Review This is Us Season 1 & 2: Dalam Sebuah Perspektif Personal

Screen Shot 2018-03-28 at 1.41.51 PM
pic from https://www.goodhousekeeping.com/life/entertainment/news/a48183/this-is-us-season-3/

Sebenarnya sudah direkomendasiin sama Kak Teppy dari setahun lalu, namun entah mengapa baru punya waktu tahun ini aja.

Daaaaaaan series ini bagus. Banget. Titik.

Setiap manusia pasti punya luka masa lalu yang akhirnya memberikan efek tersendiri di kehidupan mereka ke depannya.

Dengan premis tersebutlah series This is Us bergerak dengan begitu indah, memikat, juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi mereka yang memiliki pengalaman yang sama seperti pemain-pemain di dalamnya.

Series ini dengan apik menggambarkan hubungan antar manusia sebagai keluarga yang tumbuh bersama-sama dengan begitu detail sampai saya sebagai penontonnya merasakan keterikatan emosi dalam perubahan nasib dan pengembangan karakter sepanjang series berjalan.

Kejeniusan sang kreator dan penulis series ini dapat dilihat lewat pembagian scene dan cerita yang tidak linear namun bertumpu pada satu titik trauma misterius yang dihadirkan maju mundur dan selalu dihindari untuk dibicarakan oleh masing-masing anak di dalam keluarga ini.

Namun seperti halnya misteri lain dalam hidup, di tiap episodenya pedih dan misteri yang bercongkol terus mendesak untuk diselesaikan atau akan menghancurkan semua yang ada di ‘present moment’.

Dan itulah kekuatan dari series ini. Saya bisa nangis ambyar se-ambyarnya macam selang air setiap menyelesaikan episode-episode di series ini.

Kalau kamu-kamu tipe yang suka disakitin dengan cerita-cerita tear jerky, series ini cocok banget buat kamu.

Screen Shot 2018-03-28 at 1.45.18 PM
pic from https://www.nbcnews.com/better/health/6-important-relationship-lessons-we-can-all-learn-us-ncna802341

Topik besar dari series ini adalah gambaran dua karakter utamanya yaitu Jack dan Rebecca dalam membangun keluarga kecil mereka dari nol sampai anaknya tumbuh sebagai manusia dewasa.

Dan namanya juga hidup ya, pasti ada saja masalah-masalah di dalamnya. Namun serius, menonton series ini saya seperti sedang dalam sesi self healing. Karena isu-isu yang dihadirkan di series ini adalah sesuatu yang kebanyakan orang alami sebagai seorang anak maupun manusia secara keseluruhan. Dan selama satu jam saya dihadapkan dengan begitu larut lewat memori-memori usang yang telah lama ditekan, dilupakan, dan kini mendesak untuk didamaikan.

Fiuh, nonton series tidak pernah seberat ini.

Ketidaksempurnaan adalah Kesempurnaan

Jack sebagai seorang Ayah dan Suami dalam series ini terlihat sebagai manusia super sempurna di mata keluarga kecilnya.

Dan sebenarnya memang Jack seberusaha itu untuk menjadi sosok sempurna tersebut. Kita sebagai penonton akan dibuat terharu ketika melihat perjuangan Jack saat harus memutar otaknya untuk menyelesaikan masalah ‘papan’ keluarganya. Karena pada awalnya saat Rebecca hamil dia memperkirakan anaknya hanya akan ada satu. Tapi setelah beberapa bulan ia terkejut mendapati fakta bahwa ia akan memiliki TRIPLET. Bayangkan, sudahlah DP rumah awal hangus karena sudah pasti rumahnya saat lahiran enggak bakal muat, ditambah dia masih harus mencari uang tambahan untuk beli rumah baru lagi.

Namun Jack berusaha untuk melakukan apa pun demi memberikan kenyamanan terbaik untuk istri dan anak-anaknya. Meskipun ia harus drop his pride and ego untuk minta ke Ayahnya yang dia benci sekali.

Apa yang Jack lakukan adalah gambaran kebanyakan peran seorang Ayah dalam kehidupan keluarga kebanyakan.

