Mendengarkan Naif Lewat Sepasang Headset Butut

Kadang ada Naif di sana, entah itu dalam bentuk perasaan atau hanya sebuah lagu dari band bernama sama.

https://unsplash.com/photos/n-N38MTOaoI

Hampir sewindu yang lalu di suatu hari Minggu kita berdua pernah hidup dalam salah satu semesta lagu Naif.

Masih ingatkah kamu saat kita pergi berkeliling Jakarta menggunakan motor abu-abumu, menelusuri satu demi satu jalanan yang baru pertama kali kita lewati?

Tidak ada yang lebih menakutkan daripada melihat satu dua orang Polisi yang berdiri di pinggir-pinggir jalan. Seolah mereka macam Serigala yang mengintip pelan-pelan mangsanya dan bersiap-siap menerkam saat mendeteksi satu kesalahan yang bisa membuat motor kita berhenti berfungsi lewat hentakan jari mereka saja.

Sakti!

Dan ketika berhasil melewati Polisi-Polisi itu, kita berdua akan tertawa kelewat bahagia. Namun tak lama tawa itu berubah pasi saat menyadari bahwa kita masih tolol akan arah jalan.

“Seharusnya kita tanya Polisinya saja sekalian ya?” tanyanya.

“Tapi nanti kalau kita ditangkap bagaimana?”

“Memang kita salah apa sih sampai Polisi mau menangkap kita?” tanyanya kritis.

“Enggak tau, bukannya memang peraturannya biasanya seperti itu ya? Hindari polisi apa pun yang terjadi?”

Dan kamu pun tertawa, menertawakan kebodohan yang hanya kita berdua yang mengerti.

Kamu melanjutkan perjalanan, mengira-ngira apakah benar saat mengambil arah ke Tanah Abang motor ini bisa berakhir di Menteng.

“Seharusnya tadi kita naik busway saja.”

“Tidak. Aku lebih suka seperti ini. Lebih dekat dengamu. Menciumi baumu. Memelukmu tanpa terhalang apa pun.”

Tak ada respon darimu.  Dan kita meneruskan perjalanan dalam diam.

Dengan menebak-nebak belok kanan atau kiri dan menghabiskan waktu bertanya-tanya dengan orang-orang yang sejatinya juga tidak mengetahui arah jalan. Akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke tempat terdekat dengan spesifikasi bisa memakirkan motor dan menjual minuman barang satu atau dua gelas air dingin.

Dan Taman Suropati pun menjadi pilihan.

Rasanya masih sedikit aneh saat aku bisa menyentuhmu. Memegang kulitmu lama-lama dan mengacak-ngacak rambut panjangmu. Bahkan kacamatamu tampak begitu nyata.

Kamu hanya tersenyum kecil.

Kamu benar-benar tidak tahu betapa berarti ini semua untukku. Ini adalah saat kita bertemu dan menyatu dengan kosmik yang ada. Gambaran empat dimensi yang dulu hanya ada di khayalan terliarku.

Dan rasanya menyenangkan saat diri kita tak lagi terpisahkan koneksi internet yang sering kali lelet dan memotong pembicaraan-pembicaran bodoh kita namun aku suka.

Juga rasanya begitu hebat ketika jarak ratusan kilometer kini hanya terpaut nafas. Sedekat itu.

Rasa-rasanyanya aku ingin membungkusmu, menguncinya dengan gembok merk American Tool yang katanya tidak akan terbuka meski dicairi dengan larutan kimia sekalipun. Aku harap gembok itu bisa menahanmu, dan kamu tak perlu pergi lagi.

Sederhananya, aku ingin memilikimu. Hanya untukku. Egoiskah?

“Aku begitu bahagia hingga aku merasa takut” ucapku lirih.

“Kenapa?” mukamu tampak bingung.

“Aku takut ini semua akan cepat berakhir. Jakarta, matahari, kamu.”

“Kalau begitu kristalkan saja.”

“Bagaimana caranya?”

