Review Film Night Bus – Perjalanan Mencekam Menuju Sampar

Night_Bus_film

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017, ditengah gegap gempita film Posesif, Marlina, dan Pengabdi Setan di kalangan penonton film Indonesia seketika Night Bus muncul dengan humblenya dan memenangkan kategori prestisius tersebut.

Karena penasaran film Night Bus pun diputar ulang di bioskop-bioskop. Catat, diputar ulang! Karena penonton Indonesia saat itu masih sedikit mengetahui film ini sebelumnya.

Dan sebagai film terbaik yang mengalahkan nominator-nominator lainnya, harus diakui Night Bus memang menang dengan telak dalam segala aspek penilaian.

Menurut saya, dari segi cerita, pemain, dan eksekusinya Night Bus menjadi film anomali yang mendobrak mainstream film Indonesia yang masih mengangkat tema cinta yang itu-itu saja.

Film Night Bus jenis tipe film yang bisa ditonton oleh banyak orang dan message akan film ini pun begitu kuat.

Narasi yang ditawarkan film Night Bus juga terasa unggul dan dramatis jika dibandingkan dengan cerita komedi keluarga, remake film hantu, atau biopik tanpa makna yang penggarapannya itu itu saja.

Lawan terberat memang Posesif, isu kekerasan dalam hubungan pacaran yang dibalut dengan eksekusi sekelas Edwin membuat kontras yang menggiring Night Bus hadir dengan isu yang lebih lokal yang mungkin menjadi pertimbangan para juri untuk memenangkannya. Karena pada dasarnya tidak banyak yang mengangkat krisis keamanan di Aceh lewat sebuah film.

Membahas soal filmnya, Night Bus memiliki premis yang solid. Perjalanan berbahaya menuju Sampar menjadi sajian yang mencekam sepanjang dua jam lebih. Dan memang di sejam terakhir film berjalan, bus yang ditumpangi yang melewati pos demi pos selalu diisi dengan situasi terjebak yang berakhir tragis.

Kesusahan demi kesusahan hadir untuk mematikan niat para penumpang, namun mereka tetap memilih untuk terus berjalan.

Ditambah lagi akting dari para pemainnya pun kelas wahid punya. Ibarat konser, para pemerannya memiliki suara-suara sendiri yang memperkaya harmonisasi film ini. Kedalaman karakter dan background masing-masing karakter kental sekali terasa. Mungkin kecuali si pemeran anggota NGO aneh itu sih yang tiba-tiba muncul, buat saya kurang meyakinkan untuk hadir dalam cerita di dalamnya.

Yang menjadi kekuatan film Night Bus tentu saja cerita dan pergerakan plot yang berjalan cepat dengan polemiknya sendiri. Film ini untungnya tidak terjebak di dikotomi baik dan buruk. Yang terpenting, para penumpang sampai dengan selamat.

Meskipun plot twist diakhir masih terasa politis dan maksa sih. Padahal jalinan cerita selama tiga per empat awal sudah dibangun dengan mencekam dan dramatis. Namun sayangnya diakhiri dengan ending yang flat.

Another thing yang mengganggu adalah editing CGI film ini yang terlihat sekali tidak rapi. Meski berkali-kali saya yakinkan diri saya bahwa inti cerita lebih penting, namun tak ayal dibeberapa scene editing CGInya benar-benar mengaburkan makna keaslian adegan-adegan tersebut. Terlebih dibeberapa adegan awal di dalam bus yang ya allah, overlay antara background dan pemainnya ketimpah banget.

Scoringnya pun sedikit mengganggu sih. Niatnya mungkin mau buat penonton tegang, namun karena sayangnya terlalu banyak repetisi adegan yang menggunakan scroring tersebut akhirnya malah tegangnya hilang dan mirip adegan sinteron.

Dibalik itu semua, Night Bus masih layak untuk ditonton di bioskop. Pengalaman akan perjalanan para penumpang menuju Sampan adalah realita lain di pelosok daerah Indonesia yang perlu diketahui.

Bahwa keadilan untuk berjalan dan berkendara dengan selamat masih menjadi suatu privilege. Dan pesan yang paling kuat adalah, untuk siapa sebenarnya perang itu terjadi?

Karena seperti slogan film Night Bus, konflik tidak memilih korbannya.

Mari ke bioskop TIM dan Plaza Senayan untuk menyaksikan film apik yang belum pernah ada di Indonesia ini. Selamat menonton!

Pengamatan Sotoy:  Yang jadi nenek-nenek di film ini sebenarnya bisa banget mengalahkan Puteri di Posesif loh.

Advertisements

Maka, menulislah

Benar adanya ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa menjadi penulis adalah pekerjaan paling sunyi di dunia. Ia bergerak dalam diam dan hanya berisi keriuhan isi kepala yang tak seorang pun dapat melihatnya. Terlebih jika kamu hanya seorang penulis mingguan yang hanya menulis di blog jika sedang tidak bisa tidur, dan sepanjang empat tahun telah berganti-ganti outline novel yang tak kunjung-kunjung selesai. Tak ada jejak, tak ada karya, suara-suara itu masih berteriak mengganggumu.

Dapat aku pastikan hidup tersebut sangatlah tidak menyenangkan.

Hidup tak lagi hanya berisi kesunyian saja, namun juga kekalahan. Karena bising di kepala cuma akan berakhir menjadi bunyi yang tak berkesudahan dan tak ada ujung.

Dan satu-satunya cara untuk membunuhnya hanya satu: MENULISLAH atau MATI.

Ulasan Film: ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’

marlina-the-murderer-in-four-acts

Markus datang tanpa permisi, menerobos masuk, kemudian mengintai sekeliling. Setelah cukup menerka, ia pun duduk pada pusaran.

Tanpa berlama-lama ia dekati Marlina dan membisikkan ancaman serta godaan yang Markus tahu tidak akan bisa Marlina tolak.

Markus menyunggingkan senyum kemenangannya. Pahit bagi Marlina.

Namun, sayangnya, kali ini Markus salah. Dalam diam Marlina tahu apa yang harus dia lakukan. Ingin segera ia hapus senyum sialan itu di wajah Markus.

Dan setelahnya petualangan Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak pun dimulai.

Film Marlina besutan Mouly Surya mengedepankan pertaruhan yang besar; premisnya tentang perempuan yang melawan kejahatan laki-laki.

Seakan menjadi simbol feminisme sendiri dalam menghancurkan kuku-kuku tajam patriarki di lingkup domestik. Sesuatu yang sebenarnya sering terjadi dalam keseharian.

Berlokasi di Sumba, Marlina ditangkap melalui gambar-gambar wide yang cenderung ekstrim. Menjadikan Marlina sebaga film Indonesia paling cantik tahun ini. Hamparan sabana yang luas membuat Marlina tampak begitu kecil. Seolah ingin mengkomunikasikan bahwa kini ia hanya tinggal sendiri melawan semuanya.

Dalam film ini, narasi perlawanan perempuan di tiap babaknya dengan spektakuler diargumentasikan dengan cerdik oleh Mouly.

Ia menghadirkan isu pemerkosaan, sesuatu yang selama ini masih membelit para korbannya di Indonesia.

