Review Series Love: Tentang Gambaran Candu

Well, kemarin gue baru beres nonton series di Netflix judulnya LOVE. Kreatornya Jude Apatow, si jenius di balik beberapa film romantic comedy favorit gue seperti Bridesmaids, Superbad, dan This is 40.

Hal yang paling gue suka dari film doi adalah akan bagaimana ia mengangkat dan memusatkan narasi filmnya lewat karakter yang biasa-biasa aja. Sosok yang bisa gue temui setiap harinya secara random di kehidupan sehari-hari. Terkadang gue pun seperti dapat melihat diri gue di dalamnya.

Meskipun yang dihadirkan adalah wajah orang-orang kebanyakan, namun bukan berarti ‘orang-orang biasa’ tersebut tidak memiliki ‘masalahnya’ sendiri. Dan di tangan Jude Apatow, masalah tersebut dipulas dengan begitu menarik, relatable, dan engaging.

Dengan signifikan ia menggambarkan kedalaman karakter orang-orang biasa tersebut melalui reaksi-reaksi mereka yang mungkin bisa bikin elo bergumam kecil: SHIT! Aing juga bakal berekasi kayak gitu.

Semacem di film Bridesmaids nih, saat si Annie perebutan mic sama Helen untuk berlomba-lomba nunjukin di depan banyak orang kalau mereka adalah sahabat paling deketnya Lillian.

Itu kan hal paling basic dalam dunia pertemanan bukan? Kita bakal insecure sejadi-jadinya saat posisi sebagai ‘sahabat kental’ terancam dengan kehadiran orang baru.

Gue sih sangat bisa membayangkan diri gue melakukan yang Annie lakukan ya. Hehe. Makanya gue suka sebel sama film-film atau novel-novel yang menggambarkan karakter utamanya kelewat sempurna. Pengen banget bisikin begini ke kuping yang buatnya…

Screen Shot 2018-05-18 at 4.34.53 PM

Dari sana gue sebagai si another ‘orang-orang biasa’ tersebut terasa terwakilkan dan berfikir; mungkin memang enggak ada yang sempurna di dunia ini, di kehidupan ini. Kesempurnaan cuma state of mind kita aja.

Mungkin ya.

Screen Shot 2018-04-05 at 6.09.34 PM

Anyway, kembali tentang si series Love. Series ini mengisahkan dua tokoh utamanya yaitu Gus dan Micky. Ceritanya mereka berdua sama-sama sedang gagal dalam hubungan percintaan yang sudah lama mereka jalin gitu.

Kemudian di suatu pagi setelah kekacau balauan hidup mereka, di sebuah toserba mereka bertemu secara tidak sengaja. Dan dari sana lah petualangan cinta itu dimulai.

Cinta? Iya, cinta.

Orang-orang di usia 30an yang sudah jatuh bangun patah hati atau sering ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya ternyata masih punya kesempatan untuk jatuh cinta yang lucu-lucuan gitu loh.

Seenggaknya itu yang dialami Micky and Gus di sana ya.

Tentu saja perjalanan cinta mereka berdua naik turun. Di beberapa episode awal mereka masih gemes tarik ulur kejar-kejaran, atau diam-diam menyimpan perasaan masing-masing.

Ya namanya juga masih anget-angetnya.

Tapi, karena pada dasarnya mereka memang baru kenal satu sama lain, gejolak emosi pasti muncul di saat mereka berusaha memahami perbedaan karakter yang ada. Kesalahpahaman sering muncul saat ego dan insecurenya Micky berhadapan dengan kepragmatisannya Gus.

Gus adalah tipe orang yang berusaha untuk menekan semua amarah yang ada dalam dirinya hanya untuk menjadikan sekelilingnya merasa baik-baik saja. Mengorbankan perasaan dia sendiri, yang ujungnya malah merusak semua yang ada.

Tuh, makanya jangan suka mendem atau meledak-ledak jadi orang. Ribet nanti hidupnya.

Selain tentang cinta-cintaan, series ini membahas sesuatu yang lebih dalam lagi. Dan ini lah yang menarik untuk dibahas.

Dalam setiap hubungan pasti ada satu pihak yang menjadi si obsesif. Si needy. Tipe manusia yang menutut segalanya harus dituruti sesuai dengan standar orang tersebut.

Kalau ketemu pasangan yang nurut sih ya semuanya bakal baik-baik aja. Tapi, apesnya kalau ketemu pasangan yang pragmatis pasif agresif (apa coba?) pasti endingnya yang ada cuma ngotot-ngototan satu sama lain.

Si pihak obsesif merasa ditolak dong ya, padahal ya si pragmatis cuma enggak mau ribet aja terus besoknya udah selow lagi.

Namun namanya ngerasa ditolak, emosi pun hadir. Dan jadilah si sosok yang tadinya obsesif menjadi drama dan meledak-ledak sejadi-jadinya.

Itulah yang terjadi dengan Micky. Salah satu adegan yang paling membekas di kepala gue adalah ketika Micky berubah menjadi si needy yang begitu emosional dan tidak ada henti-hentinya texting Gus setiap saat ketika Gus menolak bertemu dengannya untuk membahas sesuatu.

Setelah puluhan telepon dan pesan yang tidak berbalas dengan impulsifnya Micky pun menyambangi kantor Gus dan ‘menanyakan’ alasan mengapa Gus nyuekin dia. Nanyanya dengan amarah yang mendongkol tentu saja.

Mendapatkan jawaban yang tidak diingankan dan malah ditolak secara langsung oleh Gus, membuat mental Micky berantakan. Ia berteriak-teriak dengan begitu hebat tanpa menyadari bahwa yang dia lakukan hanyalah mempermalukan dirinya sendiri. DI KANTOR ORANG, DI DEPAN BANYAK ORANG.

Cut to dari sana, Micky dan Gus pun memilih break dan menjauh satu sama lain. Dari sana Micky menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya. Dengan kepribadiannya. Dengan tingginya kebutuhan dia akan perhatian dari orang lain. Spesifiknya ke certain person yang dia care about.

Micky akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang pecandu. Baik itu dengan alkohol, rokok, dan juga cinta. Dan untuk memperbaiki dirinya, ia pun bergabung dengan support grup bagi para pecandu alkohol dan cinta. Pelan-pelan dari sana Micky menjadi pribadi yang akhirnya dapat mengendalikan urgensi dirinya atas perasaan apa pun. Baik itu perhatian dari Gus dan ketergantungannya pada alkohol.

Dan, kawan, dari sana lah gue seperti melihat diri gue dalam kepribadian Micky. Seperti ada bunyi klik.

Jangan-jangan gue si Micky deh? Atau sebenarnya gue sudah menjelma menjadi si Micky tanpa gue sadari?

Gue pun mempertanyakan hal itu pada teman-teman gue dan juga ke korban kegilaan gue: si R dan si D. (D sih enggak jawab, hanya si R yang tahan dengan segala kegilaan gue dan rela menjawab).

Dan jawaban mereka adalah…..

positif. Bahwa gue seneedy itu juga.

Fine.

Gue dapat merasakan keterhubungan yang dilakukan oleh Micky terhadap Gus. Micky hanya ingin didengar, ditemani. Mungkin memang porsi ekspetasi Micky berlebihan, tapi itu bukan tanpa sebab. Perhatian menjadi sebuah candu untuk orang yang biasa ditelantarkan, dibuang.

Bahkan pernah loh si D bilang ke gue bahwa ekspektasi adalah sesuatu yang menjadi akar masalah di antara kami. Gue yang saat itu masih muda belia dan labil tentu saja marah. Bagaimana bisa seseorang yang memberikan gue kebahagian luar dalam ber’ekspektasi’ pada diri gue untuk tidak berlebihan merayakannya. Membalasnya.