Dia akan berkorban dan bekerja paling keras untuk mendapatkan uang demi kelangsungan kehidupan keluarganya.

Jack Versi Saya

Saya mau berbagi cerita tentang sosok ‘Jack’ versi saya lewat pengalaman dan sudut pandang saya.

Sebagai anak yang tumbuh dan berkembang di keluarga Indonesia kelas pekerja kebanyakan. Tipe hubungan anak dan Ayah yang saya punya secara khusus bukanlah bentuk paling ideal yang bisa diceritakan. Kami bukan keluarga yang tiap akhir pekan bisa berkumpul kemudian piknik dan membuat bbq dan tertawa bersama-sama. Kami hanya keluarga sederhana dengan kehidupan yang sederhana pula.

Ayah saya adalah si pendiam yang selalu pulang ke rumah dengan fisik dan mental kelelahan yang hanya bisa saya temui seminggu sekali. Itu pun lebih banyak saya mendapatinya tidur seharian di kamar. Komunikasi kami hanya sebatas menanyakan “sudah makan? sudah mandi? sudah mengaji?”.

Waktu intim yang saya punya dengan beliau hanya saat makan bersama. Meski tidak banyak bertukar omongan tapi momen tersebut sudah cukup untuk membuat saya merasa memiliki seorang bapak.

Namun sejak saya dan adik saya tumbuh besar dan membutuhkan ruang lebih luas di rumah kami yang kecil, saya harus merelakan tidak punya meja makan dan kehilangan ritual makan bersama-sama. Yang artinya saya akan kehilangan waktu berdua dengan Ayah saya. Maka keintiman itu pun terlewat dan berganti ke pertanyaan basa basi soal perkembangan di sekolah saja.

Entah apakah Ayah saya tahu bahwa hobi saya sebenarnya adalah membaca dan menulis bukan bermain sepak bola seperti kebanyakan anak-anak laki-laki di kampung saya.

Entah juga apa Ayah tahu bahwa dulu sepeda saya sering rusak karena dikerjai oleh anak-anak kampung yang iseng karena mereka membenci saya atas fisik saya yang hitam dan kemayu. Yang mana merupakan gambaran paling jelek dalam kriteria anak laki-laki di kampung.

Entah apa Ayah saya juga sadar bahwa saya selalu absen dari kelas mengaji setiap malam karena saya tidak nyaman membahas ajaran agama yang begitu dangkal dan anak-anaknya yang sering mem-bully saya.

Juga, saya sering bertanya-tanya apakah ada perasaan malu pada dirinya dengan memiliki anak seperti saya?

Sepanjang hidup saya mempertanyakan itu semua di kepala saya.

Apakah Ayah saya menekan semua emosinya dan menjadikan dirinya sebagai martir dalam keluarga karena asas kewajiban atau karena memang dia mau melakukannya secara sukarela dan tulus karena kasih sayang?

Dude, tinggal di keluarga pinggiran Cibinong secara sadar saya sudah mengikhlaskan untuk mengeliminasi konsep ‘kasih sayang’ seperti yang hadir di televisi atau iklan-iklan. Saat sang Ayah memeluk anak-anaknya dan mengatakan, “I love you, Nak. Papah bangga sama kamu!”.

Hell, No. Itu hanya untuk para rich kids, and I’m not. Dari kecil saya sudah tahu diri untuk hal itu.

Komunikasi dan tendesi kulit bertemu kulit adalah sebuah konsep yang tidak pernah muncul dalam kepala orang tua macam Ayah saya. Entah karena risih atau memang orang tua beliau sebelumnya pun tidak melakukan hal tersebut.

Maka bisa dibayangkan sepanjang saya hidup saya akan sangat risih saat ada teman saya merangkul dan memeluk saya. Dulu saya bisa begitu aneh dengan hal tersebut, bahkan cenderung menghindar.

Karena ya tadi, kode kasih sayang tadi tidak terintegrasi dalam diri saya.

Juga, saya pun bisa menghitung berapa kali saya pernah mengobrol dengan beliau secara decent sebagai sesama manusia. Dan membayangkan saya dan dan beliau mengobrol as men to men adalah sesuatu yang aneh sekali.

