Kamu dan Cerita Hari Liburmu

Akhir-akhir ini kamu tidak terlalu menyukai hari libur. Alasan awalnya karena; Pertama, kamu tidak bertemu dengannya lagi. Kedua, ternyata dia tidak terlalu berniat bertemu denganmu sering-sering. Ketiga, semua teman-temanmu sibuk dengan hidupnya dan agaknya mereka masih sebal denganmu. Keempat, kamu selalu merasa kesepian di kamar indekos sempitmu tiap kali hari libur datang.

Lalu, ketika beberapa minggu ini hubunganmu dengan orang itu kacau balau, kamu menambah satu lagi alasan kenapa kamu tidak menyukai hari libur. Kamu jadi lebih banyak memikirkan tentang bagaimana membuat hubunganmu dengan dirinya kembali baik-baik saja.

Tapi, beberapa hari terakhir kamu sudah berjanji untuk tidak mengulang kebodohan-kebodohan ini lagi.

Sudah jelas bahwa tidak ada harapan untuk dirimu. Tidak ada lagi ruang untuk menghabiskan waktu demi seseorang yang tidak lagi peduli padamu.

Jadi kamu pun bertekad untuk membuat hari libur di bulan ketiga tahun ini sebagai perayaan kembali pada hidup single mu yang mungkin membosankan tapi setidaknya sedikit lebih sehat secara mental.

Pertama, kamu memilih untuk bangun siang. Tabiat yang sudah lama tidak kamu lakukan sejak mengenal orang itu. Karena dia selalu bangun pagi dan kamu jadi terbiasa karenanya. Jadi, kamu pun kembali menjadi si malas dengan bangun siang. Jam dua belas tepatnya. Badanmu lebih rileks dan pikiranmu pun lebih enteng. Masih ada dua belas jam lagi di hari liburmu.

Kedua, kamu mencari lokasi tempat makan yang sangat kamu inginkan. Apalagi kalau bukan semangkok bakmi. Bakmi Bangka langganan di belakang Mol favorit menjadi tujuan makan siangmu.

Sesampainya di sana Cici dan Koko penjualnya menyapamu akrab. Ini kali kelima kamu berkunjung ke sana. Sebelum memesan kamu sudah diberitahu bahwa pangsit stoknya tengah habis. Maka kamu pun memesan bakmi dengan bakso. Yang dengan sangat baik hati mereka menambahkan satu butir bakso lagi dengan satu gelas minuman gratis. Bahkan mereka pun menawarkanmu nasi gratis juga. Tapi perutmu terasa penuh. Kamu pun menolak dengan halus seraya tersenyum.

Ketiga, setelah perut kenyang kamu menghubungi beberapa temanmu. Ich dan Wyn. Kebetulan semalam kamu gagal ngebir bersama. Namun sayang Ich sedang sibuk dengan pasangannya. Kamu akhirnya jalan bersama Wyn. Di sebuah coffee shop yang menjual kopi dengan harga yang terlalu mahal. Tapi tak apa. Kamu sedang tidak ingin sendirian pikirmu.

Selama beberapa jam kamu menghabiskan waktu dengan membaca beberapa artikel tentang Mercury Retrograde yang membuat dirimu sedikit panik. Karena dari sana kamu mengetahui bahwa zodiakmu, Aries, adalah bintang yang paling banyak terpengaruh atas fenomena kosmik ini.

Kamu akhirnya mencatat beberapa hal yang dianjurkan di internet ketika menghadapi Mercury Retrograde ini. Anyway, Mercury Retrograde adalah ….three or four times a year, Mercury passes the earth in its orbit. As it rounds the bend, Mercury slows down and appears to stop (station) and spin backward (retrograde). Of course, it really ISN’T moving backward, but much like two trains or cars passing each other, this creates the optical illusion that one (Mercury, in this case) is going backward.

In astrology, Mercury rules communication, travel, and technology—so all of these areas can go haywire for about three weeks. To top it off, Mercury retrograde also has what’s called a “shadow period”, so you may feel the #retroshade a couple weeks before and after the official Mercury retrograde dates. Great, right.

Dari internet pun menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang bersifat Re-Wind.

Try not to start anything new. Focus on activities that start with the prefix “re-,” which means to go back. Review all your contracts before you sign. Renew your commitments, rather than making new ones. Prepare to repeat yourself often. Reunite with old friends. Redecorate a room. Rekindle a romance.

That last one should be taken with caution. Mercury retrograde CAN bring back an old flame, but often it’s for the purpose of closure, not necessarily because this is the “one that got away.” Don’t be surprised if you get a Facebook friend request from someone you dated ages ago or a forgotten childhood friend. We’ve bumped into long-lost friends (and loves) on the street during Mercury retrograde. Strange times!

