Sepotong Jakarta Sore Itu

Mungkin banyak dari warga Jakarta yang sedang merayakan indahnya sore Jakarta dengan meng-unggah foto-foto Jakarta di kala sore. Dengan semburat oranye di langit dan pendar cahaya terang menimpa gedung-gedung pencakar langit membentuk siluet menjulang.

Indah. Tenang. Dan kesemuanya menimbulkan perasaan baik-baik saja.

Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan hari ini, bahwa waktu terlalu sayang dibuang hanya untuk sekadar bermuram pada kesedihan.

Saya suka Jakarta dan semilir anginnya di sore hari.

Jakarta yang menunjukkan kehangatan kota besarnya, dapat saya maknai dan rasakan dalam diam. Menatap ke seluruh penjuru depan kantor yang berisi lalu lalang kendaran dan orang-orang yang bergegas pulang. Rutinitas yang beberapa jam lagi akan saya lakukan, dan mungkin akan ada satu orang nanti yang juga mengamati sama seperti saya.

Karena Jakarta akan selalu seperti itu.

Terkadang ia memiliki sifatnya yang menyebalkan, dengan macet, cuaca buruknya dan harganya yang mahal. Namun tak ayal, ia dapat membuat siapa pun di dalamnya tersipu malu atau bahkan tersenyum girang.

Romantisme dalam tiap tapaknya dapat ditemukan lewat bisikan-bisikan yang tersimpan rapat oleh kenangan atau rahasia-rahasia yang dalam-dalam coba disembunyikan.

Semua terukir di Jakarta.

Bahkan untuk warna ungu dilangit yang seperti karamel manis, yang dulu kau bagi dengan si dia yang menciummu dan mengucapkan manisan kata-kata cinta. Kamu bahagia. Meski sekarang si dia dengan yang lain.

Tapi manisnya tetap kamu simpan, dan itu sesekali cukup untuk dibagi saat Jakarta secantik sore ini. Meski hanya sendiri. Karena Jakarta cukup luas untuk kamu sendiri.

Dan semua tidak akan pernah berubah. Kamu tetap secantik dulu seperti saat dia puja siang dan malam.

Dan ini sepontong senja Jakarta untuk kamu nikmati.

13403967_10210241655664692_8173178584319072795_o

 

Eat, Drink, Man, Woman: Kehangatan dan Kelezatan Kasih Sayang Ayah

eat-drink-man-woman_poster_goldposter_com_9-jpg0o_0l_400w_70q

Ang Lee memang tidak pernah sembarangan dalam membuat film. Terbukti film besutannya di tahun 1994 ini benar-benar menggambarkan dirinya sebagai pencerita ulung dengan simbol-simbol visual yang menggetarkan.

Eat, drink, man, woman adalah gambaran dasar seorang manusia. Kita semua lahir dengan naluri makan dan bercinta. Dan film ini mengangkat dua tema besar itu: Makanan dan Cinta.

Sepanjang film, dengan sabar Ang Lee menggambarkan kekakuan seorang Ayah dan tiga putrinya. Semua aksi-reaksinya ternarasikan dengan sangat nyata lewat keheningan dan jarak kamera. Ditambah dengan kepiawaian gerakan dan emosi yang sangat luwes dibuat oleh para pemainnya membuat kita yang menyaksikan film ini seperti dibawa masuk ke dalam pintu rumah mereka dan seolah menyaksikan scene tiap scene-nya secara langsung.

Kegetiran masing-masing tokoh juga sangat tajam ditampilkan, seperti kecemasan ketiga anak perempuan yang hidup ‘rawan’ dengan standar sosial budaya Cina yang tidak jauh-jauh dari masalah perkawinan. Drama percintaan masing-masing anak perempuan dikisahkan dengan mood yang berbeda-beda. Kontras dari perawan tua, perempuan mandiri, dan cewek remaja alurnya sangat nyaman untuk diikuti. Meskipun akhirnya toh masing-masing mendapatkan cinta. Yang untungnya bukan sekadar kebutuhan, namun pelengkap yang batin.

Makanan dalam film ini pun tidak serta merta sebagai pemanis visual atau tempelan di awal saja. Melainkan sangat detail dan otentik. Terkukuhkan sebagai kendaraan dan saluran komunikasi antar masing-masing karakter. Sebagaimana pembahasa emosi seorang Master Chef Chu yang kehilangan indra pengecapnya, juga keringkuhan dirinya atas tiap-tiap pengumuman di tiap tradisi makan malam besar keluarga bersama ketiga putrinya setiap hari Minggu.

vlcsnap-dinner-girls

Yang terbaik, ironi dalam konflik di akhir film tidak saja membuat film ini menjadi sebuah romansa melankoli drama keluarga tok. Tetapi juga sebagai potret jujur dari kebanyakan hubungan Ayah dan anak yang membeku terhalang umur dan perbedaan. Tapi tetap kita tidak kehilangan rasa manisnya yang berlebihan.

