2 AM Thought

When your mind speak louder and you cannot sleep then you become ‘sok filosofis’. #padahalbesokkerjapagi

Ada banyak momen di penguhujung tahun ini yang ngebuat gue agaknya seperti diam sejenak, lalu tertawa pahit. Men, I’m old.

Tahun 2017 ini gue akan berumur 27 tahun.

Angka keramat yang kalo di film 3 hari untuk selamanya, si Yusuf bilang adalah umur di mana seluruh semesta elo diobok-obok terus elo muntah dan diliatin deh tuh apa aja yg udah dilaluin sepanjang 27 tahun itu.

For some people pasti ada yg nyeletuk; ‘yaelah masih muda kali baru 27’ atau ‘sudah tua loh elo harus udah serius, nikah gih’.

Asli, bawaannya pengen gue toyor orang-orang macem gitu. Bukan hanya karena mereka sok tahu, mereka juga dengan enaknya mengenerelisasi hanya berdasarkan opini tunggal dari pengalaman mereka aja. Coy, ngane siapa berhak nentuin nasib orang?

For me, gue percaya hidup yang cuma sekali ini layak banget untuk diapresiasi. Untuk dijalankan to the fullest dan semoga berguna bagi orang lain.

Gue bangga sekaligus sedih dengan apa yg orang tua gue udah kasih ke gue. Mereka bekerja begitu keras agar anak-anaknya sekolah dan bisa makan layak. Tapi semua itu harus mereka bayar mahal dengan ngorbanin mimpi dan kebahagiaan mereka sendiri.

Mungkin orang tua gue tidak mengenal konsep YOLO seperti milenial sekarang. Orang tua gue berpedoman; biar susah sekarang tapi anak jangan sampai seperti mereka. Itu yang membuat mereka bangun tiap paginya meskipun badan mereka sudah ringsek karena capek kerja.

Ditambah lagi mereka juga harus memendam hasrat hidup mereka. Menertawakan mimpi lama mereka yg terasa tak masuk akal. Dan menjalani hari hanya untuk orang lain. Bukan diri mereka sendiri.

Apa yg mereka lakukan adalah hal yg mulia banget.

Tapi, sejujurnya gue enggak mau hidup seperti itu. Gue enggak mau hidup untuk orang lain.

I have a dream and I want to make it happen. Some people will call me selfish. Tapi buat gue, ini adalah alasan utama mengapa gue hidup. I want to make a change. Gue mau berkarya. Meskipun akan butuh waktu lama untuk sampai di titik sana. Tapi gue enggak akan menyerah.

Saat elo bilang gagasan itu semua ke khalayak umum. Yang elo dapet pasti cemooh dan terkadang penghakiman. Ini yang agaknya kurang gue suka dengan konsep sosial di masyarakat saat ini yg sangat memenjarakan hak privat seseorang dan tidak mendukung kesetaraan hak pribadi. I mean if they want to be “mentingin karir dibanding yg lain” just let them be. Enggak perlu usil dengan hal-hal yg memberatkan. Hidup orang udah susah. Kalo ga bisa bantu, minimal jangan bikin pusing.

Terlepas dari permasalahan sosial, masalah dalam hidup juga kerap kali muncul dalam diri sendiri. Dalam bentuk ego, nafsu konsumtif, rasa malas dan kekosongan diri.

Bagaimana mau berkomitmen, jika membuat bahagia diri sendiri saja enggak bisa.

Beratnya hidup di norma masyarakat, hausnya pengakuan dari orang lain, dan terjerat akan ego sendiri sepertinya masalah yang harus diputus di 2017 ini. Karena saat gue membuat projection keuangan selama setahun. Gue tertawa pilu. Melihat deretan angka yg harus dicari, dikeluarkan, disimpan. Gua takjub dengan kondisi bahwa angka-angka ini yang mewakili gue. Ini adalah track record atas pilihan-pilihan gue. Tenyata gue sendiri terjebak atas standar ini.

Ini salah siapa? Ya salah gue sendiri. Karena terlalu lama berkutat dengan definisi-defisini orang lain yang enggak sesuai dengan tujuan awal gue.

Dan gue ingin menyudahi itu semua. Gue ingin terlepas dari ego untuk terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Ingin tampil lebih di mata orang lain. Gue tidak mau lagi hidup atas dasar definisi itu. I don’t need to impress anyone anymore, or buying stuff that just to makes me feel belong to some click or something. Nope. I’m done with that.