Ada dua hal yang terlintas di benakmu terkait hal ini. Kamu ingin melakukan hal-hal re-wind tersebut. Mengubungi orang-orang yang meninggalkanmu tanpa alasan dan tentu saja si orang itu. Dan seperti hal lainnya dalam hidupmu, kamu menyalahkan fenomena ini atas kesialan yang kamu alami selama lima bulan terakhir.

Namun, kamu pun berpikir kembali, untuk apa?

Tapi semalam dua orang teman secara khusus menghubungimu untuk memberitahukan hal ini.

Pertama seorang teman bernama Dina, dengan jelas pointing zodiak Ariesmu sebagai salah satu bintang yang terkena efek paling keras dari Mercury Retrograde ini. Dengan spesifik ia mengatakan bahwa kesialan ini adalah faktor alam. Sesuatu yang tidak bisa kamu lawan. Terbaik yang bisa dilakukan adalah berhati-hati, bersabar, dan mengurangi melakukan hal-hal bodoh yang biasa kamu lakukan kemarin-kemarin.

Kamu pun mengangguk setuju dengan sedikit ketakutan dari kamarmu. Telepon dari Dina pun kamu tutup karena tiba-tiba Rangga, salah satu teman hippiemu, mengubungimu seperti seorang cenayang.

Dia bertanya apakah kamu baik-baik saja?

Kamu merasa baik-baik saja namun tidak sepenuhnya baik-baik saja. Kamu hampa dan gamang. Kamu sedang kalah dan gagal. Tapi sudah terlanjur menerimanya. Jawabmu.

Lalu Rangga pun kemudian menjelaskan tentang lagi-lagi, Mercury Retrograde ini. Dan sekali lagi, ia menegaskan bahwa Aries, adalah bintang yang paling terasa dampaknya. Maka ia pun perlu merasa khawatir dengamu. Ia pun menambahkan bahwa selama 21 hari kamu harus lebih peka dengan tubuh dan lingkungan sekitar. Karena di masa-masa ini adalah masa di mana sekali membuat kesalahan, akan besar akibatnya.

Mendengarnya kamu pun jadi makin berhati-hati.

Lalu Rangga menutupnya dengan memberikanmu sebuah tes dengan menyuruhmu menutup mata untuk bermeditasi dan memberikan afirmasi positif.

Kamu tersentuh dengan sikap teman-temanmu.

Keempat, kamu pun kembali makan. Dengan Sushi dan KFC. Karena sedang ada promo. Dengan seratus ribu rupiah kamu sudah menikmati makanan senilai 200 ribu. Perutmu kenyang, hatimu pun terasa lebih bahagia.

Sesekali mungkin kamu masih ingin membicarakan tentang orang itu ke Wyn. Tapi, kamu tahu Wyn sudah bosan dan muak dengan cerita-cerita sedih dan bodohmu. Maka kamu pun memilih untuk lebih banyak mendengar dan bertanya. Menumbuhkan empati yang sudah lama tertutup keegoisanmu.

Kamu pun masih memiliki beberapa jam di hari liburmu. Menyisakan beberapa ruang untuk dirimu sendiri. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak kamu lakukan.

Memprioritaskan apa yang benar-benar kamu inginkan.

Menyapa kembali dirimu yang sempat kamu lupakan karena sesaknya obsesimu akan orang tersebut.

Di sebuah coffee shop kedua yang kamu datangi. Di tengah bisingnya musik aneh dari sebuah event yang kamu benci. Di keramaian yang tidak kamu kenal siapa pun di sana. Pelan-pelan kamu pun seperti merasakan dirimu kembali. Dalam sebuah episode kehidupan seorang single yang biasa-biasa saja cenderung membosankan namun kamu suka.

Keenam, baiknya kamu cepat-cepat berbaikan dengan teman-teman lamamu. Karena kamu merindukan mereka lebih dari merindukan si orang itu.

Selamat menikmati hari libur dan jangan lupa untuk terus menulis.

Karena dengan menulis kamu berkawan dengan keabadian dan perlahan melawan rasa sepi itu sendiri tanpa kamu bahkan sadari.

Advertisements

You’re Gonna Be Okay

Eventually.

Fase pertama ketika melepaskan sesuatu yang tadinya begitu berarti dalam hidup secara tiba-tiba pastilah marah.

Amarah menjadi satu dari sekian banyak emosi yang hadir dalam merepresentasikan kekecawaan dan rasa rindu tersebut.

Marah karena mengapa berakhir seperti ini.

Marah karena mengapa dia tidak berjuang dengan begitu hebatnya untuk mempertahankan dirimu.