Karena memang pada dasarnya seingat saya kami tidak pernah memiliki bonding moment seperti itu. Ide akan seorang Ayah di kepala saya adalah seorang kepala keluarga yang kelelahan mencari uang yang bahkan saya tidak tahu kapan ulang tahun dirinya.

Dulu saya akan membawa kebetean itu dan menyalahkan dunia akan hal tersebut.

Kenapa sih saya harus tumbuh seorang diri tanpa orang tua saya? Terlebih tanpa sosok Ayah. Saya bahkan pernah menyalahkan beliau atas ketidak cocokan diri saya atas ekspektasi society, karena gugurnya figur Ayah dalam diri saya.

Saya tidak pernah diajarkan olahraga oleh beliau, tapi secara mendadak saya disuruh mencintai sepak bola seolah itu sesuatu yang wajar. Wong saya lebih suka tidur atau baca buku dibanding berkeringat.

Ayah saya tidak pernah mengajarkan saya menyukur kumis dan janggut saat saya beranjak puber. Mana saya tahu bagaimana berdandan saat acara-acara resmi, terlebih dengan jas dan pakaian lainnya.

Atau hal-hal kecil lainnya yang menjadi common sense di keluarga teman-teman saya. Sedang di saya? No way hose. Tidak ada.

Tentu saja sebagai remaja saya akan iri hati dengan teman-teman saya yang bisa begitu dekat Ayah mereka. They can throw jokes to each other. They share knowledges and everything.

Saya? Harus tertatih-tatih mengetahui itu sendiri setelah banyak kegagalan.

Lalu saya kuliah dan benar-benar tumbuh secara mandiri. Dan makna orang tua pun semakin mengecil dan menghilang. Keinginan untuk dekat dan mengetahui sosok Ayah pun lepas di tengah jalan.

Kemudian seiring berjalannya waktu, saya lulus kuliah dan langsung bekerja full time. Lama saya jalani saya pun tersadar bahwa bekerja sangat melelahkan hati dan badan.

Gaji pertama yang saya dapat langsung saya berikan ke orang tua saya. Sedikit sih, cuma sejuta setengah kala itu, tapi saya bisa mendengar isak tangis dari kamar orang tua saya. Melihat anaknya kini sudah fully grown.

Saya langsung membayangkan apa yang Ayah saya lalui seumur hidupnya dengan terus-terusan bekerja dan mengorbankan mimpi-mimpinya sendiri demi bisa memberikan saya kehidupan yang layak adalah sebuah ide yang mengoyak batin.

Hati yang beku ini pun perlahan luluh juga. Saya merasa berdosa sekali dengan segala buruk sangka dan kekecewaan yang saya bawa setiap hari saat dulu.

Ayah saya mungkin bukan orang tua paling kaya yang bisa memanjakan anaknya, tapi ia berusaha untuk memastikan anaknya tidak kelaparan dan bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Ayah saya mungkin tidak menanyakan hobi saya apa dan seterusnya, tapi seumur hidup saya, dia tidak pernah melarang saya untuk melakukan apa pun. Mulai dari sekolah yang saya mau sampai pekerjaan yang saya ambil sampai sekarang. Ia selalu mendukung dengan caranya sendiri.

Yang saya ingat adalah Ayah saya tidak pernah sekalipun marah besar dengan memukul saya. Tidak sekalipun saya pernah disakiti oleh tangannya.

Ia hanya akan diam dan itu membuat saya merasa lebih bersalah.

Sama seperti halnya Jack, orang tua saya bertambah tua, dan suatu saat akan pergi untuk selama-lamanya.

Yang ingin saya lakukan sekarang adalah mengingatnya sebagai sosok yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia. Sebagai seorang Ayah yang belajar untuk pertama kali. Sebagai seorang manusia yang juga memiliki ketakutan untuk tidak merusak apa yang ia miliki, keluarganya, anak-anaknya.

Dan lewat series ini, saya dapat memahami itu.

Saya dan Ayah saya adalah dua orang yang sama-sama belajar untuk membahagiakan satu sama lain dengan cara masing-masing. Dan pengorbanan itu berarti lebih dari apa pun di hidup saya. Karena dari sana saya pun sadar, bahwa di dunia ini ada satu orang yang akan selalu menganggap saya begitu berharga hingga ia mau mengorbankan apa pun dalam hidupnya.

