Awkarin Naked

maxresdefault (2)

Diambil dari akun youtube Awkarin

So, if you are coming because of the title, let me tell you, you will get nothing.

Jadi dulu gue pernah nulis tentang fenomena Awkarin di blog gue. Gue tertarik nulis tentang dia karena saat itu Awkarin lagi beken-bekennya ketika buat video yang isinya Awkarin nangisin mantannya si Gaga pas mereka putus dan sepertinya semua orang bahas dia aja. (Elo bisa baca tulisannya di sini -> AWKARIN NANGISIN GAGA).

Trafficnya saat itu ke blog gue lumayan banget, tapi karena blog ini cuma ala kadarnya dan hanya untuk nuangin unek-unek di kepala sekali waktu. Jadi move on lah gue dari drama Awkarin dan jarang nulis lagi.

Lalu setelah setahun berlalu, di suatu malam gue iseng check daleman-delamean settingan blog dan riset keyword apa aja yang mampir ke blog gue. And guess what, ternyata gue menemukan sesuatu yang bikin gue kaget dan tergelitik.

Ternyata beberapa orang datang ke blog ini dengan keyword-keyword ajaib macem gini; awkarin naked, awkarin nude, awkarin sex, awkarin topeless.

Aje gile, ada ya orang yang kepo sampe segitunya. Padahal mereka tinggal buka di Instagram dan semua elemen kehidupan Awkarin yang paling mikroskopik sekalipun sudah doi pamerin di situ.

Screen Shot 2017-10-25 at 1.25.00 PM

Anyway, setelah setahun berlalu, hidup Awkarin masih diwarnai dengan drama dan kontroversi. Dia bergabung dengan management Takis Ent, berpacaran dengan managernya Oka, mengeluarkan single-single yang tak kalah sensasionalnya, Oka meninggal dan dia jadi pusat perhatian lagi karena banyaknya konspirasi yang terjadi setelahnya. Dia berantem sama Anya Geraldine. Dst, dst, dst. Enggak abis abis deh.

Sampai ya banyak banget petisi yang ingin banned Awkarin karena ia dianggap sebagai bad influence untuk generasi muda. Karena ya itu, tindakannya sering berkonotasi ‘nyeleneh’, jika tidak mau dibilang negatif.

Persepsi itu semua terjadi dikarenakan seringnya ia mempertontonkan kehidupan pergaulan malam yang sering ia update di media sosial, yang mana di Indonesia hal tersebut masih sangatlah tabu dan di cap sebagai aktivitas ‘nakal’ oleh sebagian orang yang ironisnya enggak pernah clubbing dan enggak tau bagaimana isinya seperti apa. Jadi judging itu pun hadir dari asumsi belaka yang ditempelkan begitu saja.

Awkarin juga rutin menghadirkan branding dirinya yang merokok dan minum-minuman alkohol di postingan media sosialnya. Yang mana itu adalah double trouble di pandangan mereka yang konservatif.

Julukan bad girl pun dengan kukuh ia tempelkan pada dirinya dengan kerap mengeluarkan kata-kata kasar di berbagai platform media sosial yang ditonton oleh banyak anak kecil dan remaja nanggung satu Indonesia. Karena demografis itulah yang jadi main followers dirinya.

Tapi yang paling fenomenal dan menuai banyak cibiran sebenarnya adalah tentang keberanian Awkarin untuk terbuka akan seksualitas dirinya lewat tubuhnya.

Menanggapi hal tersebut argumentasi gue setahun yang lalu jelas bahwa; she can do whatever she wants.

Karena itu badan dia, hidup dia, dan siapa sih yang enggak pernah melakukan kebodohan-kebodohan di masa muda dan berkata-kata kasar? So I thought why bother, just mind your business.

Tapi tunggu dulu, setelah gue addressing argument tersebut, banyak sekali komentar yang masuk dari teman-teman gue dan beberapa orang asing atas apa yang telah gue tulis.