Karena sejatinya dari film ini kita dapat melihat bahwa; tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayang seorang pria, seperti kasih sayang seorang Ayah pada putrinya.

Dan, seperti apa yang dikatakan Master Chef Chu, hidup bukanlah seperti memasak yang harus menunggu banyak hal datang. Namun yang terpenting adalah tentang rasa dari isi hidup itu sendiri.

Film ini menjadi film ‘makanan’ favorit saya sejauh ini. Saya rekomendasikan ditonton bersama Ayah atau putri Anda sambil menyantap bebek peking dan dimsum panas bersama-sama. Rasa-rasanya akan menyenangkan.

Tentang Satu Orang Asing di Kereta

Kala itu saya pernah berfikir bahwa manusia bergerak tiap harinya karena rasa takut.

Karena dengan rasa takut, seseorang ‘dipaksa’ untuk berusaha sebaik mungkin agar tidak tereliminasi dalam suatu sistem. Pekerjaan, komitmen, atau bahkan kehidupan.

Sehingga setiap harinya, manusia ditekan baik secara sadar maupun tidak untuk berkompetisi dengan yang lain.

Namun yang baru saya sadari, lambat laun karena semakin beratnya kompetisi itu, rasa takut tersebut kian lama menjelma menjadi sebuah ketakutan.

Perlu digaris bawahi bahwa rasa takut dan ketakutan adalah dua hal yang berbeda. Rasa takut pada dasarnya cenderung membuat orang menjadi lebih kreatif dan berfikir untuk membuat solusi. Sedangkan ketakutan, hanya akan menjadikan seseorang paranoid. Begitu jelas bahwa ketakutan dibangun berdasarkan ketidakpercayaan diri dan asumsi kosong belaka.

Itu yang menurut saya sangat berbahaya.

Blue Monday is a name given to a day in January (typically the third Monday of the month) reported to be the most depressing day of the year and January the worst month for suicides, it’s always good to talk but even better to listen. – @mssechan

 

Setiap harinya, percaya atau tidak, saya berangkat bekerja dengan perasaan ‘ketakutan’ itu. Bahwa saya tidak cukup baik dalam bekerja, bahwa saya tidak cukup pintar, bahwa saya selalu membuat kesalahan. Kemudian ditambah dengan pikiran, ‘kalau dipecat nanti cicilan bagaiamana’, ‘aduh, hutang kartu kredit belum lunas’, ‘nanti bayar internet bagaimana’. Semua pikiran negatif bergumul menjadi satu dan akhirnya menuntun saya pada suatu depresi yang bahkan saya tidak sadari sebelumnya.

Kebanyakan orang di Indonesia masih belum menyadari bahwa diri mereka sedang dilanda depresi. Yang mereka tahu, apa pun yang terjadi selama badan masih bisa bangun, mereka harus menyeret badan mereka menuju sistem yang bahkan dari awal mereka tahu mereka akan kalah. But they are keep doing it.

Termasuk saya.

Tiap harinya saya seperti orang tersesat yang kehilangan semangat dalam melakukan apa pun. Saya seperti hanya ingin tenggelam dalam kubangan perasaan kalah dan tidak ingin bangun lagi.

Berbulan-bulan saya menekan perasaan itu, dan keadaan tidak menjadi lebih baik.

Apa yang salah?

Depresi bukan sebatas rasa malas atau muram durja kesedihan yang seperti digampangkan orang-orang. Depresi layaknya penyakit lainnya. Ia menyerang seseorang dan membuat penderitanya lumpuh. Mungkin tidak terlalu kentara pada fisiknya. Namun jiwa kosong dan berbagai ketakutan itu menjadi bola salju yang mereka gopong tiap hari.

Dan satu senyuman dan ucapan terima kasih dari satu orang asing di kereta, terkadang membebaskan. Meskipun sebentar. Meskipun samar-samar. Namun kehangatannya tetap menempal sama.

2 AM Thought

When your mind speak louder and you cannot sleep then you become ‘sok filosofis’. #padahalbesokkerjapagi

Ada banyak momen di penguhujung tahun ini yang ngebuat gue agaknya seperti diam sejenak, lalu tertawa pahit. Men, I’m old.