Sesuatu yang terkadang saya lupakan.

Advertisements

Review Series Love: Tentang Gambaran Candu

Well, kemarin gue baru beres nonton series di Netflix judulnya LOVE. Kreatornya Jude Apatow, si jenius di balik beberapa film romantic comedy favorit gue seperti Bridesmaids, Superbad, dan This is 40.

Hal yang paling gue suka dari film doi adalah akan bagaimana ia mengangkat dan memusatkan narasi filmnya lewat karakter yang biasa-biasa aja. Sosok yang bisa gue temui setiap harinya secara random di kehidupan sehari-hari. Terkadang gue pun seperti dapat melihat diri gue di dalamnya.

Meskipun yang dihadirkan adalah wajah orang-orang kebanyakan, namun bukan berarti ‘orang-orang biasa’ tersebut tidak memiliki ‘masalahnya’ sendiri. Dan di tangan Jude Apatow, masalah tersebut dipulas dengan begitu menarik, relatable, dan engaging.

Dengan signifikan ia menggambarkan kedalaman karakter orang-orang biasa tersebut melalui reaksi-reaksi mereka yang mungkin bisa bikin elo bergumam kecil: SHIT! Aing juga bakal berekasi kayak gitu.

Semacem di film Bridesmaids nih, saat si Annie perebutan mic sama Helen untuk berlomba-lomba nunjukin di depan banyak orang kalau mereka adalah sahabat paling deketnya Lillian.

Itu kan hal paling basic dalam dunia pertemanan bukan? Kita bakal insecure sejadi-jadinya saat posisi sebagai ‘sahabat kental’ terancam dengan kehadiran orang baru.

Gue sih sangat bisa membayangkan diri gue melakukan yang Annie lakukan ya. Hehe. Makanya gue suka sebel sama film-film atau novel-novel yang menggambarkan karakter utamanya kelewat sempurna. Pengen banget bisikin begini ke kuping yang buatnya…

Screen Shot 2018-05-18 at 4.34.53 PM

Dari sana gue sebagai si another ‘orang-orang biasa’ tersebut terasa terwakilkan dan berfikir; mungkin memang enggak ada yang sempurna di dunia ini, di kehidupan ini. Kesempurnaan cuma state of mind kita aja.

Mungkin ya.

Screen Shot 2018-04-05 at 6.09.34 PM

Anyway, kembali tentang si series Love. Series ini mengisahkan dua tokoh utamanya yaitu Gus dan Micky. Ceritanya mereka berdua sama-sama sedang gagal dalam hubungan percintaan yang sudah lama mereka jalin gitu.

Kemudian di suatu pagi setelah kekacau balauan hidup mereka, di sebuah toserba mereka bertemu secara tidak sengaja. Dan dari sana lah petualangan cinta itu dimulai.

Cinta? Iya, cinta.

Orang-orang di usia 30an yang sudah jatuh bangun patah hati atau sering ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya ternyata masih punya kesempatan untuk jatuh cinta yang lucu-lucuan gitu loh.

Seenggaknya itu yang dialami Micky and Gus di sana ya.

Tentu saja perjalanan cinta mereka berdua naik turun. Di beberapa episode awal mereka masih gemes tarik ulur kejar-kejaran, atau diam-diam menyimpan perasaan masing-masing.

Ya namanya juga masih anget-angetnya.

Tapi, karena pada dasarnya mereka memang baru kenal satu sama lain, gejolak emosi pasti muncul di saat mereka berusaha memahami perbedaan karakter yang ada. Kesalahpahaman sering muncul saat ego dan insecurenya Micky berhadapan dengan kepragmatisannya Gus.

Gus adalah tipe orang yang berusaha untuk menekan semua amarah yang ada dalam dirinya hanya untuk menjadikan sekelilingnya merasa baik-baik saja. Mengorbankan perasaan dia sendiri, yang ujungnya malah merusak semua yang ada.

Tuh, makanya jangan suka mendem atau meledak-ledak jadi orang. Ribet nanti hidupnya.

