Review Film Teman Tapi Menikah: Gemas-Gemas Gimana Gitu

Screen Shot 2018-04-19 at 12.06.44 AM

Apakah laki-laki dan perempuan bisa bersatu dalam ikatan pertemanan tanpa ada rasa suka pada satu sama lain?

Pertanyaan itu mungkin sering kamu dengar atau jangan-jangan sedang kamu jalani sekarang ini?

Nah buat yang sedang berada dalam dilema tersebut ada baiknya kamu menonton film manis satu ini berjudul Teman Tapi Menikah. Film yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama karya dari pasangan selebritas yang sedang naik daun: Ditto dan Ayu Diah Bing Slamet.

Kisah film Teman Tapi Menikah sangat sederhana, tentang Ditto yang memendam perasaannya selama 12 tahun pada Ayu dan seperti spoliler di judul filmnya: mereka berdua pun berakhir menikah bersama.

Tapi tentu saja selama dua belas tahun premis tersebut tidak dijalani dengan sesederhana itu. Pasti ada banyak naik turun yang dialami Ayu dan Ditto.

Seperti saat Ditto yang sabar melihat Ayu selalu berganti pacar dan dia hanya dijadikan senderan untuk memberikan contekan dan tukang antar jemput. Yang mana dilakukan oleh Ditto dengan ikhlas sekadar untuk bisa menemani dan melihat Ayu.

Secara pribadi saya sangat menikmati menonton film ini. Tidak ada plothole yang ganggu, tidak ada aktor-aktor dengan akting yang nyebelin, atau gangguan-gangguan teknis lain. Semuanya terasa pas pada porsinya.

Film Teman Tapi Menikah memang dikhususkan untuk mereka para penyuka film romansa yang sudah mengikuti kisah Ditto dan Ayu sebelumnya lewat bukunya atau akun media sosial mereka.

Dan bagi yang tidak mengikuti sama sekali, baik di media sosial atau membaca bukunya (seperti saya), ketika menonton film ini malah menjadi tertarik untuk mengulik kisah mereka berdua lebih dalam lagi.

Yang menjadi unggulan dalam film Teman Tapi Menikah adalah keseluruhan elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari para aktornya, baik yang utama maupun pendukungnya, semua berakting dengan sangat baik. Dan tepuk tangan paling meriah tentu saja diberikan pada Adipati dan Vanesha yang berakting dengan sangat natural dan menggemaskan. Para penonton, setidaknya saya, dibuat percaya bahwa mereka adalah dua orang teman yang memiliki kedekatan yang asik.

Menonton film ini, saya seperti melihat entitas tersendiri, saya tidak tahu seperti apa Ditto dan Ayu Diah di kehidupan nyatanya. Jadi, saya melihat keduanya berakting dengan sangat baik sesuai karakter yang mereka bawakan.

Gambar-gambar yang diproduksi dalam film ini pun BAGUS sekali. Meski ada beberapa yang glossy dan kuningnya terlalu berlebihan, namun memang tujuannya untuk menghasilkan gambar yang clean dan penanda sebagai kilas balik ke masa lalu. Jadi, masih bisa ditoleransi lah.

Favorit saya adalah bagaimana film ini merekam Bandung dengan begitu indah dan gambaran kosmopolitas juga upper class keluarga Ibu Kota yang tidak berlebihan namun tetap memabukkan.

Yang paling saya soroti adalah adegan pembuka film ini saat Ditto mendengarkan detail-detail suara di sebuah cafe saat menunggu Ayu datang. Semua terasa enerjetik dan menular. Settingnya seperti iklan yang menarik. Namun, sayangnya detail-detail tersebut berhenti di awal saja. Padahal saya menunggu ada keterikatan filosofi perkusi dengan cerita film ini. Sayangnya tidak ada.

Selebihnya film ini begitu cerewet dengan dialog-dialog yang penuh tanpa memberikan jeda pada gambar-gambar diam yang sebenarnya bisa bercerita sendiri.

Seperti saat Ditto naik bus menuju rumahnya saat menyadari ia butuh membeli mobil untuk bisa pulang bersama Ayu. Atau saat Ayu merasa dikhianati oleh Ditto ketika ia menyatakan perasaan sukanya pada Ayu dan Ayu akhirnya berkubang pada perasaan sedihnya di kamar tidur.

Dua scene tersebut pengambilan gambarnya terlihat sangat poetic dan berpotensi untuk memberikan kedalaman pada cerita dengan dramatisasi yang memang pas untuk kegamangan dan kesedihan yang ada pada plotpoint penceritaan.

Jadi, saya merasa film ini terlalu berisik menuntun para penontonnya untuk mengetahui emosi dan perasaan masing-masing karakter lewat dialog-dialog yang terus menerus mengulang kata-kata yang sama. Mungkin itu untuk kebutuhan quoting caption di media sosial kali ya. Yang sebenarnya saya rasa tidak perlu-perlu amat.

Sehingga tidak ada ruang ‘theater of mind’ para penontonnya untuk menerka-nerka ke mana jalan cerita ini seterusnya akan berjalan meskipun dengan ending yang sudah mereka tahu dari awal. Tidak masalah ketika kita sudah tahu akhir dari cerita tertentu, namun setidaknya dalam drama tentu saja penonton membutuhkan twist dan kejutan-kejutan sendiri untuk membuat tensi cerita agar tetap naik dan menarik.

Terlepas dari itu, film ini cukup berhasil untuk memberikan emosi pada penontonnya ketika adegan Ditto yang akhirnya menyatakan perasaannya pada Ayu di Cafe. Umpan-umpan di awal yang sudah ditaruh untuk siap memburai emosi penonton saat Ayu menolak Ditto berhasil dengan sempurna menarik kailnya untuk dikoyak pada flashback yang asik saat Ayu akhirnya pun menyadari betapa penting arti Ditto dalam hidupnya.

Ditambah musik-musik pengiring yang hadir dengan seru. Terutama saat muncul lagu Melupakanmu dari Endah n Rhesa juga lagu yang dibawakan Iqbaal Ramadhan. Secara keseluruhan dapat mengisi momen-momen sedih, senang dan romantis dengan manis.

Saya senang sekali bisa menonton film remaja ‘cinta-cintaan’ yang dibuat dengan proper dan akhirnya menghasilkan kesinergisan antara isi cerita dan elemen-elemen lainnya. Salut untuk para kru dan aktor di film ini!

Kembali lagi ke pertanyaan awal apakah dua orang dengan gender yang berbeda bisa berteman tanpa ada ketertarikan seksual satu sama lain? Jawabannya ya cuma kamu sendiri yang tahu. Tapi jangan lupa untuk berjuang memberitahukannya kalau-kalau kamu suka.

Anyway another observation sepanjang film ini adalah:

  1. Fashion secara keseluruhan film ini tuh sudah asik, penggambaran Ditto yang kece dan gaul dengan sempurna terwakilkan dari pemilihan style dan baju yang pas dari awal sampai akhir. Tapi KENAPA WIG DI MASA SMP GANGGU BANGET SIH?
  2. Terus tiga baju terakhir yang dipakai Ayu mulai dari baju kuning di cafe, kemudian adegan dia ngasih tau pacarnya kalau Ditto menyatakan perasaan (rambut dia berantakan ga jelas juntrungannya juga anting dan dan kalung bunganya yang segede-gede gaban itu ganggu banget). Paling epik adalah baju pas dia ke Bali. Itu baju yang dipakai labil banget. Mau bikini atau levis atau apa sih? Enggak ngerti.

