Happy Life Before 40s: Mengejar Impian Yang Tertunda

Temukan inspirasi hidup sebelum berusia empat puluh tahun!

Advertisements
Screen Shot 2018-04-05 at 7.27.22 AM
Sumber foto: https://unsplash.com/photos/soY-oyK715M

Tahun ini umur saya menuju angka dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Cukup matang dan saya sedang fokus pada karir saya sebagai digital marketer.

Jika beberapa teman saya banyak yang sudah menikah atau sedang menabung untuk menikah. Sejujurnya prioritas saya masih berada untuk membantu keluarga, baik secara harian maupun jangka panjang. Saya salah satu dari generasi sandwich.

Apa itu generasi sandwich?

Yaitu generasi yang menanggung dan mendukung finansial dua keluarga sekaligus. Meskipun belum berkeluarga, namun setengah dari pendapatan saya dialokasikan untuk membantu orang tua dan adik saya.

Singkatnya, karena hal tersebut terkadang saya lupa untuk memanjakan diri saya sendiri. Terlebih seperti yang saya singgung di awal, pekerjaan saya biasanya mengharuskan saya untuk bekerja lembur. Satu-satunya hiburan yang bisa saya lakukan adalah makan dengan impulsif sebagai pelarian semata.

Tentu saja yang saya lakukan salah. Karena, beberapa tahun belakangan dengan gaya hidup makan ‘asal’ tersebut serta tidak diimbangi dengan olahraga teratur akhirnya membuat kesehatan saya menurun.

Untungnya saya memiliki asuransi dari kantor yang dapat menutupi biaya rumah sakit tempo itu.

Namun, mengandalkan bantuan dari kantor tentu saja tidak akan berlangsung terus. Saya berkeinginan di usia tiga puluhan nanti, saya memiliki asuransi jiwa baik untuk saya sendiri maupun kedua orang tua saya.

Meskipun manfaat asuransi tidak terlalu terlihat jika belum merasakan ‘sakit’. Tapi, saya percaya saat musibah tak terduga datang, asuransi lah yang akan melindungi saya dan keluarga nantinya.

Di Commonwealth Life ada jenis asuransi berupa unit link, yaitu asuransi dengan dua keuntungan, proteksi diri dan berivestasi. Win win solution kan?

Maka rasa-rasanya berinvestasi asuransi di usia tiga puluhan jadi salah satu impian saya. Karena, bisa jadi pilihan investasi terbaik.

Teman-teman bisa cek di -> http://commlife.co.id/microsite/ <- untuk informasi lebih lanjut.

Melanjutkan cerita impian yang ingin saya wujudkan sebelum usia empat puluh tahun.

Dari dulu tuh saya ingin sekali memiliki warung makanan sendiri yang berlokasi di Ubud, Bali.

Screen Shot 2018-04-05 at 8.19.26 AM
Sumber foto https://unsplash.com/photos/OkhcMbf3vQ0

Enggak perlu berbentuk restoran fancy dengan design yang sophisticated juga sih. Asal bisa jadi tempat asik buat nongkrong lama-lama dan ngumpul banyak orang rasanya sudah cukup.

Menu makanan yang disediakan tentu saja makanan Indonesia, spesifiknya makanan Sunda. Eksotis gimana gitu dong sambal pedas khas Sunda di lidah para bule.

Nantinya juga di warung makan tersebut tiap minggu saya kepikiran untuk membuat acara-acara kebudayaan seperti pemutaran film, konser akustik, atau pun bedah buku. Jadi, orang-orang di sana tidak cuma makan untuk perut saja, tapi juga buat hati dan pikiran mereka.

Warung makanan tersebut akan saya kasih nama, Food for Soul.

Pokoknya saya kepingin orang yang selesai makan di sana akan membawa pengalaman seru berupa makanan enak yang akan mereka omongin terus sambil sesekali berdebat mengenai potongan pemikiran yang siapa tahu bisa merubah hidup mereka.

Karena, saya percaya, bahwa hidup yang bahagia berasal dari perut yang kenyang.

Jadi, kalau kamu impiannya apa?

Cara Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Temukan langkah-langkah menjadi konsumen cerdas di era digital!

