Review Buku Aroma Karsa: Petualangan Aroma yang Memabukkan

Processed with VSCO with 6 preset

Cendana dan melati tak pernah gagal membengkokkan ruang dan waktu.

Sebuah pembuka yang langsung membawa imaji para pembacanya masuk ke dalam dunia keluarga kaya Prayagung dengan segala rahasia di dalamnya.

Novel terbaru Dee Lestari yang cukup tebal, sebanyak 700-an halaman, mengangkat tema baru dalam perbukuan Indonesia. Yaitu dunia aroma.

Alasan mengapa Dee mengangkat tema tersebut karena ia merasa masih sedikitnya narasi cerita yang mendeskripsikan aroma sebagai kekuatan bercerita.

Kisah sentral Aroma Karsa berada pada pencarian Puspa Karsa. Sebuah kekuatan yang mampu memberikan pemiliknya kelanggengan kekuasaan.

Dari sana Raras Prayagung, pemilik perusahaan parfum terkemuka di Indonesia bernama Kemara, dengan sabar merencanakan ekspedisi tersebut selama berpuluh-puluh tahun. Sampai akhirnya Raras menemukan dua orang yang diramalkan dapat membantunya menemukan Puspa Karsa mengandalkan keistimewaan bakat mereka.

Mereka adalah Jati Wesi dan Suma.

Dua orang yang hidup dengan kontras kelas sosial berbeda namun memiliki satu persamaan yang mengunci mereka dari kebanyakan interaksi sosial orang pada umumnya.

Jati dan Suma dilahirkan dengan penciuman super yang sering kali menyiksa mereka dan dialienasi dari kesederhanaan hidup.

Dari sana konflik, petualangan, juga misteri menuju Gunung Lawu menjadi santapan bergizi untuk dibaca tanpa henti.

Seperti layaknya kisah petualangan, seiring berjalannya cerita satu persatu tabir peristiwa yang mencekam pun mengejar mereka.

Apakah ekspedisi pencarian Puspa Karsa akan berhasil?

Temukan jawabannya dengan membaca novel Aroma Karsa ya!

Saya sebagai pembaca di awal cerita sangat asik dibawa pada perkenalan kikuk antara Jati dan Suma. Meskipun sengit namun romansa melankolia Jati ke Suma sangat mengharu biru.

Mulai dari surat-surat cinta Jati yang tak pernah sampai, pembuatan parfum atas wangi tubuh Suma, juga keintiman yang dirasakan lewat kesamaan nasib melahirkan obsesi satu sama lain yang membuat kisah Jati dan Suma begitu manis juga pahit secara bersamaan.

Pembaca dibuat mabuk juga gemas dengan tingkah mereka berdua.

Dan bukan Dee Lestari namanya jika tidak melakukan riset mendalam untuk melahirkan tiap-tiap karya yang ia buat. Dee sampai pergi ke Singapura untuk mengikuti kelas pembuatan parfum dan berkunjung ke daerah Bantar Gebang untuk melihat langsung bebauan dan situasi yang ada di sana.

Sehingga dalam buku Aroma Karsa narasi dan deskripsi Dee yang begitu detail dan kaya akan dunia aroma terasa hidup hingga ke hidung pembacanya.

Namun, sejujurnya yang agak mengganjal buat saya sebenarnya ada di seperempat akhir halaman. Ketika tensi ekspedisi ke Gunung Lawu dimulai. Saya mengharapkan ada sesuatu yang besar terjadi. Seperti pertempuran epik atau pun tragedi-tragedi dengan drama yang meremukkan bak di cerita Game of Thrones.

Konspirasi yang dijahit dari awal cerita pun saat menuju akhir terhempas begitu cepat dan terkesan terburu-buru.

Terlepas dari itu semua, saat menamatkan cerita Aroma Karsa diri saya masih dihinggapi perasaan bungah yang menyenangkan. Petualangan setebal 700 halaman ini menciptakan sebuah dunia yang tidak pernah disadari sebelumnya. Dan rasa cinta saya pada karya Dee Lestari pun semakin mendalam.