Scene tersebut dimunculkan Mouly dengan kontras yang mengulur-ngulur. Menggambarkan dengan jelas akan bagaimana sistem birokrasi, terutama kepolisian, merespon isu tersebut.

Betapa tersiksanya saya ketika menonton adegan Marlina yang menunggu panggilan dari Polisi yang sedang bergantian bermain pingpong. Sesuatu yang sangat tidak relevan.

Emosi penonton pun terjerat akan akting cemerlang Marsha Timoty yang diembodikan tanpa meluap-luap namun akan menghantui tiap-tiap kepala yang menontonnya.

Teror akan kesakitan korban pemerkosaan seolah tidak berhenti, Sang Polisi yang mencatat laporan Marlina bertindak tanpa sensitivitas yang ajek.

Seakan trauma dan kesakitan yang Marlina hadapi hanyalah bersifat naratif dan numerik.

Berapa banyak yang memerkosa? Bagaimana semua berlangsung? Mengapa kamu mau diperkosa oleh yang lebih tua?

Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Polisi tersebut terasa sangat bebal, jika tidak mau dibilang bodoh. Scene tersebut begitu nyata. Begitu dekat.

Kesemuanya seakan menyayat peluru terakhir Marlina. Tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri dan mungkin Novi. Sahabatnya.

Yang ternyata bernasib sama sialnya dengan dirinya. Novi terkena stigma lama akan tubuhnya. Kehamilannya diperdebatkan banyak orang, karena sudah lewat 10 bulan sang anak diprediksi sungsang.

Sebuah indikasi akan ketidakpatuhan perempuan terhadap laki-laki. Alasan yang datang karena ia dan sang suami sudah tidak berhubungan badan selama tiga bulan terakhir. Kecurigaan itu muncul dari sana dan tentu saja lidah tajam sang mertua.

Layaknya Marlina, Novi pun bertahan. Berjuang dalam ketidakadilan.

Sayangnya dalam film Marlina, babak demi babak berjalan dengan pelan tanpa konflik yang berarti pada antar karakter di tiap babaknya. Sepinya gesekan tersebut membuat satu jam terakhir film ini terasa datar, meski tidak hambar, namun pengulangan-pengulangan scene yang sudah terjadi di awal tidak membuat saya terkesan. Kekurangan tersebut bagi saya pribadi gagal dalam menggugurkan ekspektasi tinggi akan film Marlina.

Kedalaman emosi dan konflik Marlina serta Novi sebenarnya bisa tuntas dengan cepat tanpa membutuhkan waktu selama satu setengah jam.

Meski begitu, eksekusi dan presentasi Marlina tak diragukan lagi. Gambarnya kelas dunia! Semua yang hadir di dalamnya begitu poetic dan membekas. Sup ayam dan sate kambing seolah menjadi simbol ketakutan tersendiri setelah menyaksikan film ini.

Terlebih ditambah musik yang menggetarkan dari tangan Zeke yang mampu mengisi nuansa ketegangan mencekam di dalam film ini.

Akhir kata, kekuatan Marlina seolah bukan karena ia menenteng-nenteng kepala pemerkosanya dan berkendara dengan kuda. Marlina lebih besar daripada simbol maskulinitas seperti itu.

Dengan jelas terpampang bahwa kekuatan Marlina berasal dari keengganannya untuk tunduk dalam ancaman dan kelaliman. Terlebih jika itu datang dari laki-laki.

Mendengarkan Naif Lewat Sepasang Headset Butut

Kadang ada Naif di sana, entah itu dalam bentuk perasaan atau hanya sebuah lagu dari band bernama sama.

https://unsplash.com/photos/n-N38MTOaoI

Hampir sewindu yang lalu di suatu hari Minggu kita berdua pernah hidup dalam salah satu semesta lagu Naif.

Masih ingatkah kamu saat kita pergi berkeliling Jakarta menggunakan motor abu-abumu, menelusuri satu demi satu jalanan yang baru pertama kali kita lewati?

Tidak ada yang lebih menakutkan daripada melihat satu dua orang Polisi yang berdiri di pinggir-pinggir jalan. Seolah mereka macam Serigala yang mengintip pelan-pelan mangsanya dan bersiap-siap menerkam saat mendeteksi satu kesalahan yang bisa membuat motor kita berhenti berfungsi lewat hentakan jari mereka saja.

Sakti!

Dan ketika berhasil melewati Polisi-Polisi itu, kita berdua akan tertawa kelewat bahagia. Namun tak lama tawa itu berubah pasi saat menyadari bahwa kita masih tolol akan arah jalan.

“Seharusnya kita tanya Polisinya saja sekalian ya?” tanyanya.

“Tapi nanti kalau kita ditangkap bagaimana?”

“Memang kita salah apa sih sampai Polisi mau menangkap kita?” tanyanya kritis.

“Enggak tau, bukannya memang peraturannya biasanya seperti itu ya? Hindari polisi apa pun yang terjadi?”

Dan kamu pun tertawa, menertawakan kebodohan yang hanya kita berdua yang mengerti.

Kamu melanjutkan perjalanan, mengira-ngira apakah benar saat mengambil arah ke Tanah Abang motor ini bisa berakhir di Menteng.

“Seharusnya tadi kita naik busway saja.”

“Tidak. Aku lebih suka seperti ini. Lebih dekat dengamu. Menciumi baumu. Memelukmu tanpa terhalang apa pun.”

Tak ada respon darimu.  Dan kita meneruskan perjalanan dalam diam.

Dengan menebak-nebak belok kanan atau kiri dan menghabiskan waktu bertanya-tanya dengan orang-orang yang sejatinya juga tidak mengetahui arah jalan. Akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke tempat terdekat dengan spesifikasi bisa memakirkan motor dan menjual minuman barang satu atau dua gelas air dingin.

Dan Taman Suropati pun menjadi pilihan.

Rasanya masih sedikit aneh saat aku bisa menyentuhmu. Memegang kulitmu lama-lama dan mengacak-ngacak rambut panjangmu. Bahkan kacamatamu tampak begitu nyata.

Kamu hanya tersenyum kecil.

Kamu benar-benar tidak tahu betapa berarti ini semua untukku. Ini adalah saat kita bertemu dan menyatu dengan kosmik yang ada. Gambaran empat dimensi yang dulu hanya ada di khayalan terliarku.

Dan rasanya menyenangkan saat diri kita tak lagi terpisahkan koneksi internet yang sering kali lelet dan memotong pembicaraan-pembicaran bodoh kita namun aku suka.

Juga rasanya begitu hebat ketika jarak ratusan kilometer kini hanya terpaut nafas. Sedekat itu.

Rasa-rasanyanya aku ingin membungkusmu, menguncinya dengan gembok merk American Tool yang katanya tidak akan terbuka meski dicairi dengan larutan kimia sekalipun. Aku harap gembok itu bisa menahanmu, dan kamu tak perlu pergi lagi.

Sederhananya, aku ingin memilikimu. Hanya untukku. Egoiskah?

“Aku begitu bahagia hingga aku merasa takut” ucapku lirih.

“Kenapa?” mukamu tampak bingung.

“Aku takut ini semua akan cepat berakhir. Jakarta, matahari, kamu.”

