Ang Lee: Father Knows Best

Jadi berawal dari menonton film ini saya jadi penasaran dengan film-film lainnya dari Ang Lee. Yang baru saya tahu bahwa film Eat, Drink, Man, Woman (1994) adalah trilogi Father Know Bests-nya Ang Lee. Jadilah saya menonton ke dua film sebelumnya, yaitu: Pushing Hand (1992) dan The Wedding Banquet (1993).

pushing hand.jpg
Pushing Hand (1992)

Menonton film-film awal Ang Lee sebelum bertandang ke Hollywood merupakan sebuah pengalaman flash back romantis ke awal tahun sembilan puluhan dengan narator witty yang siap menyindir apa pun. And you will laugh with it. Either you are the one who get mocked or you just simply get amuse with it.

Ketiga film dalam Trilogi Father Knows Best milik Ang Lee memiliki beberapa elemen penting yang terus ada dan diputar berulang. Yaitu: hubungan orang tua dengan anak (terutama Ayah dengan anaknya), kontras akulturasi antara budaya barat dan timur, konsepsi seks di budaya timur dan pornonya penyajian makanan yang membuat siapa pun akan menelan ludah saat menonton ke tiga film tersebut.

Cerita-cerita dalam ketiga film Ang Lee berpusat pada benturan dan permasalahan dalam keluarga asia. Dengan cekatan ia sampaikan dengan visual dan adegan yang menontonnya akan merasa dekat dengan masalah tersebut.

Akar permasalahan kesemuanya sebenarnya bagi kebanyakan keluarga asia adalah tentang bagaimana anak berkomunikasi dengan orang tua terutama karakter Ayah yang memang dikenal sebagai sosok sentral dalam sebuah keluarga. Beranjak dewasa sosok Ayah tersebut berubah menjadi tokoh keramat yang setiap titahnya adalah kebenaran.

Dan itu menjadi hal yang coba Ang Lee advokasikan dalam filmnya. Tentang sejauh mana peran orang tua dalam kehidupan anaknya yang sudah dewasa. Apakah perbedaan demi perbedaan akan mengeliminasi makna keluarga yang pernah ada sebelumnya? Atau malah menguatkan?

Lalu lebih dalam lagi, dalam ketiga film tersebut, Ang Lee pun menyorot kegagapan budaya Barat dalam memproses pemahaman akan budaya Timur itu sendiri. Ada banyak momen-momen yang secara canggih Ang Lee argumentasikan dalam filmnya.

Seperti dalam film Pushing Hand, cerita yang berpusat tentang seorang Ayah pensiunan yang tinggal di Amerika yang harus beradapatasi dengan istri anaknya yang kebetulan seorang bule. Bule yang so typical banget, merasa superior dengan teknologi dan sistem yang mereka punya. Seolah dunia hanya berputar tentang dia saja. Sehingga tidak merasa perlu untuk tahu tentang background sang Ayah mertuanya.

Jika di keluarga Asia, semua anak dididik untuk menghormati kedua orang tuanya, dan merawat orang tuanya yang sudah sepuh sebagaimana mereka dulu merawat mereka di kala kecil dulu. A payback concept yang sepertinya tidak terintegrasi dalam otak si perempuan bule dalam film Pushing Hand. Dan konflik itu lah yang menjadi jalan cerita menarik dalam film Pushing Hand. Geger budaya beda negara yang tidak teruraikan dengan baik.

Lain lagi dengan film The Wedding Banquet (1993). Filmnya dibungkus dengan humor yang menggelitik namun tidak berlebihan. Film yang mengangkat tema gay ini menurut saya sangat maju di eranya. Konsepsi seksual yang tabu itu dibredel Ang Lee dengan jenaka dan terbuka.

Scene gay di film ini dibuat dengan sangat kasual dan tetap memanusiakan mereka. Mereka tidak menjadi alien yang memiliki sejuta perbedaan dengan yang ‘straight’. Di film The Wedding Banquet (1993) permasalahan adalah tentang takutnya si anak laki-laki yang gay untuk mengakui seksualitasnya dan akhirnya membuat pernikahaan palsu demi membuat orang tuanya tenang. Terlebih umurnya yang sudah tiga puluhan, karena di Asia menikah adalah sesuatu yang sangat wajib. Sayangnya, apa pun yang berangkat dari kebohongan tidak akan berjalan baik. Termasuk dalam film ini.

Si anak terjebak dengan kebohongannya dan akhirnya malah menjauh dengan pacar gaynya. Seolah orbit bergerak terlalu jauh dari substansi awal yaitu semua kebohongan ini dibuat untuk menyelamatkan hubungan mereka berdua, alih-alih malah membuat semuanya jadi kacau.

the-wedding-banquet-movie-poster-1993-1020243569

Yang lebih keren lagi di film The Wedding Banquet ini adalah tentang sikap kedua orang tua tentang menanggapi isu anaknya yang gay. Keabu-abuan itu masih sangat terasa, apalagi dalam scene melihat album pernikahan. Sikap sang ibu tetap menentang namun tidak berusaha untuk menyakiti perasaan anaknya sendiri.

Sedang sang Ayah, yang awalnya sangat ditakuti, malah jadi orang yang dengan legowo menerima itu semua. Yang bukannya memang seharus itu bukan?

