Review Film Rumah dan Musim Hujan: Kisah Janggal dan Mencekam yang Membuat Decak Kagum (SPOILER)

Screen Shot 2018-03-21 at 7.45.50 PM

Sebelum memulai review filmnya, ada sebuah artikel yang akan membantu menjelaskan pergantian nama film ini yang awalnya berjudul Rumah dan Musim Hujan menjadi Hoax yang sempat beredar di bioksop kemarin.

Kebetulan saya menonton film Rumah dan Musin Hujan versi Director’s cut di Kinosaurus pekan lalu. Jadi yang saya tonton adalah yang versi original.

Bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang merayakan buka puasa bersama di rumah Bapak mereka. Film dibuka dengan adegan satu keluarga yang memainkan permainan dari Korea, bernyanyi bersama sambil mengenalkan nama masing-masing secara bergantian di meja makan.

Semua berjalan begitu riang dan menyenangkan sampai pacar si anak pertama, Raga, kalah dan harus bernyanyi. Ada jeda di sana, Ragil (anak kedua, diperankan oleh Vino G Bastian) dan Ade (anak ketiga, Tara Basro) berbagi pandangan tidak suka saat Ade berniat untuk menyalakan rokok.

Kemudian satu persatu rahasia dan kejadian janggal anak-anak si Bapak pun mulai bermunculan saat mereka pulang dari acara buka puasa. Dan yang membuat film ini asik adalah pergantian alur di film ini dibuat berjalan mundur dan selalu dimulai dari scene pulang tersebut.

Film ini pun terbagi dari tiga cerita utama, yaitu:

Pertama, dibuka dengan kisah anak ke dua bernama Ragil yang hidup dengan si Bapak yang sudah pikun juga sepuh. Sehari-hari sang Bapak harus dituntun lewat lembaran-lembaran kertas berisi petunjuk untuk melakukan apa pun di dalam rumah.

Kisah Ragil dibuat sedikit lambat dengan menunjukkan aktivitas-aktivitas kepatuhan Ragil atas pengabdian terhadap Bapaknya.

Mulai dari mengganti genteng saat hujan dan lain-lain. Namun, dibalik itu semua ada perasaan khawatir dari sang Bapak yang tidak pernah melihat Ragil mengenalkan perempuan datang ke rumah.

Sebenarnya bisa ditebak bahwa dibalik kesan konservatif Islam yang ditunjukkan Ragil dengan tidak bersalaman bersama pacar sang kakak, Raga. Penonton sudah dibentuk persepsi oleh sang sutradara bahwa there is something wrong nih sama Ragil.

Dan benar saja. Setelah melewati menit-menit kontras dengan sang Bapak yang bermain wayang sedang Ragil yang membaca Al-Qur’an. Ada satu rahasia tersembunyi yang coba Ragil utarakan ke Bapaknya namun selalu ia ulur.

Scene tersebut dengan sabar dimunculkan oleh Ifa lewat percakapan Ragil bersama seseorang di kotak Yahoo Messenger.

Ragil ternyata adalah seorang Gay. Keengganannya untuk berterus terang diwakilkan lewat mimik ketersiksaan Ragil yang selalu ia coba sembunyikan pada Bapaknya lewat senyumannya.

Lalu saat mati lampu, twist kisah Ragil pun dihidupkan dengan dimunculkannya partner Ragil di depan pintu. Dalam gelap mereka berdua pun bercumbu melawan berisiknya deras hujan di luar dan sesaknya rahasia yang menyiksa mereka berdua in the closet.

Yang menjadi pertanyaan dari cerita pertama ini adalah ketika sang Bapak meminta maaf kepada Ragil karena ia menamakannya dengan nama tersebut.

Kisah kedua, yang menjadi favorit saya, adalah tragedi yang dialami Ade yang diperankan oleh Tara Basro dengan intensitas kengerian yang menular.

Berasa sekali capeknya jadi si Ade jika dihadapkan dengan situasi yang dia alami.

Vibe bahwa kisah Ade adalah kisah mistis sudah terasa saat diperjalanan pulang Ade harus diganggu oleh suara tangisan di depannya. Yang ternyata adalah sosok laki-laki yang mendorongnya jatuh ke pelosok sawah (sampai sekarang saya masih tidak tahu apakah laki-laki itu adalah manusia atau mahluk astral. Apakah Ade diperkosa atau cuma diganggu saja? Semua masih menjadi tanda tanya)

Sambil menangis saat pulang ke rumah barunya. Sesampainya di sana Ade harus mengalami kengerian dan teka teki akan kembaran gaib sang Bunda yang mengganggunya sepanjang malam.

Sebanyak tiga kali sosok duplikasi gaib sang Bunda mengerjainya berkali-kali. Membuat Ade hampir kehilangan kewarasannya.

Kemunculan pertama saat Ade sedang mandi dan Bunda muncul dari belakang, Bunda mengepel dan meminta Ade membuka pintu rumah yang ternyata adalah….

Bunda yang baru pulang belanja membeli sikring lampu baru. Lalu ke mana Bunda yang di kamar dan meminta Ade membuka pintu?

Kemudian setelah Ade mulai percaya bahwa ini adalah Bunda yang asli, saat Ade hendak mengambil belanjaan berupa pajangan pohon pisang dalam bentuk asli. Sang Bunda yang seharusnya di kamar mandi tiba-tiba datang dari dapur membawa teh.

