Cerita di Akhir Bulan

Belanja bulanan adalah satu dari banyak aktivitas rutin yang dilakukan untuk mengisi ulang persediaan makanan, kebutuhan kamar mandi, atau terkadang masa lalu yang tak sengaja terbeli.

“Menurutmu sudah berapa banyak mie instan ya yang aku beli sepanjang hidupku?”

Aku mencoba menghitung, I mean, dengan serius. Membuka kalkulator lalu menghitung ada berapa minggu dalam dua puluh delapan tahun. Kemudian aku kalikan dua (karena sejak kecil aku diharuskan hanya boleh makan mie instan di akhir pekan saja). Hasilnya dua ribu sembilan ratus dua puluh. Jika dikarduskan, aku sudah mengonsumsi tujuh puluh tiga karton mie instan.

“Lalu, sudah berapa tahun, bulan, minggu, hari, menit, dan detik sejak kita memutuskan untuk tidak bertemu satu sama lain dan sepakat untuk memutus semua dorongan yang membuat kita berada dalam kondisi seperti ini? Berada dalam satu ruangan, berbagi udara dan oksigen yang sama, dan akhirnya berbicara juga melemparkan pertanyaan satu sama lain?”

Dan kamu menggelengkan kepalamu sembari menyembunyikan tawa kecil dari mukamu. Aku tidak kuat untuk tidak ikut tertawa denganmu.

“Apa yang lucu?” tanyamu bingung.

“Karena kamu ketawa duluan.”

“Kamu pasti sangat merindukanku,” godamu.

“Pede. Aku sudah punya pacar tau.”

Bohong. Kamu tau kan aku hanya tidak ingin membuatmu merasa terlalu menang dengan segala yang terjadi di antara kita berdua.

Kamu yang menikah dan aku yang masih single. Tentu saja kamu merasa kamu yang jadi pemenang di antara kita berdua. You wish!

Terkadang aku mempertanyakan alasan mengapa kita bertemu lagi seperti sekarang. Di waktu yang sebenarnya tidak terlalu tepat untuk masing-masing di antara kita.

Kamu yang sudah bersama istrimu dan aku dengan kehidupanku yang masih belum bisa melupakanmu dan memori-memori di dalamnya. Yeah, I know aku yang kalah.

Tapi bukan berarti dengan semena-mena semesta berhak memberikanku pemandangan bahagia milikmu ini.

Dengan senyum paling lebar yang pernah aku lihat dari wajahmu, kamu begitu tergila-gila dengan perempuan ini. Perempuan kecil botak yang berlari ke arahmu. Lalu kamu pun melemparkan tatapan teduh dari kedua mata coklatmu yang dulu pernah menjadi hal yang bisa membuat hatiku berdegub tak karuan.

Perempuan kecil botak itu memanggilmu papah dan memeluk kakimu erat-erat.

Kamu mengangkat tubuhnya dengan riang, menciuminya tiada henti dan memeluknya dalam-dalam seakan tidak boleh ada siapa pun yang menyakitinya. Seolah angin pun dapat membuatnya terluka.

Semua gerakan itu seperti sebuah gerakan lambat dimataku. Begitu bahagia, begitu asing, and honestly it hurts me a lil bit.

Sialnya aku berada di tengah-tengah semuanya.

Umur putrimu hampir tiga tahun dan dia sudah bisa calistung. Kamu ucapkan itu semua dengan penuh cinta dan bangga khas seorang Ayah.

Rasa-rasanya itu wajar, duniamu berputar begitu sempurna. Kamu menikah, memiliki anak, dan kamu berbelanja bulanan seperti aktivitas manusia normal lainnya.

Sedang duniaku, entahlah. Aku sepertinya sudah tidak mengenal duniaku lagi. Aku hanya meneruskan hidup dan menunda kematian datang.

“Ini Tante Mel, teman Papa waktu kuliah dulu.”

