Lauh Mahfuz: Ketika Perasaan Sedekat Nafas Namun Terpisah Rasa

Seorang teman pernah berkata, tidak apa mencinta sesuatu yang tidak dapat dimiliki, karena setidaknya ia pernah berada dalam Lauh Mahfuz seseorang tersebut.

Kami tengah makan siang di suatu akhir pekan, suasana restoran yang santai membuat otak saya bekerja lebih lambat dari biasanya. Yang saya dengar keluar dari mulut teman saya adalah: LO MAMPUS. Marah dong saya. Lalu untuk memastikan, saya bertaya kembali pada teman saya tentang apa yang tadi ia katakan sebelumnya.

Secara perlahan teman saya menyebutkan Lauh Mahfuz dengan begitu khidmat. Seperti ada kerinduan dalam ucapannya. Namanya begitu cantik dan misterius. Ternyata Lauh Mahfuz memiliki arti yang begitu dalam.

Pic from: https://unsplash.com/photos/67rnodKzsRQ

Secara bebas Lauh Mahfuz adalah sebuah kitab kehidupan yang sudah ditulis Tuhan bahkan sebelum manusia itu sendiri lahir.

Dalam kitab tersebut berisi kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh siapa saja yang akan hadir sepanjang manusia itu hidup.

Teman saya meyakini bahwa kehadiran dirinya di dalam hidup seseorang yang ia cintai selama enam tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Ia ada karena sesuatu dan memiliki maknanya sendiri. Meskipun kecil. Dan baginya itu semua sudah cukup. Ia berbahagia karenanya.

Dengan mengetahui fakta tersebut membuat teman saya sedikitnya merasa lebih ikhlas ketika tidak dapat memilikinya.

Karena mungkin cinta memiliki banyak bentuknya. Mungkin cinta dengan versi yang teman saya punya adalah yang terbaik yang bisa ia dapat. Keikhlasan untuk tidak menguasai dan memiliki, namun berbahagia karenanya. Keegoisan lebur dalam kekagumannya. Sesederhana itu. 

Setelah kami menghabiskan menu terakhir kami, ada dorongan yang menyesakkan dalam diri saya untuk menghapus nomor R di handphone saya.

Karena dalam versi saya, entah bentuk cinta apa yang saya punya, pada akhirnya dalam cerita yang saya miliki yang tersisa hanya rasa sakit berkepanjangan yang membosankan.

Dan saya tidak butuh kitab apa pun untuk mengingatkan saya bahwa tidak ada siapa pun yang menginginkan saya berada dalam hidup mereka.

Mungkin ada satu bentuk cinta yang saya butuhkan untuk sekarang. Kedamaian akan rasa sendiri yang tak lagi merongrong mengejek, namun membebaskan.

Karena pada akhirnya tidak semua orang memiliki keberuntungan untuk bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Hidup tidak semudah dan seadil itu. Dan tak akan pernah.

Jika tidak dapat memiliki seseorang yang saya inginkan, setidaknya saya bisa merasa diinginkan meskipun itu hanya dengan diri saya sendiri.

Advertisements

Rahasia Kecil Bersama R

Kalau sedang menonton film-film high school romance Hollywood pasti ada beberapa adegan acara-acara party kelulusan SMA di mana orang-orang menari dan mengenakan pakaian terbaik mereka. Memori terakhir tentang kehidupan SMA yang akan segera tergerus dengan memori baru saat kuliah nanti.

Foto-foto bersama teman-teman sekelas, kenangan-kenangan manis saat bermalam bersama, atau momen mabuk colong-colongan mungkin adalah secuil cerita tentang acara perpisahan saat SMA bagi sebagian orang.

Tapi, sejujurnya saya tidak pernah mengalami itu semua.

Semua terjadi karena waktu SMA saya dulu mengadakan acara perpisahan dengan menginap di pantai dengan diiringi acara-acara keakraban khas anak SMA lainnya, sayangnya saya melewatkannya. Begitu pun dengan R.