Ade mulai goyang. Lalu membiarkan Bunda membuatkannya teh dan Bunda pun pergi untuk solat.

Dan saat sosok ketiga Bunda sedang solat, sebuah telfon mengguncang mental Ade. Telfon tersebut berasal dari Bunda yang tidak bisa datang ke rumah.

Lalu, mana sebenarnya yang Bunda ‘asli’?

Kekuatan bagian cerita Ade ini ada di akting ke dua aktornya. Tara Basro dan Jajang C Noer. Terlebih akting Jajang C Noer yang bermain dengan begitu mencekam dan akan menghantui siapa pun yang melihat bagaimana ia mencoba untuk meminta Ade memeluknya. Kengerian itu begitu nyata keluar dari mata dan senyum palsu Jajang C Noer.

Cerita bagian kedua ini ditutup dengan statement Ade yang masih menjadi tanda tanya. Saat memukul sang Bunda Ade berkata: akhirnya aku tahu apa arti nama mas Ragil!

Yang terakhir, adalah kisah Raga yang dibawakan oleh Tora Sudiro. Dimulai dengan dongeng Raga tentang ulang tahun sang Bunda menurut tanggalan Jawa pada sang kekasih, Sukma.

Dari cerita Raga dikisahkan bahwa ketika seorang manusia berada dalam kandungan, sebenarnya mereka memiliki tiga saudara kembar. Yaitu saudara ketuban, ari-ari, dan pusar. Ketiga saudara itu menjaga sang janin dan akan muncul secara bersamaan setiap si janin ulang tahun di tanggalan Jawa.

Dari ketertarikan sana, Sukma pun diminta Raga untuk mengikuti permainan ‘kepercayaan’ saat menyetir. Mata Sukma ditutup dan harus mengikuti instruksi Raga saat menyetir. Setelah berhasil melewatinya, Sukma pun mengajak Raga untuk bercinta di dalam mobil.

Selama beberapa menit gerakan penuh kenikmatan diiringi dengan desahan panas berganti menjadi sebuah jeritan panjang. Ternyata Raga terlanjur ‘keluar’ tanpa menggunakan pelindung.

Dirundung panik, Sukma pun berfikir dia akan hamil. Berbagai cara ia cari untuk bisa menghalangi sperma Raga masuk ke dalam rahimnya.

Lama mencari, mereka menemukan sebuah artikel dalam majalah kesehatan wanita (yang anehnya ada begitu banya dikoleksi oleh Raga) bahwa yang manjur adalah lompat-lompat sambil meminum jus nanas.

Saat hendak keluar mencari jus nanas, tiba-tiba di luar rumah Raga kedatangan sang mantan. Rani.

Dari sana konflik pun terjadi. Panas karena tiba-tiba melihat sang mantan hadir di hidup Raga lagi, Sukma pun memutuskan untuk pergi dari rumah Raga. Namun, ditahan Raga. Rani berkilah bahwa kedatangannya karena alasan ia dipukuli suaminya dan butuh tempat menginap.

Permainan kecohan pun hadir di sana, apakah Rani benar-benar datang ke Raga karena meminta suaka perlindungan atau hanya mencari perhatian Raga saja?

Lalu tanpa diduga, Rani menceritakan pada Sukma bahwa Raga mandul. Dengan keterkejutan itu, Sukma meninggalkan rumah Raga dengan kesedihan dan memberikan tawa pada wajah Rani.

Film pun ditutup dengan satu keluarga si Bapak itu (minus si Bunda yang masih tidak tahu ada di mana) dengan makan bersama lagi.

Alasan mengapa film Rumah dan Musim Hujan begitu keren:

  1. Menonton film ini benar-benar memberikan pengalaman sinematik yang penuh dengan ketegangan dan teka-teki yang menyelimuti setiap cerita di dalamnya. Kejutan demi kejutan dihadirkan Ifa melalui intensitas cerita yang tadinya berjalan pelan kemudian ngegas di pertengahan sampai akhir. Semua pertanyaan yang Ifa sisipkan di bagian-bagian tertentu memberikan kekesalan sendiri buat saya. Karena apakah ini adalah sebuah plot hole yang tak terselesaikan atau memang Ifa sengaja menggoda penontonnya dengan itu semua.
  2. Adegan-adegan simbolik di film ini begitu lokal dan mengena. Seperti ketakutan seorang anak laki-laki yang mengaku sebagai Gay dimunculkan Ifa sebagai contoh awareness yang baik akan keberadaan mereka.
  3. Akting para aktor yang tenggelam pada karakter dan cerita masing-masing menghantarkan keseruan yang membawa saya sebagai penonton untuk ikut menanti apa yang akan terjadi berikutnya pada nasib mereka.