Marah karena, betapa bodoh mengulang kesalahan yang sama terus menerus dan selalu berakhir seperti ini.

Tapi, pertanyaan berikutnya adalah, mau sampai kapan?

I mean, that is okay to have those emotions. You deserve to be angry.

Merelakan kehilangan bukan hal yang mudah untuk dilakoni. Tapi, pada akhirnya seluruh amarah itu akan terasa sia-sia jika terus menerus disimpan dan dijadikan amunisi untuk mendestruksi diri sendiri.

Jangan lah. Capek sendiri. Marah boleh, melukai diri sendiri jangan. Jadi apa yang harus dilakukan ketika marah?

Dari sebuah podcast saya mendengar bahwa ketika manusia dikelilingi oleh perasaan marah dan emosi berlebih, bergerak menjadi salah satu cara untuk merelease-nya. Olahraga bisa sih. Tapi kalau malas berkeringat, keliling jalanan sambil nangis-nangis dengan kendaraan bisa jadi solusi. Pokoknya pas sampai kamar badan sudah letih dan ketiduran.

Fase berikutnya setelah dealing with anger and everything adalah fase denial dan mencoba untuk merekonsiliasi. Ini bentuk mundur karena dorongan untuk kembali menyapa orang tersebut besar sekali. Ini fase yang berbahaya. Karena jangan sampai harga diri kamu tercecer begitu saja hanya karena satu ‘hai’ saja. Jangan sampai progres kamu mundur karena rasa rindu dan keragu-raguan sesaat.

Siapkan pertahanan terbaikmu, kesadaran barumu, bahwa dengan tetap berada di titik ini, menolak untuk merekonsiliasi dan mempertanyakan kembali hubungan kamu, adalah hal terbaik yang kamu punya.

Karena, beberapa cerita mungkin membutuhkan beberapa drama untuk membuatnya tetap menarik. Mungkin di ceritamu adalah pilihanmu itu sendiri.

Tapi, ya kalau menurut kamu semuanya bisa diselesaikan dengan orang tersebut. Ya, monggo. Misalkan sudah mentok banget, ya coba cari distraksi lain saja. Coba hubungi keluarga, rekonek dengan orang-orang lama, atau bahkan masuk ke komunitas baru. Bukan hanya untuk berusaha menghalau urgensi ketika isi kepalamu dipenuhi hanya dengan orang tersebut saja ya. Tapi, ya jangan-jangan kamu memang sudah lama saja tidak bertemu teman-teman kamu atau membuat teman-teman baru.

Terakhir, fase yang paling sialan adalah terbiasa dengan itu semua.

Terbiasa dengan rasa sakit yang telah menggerogoti namun pada akhirnya sudah menjadi bagian dalam keseharianmu. Akhirnya ketika melihat orang tersebut bahagia dengan orang lain dan tidak membutuhkanmu lagi kamu juga sudah terbiasa dengan hal tersebut. Tidak dengan rasa marah, tidak juga dengan rasa kecewa.

Dari situ saya juga berfikir, jangan-jangan perasaan ikhlas itu bukan hanya tentang berdamai dengan diri sendiri saja. Bisa jadi karena sudah terbiasa saja, dan akhirnya luka dan kekecawaan yang sedari kemarin mendongkol jadi bias sendiri. Inner peace mungkin hanya sebuah ilusi yang diglorifikasi agar mereka-mereka yang tersesat seperti melihat ujung perjalanannya.

Padahal kan enggak semua orang bisa survive dengan metode tersebut. Mungkin ada beberapa orang yang memang; “ya sudahlah saya loser dan terpaksa untuk bangun lagi dan mencoba lagi sambai ribuan hari sampai akhirnya sadar sudah bertahan sejauh ini.”

Dikasih tau pahitnya seperti itu juga enggak apa-apa sih sebenarnya. Hehe. Jalan untuk rileks dan tidak drama dalam hidup pasti panjang dan sulit tapi kan tidak ada yang tidak mungkin. Tergantung kita mau atau enggaknya.

Saya enggak janji kamu bisa dengan mudah bisa selesai dengan semua rasa kecewa kamu ya. Tapi setidaknya dalam prosesnya, dalam masa silent kamu, dalam masa kecewanya kamu, kamu bisa menemukan diri kamu lagi. Kamu bisa menemukan alasan untuk mencintai diri kamu ternyata jauh lebih penting dibanding mengejar-ngejar dan mempertanyakan kepergian orang tersebut. Itu yang terpenting sih. Jangan kebanyakan galau dan sakit hati. Enggak enak.

Jadi, selamat menikmati fase-fase itu semua ya! Kamu enggak sendirian. Sudah itu aja yang perlu kamu tahu.

