Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!

Advertisements

10+1 Film Indonesia Terbaik dan Terfavorit 2017

Menurut versi saya yang saya saksikan di bisokop sepanjang tahun 2017 ini.

2017 patut dirayakan karena tahun ini banyak sineas-sineas yang melahirkan film-film Indonesia berkualitas secara teknis dengan cerita yang menarik dan dibarengi dengan animo penontonnya yang masif.

Nyatanya film indie yang selalu dikaitkan dengan penonton festival ternyata di tahun ini bisa disaksikan oleh banyak masyarakat umum (seperti para pekerja kantoran biasa seperti saya, mahasiswa yang iseng sambil menunggu jam kuliah, atau bapak dan ibu saya yang jarang nonton film ke bioskop) di teater mainstream pula yang hasilnya ternyata berhasil dinikmati oleh mereka semua.

Juga film populer dengan penonton terbanyak bukan lagi didonimasi oleh film-film cacat logika dengan tema basi yang itu-itu saja dengan penyutradaraan sinetron yang dipaksakan hadir di layar lebar (bukan berarti sinetron itu jelek, namun kembali lagi ke konteks orang membayar untuk menonton sebuah film, mereka mengharapkan penggarapan yang bukan bisa mereka dapatkan secara gratis di televisi, you know what I mean right?).

Jadi mari saya berikan sepuluh list film Indonesia yang mewarnai bioskop tanah air dan menjadi topik pembahasan menarik di sosial media dan grup whatsapp untuk nobar sepanjang tahun 2017 ini.

  1. Pengabdi Setan (Joko Anawar)

cover-film-pengabdi-setan_20171015_120935

Ibu datang lagi.

Tiba-tiba di bulan Oktober 2017 kata-kata itu menjadi sesuatu yang menyeramkan terlebih diiringi bunyi lonceng dengan permintaan menyisirkan rambut.

Yang sudah menonton film Pengabdi Setan pasti mengerti hal-hal yang saya sebutkan barusan. Karena film Pengabdi Setan remakenya Joko Anwar tidak hanya menakuti hampir seluruh negara Indonesia di tahun 2017 ini, namun juga mendorong geliat para penonton film Indonesia untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, berteriak bersama, dan setelahnya membahas film ini tanpa henti baik di dunia nyata maupun di internet. Saya pun ikut mereviewnya di sini.

Gegap gempita Pengabdi Setan berhasil melahirkan ribuan meme-meme lucu yang bertebaran di media sosial. Tak pelak menjadikan film Pengabdi Setan sebagai film terlaris dan fenomenal tahun ini.

2. Posesif (Edwin)

poster-posesif

Posesif mengangkat isu kekerasan domestik dalam berpacaran ke permukaan dengan eksekusi yang jempolan. Visual, musik, cerita juga akting para pemainnya memberikan kekuatan yang membuat film ini lebih dari sekadar nyata, namun juga menghantui. Edwin dan Puteri sangat pantas memenangkan kategori Sutradara dan Aktris Utama Terbaik di FFI 2017 lalu.

Yang terbaik dari film ini tidak hanya menjadikan film Posesif sebagai film remaja yang bernas namun juga penting. Saya membuat review lengkapnya di sini.

3. Turah (Wicaksono Wisnu Legowo)

turah

Turah adalah gambaran terdekat dari realitas masyarakat kecil dalam kelas sosial pinggiran Indonesia. Film ini bertutur dengan narasi yang akrab lewat penggunaan bahasa Tegal di sepanjang film, sekumpulan aktor-aktor lokal, dan isu yang diangkat pun adalah sesuatu yang memang menjadi masalah paling ril dalam lingkup sosial tersebut; kemiskinan dan jerat penguasa.

Film ini menyimpan lapisan masalah yang lebih kompleks dalam argumentasi dan narasi mendalam lewat karakter Jadag yang peka akan dominasi relasi kekuasaan sang bos juga politik premanisasi para anteknya di kampung Tirang yang ia tinggali.

