Review Film Crazy Rich Asians: Lebih Dari Sekadar Dongeng! [Spoiler Sedikit]

Film Crazy Rich Asians lebih dari sekadar petualangan cerita cinta untuk mendapatkan hati sang pangeran. Tapi tentang perjuangan Rachel, tokoh utama perempuan, dalam menunjukkan dirinya yang sebenarnya pada orang-orang yang meremehkannya.

Screen Shot 2018-09-10 at 15.39.34

Akhirnya film yang paling diperbincangkan sepanjang tahun 2018 ini hadir juga di Indonesia. Crazy Rich Asian sejatinya adalah sebuah film romantis komedi yang diangkat dari novel best seller karangan Kevin Kwan. Novel yang katanya berisi tentang anekdot-anekdot para orang-orang kaya lama (old money asia) lengkap dengan segala keanehannya yang mampu bikin kita melongo tidak percaya.

Contoh kecilnya nih, ada cerita di mana para old money ini membeli sebuah gong kuno antik dari Myanmar seharga jutaan dollar Amerika tanpa alasan khusus apa pun. Ya karena kalau dipikir-pikir lagi buat apa juga itu gong kecil begitu.

Tapi pas ditanya, jawaban mereka adalah… ya karena mereka mampu saja.

HAH! Eat that shit sobat miskin!

Screen Shot 2018-09-10 at 16.32.02

Kebetulan gue belum baca novelnya, jadi kejutan-kejutan sepanjang film ini sebenarnya menjadi hiburan utama paling menyenangkan.

Film Crazy Rich Asian pun digadang-gadang menjadi sebuah kebangkitan diversity perfilman Hollywood setelah film The Joy Luck Club tahun 1993 silam.

Lama banget kan?

Karena baru di 2018 ini lah Hollywood akhirnya kembali memproduksi sebuah film yang sepenuhnya dimainkan dan dikerjakan oleh para peranakan Asia Amerika.

Mengapa ini penting?

Karena setelah begitu lama industri perfilman di Holywood dikritik atas kurangnya representasi ras Asia terhadap pemilihan para aktor dan pekerja perfilman lainnya. Kayaknya Hollywood mulai sadar deh bahwa market share Asia begitu besar dan penting dalam penjualan tiket film mereka.

Tetapi semoga tujuannya lebih dari itu ya, memang karena seharusnya penting sekali visibility dan awareness akan isu diversity ini digaungkan agar lebih banyak pintu-pintu peluang terbuka untuk orang-orang Asia hadir di kancah perfilman Hollywood.

Karena ya dari dulu tokoh utama atau jagoan di film-film Amerika pasti selalu saja orang-orang kulit putih terus. Orang-orang Asia yang muda-muda butuh juga dong figure yang bisa mereka look up dan terasa dekat karena kemiripan fisik mereka untuk dijadikan model inspirasi.

Karena sering sekali gue nonton interview para aktris Asia atau minoritas lainnya yang memerankan film besar di Hollywood berkata bahwa; betapa menyenangkannya melihat seseorang dengan fisik sama seperti diri mereka ada di layar kaca atau film. Karena dari sana mereka tidak merasa aneh di antara lautan para kaukasia di Amerika sana dan mereka merasa mampu untuk menjadi sosok itu.

Namun sialnya, sekalinya ada tokoh orang Asia di layar kaca atau film selalu saja digambarkan dengan karakter satu dimensi dengan stereotyping yang begitu kaku. Yaitu tidak menarik, geek, atau hanya dijadikan fantasi eksotisme sex belaka.

Jadi tidak berlebihan jika banyak sekali para pekerja seni Asia di Amerika yang merayakan keberadaan film Crazy Rich Asian ini. Karena akhirnya budaya mereka diperkenalkan ke khalayak yang lebih luas dengan membuka kesempatan lebih lebar lagi untuk lebih banyak representasi wajah Asia lainnya.

Jadi sebenarnya film Crazy Rich Asian tentang apa sih?

Ceritanya basic sih sebenarnya, tentang seorang pacar (Nick Young) yang mengajak ceweknya (Rachel Chu) liburan ke Singapura untuk bertemu dengan sanak keluarga dan terlebih adalah Ibunya. Nah dari sana segala drama, konflik, dan kelucuan pun muncul karena sang Ibu yang tidak menyukai pacar si anak tersebut.