Suara itu terbagi 3:

  1. Yang Kontra, karena mereka menganggap apa yang Awkarin pertontonkan dapat berpengaruh pada psikologis anak-anak yang masih di masa look up into someone, dan anak-anak itu melihat Awkarin sebagai panutan yang keren dengan campaign nakal boleh bego jangan. Atas hal tersebut dampak yang terjadi adalah banyaknya anak-anak kecil mempertontonkan aktivitas seksual mereka yang belum sepantasnya mereka lakukan di usia mereka. Juga trend berkata kasar pun marak terjadi. Ini dirasa menjadi degradasi moral bagi generasi yang akan datang.
  2. Yang Pro, mereka menganggap Awkarin sudah dewasa dan berhak melakukan apa pun yang dia mau. Dengan tubuhnya, dengan hidupnya, dan berpikir apa yang dilakukan Awkarin berada dalam batas wajar bagi benchmark pergaulan mereka.
  3. Yang biasa aja tapi kepo, mereka enggak mengiyakan apa yang Awkarin lakukan itu benar atau salah. Mereka hanya suka dengan drama yang ada.

Banyaknya masukan tersebut membuat kami berdiskusi, dan akhirnya setelah itu ada beberapa poin yang agaknya merubah pemikiran gue akan fenomena Awkarin ini.

  1. Gue sadar bahwa apa yang dihadirkan Awkarin bukanlah sesuatu yang idealnya ditonton oleh mereka yang belum kuat untuk memiliki filter mereka sendiri, bukan seperti kita yang sudah dewasa dan telah melalui fase pencarian jati diri. Anak-anak kecil dan remaja itu masih rentan akan pengaruh sana-sini, dan dengan nilai yang masyarakat dan orang tua kebanyakan buat menjadikan apa yang dihadirkan oleh Awkarin adalah sebuah kontra pada nilai sosial yang ada.

Tapi gue enggak setuju bahwa:

  • Dengan apa yang Awkarin tampilkan orang-orang bisa bebas untuk memberikan komentar kasar dan judging seenaknya gitu. Kadang, kata-kata yang para haters itu sampaikan tidak sesuai pada konteks dan lebih menyerang ke ranah pribadi. Hanya karena Awkarin perempuan, masa ia tidak boleh berkata kasar, clubbing, minum-minum alkohol, dan PDA? Lain cerita jika itu dilakukan oleh laki-laki. Pasti respon yang didapat tidak akan senegatif ini. Bias gender ini yang menurut gue tidak adil.

2. Peran orang tua menjadi sangat penting di sini, karena mereka lah yang akan menjadi konselor anak-anak mereka. Memberitahukan pada anak-anak tersebut mana yang bisa mereka contoh dan mana yang tidak. Tidak semena-mena semua kesalahan dititikberatkan pada Awkarin semata. Karena orang tua yang harusnya menumbuhkan filter dan melakukan pendekatan secara lebih dekat dalam mengontrol apa yang anak konsumsi di era informasi yang begitu cepat ini. Jika mereka diberikan smartphone dan akses internet, kontrol dan tanggung jawab menjadi dua arah. Komunikasi pun menjadi kuncinya. Jangan malu untuk bertanya pada anak tentang apa yang sedang trend di lingkungannya, dan terus aktif mempelajarinya.

3. Kita enggak lebih baik dari Awkarin.

Jadi stop untuk memberikan komentar-komentar jahat pada siapa pun yang kalian enggak suka. Ketika elo emang enggak suka, just ignore it. Karena toh jika kita tidak memberikan atensi berlebih pada hal-hal yang seperti itu lama-lama mereka akan hilang juga. They gonna be another one hit wonder dan orang-orang akan lupa setelahnya.