Ia menggugat itu dan Turah berada di tengah-tengahnya dengan kondisi yang dilematis. Di antara ingin meluruskan atau melupakan. Konflik berjalan dari sana dengan akhir adegan yang mencekam juga tragis.

Menonton film Turah buat saya seperti membaca cerita-cerita karya Mas Eka Kurniawan yang memiliki ketajaman kritik sosial dibalut dengan visual kekumuhan yang solid, membekas dan menusuk di akhir.

Pada resolusi penghujung film saya sebagai penonton seolah dibawa untuk menyaksikan gambaran kulit asli manusia. Mereka yang lebih memilih keamanan dirinya sendiri dibanding konsep-konsep besar akan kesetaraan sosial yang ideal.

Film Turah memiliki eksekusi luar biasa hingga tanpa sadar saya melupakan fakta bahwa ini hanyalah film fiksi, namun pemaparannya terasa seperti dokumentasi paling nyata yang pernah ada di Indonesia.

4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Mouly Surya)

Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Awalnya saya melihat film Marlina sebagai sesuatu yang anti klimaks dalam segi cerita. Tidak ada yang meragukan kekuatan sinematografi dan akting di dalamnya. Namun untuk penceritaan tiap babaknya film ini seolah tidak mendeliver kisah yang semencekam para reviewer luar negeri tulis yang saya baca di internet.

Namun setelah diskusi panjang dan tentu juga ngotot dengan teman saya, akhirnya saya sadar bahwa penceritaan Marlina sesuatu yang bersifat simbolis dari sudut pandang perempuan. Atau jika lebih sempit lagi, Perempuan Sumba secara khusus.

Ada kesunyian yang mencakar lewat keteguhan dan kelembutan tindakan Marlina yang tidak terburu-buru dan non eksploit, pasti hasilnya akan berbeda jika Marlina adalah seorang laki-laki.

Banyak adegan-adegan yang menonjol di film ini, seperti Marlina yang menenteng-nenteng kepala tawanannya, adegan buang air kecil Marlina dan Novi, adegan kebebalan polisi dalam menanggapi kasus Marlina, dan yang paling membekas buat saya pribadi adalah saat Novi melawan suaminya yang menuduhnya main serong dengan laki-laki lain.

Akting Dea begitu prima. Dan membahas Marlina tidak hanya akan berhenti pada gambaran indah Sumba, namun juga ketidakadilan dalam dunia perempuan yang entah sampai kapan akan selesai.

Dan Mouly Surya di film ini menegaskan bahwa suara dalam filmnya akan semakin nyaring dan kuat. Mouly masuk dalam sutradara terbaik di Indonesia yang saya selalu tunggu kehadiran filmnya. Review lengkap Marlina saya tulis di sini.

5. Night Bus (Emil Heradi)

Night-Bus-BookMyShow-5-e1491466474614

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017 dan sebagai penonton awam sayangnya saya melewatkan kehadirannya di bioskop April lalu. Untungnya film ini diputar ulang setelah kemenangannya di FFI kemarin.

Dan setelah menonton filmnya saya setuju dengan pemilihan Night Bus sebagai film terbaik tahun ini, kekuatan filmnya tidak hanya datang dari cerita mencekam perjalanan para penumpang menuju Sampar, namun juga sentuhan-sentuhan kekerasan yang mengguncang kesadaran politik para penontonnya.

Review lengkapnya saya tulis di sini.

6. Ziarah (B.W. Purba Negara)

ziarah

Yang terbaik dari 2017 adalah keanekaragaman tema cerita film yang diangkat, di Ziarah tak hanya ceritanya saja yang unik namun juga pemain utamanya Ponco Sutiyem yang telah berusia 95 tahun.

Mbah Ponco berakting dengan sangat prima di film ini. Kegetirannya, pengharapannya, dan perjuangannya mengalir dengan indah dan menyentuh tiap-tiap yang menontonnya.

Kisah Mbah Ponco begitu satir dan masam di akhir, sesuatu yang menjadikannya begitu istimewa.