Dibalik keunggulannya tersebut, sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di kepala saya atas cerita di film ini. Seperti:

  1. Apa arti nama Ragil dalam keluarga tersebut? Jika ditelusuri dalam bahasa Jawa Ragil berarti anak terakhir. Lalu apakah Ade bagian dari keluarga tersebut atau bukan? Atau paling ngerinya adalah, apakah Ade nyata atau tidak?
  2. Bagaimana nasib si Bunda. Apakah itu asli atau hanya sosok goibnya yang dibunuh oleh Ade?
  3. Apakah Raga dan Rani bersekongkol untuk menyingkirkan Sukma keluar dari rumah? Apakah permainan tersebut sesuatu yang biasa mereka lakukan untuk kesenangan semata? Dilihat dari banyaknya buku kesehatan wanita yang Raga simpan dan ucapan sang Bapak yang mengatakan bahwa hubungan Rani dan Raga sebenarnya belum selesai sedikitnya menegaskan teori tersebut. Namun, di akhir cerita tersebut saat kamera menuju wajah Raga yang tertidur. Tidak ada gambaran senyuman seperti Rani. Mana yang sebenarnya terjadi?
  4. Terakhir. Laki-laki yang ditemui Ade di jalan itu manusia atau bukan? Apakah Ade diperkosa atau hanya diganggu setan belaka?

Ingin sekali rasanya mendapatkan jawaban-jawaban itu semua dari mas Ifa.

Well, anyways, mungkin untuk di bioskop mainstream film ini sepertinya tidak akan bisa ditemukan lagi. Jika teman-teman tertarik untuk menontonnya bisa dilihat jadwal pemutaran yang siapa tahu hadir lagi di Kineforum dan Kinosaurus.

Advertisements

Review Film Love For Sale: Sebuah Layanan Cinta Yang Membekas

Screen Shot 2018-03-20 at 1.44.10 AM

Fenomena menjadi lajang di Indonesia di tahun 2018 ini sepertinya masih menjadi suatu momok menyedihkan bagi siapa pun dan di kelas sosial mana pun.

Seakan menjadi lajang adalah sesuatu yang hina. Semacam ada sebuah toa besar berteriak di depan muka yang mengatakan: HIDUP NGANA GAGAL, JO!

Padahal yah dibalik status lajang tersebut, jangan-jangan orang-orang yang kalian bilang gagal itu malah sudah mencapai suatu prestasi yang bahkan orang-orang yang memiliki pasangan pun belum tentu bisa raih.

Terlebih di era yang semakin modern ini, beberapa orang banyak yang memang memilih untuk tetap sendiri karena kesadaran mereka sendiri. Bukan karena takdir atau cap ‘tidak laku’ yang masyarakat kepo itu coba tempelkan secara paksa dan sepihak.

Tapi, memang ada juga para lajang yang secara sadar maupun tidak mengamini beberapa persepsi usang tersebut. Beberapa orang masih merasa belum ‘sempurna’ atau belum ‘lengkap’ karena belum menemukan ‘pasangan’ yang menjadi mitos dan legenda itu.

Rong-rongan itu pun diperparah lewat pertanyaan-pertanyaan ‘KAPAN NYUSUL?’ jahil yang muncul di setiap acara keluaga, reuni, atau pertanyaan basi-basi orang-orang ketika sudah lama tidak bertemu.

Padahal, orang-orang enggak mikir apa ya kalau nyusul menikah ataupun berpasangan enggak segampang dan semurah itu.

Enggak ada jaminan bahwa ketika seseorang berpasangan maupun menikah mereka akan menemukan kebahagiaan yang fana itu.

Dan, kawan, film Love for Sale dengan sangat baik mengargumentasikan daftar ‘kegelisan’ itu semua lewat naskah yang solid dan keseluruhan akting yang juara dari segenap para pemainnya.

Apa sih yang membuat film Love For Sale itu bagus?

  1. Akting menawan Gading dan Della sebagai Ricard dan Arini

Gading Martin sebagai Ricard di film ini tampil dengan totalitas dan keasikan yang menular. Karakter menyebalkannya sebagai bos percetakan yang strict dan dibungkus dengan kontras kesunyian hidupnya sehari-hari memberikan ruang simpati pada para penonton.

Seakan kita semua yang lajang dan sudah berumur ini bisa relate dengan apa yang Ricard rasakan sebagai seorang bujang lapuk (ditanya terus kapan membawa pacar, menikah, dll).

Background Ricard pun dimunculkan ke permukaan lewat transisi yang asik ketika Arini bertanya banyak hal tentang Ricard. Dan lewat percakapan antara Ricard dan temannya, perlahan penonton dibawa untuk mengetahui luka di masa lalu Ricard yang dibahasakan dengan dramatisasi yang mengena di hati.

Kisah Ricard yang tidak diizinkannya berpacaran oleh orang tuanya yang menjadi masalah dalam hidup Ricard pun pelan-pelan luntur lewat kehadiran Arini yang lovable. Seseorang yang masuk dengan tiba-tiba dan memberikan arti baru dan rutinitas menyenangkan dalam hidup Ricard yang terbatas.

Karakter Arini dimainkan dengan sangat menawan. Saya ulang lagi, sangat amat menawan dimainkan oleh Della Dartyan.

Arini tuh kalau di SMA, semacam cewek cantik minta ampun yang mau nyapa dan main sama siapa pun tanpa peduli kelas sosial dan politik view orang-orang. Mbak, kamu kok sempurna sekali sih?

Gerak-gerik juga pengucapan tiap-tiap dialog manjanya terasa sangat nyata dan tidak dibuat-buat. Sebagai seorang pendatang baru Della memberikan nafas menyegarkan juga magnet tersendiri yang tidak bisa ditolak siapa pun dalam film Love for Sale.