Terlepas dari agenda politiknya, film Crazy Rich Asian dibuat dengan presentasi yang begitu kuat, lucu, dan sungguh menghibur. Bisa dilihat dari scene awal saja penonton sudah dibuat ketawa terpingkal dengan lelucon orang kaya yang cuma ada di khayalan kita saja. Main-main sama Eleanor karena enggak ngasih kamar hotel, eh enggak pake lama hotelnya langsung dibeli sama doi. Bukan main!

Screen Shot 2018-09-10 at 16.56.34
Eleanor jadi mirip Bu Dendy ya?

Sebenarnya porsi anekdot-anekdot dan gosip-gosip old money seperti itu di film ini enggak terlalu banyak sih. Karena dari segi cerita, fokus film Crazy Rich Asian lebih tentang bagaimana Rachel Chu yang diperankan oleh Constance Wu, berjuang untuk mendapatkan respect dari Ibu pacarnya. Yaitu si Eleanor, yang diperankan begitu apik oleh aktris veteran Michelle Yeoh. Judes-judes orang kayanya dapet banget.

Tapi serius deh, Crazy Rich Asian begitu kaya dengan karakter-karakter kocak bin ajaib jika mau dieksplore lebih jauh lagi.

Jagoan gue tentu saja keluarganya si Goh Peik Lin, yang dimainkan oleh Awkwafina. Ada saja tingkah yang bikin kita cengengesan.

Doi itu sahabatnya Rachel pas kuliah dulu. Kebetulan doi warga tajir Singapura juga. Meski enggak setajir pacarnya Rachel si Nick Young tapi ketajiran keluarga doi bisa bikin orang-orang bilang; OKB nih (orang kaya baru).

Ya gimana enggak, doi pas diajak ke party udah nyiapin banyak dress untuk occasion tertentu. Terus di rumah Nick doi enggak berhenti selfie sana-sini.

Awkwafina itu kalau di Indonesia semacem Fitri Tropica versi lebih slengean lagi. Doi jadi salah satu alasan mengapa gue semangat banget nonton film Crazy Rich Asian.

Screen Shot 2018-09-10 at 16.26.16
Sumpah kocak banget ini perempuan.

Tante-tante dari keluarga Nick Young pun enggak kalah heboh dan komikal. Wah, sepanjang film kita bakal dimanjain banget sama celetukan-celetukan khas keluarga Asia soal “situ dari keluarga mana?, “bisnisnya apa sih kok bisa kaya?”, “kerjaannya apa sih?”.

Kekepo-kepoan itu pasti sudah akrab banget dong ya buat kuping orang Indonesia? Jadi pas nonton film ini kita orang Indonesia bisa relate lah ya.

Lalu sinematografi dan production value dalam menggambarkan keborjuan para orang-orang kaya ini pun menurut gue sudah cukup asik. Karena adegan-adegan saat Bridal Shower dan pesta bujang pecah banget sih.

COY MEREKA PUNYA PULAU SENDIRI SAMA HELIKOPTER MASING-MASING GITU! Gusti Allah, khayalanku saja bahkan tidak seliar itu.

Dan film ini dengan komikal mewujudkan itu semua dengan penuh warna dan glorifikasi banget.

Tapi lebih jauh lagi sebenarnya film ini dengan sangat kuat menggambarkan karakter cewek keren macem Rachel dan Astrid (sepupunya Nick yang diselingkuhin suaminya karena suaminya merasa inferior dengan kekayaan Astrid).

Karena Rachel dari awal film sudah dengan konsisten menunjukkan bahwa ia mencintai Nick tanpa memandang net worth dirinya. Jadi mau senyebelin apa pun Ibunya Nick, Rachel tetap cool. Tapi ya namanya film pasti ada adegan downnya ya. Rachel enggak mau kalah dong. Sebagai seorang Profesor, Rachel pun memainkan manuver teori psikologis dengan melawan dominasi Eleanor terhadap kebahagian anaknya.

Meskipun konflik besarnya terasa generik, yaitu ke klise-an kisah romantis yang terhalang ketidaksetujuan orang tua. Tapi bagaimana Rachel menyelesaikan tiap-tiap masalahnya dan bangun dari itu semua terasa heartwarming dengan semangat yang menular.

Kamu bisa melihat kekerenan Rachel dari mulai adegan pernikahan yang ia datang dengan bantuan Goh Peik Lin lewat gaun kecenya dan malah jadi pusat perhatian dibanding cewek-cewek kaya resek. Lalu yang paling memorable tentu saja saat scene main Mahjong. Wah seru banget sih gertakan Rachel di sana terhadap Eleanor. Penuh perhitungan dan mengancam.