Jika hidup diibaratkan seperti traveling. Elo semua bisa liat, ada banyak orang yg sampai mati akan mengkotak-kotakan; elo tim backpacker, elo tim koper, elo tim apalah. Padahal ya, yaudah aja. Jalan-jalan ya buat nyenengin diri sendiri. Bukan terperangkap pada struktur yg dibuat orang lain. Elo harus coba ini, elo harus bawa ini, elo ga boleh ini, etc. Elo fokus pada teknis dan melupakan substansi kesenangan traveling itu sendiri.

Karena pada akhirnya, inti dari sebuah perjalanan buat gue adalah tentang pengalamannya, tentang prosesnya. Mau kemanapun destinasinya. We can learn from anywhere.

Begitu pun juga hidup. Setidaknya buat gue.

Pahitnya Kolom Komentar

d54ab10f6ef5d9b8f8b209386f0effdd4ac9364f_hq.gif

Untuk saya yang bekerja di dunia digital, khususnya di social media. Bukan lagi hal asing untuk menghabiskan waktu berjam-jam mengamati tren terkini di berbagai kanal media sosial. Penting untuk saya mengikuti perkembangan demi perkembangan akan suatu berita maupun kasus yang akhirnya diperbincangkan oleh banyak orang, yang kini kemudian disebut viral dan berakhir menjadi suatu meme. Kebanyakan lucu, tapi sekarang sudah agak berkurang lucunya.

Menarik sekali bahwa media sosial yang tadinya berfungsi untuk pelarian dari kehidupan nyata. Untuk sekadar bersenang-senang; seperti sarana berkomunikasi dengan teman yang sudah lama tak bertemu, tempat rentetan update status akan curahan hati terkini, juga praktik baru dalam berbagi album foto-foto liburan dengan tagging massal, atau sekadar untuk berjualan handphone dan baju. Mendadak berevolusi menjadi arena untuk menyebar hate speech dan hoax (berita tidak benar).

Mengapa kita semua sampai di titik ini?

Saya tidak punya teori khusus, secara bebas saya pribadi berhipotesa bahwasanya fenomena ini terjadi karena pada dasarnya people love attention. Pun media sosial hadir atas dasar itu.

Karena di media sosial kita dapat mengukur secara langsung respon dan sentimen seseorang akan berita/kabar tertentu dengan cepat. Sekali posting, dalam detik berikutnya kita dapat mengetahui siapa saja yang menyukai posting tersebut. Orang berkomentar apa, dan sebagainya.

Itu sebabnya media sosial membuat orang haus dan berlomba-lomba mendapatkan like, share, dan komentar dari banyak orang. Popularitas semu itulah yang mendorong impian terpendam seseorang menjadi selebritas bisalah kini tersalurkan di media sosial. Dalam dunia media sosial, orang bebas untuk menjadi apa pun.

Kebebasan itulah yang terkadang membuat media sosial menjadi tidak terfilter. Pola yang terdahulu di mana seseorang mencari berita/kabar terkini, sekarang berganti menjadi berita/kabar yang mendatangi seseorang. Pada akhirnya kita mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita tau.

Di sanalah, ranah publik dan privat menjadi bias, bahkan cenderung hilang.

Karena orang-orang berfikir yang sudah ada di linimasa adalah sesuatu yang bersifat umum. Fenomena itu yang kini membuat kolom komentar menjadi ladang bebas kebanyakan orang yang merasa ‘memiliki hak’ berpendapat akan apa pun yang muncul di lini masa mereka. Orang-orang di media sosial kini tak lagi menghargai privasi seseorang, dalam bentuk apa pun.

Kolom komentar saat ini kebanyakan disesaki oleh  keganasan, kebengisan, dan kebebalan dari kepribadian seseorang dalam bentuk kata-kata. Kesopanan dalam berkomunikasi pun seolah tidak diperlukan, karena mungkin mereka berfikir; ‘Ini online juga, enggak tatap langsung, enggak akan ketemu orangnya juga.’

Alih-alih berpendapat sesuai konteks, kebanyakan orang cenderung untuk menyerang secara SARA dan jumping into conclusion. Logical fallacy atau kesalahan berfikir kerap kali ditemukan pada tiap topik yang memang membutuhkan analisis tajam dan referensi lebih. Dengan berbekal googling saja, mendadak orang-orang bertransformasi menjadi polisi moral, ahli kitab, dan kompeten akan banyak hal.

