10+1 Buku Indonesia Yang Asik

Hari ini di tanggal 17 Mei tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buku Nasional, yang istimewanya bertepatan dengan hari pertama puasa.

Sama seperti puasa, sebagai pembaca buku saya menganggap kegiatan membaca sama sakralnya dengan ibadah suci tersebut.

Momen saat memegang buku baru, romantisme menyiumi lembaran kertasnya, dan perasaan menggebu saat mencapai penutup cerita merupakan sebuah pengalaman yang memberikan adiksi tersendiri.

Terlebih jika cerita dalam buku tersebut mampu menyedot saya masuk ke dalam dunia baru yang asing, magis dan tidak bisa berhenti untuk dijelajahi.

Perjalanan sebagai seorang pembaca buku itu pun diawali dengan membaca majalah-majalah yang dapat saya temukan di rumah. Tumbuh di era 90an, industri cetak sedang berjaya dan diisi dengan poster-poster selebritas-selebritas dan anekdot di dalamnya. Ringan namun mampu menyihir untuk berlama-lama di sana.

Kemudian saat bersekolah keharusan untuk membaca buku-buku terbitan balai pustaka dengan konten cerita rakyat membawa saya pada dongeng-dongeng seru yang menghanyutkan.

Sejak itu apa pun bentuknya yang memiliki aksara di dalamnya akan saya habiskan dengan gembira.

Beranjak dewasa membaca menjadi momen pelarian dari dunia pubertas yang menjengkelkan dan aneh. Larut dalam kisah Harry Potter menjadi sesuatu yang menyenangkan dibanding harus berbasa-basi dengan orang lain.

Dan kebiasaan tersebut ternyata tidak pernah hilang. Kegiatan membaca tumbuh sebagai bagian dalam diri saya. Pilihan bacaan yang dulu sifaatnya hanya untuk seru-seruan berubah menjadi diskurs yang membuka pandangan akan situasi sosial sendiri. Dan dari sana membaca menjadi aktivitas yang lebih serius.

Akhirnya saya menyadari bahwa cerita dalam buku merupakan suara tersendiri dari sejarah suatu periode tertentu atau pun potret realita yang berbahasa lewat fiksi.

Maka di hari penting ini saya ingin membagikan 10+1 daftar buku Indonesia paling asik versi saya.

Tidak melulu yang menghentakan akal pikiran, namun sejatinya buku-buku yang akan saya bagikan mampu menemani dan memberikan ruang bagi suara yang patut untuk didengar.

Mari kita mulai saja daftar 10+1 daftar buku Indonesia yang paling asik tersebut:

  1. Gege Mengejar Cinta (2004, Adithya Mulya)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.13.37 PM

Tahun 2000an awal merupakan tahun di mana muncul genre baru di Indonesia setelah cengkraman reformasi yang membungkam banyak suara di negeri ini. Tahun-tahun tersebut cerita yang ditawarkan lebih beragam dan kaya.

Perayaan kehidupan dan cinta yang jenaka menjadi salah satunya. Para publisher menyebutnya dengan metropop, chick lit atau cerita kehidupan turbulensi para kaum urban di umur dua puluhan.

Lalu saat memasuki kelas 1 SMA di tahun 2006, saya membaca buku yang akan menjadi tonggak dasar kehidupan percintaan saya.

Buku berjudul Gege Mengejar Cinta merupakan karya kedua Adithya Mulya setelah kesuksesan novel Jomblo. Dan saya jatuh cinta dengannya.

Kisah urban para pekerja radio dan lika-liku kehidupan jomblo di usia 20an akhir memberikan warna jenaka dan sedih secara bersamaan.

Membaca buku ini seperti mengocok perut kita sendiri dan mempertanyakan sebuah keresahan paling penting dalam hidup. Mana yang akan kita pilih, seseorang yang kita cintai atau seseorang yang mencintai kita?

Silahkan dibaca buat yang mau galau meradang, sampai sekarang saya masih belum bisa move on dari buku ini meskipun sudah lewat 12 tahun. Karena sensasi yang didapat masih sama seperti pertama kali menamatkan buku ini.

Nyesek.

2. Kok Putusin Gue? (2004, Ninit Yunita)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.18.11 PM

Kalau tidak salah menjadi novel pertama dari Ninit Yunita. Kebetulan istri dari Adithya Mulya. Dari sana saya mengikuti semua buku dan blog kedua pasangan seru ini secara religiously.

