Potongan Memori Kala Itu

Dalam satu waktu di sebuah kampus sekitar Depok. Tentang kamu, rintik hujan, dan sejumput kebahagian yang tertinggal.

Screen Shot 2018-07-27 at 00.16.06
unsplash

Saat itu kamu menggenggam tanganku di depan begitu banyak orang yang tidak kita kenal. Ini pertama kalinya. Kamu tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku dapat merasakan kegugupanmu, kamu pun dapat melihat betapa kaku tanganku kala itu.

Umur kita baru delapan belas tahun saat itu. Baru tiga bulan saja merasakan masa kuliah. Romansa putih abu-abu masih terasa, bahkan lebih kuat.

Kita pun berhasrat atas satu sama lain. Entahlah dengan cinta. Tapi yang aku tahu, aku menginginkanmu, dan kamu pun menginginkanku. Bagiku itu cukup.

Ada banyak cerita yang kamu bagi padaku setiap harinya. Tentang jaket kuning kebanggaanmu, teman-teman baru, dan mata kuliah yang mau tak mau harus kamu hadapi tiap harinya. Dan hatiku pun mendadak hangat tiap kali melihat dirimu yang dulu selalu pelit bicara kini tampil berbeda. Ada banyak hal baru di harimu dan kamu pun menceritakannya padaku. Membaginya tanpa aku minta. Seakan aku berada di sana. Seolah-olah aku membutuhkan cerita-ceritamu untuk bertahan hidup.

Apakah ini artinya bahwa kamu ingin aku ada dalam ceritamu? Menjadikan aku bagian dari itu semua?

Kamu hanya tersenyum saat aku menanyakannya, ada hangat dari sentuhanmu di wajahku dan tiba-tiba kamu pun menciumku dengan cepat. Seperti selalu ada hari esok untuk ciuman yang lebih perlahan dan lama. Pikirmu saat itu. Koreksi. Pikir kita berdua saat itu.

Kemudian tiba saatnya kamu dan aku berpisah. Aku dapat melihat semangat di kedua matamu ketika menuju kampus dan betapa aku tahu kamu hanya berpura-pura sedih saat melepasku di Margonda.

Aku akan merindukanmu. Katamu setiap kali saat aku turun dari mobilmu. Setiap hari selama tiga bulan.

Dan selama tiga bulan itu pun aku tidak pernah membalas ucapanmu dan hanya melambaikan tangan saja. Entah mengapa.

Kembali pada scene saat kamu memegang tanganku. Menggandengnya. Memamerkannya. Memilikinya.

Saat itu Minggu malam. Kamu dan aku sedang menikmati konser pertama kita sebagai pasangan. Ribuan orang bernyanyi, berjoget, dan kita berdua tahu bahwa genggaman tanganmu efeknya lebih dahsyat dari seluruh band dan penyanyi malam itu dijadikan satu.

Hujan turun. Rintik-rintik yang syahdu itu pun membasahi kita berdua. Kamu menarikku ke dekat pohon, kita berdua tersenyum dengan kebodohan ini. Seharusnya kita kembali saja ke mobil lalu pulang. Katamu.

Tapi aku menolaknya. Aku ingin menikmati hujan ini bersamamu.

Kamu tampak bingung tapi toh kamu tetap mengiyakannya. Kita berdua pun berpelukan di bawah rintik hujan diiringi musik dari penyanyi yang kita tidak begitu kenal. Namun entah dorongan dari mana, ada rasa nikmat di sana. Musik itu seakan menjadi latar akan cerita aku dan kamu malam itu. Aku kamu, aku kamu, aku kamu. Betapa hatiku bergetar tiap kali mengulang kalimat itu.

Kemudian kamu pun memelukku. Erat. Seakan ini yang terakhir. Aku dapat merasakannya.

Apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya malam ini?

Aku pura-pura tidak menyadarinya. Membalas pelukanmu dalam diam. Detik kemudian aku tenggelam dalam sebuah momen yang takutnya tidak akan terulang lagi di antara malam, hujan, dan pelukanmu. Dan rasa khawatir itu pun aku simpan sendiri.