7. Susah Sinyal (Ernest Prakasa)

poster-susah-sinyal.jpg

Setelah kesuksesan film Cek Toko Sebelah Ernest Praksa mengangkat tema keluarga yang lebih kosmopolitan. Jurang antara kesibukan seorang working mom dan puteri milenialnya.

Meskipun inti cerita sempat goyang di seperempat akhir film dan mengaburkan konflik relasi antar anak dan sang ibu yang kurang dalam. Dan Ernest masih terjebak dengan jokes-jokes seksual yang sebenarnya tanpa hal tersebut jalinan cerita Ernest masih mengalir enak. Untungnya di penghujung film ini pada akhirnya berhasil menyatukan puzzle-puzzle di awal film dengan hangat dan jenaka.

Beruntung sekali Ernest memiliki Adinia Wirasti dan segenap pemeran pendukung komedian lainnya yang tidak hanya menghidupkan film Susah Sinyal, namun juga menjadikan Susah Sinyal memiliki komedi timing yang lebih rapi dibanding film-film dia sebelumnya.

Secara personal film Susah Sinyal menjadi film komedi favorit saya tahun ini. Karena kapan lagi saya bisa membawa satu keluarga saya menonton film yang tidak perlu saya jelaskan jalan ceritanya dari awal hingga akhir. Film Ernest dapat dinikmati sebagai hiburan semata yang bisa masuk ke segala aspek kelas dan umur.

Saya sangat menunggu kisah-kisah keluarga komedi ala Ernest di tahun-tahun berikutnya.

8. Istirahatlah Kata-Kata (Yosep Anggi)

Istirahatlah Kata-Kata

Kontroversi film Istirahatlah Kata-Kata muncul di postingan teman-teman saya yang aktivis dan pemerhati sastra. Bagi saya yang mengenal Widji Tukul hanya sepotong-sepotong, tentu saja berbahagia dapat melihatnya di layar lebar. Cerita pengasingan Widji Tukul menjadi fokus dari sang sutradara. Debat terjadi di sana, karena mereka-mereka yang mengenal Widji Tukul lewat kobaran perjuangan dan kedekatannya dengan rakyat kecil tidak terwakilkan dalam film ini. Bahkan terasa sangat jauh dimulai dari pemutaran film ini yang hanya ada di bioskop-bioskop mahal ibu kota.

Saya melihat film ini sebagai tontonan yang indah dan mengugah. Akting yang kuat pun dideliver dengan sangat apik oleh Gunawan Maryanto dan Marissa Anita.

Karena secara pribadi lewat film ini saya dapat melihat fragmen Widji Tukul yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Memang tidak adil rasanya hanya melihat sosok penting itu dalam satu film saja. Namun terlepas dari kontroversi serta kontranya, sejujurnya saya menghargai semangat kreatornya yang berani mengangkat kisah sang pejuang kata-kata di masa rezim orde baru ini.

9. Banda (Jay Subiakto)

banda

Mendengar tiga maestro visual Indonesia bekerjasama dalam proyek film yang mengangkat kisah dan sejarah pulau Banda tentu saja menjadikan film ini masuk dalam daftar wajib nonton saya.

Jay Subiakto, Oscar Motuloh, dan Davi Linggar membuat film dokumenter panjang ini dengan gambar yang memberikan orgasme visual paling mantap yang pernah ada.

Permainan cahaya, komposisi objek, warna, dan animasi grafis di dalamnya membuat film ini begitu kaya dalam segi konten dan narasi.

Sangat disayangkan tidak banyak yang mengetahui film ini, karena ada sejarah menarik yang juga kelam terjadi di Pulau Banda. Pulau yang menjadi saksi bagaimana Indonesia menjadi seperti sekarang ini.

10. My Generation (Upi)

Film My Generation 2017

Milenial dan sosial media adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Fenomena generasi head down diangkat oleh Upi sebagai cerita film teranyarnya yaitu My Generation. Fashion, pemain-pemain baru yang fresh, juga set yang vibrant dan energetik menjadikan film ini terasa sangat muda dan menangkap problem di eranya saat ini.

