Mari Bicara Tentang Film Indonesia

Gegap gempita Pengabdi Setan (2017) Joko Anwar membawa saya pada pemikiran; sepertinya tren untuk me-remake film-film lama Indonesia untuk dimunculkan lagi ke kalangan generasi milenial saat ini merupakan suatu strategi marketing yang mumpuni.

Terbukti banyaknya film-film klasik dari era 50an hingga 80an kembali dihidupkan dengan nafas yang lebih modern oleh para sineas film demi menyesuaikan selera para penonton film Indonesia sekarang yang didominasi oleh para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja awal. Yang notabene demografis umurnya berada di angka 14 hingga 35 tahun* dan aktif di media sosial.

Tahun yang berbeda tentu saja menghadirkan gap tren sosial yang berbeda pula pada penonton baru dengan film asli yang dibuat di era sebelumnya.

Karena sejatinya film memang menggambarkan situasi dan fenomena isu yang terjadi di jamannya. Jika boleh saya mengandaikan, film ibarat mesin waktu yang dapat membawa kita mengintip narasi dan visual masa lalu dengan lebih estetik.

Gap tren sosial yang paling nyata adalah pembaharuan teknologi dan akses informasi dalam era digital. Yang mana di kehidupan masyarakat sekarang rasa-rasanya sulit untuk tidak menggunakan internet dan media sosial dalam keseharian. Jika tidak mau dibilang adiktif. Sesuai dengan target audience penonton film Indonesia.

Kemajuan tersebut tentu saja berefek pada pergeseran paradigma berfikir masyarakat menjadi lebih global.

Jadi, isu-isu kelas masyarakat antara si kaya dan si miskin yang dulu merupakan momok dalam masyarakat Indonesia di era 70-80an. Kini di tahun 2017 bisa dengan lebih kasual disampaikan pada penontonnya. Pun bukan menjadi sentra dan penggerak cerita, melainkan hanya background karakter belaka.

Perbedaan situasi dan tren yang saya bahas tadi dimanfaatkan beberapa film maker sebagai manuver pendekatan ke penonton milenialnya.

Contohnya seperti di film Galih & Ratna (2017) versi Lucky Kuswandi yang merupakan pembaharuan dari film sebelumnya yang berjudul Gita Cinta Dari SMA (1979)  karya Arizal yang dibintangi ikon bintang muda di masanya, Rano Karno dan Yessy Gusman.

Cerita orisinalnya mengangkat tema besar tentang perbedaan kelas sosial antara Galih si Miskin dan Ratna si Kaya. Dikotomi tersebut menjadi kentara karena isu itulah yang menjadi konflik film. Namun di film Galih & Ratna dirubah menjadi lebih ‘kekinian’ dengan esensi narasi filmnya yang berputar tentang pengakuan diri dan mengejar mimpi (eksistensialisme) pada masing-masing karakter.

Formula tersebut tentu saja mampu membuat cerita lebih dekat pada penonton milenial sekarang yang isu pada generasinya kini memang tentang berlomba-lomba menunjukkan siapa diri mereka. Hasilnya? Film Galih & Ratna ditonton lebih dari 121 ribu orang.

Namun tentu saja ada banyak formula untuk membuat sebuah film remake tetap menjadi entitas yang dapat dinikmati oleh lintas generasi. Seperti setia dengan gagasan awal film pendahulunya.

Contohnya film Ini Kisah Tiga Dara (2016) Nia Dinata dan Nagabonar Jadi 2 (2007) Deddy Mizwar yang sama-sama dibuat dengan pakem ide awal film terdahulunya dan dinamis pada karakternya.

Nia Dinata yang memang konsisten mengangkat isu feminisme, mengartikulasikan dengan baik roh film yang diargumentasikan dalam film Tiga Dara (1956) Umar Ismail. Perempuan yang melawan untuk tunduk dalam jerat patriarki dan stigma sosial perempuan telat menikah.

Pun dalam film Nagabonar Jadi 2 (2007) besutan Deddy Mizwar, ia tetap menonjolkan marwah patriotisme dan nasionalisme yang begitu kental di filmnya. Sama seperti film pendahulunya Nagabonar (1987) karya MT Risyaf.

Memang menjual romansa nostalgia merupakan win win solution untuk mendapatkan kue lebih banyak antar lintas generasi. Yang satu ingin mengulang pengalaman terdahulu dan generasi baru ingin merasakan sensasi pertamanya.

Namun, menurut saya pribadi kadang keontetikan film terdahulu jika tidak ditempatkan dengan baik akhirnya malah menjadi boomerang sendiri yang tidak menjawab masalah tantangan perbedaan yang saya sebutkan di awal tadi.

Contoh saja film Bangun Lagi Dong Lupus (2013) Benni Setiawan, yang sayangnya tidak berhasil menghidupkan kembali ikonitas Lupus beserta jajaran karakter lainnya. Geger Lupus di masanya yang merupakan simbol anak muda yang ngocol namun kreatif, aktif, dan kritis tidak tersampaikan dengan baik. Jika tidak ingin dibilang buruk.

Lupus di film ini seakan bingung dengan dirinya sendiri yang ingin menjadi sosok baru khas anak muda masa kini atau sekadar wannabe saja. Saya merasa tidak tersentuh dengan misi Lupus maupun keseluruhan cerita di dalamnya. Pun film Catatan Harian Si Boy (2011) Putrama Tuta yang gemilang dalam eksekusinya, masih belum berhasil mengabadikan karakter Satrio sebagai regenerasi Mas Boy yang dicintai banyak orang. Baik perempuan maupun laki-laki.

Disayangkan padahal film seperti Lupus dan Mas Boy di film Catatan Si Boy berhasil menjadi ikon kondang di masanya. Seakan menjadi tolak ukur maupun potret remaja di generasinya. Sebuah pencapaian yang sukses untuk sebuah film yang berubah menjadi pop culture. Timeless.

Kini film Indonesia seakan kehilangan tokoh-tokoh karakter kuatnya yang abadi dan dekat dengan penontonnya.

Dan perlukah saya membahas Warkop DKI Reborn 1 & 2?

Beberapa Film Klasik Indonesia Yang Layak Untuk di Remake

Well, terlepas dari itu semua, sebagai penikmat film Indonesia rasa-rasanya saya bermimpi untuk mengulang pengalaman menonton beberapa film klasik Indonesia.

Deretan film ini layak untuk dihidupkan kembali berdasarkan pencapaian gemilang mereka di masa lalu dan kesesuaian cerita akan situasi krisis sosial budaya juga pergeseran nilai lokal ke global yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya kategorikan dalam beberapa genre dan tema.

Dalam kategori drama sosial, saya mengajukan film:

  1. Taksi (1990) Arifin C Noer

Taxi Jugaa

Film Taksi seolah hadir sebagai sarkasme di masanya. Seorang sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan dan mengadu nasib ke kota besar alih-alih malah menjadi seorang supir taksi. Dari sana Giyon (Rano Karno) pun mengalami turbulensi hidupnya ketika mendapati penumpangnya Desi (Meriam Bellina) meninggalkan anaknya. Lewat akting di film ini Rano Karno memenangkan aktor terbaik di Piala Citra.

