Review Film Searching [SPOILER]

Seberapa kenal elo dengan anak atau keluarga elo sendiri?

Screen Shot 2018-08-30 at 03.02.32

Pertanyaan itu lah yang muncul saat gue menyelesaikan menonton film Searching beberapa waktu lalu. Film garapan Sutradara Annesh Chaganty yang diperankan dengan sangat apik oleh John Cho sebagai David, seorang ayah yang mencari putrinya yang hilang lewat kecanggihan teknologi dan media sosial, hadir dengan intensitas tinggi dalam balutan misteri yang membuat film ini tidak hanya mencekam namun juga menularkannya dengan begitu sempurna di tiap sekuensnya.

Bagaimana tidak, adegan per adegan di film Searching dibungkus dengan keintiman pertunjukkan data file foto dan video dari komputer pribadi keluarga David. Yang dari menit pertama film Searching dimulai sebagai penonton kita sudah diajak untuk terikat dan mengikuti perjalanan mereka. Tentang bagaimana mereka memiliki windows pertamanya, lalu menyaksikan dengan haru perayaan-perayaan besar di hidup mereka, dan ikut menyelami keseharian mereka yang menyenangkan. Sampai akhirnya pada momen kehilangan menyedihkan yang terjadi di dalamnya. Saat istri David meninggal.

Semua bergerak dengan begitu repetitif, sehingga membawa penonton mau tak mau jadi bagian dan terlibat dari cerita film Searching tersebut.

Kemudian setelah keterikatan itu muncul, film Searching melakukan transisi menuju konflik dengan misteri yang mencengangkan. Sang anak hilang begitu saja dengan meninggalkan tiga telepon yang tak sempat terangkat dan membuat David mencari satu demi satu petunjuk keberadaan si anak melalui laptop pribadi si anak dan akun-akun media sosial yang ia miliki.

Namun ketika David semakin dalam mengetahui kehidupan si anak di luar sana juga menyaksikan satu persatu postingan-postingan putrinya di media sosial, makin David sadar bahwa ia sebenarnya tidak mengenal anaknya sama sekali.

Maka dari sana perjalanan pencarian anaknya pun kian dipenuhi teka-teki yang membuat tensi menonton film Searching bergerak dengan lika-liku tajam dari tiap petunjuk-petunjuk baru yang hadir. Kemudian ketika mencapai akhir film, dengan cerkas sang sutradara menyelipkan sebuah twist tentang ironi cinta orang tua yang berlebih pada anak. Begitu menyesakkan hingga membuat gue geleng kepala dan bergumam, ‘kok bisa ya?’.

Yang menarik dari film ini adalah tentu saja perihal eksekusinya. Bagaimana hampir sepanjang durasi film ini kebanyakan menggunakan rekaman percakapan lewat i-message, laptop screen recording, skype call dan cctv.

Sehingga faktor kedekatan itu muncul dengan sendirinya karena tentu saja majority penonton milenial yang akrab dengan teknologi tersebut dapat dengan mudah dan cepat beradaptasi dengan logika cerita di sepanjang pencarian petunjuk melalui beberapa platform tersebut.

Betapa kita paham bahwa pelarian utama seorang anak untuk mencurahkan perasaannya adalah di media sosial. Bagaimana seseorang mencari justifikasi dan support dari orang-orang baru yang tidak mengenal mereka.