Kisah dysfunctional orang tua vs anak menjadi isu besar dalam film ini. Namun bukan Upi namanya jika tidak mampu mengemasnya menjadi tontonan yang lucu, engaging, dan pop banget.

Saat menonton film ini saya sebagai penonton serasa menyelami dunia anak-anak milenial dengan sangat dekat dan intim.

Salah satu film favorit saya dari Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta. Saya membuat review lengkapnya di sini.

Plus 1

Bukaan Delapan (Angga Dwimas Sasongko)

img_20170227_133322

Entah kenapa tidak banyak yang membahas film ini, bahkan masuk nominasi FFI pun sepertinya tidak. Padahal film Bukaan Delapan adalah film Angga yang bisa saya nikmati secara tulus dan nyaman tanpa harus terganggu dengan dialog aneh dan pemaksaan pemunculan karakter-karakter seperti di film Filosofi Kopi 1-2.

Film Bukaan Delapan terasa sangat personal dan dekat dengan penontonnya. Bahkan akting Chico Jeriko yang nyebelin pun bisa jadi lovable banget. Perjuangannya untuk membuktikan dirinya pada istri dan keluarganya adalah cerita paling romantis dan sentimentil di tahun 2017 ini.

Jokes-jokes di dalam film ini pun terasa pas pada tempatnya. Sarah Sechan tentu saja yang paling lucu sebagai seorang Ambu yang posesif dan sok.

Terlepas dari keabsenan festival-festival yang melihat film ini sebagai sebuah film cinta dan film yang decent secara keseluruhan pembuatannya di 2017 ini, buat saya pribadi film Bukaan Delapan memiliki tempat spesial sendiri yang berkesan di list saya ini.

Enggak sabar untuk menyaksikan film-film Indonesia keren lainnya di tahun 2018 nanti. Terima kasih juga untuk para kreator-kreator film Indonesia yang telah mencurahkan sepenuh hati, tenaga, dan waktunya untuk membuat film-film yang tidak hanya bagus namun juga mencerahkan bagi para penontonnya.

Mari dukung film-film Indonesia dengan menonton di bioskop di minggu-minggu pertama! (soalnya takutnya diturunin sama bioskop)

p.s: Dan film-film yang bagus aja sih sebenarnya hehe

Dan akhir kata selamat tahun baru 2018 ya buat teman-teman semua.

Review Film Night Bus – Perjalanan Mencekam Menuju Sampar

Night_Bus_film

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017, ditengah gegap gempita film Posesif, Marlina, dan Pengabdi Setan di kalangan penonton film Indonesia seketika Night Bus muncul dengan humblenya dan memenangkan kategori prestisius tersebut.

Karena penasaran film Night Bus pun diputar ulang di bioskop-bioskop. Catat, diputar ulang! Karena penonton Indonesia saat itu masih sedikit mengetahui film ini sebelumnya.

Dan sebagai film terbaik yang mengalahkan nominator-nominator lainnya, harus diakui Night Bus memang menang dengan telak dalam segala aspek penilaian.

Menurut saya, dari segi cerita, pemain, dan eksekusinya Night Bus menjadi film anomali yang mendobrak mainstream film Indonesia yang masih mengangkat tema cinta yang itu-itu saja.

Film Night Bus jenis tipe film yang bisa ditonton oleh banyak orang dan message akan film ini pun begitu kuat.

Narasi yang ditawarkan film Night Bus juga terasa unggul dan dramatis jika dibandingkan dengan cerita komedi keluarga, remake film hantu, atau biopik tanpa makna yang penggarapannya itu itu saja.

Lawan terberat memang Posesif, isu kekerasan dalam hubungan pacaran yang dibalut dengan eksekusi sekelas Edwin membuat kontras yang menggiring Night Bus hadir dengan isu yang lebih lokal yang mungkin menjadi pertimbangan para juri untuk memenangkannya. Karena pada dasarnya tidak banyak yang mengangkat krisis keamanan di Aceh lewat sebuah film.