Selebihnya semua masih oke untuk ditonton seru-seruan bareng pacar atau teman yang lagi kamu kode-kodein.

Selamat menonton!

 

Advertisements

Referensi Film: Sakit Yang Enggak Berdarah Part 3 [SPOILER]

Halo teman-teman, Figuran Jakarta kembali lagi dengan referensi film yang siap merobek kalbu bagi tiap-tiap netizen yang menontonnya.

Sebelumnya kalian sudah menonton film-film yang ada di PART 1 dan PART 2 belum?

Kalau sudah, maka gue akan menyelesaikan trilogi daftar film yang memang sangat layak diapresiasi dengan tumpukan cemilan, beberapa lembar tisu, dan sedikit keikhlasan dari penontonnya.

Karena pengajian patah hatinya akan segera dimulai!

Siap-siap masuk ke dalam semesta para pasangan yang berawal mesra dan manja namun diakhiri dengan perasaan sesak yang menyiksa. Bisa jadi faktor utamanya adalah si doi yang enggak suka-suka banget ternyata. Padahal yang di sini sudah diusahain segitunya banget loh mas dan mbaknya.

sntc 1

Yuk, mulai pegang erat-erat perasaannya!

500 Days of Summer (2009)

Film yang melambungkan nama Zooey Deschannel ini merupakan cikal bakal dari konsep FRIENDZONE yang ngeselin.

Ketika you lagi sayang-sayangnya terus doi nyelonong pergi dan bilang, “BUT, YOU ARE MY BEST FRIEND!”

HILLAAAAW!

500-days-of-summer-500-days-of-summer-3617632-574-241

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Cerita film ini begitu sederhana hingga setiap orang pasti pernah merasakan yang dirasakan oleh Tom ketika bertemu dengan Summer.

500 hari yang merubah hidup Tom, kadang ia berada di atas angin dan kebanyakan pada tahap mengikhlaskan Summer.

Summer memang menarik, Summer memang cantik, Summer mungkin adalah segala hal yang diharapkan Tom ada pada satu orang.

Namun, seperti yang dikatakan sang Narator dalam film ini:

If Tom had learned anything… it was that you can’t ascribe great cosmic significance to a simple earthly event. Coincidence, that’s all anything ever is, nothing more than coincidence… Tom had finally learned, there are no miracles. There’s no such thing as fate, nothing is meant to be. He knew, he was sure of it now.

original

Mungkin memang benar adanya beberapa orang hadir dalam hidup kita bukan untuk memiliki satu sama lain, tapi untuk menjadi sebuah pengalaman dan pembelajaran. I know, ini klise banget. Tapi, ya mau bagaimana lagi?

Konsep hubungan kan adalah dua orang yang seiya dan sekata, kalau cuma satu orang aja yang bilang iya kamu bisa apa?

Bisa GILAAAAA! Hahaha canda ah.

500-days-of-summer quote

Adegan Paling Ngehek:

Aing yang kala itu masih berumur 19 tahun dan masih ranum-ranumnya melihat dunia yang penuh pelangi ini tetiba hancur lebur ketika melihat adegan film dengan komposisi kontras EKSPETASI dan REALITA.

Wah, bangsat sih!

Gue haqul yakin. Setiap dari kita pasti pernah lah ngekhayalin dan nyetting sesuatu untuk ketemu di doi dengan begitu sempurna. Ibarat panitia, kita tuh seksi acara. Bikin schedule dan breakdown acara detail banget. Nanti di lima belas menit awal bikin jokes ini, terus menit kemudian ajak ngobrolin ini itu ini itu. Terus bawa ke sini itu. Wah, digiring lah itu opini publik pada koridor-koridor yang direncakan.

Tapi ya balik lagi, manusia yang merencanakan Tuhan yang menentukan.

Kalau kamu sudah rapi jali bawa cincin dan tetiba ke sana malah melihat si doi yang tunangan dengan orang lain ya kamu harus sabar. Namanya juga lyfe. Enggak semua hal bisa kita dapet bukan?

Quotes TER-ANZEEENK!

Kalau kata Mbak Summer: “There’s no such thing as love, it’s fantasy…”

Dan ya mungkin benar apa kata doi dan band Efek Rumah Kaca, mungkin seharusnya jatuh cinta itu biasa-biasa saja.

La La Land (2016)

Film ini menggambarkan dengan jelas celetukan “Susahnya pas sama kita, pas sukses sama orang lain.”

Cerita film La La Land adalah sesungguhnya kisah percintaan bittersweet yang hakiki.

Dua orang yang sedang berjuang mengejar karir masing-masing di kota besar, bertemu dan cocok, kemudian satu sama lain saling support. Namun, di tengah jalan seperti banyaknya perjuangan yang lain, pasti akan berkubang pada titik paling rendah dan menanyakan kembali ke diri sendiri.

“Apakah ini benar yang gue cari dan cintai selama ini?”

Lalu munculah perasaan rendah diri dan menyesal. Kemudian menyerah dan kembali pulang kampung.

Tapi, karena Mas Sebastian sudah cinta dengan tulus dan ingin melihat Mbak Mia bahagia, ya dia rela aja blusukan cari rumah si Mbaknya untuk ngasih tau bahwa, “AYO JANGAN NYERAH! SATU KASTING LAGI AJA!”.

Yup, dan Mbaknya pun kasting dan alhamdulilahnya keterima.

Sweet kan? Lalu bitternya di mana?

Ya saat si Masnya mundur dari hidup Mia dan menginginkan yang terbaik baginya.

And the story end, tahun berlalu, dan semua orang sudah punya pasangan masing-masing. It’s over. Entah deh kalau ditanya apakah perasaannya masih ada atau enggak.

Sudah menikah kan belum tentu memutus sendi-sendiri perasaan romantis sama orang lain enggak sih? *cari pembelaan*

large

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Jelas ya, bahwa ada masa seseorang atau bahkan kamu juga pacaran lama, susah bareng sama dia untuk mengejar sesuatu. Tapi, pas dia berhasil eh malah sama orang lain.

Jangan marah, jangan kesel, jangan sedih.

Karena rezeki dan pasangan memang sudah ada yang mengatur ya kan. Mungkin memang ini yang terbaik bagi kalian berdua.

Mungkin ya. Mungkin itu berarti 50% IYA, 50% ENGGAK.

Terserah kalian percayanya condong ke mana.

Adegan Paling Ngehek:

Gue suka banget ngeliat kisah cinta yang memang tumbuh dan enggak cuma manis manja grup aja. I mean, terkadang kekuatan harus diuji dengan beban yang ada bukan? Dan ketika beban diberikan dan masih balik aja karena enggak ada perasaan nyesel, itu artinya cuma satu enggak sih?

Ya mungkin dia memang segitunya banget sama kamu.

Dan pas si Mas Sebastian main di gig ketika Mia datang sama suaminya lalu mereka seperti flash back dan mempertanyakan, “Bagaimana ya kalau kita enggak pernah ketemu? Apa yang akan terjadi?”

Film pun diakhiri dengan isak tangis satu bioskop.

w8RVfun

Quotes TER-ANZEEENK!

Screen Shot 2018-04-11 at 10.00.55 AM

Blue is The Warmest Color (2013)

Tahun 2013 merupakan tahun yang syahdu untuk film-film percintaan. Memenangkan penghargaan Palme d’Or di tahun 2013, Blue is The Warmest Color muncul sebagai film dengan tema percintaan lesbian dengan eksekusi yang poetic dan indah.