Saya melewatkannya karena saya tahu R tidak akan datang. Kala itu saya merelakan melepaskan memori bersama teman-teman sekelas saya demi R. Sesuatu yang ketika itu seolah menjadi keputusan yang tepat dan benar untuk dilakukan.

R baru kembali dari Bandung. Saya dan dia tidak berhenti menukar pesan lewat SMS dan sesekali menelfon. Saat itu kami baru saja menuntaskan perang dingin kerena saling diam selama beberapa bulan.

Saya merindukannya, tentu saja.

Sepanjang dua malam sepulangnya dia dari Bandung kami tidak berhenti mengobrol dan mengobrol. Saya mengirimkannya list beberapa lagu yang ingin saya minta dia untuk burning dalam satu CD dan memberikannya pada saya ketika kami bertemu lagi.

Ketika topik obrolan tidak penting beralih tentang rencana kuliah kami yang akan terpisahkan jarak. Ia terus mengalihkannya. Dia akan berkuliah di Depok sedang saya di Jakarta. Kampus dia keren, kampus saya biasa-biasa saja.

Waktu itu tidak pernah terpikirkan bahwa kami akan berpisah atau berakhir seperti ini, menjadi orang asing yang enggan untuk bertemu satu sama lain, apabila melihat betapa dekatnya kami.

Saat itu kami begitu terikat satu sama lain, setidaknya itu yang saya rasakan. Dan saya selalu ingat bahwa kami membahasakan begitu banyak rasa dalam dua malam itu.

Lalu di suatu pagi, ketika pesta perpisahan sekolah kami selesai dan kami perlu masuk untuk mengurus ijazah , saya dan R bertemu kembali. Ada perasaan yang begitu sesak saat melihatnya begitu dekat, ketika mendengar suaranya yang sudah kelewat akrab di telinga, dan dengan malu-malu menyentuh kulit yang begitu hangat sekaligus menggetarkan di waktu bersamaan.

Saya tidak pernah merasa terkoneksi begitu dalam dan dekat dengan orang lain selain bersamanya saat itu.

Namun, saya yang naif ini melupakan satu hal, bahwa tidak ada hal baik yang akan bertahan lama di hidup saya.

Ketika R tersenyum bahagia di Sekolah saat itu adalah hari ketika ia tersenyum menyambut pacarnya yang baru kembali dari liburan. Bukan untuk seseorang yang merelakan kenangan terakhir masa SMAnya pupus demi dirinya.

Setelah ia puas bertemu dengan pacarnya, ia mendekati saya dan menyerahkan satu CD pesanan yang saya minta semalam. Saya tersenyum tipis mengucapkan terima kasih dan dengan berat hati pergi dengan kikuknya.

Namun, dia menahan saya, meminta untuk berhenti sebentar.

Saya melihat dua mata coklat teduhnya yang kini sedang menatap saya lekat-lekat. Dia hanya diam saja, namun dari matanya tersebut saya dapat merasakan ucapan selamat tinggal, sesuatu yang tak sempat terucap dari mulutnya.

Dan di umur saya yang delapan belas tahun kala itu, saya merasakan itu semua sudah cukup. Entah kenapa saya paham bahwa hari itu adalah hari terakhir saya akan melihat R yang saya kenal. R versi saya yang selama dua malam kemarin menjadi dirinya sendiri dan menunjukkannya pada saya. Atau ya karena dia toh hanya diam dan akhirnya pergi meninggalkan saya juga.

Bersama R, dari dulu hal sekecil apa pun adalah sesuatu yang cukup untuk saya. Meskipun itu berarti melukai dan menyiksa diri saya sendiri pada akhirnya. Selamanya akan selalu seperti itu.

