Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!

Advertisements

Like, Crazy (2011)

hero_EB20111102REVIEWS111109994AR

Manusia boleh berencana, namun jarak juga yang menentukan.

Mungkin seperti itu cerita film Like, Crazy (2011) dikisahkan. Dua orang yang berkenalan di semester kuliah akhir, jatuh cinta, kemudian mendapati kenyataan pahit bahwa salah satu dari mereka harus pergi karena terbatasnya masa berlaku visa pelajar.

Si perempuan harus kembali ke Inggris. Sedih. Mereka berdua sedang cinta-cintanya. Sedang masa honeymoon. Namun tidak ada yang mau mengalah untuk sebuah kesepakatan. Ya sudah, si Mbaknya pun terpaksa benar-benar pulang kampung sendiri tanpa si Masnya.

Berat.

Sisa waktu mereka berdua sebelum keberangkatan si Mbaknya pun terancam hambar. Rencana island hoping dengan perahu sewaan pun terasa mengejek. Kemewahan itu tidak memberikan kebahagian. Yang mereka berdua mau hanyalah besok bertemu lagi, lagi dan lagi. Cinta masih begitu membara bagi dua orang ini.

Setelah beberapa kali adegan ngambek dengan pertanyaan-pertanyaan klise seperti; lalu kamu maunya aku bagaimana? Ngibulin orang imigrasi?

Dari cuma ocehan asal, tetiba ide tersebut terasa masuk akal. Entah asumsi dari mana mereka berfikir bisa mengelabui imigrasi Amerika yang begitu ketat. Namun toh akhirnya mereka tetap melakukannya juga.

Aku kamu vs the world, betapa romantisnya. Mereka berdua pun menghabiskan musim panas penuh cinta bersama, yang ada hanya bercinta dan bercinta. Tahik kucing lah soal kasus visa pelajar yang jadi sumber masalah.

Cinta mereka semakin kuat, mereka seperti menginspirasi satu sama lain. Mereka merencanakan banyak hal berdua. Indah, namun kelewat indah untuk jadi nyata. Karena hidup tidak selalu merah muda, pihak imigrasi pada akhirnya tetap harus mendeportasi si perempuan. Mereka berdua berpisah secara sepihak. Tanpa diragukan lagi semesta Mbak dan Masnya jadi berantakan.

Zona waktu begitu menyebalkan, ketika di sana baru pulang kerja eh di sini sudah tengah malam buta.

Banyak pesan tak berbalas, telfon yang tidak sempat terangkat, dan akhirnya perasaan mutual yang dulu pernah ada menjadi sebuah pertanyaan mendongkol sendiri.

Seperti, benarkah yang ada di antara mereka berdua ini benar-benar nyata atau hanya summer fling semata dan ya sudah lupakan saja, lalu kembali meneruskan rutinitas hidup; kerja, nongkrong di bar, dan bertemu orang baru.

Dan ide besar dari film Like, Crazy pun akhirnya diperlihatkan atas dasar pertanyaan itu. Diteruskan atau kandas saja?

Si Mas Mbaknya ragu, si orang tua Mbakanya pengennya mereka nikah saja. Lebih murah dan punya ketahanan hukum.

Waktu berlalu. Mereka saling berkunjung satu sama lain. Namun namanya juga hidup, pasti ada saja yang bikin kesel. Lama-lama jarak dan komunikasi makin nyebelin. Kerjaan makin ribet dan rindu pun makin menyiksa.

Mereka berdua malah jadi tidak jujur satu sama lain, saling meneror, saling curiga, saling tuduh soal siapa tidur sama siapa.

Letih dengan itu semua, mereka pun mengajukan ide untuk masing-masing melakukan open relationship di saat mereka berpisah. Namun jika mereka berdua bertemu, mereka akan saling memiliki.

Tahik ya? Kesian amat yang jadi side kick si Mas dan Mbaknya pas mereka pisah. Lagian maunya jatuh cinta yang enak-enaknya saja, enggak mau tumbuh dan berjuang. Segitu baru jarak, gimana kalau beda marga sama enggak direstuin mertua.

Cinta mereka menjelma jadi egois untuk saling menguasai satu sama lain, bukan lagi karena hasrat untuk saling melengkapi. Dan meskipun mereka berdua di penghujung film akhirnya bersatu, tetapi pertanyaan besar itu tetap menggantung dalam benak masing-masing.

Layakkah semua ini?

Cinta si Mas dan Mbaknya di film ini seperti orang yang ngotot menyimpan celana jeans bekas yang sudah kekecilan, tapi sebenarnya dia tau celana itu enggak akan pernah muat dia pakai.

Pada akhirnya celana jeans tersebut bukan lagi menjadi sebuah motivasi tetapi menjelma menjadi sesuatu yang menyesakkan dan mengancam.

14a611ae1c65cf3c727d547bd6dc9fad--like-crazy-film-anton-yelchin

Tapi filmnya manis dan seru kok. Cuma aftermathnya bikin sebel aja. Nonton deh.

Black Mirror S04 Dalam Sebuah Review

black-mirorr

Yang terbaik dari serial Black Mirror adalah ia dapat memberikan gambaran teknologi masa depan yang terintegrasi dengan canggih dalam kehidupan sehari-hari manusia namun tetap menyimpan twist yang sialnya malah berbalik menghancurkan manusia itu sendiri.

Season 01 sampai 03 Black Mirror berisi alat-alat yang bisa menjadi kritik sosial dari betapa manusia bisa terobsesi dan diperbudak dengan teknologi tersebut.

Dan juga Black Mirror bisa menjadi pengadilan moral yang membuat kita melihat bahwa satu orang biasa yang tadinya hidupnya baik-baik saja bisa terjebak dalam agony hidup hanya karena satu kesalahan fatal belaka. Bola salju itu bisa mengoyak sendi rahasia terkelam manusia tersebut dan pahitnya, membunuhnya.

Oleh karena itu Black Mirror begitu memikat karena ia bisa meramalkan kepongahan teknologi dan menghidupkan khayalan paling pahit dan najis dari seorang manusia yang memiliki nafsu dan amarah di tiap-tiap episodenya. (Yang sepertinya di dunia nyata kini sedang menuju ke arah sana. Seperti Trump menjadi seorang Presiden, bukankah itu khayalan paling pekat dari dunia Black Mirror?).

Maka di season 04 pertanyaannya adalah apakah Black Mirror masih memiliki magicnya?

Jawabannya adalah…

Menurut gue Black Mirror season 4 sepertinya bermain aman dan malah terjebak pada dikotomi baik dan jahat yang terlalu preaching. Yang mana di season-season sebelumnya mereka malah berhasil mengaburkannya dan itulah yang jadi poin memikat dari serial ini.

  1. USS Callister

landscape-1508343510-screen-shot-2017-10-18-at-171757

Seperti episode pertama USS Callister, teknologi yang dihadirkan seperti serupa yang ada di episode White Christmas. Sebuah games yang membuat orang memiliki semesta sendiri dalam pikirannya. Mengopi subtil kesadaran manusia.

Namun di episode ini motivasi si Kapten Robert yang menjadi peran antagonis di sini terlalu banal. Masa hanya karena sekadar sebal dengan orang kantor? Sudah? Begitu saja?

Tidak ada rahasia-rahasia memalukan dan tersembunyi dari kolega-koleganya? Foto sexy? That’s it? Tidak ada twist seperti pedofil dari seorang anak yang terlihat baik-baik di luar?