“Kalau begitu kristalkan saja.”

“Bagaimana caranya?”

Ia pun mengeluarkan headset dari dalam tasnya lalu menyodorkannya padaku, kemudian memberi tanda untuk aku segera memakainya.

Detik kemudian lagu itu pun terputar. Lagu yang nantinya selama delapan tahun ke depan akan selalu mengingatkannya padamu.

Satu buah lagu dari Band Naif yang menjadi pertanda soundtrack kami berdua hari ini.

Aku sedang berjalan, menyusuri relung di hatimu
Aku sedang mencari, sesuatu di balik matamu
Yang mampu membuatku terpesona
Yang mampu membuatku terpesona

“Ini lebih baik dari apa pun.”

Dan kita berdua pun tersenyum malu-malu satu sama lain. Membahasakan sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa namun yakin ini terasa nyaman dan adiktif, membuatku merasa dimiliki dan diinginkan.

“Setiap kamu kali kamu mau sebagian dari diriku hadir dekatmu, kamu tinggal putar lagu ini.”

“Andai semudah itu.”

“Biarkanlah jadi semudah itu.”

Lagu itu pun terus berputar, menjadi empat menit paling magis yang pernah ada. Dalam sekonnya ia menjerat segala hal yang ada di sekitarnya. Dengan cekatan tiap nada dan liukan suara David Naif merangkaimu pada momen ini. Membentukmu pada memori kolektif yang seperti harapanmu. Lagu ini akan selalu menjadi bagian akan dirimu dalam perspektifku.

Apakah dirimu yang mampu membuat hatiku terpanah asmara
dan kuyakin itulah cinta….

Kepalaku bersandar pasrah di pundakmu, membuatku dapat melihat jelas senti demi senti kulitmu yang begitu indah. Raut senyummu pun begitu dekat. Menyapa tanpa bersuara dan memeluk tanpa menyentuh.

“Andai setiap awal tidak perlu ada akhir,” cetusku.

“Kamu tau itu tidak mungkin. Terlebih pada kita.”

“Seharusnya bisa,” kataku kesal.

“Dan jika iya, semuanya tidak akan semenyenangkan ini. Menyelinap lewati waktu yang kita bahkan terlalu pelit untuk mengakhirinya. Namun bukankah semuanya membuat ini jadi jauh lebih bermakna? Satu detik bersamamu menjadikan aurora warna warni di langit terlihat seperti gulali hitam putih,” katamu coba menghibur.

“Andai semudah itu.”

“Maka biarkanlah jadi semudah itu. Aku mohon, untuk hari ini.”

Aku pun terpaksa mengiyakannya. Melegitimasi semua kebodohan ini. Memberikan ruang sekali lagi untuk melepasmu.

Karena tidak lama, matahari pun berganti warna. Gelap, tanpa spektrum oranyenya. Hanya tersisa pekat yang dingin.

Kamu pun pergi, menjemput dirinya di tempat lain yang sudah menunggumu. Menyudahi hari ini yang bahkan belum genap malam. Dan aku kembali menjadi rahasiamu. Menjadi bayangan dalam ketiadaan.

Sesekali aku pergi ke sana. Pada potongan memori usang yang berputar acak tiap kali lagu itu berputar seperti hari ini.

Setia pada ritrus. Aku menatap pada satu pasang headset yang kamu berikan dan satu lagu yang sengaja kamu tinggalkan.

Delapan tahun sudah. Kamu kini sudah tak lagi bersama dengannya. Pun denganku.

Kita berdua bak dongeng yang muskil akan kebenarannya. Ragu-ragu dengan semua deretan cerita di atas. Atau ini hanya rancu belaka?

Aku pun tak berniat untuk bertanya, masihkah kita mendengarkan lagu yang sama. Basi.

Jika pun iya, akankah semua ini masih relevan? Karena satu buah lagu tidak akan cukup untuk itu.

Ulasan Film My Generation: Me vs Parents

075939500_1507776200-DLR6pSWUIAAKMnc

Sebuah liburan yang merubah segalanya….

Film My Generation dibuka dengan VLOG (video blog) ke empat tokohnya; Konzi, Zeke, Suki, dan Orly. Mereka semua menatap lurus ke depan kamera dengan berapi-api, menumpahkan seluruh unek-unek dan kekesalan mereka pada ketidakadilan sistem pendidikan yang mereka jalani sebagaimana anak-anak sekolah pada umumnya. Pertanyaan berikutnya, siapa sih yang tidak?

Untuk mereka yang tumbuh dan berkembang di daerah dunia ke tiga seperti Cibinong, melihat scene awal film My Generation yang diisi dengan para pemainnya yang rupawan, stylish, dan lengkap dengan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, sudah dipastikan bahwa mereka berempat merupakan anak-anak borju yang bermasalah dengan hidupnya.

Lalu, apakah film ini kemudian akan bergerak menjadi cerita yang superficial?

Tentang anak-anak orang kaya yang manja dan tidak puas dengan privilege yang mereka miliki dibanding remaja-remaja lainnya di belahan dunia lain?

Atau film My Generation adalah film perusak moral seperti yang dibicarakan dan dikecam oleh banyak-banyak orang di media sosial?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita mulai dengan melihat motivasi dari cerita film My Generation itu sendiri.

A few years ago, kita tentu masih mengingat bagaimana rasanya menjadi seorang remaja di umur 15-17an tahun. Feeling outcast, di mana pencarian jati diri dan tekanan untuk menuju gerbang orang dewasa begitu menyiksa. Semua kita jalani dengan tertatih-tatih namun pasti. Kadang ada yang berhasil, namun banyak juga berisi kegagalan.

Semua itu terjadi karena:

  1. Kesemua nilai-nilai yang dulu tertanam oleh orangtua seakan bertolak belakang ketika menginjak masa remaja.
  2. Tidak ada les khusus untuk menjadi anak yang sempurna di dunia ini. Karena sayangnya, tidak ada yang sempurna dalam hidup. Namun masih ada orang tua yang mengharapkan kesempurnaan semu itu.
  3. Ketertarikan untuk mengeksplore tubuh, pertemanan, dan tentu saja cinta menjadi tidak terintegrasi dengan peraturan dan moral value yang orang-orang tua telah set tinggi-tinggi.
  4. Seolah semakin anak tumbuh dewasa komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anak pelan-pelan terputus dan berubah menjadi dinding besar dan dingin di antara mereka. Semacam teritori atas ketidakmengertian masing-masing individu.
  5. Orang tua menginginkan menempelkan ambisi mereka pada anak, dan anak ingin mereka dilihat sebagai diri mereka sendiri. Seutuhnya. Bukan apa yang orang tua ingin lihat dari mereka.

Dari sana masing-masing orang seolah lupa bagaimana berbicara satu sama lain tanpa harus berteriak dan berbeda pendapat.

Seperti yang diutarakan Stanley Hall, ia menjelaskan bahwa saat remaja mereka akan mengalami “storm & stress” dalam kehidupan. Jelas, semuanya tidak akan sesederhana dulu lagi.

Keseluruhan ironi itu menjadi penggerak cerita dalam film My Generation.