I mean, I want make this thing longer. Tapi yang ada, dia merasa apa yang gue lakukan terlalu menyesakkan dirinya. Pret.

Orang-orang yang needy dan se-obsesif itu tidak melulu tiba-tiba menjadi seperti itu. Ada pengalaman dan perjalanan pahit di masa lalu yang membuat seseorang memiliki kepribadian tersebut. Terjebak pada perasaan ditolak yang mau sehebat apa pun disembuhkan, luka itu akan tetap hadir. Perasaan tidak lebih baik dari apa pun akan selalu menghantui dan ketakutan untuk merusak kebahagian yang ada akan bercongkol di tiap kesempatan.

Karena ya itu yang gue rasain.

Setiap ada kebahagian yang datang di hidup gue dalam bentuk apa pun, gue sudah bersiap-siap untuk pack up my feelings karena entah kenapa gue merasa pasti di ujung-ujungnya gue akan melakukan suatu hal bodoh yang akan ruin everything. Itu semua sudah seperti hukum Newton. Sebuah kepastian yang tidak dapat gue hindari.

Seperti semua yang gue punya, baik R dan D memberikan sesuatu yang sebenarnya cukup. Mereka datang ke hidup gue dan gue bahagia karenanya. Tapi ada satu titik di mana gue terlalu ketakutan dan tidak mau semua kebahagian itu hilang. Dan yang ada karena ketakutan enggak jelas itu perlahan gue malah menjadi si gila yang menuntut segala hal yang tidak masuk akal ke mereka.

Sampai pernah loh gue nyamperin kantor si D dan gue breakdown di depan dia. Nangis jejeritan kayak orang ditinggal mati padahal cuma perkara si D enggak balas WA gue aja. Astaga! Gue sampai malu hati kalau ingat ketololan gue itu. Dan itu gue ngelakuinnya dua kali. Breakdown kok doyan. Heran.

Yang menjadi highlight lagi adalah di series Love ditunjukkan tentang sebuah Support Group yang membantu Micky melewati fase-fase ia meninggalkan ke needy-annya. Dan gue seperti butuh itu deh di Jakarta ini.

Gue kalau curhat masalah-masalah begini enggak jauh-jauh ke teman-teman gue yang sepertinya sudah bosan dengan curhatan gue. Sampai ada loh salah satu teman gue yang merasa gue adalah orang yang sangat self centered. I’m a selfish bitch yang selalu curhat tentang diri gue sepanjang waktu.

Padahal saat itu gue butuh banget untuk sharing sesuatu yang benar-benar belum selesai antara gue dan perasaan needy gue sama orang yang I care about.

Jadi, lari ke teman terkadang memang tidak menyelesaikan perasaan neurotic itu. Jika ada sebuah support group, di sana gue pasti bisa berbagi dengan orang-orang yang merasakan hal sama dengan gue. Melalui momen-momen pahit yang pernah kami lalui untuk sekadar mengkonfrotasikan emosi dan kepedihan yang selalu gue bawa setiap hari lalu bersama-sama bangkit menata hidup yang berantakan ini dan memusatkan perasaan kelam ketika menghadapi momen…. KENAPA SIH DIA LARI DARI GUE? KENAPA SIH DIA BERUBAH? KOK DIA PERGI SIH PAS GUE LAGI SAYANG-SAYANGNYA? so on and so on.

Semua penolakan-penolakan itu harus dibicarakan. Harus disudahi.

Karena kalau tidak gue takut itu akan menjadi penyakit yang terus menerus menggerogoti gue tiap kali gue berada dalam sebuah hubungan. Karena nantinya it is gonna be only a different cast but with the same ending all over again. Peran gue hanya akan terus menjadi ‘si gila’ belaka.

Dan harus gue akui jika gue sudah berusaha segitunya banget untuk menyelesaikan suatu masalah dan hasilnya tetep nihil dan gue tetap kembali ke masalah tersebut. Mungkin… mungkin loh ya. Memang lebih mudah untuk kembali ke masalah yang gue sudah tahu luar dalam. Bahwa pada akhirnya orang-orang itu akan kembali lagi ke gue setelah mereka menolak gue.

Tapi yang terjadi sekarang adalah… mereka semua sudah berkeluarga. Dan gue si duri dalam daging. Yang harus gue lakukan bukan datang lagi ke kehidupan mereka.

Tapi menyelesaikannya. Menamatkan kisah tersebut. Gue enggak butuh masalah ini di satu atau dua tahun mendatang.

Mungkin gue harus jatuh banget sampai sakit se pedih-pedihnya biar mikir bahwa diri gue adalah toxic untuk orang lain dan harus pergi dari sana.

Lewat sebuah blog gue mendapati tulisan Ayodeji Awosika yang sepertinya dapat merangkum masa transisi kegilaan gue, yaitu:

“Sometimes the best way to point your life in a new direction is to become completely disgusted with your current one… I finally said ‘enough is enough.’Strong negative emotions can be just as powerful as positive ones. When will ‘enough be enough,’ for you? When will you decide you can’t live this way for even one more day? Once you make that decision, everything changes.”

Perasaan ditolak memang sakit, dan tiap orang memiliki kelemahannya masing-masing. Tapi belajar untuk mengakui hal tersebut dan pelan-pelan menyalurkan emosi dan kesedihan tersebut pada hal lain yang lebih konstruktif sepertinya sesuatu yang harus gue coba. Gue harus mengalihkan semua kedramaan dan kepedihan gue pelan-pelan.

Karena dengan terus feeding ke-needy-an gue itu, yang gue dapet hanyalah ketiadaan.

Dan untuk kamu-kamu yang suka drama dan merasa hidup berantakan saat ditolak oleh orang yang kamu sayang. Tenang, kamu enggak sendirian kok.

Advertisements

Sarah Sechan: Tentang Semesta Era 90an dan Keunggulan Ikonnya!

Tentang analasis sotoy akan Sarah Sechan dan pengaruhnya pada hidup yang fana ini.

Sarah Sechan merupakan salah satu VJ MTV ASIA di era 90an yang memenangkan banyak hati penontonnya di Asia Tenggara, terlebih di Indonesia. Sepanjang karirnya di MTV ASIA, Sarah Sechan menjadi asosiasi ikon remaja dengan gayanya yang lucu dan cuek. Tak pelak, setelah dua puluh tahun lebih berlalu, Sarah Sechan masih menjadi memori paling menyenangkan pada tiap-tiap orang yang pernah menontonnya di layar kaca mereka kala itu.

Termasuk saya.

Setelah menuliskan posting-an tentang MTV dan secuil menyinggung tentang betapa pentingnya keberadaan Sarah Sechan dalam hidup saya di sini.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.40 PM

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.03 PM
Seneng banget pas tulisan direspon Teh Sarah

Ada dorongan tersendiri dari dalam diri saya untuk menjelaskan alasannya dan mengapa menurut sudut pandang saya penting sekali untuk memiliki kembali ‘Sarah Sechan’ dalam kehidupan generasi digital saat ini. At least, minimal untuk adik saya lah yang baru memasuki bangku SMA.

Awal Mengenal Sarah Sechan

Saya lahir tahun 1990 dan pertemuan pertama saya dengan Sarah Sechan adalah menontonnya di serial televisi berjudul Olga Sepatu Roda tahun 1996 atau 1997 jika saya tidak salah ingat. Om-Om saya di rumah adalah penggemar novel Lupus dan Olganya Mas Hilman Hariwijaya, dari sana lah saya jatuh cinta membaca kisah epik Olga dengan Radio Gaganya.