Malam pun berganti pagi, hujan pun berhenti, sayangnya pelukanmu pun ikut memudar.

Lima bulan kemudian tidak pernah ada lagi cerita-cerita darimu tentang teman-teman baru atau dosen-dosen aneh yang selalu mengganggu dengan tugas-tugasnya.

Kita berdua pun sudah tidak pernah berciuman lagi atau sekadar mengucapkan kata rindu. Semua hal yang telah menjadi rutinitas dan kebiasaan itu pun perlahan berhenti dan tenggelam dalam ketiadaan.

Aku mengerti. Kamu menjauh. Kembali menjadi versi dirimu yang tidak banyak bicara. Apakah kamu tidak ingin aku menjadi bagian dari ceritamu lagi?

Apa yang berubah?

Apa yang salah?

Sepanjang itu kamu pun tidak pernah memberitahukanku, memotong seluruh saluran komunikasi dalam tempo yang begitu panjang. Menyiksa. Kamu seperti merenggut sesuatu yang sudah terintegrasi dalam diriku. Dan sialnya, aku mengizinkan itu semua terjadi. Tanpa penolakan sedikit pun rasa sakit itu bertengger nyaman cukup lama sampai sebuah pesan darimu datang ke handphoneku. Singkat namun cukup untuk memutarbalikkan duniaku.

Kamu akhirnya memutuskan untuk meninggalkanku.

Lewat sebuah pesan singkat tanpa penjelasan apa pun yang menyertainya. Tanpa ada kata maaf basa-basi yang mempermanis perpisahan ini. Tidak. Kamu hanya bilang; Aku rasa kita tidak cocok lagi. Kita putus ya.

Terlambat. Mengapa ini semua terjadi saat semua hal tentangmu terlanjur tertata begitu rapi dan lengkap dalam khayalanku. Saat aku sudah mengetahui jawaban yang harus aku berikan padamu saat kamu mengucapkan “aku akan merindukanmu”.

Aku sudah memikirkannya dengan begitu dalam. Membayangkan akan membuat setiap perpisahan kita sebelum ke kampus lebih melankolik dan romantis.

Tiap kali kamu mengatakan: “Aku akan merindukanmu”, maka dengan bangga aku akan menjawabnya dengan, “aku tahu”.

Persis seperti yang diucapkan Hans Solo pada Puteri Leia di film Star Wars.

Sayangnya itu semua tidak sempat terjadi.

Sepuluh tahun sudah, apa kabar dirimu sekarang? Masihkah kamu menyimpan memori ini juga?

Advertisements

Dari Rental CD Sampai ke Jennifer Lopez

Untuk seorang anak yang tinggal dan tumbuh di daerah nanggung bernama Cibinong dan enggak punya cukup uang jajan, akses untuk mendapatkan hiburan itu terasa lumayan sulit dan kalau pun tersedia itu juga harus menempuh jarak yang lumayan banget.

Dulu saat masih SMA di tahun 2005 sampai 2008, hasrat untuk menonton film dan nonton konser itu lagi tinggi-tingginya. Meski saat itu media sosial baru mentok di Friendster dan IMRC dan belum bisa pamer apa-apa karena handphone juga masih poliponik. Tapi ya umur-umur segitu ya kan, rasanya pengen mingle dan tampil aja.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.50.17
Modal update lagu-lagu terkini karena ada fitur radionya. Dulu berasa asik sendiri aja karena sok bisa denger radio sambil jalan ke mana-mana.

Tingginya keinginan gue pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk pergi nonton Pensi kudu banget ke Jakarta. Dulu tuh berasa jutaan kilo jauhnya kalau mau ke Jakarta plus gue engga tau jalan. Kalau maksain, nyasar yang ada.

Dan kalau mau nonton ke bioskop harus pergi ke Bogor Kota yang mana trayek angkotnya dari Cibinong mentok cuma sampai di Jambu Dua aja. Jadilah jarak menjadi tantangan dan hambatan buat gue.

