When I don’t believe in anything anymore

Entah karena rasa lelah atau rutinitas yang terlalu menyesakkan. Terkadang ada momen di mana apa yang gue lakuin beberapa tahun belakangan ini hanyalah fase di mana gue hanya hidup tanpa benar-benar tahu apa yang gue kejar dan lakuin. Gue cuma bangun di usia dua puluh enam tahun dan dua tahun kemudian tiba-tiba gue sudah dua puluh delapan dan lupa dengan apa yang gue jalani dua tahun belakangan kemarin.

Apakah gue hanya menunda-nunda kematian atau sedang berusaha mendekatinya? Atau hanya bosan saja?

Entahlah. Gue bukannya lagi ada suicidal thought atau apa, tapi terkadang hidup yang flat dan begini-begini saja yang tanpa pesan motivasional menggugah hati adalah keseharian yang gue jalani tiap harinya.

Bahkan satu-satunya hal yang bisa membuat gue merasa excited, yaitu makan, malah terkesan seperti emotional eating dibanding petualangan lidah yang dulu gue niatkan untuk menjadi aktivitas memperkaya palet rasa dan mengumpulkan cerita-cerita seru di dalamnya. Sekarang semua terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang membut gue begitu menginginkan sesuatu sehebat itu. Selain menunggu gajian.

Usaha untuk menguruskan berat badan pun hanya wacana belaka, kondisi sekarang seperti sudah menerima (atau putus asa) dengan diri sendiri. Kadang ingin terus ada di kantor, atau enggak pengen ngantor sama sekali.

Apakah ini yang dinamakan kebosanan di umur dua puluhan akhir yang selalu saja orang kaitkan dengan segera mencari pasangan hidup sebagai jawaban final?

Jika pun itu memang benar adanya, alangkah menyedihkannya hidup gue yang harus mencari kebahagian di dalam diri orang lain.

Kini bahkan untuk menuliskan satu tulisan ini saja gue harus memaksakan menyeret diri gue ke coffee shop yang lumayan jauh dari kosan, kemudian meminum kopi susu yang tidak begitu manis dan harus bengong selama dua jam tanpa berbuat apa pun.

Semalas dan sekering itu kah mental gue sekarang?

Sesekali gue merindukan semangat dan energi yang membuat gue bisa berbagi cerita ke orang lain tanpa perlu julid atau gosipin orang. Ya cuma berbagi mimpi dan rahasia-rahasia kecil yang menyenangkan. Namun, sayangnya kali ini tidak ada orang lain yang particular ingin gue bagi rahasia atau cerita-cerita. Seolah kesendirian ini adalah lifestyle yang tepat untuk gue sekarang. Yang terlalu enggan untuk berkomitmen dan memulai hubungan romansa dengan apa pun.

Tapi sepertinya memang hidup di dua puluhan akhir itu kalau bukan ngejar karir atau ngurus keluarga baru memang enggak seru kali ya. Kayak hidup gue.

Karena sekarang setiap kali ingin memulai sesuatu dan percaya pada seseorang tiba-tiba saja perasaan pantas dan layak untuk berada pada frekuensi kebahagian yang sama dengan orang tersebut seperti barang mahal yang jauh dari rengkuhan gue. Gue jadi parno sendiri kalau-kalau semuanya akan berakhir gagal. Bahwa gue akan menjadi si yang terluka dan akan selalu ditinggalkan. Sepengecut itu.

Semua orang terlihat berjalan cepat dengan mimpinya masing-masing sedang gue di sini, duduk dengan sedikit cemas, dan dari kejauhan memandangi mereka yang terus melaju dan semakin jauh.

Mungkin memang beberapa orang di muka bumi ini ditakdirkan untuk menjalani sesuatu yang biasa-biasa saja, dengan luka dan kebahagian yang biasa-biasa saja juga.

Screen Shot 2018-11-03 at 16.31.17
Photo from https://unsplash.com/photos/vWfKaO0k9pc
Advertisements

Author: figurandjakarta

Just a person who love to write when he cannot sleep

One thought on “When I don’t believe in anything anymore”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s