Dari Rental CD Sampai ke Jennifer Lopez

Untuk seorang anak yang tinggal dan tumbuh di daerah nanggung bernama Cibinong dan enggak punya cukup uang jajan, akses untuk mendapatkan hiburan itu terasa lumayan sulit dan kalau pun tersedia itu juga harus menempuh jarak yang lumayan banget.

Dulu saat masih SMA di tahun 2005 sampai 2008, hasrat untuk menonton film dan nonton konser itu lagi tinggi-tingginya. Meski saat itu media sosial baru mentok di Friendster dan IMRC dan belum bisa pamer apa-apa karena handphone juga masih poliponik. Tapi ya umur-umur segitu ya kan, rasanya pengen mingle dan tampil aja.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.50.17
Modal update lagu-lagu terkini karena ada fitur radionya. Dulu berasa asik sendiri aja karena sok bisa denger radio sambil jalan ke mana-mana.

Tingginya keinginan gue pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk pergi nonton Pensi kudu banget ke Jakarta. Dulu tuh berasa jutaan kilo jauhnya kalau mau ke Jakarta plus gue engga tau jalan. Kalau maksain, nyasar yang ada.

Dan kalau mau nonton ke bioskop harus pergi ke Bogor Kota yang mana trayek angkotnya dari Cibinong mentok cuma sampai di Jambu Dua aja. Jadilah jarak menjadi tantangan dan hambatan buat gue.

Mohon maap, harap dicatat bahwa di tahun tersebut masih belum ada ojek online. Transportasi yang ada cuma angkot dan bus yang wasalam banget deh. Tapi demi gaya dan up to date, dipaksa-paksain aja dong ke Bogor naik angkot berkali-kali cuma buat lihat ciuman Shandy Aulia sama Samuel Rizal di film Apa Artinya Cinta.

Pilihan bioskop di Bogor saat itu mulai dari bisokop Galaksi (Tajur), Mall Elos aka Eka Lokasari (Sukasari) dan Dewi Sartika (Biasa disebut DS, lokasi di Pasar Anyar). Atau kalau mau jauhan dikit dan harga tiket lebih murah bisa ke daerah Depok, yang kalau enggak salah dulu cuma ada di Detos (Depok Town Square).

Berarti untuk sampai ke bioskop dari Cibinong gue harus ngelanjutin perjalanan berikutnya dari Jambu Dua naik angkot trayek baru lagi.

Nungguin lagi deh abangnya ngetem. Duh, kebayang kan tuh berapa tahun cahaya yang harus dihabiskan demi nyampe ke bioskop.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.30.19
Angkot “SEXY” (angkot yang ada tempelan stiker sexy) adalah angkot andalan, karena komplit ada sound sytem dan lebih bersih. Favorit deh.

Makanya asli gue suka gedeg banget kalau ke bioskop terus film yang ditonton tuh jelek. Duh, KZL.

Soalnya coy pengorbanan gue buat nonton ngabisin waktu perjalanan dua-tiga jam di jalan aja neh. Belum lagi ada bonus adegan nyium semriwing wewangian ketek orang-orang yang beradu di hidung.

Udah deh bubar jalan semua kekecean modal minyak wangi gatsby yang disemprot sana sini. Semua berubah jadi paduan keringet matahari dan besi angkot.

Tapi gue percaya Tuhan enggak bakal ngasih ujian ke umat yang enggak bisa mereka jalani. Lalu gue bertemanlah dengan Jeje, dari doi gue diberikan solusi praktis untuk memenuhi tingginya kebutuhan gue menonton film.

Yaitu dengan menyewa film ke rental CD. Saat itu di Cibinong ada dua tempat rental CD film.

Anyway, jadi life before internet, netflix, torrent dan Indo xxi merajarela seperti sekarang yang membuat nonton film jadi gampang banget. Rental film itu dulu semacam getaway buat nikmatin film dari yang jadul sampai yang terbaru (hitungan terbarunya adalah setelah 3 bulan film itu turun layar di bioskop) dalam bentuk CD.

Di daerah Cikaret ada yang namanya Aster Disc. Dia bangunannya ruko dua lantai dan pilihan filmnya lebih yang artsy dan kebanyakan adalah pemenang-pemenang Oscar gitu. Terus ada Ultra Disc, lokasinya deket SMA gue dulu di daerah Ciriung. Film-film di Ultra Disc lebih up to date dari Aster Disc.

 

Jadi, enggak perlu lagi deh jalan jauh-jauh ke Bogor atau Depok. Akhirnya buat nonton film gue cukup ke Cikaret atau Ciriung (yang mana cuma 10 menit naik motor), di sana ada ratusan judul film yang udah menanti buat disewa.