Saat membaca novel-novel Olga terbayang akan sosok perempuan cuek, lucu, dan super nyebelin namun kita sayang. Lalu saat melihat Sarah Sechan membawakan peran tersebut di televisi bareng dengan Cut Mini sebagai sahabatnya, Wina. Sarah Sechan sukses menghidupkan karakter Olga luar dalam.

Yang paling saya ingat tentu saja saat Sarah Sechan diam-diam kabur dari kamarnya di malam hari sambil menenteng sepatu rodanya untuk pergi siaran yang mana berakhir ketahuan dan kena omel Mamih. (Mamih tuh enggak pernah hafal nama radio Gaga. Dia kalau ngomel pasti akan bilang: YA ETA, RADIO HAHA, RADIO TATA, RADIO LALA. HAHAHA. Lucu deh si Mamih).

Screen Shot 2018-04-12 at 7.58.14 PM

Betapa dulu menonton Olga di jam empat sore selama satu tahun mendorong saya untuk merengek dibelikan sepatu roda saat kenaikan kelas (namun sampai umur sebesar ini saya tidak pernah memilikinya. Maklum sobat miskin sejak lahir).

Lalu setelah legitimasi menjadikan Sarah Sechan sebagai idola tetap di antara power ranger, Doraemon, dan Sailor Moon. Tak disangka di satu sore sebuah kejadian merubah segalanya.

Saya masih ingat dengan jelas, setelah semalam suntuk menghafal surat-surat pendek Alquran agar besoknya lulus tes duluan dan bisa pulang dengan cepat demi menonton Olga tanpa ketinggalan satu detik pun.

Saya bergegas ke ruang keluarga, mengambil kuda-kuda untuk duduk rapi di depan televisi ditemani satu piring Indomie Goreng dengan toping chiki Taro yang sudah disiapkan Ibu saya.

Dengan jantung berdebar saat logo Indosiar berganti opening theme dan lagu sinetron Olga seperti biasa, scene pertama pun diawali dari depan pintu kamar Olga saat Mamih membangunkan Olga untuk sekolah. Saat pintu kamar terbuka, Olga merengek sebal karena Mamih mengganggu tidurnya.

Ada yang aneh. Saya tidak menemukan Sarah Sechan. Namun, mengapa perempuan di televisi tersebut dipanggil Olga? Lalu setelah lima belas menit berlalu, saya baru menyadari YANG JADI OLGA BUKAN SARAH SECHAN.

Mereka mirip. Tapi OLGA bukan SARAH SECHAN.

Saya yang masih enam tahunan kala itu tidak dapat mengekspresikan betapa sedih dan jengkelnya diri saya.

Saya cuma bisa teriak-teriak memanggil Ibu saya untuk memastikan bahwa yang saya tonton adalah Sinetron dengan judul yang benar dan memang perempuan berambut panjang di televisi kala itu bukan Sarah Sechan.

Ibu saya yang melihat ketantruman anaknya tentu saja bingung, lalu ia buru-buru mengecek jadwal-jadwal sinetron yang biasa ada di koran. Setelah membaca dua kali judulnya setelah iklan, Ibu saya dengan yakin memastikan bahwa yang saya tonton adalah sinetron yang benar.

“TERUS KENAPA OLGANYA BEDA?” saya masih ingat rengekan saya kala itu.

“YA MANA MAMAH TAU! Dia sakit kali makanya diganti,” jawab Ibu saya mencoba menenangkan.

Dari situ saya pun menganggap bahwa Sarah Sechan sedang izin sejenak karena sakit dan pasti akan kembali lagi.

Seperti kejadian Bu Sarti, Guru saya waktu kelas 1 SD dulu yang pernah izin satu minggu tidak masuk mengajar dan digantikan guru lain. Lalu di hari Senin depannya kami murid-muridnya bertemu dia lagi. Mungkin akan seperti itu polanya. Pikir saya kala itu.

Namun, setelah empat episode berlalu dan saya tidak melihat Sarah Sechan kembali.

Dari sana saya pun patah hati dan berjanji tidak akan pernah menonton sinetron Olga Sepatu Roda lagi yang tidak ada Sarah Sechannya.

MTV dan Sarah Sechan

Datanglah masa di mana Tante-Tante saya menyanyikan lagu, …BABY ONE MORE TIME! berulang-ulang tanpa bosan.

Jadwal menonton televisi di rumah saat jam empat sore yang sudah lama saya tinggalkan pun tiba-tiba digeserkan oleh Tante-Tante saya.

Ada apa nih?

Penasaran saya pun ikut nonton bareng. Tante saya dan teman-temannya yang sudah SMA kelas akhir kala itu berbisik-bisik centil tentang peruntungan zodiak dia dan pacarnya.

“Apa sih itu ZODIAK? Apa sih itu pacar?” tanya saya bingung.

Karena berisik, mereka pun mengusir saya.

Lalu saat mereka sudah siap mencatat apa yang ada di televisi, saya melihat satu perempuan berambut hitam panjang dengan bulu-bulu putih di lehernya.

ITU KAN SARAH SECHAN!

Saya pun ikut meriung ke tempat di mana Tante-Tante saya dan teman-temannya mencatat dengan khidmat apa yang diucapkan oleh Sarah Sechan.

Ini semacam kisi-kisi ujian EBTANAS apa gimana sih? Pikir saya.

Tapi bodo amat lah. Saya akhirnya bisa melihat Sarah Sechan kembali di layar televisi.

Sejak itu setiap harinya di ANTV, diiringi dengan video-video lagu dari luar negeri dan band-band lokal. Dengan khusuk saya menyaksikan Sarah Sechan ngebanyol dengan Jamie Aditya di MTV Land. Mewancari penyanyi-penyanyi luar seperti GIL, SHANIA TWAIN, dan RICKY MARTIN dengan bahasa inggris yang lancar dan gimmik-gimmik lucu.

Tidak ada yang berubah dari Sarah Sechan, ia tetap menghibur meskipun namanya bukan lagi Olga dan ketika dia ngomong entah kenapa tiba-tiba muncul teks berjalan di bawahnya.

Sebagai anak kecil yang terlanjur ngefans saya sih senang-senang saja melihat Sarah Sechan lagi meskipun sebenarnya saya tidak terlalu paham juga apa yang ia bicarakan dan teks berjalan itu tulis sih. Hehe.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.16 PM

Bukan Melulu Tentang Kecantikan

Mengapa Sarah Sechan bisa begitu ikonik di masanya bahkan sampai sekarang?

Apa sih yang membuatnya disukai banyak orang dan keunggulannya dibanding presenter-presenter lainnya?

Sarah Sechan memiliki keotentikan dirinya yang membuatnya diingat oleh banyak orang. Lewat celetukannya yang khas, pemikiran-pemikiran terbukanya yang diutarakan lewat bahasa simple dan lugas, juga pembawaan personalitynya yang menyenangkan membuat dirinya menjadi ‘suara’ akan generasinya.

Generasi yang sedang berada dalam transisi reformasi kala itu, ia menjadi pembebas di sana. Ia si perempuan modern yang melihat sesuatu dengan sudut pandang yang kosmopolitan namun tetap ajeg dengan kearifan lokal yang ada.

Meskipun berbahasa inggris dengan lancar, namun bukan berarti ia melupakan budayanya. Sarah Sechan hadir dengan perpaduan itu semua.

Kepercayaan dirinya, etos kerjanya, juga kemandiriannya memberikan sesuatu yang sudah jarang ditemukan di era digital ini. Ia perempuan yang berpegang kuat pada prinsip. Dapat kita temukan lewat tindakan-tindakannya seperti: saat pernikahan pertamanya ia tidak mau media meliputnya, saat ia menutup akun media sosialnya, dsb.

