Potongan Memori Kala Itu

Dalam satu waktu di sebuah kampus sekitar Depok. Tentang kamu, rintik hujan, dan sejumput kebahagian yang tertinggal.

Screen Shot 2018-07-27 at 00.16.06
unsplash

Saat itu kamu menggenggam tanganku di depan begitu banyak orang yang tidak kita kenal. Ini pertama kalinya. Kamu tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku dapat merasakan kegugupanmu, kamu pun dapat melihat betapa kaku tanganku kala itu.

Umur kita baru delapan belas tahun saat itu. Baru tiga bulan saja merasakan masa kuliah. Romansa putih abu-abu masih terasa, bahkan lebih kuat.

Kita pun berhasrat atas satu sama lain. Entahlah dengan cinta. Tapi yang aku tahu, aku menginginkanmu, dan kamu pun menginginkanku. Bagiku itu cukup.

Ada banyak cerita yang kamu bagi padaku setiap harinya. Tentang jaket kuning kebanggaanmu, teman-teman baru, dan mata kuliah yang mau tak mau harus kamu hadapi tiap harinya. Dan hatiku pun mendadak hangat tiap kali melihat dirimu yang dulu selalu pelit bicara kini tampil berbeda. Ada banyak hal baru di harimu dan kamu pun menceritakannya padaku. Membaginya tanpa aku minta. Seakan aku berada di sana. Seolah-olah aku membutuhkan cerita-ceritamu untuk bertahan hidup.

Apakah ini artinya bahwa kamu ingin aku ada dalam ceritamu? Menjadikan aku bagian dari itu semua?

Kamu hanya tersenyum saat aku menanyakannya, ada hangat dari sentuhanmu di wajahku dan tiba-tiba kamu pun menciumku dengan cepat. Seperti selalu ada hari esok untuk ciuman yang lebih perlahan dan lama. Pikirmu saat itu. Koreksi. Pikir kita berdua saat itu.

Kemudian tiba saatnya kamu dan aku berpisah. Aku dapat melihat semangat di kedua matamu ketika menuju kampus dan betapa aku tahu kamu hanya berpura-pura sedih saat melepasku di Margonda.

Aku akan merindukanmu. Katamu setiap kali saat aku turun dari mobilmu. Setiap hari selama tiga bulan.

Dan selama tiga bulan itu pun aku tidak pernah membalas ucapanmu dan hanya melambaikan tangan saja. Entah mengapa.

Kembali pada scene saat kamu memegang tanganku. Menggandengnya. Memamerkannya. Memilikinya.

Saat itu Minggu malam. Kamu dan aku sedang menikmati konser pertama kita sebagai pasangan. Ribuan orang bernyanyi, berjoget, dan kita berdua tahu bahwa genggaman tanganmu efeknya lebih dahsyat dari seluruh band dan penyanyi malam itu dijadikan satu.

Hujan turun. Rintik-rintik yang syahdu itu pun membasahi kita berdua. Kamu menarikku ke dekat pohon, kita berdua tersenyum dengan kebodohan ini. Seharusnya kita kembali saja ke mobil lalu pulang. Katamu.

Tapi aku menolaknya. Aku ingin menikmati hujan ini bersamamu.

Kamu tampak bingung tapi toh kamu tetap mengiyakannya. Kita berdua pun berpelukan di bawah rintik hujan diiringi musik dari penyanyi yang kita tidak begitu kenal. Namun entah dorongan dari mana, ada rasa nikmat di sana. Musik itu seakan menjadi latar akan cerita aku dan kamu malam itu. Aku kamu, aku kamu, aku kamu. Betapa hatiku bergetar tiap kali mengulang kalimat itu.

Kemudian kamu pun memelukku. Erat. Seakan ini yang terakhir. Aku dapat merasakannya.

Apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya malam ini?

Aku pura-pura tidak menyadarinya. Membalas pelukanmu dalam diam. Detik kemudian aku tenggelam dalam sebuah momen yang takutnya tidak akan terulang lagi di antara malam, hujan, dan pelukanmu. Dan rasa khawatir itu pun aku simpan sendiri.

Malam pun berganti pagi, hujan pun berhenti, sayangnya pelukanmu pun ikut memudar.

Lima bulan kemudian tidak pernah ada lagi cerita-cerita darimu tentang teman-teman baru atau dosen-dosen aneh yang selalu mengganggu dengan tugas-tugasnya.

