Cerita Bogor

Sore tadi gue berkunjung ke Bogor. Entah untuk apa. Tidak ada urgensi berlebih yang mengharuskan gue untuk bergerak ke arah sana. Tapi saat itu kekosongan hidup membuat yang random terasa wajar. Dan pergi ke Bogor menjadi sesuatu yang masuk akal. Meski itu hanya untuk berputar-putar dari Warung Jambu ke Taman Kencana, dan dengan sengaja menyasarkan diri ke daerah belakang PMI.

Semua perjalanan itu, melewati jalan-jalan yang kini telah berubah, Bogor terasa menjadi kota lama yang berusaha memiliki wajah baru yang metropolitan. Sesuatu yang mungkin dua belas tahun lalu tidak pernah gue pikirkan sebelumnya.

Namun meskipun ada perubahan di sana sini, Bogor masih hijau, langitnya masih berwarna oranye, dan kesegaran udaranya masih enak untuk dihirup.

Dan ternyata kenangan itu masih hadir. Entah secara tiba-tiba, atau memang sengaja gue cari-cari.

Menyedihkan, setelah selama ini, dua belas tahun, dan gue masih berharap akan bertemu dengan elo di suatu tempat di sudut Bogor nantinya. Dan semua berjalan dengan kasual, menyadarkan kekosongan selama puluhan tahun itu di antara kita berdua adalah sebuah kesalahan.

Nantinya elo pun menyesal kemudian meminta pertemuan berikutnya dengan lebih terencana. Dan keesokan harinya kita akan berada pada sebuah kafe baru di sebuah rooftop gedung dengan pemandangan yang menghadap ke arah Gunung Salak. Membicarakan yang terlewat, sesekali berpegangan tangan, dan menertawai kepingan-kepingan masa lalu.

Bodohnya, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi.

Dan juga entah mengapa, apa dasar dan alasannya gue berharap itu terjadi lagi.

Mungkin ini karena Bogor dengan kekuatannya yang selalu akan menggerakan seluruh memori dan kenangan sialan itu dan menyisipkannya ke kepala gue.

Atau memang rindu itu masih ada dan terlalu takut untuk muncul.

I really don’t know.

Namun sore tadi langit Bogor berwarna oranye dan seperti yang gue jelaskan tadi, jalan-jalannya masih menyimpan senyum dan tawa yang dulu pernah elo bagi ke gue. Saat elo membawa motor dan gue dibelakang membonceng sambil tertawa girang bisa berada sedekat itu dengan elo.

Semua kenangan dan perasaan itu menggema dengan sembarangnya dan meninggalkan kehampaan yang sialnya lebih dalam dari sebelumnya.

Satu jam sudah gue dan motor ini berputar-putar diiringi beberapa lagu dari album terbaru Frank Ocean, gue sudah berusaha keras untuk menangis namun tak kunjung banjir air mata. Setetes pun tak hadir, hanya hampa yang membolongi perasaan bahagia titik demi titik. Seperti dementor dan ciuman mematikannya.

Gue memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Membawa kehampaan dari Bogor yang semoga nantinya menjelma menjadi kehambaran yang membeku. Dan berniat dengan kocokan gerakan tangan di kelamin dan semburan setelahnya, akan menghilangkan itu semua.

Semoga.

 

 

Sepotong Jakarta Sore Itu

Mungkin banyak dari warga Jakarta yang sedang merayakan indahnya sore Jakarta dengan meng-unggah foto-foto Jakarta di kala sore. Dengan semburat oranye di langit dan pendar cahaya terang menimpa gedung-gedung pencakar langit membentuk siluet menjulang.

Indah. Tenang. Dan kesemuanya menimbulkan perasaan baik-baik saja.

Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan hari ini, bahwa waktu terlalu sayang dibuang hanya untuk sekadar bermuram pada kesedihan.

Saya suka Jakarta dan semilir anginnya di sore hari.