Saya teringat puisi Anakmu Bukan Milikmu, Kahlil Gibran. Ada baitnya yang berbunyi

…Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak yang meluncur.

Dengan jelas Khalil mengungkapkan bahwa anak adalah tetap manusia, yang bebas memilih pilihannya, dan akan hidup di kakinya sendiri nanti. Maka biarkanlah ia meluncur bebas, menjadi apa pun yang ia mau.

Elemen terakhir adalah tentang makanan, jika di film Eat, Drink, Man, Woman (1994) makanan memang menjadi sentra cerita, di kedua film Pushing Hand dan The Wedding Banquet, makanan menjadi elemen cantik yang membuat penonton berdecak lapar. Kemewahan makanan Asia sangat andal Ang Lee tampilkan dengan bulir minyak daging bebek yang lezat dan dumpling yang so-oh-yummy to eat.

Kesemuanya menjadikan film Ang Lee sebagai representasi Asia yang modern dan moderat menjadi tidak berlebihan. Semuanya begitu canggih dan heartwarming di waktu bersamaan.

Jika Wong Kar Wai adalah seorang sutradara art house romantis paling keren di Asia, Asghar Farhadi dengan andalan drama psikologisnya yang mencekam, maka Ang Lee hadir sebagai narator canggih dengan narasi yang dalam akan kehidupan.

Tak lupa, ada satu lagi yang saya belajar dari film-film Ang Lee ini, lewat filosofi Tai Chi Ang Lee mengajarkan bahwa keseimbangan, betapapun sangat berbeda pada tiap elemennya dan begitu menganggu, sangatlah perlu dalam hidup.

Karena toh hidup memang tentang itu semua. Hasrat, tekanan, pelepasan, dan penerimaan. Dan kesemuanya akan berjalan beriringan dengan harmonis jika kita mengizinkannya.

Advertisements

Eat, Drink, Man, Woman: Kehangatan dan Kelezatan Kasih Sayang Ayah

eat-drink-man-woman_poster_goldposter_com_9-jpg0o_0l_400w_70q

Ang Lee memang tidak pernah sembarangan dalam membuat film. Terbukti film besutannya di tahun 1994 ini benar-benar menggambarkan dirinya sebagai pencerita ulung dengan simbol-simbol visual yang menggetarkan.

Eat, drink, man, woman adalah gambaran dasar seorang manusia. Kita semua lahir dengan naluri makan dan bercinta. Dan film ini mengangkat dua tema besar itu: Makanan dan Cinta.

Sepanjang film, dengan sabar Ang Lee menggambarkan kekakuan seorang Ayah dengan ketiga putrinya. Semua aksi-reaksinya ternarasikan lewat keheningan suara dan jarak kamera. Ditambah dengan kepiawaian gerakan dan emosi yang sangat luwes dibuat oleh para pemainnya membuat kita yang menyaksikan film ini seperti dibawa masuk ke dalam pintu rumah mereka dan seolah menyaksikan scene tiap scene-nya secara langsung.

Kegetiran masing-masing tokoh juga dengan tajam ditampilkan, seperti kecemasan ketiga anak perempuan yang hidup ‘rawan’ dengan standar sosial budaya Cina yang tidak jauh-jauh dari masalah perkawinan.

Dari sana drama percintaan masing-masing anak perempuan dikisahkan dengan mood yang berbeda-beda. Kontras mulai dari perawan tua, perempuan mandiri, dan cewek remaja yang memiliki alurnya sendiri namun tetap nyaman untuk diikuti.

Meskipun akhirnya toh masing-masing mendapatkan cinta. Yang untungnya bukan sekadar kebutuhan, namun pelengkap yang batin.

Makanan dalam film ini pun tidak serta merta sebagai pemanis visual atau tempelan di awal saja. Melainkan sebagai detail film dan begitu otentik. Di film ini makanan terkukuhkan sebagai kendaraan dan saluran komunikasi antar masing-masing karakter.

Sebagaimana makanan merupakan pembahasa emosi seorang Master Chef Chu yang kehilangan indra pengecapnya dengan orang disekitarnya. Makanan juga yang menjadi medium penengan dalam keringkuhan dirinya atas tiap-tiap pengumuman di tiap tradisi makan malam besar keluarga bersama ketiga putrinya setiap hari Minggu.

vlcsnap-dinner-girls

Yang terbaik, ironi dalam konflik di akhir film tidak saja membuat film ini menjadi sebuah romansa melankoli drama keluarga tok. Tetapi juga sebagai potret jujur dari kebanyakan hubungan Ayah dan anak yang membeku terhalang umur dan perbedaan di negara Asia kebanyakan. Tapi tetap kita tidak kehilangan rasa manisnya drama ini yang tak berlebihan.

Karena sejatinya dari film ini kita dapat melihat bahwa; tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayang seorang pria, seperti kasih sayang seorang Ayah pada putrinya.

Dan, seperti apa yang dikatakan Master Chef Chu: hidup bukanlah seperti memasak yang harus menunggu banyak hal datang. Namun yang terpenting adalah tentang rasa dari isi hidup itu sendiri.

Film ini menjadi film ‘makanan’ favorit saya sejauh ini. Saya rekomendasikan ditonton bersama Ayah atau putri Anda sambil menyantap bebek peking dan dimsum panas bersama-sama. Rasa-rasanya akan menyenangkan.