Terlalu sepele dan tidak Black Mirror banget. Ending konfliknya pun berakhir anti klimaks. Durasi episode terlalu banyak dihabiskan pada kebingungan Nanette Cole yang bertanya-tanya mengapa ia ada di permainan tersebut. Padahal kan dia bekerja di perusahan game tersebut.

2. Arkangel

black-mirror-arkangel

Ini episode yang paling apa banget deh. Gue udah siap-siap untuk melihat perubahan si anak kecil manis ini menjadi seorang psikopat atau apalah. Taunya ceritanya cuma soal si Ibu yang posesif dan nyebelin yang enggak bisa ngeliat anaknya tumbuh. Bahkan gue mengharapkan si Ibu jadi orang yang malah berbuat hal-hal yang menghancurkan dirinya dan anaknya. Tapi enggak, mereka cuma berantem, mati pun tidak dan kisah berakhir. Another anti-klimaks episode.

3. Crocodile

blackmirror_s4_crocodile_00309_v23

Judul dan cerita yang membuat gue berfikir apa kolerasi dan metaforanya. Enggak nemu sih gue irisannya apa. Buayanya di mana juga gue engga tau.

Tapi di antara semua teknologi yang ada di season 04, episode ini paling keren. Karena bisa memvisualkan memori masa lampau. Tapi kesan Black Mirrornya masih kurang kental, karena fitur teknologinya cuma sebatas trigger, bukan sebab-akibat dan menjadi awal masalah. Hanya sebatas transisi aja pada banality devil di karakter Mia.

Jatohnya ini jadi cerita kriminal biasa dan engga seberkesan seperti episode Hated in Nation yang juga padahal cerita crime namun bisa dibungkus dengan lebih futuristik dan ironis.

4. Hang the DJ

lead_960

Padahal episode ini berpotensi seperti episode San Junipero, tapi sayangnya cerita terlalu lama berputar pada jalinan tanpa ujung dari “the System”. Seperti tinder namun sudah mengharuskan pasangannya mengiyakan pilihan dari sistem tersebut dan pahitnya harus terjebak selama masa expired yang ditentukan sistem tersebut.

Tidak ada romansa sehangat San Junipero dan tidak ada percikan emosi yang mendalam dari kedua karakter utama. Kesamaan mereka berdua hanya karena mereka dua orang yang sama-sama suka melontarkan jokes belaka dan merasa bosan dengan pilihan pasangan yang disuguhkan si sistem.

Selebihnya tidak ada yang menarik dari episode ini.

5. Metalhead

metal-head

Gue sih suka ya sama episode yang ini, semacam pasca kiamat gitu dan hanya menyisakan manusia yang melawan robot anjing yang bisa mengeluarkan senjata dari tubuhnya. Misi robot sialan itu cuma satu: Membasmi manusia.

Dengan kemasan hitam putih emosi yang ditunjukkan Bella, si manusia yang berjudi dengan maut, bisa terekam dengan sempurna. Bagaimana ia menggerakan seluruh gesture dan melihat ia benar-benar sendirian dan terluka.

Kita dapat melihat betapa capek dan mencekam hidupnya si Bella dalam berjuang melawan dan menghindar dari robot anjing tersebut. Pilihan yang tersisa untuknya hanyalah membunuh atau menyerah dan mati.

6. Black Museum

Penutup yang ok! Semua hal di episode ini baru berasa Black Mirror banget. Twist-twist di akhir yang enggak kebayang dan teknologi-teknologi yang niatnya membantu malah menghancurkan dihadirkan di sini.

Kritik sosial pun diargumentasikan juga dengan baik. Membuat gue sebagai penonton ikut tersenyum dan tertawa girang saat layar laptop menjadi gelap dan melihat misi si karakter utama berhasil dilaksanakan.

BlackMirror_S4_Museum_00239_V1.0

Meskipun tidak sesuai ekspektasi karena tingginya pencapaian estetik, cerita, dan emosi di season-season Black Mirror sebelumnya. Season 04 ini masih layak lah untuk ditonton di episode 5 dan 6.

Gue sih masih nunggu buat nonton Black Mirror di season tahun berikutnya.

Apakah kritik-kritik satir itu tetap ada dan menghantui para penontonnya yang begitu dekat dengan teknologi yang pada akhirnya malah mengaburkan makna teknologi itu sendiri.

Apakah mereka ada untuk membantu atau malah menghancurkan?

10+1 Film Indonesia Terbaik dan Terfavorit 2017

Menurut versi saya yang saya saksikan di bisokop sepanjang tahun 2017 ini.

2017 patut dirayakan karena tahun ini banyak sineas-sineas yang melahirkan film-film Indonesia berkualitas secara teknis dengan cerita yang menarik dan dibarengi dengan animo penontonnya yang masif.

Nyatanya film indie yang selalu dikaitkan dengan penonton festival ternyata di tahun ini bisa disaksikan oleh banyak masyarakat umum (seperti para pekerja kantoran biasa seperti saya, mahasiswa yang iseng sambil menunggu jam kuliah, atau bapak dan ibu saya yang jarang nonton film ke bioskop) di teater mainstream pula yang hasilnya ternyata berhasil dinikmati oleh mereka semua.

Juga film populer dengan penonton terbanyak bukan lagi didonimasi oleh film-film cacat logika dengan tema basi yang itu-itu saja dengan penyutradaraan sinetron yang dipaksakan hadir di layar lebar (bukan berarti sinetron itu jelek, namun kembali lagi ke konteks orang membayar untuk menonton sebuah film, mereka mengharapkan penggarapan yang bukan bisa mereka dapatkan secara gratis di televisi, you know what I mean right?).

Jadi mari saya berikan sepuluh list film Indonesia yang mewarnai bioskop tanah air dan menjadi topik pembahasan menarik di sosial media dan grup whatsapp untuk nobar sepanjang tahun 2017 ini.

  1. Pengabdi Setan (Joko Anawar)

cover-film-pengabdi-setan_20171015_120935

Ibu datang lagi.

Tiba-tiba di bulan Oktober 2017 kata-kata itu menjadi sesuatu yang menyeramkan terlebih diiringi bunyi lonceng dengan permintaan menyisirkan rambut.

Yang sudah menonton film Pengabdi Setan pasti mengerti hal-hal yang saya sebutkan barusan. Karena film Pengabdi Setan remakenya Joko Anwar tidak hanya menakuti hampir seluruh negara Indonesia di tahun 2017 ini, namun juga mendorong geliat para penonton film Indonesia untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, berteriak bersama, dan setelahnya membahas film ini tanpa henti baik di dunia nyata maupun di internet. Saya pun ikut mereviewnya di sini.

Gegap gempita Pengabdi Setan berhasil melahirkan ribuan meme-meme lucu yang bertebaran di media sosial. Tak pelak menjadikan film Pengabdi Setan sebagai film terlaris dan fenomenal tahun ini.

2. Posesif (Edwin)

poster-posesif

Posesif mengangkat isu kekerasan domestik dalam berpacaran ke permukaan dengan eksekusi yang jempolan. Visual, musik, cerita juga akting para pemainnya memberikan kekuatan yang membuat film ini lebih dari sekadar nyata, namun juga menghantui. Edwin dan Puteri sangat pantas memenangkan kategori Sutradara dan Aktris Utama Terbaik di FFI 2017 lalu.

