Cek Toko Sebelah: Film Komedi Terbaik

maxresdefault (1)

Ernest Prakasa sebagai seorang Sutradara di film Cek Toko Sebelah hadir dengan penyampaian cerita dan eksekusi yang lebih matang dibanding film Ngenest terdahulu. Presentase jokes hit and miss kali ini lebih banyak menghadirkan tawa, meski lagi-lagi dalam beberapa adegan Ernest sepertinya terjebak pada kewajiban untuk menampilkan satu gudang para stand up comedy dengan jokes yang, lagi-lagi, mungkin hanya dimengerti oleh mereka para penonton lama Ernest dan acara Stand Up Comedy.

Sehingga dengan keriuhan itu semua membuat fokus cerita pada karakter-karakter inti pun jadi terabaikan dan berkurang porsinya.

Motivasi workaholic Ernest, proses penolakan tawaran Ayahnya, dan proses pengembangan bisnis warung pun terasa hanya seadanya saja. Meskipun tidak bisa dibilang jelek, namun Ernest sebenarnya bisa lebih jauh lagi mengolah bagian cerita tersebut. Karena dari situ ikatan emosi antara cerita Ernest dengan penontonnya akan lebih dalam terbangun.

Namun dibalik keluputan tersebut, Ernest mengukuhkan dirinya sebagai aktor dan sutradara komedi romantis yang baik.

Paket cerita cinta yang manis dan drama keluarga yang menyentuh dengan pemilihan cast yang tepat membuat cek toko sebelah sebagai kesatuan film yang memang menghibur. Anda akan dibuat tertawa dan menangis dalam film ini.

Kesalahan Ernest pada pembagian tempo cerita di film Ngenest terdahulu diperbaiki dengan baik, setiap babak pada film memiliki porsi yang pas dan transisinya pun lebih masuk akal.

Jadi dalam film ini tidak akan ditemukan keburu-buruan di setengah jam terakhir seperti yang ada di film Ngenest. Semua resolusi masalah diselesaikan dengan tepat oleh Ernest.

Meskipun harus diakui peran Gisel di sini agak mengganggu, dengan akting yang kaku, membuat adegan mereka ketika berantem dan scene terakhir yang harusnya romantis di antara ernest dan gisel terasa plain dan painful to watch. Padahal Ernest sudah melempar umpan yang pas, namun Gisel gagal untuk meresponnya.

Seperti, apa sih motivasi Ernest harus balikan sama karakter cewek macem gini? Pengenalan dan pendalaman tokoh Gisel masih terlalu cetek di film ini. Seperti tempelan yang tidak ada pun tidak masalah.

Andai saja peran Gisel dengan ambisi dan kegalauan dirinya dieksekusi dengan baik, dan adegan curhat Gisel dengan Adinia bisa lebih intens, sudah pasti semua motivasi para karakter di cerita Cek Toko Sebelah saling terhubung satu sama lain.

Tetapi secara keseluruhan film ini sangat menghibur. Penambahan culture keturunan tiong hoa yang memiliki usaha di Indonesia pun hadir dengan smooth dan real. Tidak ada penceramah di sini, film ini hadir sebagai media hiburan untuk mereka yang membeli tiket.

Lewat film Cek Toko Sebelah, Ernest berhasil menghadirkan wajah minoritas dengan visual yang manis dan penceritaan yang jenaka. Menjadikan gap yang selama ini ada pelan-pelan luntur, dan pada akhirnya kita belajar bahwa kita enggak akan melulu mendapatkan apa yang kita mau. Namun kita akan mendapatkan yang terbaik for the sake of greater good.

Sudah pasti ke depannya saya akan menunggu film Ernest berikutnya.

Good job, Ernest!

Advertisements

Ngenest: Becanda Yang Ada Isinya

Ngenest-Poster

Semua orang pasti sepakat bahwa Ernest Prakasa adalah seorang aktor yang baik. Dia selalu menyampaikan semua dialog dengan gerakan yang nyata. Gue akan percaya dengan setiap peran yang dia mainkan. Baik di Comic 8 sebagai seorang perampok gila atau perannya menjadi karyawan nyebelin di Sabtu Bersama Bapak. Semua dia mainkan dengan sangat flawless.

Lalu di akhir tahun 2015, Ernest muncul dengan film Ngenest, karya pertamanya sebagai seorang sutradara sekaligus aktor di dalamnya. Latar belakang Ernest sebagai stand up comedian yang satu geng dengan Raditya Dika membuat gue ragu dengan film ini. Karena jujur aja, gue enggak pernah  menikmati jokes jomblo Raditya Dika yang di abuse terus menerus. Maka gue memiliki ketakutan bahwa film ini tidak akan jauh berbeda ceritanya seperti film-film Raditya yang lain, yang kisahnya hanya berputar tentang derita jomblo dan sexism cewek pas masa pacaran. Seabsurd itu, kesannya enggak ada topik lain di dunia ini yang lebih penting dibanding jadi jomblo dan cewek yang enggak bisa satu frekuensi sama elo.