Taksi berhasil membicarakan hingar bingar ibu kota dengan cara menyindir dan menggambarkan situasi kondisi masyarakat ibu kota yang ikut campur dan menghakimi dengan baik di sini. Sesuatu yang layak dilihat di masa sekarang.

2. Cintaku di Rumah Susun (1987) Nya’ Abbas Akup

220px-Cintaku-di-rumah-susun

Film dramedi favorit saya. Kompleksitas dan keanekaragaman karakter yang hidup dalam satu rumah susun pasti sangatlah menarik untuk ditonton. Komedi situasi dari masing-masing background karakter yang berbeda dapat menggambarkan betapa kayanya budaya dan toleransi yang ada di Indonesia.

Lika-liku masalah masing-masing karakter pastilah akan mengundang tawa dan sindiran khas akan fenomena-fenomena sosial yang kita saksikan setiap harinya di kehidupan nyata.

3. Si Mamad (1973) Sumandjaya

Si_Mamad_(1973;_obverse;_wiki)

Memenangkan film terbaik dan aktor utama pria terbaik di FFI 1974. Bercerita tentang si PNS jujur yang terpaksa untuk korupsi kecil-kecil namun akhirnya membawa perasaan menyesal mendalam dalam kesehariannya. Film yang pastilah sangat wajib dibuat ulang mengingat banyaknya kejadian korupsi di negara ini setiap harinya.

Kategori romansa dan drama keluarga, saya mengajukan film:

  1. Boneka Dari Indiana (1990) Nya’ Abbas Akup

Boneka_Dari_India

Keluhan dari orang tua saya adalah jarangnya ia melihat cerita film Indonesia yang menggambarkan demografis dirinya. Sesosok suami istri dengan problematika yang menjerat di tengah-tengahnya.

Semasa dulu memang sepertinya film Indonesia lebih kaya dari segi tema dan cerita. Seperti halnya di film ini. Drama romantis komedi ini menceritakan pasangan suami istri baru yang selalu didikte oleh mertuanya. Lucu sekali, menghadirkan tawa yang membuat saya merenung dan meninggalkan perasaan hangat setelahnya.

Tidak diragukan lagi Nya’ Abbas Akup merupakan sineas klasik Indonesia favorit saya yang setia dengan tema-tema dasar di sekelilingnya yang dekat dengan penontonnya.

Perlu penjelasan lagi untuk membuat film ini diremake?

2. Pacar Ketinggalan Kereta (1989) Teguh Karya

Pacar_Ketinggalan_Kereta

Kisah romantis beda kelas memang menjadi favorit di masanya. Si kaya dan si miskin yang terhalang cintanya oleh si orang tua yang memandang rendah perkara tersebut. Namun yang paling saya sukai dari film ini adalah betapa Teguh Karya mengangkat isu perempuan dengan status janda menjadi karakter yang kuat dan mandiri.

Teguh karya tidak terjebak pada generalisasi umum akan pandangan janda itu sendiri. Ia malah bermain-main di sini. Film yang sangat menghibur pun penting karena keunikannya menggambarkan irisan polemik keluarga kaya dan miskin. Cinta.

Perlu dibuat ulang karena minimnya cerita film keluarga di Indonesia.

3. Usia 18 (1980) Teguh Karya

Usia_18_(1980;_obverse;_wiki)

Menampilkan Jaya pub yang klasik lengkap dengan isinya. Cerita film ini masih berputar tentang kelas dan perbedaan ekonomi. Namun yang menjadi lucu jika disaksikan sekarang adalah betapa sepelenya penyelesaian konflik di sana jika masing-masing dari mereka memiliki telfon genggam haha.

Saya tertarik untuk melihat bagaimana film maker membuat ulang film ini yang di mana mampu menonjolkan IKJ dan pentas drama dengan gambaran yang se-epik Teguh Karya tampilkan di film ini.

4. Cintaku di Kampus Biru (1976) Ami Prijono

053305100_1432119890-rae-Cintaku_Di_Kampus_Biru_1976-c

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk ditonton. Kekuatan film ini bukan hanya pada premisnya saja, melainkan kekuatan akting antara dua tokoh utamanya yang masing-masing memberikan penampilan yang pantas untuk diperbincangkan sepanjang masa.

Menarik untuk melihat bagaimana penggambaran cinta beda usia dan kampus biru UGM dari mata film maker saat ini.

5. Ramadhan dan Ramona (1992) Chaerul Umam

ramadhan-dan-ramona

Jika Hollywood memiliki deretan nama mulai dari Julia Robert, Jennifer Lawrence, dan Rachel Adam untuk pemeran ciamik film romantis komedi. Menurut saya Indonesia juga beruntung memiliki Lydia Kandou. Akting dan wajah cantik klasiknya merupakan roda penggerak film romantis di masanya.

Kategori kisah ikon remaja, saya mengajukan film:

  1. Lupus
  2. Olga Sepatu Roda
  3. Catatan si Boy

Ketiga film ini merupakan film legendaris yang mampu membawa jutaan penonton jatuh cinta dengan tiap-tiap tokoh utamanya. Tidak hanya melahirkan satu film, dua dari film di atas mampu membuat berjilid-jilid film di tahun-tahun berikutnya yang selalu sukses.

Fenomena ketiga film remaja tersebut juga memengaruhi pergaulan di masanya. Fenomena yang sama seperti di era digital. Bedanya pengaruh budaya pop ini lahir dari sebuah karakter fiktif beserta semestanya.

Siapa yang tidak ingin jadi wartawan dan memakan permen karet seperti Lupus?

Siapa yang setelah menonton film Olga tidak ingin belajar bermain sepatu roda dan menjadi penyiar radio?

Dan siapa yang bisa menandingi Okky Alexander sebagai si Boy yang kaya, gaul, dan soleh?

Karakter-karakter tersebut akan hidup terus menerus sebagai dokumentasi gambaran akan remaja yang mampu membuat perbedaan di masanya. Atau bisa dibilang revolusioner.

Menarik sebenarnya untuk melihat bagaimana karakter-karakter tadi beradaptasi dengan situasi digital saat ini.

Apakah Lupus akan menjadi blogger? Olga menjadi vlogger? Dan Mas Boy menjadi selebgram populer karena ketampanan, kekayaan, dan pergaulannya?

Kategori cerita anak, saya mengajukan film:

  1. Harmonikaku (1979) Arifin C Noer
  2. Djendral Kantjil (1958) Nya’ Abbas Akup
  3. Si Doel Anak Betawi (1972) Sjumandjaja

Apakah kalian asing dengan ketiga film tersebut? Berarti Anda melewatkan tiga film anak-anak terbaik yang pernah ada di negeri ini. Kesamaan dari ketiga film tersebut adalah kayanya muatan cerita lokal di dalamnya.

Baik budaya dan anekdot-anekdot daerah diartikulasikan dengan penyampaian yang memang ditunjukkan pada penonton muda.

Kesan petualangan dan kedekatan tema dasar yang diangkat pun akan membuat penontonnya jatuh cinta dengan para karakter utamanya dan ingin menjadi seperti mereka dan memiliki petualangan yang sama.