Yang mau saya saluti dari peluncuran novel Aroma Karsa adalah strategi marketing yang dijalankan oleh Dee Lestari and co. Lewat campaign ‘menghidupkan kembali nuansa cerita bersambung’, Dee beserta segenap tim Bookslife membentuk komunitas yang bisa menjadi agen voluntir tersendiri untuk menyebarkan kekuatan Aroma Karsa ke banyak orang.

Mengumpulkan pembaca avid pada satu kanal merupakan langkah yang tepat. Karena dengan berinteraksi di sana ada suatu eksklusifitas yang mampu menggerakkan para anggota untuk menjalin keterikatan lebih dalam dari sekadar teknik marketing PO dan bonus tanda tangan belaka.

Saya pernah membahas lebih detail tentang pengalaman tribe digital Aroma Karsa di sini.

Ditilik lebih dalam lagi menurut kaca mata marketing digital, peluncuran Aroma Karsa dalam bentuk cerbung lewat sebuah paltform Bookslife membuktikan bahwa adaptasi adalah motor menuju penyelesaian jurang masalah.

Mengejar awareness di kalangan milenial akan terasa lebih mudah dijangkau karena toh mereka memang yang lebih ramah teknologi.

Media baru (yang meskipun banyak ditemukan bugs dll) tersebut berhasil menimbulkan behaviour yang diinginkan dari awal. Semangat menunggu membaca cerita bersambung. Ketika atensi dan word of mouth didapat, maka pergerakkan penjualan Aroma Karsa akan naik pula. Karena audience pool sudah ada, maka tinggal bagaimana me-retain user tersebut untuk tetap kembali.

Kejeniusan ini dapat dilihat akan bagaimana moderasi Dee Lestari yang turun secara langsung menjadikan semangat tersendiri para anggotanya untuk terus berinteraksi dalam kanal tersebut.

Fanbase memang mutlak sesuatu yang dibutuhkan dalam mempromosikan sebuah produk. Namun, terlepas sekeren apa pun gimmik marketing yang ada jika karyanya tidak mumpuni semua akan terasa sia-sia.

Beruntungnya Dee memeiliki kesemua formula tersebut: Karya yang bagus+fanbase kuat+teknik marketing komunitas = Another hits dari Dee Lestari.

 

Tiga bulan mengikuti kisah #aromakarsa secara berkala di sebuah tribe digital membuat saya jadi tidak sempat untuk membaca buku yg lain. Karena memang seseru itu menunggu tiap minggu untuk bisa membaca cerita bersambung di dalamnya. Dan setelah menyelesaikan keseluruhan cerita, tidak ada penyesalan sama sekali. Kekuatan bercerita Dewi Lestari tetap memikat dan membuat adiktif. Maka sebagai pembuka #bacaanserufiguranjakarta di tahun 2018 ini, saya persembahkan sebuah novel yang akan membawa siapa pun yang membaca cerita ini masuk ke dalam petualangan aroma yang seksi, penuh misteri, dan terkadang lucu. Kengerian dan ketegangan yang terjalin akan mendorongmu jatuh pada peleburan dunia dongeng yang membuatmu akan berseru: semoga cerita ini tidak selesai-selesai. #aromakarsa

A post shared by Nurzaman (@zamanstories) on

Well, anyway, di Instagram saya membuat hashtag #bacaanserufiguranjakarta yang mengulas buku-buku seru yang siapa tahu bisa menemani me time kalian. Feel free untuk dilihat ya!

Screen Shot 2018-03-23 at 10.02.25 AM

Akhir kata sukses buat Dee Lestari untuk novel terbarunya dan untuk teman pembaca sekalian jangan lupa untuk membeli bukunya dan mulai membaui petualangan mencari Puspa Karsa. Siapa tahu kalian yang beruntung mendapatkannya 🙂

Advertisements

Perjalanan Membaca Novel Aroma Karsa (Mungkin Spoiler Sedikit)

Sebelum menulis postingan blog ini, secara personal aku sudah meminta izin ke Mak Suri aka Dewi Lestari, duluan lho!

dee

*Sok akrab, dasar caper!*

Jadi, di suatu hari yang biasa-biasa saja saat tagihan kartu kredit masih belum lunas, juga berat badan yang enggak mau turun-turun, dan percintaan yang masih sekering sepuluh tahun yang lalu.