Kita dapat melihat bahwa film My Generation ingin menangkap momen tersebut, mengargumentasikan suara remaja di periode waktu di mana mereka merasa tidak ada yang dapat memahami mereka sendiri kecuali teman-teman mereka.

Keseluruhan film ini tentang itu semua. Eratnya persahabatan yang mengalahkan kungkungan orang tua yang konservatif dan alot.

Akting dan Set Syuting Yang Keren

Membuat film untuk para milenial tentu saja Upi harus masuk ke dalam dunia mereka. Para milenial kini lebih fasih berbahasa inggris dibanding generasi sebelumnya. Terlepas mereka adalah blasteran atau bukan, namun harus diakui bahwa ekspresi komunikasi mereka ada di sana. Dan Upi menjembati transisi bahasa itu.

Kebanyakan film ini menggunakan bahasa inggris dengan translation yang seru dan tidak kaku.

Artikulasi dan pembawaan yang keren dari para pemainnya pun membuat ruh film ini menjadi hidup dan enerjetik.

Masing-masing karakter muncul dengan keunikan masing-masing. Yang paling membekas buat saya adalah karakter Mbak Anda sebagai Orly di sini. Ia feminis muda yang percaya dengan bumi itu datar. Kekocakan kekocakan dalam tiap diskusi dirinya dan sang pacar membuat film My Generation memuat banyak konten menarik yang menggambarkan generasi sekarang lebih global dan kritis lewat cara mereka sendiri.

Akting dari para aktor-aktor muda ini dari adegan mereka bersenang-senang, sedih, dan marah tergambarkan dengan sempurna. Mereka seakan benar-benar menjadi diri mereka sendiri.

Konflik dari masing-masing karakter dalam film My Generation merupakan sesuatu yang sering terjadi di kehidupan sosial media saat ini. Jadi penting sekali untuk melihat film ini sebagai suatu potongan kehidupan para milenial yang cukup akurat.

Harus diakui bahwa menjadi remaja bukanlah hal yang paling menyenangkan di dunia ini, namun bukan berarti semua orang harus kalah dengan itu. Film My Generation menjawab keresahan itu dengan kisah orang tua yang pada akhirnya membuka pikiran mereka untuk lebih bisa menerima anak remaja mereka apa adanya.

Bahwa pada akhirnya, keluarga yang akan selalu ada. Pesan yang Upi sampaikan hadir dengan praktis tanpa bertele-tele.

Pengalaman Sinematik dalam Semesta Upi

Menonton film My Generation karya Upi seperti mengintip masuk ke dalam keseruan lika-liku dunia geng paling cool di film Indonesia setelah geng Cinta di AADC.

Seperti karya-karya Upi terdahulu, Upi sangat luwes dalam mempresentasikan keseruan anak-anak muda dan membuatnya tampak menarik. Terbaiknya film-film Upi selalu meninggalkan kesan mendalam ketika kita keluar dari pintu bioskop. Kesan itu akan lama tertinggal dan membentuk tren baru tiap masanya.

Masih teringat jelas saat saya kelas 2 SMP dulu ketika menonton film Upi berjudul 30 Hari Mencari Cinta. Betapa jenaka, hangat, dan menyesakkan di akhir.

Dari sana permainan 30 hari untuk memiliki pasangan menjadi seru untuk dilakukan. Yang mana, sudah pasti saya gagal dengan gemilang.

Persahabatan para tokoh di film-film Upi pun hadir dengan begitu meyakinkan. Baik itu dalam My Generation, Realita Cinta dan Rock n Roll ataupun My Stupid Boss. Upi piawai dalam menyajikan perfect comic timing dengan dialog-dialog nyeleneh yang membuat para penontonnya seperti melihat diri mereka sendiri dalam film-film Upi.

Upi berhasil menciptakan semestanya sendiri dan membuat penontonnya ingin menjadi seperti tokoh-tokoh yang ada di dalamnya di kehidupan nyata; seperti apa yang mereka pakai, mereka ucapkan, dsb.

Saat Realita Cinta dan Rock n Roll sukses di eranya, semua anak-anak cowok di SMA kegandrungan dengan style emo  yang memamerkan tubuh lean mereka. Keberhasilan tersebut menjadikan  film-film Upi sebagai trendsetter dalam dunia fashion maupun pop culture Indonesia itu sendiri.

Harus diakui, Upi benar-benar berhasil menyuarakan suara anak muda dari jaman ke jaman dengan konsisten pada tren di tiap tiap masanya. Masalah-masalah yang tidak banyak orang bicarakan berani Upi munculkan di sana dengan gayanya sendiri.

Karena Upi tahu, setiap anak muda memiliki suaranya sendiri yang ingin didengar.

Selamat untuk Upi atas film My Generation! Sebuah pencapaian sinematik film remaja yang keren sekali!

 

Yakin Mau Beli Mobil Online?

banner-momobil-blog-competition

Seorang teman datang dengan muka cerah dan gembira. Ia bercerita ingin membeli mobil pertamanya lewat bonus tahunan kantornya.

Sebuah prestasi yang membanggakan, karena akhirnya ia dan keluarga kecilnya dapat memiliki sebuah kendaraan yang bisa membawa mereka pergi dengan nyaman dari Bogor ke Bekasi di tempat sang anak bisa bertemu Kakek dan Neneknya.

Namun mendadak raut muka cerah itu perlahan redup setelah ia mengetahui bahwa ada begitu banyak persyaratan dan uang ‘lain-lainnya’ yang tidak sedikit untuk ia keluarkan demi si mobil pertamanya.

Ada sedikit keurungan hatinya untuk membatalkan niat awalnya.

Namun sebelum ia terburu-buru membanting setir mimpi bahagianya untuk keluarga kecilnya. Saya segera mengeluarkan sebuah handphone kecil dan menyerahkannya padanya.

‘Untuk apa handphone kecil itu?’ tanyanya bingung.

Lalu dengan gesit saya langsung mengetik di mesin pencarian internet akan jenis mobil yang ingin ia miliki. Tidak berapala lama, ratusan artikel tentang mobil tersebut berhamburan di layar handphone kecil itu.

‘Beli online saja. Ga ribet!’ tawarku padanya.

‘Memang aman?’ tanyanya ragu.

‘Menurut artikel ini dijelaskan bahwa setidaknya ada 210 ribu unit mobil dan 250 ribu unit motor terjual tiap bulannya lewat perdagangan online. Jadi kenapa masih ragu?’ jawabku menenangkan.

‘Lalu, aku harus beli di mana?’ tanyanya mulai tertarik.

‘Tenang, ada momobil.id situs jual beli mobil online terpercaya! Jual beli mobil kini dapat dilakukan dengan mudah, aman, dan nyaman. Kamu hanya tinggal pilih jenis mobil yang kamu mau di website momobil, lalu lengkapi data diri kamu, dan tunggu konfirmasi dari pihak Momobil dan vice versa kamu bisa bawa pulang mobil yang kamu impikan. Jenis pembayarannya pun beragam. Kamu bisa melakukan cicilan tanpa terbebani. Keren kan?’

