Ngenest: Becanda Yang Ada Isinya

Ngenest-Poster

Semua orang pasti sepakat bahwa Ernest Prakasa adalah seorang aktor yang baik. Dia selalu menyampaikan semua dialog dengan gerakan yang nyata. Gue akan percaya dengan setiap peran yang dia mainkan. Baik di Comic 8 sebagai seorang perampok gila atau perannya menjadi karyawan nyebelin di Sabtu Bersama Bapak. Semua dia mainkan dengan sangat flawless.

Lalu di akhir tahun 2015, Ernest muncul dengan film Ngenest, karya pertamanya sebagai seorang sutradara sekaligus aktor di dalamnya. Latar belakang Ernest sebagai stand up comedian yang satu geng dengan Raditya Dika membuat gue ragu dengan film ini. Karena jujur aja, gue enggak pernah  menikmati jokes jomblo Raditya Dika yang di abuse terus menerus. Maka gue memiliki ketakutan bahwa film ini tidak akan jauh berbeda ceritanya seperti film-film Raditya yang lain, yang kisahnya hanya berputar tentang derita jomblo dan sexism cewek pas masa pacaran. Seabsurd itu, kesannya enggak ada topik lain di dunia ini yang lebih penting dibanding jadi jomblo dan cewek yang enggak bisa satu frekuensi sama elo.

Tapi ternyata Ngenest hadir di luar ekspektasi, ia muncul sebagai film komedi yang renyah namun memiliki statement yang kuat. Ngenest menampilkan kisah menjadi minoritas di Indonesia. Dengan mostly karakter di filmnya adalah keturunan Cina.

Sesuatu yang bisa dibilang jarang ada di Indonesia, karena biasanya tokoh dan karakter Cina berhenti sebagai kokoh penjual barang klontong saja. Tapi di sini, sebagai film coming age, Ernest menawarkan kisah menarik dari betapa tidak enaknya menjadi etnis Cina di Indonesia. Bagi siapa saja yang menontonnya, baik itu pribumi atau memang peranakan Cina, pasti pernah bergesekan dengan isu ini. Suka tidak suka, beberapa tampilan adegan di film ini berusaha menyentil kita bahwa menjadi berbeda itu tidak enak dan tidak seharusnya diperparah dengan hinaan yang malah memperparah semuanya. Tenang, seperti yang gue bilang tadi, semuanya dibalut komedi.

Cerita di mulai dari masa pembulian Ernest dari bangku sekolah, ia dengan fisik yang berbeda dengan anak-anak lainnya membuatnya menjadi sasaran bully dan kolekan yang empuk. Lambat laun, muak dengan nasibnya, ia pun memiliki pikiran bahwa untuk memutus tali kesengsaraan minoritas ini adalah dengan memperbaiki keturunan. Yaitu dengan menikahi cewek pribumi.

Semua pun terwujud dengan Ernest menikahi Mei, cewek yang ia temui secara tidak sengaja di tempat les bahasa Cina saat ia kuliah di Bandung. Mei diperankan dengan sangat apik oleh Lala Karmela.

Lalu setelah satu jam berlalu, konflik cerita muncul dengan ketakutan Ernest jika nanti anaknya terlahir sebagai Cina juga. Turbulensi yang menggoyang semesta sempurna hidup Ernest. Dan film pun diakhiri dengan win win solution di mana Ernest memiliki anak perempuan Cina, namun dengan kondisi di mana ia sudah menerima fakta bahwa, it is okay to have anak sipit, asal dia selalu ada buat anaknya, dan enggak lari dari dia. Tamat.

Film berdurasi satu jam dua puluh delapan menit itu berhasil membuat gue penasaran akan nasib masing-masing karakter di film Ngenest. Akting semua karakternya pun enggak ganggu. Pas. Bahkan mereka dapat mendeliver jokes dengan timing yang tepat. Meski ada beberapa jokes yang hit and miss. Tapi ya, bikin film komedi emang susah kan, jadi gue manut aja.

Tapi yang sangat mengganggu buat gue adalah akan tempo narasi film ini. Karena selama satu jam awal, film terlalu banyak mengenalkan karakter, selain Ernest, semua orang tidak memiliki konflik yang berarti.

Fragmen demi fragmen Ernest pun berjalan terlalu mulus, yang padahal gue berharap akan ada ironi-ironi pahit yang dijalani karakter Ernest di film yang membuat karakternya tumbuh dan berubah. Dan kealfaan itu pun diperparah dengan munculnya konflik krusial di babak terakhir tentang kegamangan Ernest, yang seharusnya bisa diurai dan menimbulkan simpati, tapi sayangnya semuanya diselesaikan dengan terburu-buru selama dua puluh menit saja.