Screen Shot 2018-04-04 at 4.42.09 PM
Sumber foto Photo by rawpixel.com on Unsplash

Setiap harinya pasti kamu semua sering wara-wiri ke website-website e-commerce atau minimal ke akun toko Instagram yang menjual berbagai kebutuhan dari yang penting sampai enggak penting banget.

Dilansir dari berita di sini tercatat bahwa ada 24,7 juta orang, saya ulangi lagi, DUA PULUH EMPAT JUTAAN ORANG DI INDONESIA yang senang melakukan aktivitas belanja online.

Bukan main memang para netizen Indonesia ini. Banyak duitnya ya.

Lewat pemerataan kesediaan internet dan ditambah kecanggihan teknologi seperti sekarang, sangat memudahkan siapa pun yang ingin berbelanja online tanpa terhalang ruang dan waktu.

Di tahun 2017 saja pengguna internet di Indonesia mencapai 132 jutaan orang dan 69% penggunanya memakai perangkat mobile untuk mengakses aktivitas internetnya. (Sumber dari sini).

Di antara ratusan juta orang itu ada Ibu saya, si perempuan paruh baya berusia lima puluhan di pelosok Cibinong yang gemar mengoleksi kerudung berbagai warna padahal modelnya kalau dilihat-lihat sih sama saja ya.

Namun, kini di era Emak-Emak Zaman Now, beliau lebih suka berbelanja di salah satu Marketplace yang menyediakan banyak pilihan kerudung dengan iming-iming Gratis Ongkir dibanding harus ke pasar langganan dia yang telah menemaninya selama tiga puluh tahun lebih.

“Kenapa sih jadi suka belanja online sekarang?” tanya saya suatu waktu saat melihat beberapa paket belanjaan yang datang bersamaan saat Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) tahun lalu.

“Tinggal pilih-pilih modelnya di layar handphone, klak-klik-klak-klik (bahasa Ibu saya), eh tiba-tiba barang sudah sampai saja di depan rumah,” jawab Ibu saya.

Screen Shot 2018-04-05 at 3.55.00 PM
sumber foto: http://www.lampost.co/berita-98-persen-para-ibu-lebih-suka-belanja-online

Memang sih, terkadang beberapa toko baik di Marketplace atau di akun-akun Instagram menawarkan harga yang lebih kompetitif dengan pilihan yang lebih variatif.

Juga yang paling terasa tentu saja kita jadi tidak perlu repot-repot berjuang di tengah kemacetan hanya untuk sekadar membeli kaus kaki, misalnya. Apalagi kalau perginya ke Mall, Masya Allah, cari parkir saja bisa satu jam sendiri. Ribet.

“Semua happy deh kalau tiba-tiba terima paket pesanan online,” imbuh Ibu saya.

Oh, really?

Simpan tawamu sejenak Bunda. Karena, di balik gegap gempita penetrasi belanja bisnis online yang mencapai 75 triliun di tahun 2017 kemarin, ternyata oh ternyata menyimpan sisi gelapnya sendiri.

YLKI atau Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mencatat di tahun 2017 dari 642 pengaduan konsumen, 16% nya berada pada kasus belanja online. Tertinggi di antara pengaduan yang lain.

Detailnya dari 16% atau 101 aduan konsumen, ada 8 toko online yang banyak diadukan konsumen. Yaitu: Lazada 18 aduan, Akulaku 14 aduan, Tokopedia 11 aduan, Bukalapak 9 aduan, Shopee 7 aduan, Blibli 5 aduan, JD.ID 4 aduan, Elevania 3 aduan. (Sumber dari sini).

Apa saja sih yang dikeluhkan oleh konsumen tersebut?

Menurut pengurus YLKI ada dua hal yang paling mencolok. Yaitu:

  1. Lemahnya regulasi, tidak adanya Rancangan Peraturan Pemerintah yang menjadi payung hukum baik untuk para pembeli dan pedagang online.
  2. Ketidakmengertian konsumen dalam belanja online itu sendiri.

YLKI pun memaparkan bahwa 36% keluhan dari belanja online terbanyak datang dari barang yang belum sampai. (Yee, siapa juga yang enggak sewot Malih).

Lainnya lagi adalah berada di masalah sistem, refund tidak diberikan, barang tidak sesuai informasi, dugaan akun yang di hack, cacat produk dan barang telat diterima.