Tapi ternyata Ngenest hadir di luar ekspektasi, ia muncul sebagai film komedi yang renyah namun memiliki statement yang kuat. Ngenest menampilkan kisah menjadi minoritas di Indonesia. Dengan mostly karakter di filmnya adalah keturunan Cina.

Sesuatu yang bisa dibilang jarang ada di Indonesia, karena biasanya tokoh dan karakter Cina berhenti sebagai kokoh penjual barang klontong saja. Tapi di sini, sebagai film coming age, Ernest menawarkan kisah menarik dari betapa tidak enaknya menjadi etnis Cina di Indonesia. Bagi siapa saja yang menontonnya, baik itu pribumi atau memang peranakan Cina, pasti pernah bergesekan dengan isu ini. Suka tidak suka, beberapa tampilan adegan di film ini berusaha menyentil kita bahwa menjadi berbeda itu tidak enak dan tidak seharusnya diperparah dengan hinaan yang malah memperparah semuanya. Tenang, seperti yang gue bilang tadi, semuanya dibalut komedi.

Cerita di mulai dari masa pembulian Ernest dari bangku sekolah, ia dengan fisik yang berbeda dengan anak-anak lainnya membuatnya menjadi sasaran bully dan kolekan yang empuk. Lambat laun, muak dengan nasibnya, ia pun memiliki pikiran bahwa untuk memutus tali kesengsaraan minoritas ini adalah dengan memperbaiki keturunan. Yaitu dengan menikahi cewek pribumi.

Semua pun terwujud dengan Ernest menikahi Mei, cewek yang ia temui secara tidak sengaja di tempat les bahasa Cina saat ia kuliah di Bandung. Mei diperankan dengan sangat apik oleh Lala Karmela.

Lalu setelah satu jam berlalu, konflik cerita muncul dengan ketakutan Ernest jika nanti anaknya terlahir sebagai Cina juga. Turbulensi yang menggoyang semesta sempurna hidup Ernest. Dan film pun diakhiri dengan win win solution di mana Ernest memiliki anak perempuan Cina, namun dengan kondisi di mana ia sudah menerima fakta bahwa, it is okay to have anak sipit, asal dia selalu ada buat anaknya, dan enggak lari dari dia. Tamat.

Film berdurasi satu jam dua puluh delapan menit itu berhasil membuat gue penasaran akan nasib masing-masing karakter di film Ngenest. Akting semua karakternya pun enggak ganggu. Pas. Bahkan mereka dapat mendeliver jokes dengan timing yang tepat. Meski ada beberapa jokes yang hit and miss. Tapi ya, bikin film komedi emang susah kan, jadi gue manut aja.

Tapi yang sangat mengganggu buat gue adalah akan tempo narasi film ini. Karena selama satu jam awal, film terlalu banyak mengenalkan karakter, selain Ernest, semua orang tidak memiliki konflik yang berarti.

Fragmen demi fragmen Ernest pun berjalan terlalu mulus, yang padahal gue berharap akan ada ironi-ironi pahit yang dijalani karakter Ernest di film yang membuat karakternya tumbuh dan berubah. Dan kealfaan itu pun diperparah dengan munculnya konflik krusial di babak terakhir tentang kegamangan Ernest, yang seharusnya bisa diurai dan menimbulkan simpati, tapi sayangnya semuanya diselesaikan dengan terburu-buru selama dua puluh menit saja.

Lalu yang buat gue rolling eyes adalah peran side kick si Patrick, Ernest membuat konfliknya mengambang begitu saja. Padahal, sahabatnya mandul. Fucking mandul. Kalau di dunia nyata elo ngedenger tetangga elo ngaku mandul, elo pasti udah iba seibanya manusia. Lah, ini sahabat dari kecil gitu, bro for life, tapi si Ernest lempeng aja gitu responnya.

Don’t get me start dengan peran-peran pendukung lain, teman-teman Ernest di kantor dan kuliah pun, Ernest tidak berusaha untuk mengenalkannya. Mereka cuma kayak lalu lalang untuk hadir ngejokes tanpa penontonnya tahu fungsi mereka sebenarnya apa dalam cerita tersebut.

Dengan tempo dan dosis scene yang terlalu terburu-buru, membuat film Ngenest yang kuat di premis menjadi goyang di departemen ceritanya.

Padahal, jika diberikan ruang dan durasi yang lebih lama untuk menyampaikan kisah sentral tentang ketakutan Ernest memiliki keturunan Cina yang akan mengalami nasib yang sama dengannya. Gue rasa film Ngenest bisa jadi film komedi yang padat dan membekas. Tidak menggantung hampa seperti jokes penyanyi kawinan Koh Hengki yang membuat gue mengerenyitkan dahi.

Tapi over all, cerita di film Ngenest lebih solid dibanding kesemua film-film absurd Raditya Dika dijadi satu.