Tapi sebenarnya ada beberapa hal yang membuat gue dan teman gue berdebat akan beberapa hal yang sepertinya bisa diselesaikan dengan cepat di film Searching ini. Seperti:

  1. Bukankah di iPhone ada aplikasi find my iPhone? Mengapa aplikasi itu tidak dimunculkan sama sekali di sepanjang film?
  2. Di Indonesia ketika handphone hilang kita bisa menghubungi provider yang digunakan untuk melacak lokasi terakhir kali sebuah telepon dibuat. Ini bisa banget digunakan ketika si anak melakukan miscall tiga kali ke handphone David.
  3. Ketika cctv mobil putrinya ditunjukkan oleh si detektif, sebenarnya sudah kelihatan ada dua mobil yang jalan dari pom bensin tersebut dan saling mengikuti. Mengapa tidak ada kecurigaan di situ?
  4. Tentang fish_n_chips dan dengan mudahnya si detektif bilang dia sudah mengeceknya, mengapa David tidak meminta bukti fisiknya dan malah langsung percaya? Dan tidak mengeceknya secara langsung padahal David dari awal sudah dengan canggih mengecek satu persatu teman putrinya?

Dan sebenarnya hint-hint bahwa ada something fishy di detektifnya itu sudah terlihat dari bagaimana dia memproteksi anaknya agar tidak terlihat oleh David di tiap kali mereka melakukan skype call.

Juga ini personal opinion aja sih, adegan si putri David yang masih hidup itu betul memang bagus untuk happy ending. Tapi sebenarnya jika dibuat meninggal sepertinya akan bagus karena keironisan yang menyesakkan. Toh pertanyaannya yang kemudian hadir adalah bagaimana bisa seseorang masih hidup setelah jatuh ke jurang tinggi gitu.

Namun, secara keseluruhan film Searching benar-benar sebuah hiburan sinematik yang menarik dan menegangkan. Membuat menontonnya langsung di layar besar dengan sound bioskop menjadikan keseluruhan ketegangan di film Searching terasa dua kali lebih asik.

Dan gue juga merasakan bagaimana film ini menyentil relasi kedekatan keluarga di era digital sekarang ini. Sebagai orang tua (atau yang lebih tua) sudahkah kita memonitor apa yang anak-anak lakukan di media sosial? Dan lebih jauh lagi adalah sudahkah orang tua menjadi medium yang lebih aman untuk bercerita selain media sosial itu sendiri?

Karena tanpa disadari bahwa hal yang paling klasik namun esensial dalam suatu hubungan di keluarga yang seringkali luput adalah komunikasi. Sudahkah kita mencapai itu semua?

Kerennya lagi, film Searching juga mengukuhkan peta perpolitikan representatif wajah asia di perfilman Hollywood. Dan pas gue tahu budget bikin film ini adalah satu jutaan dolar, bikin gue mikir bahwa film bagus enggak melulu harus big budget dengan segambreng para aktor mahal.

Oh iya satu lagi sebuah scene lucu yang membuat gue merasa bahwa film ini real banget mengcapture kehidupan media sosial, yaitu ketika David menanyakan ke salah satu rekan kelompok biologi anaknya, si rambut keriting yang sok banget itu, dengan tegas si cewek rambut keriting itu bilang bahwa ia tidak dekat dengan putrinya. Tapi saat tragedi ini makin besar dan diliput media maka dengan alamiahnya ia mengupload sebuah video di internet dan menyatakan betapa dia merindukan si putri david itu dan menangis tersedu-sedu mengatakan bahwa betapa mereka begitu dekat sebagai seorang sahabat. Girl, please…..

Advertisements

Author: figurandjakarta

Just a person who love to write when he cannot sleep

5 thoughts on “Review Film Searching [SPOILER]”

  1. gw rasa udah bagus ending ny d buat happy ending krn mungkin tujuan d buat ny film ini adalah supaya sebagai orgtua harus lah melakukan sepenuh hati bila mngalami peristiwa yg sm spt David Kim.. dan film ini juga mengajarkan kalau trus brrusaha dan bdoa pasti ada jalan dan mujizat itu nyata broo..

    Like

  2. baru saja nonton dan saya mengamini apa yang diulas di atas.

    sepertinya sang sutradara ingin menekankan pesan “kesempatan kedua” di film ini sehingga penonton tidak hanya larut dengan cerita tapi mengambil pesan kuat.

    di bagian “panjat sosial” itu lumayan nyentil juga.hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s