Kita berdua pun sudah tidak pernah berciuman lagi atau sekadar mengucapkan kata rindu. Semua hal yang telah menjadi rutinitas dan kebiasaan itu pun perlahan berhenti dan tenggelam dalam ketiadaan.

Aku mengerti. Kamu menjauh. Kembali menjadi versi dirimu yang tidak banyak bicara. Apakah kamu tidak ingin aku menjadi bagian dari ceritamu lagi?

Apa yang berubah?

Apa yang salah?

Sepanjang itu kamu pun tidak pernah memberitahukanku, memotong seluruh saluran komunikasi dalam tempo yang begitu panjang. Menyiksa. Kamu seperti merenggut sesuatu yang sudah terintegrasi dalam diriku. Dan sialnya, aku mengizinkan itu semua terjadi. Tanpa penolakan sedikit pun rasa sakit itu bertengger nyaman cukup lama sampai sebuah pesan darimu datang ke handphoneku. Singkat namun cukup untuk memutarbalikkan duniaku.

Kamu akhirnya memutuskan untuk meninggalkanku.

Lewat sebuah pesan singkat tanpa penjelasan apa pun yang menyertainya. Tanpa ada kata maaf basa-basi yang mempermanis perpisahan ini. Tidak. Kamu hanya bilang; Aku rasa kita tidak cocok lagi. Kita putus ya.

Terlambat. Mengapa ini semua terjadi saat semua hal tentangmu terlanjur tertata begitu rapi dan lengkap dalam khayalanku. Saat aku sudah mengetahui jawaban yang harus aku berikan padamu saat kamu mengucapkan “aku akan merindukanmu”.

Aku sudah memikirkannya dengan begitu dalam. Membayangkan akan membuat setiap perpisahan kita sebelum ke kampus lebih melankolik dan romantis.

Tiap kali kamu mengatakan: “Aku akan merindukanmu”, maka dengan bangga aku akan menjawabnya dengan, “aku tahu”.

Persis seperti yang diucapkan Hans Solo pada Puteri Leia di film Star Wars.

Sayangnya itu semua tidak sempat terjadi.

Sepuluh tahun sudah, apa kabar dirimu sekarang? Masihkah kamu menyimpan memori ini juga?

Advertisements

Cerita di Akhir Bulan

Belanja bulanan adalah satu dari banyak aktivitas rutin yang dilakukan untuk mengisi ulang persediaan makanan, kebutuhan kamar mandi, atau terkadang masa lalu yang tak sengaja terbeli.

“Menurutmu sudah berapa banyak mie instan ya yang aku beli sepanjang hidupku?”

Aku mencoba menghitung, I mean, dengan serius. Membuka kalkulator lalu menghitung ada berapa minggu dalam dua puluh delapan tahun. Kemudian aku kalikan dua (karena sejak kecil aku diharuskan hanya boleh makan mie instan di akhir pekan saja). Hasilnya dua ribu sembilan ratus dua puluh. Jika dikarduskan, aku sudah mengonsumsi tujuh puluh tiga karton mie instan.

“Lalu, sudah berapa tahun, bulan, minggu, hari, menit, dan detik sejak kita memutuskan untuk tidak bertemu satu sama lain dan sepakat untuk memutus semua dorongan yang membuat kita berada dalam kondisi seperti ini? Berada dalam satu ruangan, berbagi udara dan oksigen yang sama, dan akhirnya berbicara juga melemparkan pertanyaan satu sama lain?”

Dan kamu menggelengkan kepalamu sembari menyembunyikan tawa kecil dari mukamu. Aku tidak kuat untuk tidak ikut tertawa denganmu.

“Apa yang lucu?” tanyamu bingung.

“Karena kamu ketawa duluan.”

“Kamu pasti sangat merindukanku,” godamu.

“Pede. Aku sudah punya pacar tau.”

Bohong. Kamu tau kan aku hanya tidak ingin membuatmu merasa terlalu menang dengan segala yang terjadi di antara kita berdua.

Kamu yang menikah dan aku yang masih single. Tentu saja kamu merasa kamu yang jadi pemenang di antara kita berdua. You wish!

Terkadang aku mempertanyakan alasan mengapa kita bertemu lagi seperti sekarang. Di waktu yang sebenarnya tidak terlalu tepat untuk masing-masing di antara kita.