Nah dari history film-film yang gue pinjem, lama kelamaan kebentuk interest genre film yang gue suka. Yaitu di romantic comedy. Kisah-kisah unyu ala-ala FTV yang ceritanya berfokus pada percintaan cewek dan cowok yang enggak sengaja ketemu lewat adegan ketabrak dan akhirnya mereka kenalan deh, turns out salah satu dari mereka tajir. Ada bumby drama sana sini tapi pada akhirnya mereka live happily ever after.

Saat itu cerita-cerita macem gitu merupakan hiburan yang menyenangkan buat sobat miskin macem gue buat ngayal babu.

Yang menarik lagi dari rental-rental film itu, penjaganya tau banget soal film. Dari Mbaknya gue akhirnya bisa berkenalan dengan film-film Jennifer Lopez. Si seksi yang hitz banget di MTV saat itu lewat lagu If You Had My Love, Love Don’t Cost a Thing, dan No Me Ames ternyata punya film-film yang asik buat ditonton.

Akting Jennifer Lopez yang selow tapi asik dan cerita filmnya yang udahlah enggak usah didebat banget, karena yang memang too good to be true. Bisa banget ditonton di malam minggu kelabu buat jadi obat haha hihi ber-aw aw romantis ringan baik sendiri atau nonton bersama sobat-sobat jomblo lainnya.

Berikut gue buat daftar lima film doi yang paling asoy:

1. Maid in Manhattan (2002)

Ini ceritanya udah halu banget. Pegawai hotel yang akhirnya pacaran sama tamu tajirnya. Ya bukannya enggak mungkin, tapi peluang untuk terjadi di dunia nyata kan kecil ya.

Tapi di antara semua film romantic comedy Jennifer Lopez, ini yang paling gue suka. Mulai dari soundtracknya yang kacau enak-enak banget, sukses mengisi mood film dari yang happy sampai ke sedih. Terus duet akting Jennifer Lopez dan si Voldemort berasa nyata banget.

Asli, sedih beneran gue pas si Jennifer Lopez ketawan ngebohong dan galau di kereta pas pulang kerja.

Mana ditambah ada lagu Norah Jones, don’t know why diputer, ibarat luka udah perih dipeperin jeruk nipis. Nyes…… perih tsay.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.12.43 AM

Jennifer Lopez di film ini super cantik banget dengan balutan gaun nudenya. Effortless aja bentukannya. Pokoknya dia jago banget deh meng-embody peran-peran perempuan susah yang bisa dikasihani penonton dan digebet orang-orang kaya. Macem gold digger tapi lebih alus gitu mainnya.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.05 AM

Ya tapi mohon maap ya, Jennifer Lopez enggak didandanin juga tetep cantik aja tuh.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.35.21 AM

2. The Wedding Planner (2001)

Nah, kalau film yang ini lebih ngeselin lagi. Premisnya tentang wedding planner yang akhirnya nikah sama suami kliennya.

Lah brengsek banget kan ya.

Tapi ya enggak dibuat ala-ala pelakor gitu. Doi berdua ketemu sebelum si cowok tau kalau si Jennifer Lopez adalah wedding planner pernikahan doi.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.50 AM

Untuk segi cerita, film ini paling lambat pergerakannya, enggak sedinamis dan semenarik film-film romantic comedy Jennifer Lopez lainnya. Tapi akting-akting aktor yang ada di sini juara semua.

Adegan meet cute atau ketemuan antara Jennifer Lopez dan Matthew McConaughey cukup halu sih. Di situ digambarin Jennifer Lopez lebih milih sepatu Gucci barunya dibanding nyawanya. Untung banget kan di sana ada dokter tulang yang ganteng yang bantu doi.

What a coincidence.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.16.06 AM

3. Monster in Law (2005)

Nah menurut gue di antara semua film Jennifer Lopez yang gue tonton, film Monster in Law itu paling kocak. Asli seru abis ngeliat perang dingin antara mertua dan menatu yang dimainkan begitu apik oleh Jane Fonda.

Seru banget ini filmnya. Meski romantisnya cuma tempelan aja ya. Karena karakter cowoknya kayak enggak penting gitu. Cuma hadir sekali dua kali. Yang bikin seru film ini ya kegilaan mertuanya yang lagi krisis kehidupan yang udah enggak laku di pertelevisian dan harus menghadapi anak kesayangannya mau nikah sama perempuan muda yang pekerjaannya cuma penjaga anjing.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.29 AM

Terus ngana tau Jennifer Lopez sama cowoknya ketemuannya gimana?