Minimnya film anak pun menjadi dasar mengapa perlu sekali dibuat kembali film untuk anak-anak yang mampu menampilkan keluguan dan kekayaan konten lokal dengan penampilan karakter kuat yang menjadi idola anak-anak.

Mendukung Film Indonesia Kedepannya

Saya percaya dengan menonton film Indonesia yang memuat konten berkualitas akan membuat kepercayaan penonton kembali hidup dan bergerak aktif. Karena seperti alasan awal saat kita menonton film saat pertama kali, yang kita cari adalah pengalaman sinematiknya. Kekuatan kasat mata yang dapat membawa kita penontonnya pergi ke dimensi lain dan larut dalam semesta yang para film maker itu buat.

Dan selama beberapa jam menonton, kekuatan-kekuatan dalam elemen film (musik, akting, cerita, sinematografi, dll) menggerakan emosi kita untuk tertawa, marah, dan menangis bersama film tersebut.

Sehebat itu kekuatan sebuah film untuk saya.

Dan saya yakin sekali masih ada film Indonesia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membuat penontonnya betah untuk datang lagi dan lagi ke bioskop.

Karena film Indonesia selalu memiliki caranya sendiri untuk terus bangkit dan melawan. Ia tengah bersiap-siap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Mari bersama-sama membuat itu menjadi nyata.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya daftar film kamu sendiri yang sepertinya cocok untuk dibuat ulang?

*Data lebih lengkap bisa dilihat di sini -> http://journal.unair.ac.id/filerPDF/7-13_3.pdf
Advertisements

MTV Gue Banget

Jadi gue punya ritual yang gue enggak sadar bahwa gue telah membuat ritual itu sendiri. Ngorek-ngorek pop culture masa gue kecil dulu. Sesuatu yang dulu hadir sepotong-sepotong gitu, dan alhamdulilah dengan kemajuan teknologi bisa gue hadirkan kembali.

Ini  berjalan sekitar satu setengah tahun yang lalu saat gue baru pindah kerja dan teman-teman gue yang biasa ada untuk ngabisin waktu weekend bersama tiba-tiba pergi satu persatu. (Ada yang ngelanjutin study abroad, nikah, atau simply hilang aja).

Jadilah gue lebih banyak ngabisin waktu dengan diri gue sendiri bersama laptop yang selalu setia ini.

Aktivitas favorit tentu saja nonton. Baik itu berupa bokep, film/series dan mantengin Youtube. Milenial sekarang kan punya slogan, Youtube lebih dari Tivi, jadi yaudah lah ya remaja basian ini kepincut binge watching Youtube juga.

Dengan dua hari yang ada gue selalu jumping dari satu video ke video lain di Youtube sampai enggak sadar udah seharian dan mendapati kuota internet hampir habis.

Awalnya gue cuma mau nonton video konser Radiohead yang jadul jadul, lama kelamaan dengan alogaritma Youtube gue end up dengan medapati video ini.

Video campaignnya Mtv Exit tentang human trafficking, dan ada Radiohead nyanyi lagu All I need di sini. Tanpa diragukan lagi pesan di video ini kuat banget. Saking kuatnya ngebawa gue ke memori tahun 2008 silam, saat awal-awal gue masuk kuliah dulu dan inget pernah lihat video ini sebelumnya di tivi teman gue Andika. Karena dia borju sekali dan sudah pasang Indovision di saat orang-orang lain belum kenal tivi kabel.

Well anyways, despite powerful message-nya, yang sebenarnya bikin gue ke hooked adalah MTVnya.

Iya, MTV. Music Televison. Sebuah channel yang semasa gue SD sampai SMP dulu (kira-kira 1996-2004)  menjadi tontonan wajib anak muda di zamannya karena cuma di channel itu gue bisa nonton video klip artis-artis favorit gue dan ketawa ngakak ngeliat tingkah Mas dan Mbak VJ yang jadi panutanque. (Cie, generasi 90an, actually gue baru engeh sama MTV di hidup gue pas tahun 97an pas liat Sarah Sechan si olga sepatu roda jadi VJ di sana)

Mtv pertama kali gue tonton ada di Antv, terus pindah ke Global Tv, dan sekarang MTV Indonesia sudah die 😦

Mungkin bagi para remaja dan orang-orang dua puluhan awal ikatannya enggak sekenceng bagi mereka yang sekarang udah umur 27 ke 40an (ini asumsi ya pemirsa jangan sensitif kalau gue salah) karena dulu MTV hadir selama DUA PULUH EMPAT JAM dan acara-acaranya emang kece-kece berat. (Means, mereka beda dari acara-acara mainstream di tivi-tivi nasional tempo itu). So, siapa yang enggak ke hooked sama MTV masa itu?

Elo pulang sekolah nonton MTV Most Wanted ngeliatin VJ Donita atau MTV Ampuh sama Mbak Shanty, terus pulang ngaji dari TPA abis ngapalin janji santri lo ngeliat muka Sarah Sechan dan Jamie Aditya di MTV Land, atau sampai bosen bisa hafal artis-artis mana aja yang ada di tangga lagu acara TLC yang diulang-ulang terus.

Tapi selain acara musik, MTV punya beberapa program sendiri yang konsepnya ngehek banget. Ini jadi semacam benih untuk ngedidik gue jadi si nyinyir yang bermulut kotor dan selalu sinis ngeliat hidup.

Menu acaranya semacem:

  1. Celebrity Death Match

Screen Shot 2017-09-29 at 12.15.26 AM

Acara bangke yang pertama kali gue tonton dulu gue kira adalah sebuah acara kartun ye kan. Kiyut dengan lilin-lilin macem kisah nabi di TPI dulu. Taunya emang nyebelin aja.

Jadi acaranya tentang artis-artis yang di kehidupan nyata yang emang rival-an terus di sini dibuat berantem beneran. Karakternya dari lilin dan mereka berantem di ring tinju ditonton oleh lilin-lilin yang lain. Berantemnya bener-bener sadis yang darah ngocor ke mana-mana, terus kalau tulangnya patah, patahan tulangnya bener-bener diliatin dan dijadiin mainan. Terus yang lucunya adalah mereka pas lagi berantem pasti bacot-bacotan yang kocak banget. Ngatain masing-masing orang dengan gosip-gosip yang mereka deny di dunia nyata. Pokoknya belajar sarkas dari sini deh.

Jaman dulu pas nonton beginian ya ketawa-ketawa aja entah kenapa, enggak ada linu-linunya. Episode paling epic yang gue inget pas Britney Spears vs Christina Aguilera.

Ya 2000an dulu kisah catfight mereka kan kenceng banget. Pas nonton episode itu kayak terpuaskan banget. Yes, akhirnya mereka berdua berantem juga. Hahaha.

Acara Celebrity Death Match ini gue rasa terinspirasi dari SmackDown deh. Karena kan dulu acara berantem-beranteman hype banget. Dari sanalah kata-kata ajaib seperti: Gue sleding tekel juga nih nenek lo itu hadir.