Yang terbaik dari film ini tidak hanya menjadikan film Posesif sebagai film remaja yang bernas namun juga penting. Saya membuat review lengkapnya di sini.

3. Turah (Wicaksono Wisnu Legowo)

turah

Turah adalah gambaran terdekat dari realitas masyarakat kecil dalam kelas sosial pinggiran Indonesia. Film ini bertutur dengan narasi yang akrab lewat penggunaan bahasa Tegal di sepanjang film, sekumpulan aktor-aktor lokal, dan isu yang diangkat pun adalah sesuatu yang memang menjadi masalah paling ril dalam lingkup sosial tersebut; kemiskinan dan jerat penguasa.

Film ini menyimpan lapisan masalah yang lebih kompleks dalam argumentasi dan narasi mendalam lewat karakter Jadag yang peka akan dominasi relasi kekuasaan sang bos juga politik premanisasi para anteknya di kampung Tirang yang ia tinggali.

Ia menggugat itu dan Turah berada di tengah-tengahnya dengan kondisi yang dilematis. Di antara ingin meluruskan atau melupakan. Konflik berjalan dari sana dengan akhir adegan yang mencekam juga tragis.

Menonton film Turah buat saya seperti membaca cerita-cerita karya Mas Eka Kurniawan yang memiliki ketajaman kritik sosial dibalut dengan visual kekumuhan yang solid, membekas dan menusuk di akhir.

Pada resolusi penghujung film saya sebagai penonton seolah dibawa untuk menyaksikan gambaran kulit asli manusia. Mereka yang lebih memilih keamanan dirinya sendiri dibanding konsep-konsep besar akan kesetaraan sosial yang ideal.

Film Turah memiliki eksekusi luar biasa hingga tanpa sadar saya melupakan fakta bahwa ini hanyalah film fiksi, namun pemaparannya terasa seperti dokumentasi paling nyata yang pernah ada di Indonesia.

4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Mouly Surya)

Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Awalnya saya melihat film Marlina sebagai sesuatu yang anti klimaks dalam segi cerita. Tidak ada yang meragukan kekuatan sinematografi dan akting di dalamnya. Namun untuk penceritaan tiap babaknya film ini seolah tidak mendeliver kisah yang semencekam para reviewer luar negeri tulis yang saya baca di internet.

Namun setelah diskusi panjang dan tentu juga ngotot dengan teman saya, akhirnya saya sadar bahwa penceritaan Marlina sesuatu yang bersifat simbolis dari sudut pandang perempuan. Atau jika lebih sempit lagi, Perempuan Sumba secara khusus.

Ada kesunyian yang mencakar lewat keteguhan dan kelembutan tindakan Marlina yang tidak terburu-buru dan non eksploit, pasti hasilnya akan berbeda jika Marlina adalah seorang laki-laki.

Banyak adegan-adegan yang menonjol di film ini, seperti Marlina yang menenteng-nenteng kepala tawanannya, adegan buang air kecil Marlina dan Novi, adegan kebebalan polisi dalam menanggapi kasus Marlina, dan yang paling membekas buat saya pribadi adalah saat Novi melawan suaminya yang menuduhnya main serong dengan laki-laki lain.

Akting Dea begitu prima. Dan membahas Marlina tidak hanya akan berhenti pada gambaran indah Sumba, namun juga ketidakadilan dalam dunia perempuan yang entah sampai kapan akan selesai.

Dan Mouly Surya di film ini menegaskan bahwa suara dalam filmnya akan semakin nyaring dan kuat. Mouly masuk dalam sutradara terbaik di Indonesia yang saya selalu tunggu kehadiran filmnya. Review lengkap Marlina saya tulis di sini.

5. Night Bus (Emil Heradi)

Night-Bus-BookMyShow-5-e1491466474614

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017 dan sebagai penonton awam sayangnya saya melewatkan kehadirannya di bioskop April lalu. Untungnya film ini diputar ulang setelah kemenangannya di FFI kemarin.

Dan setelah menonton filmnya saya setuju dengan pemilihan Night Bus sebagai film terbaik tahun ini, kekuatan filmnya tidak hanya datang dari cerita mencekam perjalanan para penumpang menuju Sampar, namun juga sentuhan-sentuhan kekerasan yang mengguncang kesadaran politik para penontonnya.

Review lengkapnya saya tulis di sini.

6. Ziarah (B.W. Purba Negara)

ziarah

Yang terbaik dari 2017 adalah keanekaragaman tema cerita film yang diangkat, di Ziarah tak hanya ceritanya saja yang unik namun juga pemain utamanya Ponco Sutiyem yang telah berusia 95 tahun.

Mbah Ponco berakting dengan sangat prima di film ini. Kegetirannya, pengharapannya, dan perjuangannya mengalir dengan indah dan menyentuh tiap-tiap yang menontonnya.

Kisah Mbah Ponco begitu satir dan masam di akhir, sesuatu yang menjadikannya begitu istimewa.

7. Susah Sinyal (Ernest Prakasa)

poster-susah-sinyal.jpg

Setelah kesuksesan film Cek Toko Sebelah Ernest Praksa mengangkat tema keluarga yang lebih kosmopolitan. Jurang antara kesibukan seorang working mom dan puteri milenialnya.

Meskipun inti cerita sempat goyang di seperempat akhir film dan mengaburkan konflik relasi antar anak dan sang ibu yang kurang dalam. Dan Ernest masih terjebak dengan jokes-jokes seksual yang sebenarnya tanpa hal tersebut jalinan cerita Ernest masih mengalir enak. Untungnya di penghujung film ini pada akhirnya berhasil menyatukan puzzle-puzzle di awal film dengan hangat dan jenaka.

Beruntung sekali Ernest memiliki Adinia Wirasti dan segenap pemeran pendukung komedian lainnya yang tidak hanya menghidupkan film Susah Sinyal, namun juga menjadikan Susah Sinyal memiliki komedi timing yang lebih rapi dibanding film-film dia sebelumnya.

Secara personal film Susah Sinyal menjadi film komedi favorit saya tahun ini. Karena kapan lagi saya bisa membawa satu keluarga saya menonton film yang tidak perlu saya jelaskan jalan ceritanya dari awal hingga akhir. Film Ernest dapat dinikmati sebagai hiburan semata yang bisa masuk ke segala aspek kelas dan umur.

Saya sangat menunggu kisah-kisah keluarga komedi ala Ernest di tahun-tahun berikutnya.

8. Istirahatlah Kata-Kata (Yosep Anggi)

Istirahatlah Kata-Kata

Kontroversi film Istirahatlah Kata-Kata muncul di postingan teman-teman saya yang aktivis dan pemerhati sastra. Bagi saya yang mengenal Widji Tukul hanya sepotong-sepotong, tentu saja berbahagia dapat melihatnya di layar lebar. Cerita pengasingan Widji Tukul menjadi fokus dari sang sutradara. Debat terjadi di sana, karena mereka-mereka yang mengenal Widji Tukul lewat kobaran perjuangan dan kedekatannya dengan rakyat kecil tidak terwakilkan dalam film ini. Bahkan terasa sangat jauh dimulai dari pemutaran film ini yang hanya ada di bioskop-bioskop mahal ibu kota.

Saya melihat film ini sebagai tontonan yang indah dan mengugah. Akting yang kuat pun dideliver dengan sangat apik oleh Gunawan Maryanto dan Marissa Anita.