Lalu yang buat gue rolling eyes adalah peran side kick si Patrick, Ernest membuat konfliknya mengambang begitu saja. Padahal, sahabatnya mandul. Fucking mandul. Kalau di dunia nyata elo ngedenger tetangga elo ngaku mandul, elo pasti udah iba seibanya manusia. Lah, ini sahabat dari kecil gitu, bro for life, tapi si Ernest lempeng aja gitu responnya.

Don’t get me start dengan peran-peran pendukung lain, teman-teman Ernest di kantor dan kuliah pun, Ernest tidak berusaha untuk mengenalkannya. Mereka cuma kayak lalu lalang untuk hadir ngejokes tanpa penontonnya tahu fungsi mereka sebenarnya apa dalam cerita tersebut.

Dengan tempo dan dosis scene yang terlalu terburu-buru, membuat film Ngenest yang kuat di premis menjadi goyang di departemen ceritanya.

Padahal, jika diberikan ruang dan durasi yang lebih lama untuk menyampaikan kisah sentral tentang ketakutan Ernest memiliki keturunan Cina yang akan mengalami nasib yang sama dengannya. Gue rasa film Ngenest bisa jadi film komedi yang padat dan membekas. Tidak menggantung hampa seperti jokes penyanyi kawinan Koh Hengki yang membuat gue mengerenyitkan dahi.

Tapi over all, cerita di film Ngenest lebih solid dibanding kesemua film-film absurd Raditya Dika dijadi satu.

Advertisements

Ang Lee: Father Knows Best

Jadi berawal dari menonton film ini saya jadi penasaran dengan film-film lainnya dari Ang Lee. Yang baru saya tahu bahwa film Eat, Drink, Man, Woman (1994) adalah trilogi Father Know Bests-nya Ang Lee. Jadilah saya menonton ke dua film sebelumnya, yaitu: Pushing Hand (1992) dan The Wedding Banquet (1993).

pushing hand.jpg
Pushing Hand (1992)

Menonton film-film awal Ang Lee sebelum bertandang ke Hollywood merupakan sebuah pengalaman flash back romantis ke awal tahun sembilan puluhan dengan narator witty yang siap menyindir apa pun. And you will laugh with it. Either you are the one who get mocked or you just simply get amuse with it.

Ketiga film dalam Trilogi Father Knows Best milik Ang Lee memiliki beberapa elemen penting yang terus ada dan diputar berulang. Yaitu: hubungan orang tua dengan anak (terutama Ayah dengan anaknya), kontras akulturasi antara budaya barat dan timur, konsepsi seks di budaya timur dan pornonya penyajian makanan yang membuat siapa pun akan menelan ludah saat menonton ke tiga film tersebut.

Cerita-cerita dalam ketiga film Ang Lee berpusat pada benturan dan permasalahan dalam keluarga asia. Dengan cekatan ia sampaikan dengan visual dan adegan yang menontonnya akan merasa dekat dengan masalah tersebut.

Akar permasalahan kesemuanya sebenarnya bagi kebanyakan keluarga asia adalah tentang bagaimana anak berkomunikasi dengan orang tua terutama karakter Ayah yang memang dikenal sebagai sosok sentral dalam sebuah keluarga. Beranjak dewasa sosok Ayah tersebut berubah menjadi tokoh keramat yang setiap titahnya adalah kebenaran.

Dan itu menjadi hal yang coba Ang Lee advokasikan dalam filmnya. Tentang sejauh mana peran orang tua dalam kehidupan anaknya yang sudah dewasa. Apakah perbedaan demi perbedaan akan mengeliminasi makna keluarga yang pernah ada sebelumnya? Atau malah menguatkan?

Lalu lebih dalam lagi, dalam ketiga film tersebut, Ang Lee pun menyorot kegagapan budaya Barat dalam memproses pemahaman akan budaya Timur itu sendiri. Ada banyak momen-momen yang secara canggih Ang Lee argumentasikan dalam filmnya.

Seperti dalam film Pushing Hand, cerita yang berpusat tentang seorang Ayah pensiunan yang tinggal di Amerika yang harus beradapatasi dengan istri anaknya yang kebetulan seorang bule. Bule yang so typical banget, merasa superior dengan teknologi dan sistem yang mereka punya. Seolah dunia hanya berputar tentang dia saja. Sehingga tidak merasa perlu untuk tahu tentang background sang Ayah mertuanya.

Jika di keluarga Asia, semua anak dididik untuk menghormati kedua orang tuanya, dan merawat orang tuanya yang sudah sepuh sebagaimana mereka dulu merawat mereka di kala kecil dulu. A payback concept yang sepertinya tidak terintegrasi dalam otak si perempuan bule dalam film Pushing Hand. Dan konflik itu lah yang menjadi jalan cerita menarik dalam film Pushing Hand. Geger budaya beda negara yang tidak teruraikan dengan baik.