Saya membaca buku ini di tahun 2005. Buku yang mengemas kisah patah hati dengan jenaka namun tetap haru. Gambaran kota Bandung dan kehidupan di dalamnya membuat saya mabuk akan romantisme Bandung yang masih saya cari seperti yang diceritakan oleh Ninit di buku ini. Tips membuat Tiramisu juga hadir dengan jenaka. Silahkan dibaca bagi yang suka menikmati kisah dengan ending ugly cry.

FYI, jangan nonton film adaptasinya. Jelek.

3. Saman (1998, Ayu Utami)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.30.34 PM

Tahun 2009 menjadi pertemuan pertama saya dengan Saman. Sebelas tahun setelah dulu ia terbit dan menjadi kontroversi di masanya.

Bab pertama buku Saman merupakan tulisan paling indah yang pernah saya baca di novel kontemporer Indonesia. Sejak itu saya menjadi pengikut Ayu Utami yang membaca habis seluruh buku dan tiap-tiap tulisan yang ia buat.

Perkenalan dengan feminisme dan kesadaran akan kesenjangan situasi sosial di Indonesia pun dimulai dari Saman.

Yang membekas tentu saja ending dari buku ini yang ditutup dengan kalimat, “Perkosa aku” yang keluar dari mulut sang pastor.

Wajib dibaca buat kamu yang ingin merasakan ketegangan dan keseksian nuansa 90an yang mencekam di negeri ini.

4. Cantik Itu Luka (2002, Eka Kurniawan)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.31.59 PM

Cukup baca dua bab buku ini dan kamu akan terperosok masuk ke dalam magisnya kisah Mas Eka Kurniawan. Pertemuan saya dengan Mas Eka dimulai di awal tahun 2016. Saat itu saya sama sekali belum pernah membaca karya beliau dan tidak pernah terbersit sedikit pun akan berjumpa langsung dengan beliau.

Kebetulan saat itu saya memenangkan kontes seminar penulisan yang dimentori oleh Mas Eka. Secara tidak langsung Mas Eka pernah membaca tulisan saya dan memilihnya dari ratusan submission yang ada.

Lalu setelah seminar tersebut saya membeli SEMUA buku beliau, dan warning saja, kalian tidak akan bisa berhenti masuk ke semesta Mas Eka yang begitu memikat, magis, dan menghujam di akhir.

Ironi-ironi paling sial muncul di setiap plot poin buku Cantik Itu Luka. Bagaimana bisa sebuah kecantikan bisa membawa sengsara pemiliknya, hanya Mas Eka yang bisa menuliskannya dengan tajam.

Cerita kehidupan kolonial dan kemerdekaan awal Indonesia berhamburan dengan seru, mencekam, dan sesekali lucu.

WARNING: Baca buku Mas Eka berarti harus siap-siap jatuh cinta dengannya.

5. Sihir Perempuan (2005, Intan Paramadhita)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.33.25 PM

Membaca buku Mbak Intan kebetulan beriringan dengan membaca karya-karya Mas Eka di tahun 2016 lalu. Buku Sihir Perempuan merupakan advokasi Mbak Intan terhadap paradigma buruk pada perempuan. Terlebih para stereotipe perempuan yang termarjinalkan.

Penuturan yang indah dengan balutan kisah-kisah yang dapat ditemukan sehari-hari membuat buku ini sangat sayang untuk dilewatkan. Baca segera dan kamu akan tersihir karenanya.

6. Raden Mandasia Si Pencuri Daging (2016, Yusi Avianto)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.35.03 PM

BUKUNYA BAGUS BANGET.

Sudah baca saja buat kamu yang suka cerita petualangan yang dibalut dengan kisah kolosal, kuliner, dan politik kerajaan macam Game of Thrones.

Beli segera dan jangan lupa beli kumpulan cerpen-cerpen Om Yusi sekalian. TIDAK AKAN MENYESAL!

7. Lupus (1986-2015, Hilman)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.44.20 PM

Perks sebagai kelahiran 90 adalah saya dapat menikmati kisah-kisah ngocol yang benar-benar lucu dan memiliki kedalaman cerita yang mendorong saya untuk belajar menulis dengan baik seperti Hilman.

Kisah Lupus benar-benar kaya dengan kemajemukan karakter-karakter di dalamnya dengan plot paling engaging sepanjang sejarah novel kontemporer Indonesia.

Novel lupus sudah dibaca oleh jutaan orang dengan seri-seri yang ditunggu oleh banyak orang di masanya.

Lupus pun bertransformasi menjadi ikon anak muda yang menjadi representasi masanya.

Ayo baca Lupus kembali dan siap-siap bernostalgia dengan jokes singkatan-singkatan yang mungkin sekarang akan terdengar garing.