Sejatinya film ini adalah tentang kisah cinta pertama dan perjuangan di dalamnya. Bagaimana menghalau jahatnya mulut teman-teman dan meredakan konflik dengan pasangan itu sendiri.

Kisah percintaan yang hetero saja sudah berat bukan main, apalagi dengan yang ini.

Film Blue is The Warmest color dengan cantiknya menangkap isu seksualitas lewat simbol visual yang kuat.

Mulai dari sosok Emma yang berambut biru dan adegan-adegan lainnya yang didominasi lampu-lampu warna biru membuat visual film ini begitu hangat dan seksi.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa pun yang pernah jatuh cinta untuk pertama kali dan menemukan satu sosok yang mengajarkan diri kita untuk menjadi pribadi yang tumbuh dan melakukan hal apa pun yang pertama kali dengan si doi.

Yang pertama memang tidak pernah terlupakan ya.

Adegan Paling Ngehek:

Ketika Adele dan Emma akhirnya berjanji untuk bertemu lagi di sebuah cafe setelah mereka jeda panjang atas pasca putusnya mereka berdua. Adele menyatakan kerinduannya pada Emma dengan menciumi tangannya demi mengemis cinta yang tersisa. Namun, Emma memutuskan untuk berkata tidak dan mengakhiri pertemuan itu.

Adele bersedih karena itu, menangis syahdu keluar cafe, berjalan menjauh dari gerak kamera dengan gaun berwarna biru. Ending film menggantung dan ambigu tersebut menyisakan tanya yang menyesakkan pada penotonton, “Selesaikah? Sakit kah ditolak seperti itu?”.

tumblr_o37ocy17Qm1v4a8wfo1_500

Quotes Paling ANZEEENK:

tumblr_o848saOgbm1s8k2leo1_1280

Her (2013)

Masih dari tahun yang sama, saat film Her keluar, film ini menjadi favorit saya di tahun 2013.

Bayangkan premis filmnya adalah tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta dengan perangkat lunak komputer. Spesifiknya adalah os bernama Samantha.

Cinta platonik level dewa enggak sih?

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Kesendirian adalah pedang mata dua yang kadang menyenangkan, namun seringnya menyakitkan. Dan sesekali mengisinya dengan menghadirkan orang baru adalah obat yang dapat melahirkan kebahagian pada relung-relung yang dulu sepi.

Terlebih kalau orang baru itu adalah sosok yang serba tahu dan memang cocok saja (kebetulan di sini Samantha adalah robot yang emang di design untuk bisa cocok sama pemiliknya. Ya of course lah ya).

Perlahan, sedikit demi sedikit diri kita dapat terbuka pada orang tersebut, menceritakan sesuatu yang tidak pernah kita ceritakan pada orang lain, menjadi diri sendiri. Dan akhirnya jatuh cinta lalu menyatu dengan dirinya. Menjadikan segala hal tentangnya yang tadinya sifatnya biasa saja mendadak berubah sebagai rutinitas yang tak terpisahkan.

Sialnya ketika kehilangan itu semua, hanya hampa yang tersisa atas nama kenangan. Dan tidak ada yang bisa dilakukan dengan itu semua.

HER

Adegan Paling Ngehek:

Saat Theodore ke pantai, menghayati kesederhanaan cahaya matahari dan merasakan hangatnya pasir di tubuhnya. Membawa Theodore mengingat masa lalunya adalah gambaran paling melankoli dari film ini.

Karena di sana Theodore sudah resmi bersatu dan jatuh pada Samantha, begitu pun Samantha. Mereka berbagi untuk menjadi satu.

 

her-joaquin-phoenix

Quotes Paling Anzeenk!

Sometimes I think I have felt everything I’m ever gonna feel. And from here on out, I’m not gonna feel anything new. Just lesser versions of what I’ve already felt.

My Best Friend’s Wedding (1997)

NGAKU SIAPA YANG KEPIKIRAN NGELAKUIN HAL SEPERTI YANG DILAKUKAN JULIA ROBERT DI SINI?! Jangan sok suci kamu, mantili!

Jahat sih memang, ngerecokin nikahan orang. Terlebih sahabat sendiri slash orang yang kita sayang bertahun-tahun lamanya slash orang yang berjanji kalau enggak ada siapa pun yang cocok sampai certain age tertentu doi janji untuk nikahin.

Duh, memang ya percintaan di 90s tuh lebih bold gimana gitu. Meski toxic, tapi elo tau apa yang elo mau dan elo perjuangin itu semua.

Berkisahlah si Julia Robert sang kritikus makanan andal yang harus menjadi ‘best man’ untuk sahabatnya yang dia sudah suka lama. Apa dia akan menjadi sahabat yang akan membantu? Oh tentu tidak. Semua hal yang ada di kepala dia direncanakan untuk membatalkan pernikahan temannya tersebut. Typical aing lah. Toxic.

11365_1
Kasihan kamu Mba, itu bukan cincin buat kamu.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Kamu pikir dunia percintaan itu berat? Oh, tidak, honey. Berpura-pura menjadi teman padahal ngarep adalah sesuatu yang menyiksa dan kadang nista juga.

Karena pada akhirnya kita jadi enggak tahu mana yang sebenarnya real dari ini semua. Kepura-puraan ini atau cinta ini? Atau jangan-jangan kita cuma enggak suka aja sahabat kita jadian sama orang lain aja.

Adegan Paling Ngehek:

Saat Julia Robert menyadari bahwa memang dia bukan menjadi pelabuhan untuk hati si Michael sahabatnya. Meskipun dia pintar, asik, dan sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Tapi hati siapa yang bisa memaksa ya. Mundur saja lah sudah. Huff. I feel you.

Quotes Paling Anzeenk!

Sesekali memang untuk memiliki kesadaran dalam hidup kita tuh harus ditampar dulu. Di taik-taikin dulu sama nasib baru deh engeh kalau, HILLAAAW, GA ADA YANG NGEJAR-NGEJAR MANEH!

ENGGAK ADA YANG MAKSA YOU BUAT NUNGGU BERTAHUN-TAHUN UNTUK DIA JATUH CINTA SAMA YOU! Jadi eat that. Ikhlas. Jangan ganggu hidup orang lain. (ngomong sama diri sendiri).

980x

Happy Together (1997)

Film Happy Together merupakan salah satu favorit saya dari Sutradara Wong Kar Wai. Gambar-gambar indah yang bikin tahan nafas sampai dengan akting kelas dunia membuat film ini menjadi kisah cinta toxic klasik yang selalu asik buat ditonton terus menerus.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Sebelum Call Me by Your Name booming, film Happy Together cukup berhasil mendokumentasikan film romansa bertemakan percintaan gay yang tetap indah dan poetic.

Film ini jelas sekali mengargumentasikan dua karakter yang saling jatuh cinta namun pada akhirnya tidak akan pernah bisa bersama karena pasti selalu ada salah satu dari mereka yang membuat kesalahan dan bikin kesal. Lalu jawaban dari mereka adalah lari. Meskipun beberapa kali always coming back together, namun pasti masing-masing entah siapa yang lebih dulu, akan berada pada satu titik jengah dan ingin menyelesaikan rantai setan tersebut.

Adegan Paling Ngehek:

Bisa lihat kan keindahan gambar-gambar yang diambil oleh Christopher Doyle? Betapa eksotisnya landscape Brazil dan satu ruang apartemen busuk disulap menjadi scene paling sinematik sepanjang perfilman dunia. Gokil!

Quotes Paling Anzeenk!