Karena secara pribadi lewat film ini saya dapat melihat fragmen Widji Tukul yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Memang tidak adil rasanya hanya melihat sosok penting itu dalam satu film saja. Namun terlepas dari kontroversi serta kontranya, sejujurnya saya menghargai semangat kreatornya yang berani mengangkat kisah sang pejuang kata-kata di masa rezim orde baru ini.

9. Banda (Jay Subiakto)

banda

Mendengar tiga maestro visual Indonesia bekerjasama dalam proyek film yang mengangkat kisah dan sejarah pulau Banda tentu saja menjadikan film ini masuk dalam daftar wajib nonton saya.

Jay Subiakto, Oscar Motuloh, dan Davi Linggar membuat film dokumenter panjang ini dengan gambar yang memberikan orgasme visual paling mantap yang pernah ada.

Permainan cahaya, komposisi objek, warna, dan animasi grafis di dalamnya membuat film ini begitu kaya dalam segi konten dan narasi.

Sangat disayangkan tidak banyak yang mengetahui film ini, karena ada sejarah menarik yang juga kelam terjadi di Pulau Banda. Pulau yang menjadi saksi bagaimana Indonesia menjadi seperti sekarang ini.

10. My Generation (Upi)

Film My Generation 2017

Milenial dan sosial media adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Fenomena generasi head down diangkat oleh Upi sebagai cerita film teranyarnya yaitu My Generation. Fashion, pemain-pemain baru yang fresh, juga set yang vibrant dan energetik menjadikan film ini terasa sangat muda dan menangkap problem di eranya saat ini.

Kisah dysfunctional orang tua vs anak menjadi isu besar dalam film ini. Namun bukan Upi namanya jika tidak mampu mengemasnya menjadi tontonan yang lucu, engaging, dan pop banget.

Saat menonton film ini saya sebagai penonton serasa menyelami dunia anak-anak milenial dengan sangat dekat dan intim.

Salah satu film favorit saya dari Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta. Saya membuat review lengkapnya di sini.

Plus 1

Bukaan Delapan (Angga Dwimas Sasongko)

img_20170227_133322

Entah kenapa tidak banyak yang membahas film ini, bahkan masuk nominasi FFI pun sepertinya tidak. Padahal film Bukaan Delapan adalah film Angga yang bisa saya nikmati secara tulus dan nyaman tanpa harus terganggu dengan dialog aneh dan pemaksaan pemunculan karakter-karakter seperti di film Filosofi Kopi 1-2.

Film Bukaan Delapan terasa sangat personal dan dekat dengan penontonnya. Bahkan akting Chico Jeriko yang nyebelin pun bisa jadi lovable banget. Perjuangannya untuk membuktikan dirinya pada istri dan keluarganya adalah cerita paling romantis dan sentimentil di tahun 2017 ini.

Jokes-jokes di dalam film ini pun terasa pas pada tempatnya. Sarah Sechan tentu saja yang paling lucu sebagai seorang Ambu yang posesif dan sok.

Terlepas dari keabsenan festival-festival yang melihat film ini sebagai sebuah film cinta dan film yang decent secara keseluruhan pembuatannya di 2017 ini, buat saya pribadi film Bukaan Delapan memiliki tempat spesial sendiri yang berkesan di list saya ini.

Enggak sabar untuk menyaksikan film-film Indonesia keren lainnya di tahun 2018 nanti. Terima kasih juga untuk para kreator-kreator film Indonesia yang telah mencurahkan sepenuh hati, tenaga, dan waktunya untuk membuat film-film yang tidak hanya bagus namun juga mencerahkan bagi para penontonnya.

Mari dukung film-film Indonesia dengan menonton di bioskop di minggu-minggu pertama! (soalnya takutnya diturunin sama bioskop)

p.s: Dan film-film yang bagus aja sih sebenarnya hehe

Dan akhir kata selamat tahun baru 2018 ya buat teman-teman semua.

Review Film Wonder: So Goooooood!

Wonder-TWITTER-FB-OG

Setelah film Coco yang menguras air mata dengan lagu Remember Me, di Desember ini ada lagi lho film yang bisa bikin hati yang dingin jadi lumer lagi, in a good way of course. Film itu bernama Wonder diangkat dari novel laris dengan judul yang sama.

Wonder bercerita tentang seorang anak kecil bernama Auggie yang memiliki penyakit bernama “mandibulofacial dysostosis“. Sebuah penyakit yang membuat kondisi wajahnya berbeda dengan anak-anak seumurannya.

Orang tua Auggie sejak dini sudah membuat bubble untuk menjaga Auggie, yaitu berupa home schooling. Namun orang tua Auggie merasa bahwa Auggie perlu keluar dari bubblenya tersebut dengan mulai bersekolah dan bersosialisasi di sekolah umum seperti anak-anak seumuran lainnya.

Turbulensi itu tentu saja membuat jungkir balik dunia Auggie dan keluarganya.

Dapatkan Auggie bertahan di antara anak-anak lainnya dengan kondisi Auggie yang seperti itu?

Dari sana sudah tahu dong akan seperti apa dramanya. Meski jalan ceritanya sudah jelas arahnya, penyajian film Wonder lah yang jadi keunggulannya.

Wonder menghadirkan kisah dan suara sendiri dari masing-masing karakter dalam film tersebut. Semua kepedihan dan pergolakan batin tiap-tiap karakter dibredel satu persatu untuk memberikan alasan sebab-akibat dalam tiap-tiap tindakan mereka di film tersebut.

Film Wonder begitu hangat dalam presentasinya, pasti kamu akan merasakan sesaknya dada kamu saat menyaksikan bagaimana masing-masing orang yang dulu membully Auggie berbalik arah membela dirinya.

Atau tentang bagaimana ketulusan hati seorang anak kecil yang mau menemani Auggie makan siang tanpa alasan apa pun.

Kisah-kisah dalam film Wonder mengajarkan bahwa jika ada dua pilihan di antara menjadi benar dan menjadi baik, pilihlah menjadi si baik. Karena kita tidak tahu bahwa satu kebaikan dari diri kita akan membawa kebahagian untuk seseorang.

8e43277d39528afd10daedf8dd93a037--fun-house-th-grades

Kisah-kisah karakter Wonder memang se-klise itu; kakak yang tidak diperhatikan orang tua karena ada si adik yang butuh ekstra penjagaan, sahabat yang berubah karena popularitas di sekolah, juga lika-liku pertemanan khas anak kecil yang dibumbui rasa kecewa.

Tapi sekali lagi, Wonder membuatnya menjadi sangat menarik karena cerita di sana dibuat begitu manusia dan dekat dengan penontonnya. Maka haru biru dan kehangatan cerita di akhir film dapat terhantarkan dengan sempurna.

Film Wonder pun tidak melulu tentang drama Auggie saja, ada gambaran besar yang perlu kita bahas lebih dalam selepas keluar dari pintu bioskop. Yaitu tentang bullying. Bullying is not cool. Tapi seberapa banyak dari kita yang mau stand up dengan isu tersebut. Entah saat kita menjadi si korban atau pun saksi di dalamnya.

Jelas sekali film ini mengargumentasikan hal tersebut. Tidak ada satu orang pun yang berhak untuk merendahkan satu orang lainnya. Dan yang kerennya lagi, stakeholder di sekolah dalam film Wonder digambarkan sebagai support system yang siap memberantas bullying itu sendiri.