Chemistry yang dibangun antara Gading Martin dan Della menjadikan mereka sebagai pasangan on screen yang membuat penontonnya percaya dan ikut mabuk kasmaran.

2. Cerita segmented namun universal

Meskipun diniatkan bagi penonton berusia 21 tahun ke atas karena adanya beberapa adegan eksplisit. Sebenarnya secara general tidak membuat film ini benar-benar baru bisa dipahami bagi mereka yang harus sudah berumur saja.

Meski wajib diakui ada beberapa pengalaman yang memang akan sangat nendang bagi mereka yang sudah pernah mengalami ditinggal nikah orang tersayang sih.

Tapi, ya luka tetaplah luka, dan semua orang yang pernah merasakan ditinggalkan pasti dapat merasakan tertatih-tatihnya menyambut orang baru dalam hidup mereka dan menjadikannya sebagai rutinitas baru yang menghidupkan mereka kembali. Seperti kisah Ricard dan Arini tersebut.

Dan Love for Sale menyampaikan ide cerita tersebut dengan sentuhan yang elegan. Bagi mereka yang berada di usia dua puluhan akhir dan tiga puluh awal, pasti akan berbahagia karena pada akhirnya ada kisah cinta yang berada pada demografis mereka yang dieksekusi dengan baik.

3. Scene-scene indah dengan detail yang manis

Jika beberapa film romantis Indonesia ada yang ngegas dan langsung memberikan gambaran-gambaran eksplisit para pemainnya di kasur dengan bermandikan keringat. Atau kekonyolan lewat kemanjaan dan ketidaksengajaan bertemu yang tidak masuk akal.

Lain cerita dengan film ini. Love for Sale memunculkan keromantisan dengan wajar seperti kebanyakan pasangan nyata di luar sana.

Mulai dari adegan kekakuan awal bertemu, pendekatan yang malu-malu, sampai akhirnya kenyamanan satu sama lain yang tergambarkan dengan asik. Semua dapat ditemukan di scene-scene manis lewat pelukan santai di kursi, jalan-jalan di malam hari yang bermandikan cahaya lampu Jakarta, dan juga seks scene yang bukan sekadar jadi tempelan saja. (Itu merupakan seks pertama bagi Ricard dan Arini menuntunnya di sana.)

Semua fragmen-fragmen tersebut hadir bukan tanpa sebab melainkan memberikan makna tersendiri dalam hidup Ricard bersama Arini.

4. Musik yang menggenapi

Keindahan film ini datang dari kesederhanaan yang ada di dalamnya. Film Love for sale tidak butuh bejibun lagu khusus untuk menggambarkan ambience keresahan dan kasmarannya Ricard dan Arini.

Cukup dengan satu lagu pamungkas yang diputar di momen-momen pas, ruang visual itu pun terisi dengan tepat. Saya sebagai penonton dapat merasakan emosi-emosi yang terjalin antara Ricard dengan Arini.

Yang menariknya lagi, film Love for Sale berhasil keluar dari jebakan pakem film romansa Indonesia kebanyakan. Tidak ada happy ending, tidak ada tawa segar karakter yang akhirnya bersama.

Film ini menawarkan pilihan intepretasi pada para penontonnya untuk mereka menerka sendiri arah dari kehidupan Ricard pasca ditinggalkan Arini dan apa sebenarnya perusahaan Love Inc tersebut.

Sampai ya setelah keluar dari bioskop, semua penonton berdecak kesal dan gemas. Karena mereka setuju Ricard sangat tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Kami bersama Ricard. #TimRicard

Yang terbaiknya lagi yang saya sukai adalah film ini adalah Love for Sale memberikan ruang pada karakter Ricard untuk tumbuh dan berubah dari kondisi awalnya. Ricard akhirnya berani untuk keluar dari bubble hidupnya dan melakukan hal-hal yang dulu terlalu enggan untuk ia jalani.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Love for Sale menjadikan Ricard sebagai gambaran terdekat realitas terkini akan para warga lajang Jakarta yang sedang berusaha untuk memercayai kembali makna cinta dengan malu-malu di sudut-sudut jalanan Jakarta.

Pun jika kita beruntung  mungkin kita bisa seperti Ricard yang berkesempatan bertemu dengan orang baru yang siapa tahu cocok dan memberikan kenyamanan yang berbalas.

Selamat menonton di bioskop film kece yang memberikan kehangatan cerita setelahnya.

Review Film The Seen and Unseen: Kehilangan Yang Sunyi

Sekala-Niskala

Film Sekala Niskala atau lebih dikenal dengan judul The Seen and Unseen menawarkan sebuah pengalaman sinematik yang menghadirkan dua kontras penceritaan visual akan dunia yang terlihat (nyata) dan tak terlihat (gaib).

Lahir sebagai kembar pengantin, Tantra dan Tantri menjalani kehidupan mereka bersama-sama. Berbagi ruang yang bahkan tak tersentuh oleh orang tua mereka sendiri. Namun, keintiman itu tiba-tiba saja hilang di suatu siang saat Tantra dengan sengaja mengambil sebuah telur pemujaan yang ia jadikan panganan makan siang bersama Tantri.

Saat mereka berbagi putih telur untuk Tantri dan kuning telur untuk Tantra, sebuah suara jatuh yang begitu keras menarik perhatian Tantra. Ia menghampiri suara tersebut meninggalkan piringnya dan Tantri seorang diri.