Mata teman saya pun kembali berbinar. Seolah menemukan kembali harapan untuk membawa pulang kebahagiaan pada keluarganya. Dengan aktivitas pembelian online tersebut ia tidak perlu takut kena tipu harga kemahalan dari para pedagang-pedagang mobil yang belum jelas keasliannya. Juga ia tidak perlu ragu akan kondisi kondisi mobil yang ia mau karena sudah melewati proses Quality Control yang mumpuni.

Dengan tergesa-gesa sang teman itu pun pamit pulang.

‘Mau ke mana?’ tanyaku heran.

‘Mau ke rumah pesan di sana.’

‘Lah ngapain? Pake saja laptopku dan kamu bisa tanya langsung dengan customer service momobil yang siap menjelaskan semuanya!’.

Ia memukul kepalanya pelan sambil tertawa. Ia lupa bahwa kini semua orang sudah terhubung dengan internet begitu gampang.

Tiada ragu, temanku langsung kembali ke dalam rumah dan mulai memilih mobil mana yang pas untuk ia pajang di garasi rumah dia nanti.

Betapa mudah hidup kini!

IMG_4957

 

Ulasan Film Posesif: Memaknai Kembali Sebuah Rasa dan Obsesi

17010009_1

Film Posesif hadir dengan premis yang menarik, sebuah hubungan abusive dalam cinta muda yang membara. Terlebih ini dihadirkan dalam konsep percintaan remaja tujuh belas tahun dengan pelbagai problematika kehidupan khas anak SMA.

Selanjutnya bagaimanakah cerita akan ternarasikan? Dan yang terpenting kemudian adalah, menarikkah Posesif sebagai sebuah film untuk ditonton?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian untuk mengetahui background para kreator di balik film Posesif ini.

Pertama, film ini disutradarai oleh Edwin, ia adalah sutradara yang biasa membuat film-film ekperimental art house, dari tangannya hadirlah film-film indie keren seperti; Babi Buta Ingin Terbang, Postcard From The Zoo, dan Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband. 

Tiga film itu merupakan jenis film yang jarang hadir di teater mainstream Indonesia (you can correct me if i’m wrong, maafkan jika saya salah) dan hanya diputar di bioskop-bioskop alternatif dan festival-festival film yang sifatnya terbatas.

Namun itu bukan berarti karya Edwin merupakan karya biasa karena tidak mampu tembus pasar mainstream. Malah karena film-film Edwin kemasannya begitu kuat. Pesan yang hadir begitu sarkas dan menyindir. Seakan pemaparannya akan peristiwa demi peristiwa ironis di filmnya seolah benar-benar terjadi di tengah-tengah penontonnya.

Bagaimana pedihnya nasib kaum minoritas dibalut dalam simbol visual yang memojokkan. Dapat dipastikan film-film Edwin bakal menjadi kontroversial di kalangan masyarakat yang tidak terbiasa dengan gagasan tersebut.

Namun dengan perbedaan tersebut, Edwin datang dengan alternatif tontonan yang menyegarkan.

Terutama lewat ciri khas film Edwin yang muncul dalam narasi panjang cenderung lambat dan mengekploitasi dramatisasi kebisuan para aktor dalam durasi lama yang kemudian dihentakkan dengan adegan-adegan nyeleneh tak biasa.

Seperti hubungan seksual threesome sejenis antara seorang dokter yang dianal oleh dua orang laki-laki di ruang prakteknya karena ingin membantu pasangannya masuk tivi demi masuk ke sebuah acara pencarian bakat.

Adegan itu dihadirkan Edwin dalam film Babi Buta Ingin Terbang dengan begitu kasual. Ia sisipkan adegan tersebut sebagai statement Edwin terhadap isu-isu marjinal yang jarang dibicarakan. Terpinggirnya kaum Gay dan Tionghoa.

Maka dari itu sangatlah menarik untuk melihat film Edwin yang spesifik dibuat untuk kalangan masif remaja.

Kedua, dari departemen skrip ada Gina S Noer. Penulis skrip film yang sukses dengan film-film best seller iconic seperti Habibi Ainun, Hari Untuk Amanda, dan Ayat-Ayat Cinta. Ia muncul sebagai kontras terhadap Edwin. Premis yang membuat orang penasaran, bagaimana jadinya kubu kreator indie bertemu dengan kreator film populer?

Lewat trailer film Posesif kita dapat melihat nafas sinematografi khas Edwin. Permainan dimensi warna, gambaran komposisi simetris dalam ruang kosong yang di shoot dari jarak jauh. Kesemuanya memanjakan mata bagi yang menontonnya.

Dialog-dialog yang keluar dari mulut para aktornya pun mengalir santai. Seakan lewat trailer filmnya Posesif datang dengan ekspektasi yang tinggi.

Ketiga, mari kita membahas filmnya.

Apa yang menjadi kekuatan dalam film ini?

  • Akting yang kuat dari para pemainnya. 

Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melihat film remaja yang proper di layar kaca. Dan Posesif hadir dengan paket lengkap mulai dari para dua pemain utama yang menyuguhkan akting meyakinkan sebagai pasangan yang mabuk cinta dan terobsesi satu sama lain. Adipati dan Putri memberikan akting terbaik mereka di sini. Saya sebagai penonton percaya ketika mereka sedang tersipu malu, marah, dan ketakutan. Bahkan peran-peran kecil dalam film ini matters. Semua memiliki keterikatan yang mendukung cerita satu sama lain.

Seperti Ega, sahabat Lala dengan karakter yang kocak bisa menjadi bumbu penyegar yang manis dalam film ini.

  • Scene-scene indah

Kepiawaian Edwin dalam memberikan gambar-gambar indah yang datang dari tempat sederhana benar-benar breathtaking. Favorit saya adalah ketika adegan galau Lala saat berenang. Begitu poetic. Adegan dugem dan saat Yudhis dan Lala flashback di taman bermain, kesemuanya terasa cute dan edgy khas anak muda.

Ini mengajarkan bahwa tidak perlu pergi syuting ke Eropa, jika bisa menghasilkan kualitas sebagus ini. Dibanding syuting jauh-jauh tapi film yang dibuat masih level FTV (I mean something that you can see for free).

  • Soundtrack yang mengisi moment dan mood dalam film.

Memasukkan Banda Neira, Dipha Barus, dan Sheila on 7 adalah pilihan yang brilian. Banyak banget orang yang nyanyi di bioskop saat lagu Dan Sheila on 7 diputar di film.

  • Logika cerita yang solid.

Gina membereskan tugasnya dengan baik di sini. Motivasi tiap-tiap pemain dalam kesinambungan konflik berjalan selaras. Mulai dari awal, tengah, dan akhir. Terutama ketika clash antara Lala dan Ayahnya semua terasa tepat pada tempatnya. Kemarahan Lala, ambisi sang Ayah, tekanan Yudhis, semua memburu di film ini dengan ketajaman yang membekas.

Tapi….

Ada beberapa bagian dalam film yang mengganjal, kesan akan toxic relationshipnya masih terasa setengah-setengah. Bagian-bagian yang sebenarnya bisa di eksplore, terasa ditahan oleh Edwin. Seakan ketika seharusnya penonton dibawa dalam dunia kengerian dan impulsif Yudhis, Edwin hanya memberikan porsi kecil di sana.