Enggak sengaja ngeliat di pantai terus tabrakan di Starbucks. Terus abis itu mereka jadi sering ketemuan secara enggak sengaja gitu.

Life is so easy ya?

Screen Shot 2018-07-23 at 16.11.02.png

4. Shall We Dance? (2004)

Film yang diadaptasi dari film Jepang dengan judul yang sama, Shall We Dance adalah sebuah film yang manis banget. Meski karakter Jennifer Lopez dan Richard Gere tidak berakhir jadian (yang mana membuat film ini lebih manis lagi) tapi cerita di film ini disampaikan dengan lebih matang dan seksi.

Kombinasi kegundahan pria paruh baya dan kekuatan karakter Jennifer Lopez yang dimunculkan lewat gerakan dance doi yang gokil banget bikin elo akan tersedot dan berdoa buat mereka agar menang di dance competition yang mereka incar.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.00 AM

5. The Back Up Plan (2010)

Kalau film yang ini udah di era download. Tapi tetap gue masukin karena ceritanya memang kocak banget. Meski lagi-lagi, jangan terlalu serius untuk memasukan logika pada setiap adegan di film ini. Karena balik lagi ya filmnya enak buat halu-haluan aja.

Jennifer Lopez yang sedang hamil di film ini digambarkan dengan begitu kocak karena dia harus mengalami fase naik turun hormon yang bikin sekuens-sekuens di film The Back Up Plan jadi lucu banget.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.18.39 AM

Memang sih film dengan genre romantic comedy itu terkadang formulanya hit and miss. Tapi di kelima film Jennifer Lopez yang ini doi aktingnya enggak asal dan ngotot pengen tampil bagus sendirian. Doi bisa ngeblend banget sama aktor-aktor yang lain. Tektoknya dapet.

Kebayang sih mungkin pas dari awal si Jennifer Lopez udah di brief sama sutradaranya buat pembawaannya lebih asik dan lovable. Karena toh memang film doi bukan buat Oscar material. Tapi ngejar dapet penonton banyak. Dan tanpa diragukan lagi Jennifer Lopez bisa ngasih itu semua dengan begitu baik.

Selamat menonton!

 

Perjalanan Membaca Novel Aroma Karsa (Mungkin Spoiler Sedikit)

Sebelum menulis postingan blog ini, secara personal aku sudah meminta izin ke Mak Suri aka Dewi Lestari, duluan lho!

dee

*Sok akrab, dasar caper!*

Jadi, di suatu hari yang biasa-biasa saja saat tagihan kartu kredit masih belum lunas, juga berat badan yang enggak mau turun-turun, dan percintaan yang masih sekering sepuluh tahun yang lalu.

Tepatnya sepuluh detik setelah selesai kepoin kehidupan si doi di Instagram yang sudah happy dengan orang lain, dan setelah bergumam kasar dalam hati (panjang banget intronya, mohon maaf), aku melihat satu postingan yang membuat hatiku gemetar persis seperti nama acara deterjen saat aku kecil dulu.

DAG-DIG-DUG-DER (Enggak Pakai Daia ya, saya tim Rinso).

Repeat after me, DEWI FUCKING LESTARI MAU NERBITIN BUKU BARU!

YASZ, BITCH!

BUKU BARU!

Happy-dance

Buku baru tersebut berjudul: Aroma Karsa.

Lalu dengan kegigihan yang tinggi sama seperti saat ngepoin si doi waktu pertama kali, aku buka seluruh akses jejaring media sosial yang ada di muka bumi ini untuk mencari tahu bagaimana mendapatkan buku tersebut.

Kemudian setelah dengan khidmat membaca persyaratannya, dan beberapa jam menonton satu dua episode Orange is The New Black, ternyata baru aku sadari langkah-langkahnya bukan main ribetnya pemirsa yang budimen. Terlebih operasional websitenya masih sering down.

Yang paling bikin kejang-kejang gemes adalah, Dewi Lestari berencana menerbitkan buku terbarunya ini melalui versi digital dalam bentuk cerbung (cerita bersambung) pula.

Dalam hati aku ngebatin, APA-APAAN INI? CUKUP SUDAH DIGANTUNG SAMA SI DOI MASA IYA HARUS DIGANTUNGIN DEWI LESTARI JUGA? MANEH MASOKIS HAH?

meme-Qasidah-4

Tapi, tidak sampai lima menit berfikir aku tetap mengklik enter dan submit uang 77 ribu untuk menjadi bagian dari orang-orang pertama yang akan membaca buku Dewi Lestari ini. Bhihihik.

here-just-take

#anaknyalemah atau entah memang #masokissejati ~~~ ku sudah tidak dapat membedakannya akhir-akhir ini.