Turns out that lonely people are all the same.


Pada akhirnya apa sih yang bisa kita pelajari dari semua film-film ini? Apakah memang percintaan di usia dewasa seberat dan sekompleks itu?

Apakah memang bila kita sudah tidak dapat memiliki orang yang kita sayang banget padahal udah secocok itu kita harus ikhlas aja gitu? (Weits, enteng banget tuh bibir!)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang enggak bisa dipaksain dengan solusi yang sama sih. Semua kondisi pasti akan menuntut tindakan yang berbeda. Tapi, ketika gue berada pada momen seperti karakter-karakter dalam film tersebut dan mencoba untuk menghidupkan narasi di dalamnya dan mengharapkan ending yang lebih baik.

Ternyata hasilnya sama aja loh. Memang mau tidak mau, masing-masing dari kita memiliki time expired untuk satu sama lain. Mungkin saat itu, kesenangan dan kebahagian yang ada adalah saat gue dan doi berada di frekuensi yang sama. Momen yang sama.

Namun, time change, people change, maybe I do change. Dan memaksakan sesuatu bukanlah jalan yang terbaik. Karena mungkin memang ada beberapa cerita yang tidak perlu dilanjutkan lagi dan harus berakhir dengan ketiadaan.

Anyway, semoga masing-masing dari kamu mendapatkan jawabannya sendiri dan berhasil berdamai dengan luka-luka masa lalu tersebut.

Karena pada akhirnya, yang paling penting adalah kebahagiaan kita sendiri. Secara keseluruhan dan bukan karena orang lain.

Well, selamat menonton!

PART 2: Film Yang Berakhir Ngenes [SPOILER]

Setelah semua netizen sebal dengan kehadiran Hari Untuk Amanda yang mengguncang batin para jomblo di part 1, gue akan kembali memberikan daftar film-film percintaan dengan akhir yang asem dan membuat klean semua mempertanyakan eksitensi cinta yang absurd dan kadang bikin hati ngebatin.

Anyways, makin percaya cinta itu bukan buat semua orang enggak sih?

Screen Shot 2018-02-28 at 5.39.58 PM

Mari kita mulai saja pengajian patah hatinya…. 

Hello Stranger (2010)

Butuh dua tahun buat gue untuk bisa move on dari film Hello Stranger. Semenyakitkan itu menonton film Thailand satu ini dengan ending yang bisa meremuk redamkan seluruh harapan di hidup gue yang fana kala itu. Rasa-rasanya saat film tersebut dibuat gantung di akhir dan layar menjadi gelap, gue seperti bisa merasakan perihnya luka saat ditinggal orang yang lagi disayang-sayangnya.

Dikisahkan dua orang yang tadinya tidak mengenal satu sama lain bertemu secara tidak sengaja saat berlibur di Korea. Yaitu May (si perempuan) dan Dong (si cowok). Dua nama itu bukan nama asli mereka, karena dari awal mereka sudah berjanji untuk tidak memberitahukan nama masing-masing. Tujuannya sih biar mereka enggak baper dan seru-seruan aja. Hemm, padahal mah…

Pertemuan mereka di Korea ternyata membawa banyak perubahan pada diri mereka. Baik May dan Dong akhirnya berani jujur dengan masalah yang menggerogoti mereka selama ini. Mereka menghadapi dan menyelesaikan semuanya bersama-sama. Namun sayangnya ada satu hal yang tidak terselesaikan, perasaan mereka sendiri.

Masalah yang terjadi di film ini sebenarnya adalah tentang ekspektasi satu sama lain. May dan Dong adalah dua orang yang sedang patah hati, berlibur bersama, merasakan kenyamanan, dan terburu-buru untuk saling memiliki.

Saat janji manis prematur mereka dikhotbahkan sekembalinya nanti ke Thailand demi meniti kebahagian bersama. Tanpa aba-aba badai besar pun datang menerpa mereka dalam bentuk seseorang dari masa lalu Dhong. Dhong pun dengan bangsatnya memilih ke pangkuan masa lalunya dan meninggalkan si May yang harus memunguti sekali lagi hatinya yang berkeping-keping karena cinta. (CIH, MAKAN TUH CINTA!)

Seperti kata-kata bijak Bunda Dorce: Manusia boleh berencana, Tuhan juga yang menentukan.

Dan pada akhirnya mereka pun berpisah sesampainya pulang ke Thailand, melupakan segala kenangan manis mereka berdua di belakang.

hello_stranger

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa sih yang enggak pernah terjebak dengan summer fling. Saat elo menemukan sosok baru yang meskipun ia menyebalkan namun bisa ngebuat merasa nyaman dan sialnya… bahagia.

Lalu setelah summer atau liburan itu usai, perasaan elo masih ada, diam-diam elo berharap bahwa dia masih ngeliat elo sebagai orang asing yang asik dari liburan kemarin.

Elo menginginkan dirinya lebih dari apa pun. Namun, elo pun bertanya-tanya: Apakah ia merasakan hal yang sama?

Duh konsep rasa sakit dari penolakan atas sesuatu yang hampir dimiliki namun akhirnya terhempas, adalah jenis sakit hati yang tiada duanya di pasaran loh. Thanks buat film Thailand ini yang benar-benar merayakan perasaan sakit tersebut.

tumblr_lm5b1w87k21qe7vgl

Adegan Paling Ngehek:

Tentu saja saat si Dong dan May mau pulang ke bandara namun di jalan bertemu mantan tunangannya si Dong. Memang lah perih cinta tiada dua, hanya beberapa menit  May mengenggam kebahagian dan melihat gambaran manis akan kehidupannya bersama Dong, paginya ia harus melihat Dong meninggalkannya.

SI DONG FUCKING BALIKAN LAGI SAMA MANTANNYA DI DEPAN MATA SI MAY.

HEBATNYA, MAY BISA SENYUM SELOW GITU. Kalau aing jadi dia, udah kejang-kejang macam Bu Dendy sambil lempar-lempar duit ke muka si Dong. Sambil teriak, MAKAN TUH JANJI-JANJI LO!

Memang anjink cowoknya, udah dia yang bilang suka, dia juga yang ninggalin.

Tapi gue puas banget sama cerita di ending film ini. Mampus kan si Dong kesiksa sendiri buat nyoba nyari si May dengan segenap hati.

Sampai dong dia beli ratusan cd film Thailand demi mencari nama asli si May yang katanya dulu pernah jadi figuran di sebuah film. RASAIN! Meski ngana cakep bukan berarti kamu boleh brengsek.

Quotes Paling Anzeenk!

Some people meet once, feel like know them for a long time.

You Are The Apple of My Heart (2011)

the-apple-of-my-eye3

Wadaw, bahas film ini harus siap-siap terseok-seok ke kubangan memori masa SMA dulu. Masa di mana semua terasa sederhana tanpa pretensi apa pun. You just fell in love and you enjoyed it.

Film coming of age dari Taiwan ini tidak hanya menghadirkan tawa, hangatnya persahabatan, namun juga lobang kesepian yang begitu dalam setelahnya.

Ko Ching-Teng adalah seorang bocah laki-laki kebanyakan di zaman SMA. Yang bengal dan suka melawan. Dan Shen Chia-yi adalah kebalikan dari segala hal yang ada dalam hidupnya.

Ketebak lah ya dari sana kita bisa lihat bahwa pelan-pelan cinta pun tumbuh di tengah-tengah mereka.

Lihat mereka berdua tuh kayak ngeliat temen yang kita tahu banget sejarah pacarannya dari masa PDKT, jadian, sampai putus.