Lain lagi dengan film The Wedding Banquet (1993). Filmnya dibungkus dengan humor yang menggelitik namun tidak berlebihan. Film yang mengangkat tema gay ini menurut saya sangat maju di eranya. Konsepsi seksual yang tabu itu dibredel Ang Lee dengan jenaka dan terbuka.

Scene gay di film ini dibuat dengan sangat kasual dan tetap memanusiakan mereka. Mereka tidak menjadi alien yang memiliki sejuta perbedaan dengan yang ‘straight’. Di film The Wedding Banquet (1993) permasalahan adalah tentang takutnya si anak laki-laki yang gay untuk mengakui seksualitasnya dan akhirnya membuat pernikahaan palsu demi membuat orang tuanya tenang. Terlebih umurnya yang sudah tiga puluhan, karena di Asia menikah adalah sesuatu yang sangat wajib. Sayangnya, apa pun yang berangkat dari kebohongan tidak akan berjalan baik. Termasuk dalam film ini.

Si anak terjebak dengan kebohongannya dan akhirnya malah menjauh dengan pacar gaynya. Seolah orbit bergerak terlalu jauh dari substansi awal yaitu semua kebohongan ini dibuat untuk menyelamatkan hubungan mereka berdua, alih-alih malah membuat semuanya jadi kacau.

the-wedding-banquet-movie-poster-1993-1020243569

Yang lebih keren lagi di film The Wedding Banquet ini adalah tentang sikap kedua orang tua tentang menanggapi isu anaknya yang gay. Keabu-abuan itu masih sangat terasa, apalagi dalam scene melihat album pernikahan. Sikap sang ibu tetap menentang namun tidak berusaha untuk menyakiti perasaan anaknya sendiri.

Sedang sang Ayah, yang awalnya sangat ditakuti, malah jadi orang yang dengan legowo menerima itu semua. Yang bukannya memang seharus itu bukan?

Saya teringat puisi Anakmu Bukan Milikmu, Kahlil Gibran. Ada baitnya yang berbunyi

…Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak yang meluncur.

Dengan jelas Khalil mengungkapkan bahwa anak adalah tetap manusia, yang bebas memilih pilihannya, dan akan hidup di kakinya sendiri nanti. Maka biarkanlah ia meluncur bebas, menjadi apa pun yang ia mau.

Elemen terakhir adalah tentang makanan, jika di film Eat, Drink, Man, Woman (1994) makanan memang menjadi sentra cerita, di kedua film Pushing Hand dan The Wedding Banquet, makanan menjadi elemen cantik yang membuat penonton berdecak lapar. Kemewahan makanan Asia sangat andal Ang Lee tampilkan dengan bulir minyak daging bebek yang lezat dan dumpling yang so-oh-yummy to eat.

Kesemuanya menjadikan film Ang Lee sebagai representasi Asia yang modern dan moderat menjadi tidak berlebihan. Semuanya begitu canggih dan heartwarming di waktu bersamaan.

Jika Wong Kar Wai adalah seorang sutradara art house romantis paling keren di Asia, Asghar Farhadi dengan andalan drama psikologisnya yang mencekam, maka Ang Lee hadir sebagai narator canggih dengan narasi yang dalam akan kehidupan.

Tak lupa, ada satu lagi yang saya belajar dari film-film Ang Lee ini, lewat filosofi Tai Chi Ang Lee mengajarkan bahwa keseimbangan, betapapun sangat berbeda pada tiap elemennya dan begitu menganggu, sangatlah perlu dalam hidup.

Karena toh hidup memang tentang itu semua. Hasrat, tekanan, pelepasan, dan penerimaan. Dan kesemuanya akan berjalan beriringan dengan harmonis jika kita mengizinkannya.

Sepotong Jakarta Sore Itu

Mungkin banyak dari warga Jakarta yang sedang merayakan indahnya sore Jakarta dengan meng-unggah foto-foto Jakarta di kala sore. Dengan semburat oranye di langit dan pendar cahaya terang menimpa gedung-gedung pencakar langit membentuk siluet menjulang.

Indah. Tenang. Dan kesemuanya menimbulkan perasaan baik-baik saja.

Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan hari ini, bahwa waktu terlalu sayang dibuang hanya untuk sekadar bermuram pada kesedihan.

Saya suka Jakarta dan semilir anginnya di sore hari.

Jakarta yang menunjukkan kehangatan kota besarnya, dapat saya maknai dan rasakan dalam diam. Menatap ke seluruh penjuru depan kantor yang berisi lalu lalang kendaran dan orang-orang yang bergegas pulang. Rutinitas yang beberapa jam lagi akan saya lakukan, dan mungkin akan ada satu orang nanti yang juga mengamati sama seperti saya.