Mungkin ini hanya sekadar suara kendaraan mogok belaka, pikir Tantri tidak peduli. Lama Tantri menunggu, namun hingga petang tak ada tanda-tanda Tantra kembali pulang.

Bergerak dari sana cerita kemudian berfokus pada kesunyian dan kesepian dunia Tantri. Kamera pun membawa para penonton untuk menyelami semesta Sekala Niskala dari sudut pandang seorang anak kecil perempuan yang ditinggalkan saudara kembarnya.

Dengan sangat magis film ini berhasil membungkus adegan demi adegan akan bagaimana Tantri mengatasi kesedihannya. Misteri dan imajinasi melebur indah dalam semesta Niskala yang Tantri buat.

Kehilangan Tantri pun begitu puitis tergambarkan lewat gerakan tarian yang menyayat siapa pun yang melihatnya. Membawa saya sebagai penonton merasakan spektrum kesedihan Tantri yang tak terucap.

Tak hanya itu, kedalaman luka Tantri dengan simbolik disajikan dengan cerdas lewat adegan penolakan Tantri untuk masuk ke kamar rumah sakit melihat Tantra yang terbaring tak berdaya.

Di sana terlihat Tantri masih belum mau menerima kondisi Tantra yang sekarat. Adegan tersebut meninggalkan perasaan kehilangan yang begitu sunyi. Menghentak panjang di kursi bioskop saya.

Screen Shot 2018-03-19 at 2.19.51 PM

Sepanjang film ini memang tak ada jeritan yang menusuk atau gambaran kesengsaran yang berlebihan layaknya sebuah film sedih.

Namun, di sanalah sebenarnya kekuatan film The Seen and Unseen. Kesederhanaan cerita yang begitu kaya akan emosi dan pesan-pesan tersembunyi lewat simbol-simbol gambar yang begitu indah mampu mengular pada batin penonton.

Keintensan adegan pun dibuat secara berlapis dalam film ini.

Di awal film ketegangan tercipta saat banyaknya orang berkumpul pada sebuah kamar rumah sakit membopong badan kecil Tantra. Dari kejauhan Tantri melihatnya dengan getir. Kemudian secara perlahan kamera bergerak menuju tangan Tantri yang menggenggam telur begitu erat hinggah pecah. Menghantui kecemasan yang menanti di adegan-adegan berikutnya.

Kemistisan film ini pun begitu terasa di aktivitas-aktivitas biasa seperti ketika Tantri hendak makan sebuah telur di rumah sakit, saat mengupasnya yang ia dapat hanyalah berisi putihnya saja. Ia tak dapat menemukan kuning telur di mana pun. Sebanyak apa pun ia mengulangnya.

Pesan simbolik yang menyiratkan bahwa Tantri tak akan bertautan kembali dengan Tantra.

Sepanjang film ini, dunia imajinasi-imajinasi Niskala Tantri yang berkunjung menemui Tantra seperti sedia kala menebarkan kerinduan khas anak kecil.

Tak ada pertanyaan belibet dan keingintahuan yang menganggu. Mereka bertemu untuk bersenandung bersamanya, mendongeng, dan menemani satu sama lain.

Hingga di penghujung film dengan kabar bahwa Tantra semakin kritis. Dengan menyesakkan Tantri menari dan terus menari untuk merasakan sisa-sisa kehadiran Tantra untuk terakhir kali. Namun, sayang, ia tak lagi dapat menemukan Tantra. Sekalipun di dunia Niskala.

Puncak tekanan itu pun menghancurkan pertahanan Tantri. Tantri menangis dan mengakhiri tariannya di kamar rumah sakit yang kosong.

Ia tahu ia harus melepas kepedihannya. Tantri pun merelakan Tantra pada akhirnya.

Ketabahan hati Tantri yang tiada dua tersebut menggetarkan hati dalam menuju ruang bernama keikhlasan.

Screen Shot 2018-03-19 at 2.20.13 PM

Melewati prosesi Adat, Tantri pun berkunjung ke pantai, kembali bersembahyang bersama orang tuanya, dan kemudian makan sendirian dengan telur putih kesukaannya sembari ditimpah cahaya sore Bali yang hangat. Menutup keseluruhan film The Seen and Unseen dengan begitu indah.

Film besutan karya Sutradara perempuan keren Kamila Andini ini memenangkan Grand Prize kategori Generation Kplus International Jury untuk film berdurasi panjang terbaik di ajang perhargaan Berlin International Film Festival 2018. Menjadikan film The Seen and Unseen sebagai film pertama dari Indonesia yang menerima penghargaan Grand Prix di Berlinale. Prestasi yang sungguh membanggakan di kancah perfilman Indonesia.

Kamila Andini mengisi film ini dengan simbol-simbol dan gambar-gambar indah tak biasa yang ada di Bali. Suatu kemewahan visual yang sudah jarang ditemukan dalam film Indonesia.

Di saat berada pada dunia Sekala (terlihat), gambaran terang dan kehidupan penuh warna dimaksimalkan di sana. Sawah yang hijau, langit yang biru, dan kehadiran Ibu menjadi sebuah kesatuan.