Banyak ya.

Screen Shot 2018-04-05 at 4.03.11 PM
Aduan yang diterima YLKI tahun 2016. Sumber: Femina.com

Tapi, memang harus diakui bahwa masih banyak kekurangan dan pengembangan yang harus ditingkatkan dari pihak para penjual online demi meningkatkan pelayanan yang prima pada pembelinya. Sayang sekali jika karena kesalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cepat alih-alih malah mencederai kepercayaan masyarakat untuk berbelanja online lagi.

Maka dari itu saya yang baik hati dan tidak sombong ini, mau berbagi tips agar kamu-kamu bisa menjadi konsumen cerdas di era digital agar tidak mengalami kasus pengaduan seperti yang dipaparkan YLKI di atas tadi.

Pertama, Ketahui Apa Yang Kamu Butuhkan!

Sederhananya, kalau kamu mau beli baju muslim buat Lebaran nanti ya kamu belinya di website Happy Fresh.

Ya, enggak dong, Sayang!

Alih-alih mau pakai baju baru di sholat ied nanti, malah yang datang boks sayur mayur. Jangan emosi ah, senyum dong. Tadi gimmick aja biar lucu sedikit tulisannya.

Kamu kalau mau beli di Happy Fresh juga enggak apa-apa kok. Siapa tahu kamu butuh belanja makanan.

Untuk beli baju ya kamu bisa beli di toko-toko yang khusus menjual produk fashion. Baik itu di website marketplace maupun akun Instagram.

Tapi, tahu apa yang kamu ingin beli saja ternyata tidak cukup lho!

Kamu juga perlu mempertanyakan ke diri kamu sendiri apakah kamu benar-benar butuh produk itu atau tidak?

Jika hanya tergiur promo saja dan ketika pesanan sampai rumah dan pas dicek isinya beda, kamu kan bisa jadi bete sendiri. Kasihan mental kamu dan abang-abang kurir yang sudah jauh-jauh ke rumah.

Coba sesekali sebelum roh gila diskon itu merasuki kamu. Buat semacam daftar pros and cons tentang produk yang ingin kamu beli. Jika kamu merasa tidak butuh-butuh amat dan kamu masih bisa pakai yang lama ya sudah tahan dulu hasrat belanja kamu.

Tapi, misalkan, kamu enggak beli produk itu dan besok harinya kamu bisa sesak nafas dan kepikiran terus. Ya, beli dong, ah!

Kedua, Cek Keaslian Produk dan Asal Produk

Poin ini penting banget. Karena, di era informasi yang gampang dicari seperti sekarang, kita sebagai pembeli harus jeli dengan apa yang akan dibeli nantinya.

Kita harus tahu bagaimana proses dan sebuah produk berasal. Apakah pembuatannya sudah benar-benar bebas dari perbudakan modern dan tidak merugikan lingkungan?

Karena as we know, dalam industri fast fashion yang masyarakat agung-agungkan itu nyatanya mereka masih memakai buruh yang dibayar dengan upah rendah dan memperkerjakan anak-anak di bawah umur. (Sumber dari sini).

Kita harus terbuka dengan hal-hal seperti itu. Karena, jangan-jangan kita malah jadi pihak yang menguatkan bisnis tersebut dengan ikut membelinya.

Dari wawancara Sarah Sechan bersama Nadya Hutagalung tahun 2013 silam, dibeberkan fakta bahwa aksesoris yang kita anggep lucu dan antik banyak terbuat dari gading gajah yang dibunuh secara kejam.

Bagaimana menyetop itu semua? Dengan memotong demandsnya.

Akan lebih bermakna jika kita membeli barang-barang yang memang dibuat oleh para komunitas Ibu-Ibu secara gotong royong untuk menambah penghasilan mereka. Atau dari para penjual lokal yang mengedepankan kearifan Indonesia dalam produknya yang ikut memberdayakan warga sekitarnya.

Screen Shot 2018-04-05 at 3.59.11 PM
Sumber foto: https://www.cendananews.com/2018/01/anyaman-lontar-hanna-official-merchandise-asian-games-2018.html

Rasa-rasanya akan lebih bijak dengan membeli jenis produk tersebut. Karena tidak saja kita mendapat yang kita butuhkan, tapi juga membantu perkembangan bisnis lokal tersebut.