Jakarta yang menunjukkan kehangatan kota besarnya, dapat saya maknai dan rasakan dalam diam. Menatap ke seluruh penjuru depan kantor yang berisi lalu lalang kendaran dan orang-orang yang bergegas pulang. Rutinitas yang beberapa jam lagi akan saya lakukan, dan mungkin akan ada satu orang nanti yang juga mengamati sama seperti saya.

Karena Jakarta akan selalu seperti itu.

Terkadang ia memiliki sifatnya yang menyebalkan, dengan macet, cuaca buruknya dan harganya yang mahal. Namun tak ayal, ia dapat membuat siapa pun di dalamnya tersipu malu atau bahkan tersenyum girang.

Romantisme dalam tiap tapaknya dapat ditemukan lewat bisikan-bisikan yang tersimpan rapat oleh kenangan atau rahasia-rahasia yang dalam-dalam coba disembunyikan.

Semua terukir di Jakarta.

Bahkan untuk warna ungu dilangit yang seperti karamel manis, yang dulu kau bagi dengan si dia yang menciummu dan mengucapkan manisan kata-kata cinta. Kamu bahagia. Meski sekarang si dia dengan yang lain.

Tapi manisnya tetap kamu simpan, dan itu sesekali cukup untuk dibagi saat Jakarta secantik sore ini. Meski hanya sendiri. Karena Jakarta cukup luas untuk kamu sendiri.

Dan semua tidak akan pernah berubah. Kamu tetap secantik dulu seperti saat dia puja siang dan malam.

Dan ini sepontong senja Jakarta untuk kamu nikmati.

13403967_10210241655664692_8173178584319072795_o

 

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

Pulang

screen-shot-2016-12-11-at-2-13-05-am

Sepi bukan tamu yang baik. Ia tidak datang dengan permisi. Ia datang tiba-tiba, di Jumat malam disaat jalanan Jakarta macetnya bak neraka. Semua orang berlomba-lomba untuk mendatangi satu cafe, atau bar, atau hotel untuk berpeluh kesah dengan sahabat atau pasangan.

Tapi tidak bagi Sara. Hanya satu yang diinginkannya detik itu.

Pulang ke kosannya.

Ia sudah membayangkan tidur-tiduran di bawah AC, menikmati pedasnya empek-empek sendirian sambil menonton series maraton hingga pagi hari.

Sambil menunggu ojek online-nya datang, Sara bergabung dengan banyak karyawan lainnya di lobi bawah menanti sang driver untuk menjemput mereka.

Setidaknya kali ini ia tidak dikelilingi rasa sendiri yang menikam pelan di balik handphonenya yang kini sepi oleh pesan-pesan singkat yang dulu sering menanyakannya; kapan ia pulang, makan dimana nanti, atau hanya sekadar ucapan hati-hati di jalan. Pikir Sara.

Ia mulai gelisah dan perlahan menggigit ujung sedotan ditangannya. Kebiasaan tersebut akan refleks ia lakukan jika ia sedang takut, gelisah, maupun marah. Entah perasaan mana yang ia rasakan sekarang. Ia pun memutuskan untuk mematikan handphonenya. Namun sebelum ia sempat mencapai tombol power, ada sebuah panggilan masuk.

Dari ibu.

Sara mengangkat telfon tersebut dengan malas. Hal yang paling ia tidak suka dari Ibunya adalah ia tidak suka ditolak. Yang berarti jika detik ini si Ibu memintanya untuk ia bergegas naik taxi dan pulang ke rumah dan menjaga si adik yang dengan mati-matian ia coba hindari, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Ia harus langsung pulang. Sekarang. Sesegera mungkin. Konsep yang ia tidak suka selama beberapa tahun terakhir.

Ia membayangkan melewati macet yang teramat tidak masuk akal, ia menembus jalanan Sudirman menuju Rawamangun. Rumah lamanya.

Tempat yang dulu pernah ia sebut rumah.

