Review This is Us Season 1 & 2: Dalam Sebuah Perspektif Personal

Screen Shot 2018-03-28 at 1.41.51 PM
pic from https://www.goodhousekeeping.com/life/entertainment/news/a48183/this-is-us-season-3/

Sebenarnya sudah direkomendasiin sama Kak Teppy dari setahun lalu, namun entah mengapa baru punya waktu tahun ini aja.

Daaaaaaan series ini bagus. Banget. Titik.

Setiap manusia pasti punya luka masa lalu yang akhirnya memberikan efek tersendiri di kehidupan mereka ke depannya.

Dengan premis tersebutlah series This is Us bergerak dengan begitu indah, memikat, juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi mereka yang memiliki pengalaman yang sama seperti pemain-pemain di dalamnya.

Series ini dengan apik menggambarkan hubungan antar manusia sebagai keluarga yang tumbuh bersama-sama dengan begitu detail sampai saya sebagai penontonnya merasakan keterikatan emosi dalam perubahan nasib dan pengembangan karakter sepanjang series berjalan.

Kejeniusan sang kreator dan penulis series ini dapat dilihat lewat pembagian scene dan cerita yang tidak linear namun bertumpu pada satu titik trauma misterius yang dihadirkan maju mundur dan selalu dihindari untuk dibicarakan oleh masing-masing anak di dalam keluarga ini.

Namun seperti halnya misteri lain dalam hidup, di tiap episodenya pedih dan misteri yang bercongkol terus mendesak untuk diselesaikan atau akan menghancurkan semua yang ada di ‘present moment’.

Dan itulah kekuatan dari series ini. Saya bisa nangis ambyar se-ambyarnya macam selang air setiap menyelesaikan episode-episode di series ini.

Kalau kamu-kamu tipe yang suka disakitin dengan cerita-cerita tear jerky, series ini cocok banget buat kamu.

Screen Shot 2018-03-28 at 1.45.18 PM
pic from https://www.nbcnews.com/better/health/6-important-relationship-lessons-we-can-all-learn-us-ncna802341

Topik besar dari series ini adalah gambaran dua karakter utamanya yaitu Jack dan Rebecca dalam membangun keluarga kecil mereka dari nol sampai anaknya tumbuh sebagai manusia dewasa.

Dan namanya juga hidup ya, pasti ada saja masalah-masalah di dalamnya. Namun serius, menonton series ini saya seperti sedang dalam sesi self healing. Karena isu-isu yang dihadirkan di series ini adalah sesuatu yang kebanyakan orang alami sebagai seorang anak maupun manusia secara keseluruhan. Dan selama satu jam saya dihadapkan dengan begitu larut lewat memori-memori usang yang telah lama ditekan, dilupakan, dan kini mendesak untuk didamaikan.

Fiuh, nonton series tidak pernah seberat ini.

Ketidaksempurnaan adalah Kesempurnaan

Jack sebagai seorang Ayah dan Suami dalam series ini terlihat sebagai manusia super sempurna di mata keluarga kecilnya.

Dan sebenarnya memang Jack seberusaha itu untuk menjadi sosok sempurna tersebut. Kita sebagai penonton akan dibuat terharu ketika melihat perjuangan Jack saat harus memutar otaknya untuk menyelesaikan masalah ‘papan’ keluarganya. Karena pada awalnya saat Rebecca hamil dia memperkirakan anaknya hanya akan ada satu. Tapi setelah beberapa bulan ia terkejut mendapati fakta bahwa ia akan memiliki TRIPLET. Bayangkan, sudahlah DP rumah awal hangus karena sudah pasti rumahnya saat lahiran enggak bakal muat, ditambah dia masih harus mencari uang tambahan untuk beli rumah baru lagi.

Namun Jack berusaha untuk melakukan apa pun demi memberikan kenyamanan terbaik untuk istri dan anak-anaknya. Meskipun ia harus drop his pride and ego untuk minta ke Ayahnya yang dia benci sekali.

Apa yang Jack lakukan adalah gambaran kebanyakan peran seorang Ayah dalam kehidupan keluarga kebanyakan.

Dia akan berkorban dan bekerja paling keras untuk mendapatkan uang demi kelangsungan kehidupan keluarganya.

