Review Film Kafir Bersekutu dengan Setan: Gambar Cantik Namun Tanpa Kengerian yang Membekas

Tragedi kisah cinta di masa lalu yang membawa nestapa pada satu keluarga.

Screen Shot 2018-08-31 at 15.40.02

Yang sempat menonton film Kafir tahun 2002 yang diperankan dengan begitu YA ALLAH INI BENERAN APA CUMA FILM DOANG SIH oleh Sujiwo Tejo pasti sudah akrab dengan premis film yang ditawarkan, yaitu seorang dukun yang bersekutu dengan ilmu hitam, meninggal, lalu mayatnya tidak dapat dikuburkan dan membuat resah satu keluarganya.

Kengerian yang ditularkan dari akting Sujiwo Tejo yang begitu nyata atau KELEWAT NYATA dan adegan-adegan mistis yang vulgar, dalam arti begitu mengerikan tanpa filter artistik, membuat film Kafir terdahulu begitu mistis dan traumatis.

Lalu selang enam belas tahun muncul film berjudul hampir sama, Kafir Bersekutu dengan Setan, yang mencoba mengangkat semangat film terdahulu dengan eksekusi yang lebih modern dan artsy.

Jika saja kita tidak melihat film Kafir Bersekutu dengan Setan sebagai film dengan genre horor, semua orang pasti sepakat bahwa gambar-gambar di dalam film ini terekam dengan begitu romantis dan klasik.

Namun, kenyataannya Kafir adalah sebuah film horor karena narasinya yang menggambarkan sebuah teror teluh yang mengoyak keluarga Herman. Diawali dengan kematian Herman secara tiba-tiba ketika makan bersama dengan keluarganya. Lalu teror itu pun dilanjutkan dengan serangan-serangan lain yang tak kalah dahsyat dalam sepanjang film.

Membandingkan film ini dengan Pengabdi Setan dan Sebelum Iblis Menjemput seperti melihat kesamaan pola dalam penceritaan. Terlebih pada pengabdi setan. Kesamaan setting masa lampau, yang katanya 90an namun menurut saya kalau dari fashionnya lebih terlihat seperti tahun 80an dengan pusaran masalah yang terjadi pada sebuah keluarga yang menginfeksi anggota keluarga lainnya.

Tapi harus diakui film Kafir Bersekutu dengan Setan memiliki kehangatan scene yang lebih kekeluargaan dan lokal. Namun sayang dalam jahitan satu babak ke babak yang lain terasa sekali jumping ceritanya yang kurang erat. Apalagi di scene akhir yang satu keluarga Herman duduk menatap senja atau matahari terbit. Duh, kenapa enggak ke kantor polisi atau pulang ke rumah?

Namun harus diakui dalam segi cerita film Kafir lebih matang dibanding pengabdi setan yang banyak bolongnya, di sini dengan solid sang sutradara menyampaikan motivasi masing-masing karakter dengan jelas. Misi balas dendam.

Penampilan Sujiwo Tejo di sini pun masih begitu prima dan membekas, meskipun porsinya hanya sedikit.

Tapi kembali lagi film Kafir mengusung genre film horor yang membuat saya berkespektasi untuk mengalami pengalaman horor yang menakutkan. Tapi sayangnya tidak ada yang terlalu membekas di film ini selain akting Putri Ayudya sebagai Sri yang layak sekali mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya. Ketakutan dan kerapuhannya terasa begitu nyata di adegan kamar yang begitu melelahkan.

Scene yang paling keren dari film Kafir ini tentu saja ketika Sri bertemu sang dukun, dengan dominasi warna merah dan api yang menyala-nyala membuat film Kafir tampil sebagai film horor dengan estetika yang berkelas.

Akting, setting, musik, naskah cerita secara keseluruhan film ini ditampilkan dengan sangat layak. Misteri yang ditempelkan dalam film ini meskipun sudah tertebak di awal masih mampu membawa penontonnya untuk ikut berspekulasi.

Sejujurnya saya menyukai pengalaman menonton film Kafir, namun melihat secara keseluruhan cerita dan eksekusinya saya malah melihat film ini cenderung masuk ke genre drama misteri dibanding horor.

Karena sepanjang film saya tidak menutup mata sama sekali.

Advertisements

Review Film Sebelum Iblis Menjemput: Serem Abis Coy!

Jangan pernah berjanji dengan Iblis jika tidak siap dengan konsekuensinya.

Screen Shot 2018-08-31 at 14.33.06

Sebelum Iblis Menjemput hadir dengan atmosfir kengerian yang luar biasa. Ada begitu banyak momen-momen yang membuat saya ketika menonton film ini harus menutup mata. Waduh adegan saat si Ibu mantan artis terkenal, yang dimainkan dengan begitu cemerlang oleh Karina Suwandi, menggaruk-garuk kayu lantai dengan sekuat tenaga sampai kukunya copot dan nyeri berdarah itu sungguh sebuah mimpi buruk yang brutal.