Ketika semua orang berlomba-lomba menjadi si cantik dan menjadi ‘sama’. Dari dulu Sarah Sechan berusaha untuk mencari apa yang menjadikannya berbeda, spesial, dan dekat dengan banyak orang.

Formula tersebutlah yang membuat Sarah Sechan terus dikenang oleh banyak orang. Sarah Sechan terasa dekat karena kebodorannya. Ia tidak berusaha menjadi si paling cantik, namun menjadi teman yang menemani siapa pun yang menontonnya. Namun, secara bersamaan aura bintangnya pun keluar lewat talentnya yang memang membuat orang nyaman berlama-lama menontonnya dan berlomba-lomba ingin menjadi temannya atau menjadi seperti dirinya.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.00 PM

Saya rasa kualitas itu lah yang membuat Sarah Sechan unggul daripada yang lain.

Semesta Era Tahun 90an

Tahun 90an adalah era di mana televisi menguasai tiap-tiap ruang di rumah banyak orang. Media pesaingnya kala itu adalah radio dan printed media (majalah dan koran).

Semesta yang terbentuk kala itu adalah informasi yang datang yaitu secara berkala dan harus dicari. Itu membuat beberapa selebritas memiliki misterinya sendiri. Termasuk Sarah Sechan.

Sampai sekarang saya masih penasaran, seperti apa sih konten yang Sarah Sechan bawakan saat menjadi penyiar radio pagi hari di bawah arahan Mutia Kasim?

Media kala itu membentuk glorifikasi akan kemodernan lewat pembangunan kota Jakarta yang megah dan artis-artis yang rupawan.

Vibe tahun 90an memang gempar dengan pemberontakan dan hedonisme modern.

Dan Sarah Sechan berada di dalamnya dengan konsep yang banyak orang inginkan. Anak muda yang sukses lewat karir entertainment. Menjadi penyiar radio, VJ, dan pemain sinetron.

Khayalan dan ilusi akan semesta 90an tersebut membuat orang-orang menyimpan mimpi tersebut dan berkeinginan bahwa jika dewasa nanti, atau sesukses nanti, mereka ingin menjadi seperti Sarah Sechan.

Setidaknya untuk saya kala itu. Mimpi menjadi VJ atau penyiar radio menjadi bucket list yang saya simpan diam-diam.

Sarah Sechan VS Generasi Now!

Seperti yang saya singgung sebelumnya, yang membuat Sarah Sechan mencuat dan membekas adalah ia menjadi suara untuk generasinya. Ia adalah representasi anak muda modern dengan pemikiran terbuka.

Yang mana pemikiran-pemikirannya kala itu mengubah dan menginfluence banyak orang. Ada kedalaman berfikir yang membuatnya dihargai dan bertahan hingga sekarang.

Jika dibandingkan dengan mereka yang berada dalam semesta digital. Sesungguhnya perbedaan tersebut kontras sekali.

Kini, pengukuran akan ‘influence’ hanya dilihat dari angka dan bukan bobot maupun kualitas kontennya.

Mereka-mereka yang pamer harta lewat kehidupan sehari-hari akhirnya menjadi sampah pikiran yang menjadi lucu-lucuan semata. Namun, pada praktiknya tidak memberikan efek berarti pada generasi yang menontonnya.

Apa sih sumbangsihnya? Apa sih legacynya pada nantinya?

Sedangkan di tahun 90an, kebebasan untuk berekspresi seperti itu bagi anak muda adalah sesuatu yang mahal. Dan Sarah Sechan dengan jelas menggerakkan anak-anak muda di masanya untuk bereksperimen dengan pemikirannya, terbuka dengan hal yang baru, banyak membaca dan berani mengutarakannya.

Ketika kepekaan dan humanisme bersuara dalam diri Sarah Sechan tetap ada, maka ia akan relevan sampai kapan pun.


Kekhawatiran saya mungkin berlebihan, namun menemukan role model yang dapat memotivasi untuk menjadi lebih baik adalah sesuatu yang mahal di masa sekarang. Kebanyakan mereka-mereka di semesta digital muncul bagaikan toxic dengan drama yang membuat orang berteriak: APAAN SIH YANG BEGINIAN KOK BANYAK YANG NONTON!

Mungkin zaman berganti, trend bergeser, tapi yang coba ingin saya sampaikan sebenarnya sesederhana jika tidak bisa menjadi NADYA HUTAGALUNG, jadilah SARAH SECHAN.

Kita semua tidak harus menjadi sama kok. Semua memiliki keunikannya sendiri dan berbanggalah dengan itu.


Jika dulu Sarah Sechan biasa membacakan surat anak nongkrong MTV di acara MTV Most Wanted. Anggap saja tulisan ini adalah surat yang tidak pernah terkirim dari seorang penggemarnya yang dulu sering curi-curi menonton idolanya saat disuruh mengaji meskipun saat menonton ia tidak terlalu mengerti apa isinya.

Namun, yang pasti ia merasakan sesuatu yang ketika besar nanti ia akan mengerti artinya. Namanya kebahagian. Dan kini mengenang Sarah Sechan tidak akan lepas dari kebahagiaan itu sendiri.

Terima kasih Sarah Sechan untuk masa kecil yang seru mulai dari Olga Sepatu Roda dan MTVnya. I love you, Teh 🙂

Salam,

Figuran Jakarta.

Cerita Tentang Kehidupan Sosial Media

1_YH5NTrbpgIwSKiOznqcOww
Photo credit: Lance Hossein Tagestani, Nadine Klingen, Lode Woltersom, Dionne Cats, Suleiman Alaoui, Wies Hundling, Elsemieke Uijen and Chiara Aerts.

Sebagai netizen ranting retweet dan repost meme-meme tidak berfaedah juga garing namun ku suka, ada beberapa hal yang membuat gue lama-lama khawatir dengan aktivitas internet akhir-akhir ini.

Dengan Facebook membeli Instagram dan akhirnya merubah alogaritma feed Instagram menjadi seperti Facebook, lama kelamaan gue merasa melihat diri gue seperti hidup dalam bubble yang dipilih oleh orang lain untuk gue jalani tiap harinya.

Apa yang gue lihat dan baca setiap kali buka sosial media adalah sesuatu yang sudah terfilter dengan sendirinya oleh satu mesin yang merasa beberapa hal yang gue cuma sekali dua kali ‘like’ dan ‘komentar’ adalah sesuatu yang menjadi interest gue luar dalam. Data-data behavior internet gue terekam dan mesin itu akan memberikan referensi konten-konten yang ‘mereka pikir’ adalah gue banget.

Padahal faktanya yang namanya sesekali bukan berarti itu yang mau gue lihat tiap hari juga kali bung!

Sekarang setiap buka Facebook dan Instagram gue jadi jarang ngeliat orang-orang yang memang dekat sama gue, alih-alih malah orang-orang asing dan beberapa teman yang ga begitu dekat namun karena asas gue pernah like satu dua kali mungkin foto bayi atau suatu aktivitas sosial media mereka dulu banget. Berakibat gue terpaksa jadi tau banget update paling mikroskopik akan hidup mereka. Padahal enggak perlu-perlu amat loh.

Dan impactnya? Gue kehilangan momen dan kabar dari orang-orang yang memang dulu jadi alasan utama gue untuk bikin Facebook. Inner circle gue. Semua itu terkikis karena beberapa dari mereka jarang update sosmed, dan platform-platform macam Facebook dan Twitter berpikir mereka enggak relatable buat gue. Hello…. gue malah penasaran sama yang itu dibanding si xxxxx yang suka pamer bayinya yang baru bisa cebok sendiri.