Menurut gue hal tersebut menjadi tambahan konten yang mendidik dalam film Wonder.

Kita semua pun dapat melihat bahwa Wonder ingin mengingatkan kita bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan sebagai manusia adalah menerima diri kita sendiri. Apa pun konteksnya. Sejelek apa pun omongan orang tentang fisik dan sesuatu yang bersifat dari sananya, mau tak mau kita berdamai dengan diri kita. Karena jika terus nunduk dan malu dengan apa yang kita punya, semuanya ga ada ujungnya say.

Pasti ada aja yang kurang. Jadi ya sudah aja lah, elo yang harus jadi orang pertama yang jatuh cinta sama diri elo sendiri. Stand up and fight for yourself!

Tapi lain cerita ya kalau emang sifat elo nyebelin dan ganggu orang-orang ya elo perlu berubah dong.

Anyway, karakter favorit gue adalah Jack Will.

Screen Shot 2017-12-13 at 1.17.04 PM

Selain kiyut, dia pun memiliki peringai yang lovable banget (gedenya calon-calon cakep sih ini). Pun akting anak-anak kecil di film ini bagus-bagus banget. Jadi berasa pengen jadi anak kecil lagi terus main sama Auggie, Summer, dan Jack Will.

Scorenya: 5/5. Jangan lupa bawa tisu saat menonton.

 

Review Film Coco: Remember Me

Pixar-Coco-2017-Movie-1509202144-1509202146

Cuma ada satu kata yang menggambarkan film ini: BAGUS BANGET! Eh dua kata deng.

Gue sedih loh pas nonton film ini, mungkin karena tema film keluarga adalah kelemahan gue. Apalagi kalau karakter utamanya anak kecil. Ai cry dong pas doi nyanyiin lagu remember me buat mama coco. Sampai orang yang disamping gue ngasih tisu buat gue aja. Sad abis.

Lagu remember me juga kacau sih enak banget, gue udah dengerin lima hari berturut-turut masih belom bosen-bosen. Anaknya emang obsesif impulsif kak.

Tapi asli ya Pixar tuh emang jagoan banget bikin film yang tear jerking gini. Di Toy Stories 3 ai cry, Inside Out ai cry juga sih.

Memang kebaca sih pattern cerita film Coco, ketebak banget bahwa si kakek yang asli pasti bukan si penyanyi beken itu. Tapi the way mereka bercerita tuh yang bikin baper. Ditambah lagu-lagu yang mengisi scene-scene dengan indah. Komplit sudahlah.

Tapi buat gue yang paling sedih dari film ini tuh lagunya sih. Ya si Remember Me ini. Ini kan inti dari semua narasi film di dalamnya, ketika bokapnya si Mamah Coco cabut buat ngejar mimpi dan dia cuma minta satu.. Remember Me.

Fak! Ai cry lagi.

Review Film Night Bus – Perjalanan Mencekam Menuju Sampar

Night_Bus_film

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017, ditengah gegap gempita film Posesif, Marlina, dan Pengabdi Setan di kalangan penonton film Indonesia seketika Night Bus muncul dengan humblenya dan memenangkan kategori prestisius tersebut.

Karena penasaran film Night Bus pun diputar ulang di bioskop-bioskop. Catat, diputar ulang! Karena penonton Indonesia saat itu masih sedikit mengetahui film ini sebelumnya.

Dan sebagai film terbaik yang mengalahkan nominator-nominator lainnya, harus diakui Night Bus memang menang dengan telak dalam segala aspek penilaian.

Menurut saya, dari segi cerita, pemain, dan eksekusinya Night Bus menjadi film anomali yang mendobrak mainstream film Indonesia yang masih mengangkat tema cinta yang itu-itu saja.

Film Night Bus jenis tipe film yang bisa ditonton oleh banyak orang dan message akan film ini pun begitu kuat.

Narasi yang ditawarkan film Night Bus juga terasa unggul dan dramatis jika dibandingkan dengan cerita komedi keluarga, remake film hantu, atau biopik tanpa makna yang penggarapannya itu itu saja.

Lawan terberat memang Posesif, isu kekerasan dalam hubungan pacaran yang dibalut dengan eksekusi sekelas Edwin membuat kontras yang menggiring Night Bus hadir dengan isu yang lebih lokal yang mungkin menjadi pertimbangan para juri untuk memenangkannya. Karena pada dasarnya tidak banyak yang mengangkat krisis keamanan di Aceh lewat sebuah film.

Membahas soal filmnya, Night Bus memiliki premis yang solid. Perjalanan berbahaya menuju Sampar menjadi sajian yang mencekam sepanjang dua jam lebih. Dan memang di sejam terakhir film berjalan, bus yang ditumpangi yang melewati pos demi pos selalu diisi dengan situasi terjebak yang berakhir tragis.

Kesusahan demi kesusahan hadir untuk mematikan niat para penumpang, namun mereka tetap memilih untuk terus berjalan.

Ditambah lagi akting dari para pemainnya pun kelas wahid punya. Ibarat konser, para pemerannya memiliki suara-suara sendiri yang memperkaya harmonisasi film ini. Kedalaman karakter dan background masing-masing karakter kental sekali terasa. Mungkin kecuali si pemeran anggota NGO aneh itu sih yang tiba-tiba muncul, buat saya kurang meyakinkan untuk hadir dalam cerita di dalamnya.

Yang menjadi kekuatan film Night Bus tentu saja cerita dan pergerakan plot yang berjalan cepat dengan polemiknya sendiri. Film ini untungnya tidak terjebak di dikotomi baik dan buruk. Yang terpenting, para penumpang sampai dengan selamat.

Meskipun plot twist diakhir masih terasa politis dan maksa sih. Padahal jalinan cerita selama tiga per empat awal sudah dibangun dengan mencekam dan dramatis. Namun sayangnya diakhiri dengan ending yang flat.

Another thing yang mengganggu adalah editing CGI film ini yang terlihat sekali tidak rapi. Meski berkali-kali saya yakinkan diri saya bahwa inti cerita lebih penting, namun tak ayal dibeberapa scene editing CGInya benar-benar mengaburkan makna keaslian adegan-adegan tersebut. Terlebih dibeberapa adegan awal di dalam bus yang ya allah, overlay antara background dan pemainnya ketimpah banget.

Scoringnya pun sedikit mengganggu sih. Niatnya mungkin mau buat penonton tegang, namun karena sayangnya terlalu banyak repetisi adegan yang menggunakan scroring tersebut akhirnya malah tegangnya hilang dan mirip adegan sinteron.

Dibalik itu semua, Night Bus masih layak untuk ditonton di bioskop. Pengalaman akan perjalanan para penumpang menuju Sampan adalah realita lain di pelosok daerah Indonesia yang perlu diketahui.

Bahwa keadilan untuk berjalan dan berkendara dengan selamat masih menjadi suatu privilege. Dan pesan yang paling kuat adalah, untuk siapa sebenarnya perang itu terjadi?

Karena seperti slogan film Night Bus, konflik tidak memilih korbannya.

Mari ke bioskop TIM dan Plaza Senayan untuk menyaksikan film apik yang belum pernah ada di Indonesia ini. Selamat menonton!

Pengamatan Sotoy:  Yang jadi nenek-nenek di film ini sebenarnya bisa banget mengalahkan Puteri di Posesif loh.

