernah terlupakan ya.

Adegan Paling Ngehek:

Ketika Adele dan Emma akhirnya berjanji untuk bertemu lagi di sebuah cafe setelah mereka jeda panjang atas pasca putusnya mereka berdua. Adele menyatakan kerinduannya pada Emma dengan menciumi tangannya demi mengemis cinta yang tersisa. Namun, Emma memutuskan untuk berkata tidak dan mengakhiri pertemuan itu.

Adele bersedih karena itu, menangis syahdu keluar cafe, berjalan menjauh dari gerak kamera dengan gaun berwarna biru. Ending film menggantung dan ambigu tersebut menyisakan tanya yang menyesakkan pada penotonton, “Selesaikah? Sakit kah ditolak seperti itu?”.

tumblr_o37ocy17Qm1v4a8wfo1_500

Quotes Paling ANZEEENK:

tumblr_o848saOgbm1s8k2leo1_1280

Her (2013)

Masih dari tahun yang sama, saat film Her keluar, film ini menjadi favorit saya di tahun 2013.

Bayangkan premis filmnya adalah tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta dengan perangkat lunak komputer. Spesifiknya adalah os bernama Samantha.

Cinta platonik level dewa enggak sih?

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Kesendirian adalah pedang mata dua yang kadang menyenangkan, namun seringnya menyakitkan. Dan sesekali mengisinya dengan menghadirkan orang baru adalah obat yang dapat melahirkan kebahagian pada relung-relung yang dulu sepi.

Terlebih kalau orang baru itu adalah sosok yang serba tahu dan memang cocok saja (kebetulan di sini Samantha adalah robot yang emang di design untuk bisa cocok sama pemiliknya. Ya of course lah ya).

Perlahan, sedikit demi sedikit diri kita dapat terbuka pada orang tersebut, menceritakan sesuatu yang tidak pernah kita ceritakan pada orang lain, menjadi diri sendiri. Dan akhirnya jatuh cinta lalu menyatu dengan dirinya. Menjadikan segala hal tentangnya yang tadinya sifatnya biasa saja mendadak berubah sebagai rutinitas yang tak terpisahkan.

Sialnya ketika kehilangan itu semua, hanya hampa yang tersisa atas nama kenangan. Dan tidak ada yang bisa dilakukan dengan itu semua.

HER

Adegan Paling Ngehek:

Saat Theodore ke pantai, menghayati kesederhanaan cahaya matahari dan merasakan hangatnya pasir di tubuhnya. Membawa Theodore mengingat masa lalunya adalah gambaran paling melankoli dari film ini.

Karena di sana Theodore sudah resmi bersatu dan jatuh pada Samantha, begitu pun Samantha. Mereka berbagi untuk menjadi satu.

 

her-joaquin-phoenix

Quotes Paling Anzeenk!

Sometimes I think I have felt everything I’m ever gonna feel. And from here on out, I’m not gonna feel anything new. Just lesser versions of what I’ve already felt.

My Best Friend’s Wedding (1997)

NGAKU SIAPA YANG KEPIKIRAN NGELAKUIN HAL SEPERTI YANG DILAKUKAN JULIA ROBERT DI SINI?! Jangan sok suci kamu, mantili!

Jahat sih memang, ngerecokin nikahan orang. Terlebih sahabat sendiri slash orang yang kita sayang bertahun-tahun lamanya slash orang yang berjanji kalau enggak ada siapa pun yang cocok sampai certain age tertentu doi janji untuk nikahin.

Duh, memang ya percintaan di 90s tuh lebih bold gimana gitu. Meski toxic, tapi elo tau apa yang elo mau dan elo perjuangin itu semua.

Berkisahlah si Julia Robert sang kritikus makanan andal yang harus menjadi ‘best man’ untuk sahabatnya yang dia sudah suka lama. Apa dia akan menjadi sahabat yang akan membantu? Oh tentu tidak. Semua hal yang ada di kepala dia direncanakan untuk membatalkan pernikahan temannya tersebut. Typical aing lah. Toxic.

11365_1
Kasihan kamu Mba, itu bukan cincin buat kamu.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Kamu pikir dunia percintaan itu berat? Oh, tidak, honey. Berpura-pura menjadi teman padahal ngarep adalah sesuatu yang menyiksa dan kadang nista juga.