Tempat pertama kali ia membawa pulang mantan pacarnya dan memperkenalkannya pada Ibu dan adiknya. Ia kembali teringat laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata malah berpacaran dengan adiknya.

Kembali ia menggerutu dan menggigit sedotannya.

Benci mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Sara terhadap adiknya Sena. Entahlah, jika ada kata yang tepat untuk menggambarkan kekesalan, perasaan kecewa, marah, tertipu, terkhianati berkumpul menjadi satu.

Sena.

Sena si cantik, Sena si berbadan lebih langsing dibanding dirinya, Sena yang selalu menarik dikalangan laki-laki. Sena, adiknya sendiri, yang dengan sengaja mengiyakan ajakan pacarnya untuk berpacaran. Kemudian menikah hanya dalam hitungan empat bulan.

Sedangkan saat bersamanya, ia butuh waktu setahun untuk si laki-laki brengsek itu mau datang ke rumah bertemu dengan orang tuanya.

Brengsek. Ucapnya kesal. Mungkin agak terlalu keras hingga beberapa orang menatapnya bingung.

‘Ada apa sih? Memang suaminya ke mana?’ tanya Sara kesal.

‘Tabrakan, Kak. Koma. Kamu ke rumah ya. Kasihan, sedang hamil pula. Mamah masih di rumah sakit ngurus bareng papah.’

Setelah kalimat itu usai, Sara mencoba mencernanya secara perlahan. Menit kemudian, driver ojek onlinenya datang, dan dia mengganti destinationnya ke arah Rawamangun.

Ketika sampai di depan gerbang rumahnya, si adik menyambutnya dengan tatapan sedang-apa-kau-disini? Mereka hanya bertatapan beberapa detik, kemudian Sara memilih masuk ke kamarnya. Tanpa menyapa Sena.

Ia menatap ke sekeliling ke kamar lamanya. Ia masih melihat foto-foto semasa ia remaja sampai kuliah. Beberapa buku yang dulu ia baca di pojok kamarnya sambil melihat keluar. Lalu sampailah ia pada tumpukan cd dan kaset usangnya. Masa di mana memutar kaset dan cd adalah cara umum untuk menikmati sebuah musik.

Ia tersenyum sendiri saat melihat label-label pada deretan cd dan kasetnya.

Seleksi sebelum berangkat sekolah. Seleksi minggu sore. Seleksi patah hati.

Tangannya pun menarik satu kaset dalam seleksi patah hati dan menaruhnya di dalam walkman di sampingnya. Ia masukkan baterai cadangan yang tercecer di kotak sebelahnya.

Awalnya agak tersedat sedikit, namun ia dapat mendengar alunan musik masuk ke kedua telinganya.

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best

Akumulasi patah hati dan kesendiriannya menggerakannya untuk menyanyikan lagu tersebut. Lebih tepatnya menjerit-jerit.

Entah dari mana datangnya, air mata membasahi seluruh wajahnya, dadanya terlalu sesak dengan memori masa lalu. Ia terus berteriak hingga ia lupa bahwa Sena telah berada di belakangnya. Mengamatinya sedari tadi ketika Sara mulai mengganti fungsi sisir menjadi mikrofon khayalannya.

Sara membalikkan badannya, kemudian ada jeda beberapa detik diantara mereka. Tanpa perhitungan yang pas ia bergegas menuju adiknya. Berhamburan memeluknya.

Tidak pernah ia seintim ini dengan Sena. Tidak pernah sekalipun ia memikirkan hal tersebut.

‘Saya takut ia meninggal, saya takut kamu sendirian. Sendirian itu enggak enak.’ Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil ia menangis sesegukan.

Sena terdiam. Beberapa detik tanpa reaksi. Sara terus melanjutkan tangisannya.

‘Maafkan saya. Untuk semuanya,’ ucap Sena pelan. Ia membelai rambut Sara dan membalas pelukan kakaknya.

Sara terus menangis, yang entah mengapa ia tidak bisa untuk menghentikannya.