Kekuatan film ini pun muncul dari mood warna yang ditampilkan dengan indah sekaligus mencekam. Secara teknis mulai dari makeup, set rumah besar yang terbengkalai, ruang bawah tanah yang kotor, kamar rumah sakit yang dingin, sampai lumpur di hutan, memberikan lompatan-lompatan horor yang membuat film ini tampil begitu kuat dan tajam. Membuat saya yang menontonnya berharap film ini agar cepat selesai.

Bukan karena jelek, tapi sepertinya jantung saya sudah tidak mampu untuk menghadapi satu persatu kejutan yang hadir terus menerus. Dan kenapa ya kalau film horor sebentar banget paginya?

Jajaran pemainnya pun tampil dengan begitu prima, baru kali ini saya menyukai akting Chelsea Islan yang selalu tampil ngotot dan ngegas, tapi di film ini kelunakan dan dinamika amarahnya tepat pada porsinya.

Dan Pevita Pearce juga Karina Suwandi are so perfect. Mereka adalah bintang utama dan pencuri scene di film ini. Secara gemilang mereka berakting dengan begitu meyakinkan dan tentu saja menyeramkan. Tanpa harus banyak bicara, ekspresi, jeritan, dan tangisan mereka akan menghantui siapa pun yang menontonnya.

Juga harus diacungi jempol pada departemen artistiknya. Gambaran akan setan perempuan serta iblis bertanduk dalam film ini merupakan kemasan paling ngeri dan terbaik di film horor Indonesia modern.

Adegan muntahan darah dan mata merah Ray Saetapi itu juara! Eneg dan menjijikannya dapet banget.

Bagi yang sudah menonton film Rumah Dara, VHS, dan The Abc’s of Death, pasti sudah akrab dengan ke-gore-an Timo saat menampilkan kesadisan dan kebrutalan koyakan darah dalam pertarungan masing-masing karakter melawan kematian. Dan di Sebelum Iblis Menjemput, terlihat sekali Timo menampilkannya dengan begitu canggih.

Seperti adegan saat sang Ayah yang terbaring koma di rumah sakit kemudian dari mulutnya keluar rambut yang mencekiknya dengan begitu liar. Secara pelan namun bengis, ketegangan tersebut diselesaikan dengan rontaan panjang dari sang Ayah untuk mencapai tombol warning di sampingnya namun tidak sempat teraih. Lalu scene bergerak dengan cepat pada muncratan darah yang menjadi jawabannya. Kacau keren banget adegan itu.

Dan Timo pun membawa kita untuk merasakan keletihan Pevita saat melawan Ibunya di adegan lumpur yang ikonik itu. Enggak kebayang bagaimana Pevita mengerahkan seluruh energinya untuk tenggelam dalam pergelutan di lumpur yang basah dan berat itu. Salut!

Sinematografi film Sebelum Iblis Menjemput ini tampil dengan presentasi yang mahal. Scene ketika kamera mengambil gambar gedung tinggi menuju kamar si Ayah adalah sesuatu yang menggetarkan dan memberikan vibe yang begitu jauh dan dingin.

Tapi di atas segala pencapaian tinggi secara teknis dan presentasi, ada beberapa hal yang menganggu saya ketika menonton film ini. Yaitu:

KENAPA PEVITA DIEM AJA KETIKA IBUNYA SUDAH JELAS-JELAS MINTA TOLONG UNTUK DITARIK KELUAR KETIKA KESEDOT KE RUANG BAWAH TANAH. Eh, pas Ibunya sudah masuk ke ruang bawah tanah Pevita baru deh jerit-jerit panik. Apaan deh. itu turn off banget.

Tapi secara overall film Sebelum Iblis Menjemput asik banget, jajaran pemainnya bermain dengan kuat dan efek-efek di tiap adegannya hadir sebagai keseluruhan yang mencekam.

Masih ada di bioskop dan jangan lupa nonton untuk ikut merasakan kengeriannya. Saya sih cukup sekali, enggak kuat!

Screen Shot 2018-08-31 at 14.33.48

Review Film Wiro Sableng Yang Tidak Tahu Harus Berkata Apa

Wiro Sableng di awal film tampil dengan prima lewat silat dan pertarungan yang meyakinkan, namun setelahnya…..

Screen Shot 2018-08-31 at 11.29.19

Yang ditonjolkan hanya pertempuran yang berulang tanpa kedalaman cerita dan motivasi yang kuat dari tiap-tiap karakternya.