I supposed to be your mother I guess, secara teknis jika kami masih berpacaran dan tidak ada satu perempuan gila yang terlalu terobsesi dengan masa depan, which is perempuan gila itu adalah aku, mungkin aku yang akan melahirkan anak untuknya. Mungkin, yeah mungkin.

Perempuan kecil botak itu tersenyum padaku, kemudian menempelkan jari-jari basahnya di rambutku yang telah lurus sempurna karena perawatan sepuluh step yang dianjurkan penata rambut langgananku. Lalu DIBASAHI BEGITU SAJA DENGAN LUDAH YANG CUMA TUHAN YANG TAU ANAK BOTAK ITU MAKAN APA SAJA.

Lalu aku hanya balik tersenyum, membuat suasana untuk tetap cair dan semoga saja kita akan tetap berbincang seperti ini.

“Di mana ibunya?”

Itu loh… perempuan jahat yang telah merebutmu dariku dan terakhir aku cek di Facebook, yang mana empat jam lalu, bahwa dia hanya perempuan biasa-biasa saja yang tidak pernah menonton Game of Thrones dan tidak mendengarkan Beatles sama sekali. Oh please.. siapa yang tidak suka Beatles?

“Dia sedang berbelanja daging dan ikan untuk pesta ulang tahun Mamah.”

“Oh iya hari ini adalah ulang tahun Mamahmu. Titipkan salam dariku. Aku merindukan sambal kentang goreng ati buatannya.”

“Ia masih menanyakanmu sesekali.”

“Ya sudah lama sekali. Lama sekali.”

“Terakhir puasa tahun dua ribu dua belas bukan? Saat kamu membantu Mamah membuat kue-kue lebaran yang entah dari mana kamu begitu jago. Kamu masih suka masak?”

“Kadang-kadang, jika lapar dan tidak punya cukup uang untuk makan di restoran.”

Kamu kembali tertawa, kini dengan tulus. Seperti dua orang yang dulu pernah dekat kemudian terpisah karena ada perang padri panjang dan akhirnya bertemu lagi di sebuah toko swalayan.

“Kamu mau menggendongnya sebentar? Makin lama ia makin berat.”

Entah kenapa aku patuh dan begitu saja langsung menggendongnya.

“Siapa namamu?”

“Melaney. Mel.. Melaney. Mel..” jawabnya berulang-ulang dengan suara kecil seraknya.

Aku menatapmu buru-buru dengan perasaan tidak karuan.

“You named your daughter by my name?” tanyaku tergugup-gugup.

Kamu tidak menjawabku. Kamu hanya diam dan menatapku begitu dalam dengan kedua mata coklatmu. Persis seperti pertemuan terakhir kita.

Tiga tahun lalu kamu menyempatkan mengirim pesan pribadi padaku, menanyakan kabar, meminta bertemu. Kamu ingin bercerita.

Sayangnya pesan itu terlalu menyesakkan, aku tak kuat bertemu denganmu. Aku memilih diam tidak menggubrisnya.

Siapa pula yang mau mendengar rencana menikah mantan kekasih yang diam-diam masih kamu cintai.

Namun kamu terus memaksa dan kita pun bertemu. Kamu begitu berubah, begitu asing, namun ciumanmu tidak. Masih dengan basah dan gerakan yang aku hafal betul.

Kamu mendorongku, meraba seluruh tubuhku, mengacak-ngacak rambutku. Kamu jilati seluruh tubuhku seakan aku es krim yang hampir hancur meleleh, tidak boleh ada satu senti pun yang lepas dari jeratanmu.

Aku mendesah nikmat, tidak ada satu pun di antara kita yang meminta ini berhenti. Dan itulah bagaimana aku mengingat bagaimana kita bertemu terakhir kali.

“Dari mana saja sih kalian berdua, Mamah cari-cari dari tadi.”

Layaknya sinetron murah di televisi, semua pertemuan spekta ini pun ditutup dengan kedatangan istrimu yang berjilbab dan begitu cantik. Perempuan yang dulu pernah terfikir untuk aku santet dan teluh lewat penyakit kulit.