Selain tentang cinta-cintaan, series ini membahas sesuatu yang lebih dalam lagi. Dan ini lah yang menarik untuk dibahas.

Dalam setiap hubungan pasti ada satu pihak yang menjadi si obsesif. Si needy. Tipe manusia yang menutut segalanya harus dituruti sesuai dengan standar orang tersebut.

Kalau ketemu pasangan yang nurut sih ya semuanya bakal baik-baik aja. Tapi, apesnya kalau ketemu pasangan yang pragmatis pasif agresif (apa coba?) pasti endingnya yang ada cuma ngotot-ngototan satu sama lain.

Si pihak obsesif merasa ditolak dong ya, padahal ya si pragmatis cuma enggak mau ribet aja terus besoknya udah selow lagi.

Namun namanya ngerasa ditolak, emosi pun hadir. Dan jadilah si sosok yang tadinya obsesif menjadi drama dan meledak-ledak sejadi-jadinya.

Itulah yang terjadi dengan Micky. Salah satu adegan yang paling membekas di kepala gue adalah ketika Micky berubah menjadi si needy yang begitu emosional dan tidak ada henti-hentinya texting Gus setiap saat ketika Gus menolak bertemu dengannya untuk membahas sesuatu.

Setelah puluhan telepon dan pesan yang tidak berbalas dengan impulsifnya Micky pun menyambangi kantor Gus dan ‘menanyakan’ alasan mengapa Gus nyuekin dia. Nanyanya dengan amarah yang mendongkol tentu saja.

Mendapatkan jawaban yang tidak diingankan dan malah ditolak secara langsung oleh Gus, membuat mental Micky berantakan. Ia berteriak-teriak dengan begitu hebat tanpa menyadari bahwa yang dia lakukan hanyalah mempermalukan dirinya sendiri. DI KANTOR ORANG, DI DEPAN BANYAK ORANG.

Cut to dari sana, Micky dan Gus pun memilih break dan menjauh satu sama lain. Dari sana Micky menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya. Dengan kepribadiannya. Dengan tingginya kebutuhan dia akan perhatian dari orang lain. Spesifiknya ke certain person yang dia care about.

Micky akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang pecandu. Baik itu dengan alkohol, rokok, dan juga cinta. Dan untuk memperbaiki dirinya, ia pun bergabung dengan support grup bagi para pecandu alkohol dan cinta. Pelan-pelan dari sana Micky menjadi pribadi yang akhirnya dapat mengendalikan urgensi dirinya atas perasaan apa pun. Baik itu perhatian dari Gus dan ketergantungannya pada alkohol.

Dan, kawan, dari sana lah gue seperti melihat diri gue dalam kepribadian Micky. Seperti ada bunyi klik.

Jangan-jangan gue si Micky deh? Atau sebenarnya gue sudah menjelma menjadi si Micky tanpa gue sadari?

Gue pun mempertanyakan hal itu pada teman-teman gue dan juga ke korban kegilaan gue: si R dan si D. (D sih enggak jawab, hanya si R yang tahan dengan segala kegilaan gue dan rela menjawab).

Dan jawaban mereka adalah…..

positif. Bahwa gue seneedy itu juga.

Fine.

Gue dapat merasakan keterhubungan yang dilakukan oleh Micky terhadap Gus. Micky hanya ingin didengar, ditemani. Mungkin memang porsi ekspetasi Micky berlebihan, tapi itu bukan tanpa sebab. Perhatian menjadi sebuah candu untuk orang yang biasa ditelantarkan, dibuang.

Bahkan pernah loh si D bilang ke gue bahwa ekspektasi adalah sesuatu yang menjadi akar masalah di antara kami. Gue yang saat itu masih muda belia dan labil tentu saja marah. Bagaimana bisa seseorang yang memberikan gue kebahagian luar dalam ber’ekspektasi’ pada diri gue untuk tidak berlebihan merayakannya. Membalasnya.

I mean, I want make this thing longer. Tapi yang ada, dia merasa apa yang gue lakukan terlalu menyesakkan dirinya. Pret.