Terkadang gue pun jadi merasa asing dengan kehidupan sosial media gue.

Tanpa sadar gue mengizinkan hal ini terjadi dalam hidup gue karena gue pun tidak punya kuasa atas akun gue sendiri. Salahnya juga adalah gue yang sudah terlanjur ketergantungan dengan sosial media ini merasa apa yang beredar di dalamnya adalah sesuatu yang lebih penting ketimbang apa yang terjadi di dunia nyata. Gue berperan di dalamnya.

Gue masih inget banget ketika dulu Twitter masih begitu booming dan berpengaruhnya di tahun 2008-2011, gue dan teman-teman kampus yang rajin ngetwit dan rumpi di sosial media pasti akan merasa risih ketika hal yang kita bahas di Twitter kebawa pada ranah dunia nyata dan sehari-hari.

Kita akan geli sendiri ketika ada yang bahas hashtag atau jokes yang kita sering pakai di Twitter. Apa yang terjadi di twitter, stay di twitter kali ah.

Namun setelah enam tahun berlalu, batas antara dunia nyata dan dunia di sosial media jadi sesuatu yang bias.

Bahkan dulu ada anekdot bahwa setiap orang harus punya dua nama, nama asli dan nama akun twitter. Kini persona itu berubah menjadi satu tubuh. Avatar pun menjadi nyata. Internet benar-benar telah menjadikan kita semua warganya mau tidak mau. Secara kasual kita menjadikan internet bagian hidup terpenting dan terprivat yang tak terpisahkan.

Kita bisa lebih ekspresif, berani, bahkan bodoh di sosial media.

Masalah yang bersinggungan di sosial media kini bisa berujung panjang dan pahit di dunia nyata. Meski kadang ada yang berbuah manis, namun di bubble gue sekarang sepanjang apa pun yang gue lihat adalah pertarungan kata-kata kasar dan argumen-argumen yang membuat polusi pikiran. Bikin eneg.

Tiap-tiap orang merasa suara dan pendapatnya adalah yang paling penting dan wajib untuk semua orang tahu. Padahal yang namanya lapisan sosial bakal ada aja gesekan, pasti ada perbedaan. Karena tiap orang memiliki standar mereka sendiri, taste mereka sendiri, it doesn’t mean ketika satu opini elo ditentang oleh sebagian orang itu artinya mereka adalah haters atau ngajak berantem.

Ya mungkin simply karena mereka hidup dengan definisi yang berbeda yang kebetulan aja sekarang berbagi ruang yang sama di internet sama elo. Jadi jangan sewot dan merasa ini rumah aing terserah aing. Karena masalahnya tiap orang yang pakai internet bisa punya akses buat lihat jejak digital elo.

Kejadian yang paling menjengkelkan tentu saja kalau melihat ada orang yang mulai bawa isu SARA dengan ucapan kasar dan merendahkannya itu. Gue yang labil dan drama ini tentu saja kepancing untuk komentar. Ujungnya? Ya, perang bacot.

Percaya deh, di awal-awal pasti sangat sulit untuk menghindari dorongan untuk tidak berkomentar. Pasti gemas ngeliat kebodohan-kebodohan yang berseliweran. Tapi akhirnya gue sadar bahwa meladeni itu semua hanya buang-buang waktu, energi, dan kuota.

Untungnya kini di Facebook sudah ada fitur unfollow namun tetap bisa berteman demi asas masa lalu dia orang yang baik namun kini dia berubah jadi orang yang layak untuk dihindari.

Selain ketiadaan sopan santun di internet yang meresehakan lagi adalah fenomena orang-orang yang terobsesi dengan angka-angka like, followers, dan komentar. Metriks-metriks itu yang akhirnya membuat alogaritma bekerja dan menentukan bahwa hal-hal tertentu menjadi penting dan viral. Terlepas penting tidak pentingnya postingan tersebut.

Padahal secara konten apa yang sebenarnya jadi advokasinya?

Akhirnya, yang menyedihkan adalah semua angka itu kini jadi yang paling matter dalam sebuah kesuksesan seseorang di internet. Mereduksi hal besar menjadi pertanyaan, berapa nanti yang ngelike? Berapa followersnya? Berapa yang bakal reach kontennya?

Angka-angka dan kepopuleran semu itu akhirnya mencungkil sesuatu yang paling penting. Untuk apa konten itu dibuat dan akan berpengaruh seperti apa nantinya? Akankah merubah sesuatu?

Sudah banyak sekali contoh nyata beberapa orang yang melacurkan dirinya demi genapnya kenaikan jumlah angka-angka like dan followers di sosial media mereka. Kita semua diperbudak oleh itu semua.

Kapan terakhir kali bisa ngobrol tanpa semenit dua menit enggak ngeliatin gadget? Kapan terkahir kali bisa makan tanpa harus pusingin nanti make filter foto apa dan pake quotes sok pinter dan nginggris yang mana lagi? Kapan terkahir kali jalan-jalan santai tanpa harus mikirin ganti-ganti baju demi ootd dan benar-benar nikmatin suasana, manusia, dan lingkungan yang disekitar?

Gue tau sosial media juga penting, hence ironisnya gue bahkan dapet duit dan kerja di bidang sosial media. Namun gue sadar, kini sosial media berubah jadi monster yang pelan-pelan makan kewarasan dan kepedulian kita sebagai manusia. Bukan lagi jadi sarana silaturahmi dan cerita-cerita sharing bermakna lagi.

Maka dari itu, lewat gegap gempita dunia internet juag sosial media yang sangat bising akhir-akhir ini. Terkadang gue berfikir, obsesi mencintai diri sendiri yang berlebihan, bibit-bibit fitnah dan kebencian yang sudah terlanjur menggunung dan ditelan mentah-mentah oleh banyak orang, akan seperti apa ya ujungnya nanti?

Apakah ini semua berakhir seperti di salah satu episode epik Black Mirror? Ketika teknologi, internet, dan sosial media menjadi pisau tajam yang tak lagi membantu namun hanya menjadi alat destruktif yang melukai dan menghabisi apa pun  yang tidak seirama dengan tujuannya.

Akankah itu terjadi dalam waktu dekat? Atau yang menakutkan adalah sebenarnya itu semua sudah terjadi dan gue terlambat untuk menyadarinya.

Awkarin Naked

maxresdefault (2)

Diambil dari akun youtube Awkarin

So, if you are coming because of the title, let me tell you, you will get nothing.

Jadi dulu gue pernah nulis tentang fenomena Awkarin di blog gue. Gue tertarik nulis tentang dia karena saat itu Awkarin lagi beken-bekennya ketika buat video yang isinya Awkarin nangisin mantannya si Gaga pas mereka putus dan sepertinya semua orang bahas dia aja. (Elo bisa baca tulisannya di sini -> AWKARIN NANGISIN GAGA).

Trafficnya saat itu ke blog gue lumayan banget, tapi karena blog ini cuma ala kadarnya dan hanya untuk nuangin unek-unek di kepala sekali waktu. Jadi move on lah gue dari drama Awkarin dan jarang nulis lagi.

Lalu setelah setahun berlalu, di suatu malam gue iseng check daleman-delamean settingan blog dan riset keyword apa aja yang mampir ke blog gue. And guess what, ternyata gue menemukan sesuatu yang bikin gue kaget dan tergelitik.

Ternyata beberapa orang datang ke blog ini dengan keyword-keyword ajaib macem gini; awkarin naked, awkarin nude, awkarin sex, awkarin topeless.