“Kok digendong bukan sama Papah sih, Mel.”

Sambil tersenyum aku menyerahkan anak kalian pada perempuan itu.

Memori memang bukan kawan yang baik. Ia tidak membantu untuk meredakan dahaga, malahan membuatnya semakin subur. Dan kehadiranmu lengkap dengan semua kehidupanmu yang begitu nyata membuat dahaga itu menjadi racun yang menghentak terlalu keras.

Aku tidak sanggup. Aku harus pergi.

Detik kemudian aku hanya tersenyum sambil lalu dan menjauh tanpa mengucapkan apa pun. Meninggalkan keluarga bahagia itu. Meninggalkanmu sekali lagi.

Aku kembali pada troli belanjaanku, mengambil satu dua botol bir yang aku rasa perlu untuk malam ini. Menyerobot beberapa antrian Ibu-Ibu yang hanya meninggalkan troli penuhnya dan masih berkeliaran dibeberapa diskonan yang hanya berbeda seratus dua ratus rupiah saja.

Kamu sudah tampak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya aku akan berdiri saja mengantri di kasir yang paling penuh seperti manusia normal lainnya di tempat ini lalu pulang sambil menangis dan mabuk. Agar esok pagi tidak ada penyeselan yang tertimbun rapat pada sebuah kesepian seperti manusia normal lainnya yang baru saja bertemu mantan kekasihnya yang ternyata menamai anaknya seperti namamu.

Betapa klise hidup ini.

https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTYfrom: https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTY
Advertisements

Hasrat

Dalam derap langkah yang berat kamu dapat mendengar ketergesa-gesaannya. Ini ketujuh kalinya ia melarikan diri saat kamu berpapasan dengannya.

“Apa yang salah?” tanyamu bingung.

Kali ini kamu tidak ingin kehilangannya. Kamu pun mengejarnya, membuntutinya dari belakang. Untungnya langkahnya tak lebih cepat darimu. Kini kamu sejajar dengannya. Dalam posisi koordinat yang sama. Detik kemudian kamu berlari lebih cepat dan menghadang dirinya dari depan.

Terkejut, badannya menabrak dirimu keras. Kalian berdua pun terjatuh, mengaduh sakit. Namun ini layak untuk dilakukan. Pikirmu.

“Lakukan sekarang!” perintahmu.

Dirinya masih terkejang kaget. Namun kamu tidak mau mendengar alasan apa pun. Kamu pereteli kancing bajunya dengan kasar, beberapa sampai terlepas. Dengan tergesa-gesa dalam satu kali usaha kamu sudah dapat membuka celananya, kini ia telanjang bebas. Kamu dapat melihat satu benda padat keras di tengah-tengah selangkangannya.

“Ini kan yang kamu mau?”

Kamu melepas celana dalammu. Membasahinya dengan ludah dari mulutmu. Menggeseknya di kemaluanmu.

Kamu mengerang nikmat saat merasakan jemarimu dengan pelan meraba kelaminmu, memberikan kenikmatan yang tak terperi.

Kamu menguasai dirimu kembali, menarik gumpalan tumpul macam belalai lemas. Kini kamu paksakan masuk ke dalam lubang milikmu. Kamu mengerang sakit. Namun ini jenis sakit yang memberikan nikmat. Sakit yang berujung nikmat adalah sesuatu yang akan membuat candu, adiktif pada tiap gerakannya.

Kamu hamburkan badanmu ke dirinya, menyuruhnya untuk memegang pinggangmu dan kamu bergoyang di atasnya. Cepat… pelan.. Cepat.. Pelan.. Cepat, cepat dan kamu tidak berhenti. Dalam beberapa menit kamu memberikan tarian penuh bertenaga. Kamu kempit semuanya hingga ia berteriak linu, badannya pun lemas terkulai tak berdaya. Kalah dalam kenikmatan.