Orang-orang yang needy dan se-obsesif itu tidak melulu tiba-tiba menjadi seperti itu. Ada pengalaman dan perjalanan pahit di masa lalu yang membuat seseorang memiliki kepribadian tersebut. Terjebak pada perasaan ditolak yang mau sehebat apa pun disembuhkan, luka itu akan tetap hadir. Perasaan tidak lebih baik dari apa pun akan selalu menghantui dan ketakutan untuk merusak kebahagian yang ada akan bercongkol di tiap kesempatan.

Karena ya itu yang gue rasain.

Setiap ada kebahagian yang datang di hidup gue dalam bentuk apa pun, gue sudah bersiap-siap untuk pack up my feelings karena entah kenapa gue merasa pasti di ujung-ujungnya gue akan melakukan suatu hal bodoh yang akan ruin everything. Itu semua sudah seperti hukum Newton. Sebuah kepastian yang tidak dapat gue hindari.

Seperti semua yang gue punya, baik R dan D memberikan sesuatu yang sebenarnya cukup. Mereka datang ke hidup gue dan gue bahagia karenanya. Tapi ada satu titik di mana gue terlalu ketakutan dan tidak mau semua kebahagian itu hilang. Dan yang ada karena ketakutan enggak jelas itu perlahan gue malah menjadi si gila yang menuntut segala hal yang tidak masuk akal ke mereka.

Sampai pernah loh gue nyamperin kantor si D dan gue breakdown di depan dia. Nangis jejeritan kayak orang ditinggal mati padahal cuma perkara si D enggak balas WA gue aja. Astaga! Gue sampai malu hati kalau ingat ketololan gue itu. Dan itu gue ngelakuinnya dua kali. Breakdown kok doyan. Heran.

Yang menjadi highlight lagi adalah di series Love ditunjukkan tentang sebuah Support Group yang membantu Micky melewati fase-fase ia meninggalkan ke needy-annya. Dan gue seperti butuh itu deh di Jakarta ini.

Gue kalau curhat masalah-masalah begini enggak jauh-jauh ke teman-teman gue yang sepertinya sudah bosan dengan curhatan gue. Sampai ada loh salah satu teman gue yang merasa gue adalah orang yang sangat self centered. I’m a selfish bitch yang selalu curhat tentang diri gue sepanjang waktu.

Padahal saat itu gue butuh banget untuk sharing sesuatu yang benar-benar belum selesai antara gue dan perasaan needy gue sama orang yang I care about.

Jadi, lari ke teman terkadang memang tidak menyelesaikan perasaan neurotic itu. Jika ada sebuah support group, di sana gue pasti bisa berbagi dengan orang-orang yang merasakan hal sama dengan gue. Melalui momen-momen pahit yang pernah kami lalui untuk sekadar mengkonfrotasikan emosi dan kepedihan yang selalu gue bawa setiap hari lalu bersama-sama bangkit menata hidup yang berantakan ini dan memusatkan perasaan kelam ketika menghadapi momen…. KENAPA SIH DIA LARI DARI GUE? KENAPA SIH DIA BERUBAH? KOK DIA PERGI SIH PAS GUE LAGI SAYANG-SAYANGNYA? so on and so on.

Semua penolakan-penolakan itu harus dibicarakan. Harus disudahi.

Karena kalau tidak gue takut itu akan menjadi penyakit yang terus menerus menggerogoti gue tiap kali gue berada dalam sebuah hubungan. Karena nantinya it is gonna be only a different cast but with the same ending all over again. Peran gue hanya akan terus menjadi ‘si gila’ belaka.

Dan harus gue akui jika gue sudah berusaha segitunya banget untuk menyelesaikan suatu masalah dan hasilnya tetep nihil dan gue tetap kembali ke masalah tersebut. Mungkin… mungkin loh ya. Memang lebih mudah untuk kembali ke masalah yang gue sudah tahu luar dalam. Bahwa pada akhirnya orang-orang itu akan kembali lagi ke gue setelah mereka menolak gue.

Tapi yang terjadi sekarang adalah… mereka semua sudah berkeluarga. Dan gue si duri dalam daging. Yang harus gue lakukan bukan datang lagi ke kehidupan mereka.