Tahun 2017 ini gue akan berumur 27 tahun.

Angka keramat yang kalo di film 3 hari untuk selamanya, si Yusuf bilang adalah umur di mana seluruh semesta elo diobok-obok terus elo muntah dan diliatin deh tuh apa aja yg udah dilaluin sepanjang 27 tahun itu.

For some people pasti ada yg nyeletuk; ‘yaelah masih muda kali baru 27’ atau ‘sudah tua loh elo harus udah serius, nikah gih’.

Asli, bawaannya pengen gue toyor orang-orang macem gitu. Bukan hanya karena mereka sok tahu, mereka juga dengan enaknya mengenerelisasi hanya berdasarkan opini tunggal dari pengalaman mereka aja. Coy, ngane siapa berhak nentuin nasib orang?

For me, gue percaya hidup yang cuma sekali ini layak banget untuk diapresiasi. Untuk dijalankan to the fullest dan semoga berguna bagi orang lain.

Gue bangga sekaligus sedih dengan apa yg orang tua gue udah kasih ke gue. Mereka bekerja begitu keras agar anak-anaknya sekolah dan bisa makan layak. Tapi semua itu harus mereka bayar mahal dengan ngorbanin mimpi dan kebahagiaan mereka sendiri.

Mungkin orang tua gue tidak mengenal konsep YOLO seperti milenial sekarang. Orang tua gue berpedoman; biar susah sekarang tapi anak jangan sampai seperti mereka. Itu yang membuat mereka bangun tiap paginya meskipun badan mereka sudah ringsek karena capek kerja.

Ditambah lagi mereka juga harus memendam hasrat hidup mereka. Menertawakan mimpi lama mereka yg terasa tak masuk akal. Dan menjalani hari hanya untuk orang lain. Bukan diri mereka sendiri.

Apa yg mereka lakukan adalah hal yg mulia banget.

Tapi, sejujurnya gue enggak mau hidup seperti itu. Gue enggak mau hidup untuk orang lain.

I have a dream and I want to make it happen. Some people will call me selfish. Tapi buat gue, ini adalah alasan utama mengapa gue hidup. I want to make a change. Gue mau berkarya. Meskipun akan butuh waktu lama untuk sampai di titik sana. Tapi gue enggak akan menyerah.

Saat elo bilang gagasan itu semua ke khalayak umum. Yang elo dapet pasti cemooh dan terkadang penghakiman. Ini yang agaknya kurang gue suka dengan konsep sosial di masyarakat saat ini yg sangat memenjarakan hak privat seseorang dan tidak mendukung kesetaraan hak pribadi. I mean if they want to be “mentingin karir dibanding yg lain” just let them be. Enggak perlu usil dengan hal-hal yg memberatkan. Hidup orang udah susah. Kalo ga bisa bantu, minimal jangan bikin pusing.

Terlepas dari permasalahan sosial, masalah dalam hidup juga kerap kali muncul dalam diri sendiri. Dalam bentuk ego, nafsu konsumtif, rasa malas dan kekosongan diri.

Bagaimana mau berkomitmen, jika membuat bahagia diri sendiri saja enggak bisa.

Beratnya hidup di norma masyarakat, hausnya pengakuan dari orang lain, dan terjerat akan ego sendiri sepertinya masalah yang harus diputus di 2017 ini. Karena saat gue membuat projection keuangan selama setahun. Gue tertawa pilu. Melihat deretan angka yg harus dicari, dikeluarkan, disimpan. Gua takjub dengan kondisi bahwa angka-angka ini yang mewakili gue. Ini adalah track record atas pilihan-pilihan gue. Tenyata gue sendiri terjebak atas standar ini.

Ini salah siapa? Ya salah gue sendiri. Karena terlalu lama berkutat dengan definisi-defisini orang lain yang enggak sesuai dengan tujuan awal gue.

Dan gue ingin menyudahi itu semua. Gue ingin terlepas dari ego untuk terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Ingin tampil lebih di mata orang lain. Gue tidak mau lagi hidup atas dasar definisi itu. I don’t need to impress anyone anymore, or buying stuff that just to makes me feel belong to some click or something. Nope. I’m done with that.

Jika hidup diibaratkan seperti traveling. Elo semua bisa liat, ada banyak orang yg sampai mati akan mengkotak-kotakan; elo tim backpacker, elo tim koper, elo tim apalah. Padahal ya, yaudah aja. Jalan-jalan ya buat nyenengin diri sendiri. Bukan terperangkap pada struktur yg dibuat orang lain. Elo harus coba ini, elo harus bawa ini, elo ga boleh ini, etc. Elo fokus pada teknis dan melupakan substansi kesenangan traveling itu sendiri.