Sedang secara sendu, Kamila menciptakan semesta Niskala (tak terlihat) dengan mendebarkan dan mencekam. Gelapnya malam, riuhnya anak-anak kecil gaib, juga bulan yang terbentang jauh menghadirkan kesenjangan yang begitu kontras namun tetap indah.

Ketenangan para pemain mudanya pun patut diacungi jempol. Secara solid karakter Tantra dimainkan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena dengan apik. Terlebih ketabahan Ni Kadek Thaly Titi Kasih sebagai Tantri yang begitu mencuat kuat. Setengah dari kekuatan film ini berasal dari akting miliknya.

Kesemua elemen tersebut seperti harmonisasi musik yang mampu menyihir saya sebagai penonton untuk masuk dalam dunia kehampaan anak-anak yang mencoba menghindari kesedihan dengan menghidupkan ketiadaan melalui dunia imajinya.

Mitos dan kebudayaan Bali pun tidak sekadar hanya menjadi tempelan yang cetek. Kamila sebagai sutradara menghadirkan kedekatan isu tersebut sebagai esensi dalam film ini. Wajah sosial masyarakat kelas dua pun dengan nyata digambarkan lewat kamar rumah sakit Tantra.

Film ini begitu istimewa dan bertalian. Luka dan penolakan Tantri adalah kesedihan bagi siapa pun yang pernah ditinggalkan. Karena pada nyatanya kehilangan memang akan selalu menyakitkan.

Screen Shot 2018-03-19 at 12.38.36 PM

Note: Semua foto, poster, dan gambar merupakan hak cipta dari film The Seen and Unseen.

Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!

10+1 Film Indonesia Terbaik dan Terfavorit 2017

Menurut versi saya yang saya saksikan di bisokop sepanjang tahun 2017 ini.

2017 patut dirayakan karena tahun ini banyak sineas-sineas yang melahirkan film-film Indonesia berkualitas secara teknis dengan cerita yang menarik dan dibarengi dengan animo penontonnya yang masif.

Nyatanya film indie yang selalu dikaitkan dengan penonton festival ternyata di tahun ini bisa disaksikan oleh banyak masyarakat umum (seperti para pekerja kantoran biasa seperti saya, mahasiswa yang iseng sambil menunggu jam kuliah, atau bapak dan ibu saya yang jarang nonton film ke bioskop) di teater mainstream pula yang hasilnya ternyata berhasil dinikmati oleh mereka semua.

Juga film populer dengan penonton terbanyak bukan lagi didonimasi oleh film-film cacat logika dengan tema basi yang itu-itu saja dengan penyutradaraan sinetron yang dipaksakan hadir di layar lebar (bukan berarti sinetron itu jelek, namun kembali lagi ke konteks orang membayar untuk menonton sebuah film, mereka mengharapkan penggarapan yang bukan bisa mereka dapatkan secara gratis di televisi, you know what I mean right?).

Jadi mari saya berikan sepuluh list film Indonesia yang mewarnai bioskop tanah air dan menjadi topik pembahasan menarik di sosial media dan grup whatsapp untuk nobar sepanjang tahun 2017 ini.

  1. Pengabdi Setan (Joko Anawar)

cover-film-pengabdi-setan_20171015_120935

Ibu datang lagi.

Tiba-tiba di bulan Oktober 2017 kata-kata itu menjadi sesuatu yang menyeramkan terlebih diiringi bunyi lonceng dengan permintaan menyisirkan rambut.

Yang sudah menonton film Pengabdi Setan pasti mengerti hal-hal yang saya sebutkan barusan. Karena film Pengabdi Setan remakenya Joko Anwar tidak hanya menakuti hampir seluruh negara Indonesia di tahun 2017 ini, namun juga mendorong geliat para penonton film Indonesia untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, berteriak bersama, dan setelahnya membahas film ini tanpa henti baik di dunia nyata maupun di internet. Saya pun ikut mereviewnya di sini.

Gegap gempita Pengabdi Setan berhasil melahirkan ribuan meme-meme lucu yang bertebaran di media sosial. Tak pelak menjadikan film Pengabdi Setan sebagai film terlaris dan fenomenal tahun ini.

2. Posesif (Edwin)

poster-posesif

Posesif mengangkat isu kekerasan domestik dalam berpacaran ke permukaan dengan eksekusi yang jempolan. Visual, musik, cerita juga akting para pemainnya memberikan kekuatan yang membuat film ini lebih dari sekadar nyata, namun juga menghantui. Edwin dan Puteri sangat pantas memenangkan kategori Sutradara dan Aktris Utama Terbaik di FFI 2017 lalu.

Yang terbaik dari film ini tidak hanya menjadikan film Posesif sebagai film remaja yang bernas namun juga penting. Saya membuat review lengkapnya di sini.

3. Turah (Wicaksono Wisnu Legowo)

turah

Turah adalah gambaran terdekat dari realitas masyarakat kecil dalam kelas sosial pinggiran Indonesia. Film ini bertutur dengan narasi yang akrab lewat penggunaan bahasa Tegal di sepanjang film, sekumpulan aktor-aktor lokal, dan isu yang diangkat pun adalah sesuatu yang memang menjadi masalah paling ril dalam lingkup sosial tersebut; kemiskinan dan jerat penguasa.