Tapi menyelesaikannya. Menamatkan kisah tersebut. Gue enggak butuh masalah ini di satu atau dua tahun mendatang.

Mungkin gue harus jatuh banget sampai sakit se pedih-pedihnya biar mikir bahwa diri gue adalah toxic untuk orang lain dan harus pergi dari sana.

Lewat sebuah blog gue mendapati tulisan Ayodeji Awosika yang sepertinya dapat merangkum masa transisi kegilaan gue, yaitu:

“Sometimes the best way to point your life in a new direction is to become completely disgusted with your current one… I finally said ‘enough is enough.’Strong negative emotions can be just as powerful as positive ones. When will ‘enough be enough,’ for you? When will you decide you can’t live this way for even one more day? Once you make that decision, everything changes.”

Perasaan ditolak memang sakit, dan tiap orang memiliki kelemahannya masing-masing. Tapi belajar untuk mengakui hal tersebut dan pelan-pelan menyalurkan emosi dan kesedihan tersebut pada hal lain yang lebih konstruktif sepertinya sesuatu yang harus gue coba. Gue harus mengalihkan semua kedramaan dan kepedihan gue pelan-pelan.

Karena dengan terus feeding ke-needy-an gue itu, yang gue dapet hanyalah ketiadaan.

Dan untuk kamu-kamu yang suka drama dan merasa hidup berantakan saat ditolak oleh orang yang kamu sayang. Tenang, kamu enggak sendirian kok.

Black Mirror S04 Dalam Sebuah Review

black-mirorr

Yang terbaik dari serial Black Mirror adalah ia dapat memberikan gambaran teknologi masa depan yang terintegrasi dengan canggih dalam kehidupan sehari-hari manusia namun tetap menyimpan twist yang sialnya malah berbalik menghancurkan manusia itu sendiri.

Season 01 sampai 03 Black Mirror berisi alat-alat yang bisa menjadi kritik sosial dari betapa manusia bisa terobsesi dan diperbudak dengan teknologi tersebut.

Dan juga Black Mirror bisa menjadi pengadilan moral yang membuat kita melihat bahwa satu orang biasa yang tadinya hidupnya baik-baik saja bisa terjebak dalam agony hidup hanya karena satu kesalahan fatal belaka. Bola salju itu bisa mengoyak sendi rahasia terkelam manusia tersebut dan pahitnya, membunuhnya.

Oleh karena itu Black Mirror begitu memikat karena ia bisa meramalkan kepongahan teknologi dan menghidupkan khayalan paling pahit dan najis dari seorang manusia yang memiliki nafsu dan amarah di tiap-tiap episodenya. (Yang sepertinya di dunia nyata kini sedang menuju ke arah sana. Seperti Trump menjadi seorang Presiden, bukankah itu khayalan paling pekat dari dunia Black Mirror?).

Maka di season 04 pertanyaannya adalah apakah Black Mirror masih memiliki magicnya?

Jawabannya adalah…

Menurut gue Black Mirror season 4 sepertinya bermain aman dan malah terjebak pada dikotomi baik dan jahat yang terlalu preaching. Yang mana di season-season sebelumnya mereka malah berhasil mengaburkannya dan itulah yang jadi poin memikat dari serial ini.

  1. USS Callister

landscape-1508343510-screen-shot-2017-10-18-at-171757

Seperti episode pertama USS Callister, teknologi yang dihadirkan seperti serupa yang ada di episode White Christmas. Sebuah games yang membuat orang memiliki semesta sendiri dalam pikirannya. Mengopi subtil kesadaran manusia.

Namun di episode ini motivasi si Kapten Robert yang menjadi peran antagonis di sini terlalu banal. Masa hanya karena sekadar sebal dengan orang kantor? Sudah? Begitu saja?

Tidak ada rahasia-rahasia memalukan dan tersembunyi dari kolega-koleganya? Foto sexy? That’s it? Tidak ada twist seperti pedofil dari seorang anak yang terlihat baik-baik di luar?

Terlalu sepele dan tidak Black Mirror banget. Ending konfliknya pun berakhir anti klimaks. Durasi episode terlalu banyak dihabiskan pada kebingungan Nanette Cole yang bertanya-tanya mengapa ia ada di permainan tersebut. Padahal kan dia bekerja di perusahan game tersebut.