Karena pada akhirnya, inti dari sebuah perjalanan buat gue adalah tentang pengalamannya, tentang prosesnya. Mau kemanapun destinasinya. We can learn from anywhere.

Begitu pun juga hidup. Setidaknya buat gue.

Emotional Relation

emotion-brain-marketing-communication

A quick note sebelum pulang kerja, tadi baru saja saya dapat sharing insight data dari brandz. BrandZ is Millward Brown’s brand equity database. Doi yang biasa ngeluarin data list brand-brand kece apa aja yang ada di dunia. Termasuk Indonesia.

Dari 50 brand paling penting di Indonesia, secara garis besar perbankan masih menduduki peringkat atas, 7 perusahaan rokok masuk di dalamnya (yang kata doi, ini unik banget, karena cuma ada di Indonesia perusahan rokok bisa masuk daftar ini, dan ada 7 pula), kemudian bisnis FMCG.

Secara notabene 50 perusahaan tersebut adalah perusahaan dengan bisnis tertua yang memang sudah running sejak lama. Menarik bahwa ini mengukuhkan bahwa sebuah bisnis tidak hanya harus trending sesaat saja namun penting sekali untuk melihat sustainability-nya.

Kemudian, Brandz memaparkan learning point apa saja yang bisa didapatkan dari success story bisnis-bisnis tersebut.

Kurang lebihnya seperti ini:

1. Dalam sebuah brand penting sekali untuk memberikan meaning kepada customernya. Berikan alasan kuat mengapa orang-orang harus membeli/memakai brand tersebut dibanding yang lain.

2. A good story yang related dengan customer selalu berhasil membuat orang jatuh hati pada suatu brand. Dengan pendekatan personal yang menggugah hati akan membuat orang membeli/memakai brand tersebut.

3.  Buat sesuatu yang inovatif dan pesannya terkomunikasikan dengan baik pada customer.

4. Brand harus bisa meyakinkan customernya bahwa mereka akan memberikan banyak keuntungan pada penggunanya.

5. Bangun kepercayaan dan keamanan customer saat membeli/memakai produk dari brand.

6. Gimmick marketing yang kece dan berhasil membuat top of mind di banyak customer juga akan membuat sukses sebuah brand.

Dari situ saya berfikir bahwa kunci dari kesuksesan sebuah brand adalah bagaimana sebuah brand berhasil menggaet customer dengan emotional relation. Karena pendekatan yang dipakai tidak lagi berbasis ekonomi, tapi personal. Di mana mereka diperlakukan bukan lagi sebagai outsider yang diambil uangnya, melainkan sebagai seorang keluarga yang menjadi bagian dari brand itu sendiri.

Pelajaran penting sekali hari ini, bahwa mau secanggih apa pun brand secara teknologi. Peran komunikasi, story telling, dan customer service menjadi vital. Karena di sanalah kunci untuk membangun koneksi dan kepercayaan seseorang yang pada akhirnya akan memutuskan untuk membeli/memakai brand kita nantinya.

Pahitnya Kolom Komentar

d54ab10f6ef5d9b8f8b209386f0effdd4ac9364f_hq.gif

Untuk saya yang bekerja di dunia digital, khususnya di social media. Bukan lagi hal asing untuk menghabiskan waktu berjam-jam mengamati tren terkini di berbagai kanal media sosial. Penting untuk saya mengikuti perkembangan demi perkembangan akan suatu berita maupun kasus yang akhirnya diperbincangkan oleh banyak orang, yang kini kemudian disebut viral dan berakhir menjadi suatu meme. Kebanyakan lucu, tapi sekarang sudah agak berkurang lucunya.

Menarik sekali bahwa media sosial yang tadinya berfungsi untuk pelarian dari kehidupan nyata. Untuk sekadar bersenang-senang; seperti sarana berkomunikasi dengan teman yang sudah lama tak bertemu, tempat rentetan update status akan curahan hati terkini, juga praktik baru dalam berbagi album foto-foto liburan dengan tagging massal, atau sekadar untuk berjualan handphone dan baju. Mendadak berevolusi menjadi arena untuk menyebar hate speech dan hoax (berita tidak benar).

Mengapa kita semua sampai di titik ini?

Saya tidak punya teori khusus, secara bebas saya pribadi berhipotesa bahwasanya fenomena ini terjadi karena pada dasarnya people love attention. Pun media sosial hadir atas dasar itu.