Kita menjadi saksi bagaimana perasaan mereka tumbuh dan teruji. Meskipun pada akhirnya mereka tidak memiliki satu sama lain.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada merelakan seseorang yang sama-sama kita tahu bahwa you and that person are insanely perfect for each other. Tidak akan ada orang lain lagi yang bisa memahami elo atau pun dirinya kalau bukan kalian berdua.

Dan elo ngelepas orang tersebut bukan karena elo udah bete sama dia. Tapi karena elo pengen ngeliat dia bahagia aja. (ini ngetiknya sambil mewek).

tumblr_myqglkSFnr1rhpc16o7_r1_400

Adegan Paling Ngehek dan Quotesnya Anzeknya sama deh:

99a52bf4d58c8554564ad1a759e25dcf

Adegan pas mereka berdua berantem terus ada jeda lama, kemudian ada gempa yang mengguncang di Taiwan. Orang pertama yang di telfon Ching Theng adalah Shen Chia-yi, buat gue remuk banget.

Mereka pada akhirnya bisa membahas masa lalu sambil tertawa dan lebih jujur akan perasaan masing-masing. Dan saat mereka membahas tentang dunia pararel yang di mana konsep akan diri mereka menjadi pasangan dan mereka pun iri dengan fakta tersebut adalah percakapan yang bisa dijadiin pick up line siapa pun untuk ngobrol sama mantan. Fak! Film ini bagus banget. Asli!

In The Mood For Love (2000)

In The Mood for Love adalah film yang indah dari segi visualnya. Film cinta penuh rahasia dan hasrat yang membara ini membawa kita menyaksikan kisah cinta dua orang yang telah menikah namun kembali jatuh cinta dengan tetangga masing-masing.

Duet Wong Kar Wai dan Christopher Doyle berhasil merekam kisah terlarang tersebut dengan amat romantis. Gambar yang memesona dari tiap-tiap adegannya tidak membutuhkan dialog yang cerewet. Film ini kaya karena scene-scene di dalamnya.

Pengalaman sinematik yang akan membuat elo semua orgasme visual.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa pun yang pernah ‘selingkuh’ atau tanpa sadar jatuh cinta dengan seseorang yang telah menjadi milik orang lain pasti akan merasakan emosi yang sama dengan dua tokoh di film ini. Bagaimana segala keterbatasan dan halangan menjadikan kisah cinta kalian lebih menggairahkan dan selalu ditunggu.

Meskipun pada akhirnya, satu sama lain diri kalian tahu bahwa kalian hanya akan menjadi bayangan dan tidak akan pernah menjadi tokoh utama.

Adegan Paling Ngehek:

Gue suka banget adegan saat di taksi dan saat mereka ketemu diam-diam di jalan. Gue bisa ngerasain bagaimana mereka pengen nunjukin ke dunia akan cinta mereka namun semuanya tertahan karena masalah waktu. Mereka bertemu di waktu yang salah.

Quotes Paling Anzeenk!

Saat semua kerahasian itu terlalu sesak, pernah enggak sih elo bertanya-tanya bagaimana cinta itu dimulai? Apa yang elo dapet?

Sakitkah? Bahagiakah? Atau semua bergerak terlalu jauh?

in-the-mood-for-love (2)

One Day (2016)

Satu film rom-com keren lagi dari Thailand berjudul One Day.

Efek menonton film ini tidak kalah luar biasanya dari Hello, Stranger. Dikisahkan seorang karyawan IT cupu jatuh cinta dengan gadis cantik di kantornya. Mereka tidak saling mengenal, namun si karyawan IT cupu ini hafal betul segala hal tentang perempuan tersebut. Tipikal cinta platonik.

Lalu kantor mereka pun berlibur ke Jepang. Nahas buat si perempuan cantik itu yang selama ini menjadi simpanan bosnya, sang istri bos datang berkunjung untuk ikut liburan bersama suaminya.

Kaget dengan situasi yang terjadi, si perempuan cantik itu bermain ski dan kecelakaan. Untung ada si karyawan IT cupu yang creepy itu, yang diam-diam menguntitnya. Saat kecelakaan dia bisa langsung segera ditolong.

Saat dibawa ke rumah sakit, sial sekali si perempuan cantik itu hilang ingatan selama dua puluh empat jam.

Si karyawan IT cupu itu pun merasa ini satu-satunya kesempatan dirinya untuk dekat dengan perempuan cantik itu. Karena keesokannya toh si perempuan itu akan lupa semuanya.

Dari sana lah cerita asik film One Day bergulir. Bagaimana dua orang yang tidak pernah berkomunikasi sebelumnya, pada akhirnya merasakan perasaan hangat yang sama dalam durasi satu hari.

Selama dua puluh empat jam perjalanan mereka menumbuhkan sesuatu yang tidak pernah ditemukan oleh masing-masing dari mereka.

Momen pelepasan si karyawan IT cupu di film One Day benar-benar menyesakkan. Ia merelakan semuanya untuk melihat si perempuan itu bahagia. Pret ah.

maxresdefault

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

YA MENURUT NGANA SIAPA YANG ENGGAK PERNAH JATUH CINTA DIAM-DIAM SIH SAMA ORANG LAIN? YANG NGELIATIN DARI KEJAUHAN AJA RASANYA UDAH CUKUP, KAK.

Adegan Paling Ngehek:

Pas adegan di ending si perempuan itu tahu penyakitnya dan ingin merekam momen terakhir bersama si cowok itu untuk keesokan harinya dapat merasakan sisa-sisa kebahagiannya. Waduh, kak kalau hati ibarat makanan… dipotong kecil-kecil banget itu. Perih.

Taipei Story (1985)

Gue suka banget film dari Taiwan satu ini besutan Sutradara besar Edward Yang. Film Taipei Story merupakan gambaran kisah cinta tragis di sebuah kota besar dengan kompleksitas masalah masing-masing orang di dalamnya.

Dua pasangan yang dulu bersama namun sempat berpisah dan kembali lagi berjanji untuk meninggalkan Taipei dan hijrah ke Amerika. Film ini mampu memberikan gambaran terdekat akan bagaimana dua orang yang saling mencintai ternyata bukan modal yang cukup untuk membuat mereka bisa berakhir bersama.

Prioritas dan kompromi adalah dua hal yang harusnya beriringan dengan cinta yang mereka punya.

Karena, seperti di akhir film Taipei Story ini mereka berdua tidak dapat menemukan apa pun selain kehampaan.

image

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Ekspektasi adalah momok yang tidak dapat dihindari dari sebuah hubungan. Dan semakin besar ekspektasi tersebut, maka jurang dan cobaan untuk menyelesaikannya pun semakin lebar.

Dan film ini dengan indah juga menyakitkan menggambarkan itu semua. Bagaimana semua harapan pupus akan satu dua keputusan yang menggiring mereka pada kekecawaan panjang yang melukai satu sama lain.

Taipei-Story-1985-Edward-Yang-cov932-e1467380017553

Adegan Paling Ngehek:

Saat Tsai Chin melihat keluar dari sebuah gedung, mengamati jalanan Taipei yang ups and down memberikan perasaan janggal yang menghantui. Dari sana kita dapat merasakan kehilangan dan kekecewaan yang ia simpan sendiri.

Young Adult (2011)

Biasanya dalam film romantic comedy ala Hollywood kita disuguhkan karakter yang lovable gimana gitu ya. Nah, di film Young Adult kebalikannya.