Jika membandingkan dengan pendahulunya Pendekar Tongkat Mas yang tampil prima dengan scenery landscape Sumba yang cantik dan ambisi yang kuat dari karakter utamanya, di Wiro Sableng sang Sutradara tidak mau repot untuk menjelaskan satu persatu background karakternya dan KENAPA BANGET ITU ISTANA HARUS DIAMBIL ALIH SAMA ABDI DALEMNYA???

Karena apa gitu? Aku enggak ngerti.

Kenapa sih Sutradaranya harus menganggap semua orang yang menonton film ini adalah pecandu novel Wiro Sableng sebelumnya.

SALAH! Aku masih perlu diperkenalkan dengan Anggini dan Gurunya, back storynya apa hingga ia semudah itu mau mengikuti Wiro. Hanya untuk menjadi pendekar? Lalu apa?

Terus si Kakek di pasar itu (Setelah aku googling aku baru tahu namanya adalah Kakek si Segala Tahu) itu tuh fungsinya apa sih?

Bujang Gila Tapak Sakti pun sebenarnya tidak perlu-perlu amat untuk ikut Wiro kan? Lalu kenapa dia ikut?

Terus Marsha Timothy itu apa sih? Semacam lelembut atau gimana? Kok ga dijelasin. Kok bisa datang tiba-tiba terus dan nyelametin seluruh pertempuran. Kenapa enggak dari awal aja sih say? 😦

Terus adegan pengkhianatan informasi bahwa si pangeran dan sisternya si Raja lagi blusukan kenapa harus keluar dari omongan dan ga ditunjukin dari perjalanan mereka sebelumnya sih?

Dan adegan di berantem di pohon itu, duh maaf banget, menurutku itu cringe abis 😦 It was so painful to watch. Transisi gambar dari adegan pohon ke lembah itu pun ga asik banget. Apalagi pas Wiro turun dari gunung itu aduh say maaf banget kayak lagi nonton acara silat yang di Indosiar itu loh 😦

Terus para komplotan penjahat-penjahat itu kenapa enggak dikenalin satu-satu dengan kekuatannya apa gitu kek. Basa basi dikit. Kan kasihan udah ngumpul-ngumpul dan dandan cakep-cakep enggak dikenalin.

Dan Vino yang jadi Wiro itu hem………

Yang menyelamatkan film ini hanyalah hypenya, soundnya, gurunya wiro sableng dan Sherina. The rest is… I don’t know what to say.

Makna kesablengan dari film ini pun enggak memberikan vibe apa pun. Tapi lebih baik kalian tetap menontonnya untuk mengetahuinya sendiri. Mungkin memang after tastenya akan berbeda di masing-masing orang.

Review Film Searching [SPOILER]

Seberapa kenal elo dengan anak atau keluarga elo sendiri?

Screen Shot 2018-08-30 at 03.02.32

Pertanyaan itu lah yang muncul saat gue menyelesaikan menonton film Searching beberapa waktu lalu. Film garapan Sutradara Annesh Chaganty yang diperankan dengan sangat apik oleh John Cho sebagai David, seorang ayah yang mencari putrinya yang hilang lewat kecanggihan teknologi dan media sosial, hadir dengan intensitas tinggi dalam balutan misteri yang membuat film ini tidak hanya mencekam namun juga menularkannya dengan begitu sempurna di tiap sekuensnya.

Bagaimana tidak, adegan per adegan di film Searching dibungkus dengan keintiman pertunjukkan data file foto dan video dari komputer pribadi keluarga David. Yang dari menit pertama film Searching dimulai sebagai penonton kita sudah diajak untuk terikat dan mengikuti perjalanan mereka. Tentang bagaimana mereka memiliki windows pertamanya, lalu menyaksikan dengan haru perayaan-perayaan besar di hidup mereka, dan ikut menyelami keseharian mereka yang menyenangkan. Sampai akhirnya pada momen kehilangan menyedihkan yang terjadi di dalamnya. Saat istri David meninggal.

Semua bergerak dengan begitu repetitif, sehingga membawa penonton mau tak mau jadi bagian dan terlibat dari cerita film Searching tersebut.

Kemudian setelah keterikatan itu muncul, film Searching melakukan transisi menuju konflik dengan misteri yang mencengangkan. Sang anak hilang begitu saja dengan meninggalkan tiga telepon yang tak sempat terangkat dan membuat David mencari satu demi satu petunjuk keberadaan si anak melalui laptop pribadi si anak dan akun-akun media sosial yang ia miliki.

Namun ketika David semakin dalam mengetahui kehidupan si anak di luar sana juga menyaksikan satu persatu postingan-postingan putrinya di media sosial, makin David sadar bahwa ia sebenarnya tidak mengenal anaknya sama sekali.