2. Beavis and Butthead

Kalau elo ngerasa juri dangdut d’academy udah bacot banget, elo harus liat dua orang ini. Mereka savage in the new level. Kalau enggak suka sama satu video klip band atau artis tertentu mereka bakal nyinyir dan bilang. Ini jelek banget! In your face dude. Mati ga lo.

Mereka semacam bisa ngucapin sesuatu yang orang-orang nyata ga berani atau males ngomong karena takut ngundang masalah. Tapi karena konsepnya kartun jadi mereka woles aja.

Terus yang diomongin bokep muluk. Tapi mereka enggak berani ngelakuin. Haha. Typical remaja lah. Dulu pas nonton ini gue rada ga ngerti dan masih ngeraba-raba maksud omongan mereka apa sih. Dan acara ini disiarin tengah malem terus. Jadi memori gue akan mereka agak samar-samar.

the-best-mtv-cartoons-you-ll-never-forget-u1.jpeg

3. Daria

Screen Shot 2017-09-29 at 12.55.38 AM

Nih perempuan bener-bener deh. Semua salah aja di mata dia. Dia definisi judes bin julid. Tapi kata-kata dia tuh kadang emang bener. Entah karena pembelaan dia aja yang emang males bersosialisasi atau dia kelewat peka. Hahaha.

Tapi gue suka banget sama konten remaja yang sarkas versi dia. Waktu nonton jaman dulu masih ga paham kenapa sih nih cewek kok males banget hidupnya kayaknya. Tapi pas gue re-wathced sekarang, tiap omongannya doi dan gambaran karakter-karakter yang lain kece abis. Mereka berhasil buat nyinggung dan bahas isu-isu penting yang remaja saat itu enggak kepikiran atau males bahas. Dan dibungkusnya pop banget, jadi ga ngeguruin atau keras banget. Lucunya masih dapet pas nonton.

Tema episode Daria bisa bahas tekanan remaja kulit hitam untuk tampil sempurna dan ga end up jadi kriminal, atau pandangan Daria tentang pendidikan dan gap kelas sosial di pergaulannya yang dia pretelin satu persatu. Pokoknya bikin orang bangun dari mimpinya.

Karena dia jujur dan enggak mau ngabisin waktu dia untuk jadi orang yang pada akhirnya bohong sama diri sendiri. Ini ngebuat doi disebelin orang-orang sih. But most of the time dia emang resting bitch aja yang don’t give a fuck sama hidup. And I like it.

Selain program-program tivi itu, tentu saja yang jadi daya darik MTV seperti yang gue jelaskan di awal adalah VJnya.

Dan favorit gue adalah……..

Screen Shot 2017-09-29 at 1.01.13 AM

The one and only Sarah Sechan. Gue bakal buat satu postingan sendiri sih tentang doi sepertinya.

Pertama kali liat dia itu di serial Olga Sepatu Roda, untuk anak umur enam tahun cerita Olga itu menghibur banget. Dan Sarah Sechan juga Cut Mini mainin karakternya enak banget. Gue inget pernah ngambek enggak ngaji TPA gara-gara enggak liat Sarseh di Olga dan digantiin sama Melly Manuhutu. Hahaha. Ya maklum namanya juga anak kecil.

Dan heboh banget lah gue pas ganti-ganti channel nemu Mbak Sarseh di Antv. Hal yang paling gue inget dari doi adalah: dia tuh lucu dengan kelucuan yang enggak lo bisa tebak dia serius apa becanda.

Dengan candaan yang tidak berlebihan dan enggak ngehina fisik orang. Doi ga butuh teriak-teriak buat terlihat lucu dan narik perhatian orang. Dia semacam punya teknik sendiri yang buat elo betah nonton dia dan ngeliat dia bawain sesuatu serasa simple dan cool banget. Berkelas deh.

Dan terbukti untuk yang pernah nonton dia di acara MTV pasti akan mengingat dia sebagai personality paling menyenangkan di layar kaca kita.

Terkadang masa alay dulu, gue sering berkhayal bisa bawain acara atau siaran radio dengan gaya dia yang asik dan simple banget itu. Sampe ya, semua cewek senior gue di SD dan SMP dulu dengan alaynya pas ngenalin diri make nama belakang sechan. HAHAHA. Balik lagi, ya namanya juga anak kecil.

Tapi ya mau gimana lagi, masa itu tuh nonton MTV jadi semacam benchmark buat anak muda berasa gaul dan hitz. Karena ya elo ngerasa internasional banget aja dengan niru ngomong indo-inggrisnya para VJ. Atau deg-degan pas nungguin karya kerajinan tangan elo dibacain atau enggak di MTV Most Wanted buat request Celine Dion nyanyiin lagu soundtracknya Titanic yang diputer-puter tiap 5 menit sekali di tivi masa itu. Tapi amazingnya elo ga bosen-bosen loh.

Semacem lihat fenomena ponakan-ponakan kita bisa back to back dengerin lagu Let it go – Frozen selama setahun penuh. Rasanya ya tiap elo denger itu lagu muncul di dalem mobil atau mall, bawaannya pengen elo tembak pake tombak aja itu speaker.

Tapi ya, aing kangen masa-masa itulah. Simple life. Di saat drama hidup cuma ulangan sekolah dan acara OSIS. Kalau ada masalah saat itu ya obatnya adalah cukup dengan duduk depan tivi sambil makan ciki Taro terus ngeliatin Mbak Sarah Sechan yang kocak meski kadang aku ndak ngerti doi ngomong apa (kadang enggak ada translate-annya pas doi ngomong). Hidup rasanya beres aja gitu. Sambil ketawa-ketawa sendiri pas nungguin doi bacain zodiak di MTV Getar Cinta.

Sebenarnya banyak banget memori seru selama delapan tahun nonton MTV, tapi ini yang paling ngebekas. Harus diakui MTV telah membentuk sejarah pop culturenya sendiri. Hingga orang bisa menyebut diri mereka generasi MTV, karena kesamaan akan pengalaman mereka.

Mulai dari pergeseran komunikasi yang digunakan dalam percakapan, gue perhatiin acara-acara di tivi yang dulunya menggunakan kata-kata baku, mereka coba untuk lebih rileks dan ngikutin mode-nya MTV pake gue-elo dan copy-an panggilan anak nongkrong. Disehari-hari pun kayaknya kalau elo enggak bisa bahasa inggris saat itu ya kayaknya kampung dan cupu banget. Gue inget banget sampe minta les sama nyokap biar keliatan tampil aja gitu. NIH GUE BISA NGEMENG ENGGRES. (yang padahal belepotan juga haha tapi waktu itu lo bisa ngartiin lagu I have a dream Westlife udah berasa megang banget deh).

MTV juga ngebentuk the way anak remaja berfikir jadi lebih berani dan nyeleneh. Karena memang kata MTV masa itu bisa diartikan sebagai sesuatu yang bersifat rebel. Dan asosiasi tersebut akan menempel bagi yang menontonnya. Elo jadi super kreatif aja kalau nonton acara-acara MTV.