Membahas soal filmnya, Night Bus memiliki premis yang solid. Perjalanan berbahaya menuju Sampar menjadi sajian yang mencekam sepanjang dua jam lebih. Dan memang di sejam terakhir film berjalan, bus yang ditumpangi yang melewati pos demi pos selalu diisi dengan situasi terjebak yang berakhir tragis.

Kesusahan demi kesusahan hadir untuk mematikan niat para penumpang, namun mereka tetap memilih untuk terus berjalan.

Ditambah lagi akting dari para pemainnya pun kelas wahid punya. Ibarat konser, para pemerannya memiliki suara-suara sendiri yang memperkaya harmonisasi film ini. Kedalaman karakter dan background masing-masing karakter kental sekali terasa. Mungkin kecuali si pemeran anggota NGO aneh itu sih yang tiba-tiba muncul, buat saya kurang meyakinkan untuk hadir dalam cerita di dalamnya.

Yang menjadi kekuatan film Night Bus tentu saja cerita dan pergerakan plot yang berjalan cepat dengan polemiknya sendiri. Film ini untungnya tidak terjebak di dikotomi baik dan buruk. Yang terpenting, para penumpang sampai dengan selamat.

Meskipun plot twist diakhir masih terasa politis dan maksa sih. Padahal jalinan cerita selama tiga per empat awal sudah dibangun dengan mencekam dan dramatis. Namun sayangnya diakhiri dengan ending yang flat.

Another thing yang mengganggu adalah editing CGI film ini yang terlihat sekali tidak rapi. Meski berkali-kali saya yakinkan diri saya bahwa inti cerita lebih penting, namun tak ayal dibeberapa scene editing CGInya benar-benar mengaburkan makna keaslian adegan-adegan tersebut. Terlebih dibeberapa adegan awal di dalam bus yang ya allah, overlay antara background dan pemainnya ketimpah banget.

Scoringnya pun sedikit mengganggu sih. Niatnya mungkin mau buat penonton tegang, namun karena sayangnya terlalu banyak repetisi adegan yang menggunakan scroring tersebut akhirnya malah tegangnya hilang dan mirip adegan sinteron.

Dibalik itu semua, Night Bus masih layak untuk ditonton di bioskop. Pengalaman akan perjalanan para penumpang menuju Sampan adalah realita lain di pelosok daerah Indonesia yang perlu diketahui.

Bahwa keadilan untuk berjalan dan berkendara dengan selamat masih menjadi suatu privilege. Dan pesan yang paling kuat adalah, untuk siapa sebenarnya perang itu terjadi?

Karena seperti slogan film Night Bus, konflik tidak memilih korbannya.

Mari ke bioskop TIM dan Plaza Senayan untuk menyaksikan film apik yang belum pernah ada di Indonesia ini. Selamat menonton!

Pengamatan Sotoy:  Yang jadi nenek-nenek di film ini sebenarnya bisa banget mengalahkan Puteri di Posesif loh.

Ulasan Film: ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’

marlina-the-murderer-in-four-acts

Markus datang tanpa permisi, menerobos masuk, kemudian mengintai sekeliling. Setelah cukup menerka, ia pun duduk pada pusaran.

Tanpa berlama-lama ia dekati Marlina dan membisikkan ancaman serta godaan yang Markus tahu tidak akan bisa Marlina tolak.

Markus menyunggingkan senyum kemenangannya. Pahit bagi Marlina.

Namun, sayangnya, kali ini Markus salah. Dalam diam Marlina tahu apa yang harus dia lakukan. Ingin segera ia hapus senyum sialan itu di wajah Markus.

Dan setelahnya petualangan Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak pun dimulai.

Film Marlina besutan Mouly Surya mengedepankan pertaruhan yang besar; premisnya tentang perempuan yang melawan kejahatan laki-laki.

Seakan menjadi simbol feminisme sendiri dalam menghancurkan kuku-kuku tajam patriarki di lingkup domestik. Sesuatu yang sebenarnya sering terjadi dalam keseharian.