Aje gile, ada ya orang yang kepo sampe segitunya. Padahal mereka tinggal buka di Instagram dan semua elemen kehidupan Awkarin yang paling mikroskopik sekalipun sudah doi pamerin di situ.

Screen Shot 2017-10-25 at 1.25.00 PM

Anyway, setelah setahun berlalu, hidup Awkarin masih diwarnai dengan drama dan kontroversi. Dia bergabung dengan management Takis Ent, berpacaran dengan managernya Oka, mengeluarkan single-single yang tak kalah sensasionalnya, Oka meninggal dan dia jadi pusat perhatian lagi karena banyaknya konspirasi yang terjadi setelahnya. Dia berantem sama Anya Geraldine. Dst, dst, dst. Enggak abis abis deh.

Sampai ya banyak banget petisi yang ingin banned Awkarin karena ia dianggap sebagai bad influence untuk generasi muda. Karena ya itu, tindakannya sering berkonotasi ‘nyeleneh’, jika tidak mau dibilang negatif.

Persepsi itu semua terjadi dikarenakan seringnya ia mempertontonkan kehidupan pergaulan malam yang sering ia update di media sosial, yang mana di Indonesia hal tersebut masih sangatlah tabu dan di cap sebagai aktivitas ‘nakal’ oleh sebagian orang yang ironisnya enggak pernah clubbing dan enggak tau bagaimana isinya seperti apa. Jadi judging itu pun hadir dari asumsi belaka yang ditempelkan begitu saja.

Awkarin juga rutin menghadirkan branding dirinya yang merokok dan minum-minuman alkohol di postingan media sosialnya. Yang mana itu adalah double trouble di pandangan mereka yang konservatif.

Julukan bad girl pun dengan kukuh ia tempelkan pada dirinya dengan kerap mengeluarkan kata-kata kasar di berbagai platform media sosial yang ditonton oleh banyak anak kecil dan remaja nanggung satu Indonesia. Karena demografis itulah yang jadi main followers dirinya.

Tapi yang paling fenomenal dan menuai banyak cibiran sebenarnya adalah tentang keberanian Awkarin untuk terbuka akan seksualitas dirinya lewat tubuhnya.

Menanggapi hal tersebut argumentasi gue setahun yang lalu jelas bahwa; she can do whatever she wants.

Karena itu badan dia, hidup dia, dan siapa sih yang enggak pernah melakukan kebodohan-kebodohan di masa muda dan berkata-kata kasar? So I thought why bother, just mind your business.

Tapi tunggu dulu, setelah gue addressing argument tersebut, banyak sekali komentar yang masuk dari teman-teman gue dan beberapa orang asing atas apa yang telah gue tulis.

Suara itu terbagi 3:

  1. Yang Kontra, karena mereka menganggap apa yang Awkarin pertontonkan dapat berpengaruh pada psikologis anak-anak yang masih di masa look up into someone, dan anak-anak itu melihat Awkarin sebagai panutan yang keren dengan campaign nakal boleh bego jangan. Atas hal tersebut dampak yang terjadi adalah banyaknya anak-anak kecil mempertontonkan aktivitas seksual mereka yang belum sepantasnya mereka lakukan di usia mereka. Juga trend berkata kasar pun marak terjadi. Ini dirasa menjadi degradasi moral bagi generasi yang akan datang.
  2. Yang Pro, mereka menganggap Awkarin sudah dewasa dan berhak melakukan apa pun yang dia mau. Dengan tubuhnya, dengan hidupnya, dan berpikir apa yang dilakukan Awkarin berada dalam batas wajar bagi benchmark pergaulan mereka.
  3. Yang biasa aja tapi kepo, mereka enggak mengiyakan apa yang Awkarin lakukan itu benar atau salah. Mereka hanya suka dengan drama yang ada.

Banyaknya masukan tersebut membuat kami berdiskusi, dan akhirnya setelah itu ada beberapa poin yang agaknya merubah pemikiran gue akan fenomena Awkarin ini.

  1. Gue sadar bahwa apa yang dihadirkan Awkarin bukanlah sesuatu yang idealnya ditonton oleh mereka yang belum kuat untuk memiliki filter mereka sendiri, bukan seperti kita yang sudah dewasa dan telah melalui fase pencarian jati diri. Anak-anak kecil dan remaja itu masih rentan akan pengaruh sana-sini, dan dengan nilai yang masyarakat dan orang tua kebanyakan buat menjadikan apa yang dihadirkan oleh Awkarin adalah sebuah kontra pada nilai sosial yang ada.

Tapi gue enggak setuju bahwa:

  • Dengan apa yang Awkarin tampilkan orang-orang bisa bebas untuk memberikan komentar kasar dan judging seenaknya gitu. Kadang, kata-kata yang para haters itu sampaikan tidak sesuai pada konteks dan lebih menyerang ke ranah pribadi. Hanya karena Awkarin perempuan, masa ia tidak boleh berkata kasar, clubbing, minum-minum alkohol, dan PDA? Lain cerita jika itu dilakukan oleh laki-laki. Pasti respon yang didapat tidak akan senegatif ini. Bias gender ini yang menurut gue tidak adil.

2. Peran orang tua menjadi sangat penting di sini, karena mereka lah yang akan menjadi konselor anak-anak mereka. Memberitahukan pada anak-anak tersebut mana yang bisa mereka contoh dan mana yang tidak. Tidak semena-mena semua kesalahan dititikberatkan pada Awkarin semata. Karena orang tua yang harusnya menumbuhkan filter dan melakukan pendekatan secara lebih dekat dalam mengontrol apa yang anak konsumsi di era informasi yang begitu cepat ini. Jika mereka diberikan smartphone dan akses internet, kontrol dan tanggung jawab menjadi dua arah. Komunikasi pun menjadi kuncinya. Jangan malu untuk bertanya pada anak tentang apa yang sedang trend di lingkungannya, dan terus aktif mempelajarinya.

3. Kita enggak lebih baik dari Awkarin.

Jadi stop untuk memberikan komentar-komentar jahat pada siapa pun yang kalian enggak suka. Ketika elo emang enggak suka, just ignore it. Karena toh jika kita tidak memberikan atensi berlebih pada hal-hal yang seperti itu lama-lama mereka akan hilang juga. They gonna be another one hit wonder dan orang-orang akan lupa setelahnya.

Tapi ya, siapa gue ya buat maksain pemikiran ini ke orang-orang. Jadi kalau yang gue tulis enggak sama dengan apa yang ada di otak elo. That is totally okay.  Tapi bukan berarti elo mendadak jadi manusia paling suci dengan modal ngomong astagpiruloh dan ngasih ayat-ayat suci di kolom komentar kemudian seenaknya judging hidup orang. NO WAY!

Karena gue percaya semua orang punya dosa mereka masing-masing, semua manusia bertanggung jawab dengan diri mereka sendiri, jadi ada baiknya untuk menunjuk ke diri sendiri dulu sebelum pointing finger dan teriak-teriak ke orang lain.

You know, just be nice. Have a nice day everyone 🙂

Mari Bicara Tentang Film Indonesia

Gegap gempita Pengabdi Setan (2017) Joko Anwar membawa saya pada pemikiran; sepertinya tren untuk me-remake film-film lama Indonesia untuk dimunculkan lagi ke kalangan generasi milenial saat ini merupakan suatu strategi marketing yang mumpuni.

Terbukti banyaknya film-film klasik dari era 50an hingga 80an kembali dihidupkan dengan nafas yang lebih modern oleh para sineas film demi menyesuaikan selera para penonton film Indonesia sekarang yang didominasi oleh para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja awal. Yang notabene demografis umurnya berada di angka 14 hingga 35 tahun* dan aktif di media sosial.