Ia pun mengeluarkan headset dari dalam tasnya lalu menyodorkannya padaku, kemudian memberi tanda untuk aku segera memakainya.

Detik kemudian lagu itu pun terputar. Lagu yang nantinya selama delapan tahun ke depan akan selalu mengingatkannya padamu.

Satu buah lagu dari Band Naif yang menjadi pertanda soundtrack kami berdua hari ini.

Aku sedang berjalan, menyusuri relung di hatimu
Aku sedang mencari, sesuatu di balik matamu
Yang mampu membuatku terpesona
Yang mampu membuatku terpesona

“Ini lebih baik dari apa pun.”

Dan kita berdua pun tersenyum malu-malu satu sama lain. Membahasakan sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa namun yakin ini terasa nyaman dan adiktif, membuatku merasa dimiliki dan diinginkan.

“Setiap kamu kali kamu mau sebagian dari diriku hadir dekatmu, kamu tinggal putar lagu ini.”

“Andai semudah itu.”

“Biarkanlah jadi semudah itu.”

Lagu itu pun terus berputar, menjadi empat menit paling magis yang pernah ada. Dalam sekonnya ia menjerat segala hal yang ada di sekitarnya. Dengan cekatan tiap nada dan liukan suara David Naif merangkaimu pada momen ini. Membentukmu pada memori kolektif yang seperti harapanmu. Lagu ini akan selalu menjadi bagian akan dirimu dalam perspektifku.

Apakah dirimu yang mampu membuat hatiku terpanah asmara
dan kuyakin itulah cinta….

Kepalaku bersandar pasrah di pundakmu, membuatku dapat melihat jelas senti demi senti kulitmu yang begitu indah. Raut senyummu pun begitu dekat. Menyapa tanpa bersuara dan memeluk tanpa menyentuh.

“Andai setiap awal tidak perlu ada akhir,” cetusku.

“Kamu tau itu tidak mungkin. Terlebih pada kita.”

“Seharusnya bisa,” kataku kesal.

“Dan jika iya, semuanya tidak akan semenyenangkan ini. Menyelinap lewati waktu yang kita bahkan terlalu pelit untuk mengakhirinya. Namun bukankah semuanya membuat ini jadi jauh lebih bermakna? Satu detik bersamamu menjadikan aurora warna warni di langit terlihat seperti gulali hitam putih,” katamu coba menghibur.

“Andai semudah itu.”

“Maka biarkanlah jadi semudah itu. Aku mohon, untuk hari ini.”

Aku pun terpaksa mengiyakannya. Melegitimasi semua kebodohan ini. Memberikan ruang sekali lagi untuk melepasmu.

Karena tidak lama, matahari pun berganti warna. Gelap, tanpa spektrum oranyenya. Hanya tersisa pekat yang dingin.

Kamu pun pergi, menjemput dirinya di tempat lain yang sudah menunggumu. Menyudahi hari ini yang bahkan belum genap malam. Dan aku kembali menjadi rahasiamu. Menjadi bayangan dalam ketiadaan.

Sesekali aku pergi ke sana. Pada potongan memori usang yang berputar acak tiap kali lagu itu berputar seperti hari ini.

Setia pada ritrus. Aku menatap pada satu pasang headset yang kamu berikan dan satu lagu yang sengaja kamu tinggalkan.

Delapan tahun sudah. Kamu kini sudah tak lagi bersama dengannya. Pun denganku.

Kita berdua bak dongeng yang muskil akan kebenarannya. Ragu-ragu dengan semua deretan cerita di atas. Atau ini hanya rancu belaka?

Aku pun tak berniat untuk bertanya, masihkah kita mendengarkan lagu yang sama. Basi.

Jika pun iya, akankah semua ini masih relevan? Karena satu buah lagu tidak akan cukup untuk itu.

Advertisements

Hasrat

Dalam derap langkah yang berat kamu dapat mendengar ketergesa-gesaannya. Ini ketujuh kalinya ia melarikan diri saat kamu berpapasan dengannya.