Karena Jakarta akan selalu seperti itu.

Terkadang ia memiliki sifatnya yang menyebalkan, dengan macet, cuaca buruknya dan harganya yang mahal. Namun tak ayal, ia dapat membuat siapa pun di dalamnya tersipu malu atau bahkan tersenyum girang.

Romantisme dalam tiap tapaknya dapat ditemukan lewat bisikan-bisikan yang tersimpan rapat oleh kenangan atau rahasia-rahasia yang dalam-dalam coba disembunyikan.

Semua terukir di Jakarta.

Bahkan untuk warna ungu dilangit yang seperti karamel manis, yang dulu kau bagi dengan si dia yang menciummu dan mengucapkan manisan kata-kata cinta. Kamu bahagia. Meski sekarang si dia dengan yang lain.

Tapi manisnya tetap kamu simpan, dan itu sesekali cukup untuk dibagi saat Jakarta secantik sore ini. Meski hanya sendiri. Karena Jakarta cukup luas untuk kamu sendiri.

Dan semua tidak akan pernah berubah. Kamu tetap secantik dulu seperti saat dia puja siang dan malam.

Dan ini sepontong senja Jakarta untuk kamu nikmati.

13403967_10210241655664692_8173178584319072795_o

 

Eat, Drink, Man, Woman: Kehangatan dan Kelezatan Kasih Sayang Ayah

eat-drink-man-woman_poster_goldposter_com_9-jpg0o_0l_400w_70q

Ang Lee memang tidak pernah sembarangan dalam membuat film. Terbukti film besutannya di tahun 1994 ini benar-benar menggambarkan dirinya sebagai pencerita ulung dengan simbol-simbol visual yang menggetarkan.

Eat, drink, man, woman adalah gambaran dasar seorang manusia. Kita semua lahir dengan naluri makan dan bercinta. Dan film ini mengangkat dua tema besar itu: Makanan dan Cinta.

Sepanjang film, dengan sabar Ang Lee menggambarkan kekakuan seorang Ayah dengan ketiga putrinya. Semua aksi-reaksinya ternarasikan lewat keheningan suara dan jarak kamera. Ditambah dengan kepiawaian gerakan dan emosi yang sangat luwes dibuat oleh para pemainnya membuat kita yang menyaksikan film ini seperti dibawa masuk ke dalam pintu rumah mereka dan seolah menyaksikan scene tiap scene-nya secara langsung.

Kegetiran masing-masing tokoh juga dengan tajam ditampilkan, seperti kecemasan ketiga anak perempuan yang hidup ‘rawan’ dengan standar sosial budaya Cina yang tidak jauh-jauh dari masalah perkawinan.

Dari sana drama percintaan masing-masing anak perempuan dikisahkan dengan mood yang berbeda-beda. Kontras mulai dari perawan tua, perempuan mandiri, dan cewek remaja yang memiliki alurnya sendiri namun tetap nyaman untuk diikuti.

Meskipun akhirnya toh masing-masing mendapatkan cinta. Yang untungnya bukan sekadar kebutuhan, namun pelengkap yang batin.

Makanan dalam film ini pun tidak serta merta sebagai pemanis visual atau tempelan di awal saja. Melainkan sebagai detail film dan begitu otentik. Di film ini makanan terkukuhkan sebagai kendaraan dan saluran komunikasi antar masing-masing karakter.

Sebagaimana makanan merupakan pembahasa emosi seorang Master Chef Chu yang kehilangan indra pengecapnya dengan orang disekitarnya. Makanan juga yang menjadi medium penengan dalam keringkuhan dirinya atas tiap-tiap pengumuman di tiap tradisi makan malam besar keluarga bersama ketiga putrinya setiap hari Minggu.

vlcsnap-dinner-girls

Yang terbaik, ironi dalam konflik di akhir film tidak saja membuat film ini menjadi sebuah romansa melankoli drama keluarga tok. Tetapi juga sebagai potret jujur dari kebanyakan hubungan Ayah dan anak yang membeku terhalang umur dan perbedaan di negara Asia kebanyakan. Tapi tetap kita tidak kehilangan rasa manisnya drama ini yang tak berlebihan.

Karena sejatinya dari film ini kita dapat melihat bahwa; tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayang seorang pria, seperti kasih sayang seorang Ayah pada putrinya.

Dan, seperti apa yang dikatakan Master Chef Chu: hidup bukanlah seperti memasak yang harus menunggu banyak hal datang. Namun yang terpenting adalah tentang rasa dari isi hidup itu sendiri.