Karena di media sosial kita dapat mengukur secara langsung respon dan sentimen seseorang akan berita/kabar tertentu dengan cepat. Sekali posting, dalam detik berikutnya kita dapat mengetahui siapa saja yang menyukai posting tersebut. Orang berkomentar apa, dan sebagainya.

Itu sebabnya media sosial membuat orang haus dan berlomba-lomba mendapatkan like, share, dan komentar dari banyak orang. Popularitas semu itulah yang mendorong impian terpendam seseorang menjadi selebritas bisalah kini tersalurkan di media sosial. Dalam dunia media sosial, orang bebas untuk menjadi apa pun.

Kebebasan itulah yang terkadang membuat media sosial menjadi tidak terfilter. Pola yang terdahulu di mana seseorang mencari berita/kabar terkini, sekarang berganti menjadi berita/kabar yang mendatangi seseorang. Pada akhirnya kita mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita tau.

Di sanalah, ranah publik dan privat menjadi bias, bahkan cenderung hilang.

Karena orang-orang berfikir yang sudah ada di linimasa adalah sesuatu yang bersifat umum. Fenomena itu yang kini membuat kolom komentar menjadi ladang bebas kebanyakan orang yang merasa ‘memiliki hak’ berpendapat akan apa pun yang muncul di lini masa mereka. Orang-orang di media sosial kini tak lagi menghargai privasi seseorang, dalam bentuk apa pun.

Kolom komentar saat ini kebanyakan disesaki oleh  keganasan, kebengisan, dan kebebalan dari kepribadian seseorang dalam bentuk kata-kata. Kesopanan dalam berkomunikasi pun seolah tidak diperlukan, karena mungkin mereka berfikir; ‘Ini online juga, enggak tatap langsung, enggak akan ketemu orangnya juga.’

Alih-alih berpendapat sesuai konteks, kebanyakan orang cenderung untuk menyerang secara SARA dan jumping into conclusion. Logical fallacy atau kesalahan berfikir kerap kali ditemukan pada tiap topik yang memang membutuhkan analisis tajam dan referensi lebih. Dengan berbekal googling saja, mendadak orang-orang bertransformasi menjadi polisi moral, ahli kitab, dan kompeten akan banyak hal.

Dengan dorongan dan modal pemikiran, akun aing terserah aing. Seseorang lupa bahwa, aktivitas yang terjadi di media sosial tak ubahnya apa yang terjadi di dunia nyata. Bentuk komunikasi dalam bentuk unggahan foto, komentar, update status yang menyinggung seseorang, it is still hurt people. Luka tetaplah luka.

Maka tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa, kolam komentar adalah gambaran tergelap kepribadian seseorang. Karena jika ingin melihat hilangnya kemanusiaan dalam diri manusia, kolom komentar bisa jadi referensi terkini akan situasi tersebut.

Rentetan akan kebebasan berpendapat yang kebablasan dan atensi banal berlebih dari banyak orang, yang menurut saya membuat hate speech dan hoax menjadi subur berkeliaran menjadi viral di media sosial saat ini.

Saya teringat wawancara Kris Jenner di E! Online di suatu waktu, dia pernah bilang kurang lebihnya: ‘Di saat sekarang, berikan seseorang keyboard, dan mereka bisa membuat ucapan paling mengerikan di dunia ini.’

I’m not a big fan of Kardashian family, tapi kali ini saya mengamini apa yang Kris Jenner ucapkan. Mungkin itu adalah gambaran terdekat dari realitas kehidupan masyarakat online saat ini.

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

A Biggest Problem of Modern People

1-djdiSQjlcc9nGIgw18aqPg.jpeg

Menurut saya akar permasalahan yang sering terjadi di dunia modern saat ini adalah gagalnya komunikasi satu sama lain.

Baik itu dalam skala personal maupun profesional. Komunikasi diganyang sebagai suatu issue yang menghambat performa seseorang maupun dalam kesatuan tim.

Dasarnya komunikasi adalah jalinan umpan balik, a conversation antara satu orang dengan yang lain dengan membawa satu pesan yang akhirnya sama-sama dipahami.

It is about how you delivere the message.

Namun terkadang, skill komunikasi seseorang terhambat pada keengganan seseorang untuk mengolah pesan terlebih dulu. Ada ego sebesar bulan yang membuat mereka merasa superior dibanding lawan bicaranya.

Alih-alih memahami, kebanyakan orang memilih berkoar paling keras seolah dia yang paling paham sabab musababnya. Parahnya lagi, paling tahu solusinya. Dan cacatnya logika pun semakin subur keluar dari mulutnya.