Bahasa kerennya, shop for a cause.

Setelah kita mengetahui asal produk tersebut, cek juga keaslian bahan atau material produk.

Kita bisa langsung google jenis-jenis bahan yang digunakan dalam produk fashion, atau membaca komen dan testimoni pelanggan sebelumnya yang sudah membeli produk elektronik dari toko online tersebut.

Itu semua dilakukan agar kita tidak membeli kucing dalam karung.

Manfaatkan sesi tanya jawab dengan penjual dalam kolom yang disediakan oleh beberapa marketplace. Dengan terus bertanya hingga puas dan tidak ada keraguan lagi, itu tandanya kamu paham dengan produk tersebut dan sudah siap untuk membelinya.

Ketiga, Jangan Lupa Banding-Bandingin Harga, Dong!

Banyaknya penawaran yang diberikan lewat promo-promo awal bulan atau saat gajian sebenarnya sangat membantu kamu yang memang ingin mendapatkan harga miring untuk satu produk tertentu.

Biasakan untuk membandingkan sebuah produk di tiga atau empat website berbeda.

Bisa dimulai dengan membandingkan harga, cek ke-originalan barang atau malah refurbished, ongkos kirim gratis atau tidak, bisa return/refund atau tidak jika ada kesalahan, bisa dicicil dengan bunga 0% atau tidak, dan jenis garansinya seperti apa.

Dengan mendapatkan data yang berbeda dari variabel tersebut. Nantinya, akan memudahkan kamu untuk mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik dan tidak menyesal di kemudian hari.

Keempat, Pahami Langkah-Langkah Pembayaran

Ini masalah yang sering menjadi kendala para pembeli online baru.

Kepercayaan untuk membayar secara online dan tidak terkena tipu-tipu memang masih menjadi momok di Indonesia. Makanya, kamu bisa memanfaatkan fitur bayar di tempat.

Selain kamu bisa melihat barangnya secara langsung, kamu juga bisa menghindari fraud dalam pembayaran.

Jika dalam berbelanja online kamu diharuskan membayar dengan kartu debit, ya gunakan kartu debit. Terus misalkan diberitahu hanya bisa menggunakan kartu kredit, ya jangan maksa pakai kartu debit. Enggak bakal bisa, Malih!

Intinya, pilih jenis pembayaran yang memudahkan kamu. Jika tidak punya kartu bank kamu bisa memanfaatkan pembayaran di gerai toserba macam Indomaret dan Alfamart. Atau ya tadi, pilih bayar di tempat.

Enaknya pembayaran belanja online untuk saya pribadi adalah pilihan cicilan yang bisa dibayar dengan durasi lama dan bunga 0%. Itu akan membantu sekali buat kamu yang ingin menyicil barang yang harganya lumayan bikin ngos-ngosan.

Screen Shot 2018-04-04 at 3.37.59 PM
Jangan sampai begini juga ya kamu!

Kelima, Jaga Keamanan Data Personal Kamu

Melanjutkan poin keempat tentang sistem pembayaran. Ada baiknya kamu juga mulai memperhatikan keamanan data personal kamu. Baik itu alamat dan yang terpenting adalah data perbankan kamu. Bisa-bisa akun kamu dibuat untuk belanja fiktif sampai jutaan rupiah lagi.

Untuk menghindari itu baiknya kamu mengganti password akun kamu di website-website belanja online itu secara berkala. Atau jika perlu, setelah selesai membeli segera hapus data kamu. Dan baru diisi lagi ketika mau berbelanja kembali.

Ribet memang, tapi daripada kecolongan kan.

Keenam, Jika Ada Masalah, Komplain Dengan Benar dan Sopan

Penjual online yang baik adalah mereka yang memiliki pelayanan pelanggan yang baik. Berbekal Customer Service, penjual online tersebut akan siap membantu kamu dalam menyelesaikan masalah pesanan yang kamu hadapi.

Biasanya ada beberapa channel yang digunakan: Social media (Facebook, Twitter, & Instagram), email, dan chat langsung di website tersebut.

Atau jika kamu berbelanja di penjual Instagram, kamu bisa mengontak penjual secara langsung di Whatsapp, Line, atau sms.