Jack Versi Saya

Saya mau berbagi cerita tentang sosok ‘Jack’ versi saya lewat pengalaman dan sudut pandang saya.

Sebagai anak yang tumbuh dan berkembang di keluarga Indonesia kelas pekerja kebanyakan. Tipe hubungan anak dan Ayah yang saya punya secara khusus bukanlah bentuk paling ideal yang bisa diceritakan. Kami bukan keluarga yang tiap akhir pekan bisa berkumpul kemudian piknik dan membuat bbq dan tertawa bersama-sama. Kami hanya keluarga sederhana dengan kehidupan yang sederhana pula.

Ayah saya adalah si pendiam yang selalu pulang ke rumah dengan fisik dan mental kelelahan yang hanya bisa saya temui seminggu sekali. Itu pun lebih banyak saya mendapatinya tidur seharian di kamar. Komunikasi kami hanya sebatas menanyakan “sudah makan? sudah mandi? sudah mengaji?”.

Waktu intim yang saya punya dengan beliau hanya saat makan bersama. Meski tidak banyak bertukar omongan tapi momen tersebut sudah cukup untuk membuat saya merasa memiliki seorang bapak.

Namun sejak saya dan adik saya tumbuh besar dan membutuhkan ruang lebih luas di rumah kami yang kecil, saya harus merelakan tidak punya meja makan dan kehilangan ritual makan bersama-sama. Yang artinya saya akan kehilangan waktu berdua dengan Ayah saya. Maka keintiman itu pun terlewat dan berganti ke pertanyaan basa basi soal perkembangan di sekolah saja.

Entah apakah Ayah saya tahu bahwa hobi saya sebenarnya adalah membaca dan menulis bukan bermain sepak bola seperti kebanyakan anak-anak laki-laki di kampung saya.

Entah juga apa Ayah tahu bahwa dulu sepeda saya sering rusak karena dikerjai oleh anak-anak kampung yang iseng karena mereka membenci saya atas fisik saya yang hitam dan kemayu. Yang mana merupakan gambaran paling jelek dalam kriteria anak laki-laki di kampung.

Entah apa Ayah saya juga sadar bahwa saya selalu absen dari kelas mengaji setiap malam karena saya tidak nyaman membahas ajaran agama yang begitu dangkal dan anak-anaknya yang sering mem-bully saya.

Juga, saya sering bertanya-tanya apakah ada perasaan malu pada dirinya dengan memiliki anak seperti saya?

Sepanjang hidup saya mempertanyakan itu semua di kepala saya.

Apakah Ayah saya menekan semua emosinya dan menjadikan dirinya sebagai martir dalam keluarga karena asas kewajiban atau karena memang dia mau melakukannya secara sukarela dan tulus karena kasih sayang?

Dude, tinggal di keluarga pinggiran Cibinong secara sadar saya sudah mengikhlaskan untuk mengeliminasi konsep ‘kasih sayang’ seperti yang hadir di televisi atau iklan-iklan. Saat sang Ayah memeluk anak-anaknya dan mengatakan, “I love you, Nak. Papah bangga sama kamu!”.

Hell, No. Itu hanya untuk para rich kids, and I’m not. Dari kecil saya sudah tahu diri untuk hal itu.

Komunikasi dan tendesi kulit bertemu kulit adalah sebuah konsep yang tidak pernah muncul dalam kepala orang tua macam Ayah saya. Entah karena risih atau memang orang tua beliau sebelumnya pun tidak melakukan hal tersebut.

Maka bisa dibayangkan sepanjang saya hidup saya akan sangat risih saat ada teman saya merangkul dan memeluk saya. Dulu saya bisa begitu aneh dengan hal tersebut, bahkan cenderung menghindar.

Karena ya tadi, kode kasih sayang tadi tidak terintegrasi dalam diri saya.

Juga, saya pun bisa menghitung berapa kali saya pernah mengobrol dengan beliau secara decent sebagai sesama manusia. Dan membayangkan saya dan dan beliau mengobrol as men to men adalah sesuatu yang aneh sekali.

Karena memang pada dasarnya seingat saya kami tidak pernah memiliki bonding moment seperti itu. Ide akan seorang Ayah di kepala saya adalah seorang kepala keluarga yang kelelahan mencari uang yang bahkan saya tidak tahu kapan ulang tahun dirinya.

