Puasa dan Romantisme di Dalamnya

Bulan puasa selalu memberikan waktu tersendiri seperti pause panjang dalam sebuah lagu. Pause tersebut entah akan memberikan hasil yang menarik atau biasa-biasa saja. Tapi ya yang paling nyebelin jika ternyata harus berakhir jelek.

Sejak 2008 lalu ketika masuk kuliah dulu, bulan puasa seperti memiliki makna lain dalam hidup saya. Seolah memiliki magicnya sendiri. Kekuatan yang memberikan saya kebahagian paling personal yang tidak bisa saya ceritakan dengan begitu deskriptif namun dapat saya rasakan sensasinya.

Terlebih ketika sudah jam dua pagi.

Mereka bilang sepertiga malam adalah waktu yang sempurna untuk bersimpuh dan berdoa. Memohon pada Sang Maha Besar dan berpasrah padanya.

Saya melakukannya dengan kamu. Dulu sekali saya akan menggapai komputer dan menyambungkan diri saya dengan kamu yang jauh sekali.

Kamu menyambut dengan hangat, tersenyum saat saya memanggil namamu. Menggerutu saat saya hendak pergi.

Selama dua tahun saya dan kamu melakukan rutinitas tersebut. Merayakan bulan puasa dengan cara yang hanya kita berdua yang tahu.

Di jam dua pagi saat sunyi meresapi malam dan dingin menyentuh sendi-sendi yang menghamba, kamu pernah berbisik padaku (tentu lewat internet, namun anggap saja hangatnya nafasmu mengalir di ujung telinga saya yang kelewat bahagia).

Kamu bilang bahwa malam akan menciut, bahkan terlalu kecil untuk saya genggam.

Kamu aneh, timpal saya kala itu.

Tapi ternyata kamu benar sedang tidak bercanda saat itu. Malam benar-benar mengecil beserta dingin dan gelapnya. Kamu mengemasnya dan meminta untuk menukarnya dengan yang paling berharga yang saya miliki.

Saya berfikir sejenak, tidak ada yang lebih berharga dalam diri saya selain diri saya sendiri.

Lalu kamu mengangguk, seolah setuju dengan perdagangan tersebut.

Kamu menyerahkan malam yang menciut itu dan menyisipkannya di sela-sela jemari saya yang sibuk mengetik.

Saya tentu terperanjat kaget dengan itu. Dari sana maka tiap jam dua malam di bulan puasa secara otomatis saya akan terbangun dan memiliki malam yang panjang yang hanya menyisakan saya dan kamu.

Saya dan kamu. Saya dan kamu. Saya dan kamu. Saya selalu senang mengulang-ngulangnya. Kita berdua bersatu dalam kebahagiaan.

Dingin dan sunyi adalah saksinya.

Tetapi harga yang harus saya bayar adalah menyerahkan diri saya. Sehingga tepat di jam dua malam ketika semua terasa dingin dan sunyi maka kamu akan memiliki saya secara utuh.

Menapakinya dan menjelajahi tiap senti diri saya hingga bosan.

Lalu pagi datang, menggusur satu persatu dingin dan sunyi yang kamu bungkus di sela-sela jemari saya tadi.

Malam pun pergi.

Namun, sayang, kamu lupa untuk mengembalikan diri saya. Karena sejak itu, bertahun-tahun sudah, di tiap jam dua malam kini saya tak lagi dapat merasakan keutuhan diri saya yang telah tercuri.

Yang kita berdua tahu, saya serahkan dengan sukarela.

Dan kamu pergi bersamanya tanpa pernah kembali lagi. Saya menyadari saya kehilangan sesuatu yang bahkan lebih lama perginya dibanding saat saya memilikinya.

Advertisements

Author: figurandjakarta

Just a person who love to write when he cannot sleep

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s