Lanjut! (kebanyakan curhat nyelipnya nih penulisnya)

Maka setelah melewati drama; kok aku mau submit ga bisa kak? kok aku ga dapet email konfirmasi? kok aku ga dimasukin grup di Facebook? kok si dia makin dingin sikapnya ke aku? kok….. dan banyak kok yang lain.

Aku resmi menjadi bagian dari Tribe Aroma Karsa di Facebook.

Screen Shot 2018-02-05 at 6.54.28 PM

HAHAHAHA MEMANG ENAK KALIAN GA IKUT GRUP KECE INI!

Happy_gif

Aku kasih tau ya kenapa ikut Tribe Aroma Karsa Dewi Lestari merupakan hal terbaik di hidupku sepanjang 2018 ini:

  • Misi Dewi Lestari untuk menghidupkan kembali greget dan nuansa bercerita lewat cerita bersambung seperti masa mudanya dulu ternyata berhasil. Saya dan enam ratus orang lainnya yang tergabung di grup Facebook tersebut jadi uring-uringan menunggu hari Senin dan Kamis. Wah, kacau deh! Di setiap part cerita, pasti Dewi Lestari motong ceritanya pas klimaks-klimaksnya dan bikin kita yang baca penasaran banget. Ibaratnya nih, ditinggalin pacar yang lagi-lagi sayangnya tanpa alasan. Bikin penasaran banget kan?

tenor (1)

*aku Aries yang sensitif, sok kuat padahal anaknya gampang cry cry*

  • Terus, ruang interaksi di grup Facebook Aroma Karsa benar-benar kemewahan tersendiri. Karena di sana saya dan teman-teman yang lain bisa ngobrol LANGSUNG dengan DEWI LESTARI. GILE, SETIAP KOMEN DIBALAS BELIAU DENGAN TULUS! Enggak terbayang harga berapa yang bisa menggambarkan pengalaman tersebut! Aku loh si sobat miskin ranting Cibinong bisa ngobrol sama penulis Idolaku dari zaman SMP dulu.

tenor

  • Orang-orang di grupnya juga seru-seru. Mereka masing-masing asik dan ngotot sendiri dengan memberikan reaksi mereka tiap kali selesai membaca part demi part yang dikirim tiap Senin dan Kamis. Topik yang paling laku adalah mengkhayal siapa saja aktor yang cocok untuk memerankan karakter-karakter di novel Aroma Karsa. Udah deh, bisa debat macem Pilkada Jakarta taun lalu. Haha.
  • Yang paling kocak lagi, setiap part cerita berkisar sekitar 50-60 halaman. Sering banget aku dan teman-teman abuse scroll ke bawah berharap akan ada halaman tambahan. Yang mana tentu saja itu enggak ada. Memang kamu pikir di hidup ini semua hal yang kamu inginkan bisa kamu miliki, Mantili?

Dan yang paling ngeselin adalah tiap kali Dewi Lestari dan suaminya teasing kami saat jeda panjang menunggu Senin dan Kamis. Mereka kode-kodean aja gitu dengan kasualnya.

Teh Dewi dan Mas Reza yang kalian lakukan itu…..

Screen Shot 2018-02-05 at 7.07.59 PM

Kalian pasti penasaran kan Aroma Karsa itu tentang apa?

Jadi in general, kisah Aroma Karsa mengenai petualangan mencari bebauan terbaik di dunia ini. Karena ceritanya masih on going, jadi belum terlihat sebenarnya gerakan narasinya mau dibawa ke mana. Tapi yang jelas, bukan Dewi Lestari namanya jika tidak melahirkan karakter-karakter yang dapat mengikat para pembacanya.

Bahkan dari paragraf pertama Aroma Karsa, Dewi Lestari menyihir para pembacanya masuk ke dalam semesta penuh misteri sebuah keluarga elit yang hanya dibagi berdasarkan misi rahasia.

Ada Jati dan Sumu yang menjadi Idola para kaum halu di Grup. Mereka tuh…. ah rahasia ah. Hahaha.

Makanya ikut PO-nya gelombang ke dua saja untuk ikut Tribe Aroma Karsa.

Screen Shot 2018-02-05 at 7.16.16 PM

Kurang lebih katanya akan ada 18 part dari Aroma Karsa ini, saat tulisan ini dinaikkan aku lagi baca part yang ke-6. Masih belum ketinggalan banyak kok!

Maka teman-teman sejawat sekalian yang sudah tergabung di grup gelombang pertama, ada baiknya kita rapatkan barisan, berpegangan tangan erat dan masing-masing saling menguatkan diri selama menjadi #PejuangSeninKamis!