Tepatnya sepuluh detik setelah selesai kepoin kehidupan si doi di Instagram yang sudah happy dengan orang lain, dan setelah bergumam kasar dalam hati (panjang banget intronya, mohon maaf), aku melihat satu postingan yang membuat hatiku gemetar persis seperti nama acara deterjen saat aku kecil dulu.

DAG-DIG-DUG-DER (Enggak Pakai Daia ya, saya tim Rinso).

Repeat after me, DEWI FUCKING LESTARI MAU NERBITIN BUKU BARU!

YASZ, BITCH!

BUKU BARU!

Happy-dance

Buku baru tersebut berjudul: Aroma Karsa.

Lalu dengan kegigihan yang tinggi sama seperti saat ngepoin si doi waktu pertama kali, aku buka seluruh akses jejaring media sosial yang ada di muka bumi ini untuk mencari tahu bagaimana mendapatkan buku tersebut.

Kemudian setelah dengan khidmat membaca persyaratannya, dan beberapa jam menonton satu dua episode Orange is The New Black, ternyata baru aku sadari langkah-langkahnya bukan main ribetnya pemirsa yang budimen. Terlebih operasional websitenya masih sering down.

Yang paling bikin kejang-kejang gemes adalah, Dewi Lestari berencana menerbitkan buku terbarunya ini melalui versi digital dalam bentuk cerbung (cerita bersambung) pula.

Dalam hati aku ngebatin, APA-APAAN INI? CUKUP SUDAH DIGANTUNG SAMA SI DOI MASA IYA HARUS DIGANTUNGIN DEWI LESTARI JUGA? MANEH MASOKIS HAH?

meme-Qasidah-4

Tapi, tidak sampai lima menit berfikir aku tetap mengklik enter dan submit uang 77 ribu untuk menjadi bagian dari orang-orang pertama yang akan membaca buku Dewi Lestari ini. Bhihihik.

here-just-take

#anaknyalemah atau entah memang #masokissejati ~~~ ku sudah tidak dapat membedakannya akhir-akhir ini.

Lanjut! (kebanyakan curhat nyelipnya nih penulisnya)

Maka setelah melewati drama; kok aku mau submit ga bisa kak? kok aku ga dapet email konfirmasi? kok aku ga dimasukin grup di Facebook? kok si dia makin dingin sikapnya ke aku? kok….. dan banyak kok yang lain.

Aku resmi menjadi bagian dari Tribe Aroma Karsa di Facebook.

Screen Shot 2018-02-05 at 6.54.28 PM

HAHAHAHA MEMANG ENAK KALIAN GA IKUT GRUP KECE INI!

Happy_gif

Aku kasih tau ya kenapa ikut Tribe Aroma Karsa Dewi Lestari merupakan hal terbaik di hidupku sepanjang 2018 ini:

  • Misi Dewi Lestari untuk menghidupkan kembali greget dan nuansa bercerita lewat cerita bersambung seperti masa mudanya dulu ternyata berhasil. Saya dan enam ratus orang lainnya yang tergabung di grup Facebook tersebut jadi uring-uringan menunggu hari Senin dan Kamis. Wah, kacau deh! Di setiap part cerita, pasti Dewi Lestari motong ceritanya pas klimaks-klimaksnya dan bikin kita yang baca penasaran banget. Ibaratnya nih, ditinggalin pacar yang lagi-lagi sayangnya tanpa alasan. Bikin penasaran banget kan?

tenor (1)

*aku Aries yang sensitif, sok kuat padahal anaknya gampang cry cry*

  • Terus, ruang interaksi di grup Facebook Aroma Karsa benar-benar kemewahan tersendiri. Karena di sana saya dan teman-teman yang lain bisa ngobrol LANGSUNG dengan DEWI LESTARI. GILE, SETIAP KOMEN DIBALAS BELIAU DENGAN TULUS! Enggak terbayang harga berapa yang bisa menggambarkan pengalaman tersebut! Aku loh si sobat miskin ranting Cibinong bisa ngobrol sama penulis Idolaku dari zaman SMP dulu.

tenor

  • Orang-orang di grupnya juga seru-seru. Mereka masing-masing asik dan ngotot sendiri dengan memberikan reaksi mereka tiap kali selesai membaca part demi part yang dikirim tiap Senin dan Kamis. Topik yang paling laku adalah mengkhayal siapa saja aktor yang cocok untuk memerankan karakter-karakter di novel Aroma Karsa. Udah deh, bisa debat macem Pilkada Jakarta taun lalu. Haha.
  • Yang paling kocak lagi, setiap part cerita berkisar sekitar 50-60 halaman. Sering banget aku dan teman-teman abuse scroll ke bawah berharap akan ada halaman tambahan. Yang mana tentu saja itu enggak ada. Memang kamu pikir di hidup ini semua hal yang kamu inginkan bisa kamu miliki, Mantili?