MTV juga berhasil menghadirkan semestanya sendiri tentang gemerlap dunia seleb yang ga kesentuh (Remember Mtv Cribs, a day with… dan Pimp My Ride?). Mereka tuh ngebuat artis jadi semacam dewa yang harus disembah. Kesempurnaan fisik mereka, kekayaan hartanya, pergaulan A-list dengan event-event dunia yang megah, pasti ngebuat elo bisa ngayal babu pengen jadi bagian di dalamnya. Meski cuma sekecil ketombe mereka. Demam selebritis muncul dari sana.

MTV juga berhasil membawa peta permusikan ke level yang baru. Para penyanyi yang beken di radio, step up the game dengan ngebuat video klip yang berharap bisa sepowerful musik mereka. Kadang ada yang berhasil, tapi ada juga yang gagal. Dari MTV banyak banget video-video musik jenius yang hadir. Ngebuat yang nonton wanna have a piece of everything yang ada di sana. Tapi dari situ pula cemoohan artis-artis yang modal tampang doang mulai diperbincangkan. Asal lo cakep, semok, elo bisa masuk tivi buat nyanyi. Terlepas lo bisa nyanyi atau enggak. Apalagi ya degradasi perempuan untuk di overly sexualized ya dari MTV juga sih. You can see boobs and ass everywhere di Youtube sekarang ini ya karena MTV.

Dan soal musik, berkat MTV gue jadi tahu musik-musik alternatif yang enak didenger dan seru untuk ditonton di MTV Unplugged. The Cure, Nirvana, Lauryn Hill. Artis-artis yang emang bukan beredar di pasar mainstream bisa punya pasarnya sendiri karena MTV.

Tapi ya masa-masa itu udah lewat dan bisa dilihat acara-acara musik di Indonesia kacrut semua. Mereka bahkan ga bahas musik sama sekali. Beruntung banget gue bisa spend my childhood dengan nonton MTV. Hence, MTV akan tetap di hati dan tentu saja Mtv gue banget deh.

Jadi, momen MTV apa yang paling elo inget di hidup elo?

2 AM Thought

When your mind speak louder and you cannot sleep then you become ‘sok filosofis’. #padahalbesokkerjapagi

Ada banyak momen di penguhujung tahun ini yang ngebuat gue agaknya seperti diam sejenak, lalu tertawa pahit. Men, I’m old.

Tahun 2017 ini gue akan berumur 27 tahun.

Angka keramat yang kalo di film 3 hari untuk selamanya, si Yusuf bilang adalah umur di mana seluruh semesta elo diobok-obok terus elo muntah dan diliatin deh tuh apa aja yg udah dilaluin sepanjang 27 tahun itu.

For some people pasti ada yg nyeletuk; ‘yaelah masih muda kali baru 27’ atau ‘sudah tua loh elo harus udah serius, nikah gih’.

Asli, bawaannya pengen gue toyor orang-orang macem gitu. Bukan hanya karena mereka sok tahu, mereka juga dengan enaknya mengenerelisasi hanya berdasarkan opini tunggal dari pengalaman mereka aja. Coy, ngane siapa berhak nentuin nasib orang?

For me, gue percaya hidup yang cuma sekali ini layak banget untuk diapresiasi. Untuk dijalankan to the fullest dan semoga berguna bagi orang lain.

Gue bangga sekaligus sedih dengan apa yg orang tua gue udah kasih ke gue. Mereka bekerja begitu keras agar anak-anaknya sekolah dan bisa makan layak. Tapi semua itu harus mereka bayar mahal dengan ngorbanin mimpi dan kebahagiaan mereka sendiri.

Mungkin orang tua gue tidak mengenal konsep YOLO seperti milenial sekarang. Orang tua gue berpedoman; biar susah sekarang tapi anak jangan sampai seperti mereka. Itu yang membuat mereka bangun tiap paginya meskipun badan mereka sudah ringsek karena capek kerja.

Ditambah lagi mereka juga harus memendam hasrat hidup mereka. Menertawakan mimpi lama mereka yg terasa tak masuk akal. Dan menjalani hari hanya untuk orang lain. Bukan diri mereka sendiri.

Apa yg mereka lakukan adalah hal yg mulia banget.

Tapi, sejujurnya gue enggak mau hidup seperti itu. Gue enggak mau hidup untuk orang lain.

I have a dream and I want to make it happen. Some people will call me selfish. Tapi buat gue, ini adalah alasan utama mengapa gue hidup. I want to make a change. Gue mau berkarya. Meskipun akan butuh waktu lama untuk sampai di titik sana. Tapi gue enggak akan menyerah.

Saat elo bilang gagasan itu semua ke khalayak umum. Yang elo dapet pasti cemooh dan terkadang penghakiman. Ini yang agaknya kurang gue suka dengan konsep sosial di masyarakat saat ini yg sangat memenjarakan hak privat seseorang dan tidak mendukung kesetaraan hak pribadi. I mean if they want to be “mentingin karir dibanding yg lain” just let them be. Enggak perlu usil dengan hal-hal yg memberatkan. Hidup orang udah susah. Kalo ga bisa bantu, minimal jangan bikin pusing.

Terlepas dari permasalahan sosial, masalah dalam hidup juga kerap kali muncul dalam diri sendiri. Dalam bentuk ego, nafsu konsumtif, rasa malas dan kekosongan diri.

Bagaimana mau berkomitmen, jika membuat bahagia diri sendiri saja enggak bisa.

Beratnya hidup di norma masyarakat, hausnya pengakuan dari orang lain, dan terjerat akan ego sendiri sepertinya masalah yang harus diputus di 2017 ini. Karena saat gue membuat projection keuangan selama setahun. Gue tertawa pilu. Melihat deretan angka yg harus dicari, dikeluarkan, disimpan. Gua takjub dengan kondisi bahwa angka-angka ini yang mewakili gue. Ini adalah track record atas pilihan-pilihan gue. Tenyata gue sendiri terjebak atas standar ini.

Ini salah siapa? Ya salah gue sendiri. Karena terlalu lama berkutat dengan definisi-defisini orang lain yang enggak sesuai dengan tujuan awal gue.

Dan gue ingin menyudahi itu semua. Gue ingin terlepas dari ego untuk terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Ingin tampil lebih di mata orang lain. Gue tidak mau lagi hidup atas dasar definisi itu. I don’t need to impress anyone anymore, or buying stuff that just to makes me feel belong to some click or something. Nope. I’m done with that.

Jika hidup diibaratkan seperti traveling. Elo semua bisa liat, ada banyak orang yg sampai mati akan mengkotak-kotakan; elo tim backpacker, elo tim koper, elo tim apalah. Padahal ya, yaudah aja. Jalan-jalan ya buat nyenengin diri sendiri. Bukan terperangkap pada struktur yg dibuat orang lain. Elo harus coba ini, elo harus bawa ini, elo ga boleh ini, etc. Elo fokus pada teknis dan melupakan substansi kesenangan traveling itu sendiri.

Karena pada akhirnya, inti dari sebuah perjalanan buat gue adalah tentang pengalamannya, tentang prosesnya. Mau kemanapun destinasinya. We can learn from anywhere.

Begitu pun juga hidup. Setidaknya buat gue.