Kamu yang sudah bersama istrimu dan aku dengan kehidupanku yang masih belum bisa melupakanmu dan memori-memori di dalamnya. Yeah, I know aku yang kalah.

Tapi bukan berarti dengan semena-mena semesta berhak memberikanku pemandangan bahagia milikmu ini.

Dengan senyum paling lebar yang pernah aku lihat dari wajahmu, kamu begitu tergila-gila dengan perempuan ini. Perempuan kecil botak yang berlari ke arahmu. Lalu kamu pun melemparkan tatapan teduh dari kedua mata coklatmu yang dulu pernah menjadi hal yang bisa membuat hatiku berdegub tak karuan.

Perempuan kecil botak itu memanggilmu papah dan memeluk kakimu erat-erat.

Kamu mengangkat tubuhnya dengan riang, menciuminya tiada henti dan memeluknya dalam-dalam seakan tidak boleh ada siapa pun yang menyakitinya. Seolah angin pun dapat membuatnya terluka.

Semua gerakan itu seperti sebuah gerakan lambat dimataku. Begitu bahagia, begitu asing, and honestly it hurts me a lil bit.

Sialnya aku berada di tengah-tengah semuanya.

Umur putrimu hampir tiga tahun dan dia sudah bisa calistung. Kamu ucapkan itu semua dengan penuh cinta dan bangga khas seorang Ayah.

Rasa-rasanya itu wajar, duniamu berputar begitu sempurna. Kamu menikah, memiliki anak, dan kamu berbelanja bulanan seperti aktivitas manusia normal lainnya.

Sedang duniaku, entahlah. Aku sepertinya sudah tidak mengenal duniaku lagi. Aku hanya meneruskan hidup dan menunda kematian datang.

“Ini Tante Mel, teman Papa waktu kuliah dulu.”

I supposed to be your mother I guess, secara teknis jika kami masih berpacaran dan tidak ada satu perempuan gila yang terlalu terobsesi dengan masa depan, which is perempuan gila itu adalah aku, mungkin aku yang akan melahirkan anak untuknya. Mungkin, yeah mungkin.

Perempuan kecil botak itu tersenyum padaku, kemudian menempelkan jari-jari basahnya di rambutku yang telah lurus sempurna karena perawatan sepuluh step yang dianjurkan penata rambut langgananku. Lalu DIBASAHI BEGITU SAJA DENGAN LUDAH YANG CUMA TUHAN YANG TAU ANAK BOTAK ITU MAKAN APA SAJA.

Lalu aku hanya balik tersenyum, membuat suasana untuk tetap cair dan semoga saja kita akan tetap berbincang seperti ini.

“Di mana ibunya?”

Itu loh… perempuan jahat yang telah merebutmu dariku dan terakhir aku cek di Facebook, yang mana empat jam lalu, bahwa dia hanya perempuan biasa-biasa saja yang tidak pernah menonton Game of Thrones dan tidak mendengarkan Beatles sama sekali. Oh please.. siapa yang tidak suka Beatles?

“Dia sedang berbelanja daging dan ikan untuk pesta ulang tahun Mamah.”

“Oh iya hari ini adalah ulang tahun Mamahmu. Titipkan salam dariku. Aku merindukan sambal kentang goreng ati buatannya.”

“Ia masih menanyakanmu sesekali.”

“Ya sudah lama sekali. Lama sekali.”

“Terakhir puasa tahun dua ribu dua belas bukan? Saat kamu membantu Mamah membuat kue-kue lebaran yang entah dari mana kamu begitu jago. Kamu masih suka masak?”

“Kadang-kadang, jika lapar dan tidak punya cukup uang untuk makan di restoran.”

Kamu kembali tertawa, kini dengan tulus. Seperti dua orang yang dulu pernah dekat kemudian terpisah karena ada perang padri panjang dan akhirnya bertemu lagi di sebuah toko swalayan.

“Kamu mau menggendongnya sebentar? Makin lama ia makin berat.”

Entah kenapa aku patuh dan begitu saja langsung menggendongnya.

“Siapa namamu?”

“Melaney. Mel.. Melaney. Mel..” jawabnya berulang-ulang dengan suara kecil seraknya.

Aku menatapmu buru-buru dengan perasaan tidak karuan.

“You named your daughter by my name?” tanyaku tergugup-gugup.

