Ages Just a Number, Don’t They?

Setiap tahunnya gue selalu iseng ngebuat satu tulisan buat kado ulang tahun gue sendiri. Semacam refleksi atau cuma omong kosong sentimentil belaka.

Tahun ini gue dua puluh delapan tahun aja dong. Mayan ya. Mayan TUAAAAAA.

Di umur yang segini tuh banyak teman-teman gue yang sudah masuk ke stage ‘dewasa’. Mereka tunangan, menikah, nyebokin pantat bayi, dll.

Sedangkan di dunia gue, prioritas gue masih tentang harapan untuk bisa makan daging-dagingan dan sushi-sushian pas gajian nanti *itu juga kalau duitnya nyisa* *pointed to AB STEAK dengan penuh ancaman*

Screen Shot 2018-04-15 at 11.05.32 PM
LIHAT KAN? BETAPA SEKSI, BETAPA MENGGODA!

Tapi, ya memang seperti itu adanya. Dan gue menyukainya.

Kalau dihitung-hitung gue baru lima tahun juga jadi manusia dewasa yang akhirnya bekerja, menjadi bagian dari kelas menengah ngehek yang selalu mengeluh tentang pekerjaan dan gaji di media sosial, dan akhirnya dalam beberapa tahun terakhir gue seperti kembali terkoneksi dengan diri gue sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang gue curiga mereka menyadari keberadaan gue pun tidak.

Akhirnya gue kenal lagi nih sama si Nurzaman yang ternyata ada beberapa mimpi dia yang belum kesampaian. Ternyata apa yang membentuk gue saat ini adalah apa yang terjadi di masa lalu. Dan…. harus gue akui ada beberapa luka masa lalu yang mau gue selesaikan. Ya itu tentang si R dan D. Diri gue yang versi tersakiti beberapa tahun lalu itu ternyata masih ada di sana, menuntut untuk diselesaikan.

Haha sad ya, masih aja. (Ketika hari ini pun mereka enggak inget ini hari ulang tahun gue haha).

Tapi, gue juga baru engeh sih. Enggak usah deh si “someone that I cannot have”, temen-temen yang gue consider deket juga terkadang cuek sama ulang tahun gue. Padahal kalau mereka ulang tahun gue excited dan ikutan nyumbang kado loh (lah jadi pamrih).

Kalau tahun-tahun yang lalu gue bisa drama tiga babak banget soal itu. Muka udah pasti ditekuk dan bete seharian deh. Haha.

Tapi setelah setahun terakhir ini gue merasakan keacuhan itu tumbuh malah dari dalam diri gue sendiri. Gue berasa jadi ignorant dan lebih ke yaudah aja gitu.

Gue masih sih ambisius ke beberapa hal yang sifatnya memang penting untuk hajat orang banyak macem kerja buat keluarga gue. Tapi, yang sifatnya personal gitu gue jadi, yaudahlah ya say…. Ada yaudah enggak ada juga yaudah.

Karena mungkin setahun ini tanpa gue sadari adalah tahun yang berat buat gue. Gue kehilangan sahabat paling deket gue. Namanya Dita. Dia meninggal Februari lalu. Sampai sekarang gue masih enggak percaya dia udah enggak ada.

Nyokap masih suka ngoreksi gue kalau gue nyebut nama Dita enggak pake kata ‘almarhum’.

Ya gimana, gue masih ngerasa ini cuma momen di mana kita lagi ga ketemu aja. Dan kayak tahun-tahun sebelumnya, pasti ada satu kesempatan di mana kita ketemu lagi. Tapi ternyata ini beda. Dita bener-bener udah engga ada. Dan gue engga bisa berbuat apa-apa lagi.

Jadi sejak dari situ, gue jadi ngehargain waktu lebih maksimal sih. Gue fokus ke sesuatu yang emang bener-bener matter ke gue dan mereka nganggep gue matter juga.

Seperti keluarga, buku-buku yang harus gue baca, film-film dan series yang harus gue tonton, dan beberapa teman gue yang emang beneran investasiin waktu buat gue. Emang jadinya sedikit sih orang yang ada di hidup gue.

Tapi, semua itu adalah sesuatu yang mungkin layak untuk gue terima. Ini hasil dari benih perbuatan gue selama ini. Dan yang gue dapat ya itu. I can’t complain.

I mean, gue enjoy kok sama hidup gue yang sekarang. Meskipun kadang sepi itu datang dan sesekali gue bodo amat dengan cry sendirian sampe ketiduran. Tapi yaudah, gue engga bisa buat apa-apa lagi. Kali ini tuh gue benaran ngerasain sepi yang sampe ngerong-rong di ulu hati gitu.

Beberapa kali gue bisa halau itu semua sih dengan makan-makanan enak. Ya jadi happy sih emang, tapi nyesek pas bayarnya. Haha. Lama-lama gue kelilit hutang kartu kredit jadinya gegara si sushi dan daging-daging all you can eat itu.

Terus ya balik lagi ke soal R dan D yang gue ubek lagi selama dua bulan terakhir ini. Sebenarnya gue enggak minta apa-apa sih selain ketemu dan mengutarakan yang emang gue pengen bilang ke mereka. Terus abis itu yaudah bye bye.

Toh memang selama empat tahun terakhir masing-masing dari kita udah ga kontak lagi. Jadi seharusnya ini bukan hal yang besar. Tapi ya gitu mereka masih jadi pihak yang males ketemu dan bohong banget kalau gue enggak ngerasa di treat jadi sampah lagi kaya dulu.

Tapi, ya udahlah. Umur gue udah 28 tahun sekarang dan gue ga tau berapa waktu yang tersisa buat gue. Dan gue cuma mau hidup dengan damai dan jadi orang baik aja yang ga jahat sama orang.

Dan tadi malam, tepat jam 12 gue merayakan ulang tahun gue sendirian di pojokan Mcd di Pasfest (deket dari kosan). Sambil menyesap beberapa batang rokok gue merasakan kesepian itu mulai menjalar ke dada gue. Namun kali ini mereka lebih bersahabat.

Seolah mereka mau bilang, yang gue punya sekarang adalah cuma diri gue sendiri dan gue harus mulai terbiasa dengan itu. Anehnya, gue merasa itu semua sudah cukup.

IMG_8606
Ini aku abisin sendiri dong…

Jadi, gue mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang masih ingat hari ini adalah hari ulang tahun gue dan dengan tulus mendoakan gue. Gue terharu banget dan sangat menghargai itu.

Semoga doa-doa baik kalian didengar dan berbalik ke kalian ya.

Selamat ulang tahun, Nurzaman! 🙂

Advertisements

Author: figurandjakarta

Just a person who love to write when he cannot sleep

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s