Serendipity

Dia datang membawa semua yang bertahun-tahun lalu coba kamu lupakan.

Advertisements

Dia datang membawa semua yang bertahun-tahun lalu coba kamu lupakan.

Selama itu kamu sudah berusaha untuk menekannya, menyembunyikannya, tapi di malam-malam yang sunyi terkadang kamu masih mengintipnya diam-diam.

Kalian berdua pun kembali bertemu dalam ketidaksengajaan.

Ketidaksengajaan yang mempertaruhkan empat tahun yang riuh dengan pekerjaanmu, mimpi-mimpimu yang maju mundur, dan makanan-makanan yang kamu asosiasikan dengan kebahagiaan.

Apakah bahagiamu masih sama?

Dalam sekejap ternyata semua hal di atas tadi menguap tak bermakna apa-apa dibanding ketika kamu berkomunikasi dengannya secara langsung.

Momen di mana kamu kembali terkoneksi dengannya. Berbagi udara yang sama dengannya. Menggerus rindu yang bertahun-tahun kamu simpan di brangkas terdalam hidupmu.

Malam itu kamu tunjukkan semua padanya. Satu persatu rindu itu pun terkikis dengan malu-malu dan menjelma menjadi kegembiraan.

Kegembiraan yang hadir saat kamu kembali melihat lesung pipinya yang terukir manis di senyumnya yang membuat perutmu melilit lemas. Atau tanpa permisi saat dua mata coklatnya menatapmu dengan hangat. Kamu mengaku kalah, detail-detail kecil tersebut berhasil mendorongmu ke masa lalu saat SMA dulu. Pada versi kamu yang begitu tergila-gila padanya. Mengais-ngais perhatiannya.

Kamu pun mengulang dalam hati bahwa kamu merindukan ini semua. Mengobrol dengannya tanpa terhalang apa pun. Dan sedikitnya kamu dapat merasakan ia memiliki sensasi yang sama. Tidak terucap, namun gerakannya membahasakan semuanya.

Tapi kamu sadar bahwa empat tahun merubah banyak hal dalam hidup seseorang.

Ia melihatmu yang membengkak dengan lemak-lemak jenuh menganjurkanmu untuk lebih banyak berolahraga dan berhenti merokok. Dengan tegas ia bilang bahwa ia tidak menyukai bau asap yang keluar dari mulutmu. Ia sedikit kaget melihatmu dalam format seperti itu. Tapi, kamu dapat membacanya, ia tidak menyukai fakta kamu merokok.

Sepele, tapi kamu tersipu karenanya. Kamu pun berjanji untuk menguranginya. Dimulai dari malam itu.

Cerita pun bergulir dari satu kisah ke kisah yang lain. Kamu tidak ingin menghentikan apa pun yang sedang terjadi di antara kalian berdua malam itu. Kamu ingin melihatnya terus berbicara. Membahas tentang konspirasi bisnis minyak swasta dengan pemerintah, atau saat kamu terkejut menyadari bahwa ia menonton dan mengikuti dengan khidmat series Game of Thrones.

Kemudian cerita remeh temeh itu pun berganti menjadi lebih serius. Ia membagi rahasianya di antara dinginnya malam dan ekspektasi-ekspketasimu yang menyesakkan.

Ia berujar ingin mengulang waktu yang ada. Empat tahun yang lalu. Namun, bukan tentang absennya kehadiranmu. Melainkan tentang hubungannya dengan orang lain. Kekasihnya yang ia nikahi dan akhirnya berpisah karena kondisi yang tidak dapat ia paksakan. Mereka berbeda keyakinan. Dan alasan itu cukup untuk menjadikan sebuah cinta yang indah tersebut harus bertransformasi menjadi sebuah aib dalam keluarga.

Kamu mendengarnya dengan sedih. Lagi-lagi kamu bukan menjadi prioritas dalam hidupnya. Dan sepertinya tidak akan pernah.

Kamu tidak mau merusak malam sakral ini, sekuat tenaga kamu berusaha mendengar kemalangannya dan menahan kesedihan milikmu.

Ia kini telah menjadi orang tua. Mendengar fakta itu membuat dirinya semakin berjarak jauh denganmu. Pahit. Empat tahun dan kamu masih begini-begini saja.

Lalu pertanyaan itu pun hadir, ia menanyakan kisah cintamu.

Apa kamu tidak berniat untuk menikah? Ia menatapmu lama, menunggu jawabanmu.

Ada jeda di sana.

Kamu pun memulai prolog itu. Sesuatu yang sudah kamu siapkan sejak delapan tahun lalu.