‘Tenang. Kamu sudah di rumah,’

Pelukan itu semakin erat, kehangatan menjalar ke tubuh mereka berdua.

Mungkin ini yang Sara butuhkan. Mungkin ini yang Sena butuhkan.

Ditemani.

Malam ini.

Cukup.

Hanya itu.

Dan pelan-pelan perasaan kesepian itu pun berganti menjadi sedikit bernada.

And nobody does it better
Though sometimes I wish someone could
Nobody does it quite the way you do
Why’d you have to be so good?

THE MACCABEES

Hujan di Jakarta begitu mengerikan. Dengan petir dan awan hitamnya yang mengamuk, membuat semua orang ngeri untuk keluar. Bahkan tak ada anak kecil yang sudi bermain dengan lebat airnya. Dari balik kaca kantor, saya melihat buliran-buliran air yang tidak berhenti turun.

Cradle me

I’ll cradle you

I’ll win your heart with a woop-a-woo

Pulling shapes just for your eyes

Tiba-tiba dari Spotify, satu lagu yang dulu saya dengar tiap harinya berputar dengan santainya.

Dengan beberapa detik musik intro tersebut, berhasil membawa saya pada satu memori sekitar empat tahun silam. Satu keping cerita tentang saya dan D.

Kala itu hujan begitu lebat, kami sedang berada di hotel sekitaran Depok. Ada acara pernikahan dan saya mengajaknya untuk menjadi fotografer menemani saya. Saat acara selesai kami berdua pergi menuju ke satu kamar hotel yang sudah disediakan.

Lelah memotret seharian, kami memutuskan untuk langsung tidur. Saya yang tidak tidur semalaman tentu saja menjadikan momen ini sebagai pembalasan. Saya ingin tidur senyenyak-nyenyaknya sebelum check out jam sembilan malam nanti.

Lima belas menit berlalu, kami hanya menghabiskan waktu dalam diam. D akhirnya hanya bermain game di handphonenya. Dari samping saya mengamati wajahnya yang begitu serius, dia sedang melepas kaca matanya. Garis mukanya yang bundar dan hidungnya yang besar terlihat seperti tokoh di komik-komik. Lalu bulu matanya yang lentik membuat saya tidak bisa berhenti tersenyum.

Di mata saya, dia sempurna kala itu. Dia sempurna dengan ketidaksempurnaannya.

Dan saat itu, saya begitu jatuh cinta dengannya.

Kami yang akhirnya bersama dan tidak terpisahkan jarak delapan jam di kereta ekonomi tentu saja jadi kebahagiaan tersendiri buat saya.

Saya mendekat ke arahnya, menempelkan kepala saya di badannya. Saya menggapai wajahnya perlahan. Kami berciuman sesaat, dan ia pun melanjutkan permainanya kembali.

 Saya berbisik lirih padanya, ‘I hope it’s gonna last forever’.

 So with toothpaste kisses and lines

I’ll be yours and you’ll be

Lay with me, I’ll lay with you

We’ll do the things that lovers do

Put the stars in our eyes

Dia menaruh handphonenya, menatap mata saya dengan senyum jahilnya. Kemudian kami pun kembali berciuman. Kali ini lebih lama, mata kami terpejam, nafas kami bertaut menjadi satu. Saya masih ingat bagaimana wangi parfum lavendernya yang menelusuk ke hidung saya saat itu, meninggalkan jejak memori seperti sekarang. Setiap detail kulit kami yang bersentuhan, bagaimana rasa asam dan manis dari bibirnya, dan bunyi deras hujan dari luar menjadikan momen itu begitu intim. Dunia mengecil dan hanya menyisakan kami berdua.

Setelah selesai dia hanya berkata, ‘tidur saja sekarang, you haven’t sleep all day’.

Dan di tengah hujan yang deras, yang menjaganya untuk tidak pulang, dia berada tepat di jangkauan tangan saya. Saya masih ingat panas tubuhya yang menghangatkan, jugapelukan tangannya ditubuh saya.