Dengan dorongan dan modal pemikiran, akun aing terserah aing. Seseorang lupa bahwa, aktivitas yang terjadi di media sosial tak ubahnya apa yang terjadi di dunia nyata. Bentuk komunikasi dalam bentuk unggahan foto, komentar, update status yang menyinggung seseorang, it is still hurt people. Luka tetaplah luka.

Maka tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa, kolam komentar adalah gambaran tergelap kepribadian seseorang. Karena jika ingin melihat hilangnya kemanusiaan dalam diri manusia, kolom komentar bisa jadi referensi terkini akan situasi tersebut.

Rentetan akan kebebasan berpendapat yang kebablasan dan atensi banal berlebih dari banyak orang, yang menurut saya membuat hate speech dan hoax menjadi subur berkeliaran menjadi viral di media sosial saat ini.

Saya teringat wawancara Kris Jenner di E! Online di suatu waktu, dia pernah bilang kurang lebihnya: ‘Di saat sekarang, berikan seseorang keyboard, dan mereka bisa membuat ucapan paling mengerikan di dunia ini.’

I’m not a big fan of Kardashian family, tapi kali ini saya mengamini apa yang Kris Jenner ucapkan. Mungkin itu adalah gambaran terdekat dari realitas kehidupan masyarakat online saat ini.

A Biggest Problem of Modern People

1-djdiSQjlcc9nGIgw18aqPg.jpeg

Menurut saya akar permasalahan yang sering terjadi di dunia modern saat ini adalah gagalnya komunikasi satu sama lain.

Baik itu dalam skala personal maupun profesional. Komunikasi diganyang sebagai suatu issue yang menghambat performa seseorang maupun dalam kesatuan tim.

Dasarnya komunikasi adalah jalinan umpan balik, a conversation antara satu orang dengan yang lain dengan membawa satu pesan yang akhirnya sama-sama dipahami.

It is about how you delivere the message.

Namun terkadang, skill komunikasi seseorang terhambat pada keengganan seseorang untuk mengolah pesan terlebih dulu. Ada ego sebesar bulan yang membuat mereka merasa superior dibanding lawan bicaranya.

Alih-alih memahami, kebanyakan orang memilih berkoar paling keras seolah dia yang paling paham sabab musababnya. Parahnya lagi, paling tahu solusinya. Dan cacatnya logika pun semakin subur keluar dari mulutnya.

Skema sederhananya, mulut mereka terbuka lebih dulu sebelum otak mereka berfikir.

Menurut saya, di situlah di mana kebodohan itu hadir. Ketika tidak ada satu pun saraf dalam otak manusia tersebut berupaya untuk menghela nafas sejenak, for one or two second, kemudian membaca ulang pesan yang ia dapatkan, mencernanya then comes up dengan buah fikiran berupa pilihan respon terbaik apa yang dapat mereka utarakan.

Karena some people say, mulutmu harimaumu. Sekali berucap, you can’t take back your word, it is include your stupidity.

Saya menulis ini bukan karena saya peduli dengan skill komunikasi satu orang — I’m pointed to someone who was bumped into me with a zero skill of communication and shouted toward me like that person knows how to deal the problem. Instead solve the issue, that person just shows how stupid that person can be.

Dalam seni komunikasi pun diajarkan agar kita lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena dengan mendengar tanpa terburu-buru merespon seseorang, kita dapat mengetahui sebuah informasi baru. Di kasus ini adalah, kebodohan seseorang.

You can laughed afterwards, right on that person face or some secret chat room.

Setidaknya saya belajar sesuatu hari itu, dalam terjalinnya komunikasi ada kalanya lebih baik kita diam dan mengalah. Membiarkan imajinasi tumpul seseorang mengokoh dan menjelma menjadi stupa kebodohan yang menjeratnya dalam suatu kebiasan.

Mengapa Sulit Sekali Untuk Berempati?

Ada yang pernah bilang pada saya, kurang lebih seperti ini: empathy before ego.

More or less orang itu menjelaskan bahwa pada situasi tertentu, yang di mana kita tidak dapat merasakan penderitaan orang lain, setidaknya kita mampu berempati untuk kesedihannya. Bukan berbuat seolah-olah tidak mau memahami yang dialaminya.

Contoh kecilnya: Seorang Ibu hamil yang berdiri di kendaraan umum (kereta, red). Kondisi kereta di jam sibuk bukanlah waktu yang ideal untuk bernyaman-nyaman. Kebanyakan isinya adalah mereka yang berangkat kerja atau pulang kerja. Semua orang sama-sama mengantuk, letih, dan berdesak-desakan. Memang, ada gerbong yang dikhususkan untuk perempuan. Namun pada praktiknya, meledaknya jumlah penumpang, dua gerbong saja tidak cukup.