“Apa yang salah?” tanyamu bingung.

Kali ini kamu tidak ingin kehilangannya. Kamu pun mengejarnya, membuntutinya dari belakang. Untungnya langkahnya tak lebih cepat darimu. Kini kamu sejajar dengannya. Dalam posisi koordinat yang sama. Detik kemudian kamu berlari lebih cepat dan menghadang dirinya dari depan.

Terkejut, badannya menabrak dirimu keras. Kalian berdua pun terjatuh, mengaduh sakit. Namun ini layak untuk dilakukan. Pikirmu.

“Lakukan sekarang!” perintahmu.

Dirinya masih terkejang kaget. Namun kamu tidak mau mendengar alasan apa pun. Kamu pereteli kancing bajunya dengan kasar, beberapa sampai terlepas. Dengan tergesa-gesa dalam satu kali usaha kamu sudah dapat membuka celananya, kini ia telanjang bebas. Kamu dapat melihat satu benda padat keras di tengah-tengah selangkangannya.

“Ini kan yang kamu mau?”

Kamu melepas celana dalammu. Membasahinya dengan ludah dari mulutmu. Menggeseknya di kemaluanmu.

Kamu mengerang nikmat saat merasakan jemarimu dengan pelan meraba kelaminmu, memberikan kenikmatan yang tak terperi.

Kamu menguasai dirimu kembali, menarik gumpalan tumpul macam belalai lemas. Kini kau paksakan masuk ke dalam lubang milikmu. Kamu mengerang sakit. Namun ini jenis sakit yang memberikan nikmat. Sakit yang berujung nikmat adalah sesuatu yang akan membuat candu, adiktif pada tiap gerakannya.

Kamu hamburkan badanmu ke dirinya, menyuruhnya untuk memegang pinggangmu dan kamu bergoyang di atasnya. Cepat… pelan.. Cepat.. Pelan.. Cepat, cepat dan kamu tidak berhenti. Dalam beberap menit tarian penuh bertenaga. Kamu kempit semuanya hingga ia berteriak linu, badannya pun lemas terkulai tak berdaya. Kalah dalam kenikmatan.

Di akhir gerakan kamu juga mengejang penuh nikmat saat ia menghentakan pinggangnya ke tubuhmu. Seakan dirimu ditusuk dengan begitu dalam. Kamu dapat merasakan cairan lengket itu menempel di rongga kemaluanmu. Kamu biarkan sejenak, karena kamu tahu itu adalah kesia-siaan.

“Tak usah khawatir. Aku mandul,” ucapmu cepat. Lalu kamu membersihkan badanmu dari serpihan-serpihan tanah yang kotor. Sekotor apa yang terjadi beberapa menit lalu dengannya.

Lelaki berantakan itu pun tidak susah payah untuk merapihkan dirinya. Karena memang ia orang gila yang biasa berjalan tanpa arah. Dan malam tadi ia merasakan kegilaan yang melebihi semuanya.

Kegilaan itu bernama hasrat. Dan semua orang tahu, tidak ada satu orang pun yang mampu menahannya.

88419cb6b019dbd8082b3293bbd7bcabsource pic : https://id.pinterest.com/pin/234116880604884987/

Setan Itu Bernama Waktu

Sadarkan kamu, hal paling mengerikan dari hidup di dunia ini adalah betapa kamu tidak sadar bahwa hal yang paling manakutkan sebenarnya ada di depan matamu. Bercongkol jelas tanpa kamu terganggu dengannya. Hari-hari kamu pun bergumul dengannya, menjalaninya bahkan dengan canda dan tangis, dan kemudian secara diam-diam saat kamu lengah, entah bahagia atau depresi, dia akan mengambil semua yang kamu punya tanpa kamu tahu. Meskipun kamu sadar, kamu tidak dapat melakukan apa pun. Karena dia bermain dengan licin. Dan kamu terjebak didalamnya. Tanpa bisa melawan atau berargumentasi.

Setan jahat itu bernama waktu.

Waktu.