Film ini menjadi film ‘makanan’ favorit saya sejauh ini. Saya rekomendasikan ditonton bersama Ayah atau putri Anda sambil menyantap bebek peking dan dimsum panas bersama-sama. Rasa-rasanya akan menyenangkan.

Tentang Satu Orang Asing di Kereta

Kala itu saya pernah berfikir bahwa manusia bergerak tiap harinya karena rasa takut.

Karena dengan rasa takut, seseorang ‘dipaksa’ untuk berusaha sebaik mungkin agar tidak tereliminasi dalam suatu sistem. Pekerjaan, komitmen, atau bahkan kehidupan.

Sehingga setiap harinya, manusia ditekan baik secara sadar maupun tidak untuk berkompetisi dengan yang lain.

Namun yang baru saya sadari, lambat laun karena semakin beratnya kompetisi itu, rasa takut tersebut kian lama menjelma menjadi sebuah ketakutan.

Perlu digaris bawahi bahwa rasa takut dan ketakutan adalah dua hal yang berbeda. Rasa takut pada dasarnya cenderung membuat orang menjadi lebih kreatif dan berfikir untuk membuat solusi. Sedangkan ketakutan, hanya akan menjadikan seseorang paranoid. Begitu jelas bahwa ketakutan dibangun berdasarkan ketidakpercayaan diri dan asumsi kosong belaka.

Itu yang menurut saya sangat berbahaya.

Blue Monday is a name given to a day in January (typically the third Monday of the month) reported to be the most depressing day of the year and January the worst month for suicides, it’s always good to talk but even better to listen. – @mssechan

 

Setiap harinya, percaya atau tidak, saya berangkat bekerja dengan perasaan ‘ketakutan’ itu. Bahwa saya tidak cukup baik dalam bekerja, bahwa saya tidak cukup pintar, bahwa saya selalu membuat kesalahan. Kemudian ditambah dengan pikiran, ‘kalau dipecat nanti cicilan bagaiamana’, ‘aduh, hutang kartu kredit belum lunas’, ‘nanti bayar internet bagaimana’. Semua pikiran negatif bergumul menjadi satu dan akhirnya menuntun saya pada suatu depresi yang bahkan saya tidak sadari sebelumnya.

Kebanyakan orang di Indonesia masih belum menyadari bahwa diri mereka sedang dilanda depresi. Yang mereka tahu, apa pun yang terjadi selama badan masih bisa bangun, mereka harus menyeret badan mereka menuju sistem yang bahkan dari awal mereka tahu mereka akan kalah. But they are keep doing it.

Termasuk saya.

Tiap harinya saya seperti orang tersesat yang kehilangan semangat dalam melakukan apa pun. Saya seperti hanya ingin tenggelam dalam kubangan perasaan kalah dan tidak ingin bangun lagi.

Berbulan-bulan saya menekan perasaan itu, dan keadaan tidak menjadi lebih baik.

Apa yang salah?

Depresi bukan sebatas rasa malas atau muram durja kesedihan yang seperti digampangkan orang-orang. Depresi layaknya penyakit lainnya. Ia menyerang seseorang dan membuat penderitanya lumpuh. Mungkin tidak terlalu kentara pada fisiknya. Namun jiwa kosong dan berbagai ketakutan itu menjadi bola salju yang mereka gopong tiap hari.

Dan satu senyuman dan ucapan terima kasih dari satu orang asing di kereta, terkadang membebaskan. Meskipun sebentar. Meskipun samar-samar. Namun kehangatannya tetap menempal sama.

2 AM Thought

When your mind speak louder and you cannot sleep then you become ‘sok filosofis’. #padahalbesokkerjapagi

Ada banyak momen di penguhujung tahun ini yang ngebuat gue agaknya seperti diam sejenak, lalu tertawa pahit. Men, I’m old.

Tahun 2017 ini gue akan berumur 27 tahun.

Angka keramat yang kalo di film 3 hari untuk selamanya, si Yusuf bilang adalah umur di mana seluruh semesta elo diobok-obok terus elo muntah dan diliatin deh tuh apa aja yg udah dilaluin sepanjang 27 tahun itu.

For some people pasti ada yg nyeletuk; ‘yaelah masih muda kali baru 27’ atau ‘sudah tua loh elo harus udah serius, nikah gih’.

Asli, bawaannya pengen gue toyor orang-orang macem gitu. Bukan hanya karena mereka sok tahu, mereka juga dengan enaknya mengenerelisasi hanya berdasarkan opini tunggal dari pengalaman mereka aja. Coy, ngane siapa berhak nentuin nasib orang?

For me, gue percaya hidup yang cuma sekali ini layak banget untuk diapresiasi. Untuk dijalankan to the fullest dan semoga berguna bagi orang lain.