Pun, di kereta sudah ada peraturan untuk tempat duduk prioritas yang dikhususkan untuk ibu hamil, manula, penyandang berkebutuhan khusus, dan ibu yang membawa anak.

Peraturan itu sudah jelas, bahwa sesama penumpang harus saling menghormati.

Untuk para lelaki pastinya tidak pernah merasakan beratnya hamil. Setidaknya, berbaikhatilah memberikan tempat duduk anda untuk perempuan tersebut. Karena, meskipun anda tidak merasakan beratnya hamil sambil berdiri berdesak-desakan. Setidaknya anda berempati untuk kondisinya. Meskipun anda dalam kondisi sangat kantuk sekalipun.

Kalahkan ego anda yang berupa kantuk untuk seseorang yang kiranya lebih membutuhkan. Tidak ada yang bilang kantuk anda tidak penting. Namun, ini pilihan di mana anda memenangkan empati atas ego anda.

Situasi ini sering sekali saya dapati di kehidupan perkeretaan. Banyak sekali anak muda laki-laki yang kurang memahami nilai tersebut. Dibanding badan bugar mereka, si ibu yang menggendong anak kecil atau bapak-bapak yang sudah sepuh, jelas lebih membutuhkan tempat duduk tersebut.

Sekali lagi, ini bukan berarti kenyamanan anda sesuatu yang tidak penting. Namun alangkah terpujinya jika anda mempraktikan hal tersebut. Membantu sesama, menghormati yang lebih tua, dan peduli pada lingkungan sekitar. Toh, jika anda melakukannya, anda sedang berbuat baik pada seseorang. Ada pahala untuk anda.

Secara sadar tidak sadar, nilai anda pun sebagai manusia akan bertambah. Tidak butuh gelar pendidikan tinggi untuk memahami permasalahan ini. Hanya tinggal menambah dosis kepedulian akan lingkungan disekitar saja.

Karena yang paling mengerikan dari manusia adalah ketika hilangnya kepedulian akan sesama.

Ps: Tulisan ini dibuat saat kesal melihat dua remaja laki-laki bugar bermain hape di tempat duduk, dan tidak peduli memberikan tempat duduk mereka ke ibu-ibu yang menggendong anak dan seorang bapak tua.

Demam Awkarin

Screen Shot 2016-07-26 at 3.13.41 PM

Kemarin saya janjian makan malam dengan Tania, teman kantor lama saya. Pilihan kami jatuh pada tema all you can eat ala makanan Jepang di City Walk.

“DAGING, Jem!” teriak Tania girang.

Keakraban kami terjalin karena fakta bahwa kami sama-sama karnivora kelas berat dan, ehem, suka makanan gratisan.

Saat sampai di depan resto tersebut kami tercekat ketika melihat harga menu all you can eat yang terpajang, ada perasaan ragu muncul. Seperti, “Masihkah kami bisa hidup di bulan depan?”

Lalu Tania menggunakan otak ITBnya, dengan menghitung bill makanan kami (termasuk pajak) nantinya ditambah dengan hutang-hutang kartu kredit dan cicilan, dan mendapatkan hasil bahwa dapat dipastikan sebulan ke depan menu makanan kami hanya promag di mix dengan nutrijel rasa pandan.

Tapi didorong hasrat yang besar untuk memanjakan diri, kami pun melangkah pasti memasuki resto dengan dagu terangkat saat Mbak-Mbak pramusaji berteriak lantang, ‘MARI KAKAK!!!’ ketika menyambut kami berdua. Kami kalah dengan perut sekali lagi.

Setelahnya adegan yang terjadi, seperti para karnivora soleh lainnya yang melihat daging, kami pun makan dengan kalap. Tanpa rasa malu memesan daging setiap sepuluh menit sekali.

“Kok bisa enak banget ya daging? My LOVEEE,” ujar Tania sambil mengangkat irisan tebal daging tersebut lalu mencampurnya dengan rempah-rempah (yang gue lupa namanya, tapi enak) dan keju cair yang DEMI APA PUN ENAK BANGET. Ia sebut hal tersebut sebagai kontemplasi stadium tiga. Dunia mengecil. Yang tersisa hanya dia dan daging di tangannya.

Sejam sudah, waktu kami tinggal tiga puluh menit lagi. Sembari menunggu pesanan yang lain datang, Tania menunjukkan handphonenya kepada saya.