Kamu tidak menjawabku. Kamu hanya diam dan menatapku begitu dalam dengan kedua mata coklatmu. Persis seperti pertemuan terakhir kita.

Tiga tahun lalu kamu menyempatkan mengirim pesan pribadi padaku, menanyakan kabar, meminta bertemu. Kamu ingin bercerita.

Sayangnya pesan itu terlalu menyesakkan, aku tak kuat bertemu denganmu. Aku memilih diam tidak menggubrisnya.

Siapa pula yang mau mendengar rencana menikah mantan kekasih yang diam-diam masih kamu cintai.

Namun kamu terus memaksa dan kita pun bertemu. Kamu begitu berubah, begitu asing, namun ciumanmu tidak. Masih dengan basah dan gerakan yang aku hafal betul.

Kamu mendorongku, meraba seluruh tubuhku, mengacak-ngacak rambutku. Kamu jilati seluruh tubuhku seakan aku es krim yang hampir hancur meleleh, tidak boleh ada satu senti pun yang lepas dari jeratanmu.

Aku mendesah nikmat, tidak ada satu pun di antara kita yang meminta ini berhenti. Dan itulah bagaimana aku mengingat bagaimana kita bertemu terakhir kali.

“Dari mana saja sih kalian berdua, Mamah cari-cari dari tadi.”

Layaknya sinetron murah di televisi, semua pertemuan spekta ini pun ditutup dengan kedatangan istrimu yang berjilbab dan begitu cantik. Perempuan yang dulu pernah terfikir untuk aku santet dan teluh lewat penyakit kulit.

“Kok digendong bukan sama Papah sih, Mel.”

Sambil tersenyum aku menyerahkan anak kalian pada perempuan itu.

Memori memang bukan kawan yang baik. Ia tidak membantu untuk meredakan dahaga, malahan membuatnya semakin subur. Dan kehadiranmu lengkap dengan semua kehidupanmu yang begitu nyata membuat dahaga itu menjadi racun yang menghentak terlalu keras.

Aku tidak sanggup. Aku harus pergi.

Detik kemudian aku hanya tersenyum sambil lalu dan menjauh tanpa mengucapkan apa pun. Meninggalkan keluarga bahagia itu. Meninggalkanmu sekali lagi.

Aku kembali pada troli belanjaanku, mengambil satu dua botol bir yang aku rasa perlu untuk malam ini. Menyerobot beberapa antrian Ibu-Ibu yang hanya meninggalkan troli penuhnya dan masih berkeliaran dibeberapa diskonan yang hanya berbeda seratus dua ratus rupiah saja.

Kamu sudah tampak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya aku akan berdiri saja mengantri di kasir yang paling penuh seperti manusia normal lainnya di tempat ini lalu pulang sambil menangis dan mabuk. Agar esok pagi tidak ada penyeselan yang tertimbun rapat pada sebuah kesepian seperti manusia normal lainnya yang baru saja bertemu mantan kekasihnya yang ternyata menamai anaknya seperti namamu.

Betapa klise hidup ini.

https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTYfrom: https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTY

Mendengarkan Naif Lewat Sepasang Headset Butut

Kadang ada Naif di sana, entah itu dalam bentuk perasaan atau hanya sebuah lagu dari band bernama sama.

https://unsplash.com/photos/n-N38MTOaoI

Hampir sewindu yang lalu di suatu hari Minggu kita berdua pernah hidup dalam salah satu semesta lagu Naif.

Masih ingatkah kamu saat kita pergi berkeliling Jakarta menggunakan motor abu-abumu, menelusuri satu demi satu jalanan yang baru pertama kali kita lewati?

Tidak ada yang lebih menakutkan daripada melihat satu dua orang Polisi yang berdiri di pinggir-pinggir jalan. Seolah mereka macam Serigala yang mengintip pelan-pelan mangsanya dan bersiap-siap menerkam saat mendeteksi satu kesalahan yang bisa membuat motor kita berhenti berfungsi lewat hentakan jari mereka saja.

Sakti!

Dan ketika berhasil melewati Polisi-Polisi itu, kita berdua akan tertawa kelewat bahagia. Namun tak lama tawa itu berubah pasi saat menyadari bahwa kita masih tolol akan arah jalan.

“Seharusnya kita tanya Polisinya saja sekalian ya?” tanyanya.

“Tapi nanti kalau kita ditangkap bagaimana?”