Tahun yang berbeda tentu saja menghadirkan gap tren sosial yang berbeda pula pada penonton baru dengan film asli yang dibuat di era sebelumnya.

Karena sejatinya film memang menggambarkan situasi dan fenomena isu yang terjadi di jamannya. Jika boleh saya mengandaikan, film ibarat mesin waktu yang dapat membawa kita mengintip narasi dan visual masa lalu dengan lebih estetik.

Gap tren sosial yang paling nyata adalah pembaharuan teknologi dan akses informasi dalam era digital. Yang mana di kehidupan masyarakat sekarang rasa-rasanya sulit untuk tidak menggunakan internet dan media sosial dalam keseharian. Jika tidak mau dibilang adiktif. Sesuai dengan target audience penonton film Indonesia.

Kemajuan tersebut tentu saja berefek pada pergeseran paradigma berfikir masyarakat menjadi lebih global.

Jadi, isu-isu kelas masyarakat antara si kaya dan si miskin yang dulu merupakan momok dalam masyarakat Indonesia di era 70-80an. Kini di tahun 2017 bisa dengan lebih kasual disampaikan pada penontonnya. Pun bukan menjadi sentra dan penggerak cerita, melainkan hanya background karakter belaka.

Perbedaan situasi dan tren yang saya bahas tadi dimanfaatkan beberapa film maker sebagai manuver pendekatan ke penonton milenialnya.

Contohnya seperti di film Galih & Ratna (2017) versi Lucky Kuswandi yang merupakan pembaharuan dari film sebelumnya yang berjudul Gita Cinta Dari SMA (1979)  karya Arizal yang dibintangi ikon bintang muda di masanya, Rano Karno dan Yessy Gusman.

Cerita orisinalnya mengangkat tema besar tentang perbedaan kelas sosial antara Galih si Miskin dan Ratna si Kaya. Dikotomi tersebut menjadi kentara karena isu itulah yang menjadi konflik film. Namun di film Galih & Ratna dirubah menjadi lebih ‘kekinian’ dengan esensi narasi filmnya yang berputar tentang pengakuan diri dan mengejar mimpi (eksistensialisme) pada masing-masing karakter.

Formula tersebut tentu saja mampu membuat cerita lebih dekat pada penonton milenial sekarang yang isu pada generasinya kini memang tentang berlomba-lomba menunjukkan siapa diri mereka. Hasilnya? Film Galih & Ratna ditonton lebih dari 121 ribu orang.

Namun tentu saja ada banyak formula untuk membuat sebuah film remake tetap menjadi entitas yang dapat dinikmati oleh lintas generasi. Seperti setia dengan gagasan awal film pendahulunya.

Contohnya film Ini Kisah Tiga Dara (2016) Nia Dinata dan Nagabonar Jadi 2 (2007) Deddy Mizwar yang sama-sama dibuat dengan pakem ide awal film terdahulunya dan dinamis pada karakternya.

Nia Dinata yang memang konsisten mengangkat isu feminisme, mengartikulasikan dengan baik roh film yang diargumentasikan dalam film Tiga Dara (1956) Umar Ismail. Perempuan yang melawan untuk tunduk dalam jerat patriarki dan stigma sosial perempuan telat menikah.

Pun dalam film Nagabonar Jadi 2 (2007) besutan Deddy Mizwar, ia tetap menonjolkan marwah patriotisme dan nasionalisme yang begitu kental di filmnya. Sama seperti film pendahulunya Nagabonar (1987) karya MT Risyaf.

Memang menjual romansa nostalgia merupakan win win solution untuk mendapatkan kue lebih banyak antar lintas generasi. Yang satu ingin mengulang pengalaman terdahulu dan generasi baru ingin merasakan sensasi pertamanya.

Namun, menurut saya pribadi kadang keontetikan film terdahulu jika tidak ditempatkan dengan baik akhirnya malah menjadi boomerang sendiri yang tidak menjawab masalah tantangan perbedaan yang saya sebutkan di awal tadi.

Contoh saja film Bangun Lagi Dong Lupus (2013) Benni Setiawan, yang sayangnya tidak berhasil menghidupkan kembali ikonitas Lupus beserta jajaran karakter lainnya. Geger Lupus di masanya yang merupakan simbol anak muda yang ngocol namun kreatif, aktif, dan kritis tidak tersampaikan dengan baik. Jika tidak ingin dibilang buruk.

Lupus di film ini seakan bingung dengan dirinya sendiri yang ingin menjadi sosok baru khas anak muda masa kini atau sekadar wannabe saja. Saya merasa tidak tersentuh dengan misi Lupus maupun keseluruhan cerita di dalamnya. Pun film Catatan Harian Si Boy (2011) Putrama Tuta yang gemilang dalam eksekusinya, masih belum berhasil mengabadikan karakter Satrio sebagai regenerasi Mas Boy yang dicintai banyak orang. Baik perempuan maupun laki-laki.

Disayangkan padahal film seperti Lupus dan Mas Boy di film Catatan Si Boy berhasil menjadi ikon kondang di masanya. Seakan menjadi tolak ukur maupun potret remaja di generasinya. Sebuah pencapaian yang sukses untuk sebuah film yang berubah menjadi pop culture. Timeless.

Kini film Indonesia seakan kehilangan tokoh-tokoh karakter kuatnya yang abadi dan dekat dengan penontonnya.

Dan perlukah saya membahas Warkop DKI Reborn 1 & 2?

Beberapa Film Klasik Indonesia Yang Layak Untuk di Remake

Well, terlepas dari itu semua, sebagai penikmat film Indonesia rasa-rasanya saya bermimpi untuk mengulang pengalaman menonton beberapa film klasik Indonesia.

Deretan film ini layak untuk dihidupkan kembali berdasarkan pencapaian gemilang mereka di masa lalu dan kesesuaian cerita akan situasi krisis sosial budaya juga pergeseran nilai lokal ke global yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya kategorikan dalam beberapa genre dan tema.

Dalam kategori drama sosial, saya mengajukan film:

  1. Taksi (1990) Arifin C Noer

Taxi Jugaa

Film Taksi seolah hadir sebagai sarkasme di masanya. Seorang sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan dan mengadu nasib ke kota besar alih-alih malah menjadi seorang supir taksi. Dari sana Giyon (Rano Karno) pun mengalami turbulensi hidupnya ketika mendapati penumpangnya Desi (Meriam Bellina) meninggalkan anaknya. Lewat akting di film ini Rano Karno memenangkan aktor terbaik di Piala Citra.

Taksi berhasil membicarakan hingar bingar ibu kota dengan cara menyindir dan menggambarkan situasi kondisi masyarakat ibu kota yang ikut campur dan menghakimi dengan baik di sini. Sesuatu yang layak dilihat di masa sekarang.

2. Cintaku di Rumah Susun (1987) Nya’ Abbas Akup

220px-Cintaku-di-rumah-susun

Film dramedi favorit saya. Kompleksitas dan keanekaragaman karakter yang hidup dalam satu rumah susun pasti sangatlah menarik untuk ditonton. Komedi situasi dari masing-masing background karakter yang berbeda dapat menggambarkan betapa kayanya budaya dan toleransi yang ada di Indonesia.

Lika-liku masalah masing-masing karakter pastilah akan mengundang tawa dan sindiran khas akan fenomena-fenomena sosial yang kita saksikan setiap harinya di kehidupan nyata.