Sesuatu yang menandai batas terhadap apa yang kamu jalani di hidup ini. Sering kali ia datang dengan cepat, kemudian melambat, dan yang paling ditakutkan adalah menghilang.

Lalu pertanyaan itu muncul. Seberapa sudah kamu mengatur waktu yang ada? Atau jika ingin lebih dramatis lagi, waktumu yang tersisa?

Jika hidup seperti dalam film, dalam transisi scene babak 1 menuju babak 2 akan datang layar hitam dengan musik statis dan secara perlahan di tengah-tengah akan muncul tulisan, dua tahun kemudian atau dua puluh tahun yang lalu.

Secara acak scene akan berjalan seperti biasa. Tokoh di dalamnya pun bermain sesuai perannya, namun semua terukur, semua bergerak pada tempatnya. Pada plot yang sudah solid.

Namun di kehidupan nyata, fast forward atau pun flashback sesuatu yang tidak bisa dijalani. Sayangnya hanya bisa dikenang.

Tapi, yah, manusia kan hanya kumpulan tumpukan daging yang memiliki segudang emosi dan memori yang selalu mereka bawa dan tangisi.

Kebanyakan sih terjadi saat Jumat malam datang saat tumpukan kerjaan begitu menggunung dan dengan sengaja kamu tinggalkan. Kemudian dengan payah badanmu dibawa jalan sendirian ke sebuah restoran Jepang yang sudah kita tahu bahwasanya setelah makan di sana dapat dipastikan tiga minggu ke depan usus-usus di perut hanya akan di isi dengan bungkusan mie instan. Namun tak apalah, kadang kamu butuh momen kontemplasi itu.

Untuk bergumul dengan si waktu, menandakan setan keparat itu masih memilikimu, mengendalikanmu.

Saat irisan gemuk salmon di restoran Jepang itu datang, secara resmi malam antara kamu dan si waktu pun dibuka.

Kamu tuang kecap asin itu di mangkuk kecil, warna hitam pekatnya mencair dan dengan cepat mengisinya dengan angkuh. Dengan telaten kamu memadukan wasabi pedas berwarna hijau itu di atas tubuh salmon merah muda yang sudah membuat mulutmu berliur.

Kemudian momen terbaik pun datang, kamu tabrakan daging salmon itu ke dalam mangkuk kecil tadi. Bermandi kecap asin, kamu masukkan daging salmon mentah itu ke dalam mulutmu.

Gigitan pertama membuatmu meringis kegirangan. Begitu nikmat, seolah si setan waktu itu menghentikan langkahnya. Kamu tersesat dalam kenikmatan. Dan mengulangnya lagi hingga empat kali, dan daging salmon di depanmu habis sudah.

Lalu dengan sopan, si waktu akan berdehem pelan, mencoba menarik perhatianmu.

“Ya?” tanyamu.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” ujar si waktu dengan tidak sabar.

“You running outta time? Mungkinkah waktu kehabisan partikelnya sendiri?”

Rasa penasaran itu keluar dari mulutmu. Sang waktu hanya memutar matanya tak tertarik. Pertanyaan klasik, pikirnya. Tentu saja semua ada batasnya, bahkan waktu sekalipun.

“Yang bergerak pasti akan berhenti,” ucapnya malas.

Kamu mengangguk, mencoba memahami. Sekalipun kamu tahu, di luar sana orang akan melihatmu berbicara dengan dirimu sendiri.

“Lalu apa?” tanya setan keparat itu dengan lebih mendesak.

“Aku mau balik ke lima belas tahun yang lalu.”

Sang waktu memandangmu tajam.

“Kenapa kali ini jauh sekali?”

“Karena semuanya berawal dari sana dan harus berakhir di sana,” jawabmu pasti.

“Tidak.. tidak.  Tidak bisa sejauh itu. Kamu tahu peraturannya.”

Matanya pun selesai memandangmu. Berharap kamu pun sadar bahwa ini usai dan kamu bergegas pulang.