Creepy thing Yudhis hanya muncul sekali dua kali. Tidak jelas apakah dia memang seorang stalker yang posesif, atau hanya anak tempramen yang mencari pelampiasan saja.

Dari situ pun letupan-letupan hubungan naik turunnya asmara antara Yudhis dan Lala juga terasa terlalu cepat. Tidak ada ruang pengenalan lebih jauh akan bagaimana Lala dan Yudhis membangun ikatan yang tak terpatahkan. Atau bagaimana tiba-tiba Lala merasakan keanehan Yudhis. Bahkan Twilight memberikan itu pada filmnya.

Juga keobsesian Yudhis ke Lala masih jadi tanda tanya. Bagian mana dari Lala yang mentrigger Yudhis untuk menjadi seseorang yang posesif? Sayangnya semuanya tak tergambarkan terlalu jelas.

Dari sanalah terlihat bagaimana film ini bermain aman. Hasrat dan letupan toxic relationship semacam ‘make up sex’ tidak muncul sebagai penyeimbang. Karena dari pengalaman teman saya yang mengalami kejadian seperti Lala, memiliki pasangan yang tukang pukul, sang pacar selalu memiliki cara untuk membuat teman saya kembali lagi kepada dirinya. Salah satunya ya itu, lewat make up sex, sesuatu yang akhirnya menggiring teman saya jatuh kembali pada luka yang ia buat sendiri. Semacam manipulasi yang tak berujung.

Keguncangan psikologis Lala pun tidak muncul, sepertinya akan lebih dramatis jika ada scene untuk Lala sendiri yang menanyakan kembali keputusannya saat ingin pergi atau kembali stay dengan Yudhis.

Karena di film ini sudut pandang Lala terkesan terombang ambing karena desakan sang Ayah, temannya, dan Yudhis sendiri. Tidak ada suara sendiri dari karakter Lala dalam menghadapi masalahnya di sepanjang film.

Kembali menjawab pertanyan awal, apakah film ini menarik untuk ditonton?

Maka jawabannya adalah sangat menarik.

Saya memberikan bintang 4,5 dari 5. Film ini begitu memukau secara keseluruhan. Seakan hadir sebagai entitas baru dalam film remaja Indonesia. Posesif bukan hanya sebuah film remaja belaka, ia merupakan suara keberanian yang dieksekusi dengan baik.

Film ini wajib untuk ditonton buat kamu kamu yang sedang berada dalam hubungan seperti Lala namun tidak berani untuk bersuara.

Karena dari film Posesif kita belajar bahwa seganteng apa pun pasangan, jika tangannya dipakai untuk memukul dan mulutnya untuk merendahkan pasangannya lewat kemarahan. Harusnya pilihan untuk pergi darinya merupakan jalan utama yang harus segera diambil.

Mengutip tagline dari sebuah iklan, karena kamu begitu berarti.

Cek Toko Sebelah: Film Komedi Terbaik

maxresdefault (1)

Ernest Prakasa sebagai seorang Sutradara di film Cek Toko Sebelah hadir dengan penyampaian cerita dan eksekusi yang lebih matang dibanding film Ngenest terdahulu. Presentase jokes hit and miss kali ini lebih banyak menghadirkan tawa, meski lagi-lagi dalam beberapa adegan Ernest sepertinya terjebak pada kewajiban untuk menampilkan satu gudang para stand up comedy dengan jokes yang, lagi-lagi, mungkin hanya dimengerti oleh mereka para penonton lama Ernest dan acara Stand Up Comedy.

Sehingga dengan keriuhan itu semua membuat fokus cerita pada karakter-karakter inti pun jadi terabaikan dan berkurang porsinya.

Motivasi workaholic Ernest, proses penolakan tawaran Ayahnya, dan proses pengembangan bisnis warung pun terasa hanya seadanya saja. Meskipun tidak bisa dibilang jelek, namun Ernest sebenarnya bisa lebih jauh lagi mengolah bagian cerita tersebut. Karena dari situ ikatan emosi antara cerita Ernest dengan penontonnya akan lebih dalam terbangun.

Namun dibalik keluputan tersebut, Ernest mengukuhkan dirinya sebagai aktor dan sutradara komedi romantis yang baik.

Paket cerita cinta yang manis dan drama keluarga yang menyentuh dengan pemilihan cast yang tepat membuat cek toko sebelah sebagai kesatuan film yang memang menghibur. Anda akan dibuat tertawa dan menangis dalam film ini.

Kesalahan Ernest pada pembagian tempo cerita di film Ngenest terdahulu diperbaiki dengan baik, setiap babak pada film memiliki porsi yang pas dan transisinya pun lebih masuk akal.

Jadi dalam film ini tidak akan ditemukan keburu-buruan di setengah jam terakhir seperti yang ada di film Ngenest. Semua resolusi masalah diselesaikan dengan tepat oleh Ernest.

Meskipun harus diakui peran Gisel di sini agak mengganggu, dengan akting yang kaku, membuat adegan mereka ketika berantem dan scene terakhir yang harusnya romantis di antara ernest dan gisel terasa plain dan painful to watch. Padahal Ernest sudah melempar umpan yang pas, namun Gisel gagal untuk meresponnya.

Seperti, apa sih motivasi Ernest harus balikan sama karakter cewek macem gini? Pengenalan dan pendalaman tokoh Gisel masih terlalu cetek di film ini. Seperti tempelan yang tidak ada pun tidak masalah.

Andai saja peran Gisel dengan ambisi dan kegalauan dirinya dieksekusi dengan baik, dan adegan curhat Gisel dengan Adinia bisa lebih intens, sudah pasti semua motivasi para karakter di cerita Cek Toko Sebelah saling terhubung satu sama lain.

Tetapi secara keseluruhan film ini sangat menghibur. Penambahan culture keturunan tiong hoa yang memiliki usaha di Indonesia pun hadir dengan smooth dan real. Tidak ada penceramah di sini, film ini hadir sebagai media hiburan untuk mereka yang membeli tiket.

Lewat film Cek Toko Sebelah, Ernest berhasil menghadirkan wajah minoritas dengan visual yang manis dan penceritaan yang jenaka. Menjadikan gap yang selama ini ada pelan-pelan luntur, dan pada akhirnya kita belajar bahwa kita enggak akan melulu mendapatkan apa yang kita mau. Namun kita akan mendapatkan yang terbaik for the sake of greater good.

Sudah pasti ke depannya saya akan menunggu film Ernest berikutnya.

Good job, Ernest!

Awkarin Naked

maxresdefault (2)

Diambil dari akun youtube Awkarin

So, if you are coming because of the title, let me tell you, you will get nothing.

Jadi dulu gue pernah nulis tentang fenomena Awkarin di blog gue. Gue tertarik nulis tentang dia karena saat itu Awkarin lagi beken-bekennya ketika buat video yang isinya Awkarin nangisin mantannya si Gaga pas mereka putus dan sepertinya semua orang bahas dia aja. (Elo bisa baca tulisannya di sini -> AWKARIN NANGISIN GAGA).

Trafficnya saat itu ke blog gue lumayan banget, tapi karena blog ini cuma ala kadarnya dan hanya untuk nuangin unek-unek di kepala sekali waktu. Jadi move on lah gue dari drama Awkarin dan jarang nulis lagi.