Berlokasi di Sumba, Marlina ditangkap melalui gambar-gambar wide yang cenderung ekstrim. Menjadikan Marlina sebaga film Indonesia paling cantik tahun ini. Hamparan sabana yang luas membuat Marlina tampak begitu kecil. Seolah ingin mengkomunikasikan bahwa kini ia hanya tinggal sendiri melawan semuanya.

Dalam film ini, narasi perlawanan perempuan di tiap babaknya dengan spektakuler diargumentasikan dengan cerdik oleh Mouly.

Ia menghadirkan isu pemerkosaan, sesuatu yang selama ini masih membelit para korbannya di Indonesia.

Scene tersebut dimunculkan Mouly dengan kontras yang mengulur-ngulur. Menggambarkan dengan jelas akan bagaimana sistem birokrasi, terutama kepolisian, merespon isu tersebut.

Betapa tersiksanya saya ketika menonton adegan Marlina yang menunggu panggilan dari Polisi yang sedang bergantian bermain pingpong. Sesuatu yang sangat tidak relevan.

Emosi penonton pun terjerat akan akting cemerlang Marsha Timoty yang diembodikan tanpa meluap-luap namun akan menghantui tiap-tiap kepala yang menontonnya.

Teror akan kesakitan korban pemerkosaan seolah tidak berhenti, Sang Polisi yang mencatat laporan Marlina bertindak tanpa sensitivitas yang ajek.

Seakan trauma dan kesakitan yang Marlina hadapi hanyalah bersifat naratif dan numerik.

Berapa banyak yang memerkosa? Bagaimana semua berlangsung? Mengapa kamu mau diperkosa oleh yang lebih tua?

Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Polisi tersebut terasa sangat bebal, jika tidak mau dibilang bodoh. Scene tersebut begitu nyata. Begitu dekat.

Kesemuanya seakan menyayat peluru terakhir Marlina. Tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri dan mungkin Novi. Sahabatnya.

Yang ternyata bernasib sama sialnya dengan dirinya. Novi terkena stigma lama akan tubuhnya. Kehamilannya diperdebatkan banyak orang, karena sudah lewat 10 bulan sang anak diprediksi sungsang.

Sebuah indikasi akan ketidakpatuhan perempuan terhadap laki-laki. Alasan yang datang karena ia dan sang suami sudah tidak berhubungan badan selama tiga bulan terakhir. Kecurigaan itu muncul dari sana dan tentu saja lidah tajam sang mertua.

Layaknya Marlina, Novi pun bertahan. Berjuang dalam ketidakadilan.

Sayangnya dalam film Marlina, babak demi babak berjalan dengan pelan tanpa konflik yang berarti pada antar karakter di tiap babaknya. Sepinya gesekan tersebut membuat satu jam terakhir film ini terasa datar, meski tidak hambar, namun pengulangan-pengulangan scene yang sudah terjadi di awal tidak membuat saya terkesan. Kekurangan tersebut bagi saya pribadi gagal dalam menggugurkan ekspektasi tinggi akan film Marlina.

Kedalaman emosi dan konflik Marlina serta Novi sebenarnya bisa tuntas dengan cepat tanpa membutuhkan waktu selama satu setengah jam.

Meski begitu, eksekusi dan presentasi Marlina tak diragukan lagi. Gambarnya kelas dunia! Semua yang hadir di dalamnya begitu poetic dan membekas. Sup ayam dan sate kambing seolah menjadi simbol ketakutan tersendiri setelah menyaksikan film ini.

Terlebih ditambah musik yang menggetarkan dari tangan Zeke yang mampu mengisi nuansa ketegangan mencekam di dalam film ini.

Akhir kata, kekuatan Marlina seolah bukan karena ia menenteng-nenteng kepala pemerkosanya dan berkendara dengan kuda. Marlina lebih besar daripada simbol maskulinitas seperti itu.

Dengan jelas terpampang bahwa kekuatan Marlina berasal dari keengganannya untuk tunduk dalam ancaman dan kelaliman. Terlebih jika itu datang dari laki-laki.