Namun niatmu kelewat keras dan kamu tahu si setan waktu itu punya banyak cara licin untuk membuat permintaanmu jadi nyata. Ia hanya mengulur, bermain-main dengan emosimu.

“Tapi aku adalah si penghenti waktu. Kamu tentu ingat itu.”

Dan tepat setelah ucapan itu, setan waktu itu mengeluarkan jam pasirnya, meninggalkannya di atas mejamu, lalu sebelum ia menghilang, dalam satu petikan jarinya udara di dalam ruangan itu menjadi kosong, badanmu seperti mengapung tinggi. Kamu kesakitan. Teramat sakit hingga kamu lupa apa artinya sakit.

“Kamu tahu resikonya.”

Matamu memerah, perutmu seperti ditusuk seribu pisau tajam yang menggantung kekal tanpa bisa diserabut. Nafas yang tadi berjalan seperti tercekat hebat, entah telah berapa lama, kamu pun berhamburan dengan perih yang termat nyeri.

Di situ kamu sepakat untuk menyadari bahwa kamu telah kehilangan seperapat waktumu di masa depan, hanya untuk mengulang apa yang telah usang dan terlewat di masa lalumu yang membosankan itu.

shutterstock_271332740

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

Pulang

screen-shot-2016-12-11-at-2-13-05-am

Sepi bukan tamu yang baik. Ia tidak datang dengan permisi. Ia datang tiba-tiba, di Jumat malam disaat jalanan Jakarta macetnya bak neraka. Semua orang berlomba-lomba untuk mendatangi satu cafe, atau bar, atau hotel untuk berpeluh kesah dengan sahabat atau pasangan.

Tapi tidak bagi Sara. Hanya satu yang diinginkannya detik itu.

Pulang ke kosannya.

Ia sudah membayangkan tidur-tiduran di bawah AC, menikmati pedasnya empek-empek sendirian sambil menonton series maraton hingga pagi hari.

Sambil menunggu ojek online-nya datang, Sara bergabung dengan banyak karyawan lainnya di lobi bawah menanti sang driver untuk menjemput mereka.

Setidaknya kali ini ia tidak dikelilingi rasa sendiri yang menikam pelan di balik handphonenya yang kini sepi oleh pesan-pesan singkat yang dulu sering menanyakannya; kapan ia pulang, makan dimana nanti, atau hanya sekadar ucapan hati-hati di jalan. Pikir Sara.

Ia mulai gelisah dan perlahan menggigit ujung sedotan ditangannya. Kebiasaan tersebut akan refleks ia lakukan jika ia sedang takut, gelisah, maupun marah. Entah perasaan mana yang ia rasakan sekarang. Ia pun memutuskan untuk mematikan handphonenya. Namun sebelum ia sempat mencapai tombol power, ada sebuah panggilan masuk.

Dari ibu.

Sara mengangkat telfon tersebut dengan malas. Hal yang paling ia tidak suka dari Ibunya adalah ia tidak suka ditolak. Yang berarti jika detik ini si Ibu memintanya untuk ia bergegas naik taxi dan pulang ke rumah dan menjaga si adik yang dengan mati-matian ia coba hindari, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Ia harus langsung pulang. Sekarang. Sesegera mungkin. Konsep yang ia tidak suka selama beberapa tahun terakhir.

Ia membayangkan melewati macet yang teramat tidak masuk akal, ia menembus jalanan Sudirman menuju Rawamangun. Rumah lamanya.

Tempat yang dulu pernah ia sebut rumah.

Tempat pertama kali ia membawa pulang mantan pacarnya dan memperkenalkannya pada Ibu dan adiknya. Ia kembali teringat laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata malah berpacaran dengan adiknya.

Kembali ia menggerutu dan menggigit sedotannya.

Benci mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Sara terhadap adiknya Sena. Entahlah, jika ada kata yang tepat untuk menggambarkan kekesalan, perasaan kecewa, marah, tertipu, terkhianati berkumpul menjadi satu.

Sena.