 Semua masih begitu jelas, meski hingga saat ini.

 ‘Do you love me,’ tanya saya.

‘I’m afraid I don’t love you,’ jawabnya jahil.

‘Really? Please, please, please love me,’

Menyedihkan, kami berdua tertawa dengan alasan yang berbeda.

Mata saya tak kuasa menahan lebih lama lagi. Detik berikutnya saya akhirnya terlelap dengan damainya.

Beberapa jam kemudian, saya terbangun dengan suara pintu yang terbuka, dalam kondisi masih setengah kantuk, saya tidak tahu apa ini dalam mimpi atau betulan. Saya melihat D pergi, membawa semua barangnya, tak menyisakan apa pun.

Dalam kondisi setengah sadar, saya mengucapkan, ‘jangan pergi’, mungkin gaungnya begitu lirih hingga D tidak dapat mendengarnya.

Malamnya saya terbangun, melihat tidak ada siapa pun di kamar hotel tersebut. Tidak ada pesan selamat tinggal atau apa pun. Hanya kekosongan yang menganga dari dalam. Harum wangi lavender masih menempel di bantal di samping saya.Hujan yang deras di luar sana, dinginnya AC kamar, ditambah saya hanya seorang diri, mendadak menjadi serangan rasa sepi yang begitu dalam.

Ia pergi lagi. Hanya itu yang berputar di kepala saya. Saya mengulang kata tersebut dalam diam.

Saya akhirnya keluar dari kamar dengan pertanyaan yang tersisa, apakah D benar-benar mencintai saya?

And with heart shaped bruises

And late night kisses, divine

So with toothpaste kisses and lines

Stay with me, I’ll stay with you

Doin’ things that lovers do

What else to do?

Saya kembali ke masa sekarang. Di depan laptop yang berisi banyak list pekerjaan dengan deadline hari ini. Saya pun menyudahi throwback dengan D. Mengganti lagu di playlist Spotify saya. Tapi sayangnya hujan masih begitu deras meradang.

Saat hendak mengambil minum, terbesit pemikiran di benak saya, secuil pertanyaan, apakah yang terjadi saat itu; ciuman kami, canda kami, adalah nyata atau hanya terjadi dalam mimpi saya saja?

 Entahlah.

Cerita Secangkir Kopi Pagi Ini

Aku masih ingat secangkir kopi yang selalu kamu pesan, espresso tanpa gula, pahit dan pekat. Namun harumnya aku suka. Seperti wangi parfummu yang membekas di tubuhku sehabis kita saling bertukar ciuman selamat tidur.

Malam kemarin, ada yang berbeda saat tubuhku mencoba menggapai punggungmu, ada rasa hangat yang lebih di dalam dekapanmu. Kamu menggengamku semakin erat, seolah mengisyaratkan perpisahan.

Jika iya,

ini yang paling sunyi. Tak ada aksara terucap. Hanya tubuh yang melebur jadi satu.

Ada dorongan untuk bilang, jangan pergi, tapi mulut pun tak kuasa untuk bicara.

Alih-alih kamu malah menyebutkan nama belakangmu.

Ada kegelisahan dari gerak bibirmu, kekhawatiran kini menular ke dalam benakku.

Dengan ragu aku mengeja pelan nama belakangmu, yang ternyata milik orang lain. Rahasia yang tiap malam selalu kamu simpan dalam diam. Sembunyi di tiap desahmu.

Entah mengapa aku makin memelukmu erat. Memilih tak peduli. Kini hanya partikel udara yang menjadi jarak kita. Bukan lagi nama belakangmu.

Sakitkah? tanyamu.

Aku pura-pura tertidur saat mendengarnya.

Paginya, wangi parfummu tersisa di sela-sela kasur ini. Masih terasa bagaimana kamu pelan-pelan melepas pelukanmu.

Aku menyesap espresso di sisa cangkirmu, berusaha untuk menahan perasaan sesak itu.

Sayang, bersamamu tak pernah sepahit ini.

coffe