Gue bangga sekaligus sedih dengan apa yg orang tua gue udah kasih ke gue. Mereka bekerja begitu keras agar anak-anaknya sekolah dan bisa makan layak. Tapi semua itu harus mereka bayar mahal dengan ngorbanin mimpi dan kebahagiaan mereka sendiri.

Mungkin orang tua gue tidak mengenal konsep YOLO seperti milenial sekarang. Orang tua gue berpedoman; biar susah sekarang tapi anak jangan sampai seperti mereka. Itu yang membuat mereka bangun tiap paginya meskipun badan mereka sudah ringsek karena capek kerja.

Ditambah lagi mereka juga harus memendam hasrat hidup mereka. Menertawakan mimpi lama mereka yg terasa tak masuk akal. Dan menjalani hari hanya untuk orang lain. Bukan diri mereka sendiri.

Apa yg mereka lakukan adalah hal yg mulia banget.

Tapi, sejujurnya gue enggak mau hidup seperti itu. Gue enggak mau hidup untuk orang lain.

I have a dream and I want to make it happen. Some people will call me selfish. Tapi buat gue, ini adalah alasan utama mengapa gue hidup. I want to make a change. Gue mau berkarya. Meskipun akan butuh waktu lama untuk sampai di titik sana. Tapi gue enggak akan menyerah.

Saat elo bilang gagasan itu semua ke khalayak umum. Yang elo dapet pasti cemooh dan terkadang penghakiman. Ini yang agaknya kurang gue suka dengan konsep sosial di masyarakat saat ini yg sangat memenjarakan hak privat seseorang dan tidak mendukung kesetaraan hak pribadi. I mean if they want to be “mentingin karir dibanding yg lain” just let them be. Enggak perlu usil dengan hal-hal yg memberatkan. Hidup orang udah susah. Kalo ga bisa bantu, minimal jangan bikin pusing.

Terlepas dari permasalahan sosial, masalah dalam hidup juga kerap kali muncul dalam diri sendiri. Dalam bentuk ego, nafsu konsumtif, rasa malas dan kekosongan diri.

Bagaimana mau berkomitmen, jika membuat bahagia diri sendiri saja enggak bisa.

Beratnya hidup di norma masyarakat, hausnya pengakuan dari orang lain, dan terjerat akan ego sendiri sepertinya masalah yang harus diputus di 2017 ini. Karena saat gue membuat projection keuangan selama setahun. Gue tertawa pilu. Melihat deretan angka yg harus dicari, dikeluarkan, disimpan. Gua takjub dengan kondisi bahwa angka-angka ini yang mewakili gue. Ini adalah track record atas pilihan-pilihan gue. Tenyata gue sendiri terjebak atas standar ini.

Ini salah siapa? Ya salah gue sendiri. Karena terlalu lama berkutat dengan definisi-defisini orang lain yang enggak sesuai dengan tujuan awal gue.

Dan gue ingin menyudahi itu semua. Gue ingin terlepas dari ego untuk terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Ingin tampil lebih di mata orang lain. Gue tidak mau lagi hidup atas dasar definisi itu. I don’t need to impress anyone anymore, or buying stuff that just to makes me feel belong to some click or something. Nope. I’m done with that.

Jika hidup diibaratkan seperti traveling. Elo semua bisa liat, ada banyak orang yg sampai mati akan mengkotak-kotakan; elo tim backpacker, elo tim koper, elo tim apalah. Padahal ya, yaudah aja. Jalan-jalan ya buat nyenengin diri sendiri. Bukan terperangkap pada struktur yg dibuat orang lain. Elo harus coba ini, elo harus bawa ini, elo ga boleh ini, etc. Elo fokus pada teknis dan melupakan substansi kesenangan traveling itu sendiri.

Karena pada akhirnya, inti dari sebuah perjalanan buat gue adalah tentang pengalamannya, tentang prosesnya. Mau kemanapun destinasinya. We can learn from anywhere.

Begitu pun juga hidup. Setidaknya buat gue.

Emotional Relation

emotion-brain-marketing-communication

A quick note sebelum pulang kerja, tadi baru saja saya dapat sharing insight data dari brandz. BrandZ is Millward Brown’s brand equity database. Doi yang biasa ngeluarin data list brand-brand kece apa aja yang ada di dunia. Termasuk Indonesia.

Dari 50 brand paling penting di Indonesia, secara garis besar perbankan masih menduduki peringkat atas, 7 perusahaan rokok masuk di dalamnya (yang kata doi, ini unik banget, karena cuma ada di Indonesia perusahan rokok bisa masuk daftar ini, dan ada 7 pula), kemudian bisnis FMCG.