3. Si Mamad (1973) Sumandjaya

Si_Mamad_(1973;_obverse;_wiki)

Memenangkan film terbaik dan aktor utama pria terbaik di FFI 1974. Bercerita tentang si PNS jujur yang terpaksa untuk korupsi kecil-kecil namun akhirnya membawa perasaan menyesal mendalam dalam kesehariannya. Film yang pastilah sangat wajib dibuat ulang mengingat banyaknya kejadian korupsi di negara ini setiap harinya.

Kategori romansa dan drama keluarga, saya mengajukan film:

  1. Boneka Dari Indiana (1990) Nya’ Abbas Akup

Boneka_Dari_India

Keluhan dari orang tua saya adalah jarangnya ia melihat cerita film Indonesia yang menggambarkan demografis dirinya. Sesosok suami istri dengan problematika yang menjerat di tengah-tengahnya.

Semasa dulu memang sepertinya film Indonesia lebih kaya dari segi tema dan cerita. Seperti halnya di film ini. Drama romantis komedi ini menceritakan pasangan suami istri baru yang selalu didikte oleh mertuanya. Lucu sekali, menghadirkan tawa yang membuat saya merenung dan meninggalkan perasaan hangat setelahnya.

Tidak diragukan lagi Nya’ Abbas Akup merupakan sineas klasik Indonesia favorit saya yang setia dengan tema-tema dasar di sekelilingnya yang dekat dengan penontonnya.

Perlu penjelasan lagi untuk membuat film ini diremake?

2. Pacar Ketinggalan Kereta (1989) Teguh Karya

Pacar_Ketinggalan_Kereta

Kisah romantis beda kelas memang menjadi favorit di masanya. Si kaya dan si miskin yang terhalang cintanya oleh si orang tua yang memandang rendah perkara tersebut. Namun yang paling saya sukai dari film ini adalah betapa Teguh Karya mengangkat isu perempuan dengan status janda menjadi karakter yang kuat dan mandiri.

Teguh karya tidak terjebak pada generalisasi umum akan pandangan janda itu sendiri. Ia malah bermain-main di sini. Film yang sangat menghibur pun penting karena keunikannya menggambarkan irisan polemik keluarga kaya dan miskin. Cinta.

Perlu dibuat ulang karena minimnya cerita film keluarga di Indonesia.

3. Usia 18 (1980) Teguh Karya

Usia_18_(1980;_obverse;_wiki)

Menampilkan Jaya pub yang klasik lengkap dengan isinya. Cerita film ini masih berputar tentang kelas dan perbedaan ekonomi. Namun yang menjadi lucu jika disaksikan sekarang adalah betapa sepelenya penyelesaian konflik di sana jika masing-masing dari mereka memiliki telfon genggam haha.

Saya tertarik untuk melihat bagaimana film maker membuat ulang film ini yang di mana mampu menonjolkan IKJ dan pentas drama dengan gambaran yang se-epik Teguh Karya tampilkan di film ini.

4. Cintaku di Kampus Biru (1976) Ami Prijono

053305100_1432119890-rae-Cintaku_Di_Kampus_Biru_1976-c

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk ditonton. Kekuatan film ini bukan hanya pada premisnya saja, melainkan kekuatan akting antara dua tokoh utamanya yang masing-masing memberikan penampilan yang pantas untuk diperbincangkan sepanjang masa.

Menarik untuk melihat bagaimana penggambaran cinta beda usia dan kampus biru UGM dari mata film maker saat ini.

5. Ramadhan dan Ramona (1992) Chaerul Umam

ramadhan-dan-ramona

Jika Hollywood memiliki deretan nama mulai dari Julia Robert, Jennifer Lawrence, dan Rachel Adam untuk pemeran ciamik film romantis komedi. Menurut saya Indonesia juga beruntung memiliki Lydia Kandou. Akting dan wajah cantik klasiknya merupakan roda penggerak film romantis di masanya.

Kategori kisah ikon remaja, saya mengajukan film:

  1. Lupus
  2. Olga Sepatu Roda
  3. Catatan si Boy

Ketiga film ini merupakan film legendaris yang mampu membawa jutaan penonton jatuh cinta dengan tiap-tiap tokoh utamanya. Tidak hanya melahirkan satu film, dua dari film di atas mampu membuat berjilid-jilid film di tahun-tahun berikutnya yang selalu sukses.

Fenomena ketiga film remaja tersebut juga memengaruhi pergaulan di masanya. Fenomena yang sama seperti di era digital. Bedanya pengaruh budaya pop ini lahir dari sebuah karakter fiktif beserta semestanya.

Siapa yang tidak ingin jadi wartawan dan memakan permen karet seperti Lupus?

Siapa yang setelah menonton film Olga tidak ingin belajar bermain sepatu roda dan menjadi penyiar radio?

Dan siapa yang bisa menandingi Okky Alexander sebagai si Boy yang kaya, gaul, dan soleh?

Karakter-karakter tersebut akan hidup terus menerus sebagai dokumentasi gambaran akan remaja yang mampu membuat perbedaan di masanya. Atau bisa dibilang revolusioner.

Menarik sebenarnya untuk melihat bagaimana karakter-karakter tadi beradaptasi dengan situasi digital saat ini.

Apakah Lupus akan menjadi blogger? Olga menjadi vlogger? Dan Mas Boy menjadi selebgram populer karena ketampanan, kekayaan, dan pergaulannya?

Kategori cerita anak, saya mengajukan film:

  1. Harmonikaku (1979) Arifin C Noer
  2. Djendral Kantjil (1958) Nya’ Abbas Akup
  3. Si Doel Anak Betawi (1972) Sjumandjaja

Apakah kalian asing dengan ketiga film tersebut? Berarti Anda melewatkan tiga film anak-anak terbaik yang pernah ada di negeri ini. Kesamaan dari ketiga film tersebut adalah kayanya muatan cerita lokal di dalamnya.

Baik budaya dan anekdot-anekdot daerah diartikulasikan dengan penyampaian yang memang ditunjukkan pada penonton muda.

Kesan petualangan dan kedekatan tema dasar yang diangkat pun akan membuat penontonnya jatuh cinta dengan para karakter utamanya dan ingin menjadi seperti mereka dan memiliki petualangan yang sama.

Minimnya film anak pun menjadi dasar mengapa perlu sekali dibuat kembali film untuk anak-anak yang mampu menampilkan keluguan dan kekayaan konten lokal dengan penampilan karakter kuat yang menjadi idola anak-anak.

Mendukung Film Indonesia Kedepannya

Saya percaya dengan menonton film Indonesia yang memuat konten berkualitas akan membuat kepercayaan penonton kembali hidup dan bergerak aktif. Karena seperti alasan awal saat kita menonton film saat pertama kali, yang kita cari adalah pengalaman sinematiknya. Kekuatan kasat mata yang dapat membawa kita penontonnya pergi ke dimensi lain dan larut dalam semesta yang para film maker itu buat.

Dan selama beberapa jam menonton, kekuatan-kekuatan dalam elemen film (musik, akting, cerita, sinematografi, dll) menggerakan emosi kita untuk tertawa, marah, dan menangis bersama film tersebut.

Sehebat itu kekuatan sebuah film untuk saya.

Dan saya yakin sekali masih ada film Indonesia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membuat penontonnya betah untuk datang lagi dan lagi ke bioskop.

Karena film Indonesia selalu memiliki caranya sendiri untuk terus bangkit dan melawan. Ia tengah bersiap-siap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Mari bersama-sama membuat itu menjadi nyata.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya daftar film kamu sendiri yang sepertinya cocok untuk dibuat ulang?

*Data lebih lengkap bisa dilihat di sini -> http://journal.unair.ac.id/filerPDF/7-13_3.pdf