DSW3bcKVQAAFNq4

Kurang lebih pengalaman seperti itu yang bisa aku ceritakan saat mengikuti Tribe Aroma Karsa. Membuat hari Senin dan Kamis aku menjadi lebih seru dan juga menjadi kecut penasaran lewat kekuatan bercerita Dewi Lestari.

Sampai berjumpa di grup Aroma Karsa!

Mari membaui cerita selanjutnya bersama-sama!

Anyway, ini Jati dan Suma versi aku:

jati suma

27

happy_birthday

Hari ini saya berulang tahun. Ke dua puluh tujuh. Angka yang menarik. Karena saya selalu menganggap diri saya akan selalu terjebak pada angka dua puluhan awal dan tidak akan bergerak ke mana-mana, karena I don’t know, I feel forever young (masih tinggal dengan orang tua, lajang, tanpa tanggung jawab pada apa pun selain diri sendri dan belum pernah mencuci dan menggosok baju sendiri. I know, malu-maluin banget).

Lalu menuju pergantian umur, yang saya lakukan ternyata bukan membuat daftar doa dan keinginan yang belum tercapai seperti saat tahun-tahun sebelumnya, melainkan dengan seksama saya membuat daftar restoran mana yang memberikan makanan gratis untuk promo ulang tahun.

Yeah, right, food before everything.

Banyak perubahan dalam hidup, saya banyak belajar, namun terkadang masih sering banyak buat salah sih. Tapi ya sudahlah, namanya juga hidup. Enggak ada yang sempurna. Cuma Dian Sastro dan Habib Rizieq yang bisa jadi sempurna.

Tapi, entahlah, ulang tahun ke dua puluh tujuh tahun saya masih sama seperti ulang tahun ulang tahun saya sebelumnya. Saya melewati dan merayakannya sendirian. Hanya beberapa orang (yang mana dua orang saja; Wulan dan Dita) yang notice bahwa saya berulang tahun dan agaknya mereka berfikir perlu untuk mengucapkan selamat pada saya.

Jika dulu saya masih memiliki teman-teman terdekat yang masih rela meluangkan waktunya untuk sekadar menelfon dan menghanturkan doa. Sekarang saya harus terima mereka sedang tertidur lelap dengan suami di samping mereka saat jam dua belas malam berganti.

Semuanya berubah dan saya makin berkompromi dengan itu semua. Terutama pada kenyataan-kenyataan bahwa; bumi itu bulat dan tidak akan menjadi datar selain jika kiamat datang; sushi masih makanan terenak; dan serial Friends itu lucu banget. (Dan, yeah, harus lunasin tagihan kartu kredit tahun ini).

Tapi selebihnya ya saya senang-senang aja sih dengan apa yang saya punya sekarang. Dulu saya selalu berdoa untuk hal-hal yang saya miliki saat ini. Dan setelah ada, sudah seharusnya tugas saya mensyukurinya. Bukan lagi banyak meminta. Karena jika terus meminta, takutnya saya tidak pernah sadar dengan apa yang sudah saya raih dengan berdarah-darah. (Beneran, saya beberapa tahun terakhir kena ambien, feses saya berdarah, literally).

Saya juga sudah mulai enjoy dengan pekerjaan saya yang sekarang, yang selalu makan siang sendirian dan enggak pernah ngomong itu. Hampir setahun dan saya makin nunggu-nunggu kapan THR ditransfer ke rekening saya.

Mimpi saya pun jadi enggak muluk-muluk seperti tahun kemarin, at least saya sudah mencoba. Dan, yeah, gagal semua. Kurus enggak, jadi vlogger enggak, bikin youtube channel barengan juga gagal, nulis novel enggak jalan-jalan. Auk ah!

Tapi, saya langganan fitnes lagi sih, terus masih suka nulis-nulis outline novel, tapi kalau buat vlog dan sebangsanya sih memang sudah enggak ada harapan ya.

Dunia romansa saya pun masih kering aja, tidak seperti tahun lalu, masih ada si eye candy. Tahun ini total saya cuma berkomitmen dengan facebook dashboard, excel report, netflix dan makanan.

Tapi, yeah, saya masih beruntung toh, masih diberikan sehat jasmani dan rezeki sama Yang Maha Esa. Semua keluarga masih lengkap, masih ada rumah yang nyaman untuk ditiduri, kerjaan yang masih bisa buat bantu-bantu sekolah adik, dan kelengkapan organ tubuh yang lain.

Seharusnya itu lebih dari cukup.

Mungkin dua puluh tujuh dalam hidup saya adalah tentang duduk tenang dan diam sejenak, lalu mensyukuri yang masih bertahan dan setia di hidup saya.

Now, let me spend my time wisely with my books, tv series and foods.

Then, I think I’m just doing fine with my life.