Adalah si Mavis Gary, perempuan manipulatif, pasif agresif, juga nyebelin yang pulang kampung untuk merebut kembali mantan doi pas masa SMA dulu.

Brow, padahal si mantan sudah punya istri dan anak. Dia diundang untuk datang melihat baby shower tapi namanya juga masih cinta, si Mavis ini dengan liciknya membuat bagaimana caranya si mantan balikan lagi sama dia.

Film ini keren banget asli. Elo bisa ngeliat bagaimana posesifnya Mavis yang harus menelan semua gengsi dia untuk bisa kembali ke kota di mana semua lukanya berada.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Mavis Gary is my spirit animal. Gue sebenarnya sedang berada di momen seperti dia. Saat masih sesekali ngintip kehidupan si doi yang udah bahagia sama keluarga kecilnya. Saat gue iri dengan doi yang lagi sayang-sayangnya sama anaknya.

Mavis Gary menggambarkan realitas yang enggak berani gue lakuin. Maju kembali melawan masa lalu dan mengejar sesuatu yang dia mau. Tapi emang yang dia lakuin salah sih. Tapi, setidaknya dia menjadi jujur dengan perasaan dia sendiri.

Go Mavis!

Charlize-Theron-Beige-Stam-Quilted-Handbag-by-Marc-Jacobs-in-Young-Adult-Scene

Adegan Paling Ngehek:

Ketragisan dan ironi dalam misi pengejaran Mavis untuk membuat mantannya jatuh cinta lagi  terbongkar dengan fantastisnya. Bahwa fakta mantannya tidak pernah mengundangnya dan malah istrinya lah yang berinisiatif membuat momen gila itu begitu bombastis. Bayangkan, semua khayalan itu rusak dan belum lagi kegilaan yang Mavis buat di tengah acara baby shower dan ditonton satu kampung.

Gokil sih, baru kali ini gue jatuh cinta sama karakter yang rusak dan dibenci semua orang. Tapi, ketika elo pernah berada di posisi Mavis pasti elo akan bersimpati sama doi.

Cinta itu emang berat, Jenderal!

Quotes Paling Anzeenk!

tumblr_ncjjb7BcSL1ru4tifo1_500

Gimana? Kamu masih merasa bahwa ditinggal nikah itu nyakitin? Semoga dengan nonton list film ini ngebuat kamu a lot better ya. Kamu ndak sendirian kok 🙂

Sebenarnya masih ada list film lainnya, gue buat di part 3 kali ya. Ditunggu yaw!

 

Review Film Rumah dan Musim Hujan: Kisah Janggal dan Mencekam yang Membuat Decak Kagum (SPOILER)

Screen Shot 2018-03-21 at 7.45.50 PM

Sebelum memulai review filmnya, ada sebuah artikel yang akan membantu menjelaskan pergantian nama film ini yang awalnya berjudul Rumah dan Musim Hujan menjadi Hoax yang sempat beredar di bioksop kemarin.

Kebetulan saya menonton film Rumah dan Musin Hujan versi Director’s cut di Kinosaurus pekan lalu. Jadi yang saya tonton adalah yang versi original.

Bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang merayakan buka puasa bersama di rumah Bapak mereka. Film dibuka dengan adegan satu keluarga yang memainkan permainan dari Korea, bernyanyi bersama sambil mengenalkan nama masing-masing secara bergantian di meja makan.

Semua berjalan begitu riang dan menyenangkan sampai pacar si anak pertama, Raga, kalah dan harus bernyanyi. Ada jeda di sana, Ragil (anak kedua, diperankan oleh Vino G Bastian) dan Ade (anak ketiga, Tara Basro) berbagi pandangan tidak suka saat Ade berniat untuk menyalakan rokok.

Kemudian satu persatu rahasia dan kejadian janggal anak-anak si Bapak pun mulai bermunculan saat mereka pulang dari acara buka puasa. Dan yang membuat film ini asik adalah pergantian alur di film ini dibuat berjalan mundur dan selalu dimulai dari scene pulang tersebut.

Film ini pun terbagi dari tiga cerita utama, yaitu:

Pertama, dibuka dengan kisah anak ke dua bernama Ragil yang hidup dengan si Bapak yang sudah pikun juga sepuh. Sehari-hari sang Bapak harus dituntun lewat lembaran-lembaran kertas berisi petunjuk untuk melakukan apa pun di dalam rumah.

Kisah Ragil dibuat sedikit lambat dengan menunjukkan aktivitas-aktivitas kepatuhan Ragil atas pengabdian terhadap Bapaknya.

Mulai dari mengganti genteng saat hujan dan lain-lain. Namun, dibalik itu semua ada perasaan khawatir dari sang Bapak yang tidak pernah melihat Ragil mengenalkan perempuan datang ke rumah.

Sebenarnya bisa ditebak bahwa dibalik kesan konservatif Islam yang ditunjukkan Ragil dengan tidak bersalaman bersama pacar sang kakak, Raga. Penonton sudah dibentuk persepsi oleh sang sutradara bahwa there is something wrong nih sama Ragil.

Dan benar saja. Setelah melewati menit-menit kontras dengan sang Bapak yang bermain wayang sedang Ragil yang membaca Al-Qur’an. Ada satu rahasia tersembunyi yang coba Ragil utarakan ke Bapaknya namun selalu ia ulur.

Scene tersebut dengan sabar dimunculkan oleh Ifa lewat percakapan Ragil bersama seseorang di kotak Yahoo Messenger.

Ragil ternyata adalah seorang Gay. Keengganannya untuk berterus terang diwakilkan lewat mimik ketersiksaan Ragil yang selalu ia coba sembunyikan pada Bapaknya lewat senyumannya.

Lalu saat mati lampu, twist kisah Ragil pun dihidupkan dengan dimunculkannya partner Ragil di depan pintu. Dalam gelap mereka berdua pun bercumbu melawan berisiknya deras hujan di luar dan sesaknya rahasia yang menyiksa mereka berdua in the closet.

Yang menjadi pertanyaan dari cerita pertama ini adalah ketika sang Bapak meminta maaf kepada Ragil karena ia menamakannya dengan nama tersebut.

Kisah kedua, yang menjadi favorit saya, adalah tragedi yang dialami Ade yang diperankan oleh Tara Basro dengan intensitas kengerian yang menular.

Berasa sekali capeknya jadi si Ade jika dihadapkan dengan situasi yang dia alami.

Vibe bahwa kisah Ade adalah kisah mistis sudah terasa saat diperjalanan pulang Ade harus diganggu oleh suara tangisan di depannya. Yang ternyata adalah sosok laki-laki yang mendorongnya jatuh ke pelosok sawah (sampai sekarang saya masih tidak tahu apakah laki-laki itu adalah manusia atau mahluk astral. Apakah Ade diperkosa atau cuma diganggu saja? Semua masih menjadi tanda tanya)

Sambil menangis saat pulang ke rumah barunya. Sesampainya di sana Ade harus mengalami kengerian dan teka teki akan kembaran gaib sang Bunda yang mengganggunya sepanjang malam.

Sebanyak tiga kali sosok duplikasi gaib sang Bunda mengerjainya berkali-kali. Membuat Ade hampir kehilangan kewarasannya.

Kemunculan pertama saat Ade sedang mandi dan Bunda muncul dari belakang, Bunda mengepel dan meminta Ade membuka pintu rumah yang ternyata adalah….

Bunda yang baru pulang belanja membeli sikring lampu baru. Lalu ke mana Bunda yang di kamar dan meminta Ade membuka pintu?