Maka dari sana perjalanan pencarian anaknya pun kian dipenuhi teka-teki yang membuat tensi menonton film Searching bergerak dengan lika-liku tajam dari tiap petunjuk-petunjuk baru yang hadir. Kemudian ketika mencapai akhir film, dengan cerkas sang sutradara menyelipkan sebuah twist tentang ironi cinta orang tua yang berlebih pada anak. Begitu menyesakkan hingga membuat gue geleng kepala dan bergumam, ‘kok bisa ya?’.

Yang menarik dari film ini adalah tentu saja perihal eksekusinya. Bagaimana hampir sepanjang durasi film ini kebanyakan menggunakan rekaman percakapan lewat i-message, laptop screen recording, skype call dan cctv.

Sehingga faktor kedekatan itu muncul dengan sendirinya karena tentu saja majority penonton milenial yang akrab dengan teknologi tersebut dapat dengan mudah dan cepat beradaptasi dengan logika cerita di sepanjang pencarian petunjuk melalui beberapa platform tersebut.

Betapa kita paham bahwa pelarian utama seorang anak untuk mencurahkan perasaannya adalah di media sosial. Bagaimana seseorang mencari justifikasi dan support dari orang-orang baru yang tidak mengenal mereka.

Tapi sebenarnya ada beberapa hal yang membuat gue dan teman gue berdebat akan beberapa hal yang sepertinya bisa diselesaikan dengan cepat di film Searching ini. Seperti:

  1. Bukankah di iPhone ada aplikasi find my iPhone? Mengapa aplikasi itu tidak dimunculkan sama sekali di sepanjang film?
  2. Di Indonesia ketika handphone hilang kita bisa menghubungi provider yang digunakan untuk melacak lokasi terakhir kali sebuah telepon dibuat. Ini bisa banget digunakan ketika si anak melakukan miscall tiga kali ke handphone David.
  3. Ketika cctv mobil putrinya ditunjukkan oleh si detektif, sebenarnya sudah kelihatan ada dua mobil yang jalan dari pom bensin tersebut dan saling mengikuti. Mengapa tidak ada kecurigaan di situ?
  4. Tentang fish_n_chips dan dengan mudahnya si detektif bilang dia sudah mengeceknya, mengapa David tidak meminta bukti fisiknya dan malah langsung percaya? Dan tidak mengeceknya secara langsung padahal David dari awal sudah dengan canggih mengecek satu persatu teman putrinya?

Dan sebenarnya hint-hint bahwa ada something fishy di detektifnya itu sudah terlihat dari bagaimana dia memproteksi anaknya agar tidak terlihat oleh David di tiap kali mereka melakukan skype call.

Juga ini personal opinion aja sih, adegan si putri David yang masih hidup itu betul memang bagus untuk happy ending. Tapi sebenarnya jika dibuat meninggal sepertinya akan bagus karena keironisan yang menyesakkan. Toh pertanyaannya yang kemudian hadir adalah bagaimana bisa seseorang masih hidup setelah jatuh ke jurang tinggi gitu.

Namun, secara keseluruhan film Searching benar-benar sebuah hiburan sinematik yang menarik dan menegangkan. Membuat menontonnya langsung di layar besar dengan sound bioskop menjadikan keseluruhan ketegangan di film Searching terasa dua kali lebih asik.

Dan gue juga merasakan bagaimana film ini menyentil relasi kedekatan keluarga di era digital sekarang ini. Sebagai orang tua (atau yang lebih tua) sudahkah kita memonitor apa yang anak-anak lakukan di media sosial? Dan lebih jauh lagi adalah sudahkah orang tua menjadi medium yang lebih aman untuk bercerita selain media sosial itu sendiri?

Karena tanpa disadari bahwa hal yang paling klasik namun esensial dalam suatu hubungan di keluarga yang seringkali luput adalah komunikasi. Sudahkah kita mencapai itu semua?

Kerennya lagi, film Searching juga mengukuhkan peta perpolitikan representatif wajah asia di perfilman Hollywood. Dan pas gue tahu budget bikin film ini adalah satu jutaan dolar, bikin gue mikir bahwa film bagus enggak melulu harus big budget dengan segambreng para aktor mahal.

Oh iya satu lagi sebuah scene lucu yang membuat gue merasa bahwa film ini real banget mengcapture kehidupan media sosial, yaitu ketika David menanyakan ke salah satu rekan kelompok biologi anaknya, si rambut keriting yang sok banget itu, dengan tegas si cewek rambut keriting itu bilang bahwa ia tidak dekat dengan putrinya. Tapi saat tragedi ini makin besar dan diliput media maka dengan alamiahnya ia mengupload sebuah video di internet dan menyatakan betapa dia merindukan si putri david itu dan menangis tersedu-sedu mengatakan bahwa betapa mereka begitu dekat sebagai seorang sahabat. Girl, please…..