2. Arkangel

black-mirror-arkangel

Ini episode yang paling apa banget deh. Gue udah siap-siap untuk melihat perubahan si anak kecil manis ini menjadi seorang psikopat atau apalah. Taunya ceritanya cuma soal si Ibu yang posesif dan nyebelin yang enggak bisa ngeliat anaknya tumbuh. Bahkan gue mengharapkan si Ibu jadi orang yang malah berbuat hal-hal yang menghancurkan dirinya dan anaknya. Tapi enggak, mereka cuma berantem, mati pun tidak dan kisah berakhir. Another anti-klimaks episode.

3. Crocodile

blackmirror_s4_crocodile_00309_v23

Judul dan cerita yang membuat gue berfikir apa kolerasi dan metaforanya. Enggak nemu sih gue irisannya apa. Buayanya di mana juga gue engga tau.

Tapi di antara semua teknologi yang ada di season 04, episode ini paling keren. Karena bisa memvisualkan memori masa lampau. Tapi kesan Black Mirrornya masih kurang kental, karena fitur teknologinya cuma sebatas trigger, bukan sebab-akibat dan menjadi awal masalah. Hanya sebatas transisi aja pada banality devil di karakter Mia.

Jatohnya ini jadi cerita kriminal biasa dan engga seberkesan seperti episode Hated in Nation yang juga padahal cerita crime namun bisa dibungkus dengan lebih futuristik dan ironis.

4. Hang the DJ

lead_960

Padahal episode ini berpotensi seperti episode San Junipero, tapi sayangnya cerita terlalu lama berputar pada jalinan tanpa ujung dari “the System”. Seperti tinder namun sudah mengharuskan pasangannya mengiyakan pilihan dari sistem tersebut dan pahitnya harus terjebak selama masa expired yang ditentukan sistem tersebut.

Tidak ada romansa sehangat San Junipero dan tidak ada percikan emosi yang mendalam dari kedua karakter utama. Kesamaan mereka berdua hanya karena mereka dua orang yang sama-sama suka melontarkan jokes belaka dan merasa bosan dengan pilihan pasangan yang disuguhkan si sistem.

Selebihnya tidak ada yang menarik dari episode ini.

5. Metalhead

metal-head

Gue sih suka ya sama episode yang ini, semacam pasca kiamat gitu dan hanya menyisakan manusia yang melawan robot anjing yang bisa mengeluarkan senjata dari tubuhnya. Misi robot sialan itu cuma satu: Membasmi manusia.

Dengan kemasan hitam putih emosi yang ditunjukkan Bella, si manusia yang berjudi dengan maut, bisa terekam dengan sempurna. Bagaimana ia menggerakan seluruh gesture dan melihat ia benar-benar sendirian dan terluka.

Kita dapat melihat betapa capek dan mencekam hidupnya si Bella dalam berjuang melawan dan menghindar dari robot anjing tersebut. Pilihan yang tersisa untuknya hanyalah membunuh atau menyerah dan mati.

6. Black Museum

Penutup yang ok! Semua hal di episode ini baru berasa Black Mirror banget. Twist-twist di akhir yang enggak kebayang dan teknologi-teknologi yang niatnya membantu malah menghancurkan dihadirkan di sini.

Kritik sosial pun diargumentasikan juga dengan baik. Membuat gue sebagai penonton ikut tersenyum dan tertawa girang saat layar laptop menjadi gelap dan melihat misi si karakter utama berhasil dilaksanakan.

BlackMirror_S4_Museum_00239_V1.0

Meskipun tidak sesuai ekspektasi karena tingginya pencapaian estetik, cerita, dan emosi di season-season Black Mirror sebelumnya. Season 04 ini masih layak lah untuk ditonton di episode 5 dan 6.

Gue sih masih nunggu buat nonton Black Mirror di season tahun berikutnya.

Apakah kritik-kritik satir itu tetap ada dan menghantui para penontonnya yang begitu dekat dengan teknologi yang pada akhirnya malah mengaburkan makna teknologi itu sendiri.

Apakah mereka ada untuk membantu atau malah menghancurkan?