Di akhir gerakan kamu juga mengejang penuh nikmat saat ia menghentakan pinggangnya ke tubuhmu. Seakan dirimu ditusuk dengan begitu dalam. Kamu dapat merasakan cairan lengket itu menempel di rongga kemaluanmu. Kamu biarkan sejenak, karena kamu tahu itu adalah kesia-siaan.

“Tak usah khawatir. Aku mandul,” ucapmu cepat. Lalu kamu membersihkan badanmu dari serpihan-serpihan tanah yang kotor. Sekotor apa yang terjadi beberapa menit lalu dengannya.

Lelaki berantakan itu pun tidak susah payah untuk merapihkan dirinya. Karena memang ia orang gila yang biasa berjalan tanpa arah. Dan malam tadi ia merasakan kegilaan yang melebihi semuanya.

Kegilaan itu bernama hasrat. Dan semua orang tahu, tidak ada satu orang pun yang mampu menahannya.

88419cb6b019dbd8082b3293bbd7bcabsource pic : https://id.pinterest.com/pin/234116880604884987/

Pulang

screen-shot-2016-12-11-at-2-13-05-am

Sepi bukan tamu yang baik. Ia tidak datang dengan permisi. Ia datang tiba-tiba, di Jumat malam disaat jalanan Jakarta macetnya bak neraka. Semua orang berlomba-lomba untuk mendatangi satu cafe, atau bar, atau hotel untuk berpeluh kesah dengan sahabat atau pasangan.

Tapi tidak bagi Sara. Hanya satu yang diinginkannya detik itu.

Pulang ke kosannya.

Ia sudah membayangkan tidur-tiduran di bawah AC, menikmati pedasnya empek-empek sendirian sambil menonton series maraton hingga pagi hari.

Sambil menunggu ojek online-nya datang, Sara bergabung dengan banyak karyawan lainnya di lobi bawah menanti sang driver untuk menjemput mereka.

Setidaknya kali ini ia tidak dikelilingi rasa sendiri yang menikam pelan di balik handphonenya yang kini sepi oleh pesan-pesan singkat yang dulu sering menanyakannya; kapan ia pulang, makan dimana nanti, atau hanya sekadar ucapan hati-hati di jalan. Pikir Sara.

Ia mulai gelisah dan perlahan menggigit ujung sedotan ditangannya. Kebiasaan tersebut akan refleks ia lakukan jika ia sedang takut, gelisah, maupun marah. Entah perasaan mana yang ia rasakan sekarang. Ia pun memutuskan untuk mematikan handphonenya. Namun sebelum ia sempat mencapai tombol power, ada sebuah panggilan masuk.

Dari ibu.

Sara mengangkat telfon tersebut dengan malas. Hal yang paling ia tidak suka dari Ibunya adalah ia tidak suka ditolak. Yang berarti jika detik ini si Ibu memintanya untuk ia bergegas naik taxi dan pulang ke rumah dan menjaga si adik yang dengan mati-matian ia coba hindari, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Ia harus langsung pulang. Sekarang. Sesegera mungkin. Konsep yang ia tidak suka selama beberapa tahun terakhir.

Ia membayangkan melewati macet yang teramat tidak masuk akal, ia menembus jalanan Sudirman menuju Rawamangun. Rumah lamanya.

Tempat yang dulu pernah ia sebut rumah.

Tempat pertama kali ia membawa pulang mantan pacarnya dan memperkenalkannya pada Ibu dan adiknya. Ia kembali teringat laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata malah berpacaran dengan adiknya.

Kembali ia menggerutu dan menggigit sedotannya.

Benci mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Sara terhadap adiknya Sena. Entahlah, jika ada kata yang tepat untuk menggambarkan kekesalan, perasaan kecewa, marah, tertipu, terkhianati berkumpul menjadi satu.

Sena.