“Udah tau soal Awkarin? Liat videonya deh.”

Ada satu video yang berisi dua orang cewek berusia di awal dua puluhan sedang menjelaskan sesuatu soal ‘roda pasti berputar’ dan ‘semua orang pasti punya salah’ kemudian dilanjuti dengan iringan tangis histeris cewek satunya yang nantinya akan saya kenal dengan nama Awkarin.

Lalu dari satu video, Tania menunjukkan video lainnya, dan kami berakhir men-stalking Instagram Awkarin dan mantannya yang bernama Gaga (which adalah yang ia tangisi di video tadi. Gaga mutusin Awkarin sehari sebelum ulang tahun Gaga, dan Awkarin tetap buat pesta kejutan untuk Gaga, kali ini sebagai seorang teman saja, mengutip apa yang diutarakan Awkarin dalam videonya. Aw, sweet banget).

Tania pun menjelaskan dengan telaten siapa-siapa saja yang ada di dalam video-video Awkarin. Juga Tania ikut berkontribusi akan terbentuknya teori konspirasi mengapa Gaga mutusin Awkarin dan teori-teori alternatif lainnya. Dipastikan Tania menghabiskan waktu luangnya dengan sangat baik untuk menghafal rantai kehidupan sosial Awkarin.

“Dia mau ngasih kado DRONE dong ke si GAGA! Drone aja harganya minimal 13 JUTA! Gue mau ngasih kado sepatu ke pacar gue yang cuma 10 persen dari harga drone, harus nyicil enam bulan,” kata Tania heran.

“Duit dari mana ya dia?”

“Di endorse dari brand-brand di Instagram,” jawab Tania dengan ekspertnya. Seolah telah tamat membaca 101 Things About Awkarin.

Saat meneliti konten Instagram mereka berdua, sejujurnya harus diakui mereka memiliki estetika kualitas foto yang baik secara warna dan komposisi.

“Hmm, boleh juga nih anak,” puji saya. Tulus.

“Tapi, gue kalau jadi orang tua, engga mau loh anak gue kayak gini,” ucap Tania saat menghabiskan sisa daging terakhir kami.

“Itu egois engga sih? We judge her, talking shit about what she did, padahal kita saat labil-labilnya dulu engga jauh beda seperti Awkarin ya. We smoke, we got drunk, less PDA dan dronenya aja sih.”

“Bebas sih sebenarnya. Doi punya badan bagus plus sama borju juga. Kita yang kere pasti iri liatnya.”

Kami berdua tertawa miris, karena kenyataan sampai sekarang masih begini-begini aja kehidupannya.

“Tapi takut aja, ngeliat anak gue nantinya behavenya kayak gitu. Deep down gue tau, gue bukan manusia yang baik. Tapi setidaknya gue sekarang belajar untuk jadi lebih baik lagi,” aku Tania.

“Paham kok paham. Mungkin si Awkarin juga belum ke arah sana. Tapi engga adil buat dia dijadikan benchmark sebagai moral remaja di sini. Dia engga punya tanggung jawab apa-apa sih sebenarnya, terlepas banyaknya orang yang akhirnya ngikutin gaya hidup dia.”

Tania mengangkat pundaknya, “It’s her life then.”

Lalu datang Mbak-Mbak Pramusaji dengan selembar kecil total makanan kami yang ternyata engga kecil harganya.

Split bill ya, Mbak!” teriak kami kompak.

— –

Di jalan keluar, saya menumpang pulang dengan mobil Tania. Ketika hampir sampai depan kosan, kami harus memutar di depan lampu merah. Saat kami ingin berputar, dari arah depan ada satu motor yang seharusnya stay karena lampunya jelas-jelas merah, dia malah jalan selonong dengan santainya.

Kami berdua pun memaki-maki dengan kesal.

“Anak ANJING!”

“Jangan, anak anjing lucu! Kebagusan.”

“Apa dong?”

“Anak Farhat Abbas!”

Saat sampai depan kosan, saya berpamitan dengan Tania. Namun tidak beberapa lama ada sesuatu yang mengusik saya.

“Tan,” saya mengetuk kaca mobilnya.

“Apa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tania bingung.

“Elo sadar kan? Kita muterin mobil di jalan tadi juga sama salahnya dengan si pengendara motor tadi?”

“Ya kan itu jalanan terdekat ke sini, kalau muter di depan jauh.”

“Tetap salah engga sih?”