“Memang kita salah apa sih sampai Polisi mau menangkap kita?” tanyanya kritis.

“Enggak tau, bukannya memang peraturannya biasanya seperti itu ya? Hindari polisi apa pun yang terjadi?”

Dan kamu pun tertawa, menertawakan kebodohan yang hanya kita berdua yang mengerti.

Kamu melanjutkan perjalanan, mengira-ngira apakah benar saat mengambil arah ke Tanah Abang motor ini bisa berakhir di Menteng.

“Seharusnya tadi kita naik busway saja.”

“Tidak. Aku lebih suka seperti ini. Lebih dekat dengamu. Menciumi baumu. Memelukmu tanpa terhalang apa pun.”

Tak ada respon darimu.  Dan kita meneruskan perjalanan dalam diam.

Dengan menebak-nebak belok kanan atau kiri dan menghabiskan waktu bertanya-tanya dengan orang-orang yang sejatinya juga tidak mengetahui arah jalan. Akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke tempat terdekat dengan spesifikasi bisa memakirkan motor dan menjual minuman barang satu atau dua gelas air dingin.

Dan Taman Suropati pun menjadi pilihan.

Rasanya masih sedikit aneh saat aku bisa menyentuhmu. Memegang kulitmu lama-lama dan mengacak-ngacak rambut panjangmu. Bahkan kacamatamu tampak begitu nyata.

Kamu hanya tersenyum kecil.

Kamu benar-benar tidak tahu betapa berarti ini semua untukku. Ini adalah saat kita bertemu dan menyatu dengan kosmik yang ada. Gambaran empat dimensi yang dulu hanya ada di khayalan terliarku.

Dan rasanya menyenangkan saat diri kita tak lagi terpisahkan koneksi internet yang sering kali lelet dan memotong pembicaraan-pembicaran bodoh kita namun aku suka.

Juga rasanya begitu hebat ketika jarak ratusan kilometer kini hanya terpaut nafas. Sedekat itu.

Rasa-rasanyanya aku ingin membungkusmu, menguncinya dengan gembok merk American Tool yang katanya tidak akan terbuka meski dicairi dengan larutan kimia sekalipun. Aku harap gembok itu bisa menahanmu, dan kamu tak perlu pergi lagi.

Sederhananya, aku ingin memilikimu. Hanya untukku. Egoiskah?

“Aku begitu bahagia hingga aku merasa takut” ucapku lirih.

“Kenapa?” mukamu tampak bingung.

“Aku takut ini semua akan cepat berakhir. Jakarta, matahari, kamu.”

“Kalau begitu kristalkan saja.”

“Bagaimana caranya?”

Ia pun mengeluarkan headset dari dalam tasnya lalu menyodorkannya padaku, kemudian memberi tanda untuk aku segera memakainya.

Detik kemudian lagu itu pun terputar. Lagu yang nantinya selama delapan tahun ke depan akan selalu mengingatkannya padamu.

Satu buah lagu dari Band Naif yang menjadi pertanda soundtrack kami berdua hari ini.

Aku sedang berjalan, menyusuri relung di hatimu
Aku sedang mencari, sesuatu di balik matamu
Yang mampu membuatku terpesona
Yang mampu membuatku terpesona

“Ini lebih baik dari apa pun.”

Dan kita berdua pun tersenyum malu-malu satu sama lain. Membahasakan sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa namun yakin ini terasa nyaman dan adiktif, membuatku merasa dimiliki dan diinginkan.

“Setiap kamu kali kamu mau sebagian dari diriku hadir dekatmu, kamu tinggal putar lagu ini.”

“Andai semudah itu.”

“Biarkanlah jadi semudah itu.”

Lagu itu pun terus berputar, menjadi empat menit paling magis yang pernah ada. Dalam sekonnya ia menjerat segala hal yang ada di sekitarnya. Dengan cekatan tiap nada dan liukan suara David Naif merangkaimu pada momen ini. Membentukmu pada memori kolektif yang seperti harapanmu. Lagu ini akan selalu menjadi bagian akan dirimu dalam perspektifku.

Apakah dirimu yang mampu membuat hatiku terpanah asmara
dan kuyakin itulah cinta….

Kepalaku bersandar pasrah di pundakmu, membuatku dapat melihat jelas senti demi senti kulitmu yang begitu indah. Raut senyummu pun begitu dekat. Menyapa tanpa bersuara dan memeluk tanpa menyentuh.