Ulasan Film: ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’

marlina-the-murderer-in-four-acts

Markus datang tanpa permisi, menerobos masuk, kemudian mengintai sekeliling. Setelah cukup menerka, ia pun duduk pada pusaran.

Tanpa berlama-lama ia dekati Marlina dan membisikkan ancaman serta godaan yang Markus tahu tidak akan bisa Marlina tolak.

Markus menyunggingkan senyum kemenangannya. Pahit bagi Marlina.

Namun, sayangnya, kali ini Markus salah. Dalam diam Marlina tahu apa yang harus dia lakukan. Ingin segera ia hapus senyum sialan itu di wajah Markus.

Dan setelahnya petualangan Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak pun dimulai.

Film Marlina besutan Mouly Surya mengedepankan pertaruhan yang besar; premisnya tentang perempuan yang melawan kejahatan laki-laki.

Seakan menjadi simbol feminisme sendiri dalam menghancurkan kuku-kuku tajam patriarki di lingkup domestik. Sesuatu yang sebenarnya sering terjadi dalam keseharian.

Berlokasi di Sumba, Marlina ditangkap melalui gambar-gambar wide yang cenderung ekstrim. Menjadikan Marlina sebaga film Indonesia paling cantik tahun ini. Hamparan sabana yang luas membuat Marlina tampak begitu kecil. Seolah ingin mengkomunikasikan bahwa kini ia hanya tinggal sendiri melawan semuanya.

Dalam film ini, narasi perlawanan perempuan di tiap babaknya dengan spektakuler diargumentasikan dengan cerdik oleh Mouly.

Ia menghadirkan isu pemerkosaan, sesuatu yang selama ini masih membelit para korbannya di Indonesia.

Scene tersebut dimunculkan Mouly dengan kontras yang mengulur-ngulur. Menggambarkan dengan jelas akan bagaimana sistem birokrasi, terutama kepolisian, merespon isu tersebut.

Betapa tersiksanya saya ketika menonton adegan Marlina yang menunggu panggilan dari Polisi yang sedang bergantian bermain pingpong. Sesuatu yang sangat tidak relevan.

Emosi penonton pun terjerat akan akting cemerlang Marsha Timoty yang diembodikan tanpa meluap-luap namun akan menghantui tiap-tiap kepala yang menontonnya.

Teror akan kesakitan korban pemerkosaan seolah tidak berhenti, Sang Polisi yang mencatat laporan Marlina bertindak tanpa sensitivitas yang ajek.

Seakan trauma dan kesakitan yang Marlina hadapi hanyalah bersifat naratif dan numerik.

Berapa banyak yang memerkosa? Bagaimana semua berlangsung? Mengapa kamu mau diperkosa oleh yang lebih tua?

Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Polisi tersebut terasa sangat bebal, jika tidak mau dibilang bodoh. Scene tersebut begitu nyata. Begitu dekat.

Kesemuanya seakan menyayat peluru terakhir Marlina. Tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri dan mungkin Novi. Sahabatnya.

Yang ternyata bernasib sama sialnya dengan dirinya. Novi terkena stigma lama akan tubuhnya. Kehamilannya diperdebatkan banyak orang, karena sudah lewat 10 bulan sang anak diprediksi sungsang.

Sebuah indikasi akan ketidakpatuhan perempuan terhadap laki-laki. Alasan yang datang karena ia dan sang suami sudah tidak berhubungan badan selama tiga bulan terakhir. Kecurigaan itu muncul dari sana dan tentu saja lidah tajam sang mertua.

Layaknya Marlina, Novi pun bertahan. Berjuang dalam ketidakadilan.

Sayangnya dalam film Marlina, babak demi babak berjalan dengan pelan tanpa konflik yang berarti pada antar karakter di tiap babaknya. Sepinya gesekan tersebut membuat satu jam terakhir film ini terasa datar, meski tidak hambar, namun pengulangan-pengulangan scene yang sudah terjadi di awal tidak membuat saya terkesan. Kekurangan tersebut bagi saya pribadi gagal dalam menggugurkan ekspektasi tinggi akan film Marlina.

Kedalaman emosi dan konflik Marlina serta Novi sebenarnya bisa tuntas dengan cepat tanpa membutuhkan waktu selama satu setengah jam.

Meski begitu, eksekusi dan presentasi Marlina tak diragukan lagi. Gambarnya kelas dunia! Semua yang hadir di dalamnya begitu poetic dan membekas. Sup ayam dan sate kambing seolah menjadi simbol ketakutan tersendiri setelah menyaksikan film ini.

Terlebih ditambah musik yang menggetarkan dari tangan Zeke yang mampu mengisi nuansa ketegangan mencekam di dalam film ini.

Akhir kata, kekuatan Marlina seolah bukan karena ia menenteng-nenteng kepala pemerkosanya dan berkendara dengan kuda. Marlina lebih besar daripada simbol maskulinitas seperti itu.

Dengan jelas terpampang bahwa kekuatan Marlina berasal dari keengganannya untuk tunduk dalam ancaman dan kelaliman. Terlebih jika itu datang dari laki-laki.

Ulasan Film My Generation: Me vs Parents

075939500_1507776200-DLR6pSWUIAAKMnc

Sebuah liburan yang merubah segalanya….

Film My Generation dibuka dengan VLOG (video blog) ke empat tokohnya; Konzi, Zeke, Suki, dan Orly. Mereka semua menatap lurus ke depan kamera dengan berapi-api, menumpahkan seluruh unek-unek dan kekesalan mereka pada ketidakadilan sistem pendidikan yang mereka jalani sebagaimana anak-anak sekolah pada umumnya. Pertanyaan berikutnya, siapa sih yang tidak?

Untuk mereka yang tumbuh dan berkembang di daerah dunia ke tiga seperti Cibinong, melihat scene awal film My Generation yang diisi dengan para pemainnya yang rupawan, stylish, dan lengkap dengan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, sudah dipastikan bahwa mereka berempat merupakan anak-anak borju yang bermasalah dengan hidupnya.

Lalu, apakah film ini kemudian akan bergerak menjadi cerita yang superficial?

Tentang anak-anak orang kaya yang manja dan tidak puas dengan privilege yang mereka miliki dibanding remaja-remaja lainnya di belahan dunia lain?

Atau film My Generation adalah film perusak moral seperti yang dibicarakan dan dikecam oleh banyak-banyak orang di media sosial?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita mulai dengan melihat motivasi dari cerita film My Generation itu sendiri.

A few years ago, kita tentu masih mengingat bagaimana rasanya menjadi seorang remaja di umur 15-17an tahun. Feeling outcast, di mana pencarian jati diri dan tekanan untuk menuju gerbang orang dewasa begitu menyiksa. Semua kita jalani dengan tertatih-tatih namun pasti. Kadang ada yang berhasil, namun banyak juga berisi kegagalan.