“Salah sih. Tapi udah nyampe juga. Udah gue ngantuk. Bye!”

Tania kemudian meninggalkan saya dengan lebih banyak hal mengganjal dalam kepala saya.

‘Kenapa kita harus marah padahal kita sama-sama salah? Kenapa harus ngerasa lebih baik?’

Saat sampai kamar saya mengintip kembali Instagram Awkarin kini dengan membaca beberapa komentar di postingannya. Lalu tak lupa melengkapi ke-kepoan saya dengan mensearch namanya di Google.

Banyak yang mendedikasikan tulisan tentang Awkarin, namun isinya lebih ke arah memojokan dan menyayangkan transformasi Awkarin yang sekarang.

Saya pun terpancing ketika membaca kemurkaan para penggiat moral internet yang merasa Awkarin bertanggung jawab atas tren gaya hidup ‘hedon vulgar, dan kebarat-baratan’ yang diikuti banyak anak muda di Indonesia. Sebuah kontra atas konon budaya timur yang sangat dijunjung tinggi di Indonesia ini. Entah deh budaya timur yang mana yang mereka bicarakan.

Karena serius deh. Memangnya Awkarin minta semua anak remaja di Indonesia ngeblonde-in rambutnya sambil teriak-teriak bilang anjing sambil ngerokok?

Engga toh?

Para anak-anak itu secara sukarela mengikuti Awkarin, seharusnya jika mereka considering apa yang Awkarin lakukan dianggap salah, adalah tugas para orang tua untuk meningkatkan komunikasi ke anak-anak mereka. Saya yakin, banyak orang tua yang sudah jarang mengecek dan berkomunikasi dengan anaknya jika membahas isu seperti ini.

Lalu salah siapa?

Ya enggak salah siapa-siapa.

Kita semua pasti pernah menjadi Awkarin di umur yang sedang ranum-ranumnya. Yang ingin mencoba banyak hal yang dulu dilarang oleh orang tua. Explore our body and sexuality.

About proudly doing stupid things for the sake of love, Sure we had an up and down moments when it’s about coping with hard break up. Also sometimes, we want to look badass by smoking, drinking alcohol and etc. We’ve been there before.

Bedanya sekarang di 2016 ini ada tren media sosial yang menghadirkan teknologi bernama Instagram dan aplikasi chat lainnya. Yang membuat Awkarin bisa memamerkan kehidupan pribadinya yang paling mikroskopik sekalipun.

Tapi mengapa dibanykanya anak muda yang juga sama seperti Awkarin, malah dia yang paling dikenal?

Karena ada demands yang tinggi. Semua orang diam-diam menyukai Awkarin. Seperti Tania. Di depan berkelakar, padahal dibelakang sebenarnya tahu betul apa yang akan dia lakukan di series vlog-vlog berikutnya.

Kenyataan bahwa di media sosial orang bisa bebas berkomentar apa pun yang mereka mau tanpa peduli dia kenal atau tidak dengan orang tersebut. Tinggal ketik di keyboard, mereka bisa mengetik hal-hal paling kejam, bengis, dan judgmental yang pernah ada. Seolah mereka yang memberi komentar menjelma menjadi nabi yang merasa memliki kehidupan lebih suci dibanding Awkarin.

Karena, siapa sih kita yang akhirnya memutuskan apa yang terbaik buat Awkarin? Liat saldo tengah bulan aja nangis, peduli amat ngurusin hidup orang. Biar itu jadi tugas orang tuanya dan Awkarin sendiri. Karena itu hak Awkarin sepenuhnya untuk menjadi seperti apa dirinya nanti. Bukan menuruti apa yang ‘society’ inginkan.

We do not walk in her shoes, so we know nothing about it. Tidak adil rasanya dengan semena-mena memberikan hujatan tanpa dasar pada dirinya.

Jangan-jangan kita sebenarnya tidak lebih baik dibanding Awkarin, jelas-jelas Awkarin tidak malu untuk menunjukan siapa dirinya, showing her true skin. Sedang kita, tak lebih dari orang yang tahu bahwa itu salah, terus melakukannya, lalu menutupinya dalam-dalam.

“Tapi, gue setuju. Gue engga mau anak gue nantinya kayak Awkarin. Anak gue harus kayak Maudy Ayunda,” saya mengirimkan chat tersebut ke Tania.

Menyedihkan bahwa kebanyakan dari kita menuntut seseorang menjadi sebersih Nabi, tapi diam-diam menikmati peran sebagai pendosa.

Yeah, life.