“Andai setiap awal tidak perlu ada akhir,” cetusku.

“Kamu tau itu tidak mungkin. Terlebih pada kita.”

“Seharusnya bisa,” kataku kesal.

“Dan jika iya, semuanya tidak akan semenyenangkan ini. Menyelinap lewati waktu yang kita bahkan terlalu pelit untuk mengakhirinya. Namun bukankah semuanya membuat ini jadi jauh lebih bermakna? Satu detik bersamamu menjadikan aurora warna warni di langit terlihat seperti gulali hitam putih,” katamu coba menghibur.

“Andai semudah itu.”

“Maka biarkanlah jadi semudah itu. Aku mohon, untuk hari ini.”

Aku pun terpaksa mengiyakannya. Melegitimasi semua kebodohan ini. Memberikan ruang sekali lagi untuk melepasmu.

Karena tidak lama, matahari pun berganti warna. Gelap, tanpa spektrum oranyenya. Hanya tersisa pekat yang dingin.

Kamu pun pergi, menjemput dirinya di tempat lain yang sudah menunggumu. Menyudahi hari ini yang bahkan belum genap malam. Dan aku kembali menjadi rahasiamu. Menjadi bayangan dalam ketiadaan.

Sesekali aku pergi ke sana. Pada potongan memori usang yang berputar acak tiap kali lagu itu berputar seperti hari ini.

Setia pada ritrus. Aku menatap pada satu pasang headset yang kamu berikan dan satu lagu yang sengaja kamu tinggalkan.

Delapan tahun sudah. Kamu kini sudah tak lagi bersama dengannya. Pun denganku.

Kita berdua bak dongeng yang muskil akan kebenarannya. Ragu-ragu dengan semua deretan cerita di atas. Atau ini hanya rancu belaka?

Aku pun tak berniat untuk bertanya, masihkah kita mendengarkan lagu yang sama. Basi.

Jika pun iya, akankah semua ini masih relevan? Karena satu buah lagu tidak akan cukup untuk itu.

Hasrat

Dalam derap langkah yang berat kamu dapat mendengar ketergesa-gesaannya. Ini ketujuh kalinya ia melarikan diri saat kamu berpapasan dengannya.

“Apa yang salah?” tanyamu bingung.

Kali ini kamu tidak ingin kehilangannya. Kamu pun mengejarnya, membuntutinya dari belakang. Untungnya langkahnya tak lebih cepat darimu. Kini kamu sejajar dengannya. Dalam posisi koordinat yang sama. Detik kemudian kamu berlari lebih cepat dan menghadang dirinya dari depan.

Terkejut, badannya menabrak dirimu keras. Kalian berdua pun terjatuh, mengaduh sakit. Namun ini layak untuk dilakukan. Pikirmu.

“Lakukan sekarang!” perintahmu.

Dirinya masih terkejang kaget. Namun kamu tidak mau mendengar alasan apa pun. Kamu pereteli kancing bajunya dengan kasar, beberapa sampai terlepas. Dengan tergesa-gesa dalam satu kali usaha kamu sudah dapat membuka celananya, kini ia telanjang bebas. Kamu dapat melihat satu benda padat keras di tengah-tengah selangkangannya.

“Ini kan yang kamu mau?”

Kamu melepas celana dalammu. Membasahinya dengan ludah dari mulutmu. Menggeseknya di kemaluanmu.

Kamu mengerang nikmat saat merasakan jemarimu dengan pelan meraba kelaminmu, memberikan kenikmatan yang tak terperi.

Kamu menguasai dirimu kembali, menarik gumpalan tumpul macam belalai lemas. Kini kamu paksakan masuk ke dalam lubang milikmu. Kamu mengerang sakit. Namun ini jenis sakit yang memberikan nikmat. Sakit yang berujung nikmat adalah sesuatu yang akan membuat candu, adiktif pada tiap gerakannya.

Kamu hamburkan badanmu ke dirinya, menyuruhnya untuk memegang pinggangmu dan kamu bergoyang di atasnya. Cepat… pelan.. Cepat.. Pelan.. Cepat, cepat dan kamu tidak berhenti. Dalam beberapa menit kamu memberikan tarian penuh bertenaga. Kamu kempit semuanya hingga ia berteriak linu, badannya pun lemas terkulai tak berdaya. Kalah dalam kenikmatan.