Setelah para penjual menyediakan saluran tersebut, kamu sebagai pembeli ada baiknya untuk melaporkan keluhan kamu secara komperhensif dengan bukti-bukti terlampir.

Screen Shot 2018-04-05 at 3.57.08 PM

Pertama, sebutkan nomor order kamu. Baru kemudian jelaskan apa yang jadi masalah kamu.

Enggak langsung tiba-tiba ngomel dan minta uang balik. Karena siapa tahu memang stok yang kamu beli kosong, atau ada kesalahan pengiriman. Misal terkait ojek online, jangan-jangan kebetulan handphone abangnya sedang mati saat ingin menjemput kamu.

Shit happens, dude. Intinya, fokus pada pelaporan masalah dan solusi ke depannya.

Kamu bisa langsung minta tanggal berapa penyelesaian masalah kamu beres agar tidak terlalu berlarut-larut. Jika diharuskan mengganti produk, lakukan. Jika tidak, tuntut refund.

Terakhir, Jangan Lupa Bayar!

Kalau yang ini sudah jelas ya.

Belanja online memang menyenangkan. Karena ada sebuah ilusi yang membuat kita dapat berlama-lama melihat suatu barang yang sudah diatur begitu cantik untuk kita miliki. Seperti yang Ibu saya bilang, tinggal klak-klik-klak-klik, barang tersebut sampai deh di tangan kita.

Begitu mudah, begitu cepat.

Tapi, sekali lagi, tahu tentang berbelanja online saja rasa-rasanya tidak cukup. Kamu juga harus menjadi si cerdas yang bisa mengoptimalkan peluang dan keuntungan yang ditawarkan oleh penjual online lewat promo-promo yang ada. Tapi, jangan lupakan juga keamananannya.

Duh, jangan sampai deh senyum di wajah kamu berubah masam saat barang yang sampai ke rumah bukan seperti yang kamu inginkan.

Ayo, jadi konsumen cedas di era digital!

Jadi, sudah belanja online apa saja hari ini?


Tulisan ini merupakan bagian dari keikutsertaan kompetisi lomba blog dalam memperingati Hari Konsumen Nasional.

Screen Shot 2018-04-04 at 4.48.21 PM

Menurut saya penting sekali kita semua sebagai konsumen dalam berbelanja online mengetahui apa saja yang menjadi hak kita untuk mendapatkan keadilan jika suatu waktu mengalami kejadian tidak enak dalam proses pasca pembelian tersebut.

Teman-teman semua dapat mengunjungi website http://harkonas.id/koncer.php untuk mempelajari dan mengetahui apa saja yang menjadi hak para konsumen.

Yakin Mau Beli Mobil Online?

banner-momobil-blog-competition

Seorang teman datang dengan muka cerah dan gembira. Ia bercerita ingin membeli mobil pertamanya lewat bonus tahunan kantornya.

Sebuah prestasi yang membanggakan, karena akhirnya ia dan keluarga kecilnya dapat memiliki sebuah kendaraan yang bisa membawa mereka pergi dengan nyaman dari Bogor ke Bekasi di tempat sang anak bisa bertemu Kakek dan Neneknya.

Namun mendadak raut muka cerah itu perlahan redup setelah ia mengetahui bahwa ada begitu banyak persyaratan dan uang ‘lain-lainnya’ yang tidak sedikit untuk ia keluarkan demi si mobil pertamanya.

Ada sedikit keurungan hatinya untuk membatalkan niat awalnya.

Namun sebelum ia terburu-buru membanting setir mimpi bahagianya untuk keluarga kecilnya. Saya segera mengeluarkan sebuah handphone kecil dan menyerahkannya padanya.

‘Untuk apa handphone kecil itu?’ tanyanya bingung.

Lalu dengan gesit saya langsung mengetik di mesin pencarian internet akan jenis mobil yang ingin ia miliki. Tidak berapala lama, ratusan artikel tentang mobil tersebut berhamburan di layar handphone kecil itu.

‘Beli online saja. Ga ribet!’ tawarku padanya.

‘Memang aman?’ tanyanya ragu.

‘Menurut artikel ini dijelaskan bahwa setidaknya ada 210 ribu unit mobil dan 250 ribu unit motor terjual tiap bulannya lewat perdagangan online. Jadi kenapa masih ragu?’ jawabku menenangkan.