Pahitnya Kolom Komentar

d54ab10f6ef5d9b8f8b209386f0effdd4ac9364f_hq.gif

Untuk saya yang bekerja di dunia digital, khususnya di social media. Bukan lagi hal asing untuk menghabiskan waktu berjam-jam mengamati tren terkini di berbagai kanal media sosial. Penting untuk saya mengikuti perkembangan demi perkembangan akan suatu berita maupun kasus yang akhirnya diperbincangkan oleh banyak orang, yang kini kemudian disebut viral dan berakhir menjadi suatu meme. Kebanyakan lucu, tapi sekarang sudah agak berkurang lucunya.

Menarik sekali bahwa media sosial yang tadinya berfungsi untuk pelarian dari kehidupan nyata. Untuk sekadar bersenang-senang; seperti sarana berkomunikasi dengan teman yang sudah lama tak bertemu, tempat rentetan update status akan curahan hati terkini, juga praktik baru dalam berbagi album foto-foto liburan dengan tagging massal, atau sekadar untuk berjualan handphone dan baju. Mendadak berevolusi menjadi arena untuk menyebar hate speech dan hoax (berita tidak benar).

Mengapa kita semua sampai di titik ini?

Saya tidak punya teori khusus, secara bebas saya pribadi berhipotesa bahwasanya fenomena ini terjadi karena pada dasarnya people love attention. Pun media sosial hadir atas dasar itu.

Karena di media sosial kita dapat mengukur secara langsung respon dan sentimen seseorang akan berita/kabar tertentu dengan cepat. Sekali posting, dalam detik berikutnya kita dapat mengetahui siapa saja yang menyukai posting tersebut. Orang berkomentar apa, dan sebagainya.

Itu sebabnya media sosial membuat orang haus dan berlomba-lomba mendapatkan like, share, dan komentar dari banyak orang. Popularitas semu itulah yang mendorong impian terpendam seseorang menjadi selebritas bisalah kini tersalurkan di media sosial. Dalam dunia media sosial, orang bebas untuk menjadi apa pun.

Kebebasan itulah yang terkadang membuat media sosial menjadi tidak terfilter. Pola yang terdahulu di mana seseorang mencari berita/kabar terkini, sekarang berganti menjadi berita/kabar yang mendatangi seseorang. Pada akhirnya kita mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita tau.

Di sanalah, ranah publik dan privat menjadi bias, bahkan cenderung hilang.

Karena orang-orang berfikir yang sudah ada di linimasa adalah sesuatu yang bersifat umum. Fenomena itu yang kini membuat kolom komentar menjadi ladang bebas kebanyakan orang yang merasa ‘memiliki hak’ berpendapat akan apa pun yang muncul di lini masa mereka. Orang-orang di media sosial kini tak lagi menghargai privasi seseorang, dalam bentuk apa pun.

Kolom komentar saat ini kebanyakan disesaki oleh  keganasan, kebengisan, dan kebebalan dari kepribadian seseorang dalam bentuk kata-kata. Kesopanan dalam berkomunikasi pun seolah tidak diperlukan, karena mungkin mereka berfikir; ‘Ini online juga, enggak tatap langsung, enggak akan ketemu orangnya juga.’

Alih-alih berpendapat sesuai konteks, kebanyakan orang cenderung untuk menyerang secara SARA dan jumping into conclusion. Logical fallacy atau kesalahan berfikir kerap kali ditemukan pada tiap topik yang memang membutuhkan analisis tajam dan referensi lebih. Dengan berbekal googling saja, mendadak orang-orang bertransformasi menjadi polisi moral, ahli kitab, dan kompeten akan banyak hal.

Dengan dorongan dan modal pemikiran, akun aing terserah aing. Seseorang lupa bahwa, aktivitas yang terjadi di media sosial tak ubahnya apa yang terjadi di dunia nyata. Bentuk komunikasi dalam bentuk unggahan foto, komentar, update status yang menyinggung seseorang, it is still hurt people. Luka tetaplah luka.

Maka tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa, kolam komentar adalah gambaran tergelap kepribadian seseorang. Karena jika ingin melihat hilangnya kemanusiaan dalam diri manusia, kolom komentar bisa jadi referensi terkini akan situasi tersebut.

Rentetan akan kebebasan berpendapat yang kebablasan dan atensi banal berlebih dari banyak orang, yang menurut saya membuat hate speech dan hoax menjadi subur berkeliaran menjadi viral di media sosial saat ini.

Saya teringat wawancara Kris Jenner di E! Online di suatu waktu, dia pernah bilang kurang lebihnya: ‘Di saat sekarang, berikan seseorang keyboard, dan mereka bisa membuat ucapan paling mengerikan di dunia ini.’

I’m not a big fan of Kardashian family, tapi kali ini saya mengamini apa yang Kris Jenner ucapkan. Mungkin itu adalah gambaran terdekat dari realitas kehidupan masyarakat online saat ini.

The Biggest Problem of Modern People

1-djdiSQjlcc9nGIgw18aqPg.jpeg

Menurut saya akar permasalahan yang sering terjadi di dunia modern saat ini adalah gagalnya komunikasi satu sama lain.

Baik itu dalam skala personal maupun profesional. Komunikasi diganyang sebagai suatu issue yang menghambat performa seseorang maupun dalam kesatuan tim.

Dasarnya komunikasi adalah jalinan umpan balik, a conversation antara satu orang dengan yang lain dengan membawa satu pesan yang akhirnya sama-sama dipahami.

It is about how you delivere the message.

Namun terkadang, skill komunikasi seseorang terhambat pada keengganan seseorang untuk mengolah pesan terlebih dulu. Ada ego sebesar bulan yang membuat mereka merasa superior dibanding lawan bicaranya.

Alih-alih memahami, kebanyakan orang memilih berkoar paling keras seolah dia yang paling paham sabab musababnya. Parahnya lagi, paling tahu solusinya. Dan cacatnya logika pun semakin subur keluar dari mulutnya.

Skema sederhananya, mulut mereka terbuka lebih dulu sebelum otak mereka berfikir.

Menurut saya, di situlah di mana kebodohan itu hadir. Ketika tidak ada satu pun saraf dalam otak manusia tersebut berupaya untuk menghela nafas sejenak, for one or two second, kemudian membaca ulang pesan yang ia dapatkan, mencernanya then comes up dengan buah fikiran berupa pilihan respon terbaik apa yang dapat mereka utarakan.

Karena some people say, mulutmu harimaumu. Sekali berucap, you can’t take back your word, it is include your stupidity.

Saya menulis ini bukan karena saya peduli dengan skill komunikasi satu orang — I’m pointed to someone who was bumped into me with a zero skill of communication and shouted toward me like that person knows how to deal the problem. Instead solve the issue, that person just shows how stupid that person can be.

Dalam seni komunikasi pun diajarkan agar kita lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena dengan mendengar tanpa terburu-buru merespon seseorang, kita dapat mengetahui sebuah informasi baru. Di kasus ini adalah, kebodohan seseorang.

You can laughed afterwards, right on that person face or some secret chat room.