Harus nonton film ini?

Ya, harus banget dong! Nonton film Crazy Rich Asian itu seperti nonton The Devil Wears Prada. Enggak ngebosenin walaupun ditonton berkali-kali. Efeknya tetep nyenengin. Dan terlepas dari semua kebacotan gue di awal, sebenarnya menyenangkan sekali bisa nonton film romantic comedy yang dibuat dengan proper dan bisa ngasih efek happy setelahnya.

Pokoknya siap-siap deh ketawa seru dengan halusinasi ngebayangin ada orang kaya tajir melintir yang cakep, pinter, dan baik hati yang mau merelakan kekayaan orang tuanya buat kita. HAHAHA.

Stop halunya dan mulai beli tiket filmnya!

PS: Another observation:

  1. Di trailer Crazy Rich Asian kan ada adegan si Awkwafina bilang; you are nasty, you are nastier. Itu kok gue enggak lihat ya di film? Apa gue enggak sadar aja mungkin ya?
  2. Gue sama temen gue ngebecandain kalau Rachel pas di propose pakai cincin kecil dia nolak, eh pas dapet cincin lebih gede doi mau. Hehe. Lyfe.
  3. Kenapa si Rachel enggak kepo ya soal lakinya di medsos? Ya kali enggak nemu.
Advertisements

bon anniversaire

Tahun itu kamu berulang tahun ke dua puluh dua tahun. Saya masih ingat mengucapkan selamat ulang tahun basa basi padamu di malam harinya, karena sejujurnya sepanjang hari saya terlalu takut untuk mengirimkan pesan lebih dulu. Saya takut kamu tidak membalasnya. Saya takut pesan saya hanya akan jadi pesan tak berbalas lainnya.

Setelah pesan pendek saya berisi doa-doa untuk kamu terkirim, ternyata tak lama pesan itu kamu balas.

Saya terkejut dan terlalu deg-degan untuk langsung membacanya. Saya biarkan handphone itu beberapa lama, menunggu untuk menghilangkan perasaan gugup ini lebih dulu. Tapi tidak, perasaan gugup saya masih ada dan kini malah ditambah dengan rasa penasaran. Apa kira-kira balasanmu ya? Mengapa akhirnya kamu membalas pesan saya setelah beberapa bulan sebelumnya kita tidak lagi saling bicara dan kamu mendiamkan saya seolah saya tidak ada?

Saya akhirnya membuka pesanmu, kala itu kita masih berkirim SMS sehingga loading pesannya cukup lama. Ternyata kamu mengetik cukup panjang dan saya agak terkejut karenanya. Ini pesan terpanjang kamu buat saya.

Kamu mengucapkan terima kasih karena saya masih mengingat ulang tahunmu dan kamu pun tersanjung atas doa-doa yang saya berikan. Kamu mengucapkan amin untuk itu semua. Dan….

…..kalimat berikutnya kamu mengucapkan….

maaf.

 

 

 

Saya terhenti di sana. Mencoba mencerna maksud dari kata maafmu. Saya pun membaca ulang pesan tersebut dari awal kembali, takut-takut ada yang salah dan sejujurnya setengah tidak percaya.

Tapi, benar saja, kamu memang meminta maaf.

Lengkapnya kamu meminta maaf atas semua yang telah kamu lakukan selama ini, kamu meminta maaf karena belum bisa memberikan apa yang saya mau dan sering membuat saya kecewa.

Tak lupa kamu menambahkan emoji senyum di akhir dan kamu memanggil saya ‘nyun’ lagi. Seperti dulu.

Saya terharu membacanya. Ingin menangis tapi saya kala itu sedang di bus malam menuju Cibinong.

Saya tidak membalasnya, masih curiga kalau kamu salah kirim. Maka saya pun melanjutkan sisa perjalanan pulang saya dengan bertanya-tanya; apakah sebenarnya kamu merasakan yang sama dan hanya menekan itu semua?

Mungkinkah?

Lalu fast forward di tujuh tahun kemudian, di hari ini, tepat di hari ulang tahunmu. Ada dorongan untuk mengirimkan ucapan selamat ulang tahun. Tapi saya lupa bahwa saya sudah menghapus nomormu dan kita berdua sudah berjanji untuk tidak saling berkomunikasi lagi. Untuk selama-lamanya.

Maka di blog ini saya ucapkan selamat ulang tahun, untukmu.