Sena si cantik, Sena si berbadan lebih langsing dibanding dirinya, Sena yang selalu menarik dikalangan laki-laki. Sena, adiknya sendiri, yang dengan sengaja mengiyakan ajakan pacarnya untuk berpacaran. Kemudian menikah hanya dalam hitungan empat bulan.

Sedangkan saat bersamanya, ia butuh waktu setahun untuk si laki-laki brengsek itu mau datang ke rumah bertemu dengan orang tuanya.

Brengsek. Ucapnya kesal. Mungkin agak terlalu keras hingga beberapa orang menatapnya bingung.

‘Ada apa sih? Memang suaminya ke mana?’ tanya Sara kesal.

‘Tabrakan, Kak. Koma. Kamu ke rumah ya. Kasihan, sedang hamil pula. Mamah masih di rumah sakit ngurus bareng papah.’

Setelah kalimat itu usai, Sara mencoba mencernanya secara perlahan. Menit kemudian, driver ojek onlinenya datang, dan dia mengganti destinationnya ke arah Rawamangun.

Ketika sampai di depan gerbang rumahnya, si adik menyambutnya dengan tatapan sedang-apa-kau-disini? Mereka hanya bertatapan beberapa detik, kemudian Sara memilih masuk ke kamarnya. Tanpa menyapa Sena.

Ia menatap ke sekeliling ke kamar lamanya. Ia masih melihat foto-foto semasa ia remaja sampai kuliah. Beberapa buku yang dulu ia baca di pojok kamarnya sambil melihat keluar. Lalu sampailah ia pada tumpukan cd dan kaset usangnya. Masa di mana memutar kaset dan cd adalah cara umum untuk menikmati sebuah musik.

Ia tersenyum sendiri saat melihat label-label pada deretan cd dan kasetnya.

Seleksi sebelum berangkat sekolah. Seleksi minggu sore. Seleksi patah hati.

Tangannya pun menarik satu kaset dalam seleksi patah hati dan menaruhnya di dalam walkman di sampingnya. Ia masukkan baterai cadangan yang tercecer di kotak sebelahnya.

Awalnya agak tersedat sedikit, namun ia dapat mendengar alunan musik masuk ke kedua telinganya.

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best

Akumulasi patah hati dan kesendiriannya menggerakannya untuk menyanyikan lagu tersebut. Lebih tepatnya menjerit-jerit.

Entah dari mana datangnya, air mata membasahi seluruh wajahnya, dadanya terlalu sesak dengan memori masa lalu. Ia terus berteriak hingga ia lupa bahwa Sena telah berada di belakangnya. Mengamatinya sedari tadi ketika Sara mulai mengganti fungsi sisir menjadi mikrofon khayalannya.

Sara membalikkan badannya, kemudian ada jeda beberapa detik diantara mereka. Tanpa perhitungan yang pas ia bergegas menuju adiknya. Berhamburan memeluknya.

Tidak pernah ia seintim ini dengan Sena. Tidak pernah sekalipun ia memikirkan hal tersebut.

‘Saya takut ia meninggal, saya takut kamu sendirian. Sendirian itu enggak enak.’ Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil ia menangis sesegukan.

Sena terdiam. Beberapa detik tanpa reaksi. Sara terus melanjutkan tangisannya.

‘Maafkan saya. Untuk semuanya,’ ucap Sena pelan. Ia membelai rambut Sara dan membalas pelukan kakaknya.

Sara terus menangis, yang entah mengapa ia tidak bisa untuk menghentikannya.

‘Tenang. Kamu sudah di rumah,’

Pelukan itu semakin erat, kehangatan menjalar ke tubuh mereka berdua.

Mungkin ini yang Sara butuhkan. Mungkin ini yang Sena butuhkan.

Ditemani.

Malam ini.

Cukup.

Hanya itu.

Dan pelan-pelan perasaan kesepian itu pun berganti menjadi sedikit bernada.

And nobody does it better
Though sometimes I wish someone could
Nobody does it quite the way you do
Why’d you have to be so good?