Karena pada akhirnya kita jadi enggak tahu mana yang sebenarnya real dari ini semua. Kepura-puraan ini atau cinta ini? Atau jangan-jangan kita cuma enggak suka aja sahabat kita jadian sama orang lain aja.

Adegan Paling Ngehek:

Saat Julia Robert menyadari bahwa memang dia bukan menjadi pelabuhan untuk hati si Michael sahabatnya. Meskipun dia pintar, asik, dan sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Tapi hati siapa yang bisa memaksa ya. Mundur saja lah sudah. Huff. I feel you.

Quotes Paling Anzeenk!

Sesekali memang untuk memiliki kesadaran dalam hidup kita tuh harus ditampar dulu. Di taik-taikin dulu sama nasib baru deh engeh kalau, HILLAAAW, GA ADA YANG NGEJAR-NGEJAR MANEH!

ENGGAK ADA YANG MAKSA YOU BUAT NUNGGU BERTAHUN-TAHUN UNTUK DIA JATUH CINTA SAMA YOU! Jadi eat that. Ikhlas. Jangan ganggu hidup orang lain. (ngomong sama diri sendiri).

980x

Happy Together (1997)

Film Happy Together merupakan salah satu favorit saya dari Sutradara Wong Kar Wai. Gambar-gambar indah yang bikin tahan nafas sampai dengan akting kelas dunia membuat film ini menjadi kisah cinta toxic klasik yang selalu asik buat ditonton terus menerus.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Sebelum Call Me by Your Name booming, film Happy Together cukup berhasil mendokumentasikan film romansa bertemakan percintaan gay yang tetap indah dan poetic.

Film ini jelas sekali mengargumentasikan dua karakter yang saling jatuh cinta namun pada akhirnya tidak akan pernah bisa bersama karena pasti selalu ada salah satu dari mereka yang membuat kesalahan dan bikin kesal. Lalu jawaban dari mereka adalah lari. Meskipun beberapa kali always coming back together, namun pasti masing-masing entah siapa yang lebih dulu, akan berada pada satu titik jengah dan ingin menyelesaikan rantai setan tersebut.

Adegan Paling Ngehek:

Bisa lihat kan keindahan gambar-gambar yang diambil oleh Christopher Doyle? Betapa eksotisnya landscape Brazil dan satu ruang apartemen busuk disulap menjadi scene paling sinematik sepanjang perfilman dunia. Gokil!

Quotes Paling Anzeenk!

Turns out that lonely people are all the same.


Pada akhirnya apa sih yang bisa kita pelajari dari semua film-film ini? Apakah memang percintaan di usia dewasa seberat dan sekompleks itu?

Apakah memang bila kita sudah tidak dapat memiliki orang yang kita sayang banget padahal udah secocok itu kita harus ikhlas aja gitu? (Weits, enteng banget tuh bibir!)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang enggak bisa dipaksain dengan solusi yang sama sih. Semua kondisi pasti akan menuntut tindakan yang berbeda. Tapi, ketika gue berada pada momen seperti karakter-karakter dalam film tersebut dan mencoba untuk menghidupkan narasi di dalamnya dan mengharapkan ending yang lebih baik.

Ternyata hasilnya sama aja loh. Memang mau tidak mau, masing-masing dari kita memiliki time expired untuk satu sama lain. Mungkin saat itu, kesenangan dan kebahagian yang ada adalah saat gue dan doi berada di frekuensi yang sama. Momen yang sama.

Namun, time change, people change, maybe I do change. Dan memaksakan sesuatu bukanlah jalan yang terbaik. Karena mungkin memang ada beberapa cerita yang tidak perlu dilanjutkan lagi dan harus berakhir dengan ketiadaan.

Anyway, semoga masing-masing dari kamu mendapatkan jawabannya sendiri dan berhasil berdamai dengan luka-luka masa lalu tersebut.

Karena pada akhirnya, yang paling penting adalah kebahagiaan kita sendiri. Secara keseluruhan dan bukan karena orang lain.

Well, selamat menonton!