Film ini menyimpan lapisan masalah yang lebih kompleks dalam argumentasi dan narasi mendalam lewat karakter Jadag yang peka akan dominasi relasi kekuasaan sang bos juga politik premanisasi para anteknya di kampung Tirang yang ia tinggali.

Ia menggugat itu dan Turah berada di tengah-tengahnya dengan kondisi yang dilematis. Di antara ingin meluruskan atau melupakan. Konflik berjalan dari sana dengan akhir adegan yang mencekam juga tragis.

Menonton film Turah buat saya seperti membaca cerita-cerita karya Mas Eka Kurniawan yang memiliki ketajaman kritik sosial dibalut dengan visual kekumuhan yang solid, membekas dan menusuk di akhir.

Pada resolusi penghujung film saya sebagai penonton seolah dibawa untuk menyaksikan gambaran kulit asli manusia. Mereka yang lebih memilih keamanan dirinya sendiri dibanding konsep-konsep besar akan kesetaraan sosial yang ideal.

Film Turah memiliki eksekusi luar biasa hingga tanpa sadar saya melupakan fakta bahwa ini hanyalah film fiksi, namun pemaparannya terasa seperti dokumentasi paling nyata yang pernah ada di Indonesia.

4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Mouly Surya)

Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Awalnya saya melihat film Marlina sebagai sesuatu yang anti klimaks dalam segi cerita. Tidak ada yang meragukan kekuatan sinematografi dan akting di dalamnya. Namun untuk penceritaan tiap babaknya film ini seolah tidak mendeliver kisah yang semencekam para reviewer luar negeri tulis yang saya baca di internet.

Namun setelah diskusi panjang dan tentu juga ngotot dengan teman saya, akhirnya saya sadar bahwa penceritaan Marlina sesuatu yang bersifat simbolis dari sudut pandang perempuan. Atau jika lebih sempit lagi, Perempuan Sumba secara khusus.

Ada kesunyian yang mencakar lewat keteguhan dan kelembutan tindakan Marlina yang tidak terburu-buru dan non eksploit, pasti hasilnya akan berbeda jika Marlina adalah seorang laki-laki.

Banyak adegan-adegan yang menonjol di film ini, seperti Marlina yang menenteng-nenteng kepala tawanannya, adegan buang air kecil Marlina dan Novi, adegan kebebalan polisi dalam menanggapi kasus Marlina, dan yang paling membekas buat saya pribadi adalah saat Novi melawan suaminya yang menuduhnya main serong dengan laki-laki lain.

Akting Dea begitu prima. Dan membahas Marlina tidak hanya akan berhenti pada gambaran indah Sumba, namun juga ketidakadilan dalam dunia perempuan yang entah sampai kapan akan selesai.

Dan Mouly Surya di film ini menegaskan bahwa suara dalam filmnya akan semakin nyaring dan kuat. Mouly masuk dalam sutradara terbaik di Indonesia yang saya selalu tunggu kehadiran filmnya. Review lengkap Marlina saya tulis di sini.

5. Night Bus (Emil Heradi)

Night-Bus-BookMyShow-5-e1491466474614

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017 dan sebagai penonton awam sayangnya saya melewatkan kehadirannya di bioskop April lalu. Untungnya film ini diputar ulang setelah kemenangannya di FFI kemarin.

Dan setelah menonton filmnya saya setuju dengan pemilihan Night Bus sebagai film terbaik tahun ini, kekuatan filmnya tidak hanya datang dari cerita mencekam perjalanan para penumpang menuju Sampar, namun juga sentuhan-sentuhan kekerasan yang mengguncang kesadaran politik para penontonnya.

Review lengkapnya saya tulis di sini.

6. Ziarah (B.W. Purba Negara)

ziarah

Yang terbaik dari 2017 adalah keanekaragaman tema cerita film yang diangkat, di Ziarah tak hanya ceritanya saja yang unik namun juga pemain utamanya Ponco Sutiyem yang telah berusia 95 tahun.

Mbah Ponco berakting dengan sangat prima di film ini. Kegetirannya, pengharapannya, dan perjuangannya mengalir dengan indah dan menyentuh tiap-tiap yang menontonnya.

Kisah Mbah Ponco begitu satir dan masam di akhir, sesuatu yang menjadikannya begitu istimewa.

7. Susah Sinyal (Ernest Prakasa)

poster-susah-sinyal.jpg

Setelah kesuksesan film Cek Toko Sebelah Ernest Praksa mengangkat tema keluarga yang lebih kosmopolitan. Jurang antara kesibukan seorang working mom dan puteri milenialnya.

Meskipun inti cerita sempat goyang di seperempat akhir film dan mengaburkan konflik relasi antar anak dan sang ibu yang kurang dalam. Dan Ernest masih terjebak dengan jokes-jokes seksual yang sebenarnya tanpa hal tersebut jalinan cerita Ernest masih mengalir enak. Untungnya di penghujung film ini pada akhirnya berhasil menyatukan puzzle-puzzle di awal film dengan hangat dan jenaka.

Beruntung sekali Ernest memiliki Adinia Wirasti dan segenap pemeran pendukung komedian lainnya yang tidak hanya menghidupkan film Susah Sinyal, namun juga menjadikan Susah Sinyal memiliki komedi timing yang lebih rapi dibanding film-film dia sebelumnya.