8. Olga Si Sepatu Roda (1990-2002, Hilman)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.44.43 PM

Kamu akan jatuh cinta dengan cerita Olga dan kehidupan sehari-harinya. Sebagai seorang protagonis Olga hadir dengan karakter yang membuat orang ingin berteman dengannya atau menjadi seperti dirinya.

Menurut saya itulah kesuksesan Hilman sebagai seorang penulis. Membuat karakter dan narasinya hidup melintasi zaman.

9. Filosofi Kopi (2006, Dee Lestari)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.46.14 PM

Membuat daftar buku terbaik tanpa memasukkan karya Dewi Lestari merupakan sebuah dosa besar!

Lewat kumpulan cerpen ini, Dewi Lestari mencuat sebagai cerpenis andal dengan kedalam teknik bercerita lewat layer-layer misteri yang menonjok di akhir.

Mencari Herman masih menjadi cerpen favorit saya.

10. Pulang (2003, Leila S Chudori)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.47.06 PM

Buku babon yang ditulis dan diriset selama enam tahun oleh Leila Chudori merupakan sebuah pencapaian tertinggi dalam karya sastra Indonesia kontemporer yang mengangkat kisah perpetaan politik lewat dua zaman. 1965 dan 1998.

Dua tahun paling mencekam di negara Indonesia ini dibuat dengan sangat puitis dan romantis. Leila Chudori membuat sebuah karya yang tidak ingin siapa pun untuk diakhiri.

Kamu wajiib membacanya sebagai sebuah kesadaran zaman bahwa di Indonesia kita pernah memiliki sebuah masa yang begitu tragis dan memberikan luka yang belum terobati sampai sekarang.

+ 1

24 Jam Bersama Gaspar (2017, Sabda Armandio)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.48.01 PM

Saya membaca buku ini sepanjang perjalanan kerja saya selama dua hari saat naik Commuter Line, Bojong Gede-Tanah Abang. Jadi selama dua jam dalam sehari saya baca buku ini.

Dibuka dengan rencanan pencurian yang mencekam namun jenaka, membuat saya jadi penasaran akan ke mana arah cerita buku ini.

Seolah, membaca buku ini seperti ikut dalam proses pemecahan teka teki menyebalkan tersebut. Naratornya kadang cerewet, Gaspar seperti anak kecil gendut yang rewel namun tetap menggemaskan.

Setiap kejadian di dalam buku ini dipikirkan dengan matang dan detail. Dan tiba pada akhir buku sang penulis yang sudah memasang kail yang sudah dirajutnya dari awal awal bab dan vice verca, dalam sekali paragraf deduktif khas detektif, di akhir cerita kailnya siap menarik pembacanya pada perasaan psikologis mendalam pada titik paling rendah. Menelanjangi mereka dan ringsek dalam kehampaan.

Sialan. Gerutu saya sambil menyeka air mata yang tak henti turun saat Gaspar menjelaskan tentang si tetangga perempuan masa kecilnya itu. Dalam kereta pula, yang penuh orang.  Menutup buku ini, mengakhiri segala kisah random interview polisi dan flashback teman-teman Gaspar membuat dada saya sesak, after tastenya bikin galau, seperti kehilangan teman yang selalu ingin dimiliki namun keburu pergi entah ke mana.

Perhatian saja, membaca buku ini berarti pembaca harus siap dengan segala konsekuensi turbulensi yang ada di dalamnya.

Jika penulisnya mengklasifikasikan bukunya sebagai cerita detektif, sayangnya tidak untuk saya. Buku ini lebih mencuat sebagai surat cinta romantis dengan tambahan ironi yang satir di akhir. Tidak manis dan tidak pahit. Hanya pekat menyesakkan yang membuat lubang kosong di dada.


Membaca memang merupakan sebuah perjalanan tanpa henti. Menumbuhkan kecintaan pada membaca pun tidak melulu harus dimulai dengan sesuatu yang kesannya ‘berat’ dan kelewat ‘sastra eksklusif’.

Dimulai dengan menamatkan kisah Paman Gober pun tak mengapa. Atau Oki dan Nirmala di majalah Bobo juga masih oke.

Yang terpenting adalah pemahaman bahwa membaca dapat membukakan jendela yang menghubungkan pikiran dengan dunia adalah sebuah keharusan.

Karena ketika sudah sekali merasakan nikmatnya membaca, dapat dipastikan tidak akan bisa dihentikan.

Karena lewat membaca kita tidak hanya memperoleh pengetahuan, namun juga kekayaan imajinasi yang kini terasa mahal untuk didapatkan.

Jadi, buku Indonesia favorit kamu apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s