Skema sederhananya, mulut mereka terbuka lebih dulu sebelum otak mereka berfikir.

Menurut saya, di situlah di mana kebodohan itu hadir. Ketika tidak ada satu pun saraf dalam otak manusia tersebut berupaya untuk menghela nafas sejenak, for one or two second, kemudian membaca ulang pesan yang ia dapatkan, mencernanya then comes up dengan buah fikiran berupa pilihan respon terbaik apa yang dapat mereka utarakan.

Karena some people say, mulutmu harimaumu. Sekali berucap, you can’t take back your word, it is include your stupidity.

Saya menulis ini bukan karena saya peduli dengan skill komunikasi satu orang — I’m pointed to someone who was bumped into me with a zero skill of communication and shouted toward me like that person knows how to deal the problem. Instead solve the issue, that person just shows how stupid that person can be.

Dalam seni komunikasi pun diajarkan agar kita lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena dengan mendengar tanpa terburu-buru merespon seseorang, kita dapat mengetahui sebuah informasi baru. Di kasus ini adalah, kebodohan seseorang.

You can laughed afterwards, right on that person face or some secret chat room.

Setidaknya saya belajar sesuatu hari itu, dalam terjalinnya komunikasi ada kalanya lebih baik kita diam dan mengalah. Membiarkan imajinasi tumpul seseorang mengokoh dan menjelma menjadi stupa kebodohan yang menjeratnya dalam suatu kebiasan.

THE 7 HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE BY STEPHEN COVEY

the_7_habits_of_highly_effective_people

Bos gue sering banget share link atau video keren tentang hal yang dapat memotivasi gue sebagai karyawannya. Baik itu improving secara teknis, maupun as a person. Karena gue suka baca, I found this is very useful for me.

Kali ini dia share tentang 7 kebiasan yang akan membuat seseorang menjadi lebih efektif. I’ll share to you guys. Kalian bisa cek di sini untuk video komplitnya -> https://www.youtube.com/watch?v=ktl…

Nah, video ini ngejawab banget tindakan apa yang harus gue lakukan untuk berhasil dalam menyelesaikan suatu masalah pribadi maupun dalam pekerjaan. Dan personally buat gue, ini berhasil membuat gue untuk lebih chill jika ada masalah menghadang.

Karena harus gue akui, as a control freak. Gue bisa rese’ dan down banget ketika gue gagal dalam mengontrol hal yang gue pikir bisa gue kontrol dan selesaikan dengan baik. Masih mending jika berhasil. Lah, kalau gagal? Perasaan destruktif akan menghantui gue sampai ke mimpi.

Nah, video ini ngejawab banget tindakan apa yang harus gue lakukan misalkan gue ingin berhasil dalam menyelesaikan suatu masalah pribadi maupun dalam pekerjaan.

Pertama, Be a proactive.

Di video itu dijelaskan bahwa reaksi wajar seseorang ketika mengalami perubahan dan mengakibatkan kegagalan dalam dirinya adalah complaining. Tapi yang membuat complaining itu salah, adalah ketika kita hanya berfokus pada menyalahkan hal jelek yang terjadi dalam diri kita ke orang lain, dibanding berusaha untuk memperbaiki apa yang dapat kita lakukan dalam masalah tersebut. Fair enough dong. Daripada energi kita habis untuk mengutuki orang lain, lebih baik mencari solusi dan keluar dari masalah.

Kedua, Begin with the end of mind.

Ini penting banget menurut gue, karena ini masalah attitude dalam karakter dan kualitas seseorang. Ada jenis orang yang ia bicarakan berbeda dengan apa yang ia kerjakan. Lalu, ada juga tipe orang yang memang sinergis antara apa yang ia bicarakan dan lakukan. Dan itu memang sesuatu yang tidak mudah.

Di video tersebut dicontohkan bahwa, banyak dari kita ingin sehat, instead ke gym kita lebih memilih untuk bersantai di rumah (ini gue banget sih). Kenapa itu terjadi? Karena kegagalan diri kita untuk melihat sosok seperti apa yang ingin kia lihat dalam diri sendiri.

Ketiga, Put first thing first.

Ini penting. Karena jika kita sudah stick pada will kita, maka dalam perbuatan biasanya akan sama. Dan be consistent with it. Membuat prioritas adalah hal paling utama di sini. Thats my friend, is the hardest part. Maka ada baiknya, kita sudah tau untuk menjadi apa diri kita nantinya, dan mentransformasikan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Jika elo ingin diingat sebagai Ayah dan Suami yang baik, tindakan yang elo harus lakukan, haruslah mencermikan sikap Ayah dan Suami yang baik.