Secara notabene 50 perusahaan tersebut adalah perusahaan dengan bisnis tertua yang memang sudah running sejak lama. Menarik bahwa ini mengukuhkan bahwa sebuah bisnis tidak hanya harus trending sesaat saja namun penting sekali untuk melihat sustainability-nya.

Kemudian, Brandz memaparkan learning point apa saja yang bisa didapatkan dari success story bisnis-bisnis tersebut.

Kurang lebihnya seperti ini:

1. Dalam sebuah brand penting sekali untuk memberikan meaning kepada customernya. Berikan alasan kuat mengapa orang-orang harus membeli/memakai brand tersebut dibanding yang lain.

2. A good story yang related dengan customer selalu berhasil membuat orang jatuh hati pada suatu brand. Dengan pendekatan personal yang menggugah hati akan membuat orang membeli/memakai brand tersebut.

3.  Buat sesuatu yang inovatif dan pesannya terkomunikasikan dengan baik pada customer.

4. Brand harus bisa meyakinkan customernya bahwa mereka akan memberikan banyak keuntungan pada penggunanya.

5. Bangun kepercayaan dan keamanan customer saat membeli/memakai produk dari brand.

6. Gimmick marketing yang kece dan berhasil membuat top of mind di banyak customer juga akan membuat sukses sebuah brand.

Dari situ saya berfikir bahwa kunci dari kesuksesan sebuah brand adalah bagaimana sebuah brand berhasil menggaet customer dengan emotional relation. Karena pendekatan yang dipakai tidak lagi berbasis ekonomi, tapi personal. Di mana mereka diperlakukan bukan lagi sebagai outsider yang diambil uangnya, melainkan sebagai seorang keluarga yang menjadi bagian dari brand itu sendiri.

Pelajaran penting sekali hari ini, bahwa mau secanggih apa pun brand secara teknologi. Peran komunikasi, story telling, dan customer service menjadi vital. Karena di sanalah kunci untuk membangun koneksi dan kepercayaan seseorang yang pada akhirnya akan memutuskan untuk membeli/memakai brand kita nantinya.

Pahitnya Kolom Komentar

d54ab10f6ef5d9b8f8b209386f0effdd4ac9364f_hq.gif

Untuk saya yang bekerja di dunia digital, khususnya di social media. Bukan lagi hal asing untuk menghabiskan waktu berjam-jam mengamati tren terkini di berbagai kanal media sosial. Penting untuk saya mengikuti perkembangan demi perkembangan akan suatu berita maupun kasus yang akhirnya diperbincangkan oleh banyak orang, yang kini kemudian disebut viral dan berakhir menjadi suatu meme. Kebanyakan lucu, tapi sekarang sudah agak berkurang lucunya.

Menarik sekali bahwa media sosial yang tadinya berfungsi untuk pelarian dari kehidupan nyata. Untuk sekadar bersenang-senang; seperti sarana berkomunikasi dengan teman yang sudah lama tak bertemu, tempat rentetan update status akan curahan hati terkini, juga praktik baru dalam berbagi album foto-foto liburan dengan tagging massal, atau sekadar untuk berjualan handphone dan baju. Mendadak berevolusi menjadi arena untuk menyebar hate speech dan hoax (berita tidak benar).

Mengapa kita semua sampai di titik ini?

Saya tidak punya teori khusus, secara bebas saya pribadi berhipotesa bahwasanya fenomena ini terjadi karena pada dasarnya people love attention. Pun media sosial hadir atas dasar itu.

Karena di media sosial kita dapat mengukur secara langsung respon dan sentimen seseorang akan berita/kabar tertentu dengan cepat. Sekali posting, dalam detik berikutnya kita dapat mengetahui siapa saja yang menyukai posting tersebut. Orang berkomentar apa, dan sebagainya.

Itu sebabnya media sosial membuat orang haus dan berlomba-lomba mendapatkan like, share, dan komentar dari banyak orang. Popularitas semu itulah yang mendorong impian terpendam seseorang menjadi selebritas bisalah kini tersalurkan di media sosial. Dalam dunia media sosial, orang bebas untuk menjadi apa pun.

Kebebasan itulah yang terkadang membuat media sosial menjadi tidak terfilter. Pola yang terdahulu di mana seseorang mencari berita/kabar terkini, sekarang berganti menjadi berita/kabar yang mendatangi seseorang. Pada akhirnya kita mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita tau.

Di sanalah, ranah publik dan privat menjadi bias, bahkan cenderung hilang.

Karena orang-orang berfikir yang sudah ada di linimasa adalah sesuatu yang bersifat umum. Fenomena itu yang kini membuat kolom komentar menjadi ladang bebas kebanyakan orang yang merasa ‘memiliki hak’ berpendapat akan apa pun yang muncul di lini masa mereka. Orang-orang di media sosial kini tak lagi menghargai privasi seseorang, dalam bentuk apa pun.