Dan yang paling ngeselin adalah tiap kali Dewi Lestari dan suaminya teasing kami saat jeda panjang menunggu Senin dan Kamis. Mereka kode-kodean aja gitu dengan kasualnya.

Teh Dewi dan Mas Reza yang kalian lakukan itu…..

Screen Shot 2018-02-05 at 7.07.59 PM

Kalian pasti penasaran kan Aroma Karsa itu tentang apa?

Jadi in general, kisah Aroma Karsa mengenai petualangan mencari bebauan terbaik di dunia ini. Karena ceritanya masih on going, jadi belum terlihat sebenarnya gerakan narasinya mau dibawa ke mana. Tapi yang jelas, bukan Dewi Lestari namanya jika tidak melahirkan karakter-karakter yang dapat mengikat para pembacanya.

Bahkan dari paragraf pertama Aroma Karsa, Dewi Lestari menyihir para pembacanya masuk ke dalam semesta penuh misteri sebuah keluarga elit yang hanya dibagi berdasarkan misi rahasia.

Ada Jati dan Sumu yang menjadi Idola para kaum halu di Grup. Mereka tuh…. ah rahasia ah. Hahaha.

Makanya ikut PO-nya gelombang ke dua saja untuk ikut Tribe Aroma Karsa.

Screen Shot 2018-02-05 at 7.16.16 PM

Kurang lebih katanya akan ada 18 part dari Aroma Karsa ini, saat tulisan ini dinaikkan aku lagi baca part yang ke-6. Masih belum ketinggalan banyak kok!

Maka teman-teman sejawat sekalian yang sudah tergabung di grup gelombang pertama, ada baiknya kita rapatkan barisan, berpegangan tangan erat dan masing-masing saling menguatkan diri selama menjadi #PejuangSeninKamis!

DSW3bcKVQAAFNq4

Kurang lebih pengalaman seperti itu yang bisa aku ceritakan saat mengikuti Tribe Aroma Karsa. Membuat hari Senin dan Kamis aku menjadi lebih seru dan juga menjadi kecut penasaran lewat kekuatan bercerita Dewi Lestari.

Sampai berjumpa di grup Aroma Karsa!

Mari membaui cerita selanjutnya bersama-sama!

Anyway, ini Jati dan Suma versi aku:

jati suma

A Day with Dewi Lestari

Sabtu kemarin, tanggal satu april dua ribu tujuh belas tepatnya di jam dua siang, setelah telat dua jam datang ke sebuah seminar di Galeri Nasional, dengan terburu-buru saya menghampiri deretan bangku depan di mana teman saya sudah menunggu dengan memberikan tampang sebal.

Setelah meminta maaf, saya langsung memfokuskan diri pada tiga perempuan yang ada di panggung depan. Penampakannya adalah: pencahayaan yang buruk, banner acara yang terlalu kecil dengan design yang tidak mematuhi tata warna dan prinsip keterbacaan (bagaimana bisa seseorang membuat sebuah spanduk dengan dasar warna merah cenderung gelap dan menimpanya dengan tulisan berwarna hitam? Well, terima kasih, we can’t see your words for sure), lalu dengan kesalahan teknis mikrofon yang sangat menggangu, yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara dengungan keras dan tajam, akhirnya secara resmi semua ke clumsy-an itu menandakan acara talkshow sudah dimulai.

Sang moderator, perempuan muda pemenang debat nasional yang sepertinya tidak berbakat menjadi seorang moderator, karena dia terlalu terburu-buru dalam menyampaikan tiap resolusi diskusi dengan aksentuasi yang kelewat grenyek- tau kan ketika seseorang tidak memiliki dinamika rendah tingginya volume suara dan intensitas suara yang terlalu nyaring, jenis suara yang membut setiap ucapannya terdengar seperti orang marah-marah. Tidak ada kelunakan di dalamnya, dan sangat tidak bisa dinikmati. Girl, for sure you should stay on debate.