Review Buku Lengking Burung Kasuari: Kehangatan Kisah Anak Kecil Bernama Asih di Tanah Timur Indonesia

Processed with VSCO with a6 preset

Akhirnya setelah tidak terganggu dengan menonton series atau distraksi dari konten Netflix lainnya saya kembali memiliki waktu untuk membaca dan menamatkan buku yang masuk ke daftar #bacaanserufiguranjakarta.

Kali ini judul buku yang dibaca adalah Lengking Burung Kasuari karya Nunuk Y Kusmiana terbitan Gramedia tahun 2017 yang menjadi salah satu pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ tahun 2016 silam.

Novel ini begitu memikat dengan narasi yang disampaikan dari sudut pandang anak berusia enam tahun bernama Asih.

Novel setebal 224 halaman ini menceritakan kisah hidup masa kecil Asih selama di Irian pada tahun 70an.

Terakhir kali saya membaca buku jenis seperti ini dengan konten yang kaya akan deskripsi sosial dari keluguan mata anak kecil adalah sewaktu SD dulu. Buku-buku terbitan Balai Pustaka berkisah dengan nada yang sama.

Di buku Lengking Burung Kasuari ini sang penulis menghadirkan kedekatan realita remeh domestik yang dapat ditemukan sehari-hari namun dengan kedalaman deskriptif yang membuai.

Yang paling saya soroti adalah kehebatan penulisnya dalam memasukkan unsur ‘kemajemukkan’ jika tidak mau disebut perbedaan pada tiap-tiap penghuni di lingkungan Asih tinggal dengan sentuhan yang sama. Tidak ada yang lebih riuh maupun rendah.

Gesekan budaya dan perbedaan agama mewarnai keseharian Asih namun tidak secara normatif. Perbedaan itu hadir, tertutup rapat, namun ia dapat merasakannya.

Perspektif yang membuat pembaca muda agar mengingat bahwa perbedaan itu hadir secara biasa, normal, sampai ketika manusia beranjak dewasa dan mereka memperumit semuanya.

Intrik dan drama yang disajikan pun kadang begitu lucu karena masalah yang terjadi di dalamnya berada dalam semesta berfikir anak kecil. Terkadang semuanya selesai secara pragmatis dan sederhana atau membawa perubahan dalam hidupnya yang tidak Asih mengerti. Karena keputusan politik rumah berada di tangan orang tuanya.

Namun yang jelas, membaca buku ini, saya sebagai pembaca dibawa dengan asyik ke keseharian Asih yang selalu ditinggal pergi oleh Ibunya yang berjuang dengan berdagang dan Ayahnya yang seorang ABRI.

Keceriaan Asih hadir ketika dapat melihat Ibunya di siang hari atau bisa dengan tenang mendengarkan dongeng Ayahnya sebelum tidur.

Tak pelak, kadang kesepian Asih membawanya pada petualangan-petualangan baru yang mewarnai hidupnya bersama Tutik sang adik.

Mereka akan menelusuri jalan-jalan panas beraspal selama dua jam hanya demi menemui Ibunya di toko yang begitu jauh dari rumahnya. Atau bersungut dengan Sendi tetangganya yang merupakan temannya satu satunya demi memakan buah dari pohon kersen dan berpotensi dikejar-kejar burung kasuari dengan paruh yang lumayan jika kena patok nanti.

Tak hanya keluguan anak kecil saja yang muncul, namun juga keresahan pun dialami Asih. Ketidaknyamanan akan ancaman tetangganya, Tante Tamb, adalah perjuangan tersendiri baginya. Bagaimana dengan segala konflik di dalamnya ia berusaha menghindari keblingsatan tetangganya tersebut.

Buku ini meninggalkan kehangatan yang sederhana. Seperti kembali ke masa lalu, di usia muda, dengan permasalahan yang berjarak antara di suruh mandi, tidur siang, dan mengerjakan PR.

Dan ketika mengakhiri kisah Asih dengan menutup buku ini, saya menyadari bahwa kecantikan Buruh Kasuari yang jarang dilihat Asih menjadi begitu memesona sampai Asih meninggalkannya dan tidak pernah melihatnya lagi. Seperti banyak keindahan lainnya yang terlambat untuk disadari dan sudah terlanjur hilang.

Buku yang bagus. Selamat membaca!