Mohon maap, harap dicatat bahwa di tahun tersebut masih belum ada ojek online. Transportasi yang ada cuma angkot dan bus yang wasalam banget deh. Tapi demi gaya dan up to date, dipaksa-paksain aja dong ke Bogor naik angkot berkali-kali cuma buat lihat ciuman Shandy Aulia sama Samuel Rizal di film Apa Artinya Cinta.

Pilihan bioskop di Bogor saat itu mulai dari bisokop Galaksi (Tajur), Mall Elos aka Eka Lokasari (Sukasari) dan Dewi Sartika (Biasa disebut DS, lokasi di Pasar Anyar). Atau kalau mau jauhan dikit dan harga tiket lebih murah bisa ke daerah Depok, yang kalau enggak salah dulu cuma ada di Detos (Depok Town Square).

Berarti untuk sampai ke bioskop dari Cibinong gue harus ngelanjutin perjalanan berikutnya dari Jambu Dua naik angkot trayek baru lagi.

Nungguin lagi deh abangnya ngetem. Duh, kebayang kan tuh berapa tahun cahaya yang harus dihabiskan demi nyampe ke bioskop.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.30.19
Angkot “SEXY” (angkot yang ada tempelan stiker sexy) adalah angkot andalan, karena komplit ada sound sytem dan lebih bersih. Favorit deh.

Makanya asli gue suka gedeg banget kalau ke bioskop terus film yang ditonton tuh jelek. Duh, KZL.

Soalnya coy pengorbanan gue buat nonton ngabisin waktu perjalanan dua-tiga jam di jalan aja neh. Belum lagi ada bonus adegan nyium semriwing wewangian ketek orang-orang yang beradu di hidung.

Udah deh bubar jalan semua kekecean modal minyak wangi gatsby yang disemprot sana sini. Semua berubah jadi paduan keringet matahari dan besi angkot.

Tapi gue percaya Tuhan enggak bakal ngasih ujian ke umat yang enggak bisa mereka jalani. Lalu gue bertemanlah dengan Jeje, dari doi gue diberikan solusi praktis untuk memenuhi tingginya kebutuhan gue menonton film.

Yaitu dengan menyewa film ke rental CD. Saat itu di Cibinong ada dua tempat rental CD film.

Anyway, jadi life before internet, netflix, torrent dan Indo xxi merajarela seperti sekarang yang membuat nonton film jadi gampang banget. Rental film itu dulu semacam getaway buat nikmatin film dari yang jadul sampai yang terbaru (hitungan terbarunya adalah setelah 3 bulan film itu turun layar di bioskop) dalam bentuk CD.

Di daerah Cikaret ada yang namanya Aster Disc. Dia bangunannya ruko dua lantai dan pilihan filmnya lebih yang artsy dan kebanyakan adalah pemenang-pemenang Oscar gitu. Terus ada Ultra Disc, lokasinya deket SMA gue dulu di daerah Ciriung. Film-film di Ultra Disc lebih up to date dari Aster Disc.

 

Jadi, enggak perlu lagi deh jalan jauh-jauh ke Bogor atau Depok. Akhirnya buat nonton film gue cukup ke Cikaret atau Ciriung (yang mana cuma 10 menit naik motor), di sana ada ratusan judul film yang udah menanti buat disewa.

Nah dari history film-film yang gue pinjem, lama kelamaan kebentuk interest genre film yang gue suka. Yaitu di romantic comedy. Kisah-kisah unyu ala-ala FTV yang ceritanya berfokus pada percintaan cewek dan cowok yang enggak sengaja ketemu lewat adegan ketabrak dan akhirnya mereka kenalan deh, turns out salah satu dari mereka tajir. Ada bumby drama sana sini tapi pada akhirnya mereka live happily ever after.

Saat itu cerita-cerita macem gitu merupakan hiburan yang menyenangkan buat sobat miskin macem gue buat ngayal babu.