Dan yang membuat saya rolling eyes adalah dia tidak berusaha untuk menyebut kedua nama pembicaranya dengan nama asli, dia memilih untuk memanggil mereka dengan sebutan mba-mba sekalian. To be honest for me is so disturbing, sorry. Tapi sesekali ada lah beberapa momen di mana saya terpana dengan beberapa pemilihan kata-katanya. Seperti saat dia mau mengajak para hadirin untuk bertanya dan dia mengucapkan kata-kata yang kurang lebih, saya tidak akan membiarkan tiap-tiap pertanyaan anda mendingin sendiri. Damn gurl! But I love her confidence actually, all my shitty comments just because I was really really annoy about the way she deliver her words toward the speakers. Just being honest here.

Dibalik semua deksripsi judes saya, saya cuma mau bilang bahwa di antara ketiga orang yang ada di panggung tersebut ada seorang perempuan yang tulisannya sudah saya baca dan kagumi sejak saya duduk di kelas dua SMP. Waktu itu tahun dua ribu empat, dan umur saya baru empat belas tahun. Saya memegang bukunya dan kebetulan membaca karyanya secara acak. Yang saya baca pertama kali adalah bukunya yang berjudul PETIR. Dengan filosofi nama-nama karakter yang menurut saya lucu (spolier alert: Nama Etra dan Watti berasal dari pekerjaan Ayah mereka dibidang listrik) membuat saya tertarik untuk menamatkan buku tersebut. Sejak saat itu saya menyimpan nama Dewi Lestari sebagai penulis favorit saya.

Dan setelah sepuluh bukunya yang saya baca dan ratusan or ribuan jam yang saya habiskan dengan membaca seluruh isi blognya dari tahun dua ribu delapan. Akhirnya saya bisa bertemu dengan Dewi Lestari secara langsung.

Dan yang terbaiknya adalah, ia menyebut nama saya dan tatapan mata kami bertumbuk beberapa detik (kondisi ini terjadi karena saya mengajukan pertanyaan juga sih haha).

Momen sepanjang satu jam setengah di hari Sabtu yang mendung itu terasa tidak nyata. Itu DEWI FUCKING LESTARI duduk terpisahkan hanya beberapa kaki dari tempat saya berada dan kenyataan bahwa kami berbagi oksigen yang sama dalam satu ruangan adalah sebuah GOALS checklist yang akan saya kristalkan dalam memori hidup saya.

Terutama setelah saya mengatakan pada DEWI LESTARI secara langsung bahwa cerpen MENCARI HERMAN adalah cerpen terbaik yang pernah saya baca sepanjang hidup saya.

Ok, enough story about being fanboy I guess.

Kembali tentang seminar tadi, dengan tema Indonesia Menulis, para mahasiswa UI jurusan Hukum ini menghadirkan dua penulis perempuan kece dengan dua perspektif yang menarik. Ada Agnes Davonar sang penulis novel best seller seperti; Surat Kecil untuk Tuhan, My Idiot Brother dan Gaby. Beberapa cerpen dan novelnya telah diangkat ke pelbagai layar lebar dan sukses di pasaran. Menghadirkan sebuah topik yang menurut saya penting untuk dibagi pada para penulis pemula. Yaitu tentang membuat brand, konten, dan marketing sebuah karya.

Kemudian Dewi Lestari, sosok yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi tentang kemampuan teknis penulisannya, membagikan beberapa tip dan cerita pahitnya pada masa-masa awal penulisan buku maha penting SUPERNOVA.