Kemudian setelah Ade mulai percaya bahwa ini adalah Bunda yang asli, saat Ade hendak mengambil belanjaan berupa pajangan pohon pisang dalam bentuk asli. Sang Bunda yang seharusnya di kamar mandi tiba-tiba datang dari dapur membawa teh.

Ade mulai goyang. Lalu membiarkan Bunda membuatkannya teh dan Bunda pun pergi untuk solat.

Dan saat sosok ketiga Bunda sedang solat, sebuah telfon mengguncang mental Ade. Telfon tersebut berasal dari Bunda yang tidak bisa datang ke rumah.

Lalu, mana sebenarnya yang Bunda ‘asli’?

Kekuatan bagian cerita Ade ini ada di akting ke dua aktornya. Tara Basro dan Jajang C Noer. Terlebih akting Jajang C Noer yang bermain dengan begitu mencekam dan akan menghantui siapa pun yang melihat bagaimana ia mencoba untuk meminta Ade memeluknya. Kengerian itu begitu nyata keluar dari mata dan senyum palsu Jajang C Noer.

Cerita bagian kedua ini ditutup dengan statement Ade yang masih menjadi tanda tanya. Saat memukul sang Bunda Ade berkata: akhirnya aku tahu apa arti nama mas Ragil!

Yang terakhir, adalah kisah Raga yang dibawakan oleh Tora Sudiro. Dimulai dengan dongeng Raga tentang ulang tahun sang Bunda menurut tanggalan Jawa pada sang kekasih, Sukma.

Dari cerita Raga dikisahkan bahwa ketika seorang manusia berada dalam kandungan, sebenarnya mereka memiliki tiga saudara kembar. Yaitu saudara ketuban, ari-ari, dan pusar. Ketiga saudara itu menjaga sang janin dan akan muncul secara bersamaan setiap si janin ulang tahun di tanggalan Jawa.

Dari ketertarikan sana, Sukma pun diminta Raga untuk mengikuti permainan ‘kepercayaan’ saat menyetir. Mata Sukma ditutup dan harus mengikuti instruksi Raga saat menyetir. Setelah berhasil melewatinya, Sukma pun mengajak Raga untuk bercinta di dalam mobil.

Selama beberapa menit gerakan penuh kenikmatan diiringi dengan desahan panas berganti menjadi sebuah jeritan panjang. Ternyata Raga terlanjur ‘keluar’ tanpa menggunakan pelindung.

Dirundung panik, Sukma pun berfikir dia akan hamil. Berbagai cara ia cari untuk bisa menghalangi sperma Raga masuk ke dalam rahimnya.

Lama mencari, mereka menemukan sebuah artikel dalam majalah kesehatan wanita (yang anehnya ada begitu banya dikoleksi oleh Raga) bahwa yang manjur adalah lompat-lompat sambil meminum jus nanas.

Saat hendak keluar mencari jus nanas, tiba-tiba di luar rumah Raga kedatangan sang mantan. Rani.

Dari sana konflik pun terjadi. Panas karena tiba-tiba melihat sang mantan hadir di hidup Raga lagi, Sukma pun memutuskan untuk pergi dari rumah Raga. Namun, ditahan Raga. Rani berkilah bahwa kedatangannya karena alasan ia dipukuli suaminya dan butuh tempat menginap.

Permainan kecohan pun hadir di sana, apakah Rani benar-benar datang ke Raga karena meminta suaka perlindungan atau hanya mencari perhatian Raga saja?

Lalu tanpa diduga, Rani menceritakan pada Sukma bahwa Raga mandul. Dengan keterkejutan itu, Sukma meninggalkan rumah Raga dengan kesedihan dan memberikan tawa pada wajah Rani.

Film pun ditutup dengan satu keluarga si Bapak itu (minus si Bunda yang masih tidak tahu ada di mana) dengan makan bersama lagi.

Alasan mengapa film Rumah dan Musim Hujan begitu keren:

  1. Menonton film ini benar-benar memberikan pengalaman sinematik yang penuh dengan ketegangan dan teka-teki yang menyelimuti setiap cerita di dalamnya. Kejutan demi kejutan dihadirkan Ifa melalui intensitas cerita yang tadinya berjalan pelan kemudian ngegas di pertengahan sampai akhir. Semua pertanyaan yang Ifa sisipkan di bagian-bagian tertentu memberikan kekesalan sendiri buat saya. Karena apakah ini adalah sebuah plot hole yang tak terselesaikan atau memang Ifa sengaja menggoda penontonnya dengan itu semua.
  2. Adegan-adegan simbolik di film ini begitu lokal dan mengena. Seperti ketakutan seorang anak laki-laki yang mengaku sebagai Gay dimunculkan Ifa sebagai contoh awareness yang baik akan keberadaan mereka.
  3. Akting para aktor yang tenggelam pada karakter dan cerita masing-masing menghantarkan keseruan yang membawa saya sebagai penonton untuk ikut menanti apa yang akan terjadi berikutnya pada nasib mereka.

Dibalik keunggulannya tersebut, sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di kepala saya atas cerita di film ini. Seperti:

  1. Apa arti nama Ragil dalam keluarga tersebut? Jika ditelusuri dalam bahasa Jawa Ragil berarti anak terakhir. Lalu apakah Ade bagian dari keluarga tersebut atau bukan? Atau paling ngerinya adalah, apakah Ade nyata atau tidak?
  2. Bagaimana nasib si Bunda. Apakah itu asli atau hanya sosok goibnya yang dibunuh oleh Ade?
  3. Apakah Raga dan Rani bersekongkol untuk menyingkirkan Sukma keluar dari rumah? Apakah permainan tersebut sesuatu yang biasa mereka lakukan untuk kesenangan semata? Dilihat dari banyaknya buku kesehatan wanita yang Raga simpan dan ucapan sang Bapak yang mengatakan bahwa hubungan Rani dan Raga sebenarnya belum selesai sedikitnya menegaskan teori tersebut. Namun, di akhir cerita tersebut saat kamera menuju wajah Raga yang tertidur. Tidak ada gambaran senyuman seperti Rani. Mana yang sebenarnya terjadi?
  4. Terakhir. Laki-laki yang ditemui Ade di jalan itu manusia atau bukan? Apakah Ade diperkosa atau hanya diganggu setan belaka?

Ingin sekali rasanya mendapatkan jawaban-jawaban itu semua dari mas Ifa.

Well, anyways, mungkin untuk di bioskop mainstream film ini sepertinya tidak akan bisa ditemukan lagi. Jika teman-teman tertarik untuk menontonnya bisa dilihat jadwal pemutaran yang siapa tahu hadir lagi di Kineforum dan Kinosaurus.

Review Film Love For Sale: Sebuah Layanan Cinta Yang Membekas

Screen Shot 2018-03-20 at 1.44.10 AM

Fenomena menjadi lajang di Indonesia di tahun 2018 ini sepertinya masih menjadi suatu momok menyedihkan bagi siapa pun dan di kelas sosial mana pun.

Seakan menjadi lajang adalah sesuatu yang hina. Semacam ada sebuah toa besar berteriak di depan muka yang mengatakan: HIDUP NGANA GAGAL, JO!

Padahal yah dibalik status lajang tersebut, jangan-jangan orang-orang yang kalian bilang gagal itu malah sudah mencapai suatu prestasi yang bahkan orang-orang yang memiliki pasangan pun belum tentu bisa raih.