Tapi ya, siapa gue ya buat maksain pemikiran ini ke orang-orang. Jadi kalau yang gue tulis enggak sama dengan apa yang ada di otak elo. That is totally okay.  Tapi bukan berarti elo mendadak jadi manusia paling suci dengan modal ngomong astagpiruloh dan ngasih ayat-ayat suci di kolom komentar kemudian seenaknya judging hidup orang. NO WAY!

Karena gue percaya semua orang punya dosa mereka masing-masing, semua manusia bertanggung jawab dengan diri mereka sendiri, jadi ada baiknya untuk menunjuk ke diri sendiri dulu sebelum pointing finger dan teriak-teriak ke orang lain.

You know, just be nice. Have a nice day everyone 🙂

Advertisements

Demam Awkarin

Screen Shot 2016-07-26 at 3.13.41 PM

Kemarin saya janjian makan malam dengan Tania, teman kantor lama saya. Pilihan kami jatuh pada tema all you can eat ala makanan Jepang di City Walk.

“DAGING, Jem!” teriak Tania girang.

Keakraban kami terjalin karena fakta bahwa kami sama-sama karnivora kelas berat dan, ehem, suka makanan gratisan.

Saat sampai di depan resto tersebut kami tercekat ketika melihat harga menu all you can eat yang terpajang, ada perasaan ragu muncul. Seperti, “Masihkah kami bisa hidup di bulan depan?”

Lalu Tania menggunakan otak ITBnya, dengan menghitung bill makanan kami (termasuk pajak) nantinya ditambah dengan hutang-hutang kartu kredit dan cicilan, dan mendapatkan hasil bahwa dapat dipastikan sebulan ke depan menu makanan kami hanya promag di mix dengan nutrijel rasa pandan.

Tapi didorong hasrat yang besar untuk memanjakan diri, kami pun melangkah pasti memasuki resto dengan dagu terangkat saat Mbak-Mbak pramusaji berteriak lantang, ‘MARI KAKAK!!!’ ketika menyambut kami berdua. Kami kalah dengan perut sekali lagi.

Setelahnya adegan yang terjadi, seperti para karnivora soleh lainnya yang melihat daging, kami pun makan dengan kalap. Tanpa rasa malu memesan daging setiap sepuluh menit sekali.

“Kok bisa enak banget ya daging? My LOVEEE,” ujar Tania sambil mengangkat irisan tebal daging tersebut lalu mencampurnya dengan rempah-rempah (yang gue lupa namanya, tapi enak) dan keju cair yang DEMI APA PUN ENAK BANGET. Ia sebut hal tersebut sebagai kontemplasi stadium tiga. Dunia mengecil. Yang tersisa hanya dia dan daging di tangannya.

Sejam sudah, waktu kami tinggal tiga puluh menit lagi. Sembari menunggu pesanan yang lain datang, Tania menunjukkan handphonenya kepada saya.

“Udah tau soal Awkarin? Liat videonya deh.”

Ada satu video yang berisi dua orang cewek berusia di awal dua puluhan sedang menjelaskan sesuatu soal ‘roda pasti berputar’ dan ‘semua orang pasti punya salah’ kemudian dilanjuti dengan iringan tangis histeris cewek satunya yang nantinya akan saya kenal dengan nama Awkarin.

Lalu dari satu video, Tania menunjukkan video lainnya, dan kami berakhir men-stalking Instagram Awkarin dan mantannya yang bernama Gaga (which adalah yang ia tangisi di video tadi. Gaga mutusin Awkarin sehari sebelum ulang tahun Gaga, dan Awkarin tetap buat pesta kejutan untuk Gaga, kali ini sebagai seorang teman saja, mengutip apa yang diutarakan Awkarin dalam videonya. Aw, sweet banget).

Tania pun menjelaskan dengan telaten siapa-siapa saja yang ada di dalam video-video Awkarin. Juga Tania ikut berkontribusi akan terbentuknya teori konspirasi mengapa Gaga mutusin Awkarin dan teori-teori alternatif lainnya. Dipastikan Tania menghabiskan waktu luangnya dengan sangat baik untuk menghafal rantai kehidupan sosial Awkarin.