Lalu setelah setahun berlalu, di suatu malam gue iseng check daleman-delamean settingan blog dan riset keyword apa aja yang mampir ke blog gue. And guess what, ternyata gue menemukan sesuatu yang bikin gue kaget dan tergelitik.

Ternyata beberapa orang datang ke blog ini dengan keyword-keyword ajaib macem gini; awkarin naked, awkarin nude, awkarin sex, awkarin topeless.

Aje gile, ada ya orang yang kepo sampe segitunya. Padahal mereka tinggal buka di Instagram dan semua elemen kehidupan Awkarin yang paling mikroskopik sekalipun sudah doi pamerin di situ.

Screen Shot 2017-10-25 at 1.25.00 PM

Anyway, setelah setahun berlalu, hidup Awkarin masih diwarnai dengan drama dan kontroversi. Dia bergabung dengan management Takis Ent, berpacaran dengan managernya Oka, mengeluarkan single-single yang tak kalah sensasionalnya, Oka meninggal dan dia jadi pusat perhatian lagi karena banyaknya konspirasi yang terjadi setelahnya. Dia berantem sama Anya Geraldine. Dst, dst, dst. Enggak abis abis deh.

Sampai ya banyak banget petisi yang ingin banned Awkarin karena ia dianggap sebagai bad influence untuk generasi muda. Karena ya itu, tindakannya sering berkonotasi ‘nyeleneh’, jika tidak mau dibilang negatif.

Persepsi itu semua terjadi dikarenakan seringnya ia mempertontonkan kehidupan pergaulan malam yang sering ia update di media sosial, yang mana di Indonesia hal tersebut masih sangatlah tabu dan di cap sebagai aktivitas ‘nakal’ oleh sebagian orang yang ironisnya enggak pernah clubbing dan enggak tau bagaimana isinya seperti apa. Jadi judging itu pun hadir dari asumsi belaka yang ditempelkan begitu saja.

Awkarin juga rutin menghadirkan branding dirinya yang merokok dan minum-minuman alkohol di postingan media sosialnya. Yang mana itu adalah double trouble di pandangan mereka yang konservatif.

Julukan bad girl pun dengan kukuh ia tempelkan pada dirinya dengan kerap mengeluarkan kata-kata kasar di berbagai platform media sosial yang ditonton oleh banyak anak kecil dan remaja nanggung satu Indonesia. Karena demografis itulah yang jadi main followers dirinya.

Tapi yang paling fenomenal dan menuai banyak cibiran sebenarnya adalah tentang keberanian Awkarin untuk terbuka akan seksualitas dirinya lewat tubuhnya.

Menanggapi hal tersebut argumentasi gue setahun yang lalu jelas bahwa; she can do whatever she wants.

Karena itu badan dia, hidup dia, dan siapa sih yang enggak pernah melakukan kebodohan-kebodohan di masa muda dan berkata-kata kasar? So I thought why bother, just mind your business.

Tapi tunggu dulu, setelah gue addressing argument tersebut, banyak sekali komentar yang masuk dari teman-teman gue dan beberapa orang asing atas apa yang telah gue tulis.

Suara itu terbagi 3:

  1. Yang Kontra, karena mereka menganggap apa yang Awkarin pertontonkan dapat berpengaruh pada psikologis anak-anak yang masih di masa look up into someone, dan anak-anak itu melihat Awkarin sebagai panutan yang keren dengan campaign nakal boleh bego jangan. Atas hal tersebut dampak yang terjadi adalah banyaknya anak-anak kecil mempertontonkan aktivitas seksual mereka yang belum sepantasnya mereka lakukan di usia mereka. Juga trend berkata kasar pun marak terjadi. Ini dirasa menjadi degradasi moral bagi generasi yang akan datang.
  2. Yang Pro, mereka menganggap Awkarin sudah dewasa dan berhak melakukan apa pun yang dia mau. Dengan tubuhnya, dengan hidupnya, dan berpikir apa yang dilakukan Awkarin berada dalam batas wajar bagi benchmark pergaulan mereka.
  3. Yang biasa aja tapi kepo, mereka enggak mengiyakan apa yang Awkarin lakukan itu benar atau salah. Mereka hanya suka dengan drama yang ada.

Banyaknya masukan tersebut membuat kami berdiskusi, dan akhirnya setelah itu ada beberapa poin yang agaknya merubah pemikiran gue akan fenomena Awkarin ini.

  1. Gue sadar bahwa apa yang dihadirkan Awkarin bukanlah sesuatu yang idealnya ditonton oleh mereka yang belum kuat untuk memiliki filter mereka sendiri, bukan seperti kita yang sudah dewasa dan telah melalui fase pencarian jati diri. Anak-anak kecil dan remaja itu masih rentan akan pengaruh sana-sini, dan dengan nilai yang masyarakat dan orang tua kebanyakan buat menjadikan apa yang dihadirkan oleh Awkarin adalah sebuah kontra pada nilai sosial yang ada.

Tapi gue enggak setuju bahwa:

  • Dengan apa yang Awkarin tampilkan orang-orang bisa bebas untuk memberikan komentar kasar dan judging seenaknya gitu. Kadang, kata-kata yang para haters itu sampaikan tidak sesuai pada konteks dan lebih menyerang ke ranah pribadi. Hanya karena Awkarin perempuan, masa ia tidak boleh berkata kasar, clubbing, minum-minum alkohol, dan PDA? Lain cerita jika itu dilakukan oleh laki-laki. Pasti respon yang didapat tidak akan senegatif ini. Bias gender ini yang menurut gue tidak adil.

2. Peran orang tua menjadi sangat penting di sini, karena mereka lah yang akan menjadi konselor anak-anak mereka. Memberitahukan pada anak-anak tersebut mana yang bisa mereka contoh dan mana yang tidak. Tidak semena-mena semua kesalahan dititikberatkan pada Awkarin semata. Karena orang tua yang harusnya menumbuhkan filter dan melakukan pendekatan secara lebih dekat dalam mengontrol apa yang anak konsumsi di era informasi yang begitu cepat ini. Jika mereka diberikan smartphone dan akses internet, kontrol dan tanggung jawab menjadi dua arah. Komunikasi pun menjadi kuncinya. Jangan malu untuk bertanya pada anak tentang apa yang sedang trend di lingkungannya, dan terus aktif mempelajarinya.

3. Kita enggak lebih baik dari Awkarin.

Jadi stop untuk memberikan komentar-komentar jahat pada siapa pun yang kalian enggak suka. Ketika elo emang enggak suka, just ignore it. Karena toh jika kita tidak memberikan atensi berlebih pada hal-hal yang seperti itu lama-lama mereka akan hilang juga. They gonna be another one hit wonder dan orang-orang akan lupa setelahnya.

Tapi ya, siapa gue ya buat maksain pemikiran ini ke orang-orang. Jadi kalau yang gue tulis enggak sama dengan apa yang ada di otak elo. That is totally okay.  Tapi bukan berarti elo mendadak jadi manusia paling suci dengan modal ngomong astagpiruloh dan ngasih ayat-ayat suci di kolom komentar kemudian seenaknya judging hidup orang. NO WAY!