Sena si cantik, Sena si berbadan lebih langsing dibanding dirinya, Sena yang selalu menarik dikalangan laki-laki. Sena, adiknya sendiri, yang dengan sengaja mengiyakan ajakan pacarnya untuk berpacaran. Kemudian menikah hanya dalam hitungan empat bulan.

Sedangkan saat bersamanya, ia butuh waktu setahun untuk si laki-laki brengsek itu mau datang ke rumah bertemu dengan orang tuanya.

Brengsek. Ucapnya kesal. Mungkin agak terlalu keras hingga beberapa orang menatapnya bingung.

‘Ada apa sih? Memang suaminya ke mana?’ tanya Sara kesal.

‘Tabrakan, Kak. Koma. Kamu ke rumah ya. Kasihan, sedang hamil pula. Mamah masih di rumah sakit ngurus bareng papah.’

Setelah kalimat itu usai, Sara mencoba mencernanya secara perlahan. Menit kemudian, driver ojek onlinenya datang, dan dia mengganti destinationnya ke arah Rawamangun.

Ketika sampai di depan gerbang rumahnya, si adik menyambutnya dengan tatapan sedang-apa-kau-disini? Mereka hanya bertatapan beberapa detik, kemudian Sara memilih masuk ke kamarnya. Tanpa menyapa Sena.

Ia menatap ke sekeliling ke kamar lamanya. Ia masih melihat foto-foto semasa ia remaja sampai kuliah. Beberapa buku yang dulu ia baca di pojok kamarnya sambil melihat keluar. Lalu sampailah ia pada tumpukan cd dan kaset usangnya. Masa di mana memutar kaset dan cd adalah cara umum untuk menikmati sebuah musik.

Ia tersenyum sendiri saat melihat label-label pada deretan cd dan kasetnya.

Seleksi sebelum berangkat sekolah. Seleksi minggu sore. Seleksi patah hati.

Tangannya pun menarik satu kaset dalam seleksi patah hati dan menaruhnya di dalam walkman di sampingnya. Ia masukkan baterai cadangan yang tercecer di kotak sebelahnya.

Awalnya agak tersedat sedikit, namun ia dapat mendengar alunan musik masuk ke kedua telinganya.

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best

Akumulasi patah hati dan kesendiriannya menggerakannya untuk menyanyikan lagu tersebut. Lebih tepatnya menjerit-jerit.

Entah dari mana datangnya, air mata membasahi seluruh wajahnya, dadanya terlalu sesak dengan memori masa lalu. Ia terus berteriak hingga ia lupa bahwa Sena telah berada di belakangnya. Mengamatinya sedari tadi ketika Sara mulai mengganti fungsi sisir menjadi mikrofon khayalannya.

Sara membalikkan badannya, kemudian ada jeda beberapa detik diantara mereka. Tanpa perhitungan yang pas ia bergegas menuju adiknya. Berhamburan memeluknya.

Tidak pernah ia seintim ini dengan Sena. Tidak pernah sekalipun ia memikirkan hal tersebut.

‘Saya takut ia meninggal, saya takut kamu sendirian. Sendirian itu enggak enak.’ Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil ia menangis sesegukan.

Sena terdiam. Beberapa detik tanpa reaksi. Sara terus melanjutkan tangisannya.

‘Maafkan saya. Untuk semuanya,’ ucap Sena pelan. Ia membelai rambut Sara dan membalas pelukan kakaknya.

Sara terus menangis, yang entah mengapa ia tidak bisa untuk menghentikannya.

‘Tenang. Kamu sudah di rumah,’

Pelukan itu semakin erat, kehangatan menjalar ke tubuh mereka berdua.

Mungkin ini yang Sara butuhkan. Mungkin ini yang Sena butuhkan.

Ditemani.

Malam ini.

Cukup.

Hanya itu.

Dan pelan-pelan perasaan kesepian itu pun berganti menjadi sedikit bernada.

And nobody does it better
Though sometimes I wish someone could
Nobody does it quite the way you do
Why’d you have to be so good?