Keempat, Think win-win.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwasanya strategi dalam mencapai kesuksesan, tidak melulu tentang mengeleminasi seseorang. Dengan bersikap positif dalam kompetisi dan tetap mengedepankan kualitas diri sendiri, merupakan cara yang gentlemen untuk memenangkan pertandingan.

Ini tamparan buat gue sih, karena gue anaknya nyinyir parah. Kalau ada film atau novel bagus yang enggak satu selera sama gue, gue bakal bereaksi seperti: “Dih, apa sih isi ceritanya begitu doang. Ngabisin waktu tau enggak sih baca/nonton itu. Logika ceritaya ngaco!”

Hahaha berasa paling jago sedunia. Padahal, itu semua salah. Karena dari video tersebut, when you do good, good thing always follow.

Kelima, Seek first to understand, then to be understood.

Never complaint, no one cares with your hard work. Let your success speak louder. Period. Fokuskan pada pengembangan diri ataupun pekerjaan yang dapat memberikan value lebih ke orang lain.

Keenam, Synergize.

Basi sih, tapi kadang ini bisa ngebantu banget. Dengan melakukan bersama-sama, semua hal jadi terasa lebih mudah. Dan memang tidak bisa dilakukan dengan banyak orang. But, at least, elo tau, dengan bekerjasama dengan orang yang tepat. Elo bisa dapat lebih banyak dari yang elo mau.

Ketujuh, Sharpen the saw.

Ini langkah paling penting menurut gue dari kesemuanya. Semua hal, baik itu masalah, kemampuan, apa pun itu. Akan jadi lebih mudah dan elo bisa jadi lebih jago, jika kita terus mengasahnya bukan?

Kurang lebih pelajaran ini yang gue dapatkan dari melihat video tersebut. I haven’t read the book, yet. Tapi gue merasakan sensasi yang berbeda setelah menontonnya berulang-ulang. Gue sekarang tau bahwasanya, terkadang dalam mencapai sesuatu elo tidak hanya membutuhkan tenaga dan semangat. Namun juga strategi. Dan kadang dalam strategi tersebut elo butuh untuk mengenal diri elo sendiri dan kemampuan yang elo punya.

Karena dengan elo memiliki itu semua, elo bisa dapetin apa yang elo mau. Some people say, when you can defeat your ego, thats the day when you win something.

Hope it helps!

Pulang

screen-shot-2016-12-11-at-2-13-05-am

Sepi bukan tamu yang baik. Ia tidak datang dengan permisi. Ia datang tiba-tiba, di Jumat malam disaat jalanan Jakarta macetnya bak neraka. Semua orang berlomba-lomba untuk mendatangi satu cafe, atau bar, atau hotel untuk berpeluh kesah dengan sahabat atau pasangan.

Tapi tidak bagi Sara. Hanya satu yang diinginkannya detik itu.

Pulang ke kosannya.

Ia sudah membayangkan tidur-tiduran di bawah AC, menikmati pedasnya empek-empek sendirian sambil menonton series maraton hingga pagi hari.

Sambil menunggu ojek online-nya datang, Sara bergabung dengan banyak karyawan lainnya di lobi bawah menanti sang driver untuk menjemput mereka.

Setidaknya kali ini ia tidak dikelilingi rasa sendiri yang menikam pelan di balik handphonenya yang kini sepi oleh pesan-pesan singkat yang dulu sering menanyakannya; kapan ia pulang, makan dimana nanti, atau hanya sekadar ucapan hati-hati di jalan. Pikir Sara.

Ia mulai gelisah dan perlahan menggigit ujung sedotan ditangannya. Kebiasaan tersebut akan refleks ia lakukan jika ia sedang takut, gelisah, maupun marah. Entah perasaan mana yang ia rasakan sekarang. Ia pun memutuskan untuk mematikan handphonenya. Namun sebelum ia sempat mencapai tombol power, ada sebuah panggilan masuk.

Dari ibu.

Sara mengangkat telfon tersebut dengan malas. Hal yang paling ia tidak suka dari Ibunya adalah ia tidak suka ditolak. Yang berarti jika detik ini si Ibu memintanya untuk ia bergegas naik taxi dan pulang ke rumah dan menjaga si adik yang dengan mati-matian ia coba hindari, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Ia harus langsung pulang. Sekarang. Sesegera mungkin. Konsep yang ia tidak suka selama beberapa tahun terakhir.

Ia membayangkan melewati macet yang teramat tidak masuk akal, ia menembus jalanan Sudirman menuju Rawamangun. Rumah lamanya.