“Dia mau ngasih kado DRONE dong ke si GAGA! Drone aja harganya minimal 13 JUTA! Gue mau ngasih kado sepatu ke pacar gue yang cuma 10 persen dari harga drone, harus nyicil enam bulan,” kata Tania heran.

“Duit dari mana ya dia?”

“Di endorse dari brand-brand di Instagram,” jawab Tania dengan ekspertnya. Seolah telah tamat membaca 101 Things About Awkarin.

Saat meneliti konten Instagram mereka berdua, sejujurnya harus diakui mereka memiliki estetika kualitas foto yang baik secara warna dan komposisi.

“Hmm, boleh juga nih anak,” puji saya. Tulus.

“Tapi, gue kalau jadi orang tua, engga mau loh anak gue kayak gini,” ucap Tania saat menghabiskan sisa daging terakhir kami.

“Itu egois engga sih? We judge her, talking shit about what she did, padahal kita saat labil-labilnya dulu engga jauh beda seperti Awkarin ya. We smoke, we got drunk, less PDA dan dronenya aja sih.”

“Bebas sih sebenarnya. Doi punya badan bagus plus sama borju juga. Kita yang kere pasti iri liatnya.”

Kami berdua tertawa miris, karena kenyataan sampai sekarang masih begini-begini aja kehidupannya.

“Tapi takut aja, ngeliat anak gue nantinya behavenya kayak gitu. Deep down gue tau, gue bukan manusia yang baik. Tapi setidaknya gue sekarang belajar untuk jadi lebih baik lagi,” aku Tania.

“Paham kok paham. Mungkin si Awkarin juga belum ke arah sana. Tapi engga adil buat dia dijadikan benchmark sebagai moral remaja di sini. Dia engga punya tanggung jawab apa-apa sih sebenarnya, terlepas banyaknya orang yang akhirnya ngikutin gaya hidup dia.”

Tania mengangkat pundaknya, “It’s her life then.”

Lalu datang Mbak-Mbak Pramusaji dengan selembar kecil total makanan kami yang ternyata engga kecil harganya.

Split bill ya, Mbak!” teriak kami kompak.

— –

Di jalan keluar, saya menumpang pulang dengan mobil Tania. Ketika hampir sampai depan kosan, kami harus memutar di depan lampu merah. Saat kami ingin berputar, dari arah depan ada satu motor yang seharusnya stay karena lampunya jelas-jelas merah, dia malah jalan selonong dengan santainya.

Kami berdua pun memaki-maki dengan kesal.

“Anak ANJING!”

“Jangan, anak anjing lucu! Kebagusan.”

“Apa dong?”

“Anak Farhat Abbas!”

Saat sampai depan kosan, saya berpamitan dengan Tania. Namun tidak beberapa lama ada sesuatu yang mengusik saya.

“Tan,” saya mengetuk kaca mobilnya.

“Apa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tania bingung.

“Elo sadar kan? Kita muterin mobil di jalan tadi juga sama salahnya dengan si pengendara motor tadi?”

“Ya kan itu jalanan terdekat ke sini, kalau muter di depan jauh.”

“Tetap salah engga sih?”

“Salah sih. Tapi udah nyampe juga. Udah gue ngantuk. Bye!”

Tania kemudian meninggalkan saya dengan lebih banyak hal mengganjal dalam kepala saya.

‘Kenapa kita harus marah padahal kita sama-sama salah? Kenapa harus ngerasa lebih baik?’

Saat sampai kamar saya mengintip kembali Instagram Awkarin kini dengan membaca beberapa komentar di postingannya. Lalu tak lupa melengkapi ke-kepoan saya dengan mensearch namanya di Google.

Banyak yang mendedikasikan tulisan tentang Awkarin, namun isinya lebih ke arah memojokan dan menyayangkan transformasi Awkarin yang sekarang.