Semua itu terjadi karena:

  1. Kesemua nilai-nilai yang dulu tertanam oleh orangtua seakan bertolak belakang ketika menginjak masa remaja.
  2. Tidak ada les khusus untuk menjadi anak yang sempurna di dunia ini. Karena sayangnya, tidak ada yang sempurna dalam hidup. Namun masih ada orang tua yang mengharapkan kesempurnaan semu itu.
  3. Ketertarikan untuk mengeksplore tubuh, pertemanan, dan tentu saja cinta menjadi tidak terintegrasi dengan peraturan dan moral value yang orang-orang tua telah set tinggi-tinggi.
  4. Seolah semakin anak tumbuh dewasa komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anak pelan-pelan terputus dan berubah menjadi dinding besar dan dingin di antara mereka. Semacam teritori atas ketidakmengertian masing-masing individu.
  5. Orang tua menginginkan menempelkan ambisi mereka pada anak, dan anak ingin mereka dilihat sebagai diri mereka sendiri. Seutuhnya. Bukan apa yang orang tua ingin lihat dari mereka.

Dari sana masing-masing orang seolah lupa bagaimana berbicara satu sama lain tanpa harus berteriak dan berbeda pendapat.

Seperti yang diutarakan Stanley Hall, ia menjelaskan bahwa saat remaja mereka akan mengalami “storm & stress” dalam kehidupan. Jelas, semuanya tidak akan sesederhana dulu lagi.

Keseluruhan ironi itu menjadi penggerak cerita dalam film My Generation.

Kita dapat melihat bahwa film My Generation ingin menangkap momen tersebut, mengargumentasikan suara remaja di periode waktu di mana mereka merasa tidak ada yang dapat memahami mereka sendiri kecuali teman-teman mereka.

Keseluruhan film ini tentang itu semua. Eratnya persahabatan yang mengalahkan kungkungan orang tua yang konservatif dan alot.

Akting dan Set Syuting Yang Keren

Membuat film untuk para milenial tentu saja Upi harus masuk ke dalam dunia mereka. Para milenial kini lebih fasih berbahasa inggris dibanding generasi sebelumnya. Terlepas mereka adalah blasteran atau bukan, namun harus diakui bahwa ekspresi komunikasi mereka ada di sana. Dan Upi menjembati transisi bahasa itu.

Kebanyakan film ini menggunakan bahasa inggris dengan translation yang seru dan tidak kaku.

Artikulasi dan pembawaan yang keren dari para pemainnya pun membuat ruh film ini menjadi hidup dan enerjetik.

Masing-masing karakter muncul dengan keunikan masing-masing. Yang paling membekas buat saya adalah karakter Mbak Anda sebagai Orly di sini. Ia feminis muda yang percaya dengan bumi itu datar. Kekocakan kekocakan dalam tiap diskusi dirinya dan sang pacar membuat film My Generation memuat banyak konten menarik yang menggambarkan generasi sekarang lebih global dan kritis lewat cara mereka sendiri.

Akting dari para aktor-aktor muda ini dari adegan mereka bersenang-senang, sedih, dan marah tergambarkan dengan sempurna. Mereka seakan benar-benar menjadi diri mereka sendiri.

Konflik dari masing-masing karakter dalam film My Generation merupakan sesuatu yang sering terjadi di kehidupan sosial media saat ini. Jadi penting sekali untuk melihat film ini sebagai suatu potongan kehidupan para milenial yang cukup akurat.

Harus diakui bahwa menjadi remaja bukanlah hal yang paling menyenangkan di dunia ini, namun bukan berarti semua orang harus kalah dengan itu. Film My Generation menjawab keresahan itu dengan kisah orang tua yang pada akhirnya membuka pikiran mereka untuk lebih bisa menerima anak remaja mereka apa adanya.

Bahwa pada akhirnya, keluarga yang akan selalu ada. Pesan yang Upi sampaikan hadir dengan praktis tanpa bertele-tele.

Pengalaman Sinematik dalam Semesta Upi

Menonton film My Generation karya Upi seperti mengintip masuk ke dalam keseruan lika-liku dunia geng paling cool di film Indonesia setelah geng Cinta di AADC.

Seperti karya-karya Upi terdahulu, Upi sangat luwes dalam mempresentasikan keseruan anak-anak muda dan membuatnya tampak menarik. Terbaiknya film-film Upi selalu meninggalkan kesan mendalam ketika kita keluar dari pintu bioskop. Kesan itu akan lama tertinggal dan membentuk tren baru tiap masanya.

Masih teringat jelas saat saya kelas 2 SMP dulu ketika menonton film Upi berjudul 30 Hari Mencari Cinta. Betapa jenaka, hangat, dan menyesakkan di akhir.

Dari sana permainan 30 hari untuk memiliki pasangan menjadi seru untuk dilakukan. Yang mana, sudah pasti saya gagal dengan gemilang.

Persahabatan para tokoh di film-film Upi pun hadir dengan begitu meyakinkan. Baik itu dalam My Generation, Realita Cinta dan Rock n Roll ataupun My Stupid Boss. Upi piawai dalam menyajikan perfect comic timing dengan dialog-dialog nyeleneh yang membuat para penontonnya seperti melihat diri mereka sendiri dalam film-film Upi.

Upi berhasil menciptakan semestanya sendiri dan membuat penontonnya ingin menjadi seperti tokoh-tokoh yang ada di dalamnya di kehidupan nyata; seperti apa yang mereka pakai, mereka ucapkan, dsb.

Saat Realita Cinta dan Rock n Roll sukses di eranya, semua anak-anak cowok di SMA kegandrungan dengan style emo  yang memamerkan tubuh lean mereka. Keberhasilan tersebut menjadikan  film-film Upi sebagai trendsetter dalam dunia fashion maupun pop culture Indonesia itu sendiri.

Harus diakui, Upi benar-benar berhasil menyuarakan suara anak muda dari jaman ke jaman dengan konsisten pada tren di tiap tiap masanya. Masalah-masalah yang tidak banyak orang bicarakan berani Upi munculkan di sana dengan gayanya sendiri.

Karena Upi tahu, setiap anak muda memiliki suaranya sendiri yang ingin didengar.

Selamat untuk Upi atas film My Generation! Sebuah pencapaian sinematik film remaja yang keren sekali!

 

Ulasan Film Posesif: Memaknai Kembali Sebuah Rasa dan Obsesi

17010009_1

Film Posesif hadir dengan premis yang menarik, sebuah hubungan abusive dalam cinta muda yang membara. Terlebih ini dihadirkan dalam konsep percintaan remaja tujuh belas tahun dengan pelbagai problematika kehidupan khas anak SMA.

Selanjutnya bagaimanakah cerita akan ternarasikan? Dan yang terpenting kemudian adalah, menarikkah Posesif sebagai sebuah film untuk ditonton?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian untuk mengetahui background para kreator di balik film Posesif ini.

Pertama, film ini disutradarai oleh Edwin, ia adalah sutradara yang biasa membuat film-film ekperimental art house, dari tangannya hadirlah film-film indie keren seperti; Babi Buta Ingin Terbang, Postcard From The Zoo, dan Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband. 

Tiga film itu merupakan jenis film yang jarang hadir di teater mainstream Indonesia (you can correct me if i’m wrong, maafkan jika saya salah) dan hanya diputar di bioskop-bioskop alternatif dan festival-festival film yang sifatnya terbatas.

Namun itu bukan berarti karya Edwin merupakan karya biasa karena tidak mampu tembus pasar mainstream. Malah karena film-film Edwin kemasannya begitu kuat. Pesan yang hadir begitu sarkas dan menyindir. Seakan pemaparannya akan peristiwa demi peristiwa ironis di filmnya seolah benar-benar terjadi di tengah-tengah penontonnya.