Setidaknya saya belajar sesuatu hari itu, dalam terjalinnya komunikasi ada kalanya lebih baik kita diam dan mengalah. Membiarkan imajinasi tumpul seseorang mengokoh dan menjelma menjadi stupa kebodohan yang menjeratnya dalam suatu kebiasan.

Mengapa Sulit Sekali Untuk Berempati?

Ada yang pernah bilang pada saya, kurang lebih seperti ini: empathy before ego.

More or less orang itu menjelaskan bahwa pada situasi tertentu, yang di mana kita tidak dapat merasakan penderitaan orang lain, setidaknya kita mampu berempati untuk kesedihannya. Bukan berbuat seolah-olah tidak mau memahami yang dialaminya.

Contoh kecilnya: Seorang Ibu hamil yang berdiri di kendaraan umum (kereta, red). Kondisi kereta di jam sibuk bukanlah waktu yang ideal untuk bernyaman-nyaman. Kebanyakan isinya adalah mereka yang berangkat kerja atau pulang kerja. Semua orang sama-sama mengantuk, letih, dan berdesak-desakan. Memang, ada gerbong yang dikhususkan untuk perempuan. Namun pada praktiknya, meledaknya jumlah penumpang, dua gerbong saja tidak cukup.

Pun, di kereta sudah ada peraturan untuk tempat duduk prioritas yang dikhususkan untuk ibu hamil, manula, penyandang berkebutuhan khusus, dan ibu yang membawa anak.

Peraturan itu sudah jelas, bahwa sesama penumpang harus saling menghormati.

Untuk para lelaki pastinya tidak pernah merasakan beratnya hamil. Setidaknya, berbaikhatilah memberikan tempat duduk anda untuk perempuan tersebut. Karena, meskipun anda tidak merasakan beratnya hamil sambil berdiri berdesak-desakan. Setidaknya anda berempati untuk kondisinya. Meskipun anda dalam kondisi sangat kantuk sekalipun.

Kalahkan ego anda yang berupa kantuk untuk seseorang yang kiranya lebih membutuhkan. Tidak ada yang bilang kantuk anda tidak penting. Namun, ini pilihan di mana anda memenangkan empati atas ego anda.

Situasi ini sering sekali saya dapati di kehidupan perkeretaan. Banyak sekali anak muda laki-laki yang kurang memahami nilai tersebut. Dibanding badan bugar mereka, si ibu yang menggendong anak kecil atau bapak-bapak yang sudah sepuh, jelas lebih membutuhkan tempat duduk tersebut.

Sekali lagi, ini bukan berarti kenyamanan anda sesuatu yang tidak penting. Namun alangkah terpujinya jika anda mempraktikan hal tersebut. Membantu sesama, menghormati yang lebih tua, dan peduli pada lingkungan sekitar. Toh, jika anda melakukannya, anda sedang berbuat baik pada seseorang. Ada pahala untuk anda.

Secara sadar tidak sadar, nilai anda pun sebagai manusia akan bertambah. Tidak butuh gelar pendidikan tinggi untuk memahami permasalahan ini. Hanya tinggal menambah dosis kepedulian akan lingkungan disekitar saja.

Karena yang paling mengerikan dari manusia adalah ketika hilangnya kepedulian akan sesama.

Ps: Tulisan ini dibuat saat kesal melihat dua remaja laki-laki bugar bermain hape di tempat duduk, dan tidak peduli memberikan tempat duduk mereka ke ibu-ibu yang menggendong anak dan seorang bapak tua.

Demam Awkarin

Screen Shot 2016-07-26 at 3.13.41 PM

Kemarin saya janjian makan malam dengan Tania, teman kantor lama saya. Pilihan kami jatuh pada tema all you can eat ala makanan Jepang di City Walk.

“DAGING, Jem!” teriak Tania girang.

Keakraban kami terjalin karena fakta bahwa kami sama-sama karnivora kelas berat dan, ehem, suka makanan gratisan.

Saat sampai di depan resto tersebut kami tercekat ketika melihat harga menu all you can eat yang terpajang, ada perasaan ragu muncul. Seperti, “Masihkah kami bisa hidup di bulan depan?”

Lalu Tania menggunakan otak ITBnya, dengan menghitung bill makanan kami (termasuk pajak) nantinya ditambah dengan hutang-hutang kartu kredit dan cicilan, dan mendapatkan hasil bahwa dapat dipastikan sebulan ke depan menu makanan kami hanya promag di mix dengan nutrijel rasa pandan.

Tapi didorong hasrat yang besar untuk memanjakan diri, kami pun melangkah pasti memasuki resto dengan dagu terangkat saat Mbak-Mbak pramusaji berteriak lantang, ‘MARI KAKAK!!!’ ketika menyambut kami berdua. Kami kalah dengan perut sekali lagi.

Setelahnya adegan yang terjadi, seperti para karnivora soleh lainnya yang melihat daging, kami pun makan dengan kalap. Tanpa rasa malu memesan daging setiap sepuluh menit sekali.

“Kok bisa enak banget ya daging? My LOVEEE,” ujar Tania sambil mengangkat irisan tebal daging tersebut lalu mencampurnya dengan rempah-rempah (yang gue lupa namanya, tapi enak) dan keju cair yang DEMI APA PUN ENAK BANGET. Ia sebut hal tersebut sebagai kontemplasi stadium tiga. Dunia mengecil. Yang tersisa hanya dia dan daging di tangannya.

Sejam sudah, waktu kami tinggal tiga puluh menit lagi. Sembari menunggu pesanan yang lain datang, Tania menunjukkan handphonenya kepada saya.

“Udah tau soal Awkarin? Liat videonya deh.”

Ada satu video yang berisi dua orang cewek berusia di awal dua puluhan sedang menjelaskan sesuatu soal ‘roda pasti berputar’ dan ‘semua orang pasti punya salah’ kemudian dilanjuti dengan iringan tangis histeris cewek satunya yang nantinya akan saya kenal dengan nama Awkarin.

Lalu dari satu video, Tania menunjukkan video lainnya, dan kami berakhir men-stalking Instagram Awkarin dan mantannya yang bernama Gaga (which adalah yang ia tangisi di video tadi. Gaga mutusin Awkarin sehari sebelum ulang tahun Gaga, dan Awkarin tetap buat pesta kejutan untuk Gaga, kali ini sebagai seorang teman saja, mengutip apa yang diutarakan Awkarin dalam videonya. Aw, sweet banget).

Tania pun menjelaskan dengan telaten siapa-siapa saja yang ada di dalam video-video Awkarin. Juga Tania ikut berkontribusi akan terbentuknya teori konspirasi mengapa Gaga mutusin Awkarin dan teori-teori alternatif lainnya. Dipastikan Tania menghabiskan waktu luangnya dengan sangat baik untuk menghafal rantai kehidupan sosial Awkarin.

“Dia mau ngasih kado DRONE dong ke si GAGA! Drone aja harganya minimal 13 JUTA! Gue mau ngasih kado sepatu ke pacar gue yang cuma 10 persen dari harga drone, harus nyicil enam bulan,” kata Tania heran.

“Duit dari mana ya dia?”

“Di endorse dari brand-brand di Instagram,” jawab Tania dengan ekspertnya. Seolah telah tamat membaca 101 Things About Awkarin.