Ulasan Film My Generation: Me vs Parents

075939500_1507776200-DLR6pSWUIAAKMnc

Sebuah liburan yang merubah segalanya….

Film My Generation dibuka dengan VLOG (video blog) ke empat tokohnya; Konzi, Zeke, Suki, dan Orly. Mereka semua menatap lurus ke depan kamera dengan berapi-api, menumpahkan seluruh unek-unek dan kekesalan mereka pada ketidakadilan sistem pendidikan yang mereka jalani sebagaimana anak-anak sekolah pada umumnya. Pertanyaan berikutnya, siapa sih yang tidak?

Untuk mereka yang tumbuh dan berkembang di daerah dunia ke tiga seperti Cibinong, melihat scene awal film My Generation yang diisi dengan para pemainnya yang rupawan, stylish, dan lengkap dengan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, sudah dipastikan bahwa mereka berempat merupakan anak-anak borju yang bermasalah dengan hidupnya.

Lalu, apakah film ini kemudian akan bergerak menjadi cerita yang superficial?

Tentang anak-anak orang kaya yang manja dan tidak puas dengan privilege yang mereka miliki dibanding remaja-remaja lainnya di belahan dunia lain?

Atau film My Generation adalah film perusak moral seperti yang dibicarakan dan dikecam oleh banyak-banyak orang di media sosial?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita mulai dengan melihat motivasi dari cerita film My Generation itu sendiri.

A few years ago, kita tentu masih mengingat bagaimana rasanya menjadi seorang remaja di umur 15-17an tahun. Feeling outcast, di mana pencarian jati diri dan tekanan untuk menuju gerbang orang dewasa begitu menyiksa. Semua kita jalani dengan tertatih-tatih namun pasti. Kadang ada yang berhasil, namun banyak juga berisi kegagalan.

Semua itu terjadi karena:

  1. Kesemua nilai-nilai yang dulu tertanam oleh orangtua seakan bertolak belakang ketika menginjak masa remaja.
  2. Tidak ada les khusus untuk menjadi anak yang sempurna di dunia ini. Karena sayangnya, tidak ada yang sempurna dalam hidup. Namun masih ada orang tua yang mengharapkan kesempurnaan semu itu.
  3. Ketertarikan untuk mengeksplore tubuh, pertemanan, dan tentu saja cinta menjadi tidak terintegrasi dengan peraturan dan moral value yang orang-orang tua telah set tinggi-tinggi.
  4. Seolah semakin anak tumbuh dewasa komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anak pelan-pelan terputus dan berubah menjadi dinding besar dan dingin di antara mereka. Semacam teritori atas ketidakmengertian masing-masing individu.
  5. Orang tua menginginkan menempelkan ambisi mereka pada anak, dan anak ingin mereka dilihat sebagai diri mereka sendiri. Seutuhnya. Bukan apa yang orang tua ingin lihat dari mereka.

Dari sana masing-masing orang seolah lupa bagaimana berbicara satu sama lain tanpa harus berteriak dan berbeda pendapat.

Seperti yang diutarakan Stanley Hall, ia menjelaskan bahwa saat remaja mereka akan mengalami “storm & stress” dalam kehidupan. Jelas, semuanya tidak akan sesederhana dulu lagi.

Keseluruhan ironi itu menjadi penggerak cerita dalam film My Generation.

Kita dapat melihat bahwa film My Generation ingin menangkap momen tersebut, mengargumentasikan suara remaja di periode waktu di mana mereka merasa tidak ada yang dapat memahami mereka sendiri kecuali teman-teman mereka.

Keseluruhan film ini tentang itu semua. Eratnya persahabatan yang mengalahkan kungkungan orang tua yang konservatif dan alot.

Akting dan Set Syuting Yang Keren

Membuat film untuk para milenial tentu saja Upi harus masuk ke dalam dunia mereka. Para milenial kini lebih fasih berbahasa inggris dibanding generasi sebelumnya. Terlepas mereka adalah blasteran atau bukan, namun harus diakui bahwa ekspresi komunikasi mereka ada di sana. Dan Upi menjembati transisi bahasa itu.