Dulu saya akan membawa kebetean itu dan menyalahkan dunia akan hal tersebut.

Kenapa sih saya harus tumbuh seorang diri tanpa orang tua saya? Terlebih tanpa sosok Ayah. Saya bahkan pernah menyalahkan beliau atas ketidak cocokan diri saya atas ekspektasi society, karena gugurnya figur Ayah dalam diri saya.

Saya tidak pernah diajarkan olahraga oleh beliau, tapi secara mendadak saya disuruh mencintai sepak bola seolah itu sesuatu yang wajar. Wong saya lebih suka tidur atau baca buku dibanding berkeringat.

Ayah saya tidak pernah mengajarkan saya menyukur kumis dan janggut saat saya beranjak puber. Mana saya tahu bagaimana berdandan saat acara-acara resmi, terlebih dengan jas dan pakaian lainnya.

Atau hal-hal kecil lainnya yang menjadi common sense di keluarga teman-teman saya. Sedang di saya? No way hose. Tidak ada.

Tentu saja sebagai remaja saya akan iri hati dengan teman-teman saya yang bisa begitu dekat Ayah mereka. They can throw jokes to each other. They share knowledges and everything.

Saya? Harus tertatih-tatih mengetahui itu sendiri setelah banyak kegagalan.

Lalu saya kuliah dan benar-benar tumbuh secara mandiri. Dan makna orang tua pun semakin mengecil dan menghilang. Keinginan untuk dekat dan mengetahui sosok Ayah pun lepas di tengah jalan.

Kemudian seiring berjalannya waktu, saya lulus kuliah dan langsung bekerja full time. Lama saya jalani saya pun tersadar bahwa bekerja sangat melelahkan hati dan badan.

Gaji pertama yang saya dapat langsung saya berikan ke orang tua saya. Sedikit sih, cuma sejuta setengah kala itu, tapi saya bisa mendengar isak tangis dari kamar orang tua saya. Melihat anaknya kini sudah fully grown.

Saya langsung membayangkan apa yang Ayah saya lalui seumur hidupnya dengan terus-terusan bekerja dan mengorbankan mimpi-mimpinya sendiri demi bisa memberikan saya kehidupan yang layak adalah sebuah ide yang mengoyak batin.

Hati yang beku ini pun perlahan luluh juga. Saya merasa berdosa sekali dengan segala buruk sangka dan kekecewaan yang saya bawa setiap hari saat dulu.

Ayah saya mungkin bukan orang tua paling kaya yang bisa memanjakan anaknya, tapi ia berusaha untuk memastikan anaknya tidak kelaparan dan bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Ayah saya mungkin tidak menanyakan hobi saya apa dan seterusnya, tapi seumur hidup saya, dia tidak pernah melarang saya untuk melakukan apa pun. Mulai dari sekolah yang saya mau sampai pekerjaan yang saya ambil sampai sekarang. Ia selalu mendukung dengan caranya sendiri.

Yang saya ingat adalah Ayah saya tidak pernah sekalipun marah besar dengan memukul saya. Tidak sekalipun saya pernah disakiti oleh tangannya.

Ia hanya akan diam dan itu membuat saya merasa lebih bersalah.

Sama seperti halnya Jack, orang tua saya bertambah tua, dan suatu saat akan pergi untuk selama-lamanya.

Yang ingin saya lakukan sekarang adalah mengingatnya sebagai sosok yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia. Sebagai seorang Ayah yang belajar untuk pertama kali. Sebagai seorang manusia yang juga memiliki ketakutan untuk tidak merusak apa yang ia miliki, keluarganya, anak-anaknya.

Dan lewat series ini, saya dapat memahami itu.

Saya dan Ayah saya adalah dua orang yang sama-sama belajar untuk membahagiakan satu sama lain dengan cara masing-masing. Dan pengorbanan itu berarti lebih dari apa pun di hidup saya. Karena dari sana saya pun sadar, bahwa di dunia ini ada satu orang yang akan selalu menganggap saya begitu berharga hingga ia mau mengorbankan apa pun dalam hidupnya.

Sesuatu yang terkadang saya lupakan.

Advertisements

Author: figurandjakarta

Just a person who love to write when he cannot sleep

One thought on “Review This is Us Season 1 & 2: Dalam Sebuah Perspektif Personal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s