‘Lalu, aku harus beli di mana?’ tanyanya mulai tertarik.

‘Tenang, ada momobil.id situs jual beli mobil online terpercaya! Jual beli mobil kini dapat dilakukan dengan mudah, aman, dan nyaman. Kamu hanya tinggal pilih jenis mobil yang kamu mau di website momobil, lalu lengkapi data diri kamu, dan tunggu konfirmasi dari pihak Momobil dan vice versa kamu bisa bawa pulang mobil yang kamu impikan. Jenis pembayarannya pun beragam. Kamu bisa melakukan cicilan tanpa terbebani. Keren kan?’

Mata teman saya pun kembali berbinar. Seolah menemukan kembali harapan untuk membawa pulang kebahagiaan pada keluarganya. Dengan aktivitas pembelian online tersebut ia tidak perlu takut kena tipu harga kemahalan dari para pedagang-pedagang mobil yang belum jelas keasliannya. Juga ia tidak perlu ragu akan kondisi kondisi mobil yang ia mau karena sudah melewati proses Quality Control yang mumpuni.

Dengan tergesa-gesa sang teman itu pun pamit pulang.

‘Mau ke mana?’ tanyaku heran.

‘Mau ke rumah pesan di sana.’

‘Lah ngapain? Pake saja laptopku dan kamu bisa tanya langsung dengan customer service momobil yang siap menjelaskan semuanya!’.

Ia memukul kepalanya pelan sambil tertawa. Ia lupa bahwa kini semua orang sudah terhubung dengan internet begitu gampang.

Tiada ragu, temanku langsung kembali ke dalam rumah dan mulai memilih mobil mana yang pas untuk ia pajang di garasi rumah dia nanti.

Betapa mudah hidup kini!

IMG_4957

 

Pengalaman Bersama BNI: Detail Yang Menggenapi Keindahan

Terkadang kita melupakan detail yang ternyata sangat esensial dalam sebuah sistem besar. Detail kecil itu justru malah melengkapi dan menyempurnakan sebuah pelayanan yang sudah seharusnya dijunjung tinggi oleh sebuah intitusi yang berhubungan dengan customernya secara langsung.

Ini cerita pengalaman bersama BNI saya.

Suatu hari di masa kuliah dulu di tahun dua ribu delapan silam, adalah hari di mana saya melihat detail yang tidak akan pernah saya lupakan. Mana ada yang menyangka bahwa saya akan belajar sesuatu yang sangat berharga dari mengantri berjam-jam yang cenderung membosankan dan bikin emosi.

Kala itu, di dalam sebuah bank BNI di sudut kampus tengah dikerubungi oleh banyak mahasiswa yang ingin membayar iuran kuliah semester mereka. Semua orang sibuk untuk segera keluar dari antrian dan ingin buru-buru menyelesaikan urusan mereka.

Penuh sesak para mahasiswa yang ingin membayar iuran kuliah menumpuk menjadi satu. Dalam satu bank BNI di kampus saya terdapat tiga Teller yang buka, dan diperkirakan ada sekitar ratusan orang mahasiswa yang mengantri. Tentu saja mereka semua sudah mengantri sedari pagi.

Tahu dong efek mengantri berjam-jam? Apalagi berdempetan dengan banyak mahasiswa muda yang susah diatur dan cenderung emosian itu? It was full of mess.

Ada satu orang laki-laki yang sepertinya mahasiswa baru menarik perhatian di tengah antrian itu. Dia seperti anak yang kehilangan induknya, tidak tahu harus melakukan apa dipadatnya antrian bank saat itu. Ia menatap bingung pada satu kertas yang ia pegang sedari tadi. Dari gelagatnya yang kikuk, sepertinya ia pun malu bertanya dengan orang-orang asing disekelilingnya.

Setelah dua jam berlalu, tiba pada nomor antrian laki-laki tersebut. Ia bergerak maju ke depan Teller dengan ragu-ragu. Lalu Mbak Teller yang ramah itu pun bertanya keperluannya. Dengan suara medok khas sunda, laki-laki itu menjawab ingin membayar uang semester keduanya. Tapi dia lupa di mana KTA (Kartu Tanda Mahasiswa) nya dan hari itu adalah hari terakhir pembayaran iuran semester kuliah.