Tempat yang dulu pernah ia sebut rumah.

Tempat pertama kali ia membawa pulang mantan pacarnya dan memperkenalkannya pada Ibu dan adiknya. Ia kembali teringat laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata malah berpacaran dengan adiknya.

Kembali ia menggerutu dan menggigit sedotannya.

Benci mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Sara terhadap adiknya Sena. Entahlah, jika ada kata yang tepat untuk menggambarkan kekesalan, perasaan kecewa, marah, tertipu, terkhianati berkumpul menjadi satu.

Sena.

Sena si cantik, Sena si berbadan lebih langsing dibanding dirinya, Sena yang selalu menarik dikalangan laki-laki. Sena, adiknya sendiri, yang dengan sengaja mengiyakan ajakan pacarnya untuk berpacaran. Kemudian menikah hanya dalam hitungan empat bulan.

Sedangkan saat bersamanya, ia butuh waktu setahun untuk si laki-laki brengsek itu mau datang ke rumah bertemu dengan orang tuanya.

Brengsek. Ucapnya kesal. Mungkin agak terlalu keras hingga beberapa orang menatapnya bingung.

‘Ada apa sih? Memang suaminya ke mana?’ tanya Sara kesal.

‘Tabrakan, Kak. Koma. Kamu ke rumah ya. Kasihan, sedang hamil pula. Mamah masih di rumah sakit ngurus bareng papah.’

Setelah kalimat itu usai, Sara mencoba mencernanya secara perlahan. Menit kemudian, driver ojek onlinenya datang, dan dia mengganti destinationnya ke arah Rawamangun.

Ketika sampai di depan gerbang rumahnya, si adik menyambutnya dengan tatapan sedang-apa-kau-disini? Mereka hanya bertatapan beberapa detik, kemudian Sara memilih masuk ke kamarnya. Tanpa menyapa Sena.

Ia menatap ke sekeliling ke kamar lamanya. Ia masih melihat foto-foto semasa ia remaja sampai kuliah. Beberapa buku yang dulu ia baca di pojok kamarnya sambil melihat keluar. Lalu sampailah ia pada tumpukan cd dan kaset usangnya. Masa di mana memutar kaset dan cd adalah cara umum untuk menikmati sebuah musik.

Ia tersenyum sendiri saat melihat label-label pada deretan cd dan kasetnya.

Seleksi sebelum berangkat sekolah. Seleksi minggu sore. Seleksi patah hati.

Tangannya pun menarik satu kaset dalam seleksi patah hati dan menaruhnya di dalam walkman di sampingnya. Ia masukkan baterai cadangan yang tercecer di kotak sebelahnya.

Awalnya agak tersedat sedikit, namun ia dapat mendengar alunan musik masuk ke kedua telinganya.

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best

Akumulasi patah hati dan kesendiriannya menggerakannya untuk menyanyikan lagu tersebut. Lebih tepatnya menjerit-jerit.

Entah dari mana datangnya, air mata membasahi seluruh wajahnya, dadanya terlalu sesak dengan memori masa lalu. Ia terus berteriak hingga ia lupa bahwa Sena telah berada di belakangnya. Mengamatinya sedari tadi ketika Sara mulai mengganti fungsi sisir menjadi mikrofon khayalannya.

Sara membalikkan badannya, kemudian ada jeda beberapa detik diantara mereka. Tanpa perhitungan yang pas ia bergegas menuju adiknya. Berhamburan memeluknya.

Tidak pernah ia seintim ini dengan Sena. Tidak pernah sekalipun ia memikirkan hal tersebut.

‘Saya takut ia meninggal, saya takut kamu sendirian. Sendirian itu enggak enak.’ Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil ia menangis sesegukan.

Sena terdiam. Beberapa detik tanpa reaksi. Sara terus melanjutkan tangisannya.

‘Maafkan saya. Untuk semuanya,’ ucap Sena pelan. Ia membelai rambut Sara dan membalas pelukan kakaknya.

Sara terus menangis, yang entah mengapa ia tidak bisa untuk menghentikannya.

‘Tenang. Kamu sudah di rumah,’

Pelukan itu semakin erat, kehangatan menjalar ke tubuh mereka berdua.

Mungkin ini yang Sara butuhkan. Mungkin ini yang Sena butuhkan.

Ditemani.

Malam ini.

Cukup.

Hanya itu.

Dan pelan-pelan perasaan kesepian itu pun berganti menjadi sedikit bernada.

And nobody does it better
Though sometimes I wish someone could
Nobody does it quite the way you do
Why’d you have to be so good?