Yang menarik lagi dari rental-rental film itu, penjaganya tau banget soal film. Dari Mbaknya gue akhirnya bisa berkenalan dengan film-film Jennifer Lopez. Si seksi yang hitz banget di MTV saat itu lewat lagu If You Had My Love, Love Don’t Cost a Thing, dan No Me Ames ternyata punya film-film yang asik buat ditonton.

Akting Jennifer Lopez yang selow tapi asik dan cerita filmnya yang udahlah enggak usah didebat banget, karena yang memang too good to be true. Bisa banget ditonton di malam minggu kelabu buat jadi obat haha hihi ber-aw aw romantis ringan baik sendiri atau nonton bersama sobat-sobat jomblo lainnya.

Berikut gue buat daftar lima film doi yang paling asoy:

1. Maid in Manhattan (2002)

Ini ceritanya udah halu banget. Pegawai hotel yang akhirnya pacaran sama tamu tajirnya. Ya bukannya enggak mungkin, tapi peluang untuk terjadi di dunia nyata kan kecil ya.

Tapi di antara semua film romantic comedy Jennifer Lopez, ini yang paling gue suka. Mulai dari soundtracknya yang kacau enak-enak banget, sukses mengisi mood film dari yang happy sampai ke sedih. Terus duet akting Jennifer Lopez dan si Voldemort berasa nyata banget.

Asli, sedih beneran gue pas si Jennifer Lopez ketawan ngebohong dan galau di kereta pas pulang kerja.

Mana ditambah ada lagu Norah Jones, don’t know why diputer, ibarat luka udah perih dipeperin jeruk nipis. Nyes…… perih tsay.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.12.43 AM

Jennifer Lopez di film ini super cantik banget dengan balutan gaun nudenya. Effortless aja bentukannya. Pokoknya dia jago banget deh meng-embody peran-peran perempuan susah yang bisa dikasihani penonton dan digebet orang-orang kaya. Macem gold digger tapi lebih alus gitu mainnya.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.05 AM

Ya tapi mohon maap ya, Jennifer Lopez enggak didandanin juga tetep cantik aja tuh.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.35.21 AM

2. The Wedding Planner (2001)

Nah, kalau film yang ini lebih ngeselin lagi. Premisnya tentang wedding planner yang akhirnya nikah sama suami kliennya.

Lah brengsek banget kan ya.

Tapi ya enggak dibuat ala-ala pelakor gitu. Doi berdua ketemu sebelum si cowok tau kalau si Jennifer Lopez adalah wedding planner pernikahan doi.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.50 AM

Untuk segi cerita, film ini paling lambat pergerakannya, enggak sedinamis dan semenarik film-film romantic comedy Jennifer Lopez lainnya. Tapi akting-akting aktor yang ada di sini juara semua.

Adegan meet cute atau ketemuan antara Jennifer Lopez dan Matthew McConaughey cukup halu sih. Di situ digambarin Jennifer Lopez lebih milih sepatu Gucci barunya dibanding nyawanya. Untung banget kan di sana ada dokter tulang yang ganteng yang bantu doi.

What a coincidence.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.16.06 AM

3. Monster in Law (2005)

Nah menurut gue di antara semua film Jennifer Lopez yang gue tonton, film Monster in Law itu paling kocak. Asli seru abis ngeliat perang dingin antara mertua dan menatu yang dimainkan begitu apik oleh Jane Fonda.

Seru banget ini filmnya. Meski romantisnya cuma tempelan aja ya. Karena karakter cowoknya kayak enggak penting gitu. Cuma hadir sekali dua kali. Yang bikin seru film ini ya kegilaan mertuanya yang lagi krisis kehidupan yang udah enggak laku di pertelevisian dan harus menghadapi anak kesayangannya mau nikah sama perempuan muda yang pekerjaannya cuma penjaga anjing.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.29 AM

Terus ngana tau Jennifer Lopez sama cowoknya ketemuannya gimana?

Enggak sengaja ngeliat di pantai terus tabrakan di Starbucks. Terus abis itu mereka jadi sering ketemuan secara enggak sengaja gitu.