Saya pun terpancing ketika membaca kemurkaan para penggiat moral internet yang merasa Awkarin bertanggung jawab atas tren gaya hidup ‘hedon vulgar, dan kebarat-baratan’ yang diikuti banyak anak muda di Indonesia. Sebuah kontra atas konon budaya timur yang sangat dijunjung tinggi di Indonesia ini. Entah deh budaya timur yang mana yang mereka bicarakan.

Karena serius deh. Memangnya Awkarin minta semua anak remaja di Indonesia ngeblonde-in rambutnya sambil teriak-teriak bilang anjing sambil ngerokok?

Engga toh?

Para anak-anak itu secara sukarela mengikuti Awkarin, seharusnya jika mereka considering apa yang Awkarin lakukan dianggap salah, adalah tugas para orang tua untuk meningkatkan komunikasi ke anak-anak mereka. Saya yakin, banyak orang tua yang sudah jarang mengecek dan berkomunikasi dengan anaknya jika membahas isu seperti ini.

Lalu salah siapa?

Ya enggak salah siapa-siapa.

Kita semua pasti pernah menjadi Awkarin di umur yang sedang ranum-ranumnya. Yang ingin mencoba banyak hal yang dulu dilarang oleh orang tua. Explore our body and sexuality.

About proudly doing stupid things for the sake of love, Sure we had an up and down moments when it’s about coping with hard break up. Also sometimes, we want to look badass by smoking, drinking alcohol and etc. We’ve been there before.

Bedanya sekarang di 2016 ini ada tren media sosial yang menghadirkan teknologi bernama Instagram dan aplikasi chat lainnya. Yang membuat Awkarin bisa memamerkan kehidupan pribadinya yang paling mikroskopik sekalipun.

Tapi mengapa dibanykanya anak muda yang juga sama seperti Awkarin, malah dia yang paling dikenal?

Karena ada demands yang tinggi. Semua orang diam-diam menyukai Awkarin. Seperti Tania. Di depan berkelakar, padahal dibelakang sebenarnya tahu betul apa yang akan dia lakukan di series vlog-vlog berikutnya.

Kenyataan bahwa di media sosial orang bisa bebas berkomentar apa pun yang mereka mau tanpa peduli dia kenal atau tidak dengan orang tersebut. Tinggal ketik di keyboard, mereka bisa mengetik hal-hal paling kejam, bengis, dan judgmental yang pernah ada. Seolah mereka yang memberi komentar menjelma menjadi nabi yang merasa memliki kehidupan lebih suci dibanding Awkarin.

Karena, siapa sih kita yang akhirnya memutuskan apa yang terbaik buat Awkarin? Liat saldo tengah bulan aja nangis, peduli amat ngurusin hidup orang. Biar itu jadi tugas orang tuanya dan Awkarin sendiri. Karena itu hak Awkarin sepenuhnya untuk menjadi seperti apa dirinya nanti. Bukan menuruti apa yang ‘society’ inginkan.

We do not walk in her shoes, so we know nothing about it. Tidak adil rasanya dengan semena-mena memberikan hujatan tanpa dasar pada dirinya.

Jangan-jangan kita sebenarnya tidak lebih baik dibanding Awkarin, jelas-jelas Awkarin tidak malu untuk menunjukan siapa dirinya, showing her true skin. Sedang kita, tak lebih dari orang yang tahu bahwa itu salah, terus melakukannya, lalu menutupinya dalam-dalam.

“Tapi, gue setuju. Gue engga mau anak gue nantinya kayak Awkarin. Anak gue harus kayak Maudy Ayunda,” saya mengirimkan chat tersebut ke Tania.

Menyedihkan bahwa kebanyakan dari kita menuntut seseorang menjadi sebersih Nabi, tapi diam-diam menikmati peran sebagai pendosa.

Yeah, life.