Kamu mengeluarkan satu novel dari dalam tasmu. Novel berjudul Gege Mengejar Cinta, novel yang kamu pinta dia untuk baca. Namun selalu berakhir gagal karena ia tidak terlalu menyukai aktivitas membaca.

Ia tersenyum geli melihat novel tersebut. Ternyata ia masih mengingatnya. Ia menambahkan cerita bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga menamatkannya dengan mencoba membaca satu dua halaman dengan penggaris. Takut-takut ada kalimat yang terlewat. Tapi ia tidak pernah berhasil menyelesaikannya.

Kamu bilang padanya selama bertahun-tahun kamu masih menyimpan novel tersebut. Membacanya jika sedang senggang dan masih dipenuhi nelangsa saat menamatkannya. After tastenya masih sama.

Setelah bertahun-tahun masih seperti itu efeknya? tanyanya takjub.

Kamu mengangguk.

Akhirnya keberanian itu pun datang, sekarang atau tidak sama sekali, kamu pun mengatakan bahwa sama seperti novel yang ia baca, perasaanmu padanya pun masih sama. Tidak pernah berubah.

Akhirnya kamu mengatakannya, membahasakan perasaan yang bertahun-tahun mencekikmu, mengerdilkanmu.

Sambil bercanda kamu pun bilang dia adalah cinta pertamamu. Dan sepertinya jika jatuh cinta lagi, kamu hanya akan bisa jatuh cinta dengan dirinya saja.

Ia menatapmu dengan perasaan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa itu akan keluar dari mulutmu malam ini.

Kamu tidak pernah merasakannya? tanyamu sedih.

Ia menggelengkan kepalanya.

Lalu kenapa kamu diam saja selama ini? Jarak yang selalu kamu buat adalah siksaan tersendiri buatku. Dan kamu tahu itu. Bertahun-tahun aku terluka karena ini. Karenamu. Amarah mulai menyelimuti suaramu.

Ia menyentuh jemarimu, mengalirkan rasa kasihan yang mungkin bertahun-tahun juga ia simpan untukmu.

Di malam tersebut, dari mulutnya, ia mengucapkan maaf. Tulus. Ia tidak menyangka bahwa dirimu terluka separah itu. Ia benar-benar tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan selama ini telah menyakitimu.

Semua khayalan-khayalan ini, alasan mengapa aku masih sendiri, semuanya hanya tentangmu. Dan akan selalu tentangmu.

Lalu gerakan itu pun menghentakan dirimu. Ia memelukmu. Menggapai seluruh kesedihanmu. Merasakan luka yang kamu simpan sendiri sejak SMA dulu. Berusaha untuk mengobatimu secara perlahan, meskipun kamu tau luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh.

Maaf. Ulangnya.

Kamu membalas pelukannya. Merasakan sesuatu yang kamu khayalkan sejak dulu. Bersentuhan dengannya. Menggapai dirinya yang selalu jauh dari rengkuhanmu.

Mengapa kamu harus pergi selama ini? Meninggalkanku dengan tanda tanya besar yang membuatku hampir gila karena kesedihan yang aku bawa setiap harinya. 

Ia tidak bergeming, meskipun suaramu semakin bergetar. Kedua sudut matamu memanas.

Tolong, jangan pernah pergi lagi. Bisikmu lirih.

Ia tidak menjawabnya. Hanya memelukmu semakin erat.

Kamu tahu akan seperti apa akhir dari semua ini. Kamu bisa menebaknya. Ia akan meninggalkanmu. Membuatmu kembali sengsara dengan rindumu yang menyesakkan. Juga pesan-pesan dan teleponmu yang tak akan pernah ia balas.

Kamu dapat membayangkan dirimu akan kembali mengakrabi malam-malam yang sepi dengan menguyah makanan sampah mematikan dan rindu yang sekuat tenaga sengaja kamu singkirkan.

Mungkin juga kamu akan mulai merokok lagi.

Namun malam ini, kamu lepaskan semua ketakutan itu terbang jauh. Dan hanya menyisakan dirimu dan dirinya yang bertaut pada satu momen di mana perasaan kalian saling bersinapsis dalam frekuensi yang sama.

Dan biarkanlah pelukan tersebut menjadi hadiah dari kesedihanmu selama ini.

Screen Shot 2018-05-11 at 2.40.58 AM
source: https://unsplash.com/photos/HIDx1jXz8tA

Author: figurandjakarta

Just a person who love to write when he cannot sleep

One thought on “Serendipity”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s