Dua pembicara yang berprofesi sebagai penulis best seller ini membagikan resep penulisan dan post production penulisan yang sangat applicable bagi para penulis pemula. Secara bebas akan saya list di bawah ini:

  1. Dewi Lestari dan Agnes mengajarkan kita bahwa kegagalan bukan akhir dari sebuah perjuangan. Mereka menceritakan tentang penolakan demi penolakan dari para penerbit besar pada masa awal penulisan mereka. Tidak putus asa, mereka pun memutuskan untuk menerbitkan buku mereka secara mandiri. Dan hasilnya? Best seller! Terlebih untuk Agnes, dia telah memiliki kontrak eksklusif dengan sebuah brand coklat yang membuatnya menjadi penulis established dengan karya yang belum terbit, tapi sudah diperebutkan banyak orang. Pencapaian yang terbilang sukses untuk penulis di Indonesia.
  2. Menulislah karena itu adalah sebuah panggilan hati dan bukan karena faktor uang. Secara komikal Dewi Lestari menceritakan kisahnya tentang bagaimana dulu saat ia mengikuti satu buah lomba cerpen di sebuah majalah dengan honorium 75 Ribu yang di masa itu sangat besar sekali bagi anak SMP. Dengan pedenya dia sudah membuat daftar ke mana saja uang itu akan pergi. Setelah dua bulan berlalu dan namanya tidak pernah hadir dalam deretan pemenang bulanan, akhirnya ia sadar ia telah gagal. Sampai kuliah pun ia terus mengalami penolakan dan kegagalan yang membuatnya akhirnya sadar bahwa karya tulisannya tidak pernah menang dikarenakan tidak sesuai dengan kriteria majalah-majalah tersebut. Entah tulisannya terlalu pendek untuk sebuah cerbung, atau terlalu panjang untuk sebuah cerpen. Yang akhirnya membawa dirinya pada keputusan bahwa ia akan menulis untuk dirinya sendiri. Untuk sebuah pencapaian kepuasan aktualisasi dirinya di usia 25 tahun. Untuk membuktikan ia telah menang atas dirinya sendiri. Sebuah sprit awal yang sangat perlu ditanamkan pada tiap-tiap penulis pemula bahwa, mulailah menulis karena itu hal yang paling penting untuk diri kamu sendiri. Bukan karena untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
  3. Marketing strategi adalah sesuatu yang kadang kala luput oleh para penulis di Indonesia. Karena memang sejatinya tugas penulis adalah menulis dan menyerahkan pemasaran buku pada penerbit. Namun bagi mereka yang berkeinginan untuk menerbitkan buku secara mandiri, bagian marketing adalah hal yang krusial. Karena mereka harus tahu bagaimana mendistribusikan buku mereka dan sampai di tangan para pembaca. Agnes menceritakan kisahnya yang menurut saya sangat strategis, yaitu dia membuat sebuah blog dan menuliskan ratusan cerpen di sana dan membuat traffic dan hit websitenya tumbuh secara organik. Setelah mendapat angka jutaan viewers ia menawarkannya pada penerbit. Dengan bargain seperti ini, penulis menjadi memiliki peluang lebih untuk membuat karya mereka diterbitkan. Karena mereka telah lebih awal membuat brand dan audience mereka sendiri.
  4. Simpan semua tulisan lama. Karena kata Dewi Lestari, kita tidak akan pernah tau kapan tulisan-tulisan tersebut akan menjadi fragmen-fragmen support yang penting dalam penyatuan sebuah manuskrip. Kadang it helps. Puisi-puisi dalam novel Supernova jilid pertama tadinya berasal dari bank data Dewi Lestari, yang akhirnya ia rajut menjadi sebuah kesatuan dalam bukunya tersebut. Dan sebut saja Filosofi Kopi, Madre, juga Perahu Kertas yang berasal dari harta karun lama Dewi Lestar. Jika dia tidak pernah menyimpannya, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk membaca karya-karyanya tersebut. Jadi sepayah apa pun tulisan kamu, just keep it. We don’t know how those writings will help us.
  5. It sound cliche but please NEVER GIVE UP. Karena menyelesaikan tulisan bukan pekerjaan semalam jadi. Dan setelah jadi pun bukan barang mudah untuk menerbitkannya. Jadi tetaplah berjuang. Karena jika menjadi seorang penulis adalah benar-benar mimpimu, jangan pernah berhenti mengejarnya.
P_20170401_152638_BF
Selfie bahagia dengan Dewi Lestari

Obrolan Sabtu kemarin agaknya membuka pikiran saya bahwa memang menjadi penulis adalah pekerjaan seumur hidup. Dan kata menyerah tidak ada di dalamnya. Semangat untuk teman-teman yang sedang ingin memulai atau sudah menjalani proses mencapai mimpinya menjadi penulis!