Secara personal film Susah Sinyal menjadi film komedi favorit saya tahun ini. Karena kapan lagi saya bisa membawa satu keluarga saya menonton film yang tidak perlu saya jelaskan jalan ceritanya dari awal hingga akhir. Film Ernest dapat dinikmati sebagai hiburan semata yang bisa masuk ke segala aspek kelas dan umur.

Saya sangat menunggu kisah-kisah keluarga komedi ala Ernest di tahun-tahun berikutnya.

8. Istirahatlah Kata-Kata (Yosep Anggi)

Istirahatlah Kata-Kata

Kontroversi film Istirahatlah Kata-Kata muncul di postingan teman-teman saya yang aktivis dan pemerhati sastra. Bagi saya yang mengenal Widji Tukul hanya sepotong-sepotong, tentu saja berbahagia dapat melihatnya di layar lebar. Cerita pengasingan Widji Tukul menjadi fokus dari sang sutradara. Debat terjadi di sana, karena mereka-mereka yang mengenal Widji Tukul lewat kobaran perjuangan dan kedekatannya dengan rakyat kecil tidak terwakilkan dalam film ini. Bahkan terasa sangat jauh dimulai dari pemutaran film ini yang hanya ada di bioskop-bioskop mahal ibu kota.

Saya melihat film ini sebagai tontonan yang indah dan mengugah. Akting yang kuat pun dideliver dengan sangat apik oleh Gunawan Maryanto dan Marissa Anita.

Karena secara pribadi lewat film ini saya dapat melihat fragmen Widji Tukul yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Memang tidak adil rasanya hanya melihat sosok penting itu dalam satu film saja. Namun terlepas dari kontroversi serta kontranya, sejujurnya saya menghargai semangat kreatornya yang berani mengangkat kisah sang pejuang kata-kata di masa rezim orde baru ini.

9. Banda (Jay Subiakto)

banda

Mendengar tiga maestro visual Indonesia bekerjasama dalam proyek film yang mengangkat kisah dan sejarah pulau Banda tentu saja menjadikan film ini masuk dalam daftar wajib nonton saya.

Jay Subiakto, Oscar Motuloh, dan Davi Linggar membuat film dokumenter panjang ini dengan gambar yang memberikan orgasme visual paling mantap yang pernah ada.

Permainan cahaya, komposisi objek, warna, dan animasi grafis di dalamnya membuat film ini begitu kaya dalam segi konten dan narasi.

Sangat disayangkan tidak banyak yang mengetahui film ini, karena ada sejarah menarik yang juga kelam terjadi di Pulau Banda. Pulau yang menjadi saksi bagaimana Indonesia menjadi seperti sekarang ini.

10. My Generation (Upi)

Film My Generation 2017

Milenial dan sosial media adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Fenomena generasi head down diangkat oleh Upi sebagai cerita film teranyarnya yaitu My Generation. Fashion, pemain-pemain baru yang fresh, juga set yang vibrant dan energetik menjadikan film ini terasa sangat muda dan menangkap problem di eranya saat ini.

Kisah dysfunctional orang tua vs anak menjadi isu besar dalam film ini. Namun bukan Upi namanya jika tidak mampu mengemasnya menjadi tontonan yang lucu, engaging, dan pop banget.

Saat menonton film ini saya sebagai penonton serasa menyelami dunia anak-anak milenial dengan sangat dekat dan intim.

Salah satu film favorit saya dari Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta. Saya membuat review lengkapnya di sini.

Plus 1

Bukaan Delapan (Angga Dwimas Sasongko)

img_20170227_133322

Entah kenapa tidak banyak yang membahas film ini, bahkan masuk nominasi FFI pun sepertinya tidak. Padahal film Bukaan Delapan adalah film Angga yang bisa saya nikmati secara tulus dan nyaman tanpa harus terganggu dengan dialog aneh dan pemaksaan pemunculan karakter-karakter seperti di film Filosofi Kopi 1-2.

Film Bukaan Delapan terasa sangat personal dan dekat dengan penontonnya. Bahkan akting Chico Jeriko yang nyebelin pun bisa jadi lovable banget. Perjuangannya untuk membuktikan dirinya pada istri dan keluarganya adalah cerita paling romantis dan sentimentil di tahun 2017 ini.

Jokes-jokes di dalam film ini pun terasa pas pada tempatnya. Sarah Sechan tentu saja yang paling lucu sebagai seorang Ambu yang posesif dan sok.

Terlepas dari keabsenan festival-festival yang melihat film ini sebagai sebuah film cinta dan film yang decent secara keseluruhan pembuatannya di 2017 ini, buat saya pribadi film Bukaan Delapan memiliki tempat spesial sendiri yang berkesan di list saya ini.

Enggak sabar untuk menyaksikan film-film Indonesia keren lainnya di tahun 2018 nanti. Terima kasih juga untuk para kreator-kreator film Indonesia yang telah mencurahkan sepenuh hati, tenaga, dan waktunya untuk membuat film-film yang tidak hanya bagus namun juga mencerahkan bagi para penontonnya.

Mari dukung film-film Indonesia dengan menonton di bioskop di minggu-minggu pertama! (soalnya takutnya diturunin sama bioskop)

p.s: Dan film-film yang bagus aja sih sebenarnya hehe

Dan akhir kata selamat tahun baru 2018 ya buat teman-teman semua.