Screen Shot 2018-11-03 at 17.24.07
Photo from https://unsplash.com/photos/DoNywkrERqo

When I don’t believe in anything anymore

Entah karena rasa lelah atau rutinitas yang terlalu menyesakkan. Terkadang ada momen di mana apa yang gue lakuin beberapa tahun belakangan ini hanyalah fase di mana gue hanya hidup tanpa benar-benar tahu apa yang gue kejar dan lakuin. Gue cuma bangun di usia dua puluh enam tahun dan dua tahun kemudian tiba-tiba gue sudah dua puluh delapan dan lupa dengan apa yang gue jalani dua tahun belakangan kemarin.

Apakah gue hanya menunda-nunda kematian atau sedang berusaha mendekatinya? Atau hanya bosan saja?

Entahlah. Gue bukannya lagi ada suicidal thought atau apa, tapi terkadang hidup yang flat dan begini-begini saja yang tanpa pesan motivasional menggugah hati adalah keseharian yang gue jalani tiap harinya.

Bahkan satu-satunya hal yang bisa membuat gue merasa excited, yaitu makan, malah terkesan seperti emotional eating dibanding petualangan lidah yang dulu gue niatkan untuk menjadi aktivitas memperkaya palet rasa dan mengumpulkan cerita-cerita seru di dalamnya. Sekarang semua terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang membut gue begitu menginginkan sesuatu sehebat itu. Selain menunggu gajian.

Usaha untuk menguruskan berat badan pun hanya wacana belaka, kondisi sekarang seperti sudah menerima (atau putus asa) dengan diri sendiri. Kadang ingin terus ada di kantor, atau enggak pengen ngantor sama sekali.

Apakah ini yang dinamakan kebosanan di umur dua puluhan akhir yang selalu saja orang kaitkan dengan segera mencari pasangan hidup sebagai jawaban final?

Jika pun itu memang benar adanya, alangkah menyedihkannya hidup gue yang harus mencari kebahagian di dalam diri orang lain.

Kini bahkan untuk menuliskan satu tulisan ini saja gue harus memaksakan menyeret diri gue ke coffee shop yang lumayan jauh dari kosan, kemudian meminum kopi susu yang tidak begitu manis dan harus bengong selama dua jam tanpa berbuat apa pun.

Semalas dan sekering itu kah mental gue sekarang?

Sesekali gue merindukan semangat dan energi yang membuat gue bisa berbagi cerita ke orang lain tanpa perlu julid atau gosipin orang. Ya cuma berbagi mimpi dan rahasia-rahasia kecil yang menyenangkan. Namun, sayangnya kali ini tidak ada orang lain yang particular ingin gue bagi rahasia atau cerita-cerita. Seolah kesendirian ini adalah lifestyle yang tepat untuk gue sekarang. Yang terlalu enggan untuk berkomitmen dan memulai hubungan romansa dengan apa pun.

Tapi sepertinya memang hidup di dua puluhan akhir itu kalau bukan ngejar karir atau ngurus keluarga baru memang enggak seru kali ya. Kayak hidup gue.

Karena sekarang setiap kali ingin memulai sesuatu dan percaya pada seseorang tiba-tiba saja perasaan pantas dan layak untuk berada pada frekuensi kebahagian yang sama dengan orang tersebut seperti barang mahal yang jauh dari rengkuhan gue. Gue jadi parno sendiri kalau-kalau semuanya akan berakhir gagal. Bahwa gue akan menjadi si yang terluka dan akan selalu ditinggalkan. Sepengecut itu.

Semua orang terlihat berjalan cepat dengan mimpinya masing-masing sedang gue di sini, duduk dengan sedikit cemas, dan dari kejauhan memandangi mereka yang terus melaju dan semakin jauh.

Mungkin memang beberapa orang di muka bumi ini ditakdirkan untuk menjalani sesuatu yang biasa-biasa saja, dengan luka dan kebahagian yang biasa-biasa saja juga.

Screen Shot 2018-11-03 at 16.31.17
Photo from https://unsplash.com/photos/vWfKaO0k9pc