Beberapa orang yang mendengar alasan si laki-laki tersebut ngedumel dengan ketus dan meminta si laki-laki itu untuk keluar antrian saja dan kembali ke jurusan untuk minta diurus di sana. Ada juga yang berteriak tidak sabar agar laki-laki tersebut segera menyelesaikan urusannya dengan cepat lalu keluar saja karena antrian masih panjang.

Dengan muka pucat karena malu didesak banyak orang dan juga urgensi untuk segera membayar iuran semester kuliahnya membuat laki-laki itu sedikit bergetar dan terbesit untuk keluar dari tempatnya berdiri.

Tapi, bukannya mendapat hardikan dan tatapan malas dari Teller yang sudah sedari pagi sudah bekerja dan melayani macam-macam mahasiswa yang pasti menyebalkan. Si Mbak Teller itu malah tersenyum ramah lalu menawarkan untuk membantu. Ia kemudian mengucapkan ke orang-orang dibelakang laki-laki malang itu dengan suara yang menenangkan dan tentu saja dengan sangat santun, “Mohon bersabar ya, kakak ini pun harus dibantu, kalian juga pasti akan mendapat kesempatan masing-masing. Mohon kerja samanya,” ujar Mbak Teller itu lalu menunjuk Satpam untuk memanggil seseorang.

Tidak berapa lama lalu muncul seseorang yang agaknya cukup senior yang membawa laki-laki tersebut ke ruangannya. Laki-laki itu dengan kaku mengucapkan maaf dan permisi pada Mbak Teller yang seperti Bidadari saat itu. Dan antrian pun kembali berjalan dengan damai.

Dari kejadian itu dapat dilihat bahwa :

1.Tidak seseorang atau pekerjaan apa pun yang tidak penting di dunia ini. Karena semua orang sama penting dan berharagnya dengan siapa pun.

2. Teller bank BNI sudah dilatih untuk memberikan pelayanan maksimal pada semua nasabahnya dan juga pemahaman akan pemberian solusi atas setiap masalah terhitung cepat dan strategis. Karena si laki-laki itu langsung mendapatkan bantuan tanpa harus Mbak Teller tersebut menunda pekerjaannya.

3. Bekerja, tidak hanya tentang terlihat baik di depan atasan, tapi bekerja harus dimulai dengan tindakan yang tulus dari hati untuk bisa bermanfaat ke banyak orang dengan ikhlas (bukan pekerjaan mudah loh tetap tersenyum sepanjang hari ke orang-orang asing).

4. Saya makin mantap untuk seterusnya menggunakan BNI sebagai penyimpanan uang saya ke depannya. Hingga sampai saya lulus kuliah dan sudah bekerja seperti sekarang.

Tidak ada yang mau mendapatkan musibah atau masalah dalam hidup mereka. Tidak ada yang mau mengalami bad day di hidup mereka. Dan dengan membantu orang lain yang kesulitan merupakan tindakan kecil yang tidak mengecilkan makna heroik di dalamnya.

Apa yang telah dilakukan Mbak Teller dan segenap sistem di bank BNI hari itu menunjukkan kualitas terbaik dari sebuah pelayanan perbankan di Indonesia. Karena detail kecil yang terkadang luput dari jangkauan hiruk pikuk banyak mata, malah merupakan pencerahan tersendiri yang akan memberikan bekas mendalam pada orang yang melihat dan mengalaminya.

Hari itu saya belajar, untuk nanti jika sudah bekerja nanti, saya harus bekerja dengan hati dan maksimal. Tanpa meremahkan siapapun atau hal kecil apa pun dalam setiap gesekan di hidup saya.

Karena saya, kamu, atau orang asing yang kebetulan lupa membawa kartu KTMnya adalah sama berharganya.

BNI
Kartu Debit & Kartu Kredit yang selalu menemani kehidupan perbankan dan sehari-hari saya
Screen Shot 2016-06-01 at 12.34.48 AM
Enter a caption

Tulisan ini diikutsertakan dalam #BNIBloogingCompetition70tahunBNI Untuk Info Lengkapnnya Bisa Kunjungi Langsung di : BNI Blogging Competition #70TahunBNI