Bagaimana pedihnya nasib kaum minoritas dibalut dalam simbol visual yang memojokkan. Dapat dipastikan film-film Edwin bakal menjadi kontroversial di kalangan masyarakat yang tidak terbiasa dengan gagasan tersebut.

Namun dengan perbedaan tersebut, Edwin datang dengan alternatif tontonan yang menyegarkan.

Terutama lewat ciri khas film Edwin yang muncul dalam narasi panjang cenderung lambat dan mengekploitasi dramatisasi kebisuan para aktor dalam durasi lama yang kemudian dihentakkan dengan adegan-adegan nyeleneh tak biasa.

Seperti hubungan seksual threesome sejenis antara seorang dokter yang dianal oleh dua orang laki-laki di ruang prakteknya karena ingin membantu pasangannya masuk tivi demi masuk ke sebuah acara pencarian bakat.

Adegan itu dihadirkan Edwin dalam film Babi Buta Ingin Terbang dengan begitu kasual. Ia sisipkan adegan tersebut sebagai statement Edwin terhadap isu-isu marjinal yang jarang dibicarakan. Terpinggirnya kaum Gay dan Tionghoa.

Maka dari itu sangatlah menarik untuk melihat film Edwin yang spesifik dibuat untuk kalangan masif remaja.

Kedua, dari departemen skrip ada Gina S Noer. Penulis skrip film yang sukses dengan film-film best seller iconic seperti Habibi Ainun, Hari Untuk Amanda, dan Ayat-Ayat Cinta. Ia muncul sebagai kontras terhadap Edwin. Premis yang membuat orang penasaran, bagaimana jadinya kubu kreator indie bertemu dengan kreator film populer?

Lewat trailer film Posesif kita dapat melihat nafas sinematografi khas Edwin. Permainan dimensi warna, gambaran komposisi simetris dalam ruang kosong yang di shoot dari jarak jauh. Kesemuanya memanjakan mata bagi yang menontonnya.

Dialog-dialog yang keluar dari mulut para aktornya pun mengalir santai. Seakan lewat trailer filmnya Posesif datang dengan ekspektasi yang tinggi.

Ketiga, mari kita membahas filmnya.

Apa yang menjadi kekuatan dalam film ini?

  • Akting yang kuat dari para pemainnya. 

Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melihat film remaja yang proper di layar kaca. Dan Posesif hadir dengan paket lengkap mulai dari para dua pemain utama yang menyuguhkan akting meyakinkan sebagai pasangan yang mabuk cinta dan terobsesi satu sama lain. Adipati dan Putri memberikan akting terbaik mereka di sini. Saya sebagai penonton percaya ketika mereka sedang tersipu malu, marah, dan ketakutan. Bahkan peran-peran kecil dalam film ini matters. Semua memiliki keterikatan yang mendukung cerita satu sama lain.

Seperti Ega, sahabat Lala dengan karakter yang kocak bisa menjadi bumbu penyegar yang manis dalam film ini.

  • Scene-scene indah

Kepiawaian Edwin dalam memberikan gambar-gambar indah yang datang dari tempat sederhana benar-benar breathtaking. Favorit saya adalah ketika adegan galau Lala saat berenang. Begitu poetic. Adegan dugem dan saat Yudhis dan Lala flashback di taman bermain, kesemuanya terasa cute dan edgy khas anak muda.

Ini mengajarkan bahwa tidak perlu pergi syuting ke Eropa, jika bisa menghasilkan kualitas sebagus ini. Dibanding syuting jauh-jauh tapi film yang dibuat masih level FTV (I mean something that you can see for free).

  • Soundtrack yang mengisi moment dan mood dalam film.

Memasukkan Banda Neira, Dipha Barus, dan Sheila on 7 adalah pilihan yang brilian. Banyak banget orang yang nyanyi di bioskop saat lagu Dan Sheila on 7 diputar di film.

  • Logika cerita yang solid.

Gina membereskan tugasnya dengan baik di sini. Motivasi tiap-tiap pemain dalam kesinambungan konflik berjalan selaras. Mulai dari awal, tengah, dan akhir. Terutama ketika clash antara Lala dan Ayahnya semua terasa tepat pada tempatnya. Kemarahan Lala, ambisi sang Ayah, tekanan Yudhis, semua memburu di film ini dengan ketajaman yang membekas.

Tapi….

Ada beberapa bagian dalam film yang mengganjal, kesan akan toxic relationshipnya masih terasa setengah-setengah. Bagian-bagian yang sebenarnya bisa di eksplore, terasa ditahan oleh Edwin. Seakan ketika seharusnya penonton dibawa dalam dunia kengerian dan impulsif Yudhis, Edwin hanya memberikan porsi kecil di sana.

Creepy thing Yudhis hanya muncul sekali dua kali. Tidak jelas apakah dia memang seorang stalker yang posesif, atau hanya anak tempramen yang mencari pelampiasan saja.

Dari situ pun letupan-letupan hubungan naik turunnya asmara antara Yudhis dan Lala juga terasa terlalu cepat. Tidak ada ruang pengenalan lebih jauh akan bagaimana Lala dan Yudhis membangun ikatan yang tak terpatahkan. Atau bagaimana tiba-tiba Lala merasakan keanehan Yudhis. Bahkan Twilight memberikan itu pada filmnya.

Juga keobsesian Yudhis ke Lala masih jadi tanda tanya. Bagian mana dari Lala yang mentrigger Yudhis untuk menjadi seseorang yang posesif? Sayangnya semuanya tak tergambarkan terlalu jelas.

Dari sanalah terlihat bagaimana film ini bermain aman. Hasrat dan letupan toxic relationship semacam ‘make up sex’ tidak muncul sebagai penyeimbang. Karena dari pengalaman teman saya yang mengalami kejadian seperti Lala, memiliki pasangan yang tukang pukul, sang pacar selalu memiliki cara untuk membuat teman saya kembali lagi kepada dirinya. Salah satunya ya itu, lewat make up sex, sesuatu yang akhirnya menggiring teman saya jatuh kembali pada luka yang ia buat sendiri. Semacam manipulasi yang tak berujung.

Keguncangan psikologis Lala pun tidak muncul, sepertinya akan lebih dramatis jika ada scene untuk Lala sendiri yang menanyakan kembali keputusannya saat ingin pergi atau kembali stay dengan Yudhis.

Karena di film ini sudut pandang Lala terkesan terombang ambing karena desakan sang Ayah, temannya, dan Yudhis sendiri. Tidak ada suara sendiri dari karakter Lala dalam menghadapi masalahnya di sepanjang film.

Kembali menjawab pertanyan awal, apakah film ini menarik untuk ditonton?

Maka jawabannya adalah sangat menarik.

Saya memberikan bintang 4,5 dari 5. Film ini begitu memukau secara keseluruhan. Seakan hadir sebagai entitas baru dalam film remaja Indonesia. Posesif bukan hanya sebuah film remaja belaka, ia merupakan suara keberanian yang dieksekusi dengan baik.

Film ini wajib untuk ditonton buat kamu kamu yang sedang berada dalam hubungan seperti Lala namun tidak berani untuk bersuara.

Karena dari film Posesif kita belajar bahwa seganteng apa pun pasangan, jika tangannya dipakai untuk memukul dan mulutnya untuk merendahkan pasangannya lewat kemarahan. Harusnya pilihan untuk pergi darinya merupakan jalan utama yang harus segera diambil.

Mengutip tagline dari sebuah iklan, karena kamu begitu berarti.