Life is so easy ya?

Screen Shot 2018-07-23 at 16.11.02.png

4. Shall We Dance? (2004)

Film yang diadaptasi dari film Jepang dengan judul yang sama, Shall We Dance adalah sebuah film yang manis banget. Meski karakter Jennifer Lopez dan Richard Gere tidak berakhir jadian (yang mana membuat film ini lebih manis lagi) tapi cerita di film ini disampaikan dengan lebih matang dan seksi.

Kombinasi kegundahan pria paruh baya dan kekuatan karakter Jennifer Lopez yang dimunculkan lewat gerakan dance doi yang gokil banget bikin elo akan tersedot dan berdoa buat mereka agar menang di dance competition yang mereka incar.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.00 AM

5. The Back Up Plan (2010)

Kalau film yang ini udah di era download. Tapi tetap gue masukin karena ceritanya memang kocak banget. Meski lagi-lagi, jangan terlalu serius untuk memasukan logika pada setiap adegan di film ini. Karena balik lagi ya filmnya enak buat halu-haluan aja.

Jennifer Lopez yang sedang hamil di film ini digambarkan dengan begitu kocak karena dia harus mengalami fase naik turun hormon yang bikin sekuens-sekuens di film The Back Up Plan jadi lucu banget.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.18.39 AM

Memang sih film dengan genre romantic comedy itu terkadang formulanya hit and miss. Tapi di kelima film Jennifer Lopez yang ini doi aktingnya enggak asal dan ngotot pengen tampil bagus sendirian. Doi bisa ngeblend banget sama aktor-aktor yang lain. Tektoknya dapet.

Kebayang sih mungkin pas dari awal si Jennifer Lopez udah di brief sama sutradaranya buat pembawaannya lebih asik dan lovable. Karena toh memang film doi bukan buat Oscar material. Tapi ngejar dapet penonton banyak. Dan tanpa diragukan lagi Jennifer Lopez bisa ngasih itu semua dengan begitu baik.

Selamat menonton!

 

Pertemuan Itu

Screen Shot 2018-07-16 at 5.20.03 PM
Source https://unsplash.com/photos/Bq_bGDX-gCs

Dalam sebuah pesta yang riuh dan kamu berjarak hanya beberapa kaki dari tempat saya berdiri. Tanpa sengaja kita pun bertatapan, namun tak berusaha membuat komunikasi apa pun.

Kamu terdiam.

Dan tak secuil pun usaha saya membuat ini menjadi lebih mudah. Tidak, tidak akan lagi.

Hanya dalam hitungan detik, tatapan kita pun berubah menjadi rasa enggan yang malas.

Dan menghindar adalah pilihan yang tersisa.

Dengan cepat masing-masing dari kita berusaha untuk melupakan apa pun yang muncul di kepala saat masa lalu mengetok datang. Kemudian dengan kasual melanjutkan hidup masing-masing tanpa perlu menoleh ke belakang dan bertanya-tanya lagi.

Tidak ada desakan untuk menjadikan pertemuan tak sengaja ini menjadi ajang konfrontasi yang terjadi di masa lalu.

Karena,

luka terlanjur terperi,

sakit telah didera,

waktu pun tak kan kembali.

Semua mati menjadi abu.

Tak ada yang tersisa.

Kamu hanya orang asing yang dulu pernah saya kenal. Tidak lebih.

Yang membuat ngeri, ini semua nyata. Bayangan yang dulu hanya angan-angan pahit telah terjadi. Menggerus semua yang pernah ada, mengaburkan semua asa, dan menyisakan hati yang kebas.

Dan ternyata ini rasanya ketika tidak merasakan apa pun pada sesuatu yang dulu begitu gigantis dalam hidup.

Sakit pun tidak. Hanya kebebalan yang acuh.

Saya benar-benar mati rasa, entah bagaimana dengan kamu.

Mereka bilang tak ada cara apa pun yang bisa menyembuhkan itu semua.

Sayangnya, ingin pun tidak.