Karena gue percaya semua orang punya dosa mereka masing-masing, semua manusia bertanggung jawab dengan diri mereka sendiri, jadi ada baiknya untuk menunjuk ke diri sendiri dulu sebelum pointing finger dan teriak-teriak ke orang lain.

You know, just be nice. Have a nice day everyone 🙂

Twenty Something Life So Far…

Jangan pernah main-main dengan doamu.

Hal itu terlintas begitu saja, ketika hari Sabtu kemarin setelah pulang tengah malam dari acara farewell party seorang teman di Fat Shogun dengan kepala masih pening dan mengantuk, gue datang ke acara tasyakuran aqiqah anak sahabat gue di Bekasi.

Yes, gue harus menempuh dua jam perjalanan motor untuk sampai ke sana. Semua karena asas kepalang janji dan dia sudah kode-kode jauh-jauh hari untuk gue mendokumentasikan acara mereka.

Gue pun datang dengan berlinang keringat dan bau knalpot sesampainya di lokasi. Dengan terburu-buru gue menuju kamar teman gue untuk mendapatkan sedikit kesegaran tiupan dingin angin AC.

Saat gue membuka pintu kamar, gue melihat satu sosok bayi yang dikelilingi oleh anak-anak kecil. Mereka begitu gembira dengan acara ini, dan bayi tersebut seolah tak terusik dengan sekelilingnya.

Bayi itu anak teman gue yang akan segera menjalani prosesi potong rambut yang akan disaksikan oleh puluhan orang. Untuk menandakan bahwa orang tuanya bersyukur telah memiliki dirinya di dunia ini.

Acara yang mahal dan ribet, hemat gue.

Karena ini membuat banyak saudara jauh dan beberapa kenalan yang tidak enak hati datang untuk sesuatu yang bahkan person who become life at the party pun tidak sadar akan hal tersebut. Sepanjang acara tersebut sang bayi hanya tertidur pulas. Cuz he didn’t even ask for this kind of party. Trust me, keesokan harinya atau untuk seumur hidupnya mungkin peluang untuk mengingat ini semua sangatlah kecil.

Bahwa di masa lalu hidupnya di Sabtu sore di tahun 2017 saat Hollywood tengah diterpa skandal seksual para A-Listnya dengan Harvey Weinstein dan akhirnya tiga puluh ribu dokumen rahasia Amerika Serikat akan kejadian berdarah 65 di Indonesia dibuka untuk umum, di hari yang sama orang tuanya memotong dua kambing tak berdosa demi ritual adat yang diadopsi dari negara nun jauh di sana atas nama iman dan kelebihan uang.

Oh iya, jika dia perempuan hanya akan ada satu kambing yang akan disembelih untuknya.

Tapi apalah opini gue, gue cuma seorang tamu di kota asing yang datang untuk satu piring prasmanan dan beberapa sate kambing.

Acara berjalan khidmat, sahabat gue dan suaminya handle it nicely, meskipun ada beberapa momen yang bikin kagok karena mertuanya yang over dominated dan tanpa brief acara yang jelas.

Lagipula ini acara aqiqah pertama mereka. Jadi menurut gue wajar. Dan ketika ada ibu-ibu pengajian gengges yang sok ngatur, dengan judes gue jawab, “Relax, they know what they do. Just keep praying.”.

Gue hadir di sana, menyaksikan ritual tersebut hingga selesai. Mendokumentasikan segalanya. Faktanya bahkan dari mereka mulai berpacaran di tahun dua ribu sebelas. Enam tahun sudah gue mendokumentsikan hidup mereka. Kini mereka sudah menjadi orang tua.

Sahabat gue meminta untuk menggendong anaknya sebentar, I look at him, he still asleep. Hangat badannya menular di tangan, dan gue dapat melihat lubang kecil mulutnya saat menguap.

Processed with VSCO with 2 preset

Jujur, baby is not my thing. Dan menurut gue semua bayi sama aja, enggak ada yang lebih lucu dan enggak. Mungkin ada beberapa yang super lucu karena gen orang tuanya yang memang spesial. Namun semua bayi tetaplah sama. Mereka tak berdosa, seperti kanvas yang bersiap-siap untuk membuat gambar dan warna mereka sendiri di hidup mereka nanti.

Dan orang tua, dua orang yang akan begitu asing saat bayi itu menginjak remaja, dan akan ia rindukan saat mereka dewasa.

Hidup begitu lucu. Dan gue tanpa sadar ikut tersenyum saat tangan bayi tersebut menyentuh pipi gue. Matanya masih tertutup, namun ia dapat merasakan ada satu hati dingin yang menggendongnya.

Kita semua pernah berada di posisi bayi tersebut, menjadi tidak berdosa, tidak tahu apa-apa, dan melihat dunia dari mata kecil kita dan naifnya menelan bulat-bulat definisi orang tua kita.

Acara ini diisi begitu banyak doa dan panjatan puja puji akan harapan orang tua atas anak tersebut. Namun, apakah mereka akan mendengar harapan anak tersebut ketika nanti mereka bersebrangan?

Lamunan gue pun buyar saat orang tua sahabat gue datang menghampiri gue, gue memberikan kembali gendongan bayi itu.

Sebelum gue sempat permisi untuk keluar, Tante baik itu pun menanyakan suatu pertanyaan yang sekarang-sekarang ini gue malas untuk dengar. Bukan karena benci, namun ingin sekali bilang bahwa itu bukan urusan mereka.

“Kapan menyusul?”

Namun kali ini pertanyaannya bukan dalam bentuk kejahilan dan sindiran. Ada rasa tulus dari suaranya dan kekhawatiran yang murni ingin melihat gue berada di stage yang sama seperti sahabat gue.

Sayangnya, sebaik apa pun niat pertanyaan tersebut terlontar, gue masih tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bukan karena tidak ingin, namun rasa-rasanya gue tidak terlalu suka menjadikan semua adat, ritual agama, dan paradigma bias sosial mengikat gue.

Gue masih orang yang seperti itu. Dan tentu saja karena belum ada yang mau juga sama gue.

Biarlah, jawaban itu gue simpan sendiri. Gue berjalan menjauh dan memberikan senyuman sebagai tanda akan jawaban tersebut. Mereka yang mengenal gue pasti paham akan konsep gue tentang komitmen dan tetek bengeknya, mahal dan ribet.

Dan di umur gue yang sekarang, gue menyukai kesederhaan hidup gue. Gue cukup berbahagia dengan itu untungnya.

Gue masih teringat di tahun 2011 kala itu, sahabat gue sudah merencanakan detail masa depannya akan bagaimana ia menikah nanti, seperti apa acara ulang tahun anaknya. Dan satu persatu semua detail tersebut menjadi nyata.

Gue pun ikut berdoa juga, dalam doa di tahun 2011 itu, gue meminta atas apa yang gue punya di usia dua puluhan gue sekarang. Alhamdulilah semuanya pun sesuai dengan doa gue.

Gue tengah berada di kondisi saat gue bisa mencintai seseorang dengan begitu tulus dan tanpa syarat. Dan gue menemukannya, dalam diri gue sendiri.