Kolom komentar saat ini kebanyakan disesaki oleh  keganasan, kebengisan, dan kebebalan dari kepribadian seseorang dalam bentuk kata-kata. Kesopanan dalam berkomunikasi pun seolah tidak diperlukan, karena mungkin mereka berfikir; ‘Ini online juga, enggak tatap langsung, enggak akan ketemu orangnya juga.’

Alih-alih berpendapat sesuai konteks, kebanyakan orang cenderung untuk menyerang secara SARA dan jumping into conclusion. Logical fallacy atau kesalahan berfikir kerap kali ditemukan pada tiap topik yang memang membutuhkan analisis tajam dan referensi lebih. Dengan berbekal googling saja, mendadak orang-orang bertransformasi menjadi polisi moral, ahli kitab, dan kompeten akan banyak hal.

Dengan dorongan dan modal pemikiran, akun aing terserah aing. Seseorang lupa bahwa, aktivitas yang terjadi di media sosial tak ubahnya apa yang terjadi di dunia nyata. Bentuk komunikasi dalam bentuk unggahan foto, komentar, update status yang menyinggung seseorang, it is still hurt people. Luka tetaplah luka.

Maka tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa, kolam komentar adalah gambaran tergelap kepribadian seseorang. Karena jika ingin melihat hilangnya kemanusiaan dalam diri manusia, kolom komentar bisa jadi referensi terkini akan situasi tersebut.

Rentetan akan kebebasan berpendapat yang kebablasan dan atensi banal berlebih dari banyak orang, yang menurut saya membuat hate speech dan hoax menjadi subur berkeliaran menjadi viral di media sosial saat ini.

Saya teringat wawancara Kris Jenner di E! Online di suatu waktu, dia pernah bilang kurang lebihnya: ‘Di saat sekarang, berikan seseorang keyboard, dan mereka bisa membuat ucapan paling mengerikan di dunia ini.’

I’m not a big fan of Kardashian family, tapi kali ini saya mengamini apa yang Kris Jenner ucapkan. Mungkin itu adalah gambaran terdekat dari realitas kehidupan masyarakat online saat ini.

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

The Biggest Problem of Modern People

1-djdiSQjlcc9nGIgw18aqPg.jpeg

Menurut saya akar permasalahan yang sering terjadi di dunia modern saat ini adalah gagalnya komunikasi satu sama lain.

Baik itu dalam skala personal maupun profesional. Komunikasi diganyang sebagai suatu issue yang menghambat performa seseorang maupun dalam kesatuan tim.

Dasarnya komunikasi adalah jalinan umpan balik, a conversation antara satu orang dengan yang lain dengan membawa satu pesan yang akhirnya sama-sama dipahami.

It is about how you delivere the message.

Namun terkadang, skill komunikasi seseorang terhambat pada keengganan seseorang untuk mengolah pesan terlebih dulu. Ada ego sebesar bulan yang membuat mereka merasa superior dibanding lawan bicaranya.

Alih-alih memahami, kebanyakan orang memilih berkoar paling keras seolah dia yang paling paham sabab musababnya. Parahnya lagi, paling tahu solusinya. Dan cacatnya logika pun semakin subur keluar dari mulutnya.

Skema sederhananya, mulut mereka terbuka lebih dulu sebelum otak mereka berfikir.

Menurut saya, di situlah di mana kebodohan itu hadir. Ketika tidak ada satu pun saraf dalam otak manusia tersebut berupaya untuk menghela nafas sejenak, for one or two second, kemudian membaca ulang pesan yang ia dapatkan, mencernanya then comes up dengan buah fikiran berupa pilihan respon terbaik apa yang dapat mereka utarakan.

Karena some people say, mulutmu harimaumu. Sekali berucap, you can’t take back your word, it is include your stupidity.

Saya menulis ini bukan karena saya peduli dengan skill komunikasi satu orang — I’m pointed to someone who was bumped into me with a zero skill of communication and shouted toward me like that person knows how to deal the problem. Instead solve the issue, that person just shows how stupid that person can be.

Dalam seni komunikasi pun diajarkan agar kita lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena dengan mendengar tanpa terburu-buru merespon seseorang, kita dapat mengetahui sebuah informasi baru. Di kasus ini adalah, kebodohan seseorang.

You can laughed afterwards, right on that person face or some secret chat room.

Setidaknya saya belajar sesuatu hari itu, dalam terjalinnya komunikasi ada kalanya lebih baik kita diam dan mengalah. Membiarkan imajinasi tumpul seseorang mengokoh dan menjelma menjadi stupa kebodohan yang menjeratnya dalam suatu kebiasan.