Di akhir gerakan kamu juga mengejang penuh nikmat saat ia menghentakan pinggangnya ke tubuhmu. Seakan dirimu ditusuk dengan begitu dalam. Kamu dapat merasakan cairan lengket itu menempel di rongga kemaluanmu. Kamu biarkan sejenak, karena kamu tahu itu adalah kesia-siaan.

“Tak usah khawatir. Aku mandul,” ucapmu cepat. Lalu kamu membersihkan badanmu dari serpihan-serpihan tanah yang kotor. Sekotor apa yang terjadi beberapa menit lalu dengannya.

Lelaki berantakan itu pun tidak susah payah untuk merapihkan dirinya. Karena memang ia orang gila yang biasa berjalan tanpa arah. Dan malam tadi ia merasakan kegilaan yang melebihi semuanya.

Kegilaan itu bernama hasrat. Dan semua orang tahu, tidak ada satu orang pun yang mampu menahannya.

88419cb6b019dbd8082b3293bbd7bcabsource pic : https://id.pinterest.com/pin/234116880604884987/

Cerita Bogor

Sore tadi gue berkunjung ke Bogor. Entah untuk apa. Tidak ada urgensi berlebih yang mengharuskan gue untuk bergerak ke arah sana. Tapi saat itu kekosongan hidup membuat yang random terasa wajar. Dan pergi ke Bogor menjadi sesuatu yang masuk akal. Meski itu hanya untuk berputar-putar dari Warung Jambu ke Taman Kencana, dan dengan sengaja menyasarkan diri ke daerah belakang PMI.

Semua perjalanan itu, melewati jalan-jalan yang kini telah berubah, Bogor terasa menjadi kota lama yang berusaha memiliki wajah baru yang metropolitan. Sesuatu yang mungkin dua belas tahun lalu tidak pernah gue pikirkan sebelumnya.

Namun meskipun ada perubahan di sana sini, Bogor masih hijau, langitnya masih berwarna oranye, dan kesegaran udaranya masih enak untuk dihirup.

Dan ternyata kenangan itu masih hadir. Entah secara tiba-tiba, atau memang sengaja gue cari-cari.

Menyedihkan, setelah selama ini, dua belas tahun, dan gue masih berharap akan bertemu dengan elo di suatu tempat di sudut Bogor nantinya. Dan semua berjalan dengan kasual, menyadarkan kekosongan selama puluhan tahun itu di antara kita berdua adalah sebuah kesalahan.

Nantinya elo pun menyesal kemudian meminta pertemuan berikutnya dengan lebih terencana. Dan keesokan harinya kita akan berada pada sebuah kafe baru di sebuah rooftop gedung dengan pemandangan yang menghadap ke arah Gunung Salak. Membicarakan yang terlewat, sesekali berpegangan tangan, dan menertawai kepingan-kepingan masa lalu.

Bodohnya, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi.

Dan juga entah mengapa, apa dasar dan alasannya gue berharap itu terjadi lagi.

Mungkin ini karena Bogor dengan kekuatannya yang selalu akan menggerakan seluruh memori dan kenangan sialan itu dan menyisipkannya ke kepala gue.

Atau memang rindu itu masih ada dan terlalu takut untuk muncul.

I really don’t know.

Namun sore tadi langit Bogor berwarna oranye dan seperti yang gue jelaskan tadi, jalan-jalannya masih menyimpan senyum dan tawa yang dulu pernah elo bagi ke gue. Saat elo membawa motor dan gue dibelakang membonceng sambil tertawa girang bisa berada sedekat itu dengan elo.

Semua kenangan dan perasaan itu menggema dengan sembarangnya dan meninggalkan kehampaan yang sialnya lebih dalam dari sebelumnya.

Satu jam sudah gue dan motor ini berputar-putar diiringi beberapa lagu dari album terbaru Frank Ocean, gue sudah berusaha keras untuk menangis namun tak kunjung banjir air mata. Setetes pun tak hadir, hanya hampa yang membolongi perasaan bahagia titik demi titik. Seperti dementor dan ciuman mematikannya.

Gue memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Membawa kehampaan dari Bogor yang semoga nantinya menjelma menjadi kehambaran yang membeku. Dan berniat dengan kocokan gerakan tangan di kelamin dan semburan setelahnya, akan menghilangkan itu semua.

Semoga.