Terlebih di era yang semakin modern ini, beberapa orang banyak yang memang memilih untuk tetap sendiri karena kesadaran mereka sendiri. Bukan karena takdir atau cap ‘tidak laku’ yang masyarakat kepo itu coba tempelkan secara paksa dan sepihak.

Tapi, memang ada juga para lajang yang secara sadar maupun tidak mengamini beberapa persepsi usang tersebut. Beberapa orang masih merasa belum ‘sempurna’ atau belum ‘lengkap’ karena belum menemukan ‘pasangan’ yang menjadi mitos dan legenda itu.

Rong-rongan itu pun diperparah lewat pertanyaan-pertanyaan ‘KAPAN NYUSUL?’ jahil yang muncul di setiap acara keluaga, reuni, atau pertanyaan basi-basi orang-orang ketika sudah lama tidak bertemu.

Padahal, orang-orang enggak mikir apa ya kalau nyusul menikah ataupun berpasangan enggak segampang dan semurah itu.

Enggak ada jaminan bahwa ketika seseorang berpasangan maupun menikah mereka akan menemukan kebahagiaan yang fana itu.

Dan, kawan, film Love for Sale dengan sangat baik mengargumentasikan daftar ‘kegelisan’ itu semua lewat naskah yang solid dan keseluruhan akting yang juara dari segenap para pemainnya.

Apa sih yang membuat film Love For Sale itu bagus?

  1. Akting menawan Gading dan Della sebagai Ricard dan Arini

Gading Martin sebagai Ricard di film ini tampil dengan totalitas dan keasikan yang menular. Karakter menyebalkannya sebagai bos percetakan yang strict dan dibungkus dengan kontras kesunyian hidupnya sehari-hari memberikan ruang simpati pada para penonton.

Seakan kita semua yang lajang dan sudah berumur ini bisa relate dengan apa yang Ricard rasakan sebagai seorang bujang lapuk (ditanya terus kapan membawa pacar, menikah, dll).

Background Ricard pun dimunculkan ke permukaan lewat transisi yang asik ketika Arini bertanya banyak hal tentang Ricard. Dan lewat percakapan antara Ricard dan temannya, perlahan penonton dibawa untuk mengetahui luka di masa lalu Ricard yang dibahasakan dengan dramatisasi yang mengena di hati.

Kisah Ricard yang tidak diizinkannya berpacaran oleh orang tuanya yang menjadi masalah dalam hidup Ricard pun pelan-pelan luntur lewat kehadiran Arini yang lovable. Seseorang yang masuk dengan tiba-tiba dan memberikan arti baru dan rutinitas menyenangkan dalam hidup Ricard yang terbatas.

Karakter Arini dimainkan dengan sangat menawan. Saya ulang lagi, sangat amat menawan dimainkan oleh Della Dartyan.

Arini tuh kalau di SMA, semacam cewek cantik minta ampun yang mau nyapa dan main sama siapa pun tanpa peduli kelas sosial dan politik view orang-orang. Mbak, kamu kok sempurna sekali sih?

Gerak-gerik juga pengucapan tiap-tiap dialog manjanya terasa sangat nyata dan tidak dibuat-buat. Sebagai seorang pendatang baru Della memberikan nafas menyegarkan juga magnet tersendiri yang tidak bisa ditolak siapa pun dalam film Love for Sale.

Chemistry yang dibangun antara Gading Martin dan Della menjadikan mereka sebagai pasangan on screen yang membuat penontonnya percaya dan ikut mabuk kasmaran.

2. Cerita segmented namun universal

Meskipun diniatkan bagi penonton berusia 21 tahun ke atas karena adanya beberapa adegan eksplisit. Sebenarnya secara general tidak membuat film ini benar-benar baru bisa dipahami bagi mereka yang harus sudah berumur saja.

Meski wajib diakui ada beberapa pengalaman yang memang akan sangat nendang bagi mereka yang sudah pernah mengalami ditinggal nikah orang tersayang sih.

Tapi, ya luka tetaplah luka, dan semua orang yang pernah merasakan ditinggalkan pasti dapat merasakan tertatih-tatihnya menyambut orang baru dalam hidup mereka dan menjadikannya sebagai rutinitas baru yang menghidupkan mereka kembali. Seperti kisah Ricard dan Arini tersebut.

Dan Love for Sale menyampaikan ide cerita tersebut dengan sentuhan yang elegan. Bagi mereka yang berada di usia dua puluhan akhir dan tiga puluh awal, pasti akan berbahagia karena pada akhirnya ada kisah cinta yang berada pada demografis mereka yang dieksekusi dengan baik.

3. Scene-scene indah dengan detail yang manis

Jika beberapa film romantis Indonesia ada yang ngegas dan langsung memberikan gambaran-gambaran eksplisit para pemainnya di kasur dengan bermandikan keringat. Atau kekonyolan lewat kemanjaan dan ketidaksengajaan bertemu yang tidak masuk akal.

Lain cerita dengan film ini. Love for Sale memunculkan keromantisan dengan wajar seperti kebanyakan pasangan nyata di luar sana.

Mulai dari adegan kekakuan awal bertemu, pendekatan yang malu-malu, sampai akhirnya kenyamanan satu sama lain yang tergambarkan dengan asik. Semua dapat ditemukan di scene-scene manis lewat pelukan santai di kursi, jalan-jalan di malam hari yang bermandikan cahaya lampu Jakarta, dan juga seks scene yang bukan sekadar jadi tempelan saja. (Itu merupakan seks pertama bagi Ricard dan Arini menuntunnya di sana.)

Semua fragmen-fragmen tersebut hadir bukan tanpa sebab melainkan memberikan makna tersendiri dalam hidup Ricard bersama Arini.

4. Musik yang menggenapi

Keindahan film ini datang dari kesederhanaan yang ada di dalamnya. Film Love for sale tidak butuh bejibun lagu khusus untuk menggambarkan ambience keresahan dan kasmarannya Ricard dan Arini.

Cukup dengan satu lagu pamungkas yang diputar di momen-momen pas, ruang visual itu pun terisi dengan tepat. Saya sebagai penonton dapat merasakan emosi-emosi yang terjalin antara Ricard dengan Arini.

Yang menariknya lagi, film Love for Sale berhasil keluar dari jebakan pakem film romansa Indonesia kebanyakan. Tidak ada happy ending, tidak ada tawa segar karakter yang akhirnya bersama.

Film ini menawarkan pilihan intepretasi pada para penontonnya untuk mereka menerka sendiri arah dari kehidupan Ricard pasca ditinggalkan Arini dan apa sebenarnya perusahaan Love Inc tersebut.

Sampai ya setelah keluar dari bioskop, semua penonton berdecak kesal dan gemas. Karena mereka setuju Ricard sangat tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Kami bersama Ricard. #TimRicard

Yang terbaiknya lagi yang saya sukai adalah film ini adalah Love for Sale memberikan ruang pada karakter Ricard untuk tumbuh dan berubah dari kondisi awalnya. Ricard akhirnya berani untuk keluar dari bubble hidupnya dan melakukan hal-hal yang dulu terlalu enggan untuk ia jalani.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Love for Sale menjadikan Ricard sebagai gambaran terdekat realitas terkini akan para warga lajang Jakarta yang sedang berusaha untuk memercayai kembali makna cinta dengan malu-malu di sudut-sudut jalanan Jakarta.

Pun jika kita beruntung  mungkin kita bisa seperti Ricard yang berkesempatan bertemu dengan orang baru yang siapa tahu cocok dan memberikan kenyamanan yang berbalas.

Selamat menonton di bioskop film kece yang memberikan kehangatan cerita setelahnya.