Saat meneliti konten Instagram mereka berdua, sejujurnya harus diakui mereka memiliki estetika kualitas foto yang baik secara warna dan komposisi.

“Hmm, boleh juga nih anak,” puji saya. Tulus.

“Tapi, gue kalau jadi orang tua, engga mau loh anak gue kayak gini,” ucap Tania saat menghabiskan sisa daging terakhir kami.

“Itu egois engga sih? We judge her, talking shit about what she did, padahal kita saat labil-labilnya dulu engga jauh beda seperti Awkarin ya. We smoke, we got drunk, less PDA dan dronenya aja sih.”

“Bebas sih sebenarnya. Doi punya badan bagus plus sama borju juga. Kita yang kere pasti iri liatnya.”

Kami berdua tertawa miris, karena kenyataan sampai sekarang masih begini-begini aja kehidupannya.

“Tapi takut aja, ngeliat anak gue nantinya behavenya kayak gitu. Deep down gue tau, gue bukan manusia yang baik. Tapi setidaknya gue sekarang belajar untuk jadi lebih baik lagi,” aku Tania.

“Paham kok paham. Mungkin si Awkarin juga belum ke arah sana. Tapi engga adil buat dia dijadikan benchmark sebagai moral remaja di sini. Dia engga punya tanggung jawab apa-apa sih sebenarnya, terlepas banyaknya orang yang akhirnya ngikutin gaya hidup dia.”

Tania mengangkat pundaknya, “It’s her life then.”

Lalu datang Mbak-Mbak Pramusaji dengan selembar kecil total makanan kami yang ternyata engga kecil harganya.

Split bill ya, Mbak!” teriak kami kompak.

— –

Di jalan keluar, saya menumpang pulang dengan mobil Tania. Ketika hampir sampai depan kosan, kami harus memutar di depan lampu merah. Saat kami ingin berputar, dari arah depan ada satu motor yang seharusnya stay karena lampunya jelas-jelas merah, dia malah jalan selonong dengan santainya.

Kami berdua pun memaki-maki dengan kesal.

“Anak ANJING!”

“Jangan, anak anjing lucu! Kebagusan.”

“Apa dong?”

“Anak Farhat Abbas!”

Saat sampai depan kosan, saya berpamitan dengan Tania. Namun tidak beberapa lama ada sesuatu yang mengusik saya.

“Tan,” saya mengetuk kaca mobilnya.

“Apa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tania bingung.

“Elo sadar kan? Kita muterin mobil di jalan tadi juga sama salahnya dengan si pengendara motor tadi?”

“Ya kan itu jalanan terdekat ke sini, kalau muter di depan jauh.”

“Tetap salah engga sih?”

“Salah sih. Tapi udah nyampe juga. Udah gue ngantuk. Bye!”

Tania kemudian meninggalkan saya dengan lebih banyak hal mengganjal dalam kepala saya.

‘Kenapa kita harus marah padahal kita sama-sama salah? Kenapa harus ngerasa lebih baik?’

Saat sampai kamar saya mengintip kembali Instagram Awkarin kini dengan membaca beberapa komentar di postingannya. Lalu tak lupa melengkapi ke-kepoan saya dengan mensearch namanya di Google.

Banyak yang mendedikasikan tulisan tentang Awkarin, namun isinya lebih ke arah memojokan dan menyayangkan transformasi Awkarin yang sekarang.

Saya pun terpancing ketika membaca kemurkaan para penggiat moral internet yang merasa Awkarin bertanggung jawab atas tren gaya hidup ‘hedon vulgar, dan kebarat-baratan’ yang diikuti banyak anak muda di Indonesia. Sebuah kontra atas konon budaya timur yang sangat dijunjung tinggi di Indonesia ini. Entah deh budaya timur yang mana yang mereka bicarakan.

Karena serius deh. Memangnya Awkarin minta semua anak remaja di Indonesia ngeblonde-in rambutnya sambil teriak-teriak bilang anjing sambil ngerokok?

Engga toh?

Para anak-anak itu secara sukarela mengikuti Awkarin, seharusnya jika mereka considering apa yang Awkarin lakukan dianggap salah, adalah tugas para orang tua untuk meningkatkan komunikasi ke anak-anak mereka. Saya yakin, banyak orang tua yang sudah jarang mengecek dan berkomunikasi dengan anaknya jika membahas isu seperti ini.

Lalu salah siapa?

Ya enggak salah siapa-siapa.

Kita semua pasti pernah menjadi Awkarin di umur yang sedang ranum-ranumnya. Yang ingin mencoba banyak hal yang dulu dilarang oleh orang tua. Explore our body and sexuality.

About proudly doing stupid things for the sake of love, Sure we had an up and down moments when it’s about coping with hard break up. Also sometimes, we want to look badass by smoking, drinking alcohol and etc. We’ve been there before.

Bedanya sekarang di 2016 ini ada tren media sosial yang menghadirkan teknologi bernama Instagram dan aplikasi chat lainnya. Yang membuat Awkarin bisa memamerkan kehidupan pribadinya yang paling mikroskopik sekalipun.

Tapi mengapa dibanykanya anak muda yang juga sama seperti Awkarin, malah dia yang paling dikenal?

Karena ada demands yang tinggi. Semua orang diam-diam menyukai Awkarin. Seperti Tania. Di depan berkelakar, padahal dibelakang sebenarnya tahu betul apa yang akan dia lakukan di series vlog-vlog berikutnya.

Kenyataan bahwa di media sosial orang bisa bebas berkomentar apa pun yang mereka mau tanpa peduli dia kenal atau tidak dengan orang tersebut. Tinggal ketik di keyboard, mereka bisa mengetik hal-hal paling kejam, bengis, dan judgmental yang pernah ada. Seolah mereka yang memberi komentar menjelma menjadi nabi yang merasa memliki kehidupan lebih suci dibanding Awkarin.

Karena, siapa sih kita yang akhirnya memutuskan apa yang terbaik buat Awkarin? Liat saldo tengah bulan aja nangis, peduli amat ngurusin hidup orang. Biar itu jadi tugas orang tuanya dan Awkarin sendiri. Karena itu hak Awkarin sepenuhnya untuk menjadi seperti apa dirinya nanti. Bukan menuruti apa yang ‘society’ inginkan.

We do not walk in her shoes, so we know nothing about it. Tidak adil rasanya dengan semena-mena memberikan hujatan tanpa dasar pada dirinya.

Jangan-jangan kita sebenarnya tidak lebih baik dibanding Awkarin, jelas-jelas Awkarin tidak malu untuk menunjukan siapa dirinya, showing her true skin. Sedang kita, tak lebih dari orang yang tahu bahwa itu salah, terus melakukannya, lalu menutupinya dalam-dalam.

“Tapi, gue setuju. Gue engga mau anak gue nantinya kayak Awkarin. Anak gue harus kayak Maudy Ayunda,” saya mengirimkan chat tersebut ke Tania.

Menyedihkan bahwa kebanyakan dari kita menuntut seseorang menjadi sebersih Nabi, tapi diam-diam menikmati peran sebagai pendosa.

Yeah, life.