Kebanyakan film ini menggunakan bahasa inggris dengan translation yang seru dan tidak kaku.

Artikulasi dan pembawaan yang keren dari para pemainnya pun membuat ruh film ini menjadi hidup dan enerjetik.

Masing-masing karakter muncul dengan keunikan masing-masing. Yang paling membekas buat saya adalah karakter Mbak Anda sebagai Orly di sini. Ia feminis muda yang percaya dengan bumi itu datar. Kekocakan kekocakan dalam tiap diskusi dirinya dan sang pacar membuat film My Generation memuat banyak konten menarik yang menggambarkan generasi sekarang lebih global dan kritis lewat cara mereka sendiri.

Akting dari para aktor-aktor muda ini dari adegan mereka bersenang-senang, sedih, dan marah tergambarkan dengan sempurna. Mereka seakan benar-benar menjadi diri mereka sendiri.

Konflik dari masing-masing karakter dalam film My Generation merupakan sesuatu yang sering terjadi di kehidupan sosial media saat ini. Jadi penting sekali untuk melihat film ini sebagai suatu potongan kehidupan para milenial yang cukup akurat.

Harus diakui bahwa menjadi remaja bukanlah hal yang paling menyenangkan di dunia ini, namun bukan berarti semua orang harus kalah dengan itu. Film My Generation menjawab keresahan itu dengan kisah orang tua yang pada akhirnya membuka pikiran mereka untuk lebih bisa menerima anak remaja mereka apa adanya.

Bahwa pada akhirnya, keluarga yang akan selalu ada. Pesan yang Upi sampaikan hadir dengan praktis tanpa bertele-tele.

Pengalaman Sinematik dalam Semesta Upi

Menonton film My Generation karya Upi seperti mengintip masuk ke dalam keseruan lika-liku dunia geng paling cool di film Indonesia setelah geng Cinta di AADC.

Seperti karya-karya Upi terdahulu, Upi sangat luwes dalam mempresentasikan keseruan anak-anak muda dan membuatnya tampak menarik. Terbaiknya film-film Upi selalu meninggalkan kesan mendalam ketika kita keluar dari pintu bioskop. Kesan itu akan lama tertinggal dan membentuk tren baru tiap masanya.

Masih teringat jelas saat saya kelas 2 SMP dulu ketika menonton film Upi berjudul 30 Hari Mencari Cinta. Betapa jenaka, hangat, dan menyesakkan di akhir.

Dari sana permainan 30 hari untuk memiliki pasangan menjadi seru untuk dilakukan. Yang mana, sudah pasti saya gagal dengan gemilang.

Persahabatan para tokoh di film-film Upi pun hadir dengan begitu meyakinkan. Baik itu dalam My Generation, Realita Cinta dan Rock n Roll ataupun My Stupid Boss. Upi piawai dalam menyajikan perfect comic timing dengan dialog-dialog nyeleneh yang membuat para penontonnya seperti melihat diri mereka sendiri dalam film-film Upi.

Upi berhasil menciptakan semestanya sendiri dan membuat penontonnya ingin menjadi seperti tokoh-tokoh yang ada di dalamnya di kehidupan nyata; seperti apa yang mereka pakai, mereka ucapkan, dsb.

Saat Realita Cinta dan Rock n Roll sukses di eranya, semua anak-anak cowok di SMA kegandrungan dengan style emo  yang memamerkan tubuh lean mereka. Keberhasilan tersebut menjadikan  film-film Upi sebagai trendsetter dalam dunia fashion maupun pop culture Indonesia itu sendiri.

Harus diakui, Upi benar-benar berhasil menyuarakan suara anak muda dari jaman ke jaman dengan konsisten pada tren di tiap tiap masanya. Masalah-masalah yang tidak banyak orang bicarakan berani Upi munculkan di sana dengan gayanya sendiri.

Karena Upi tahu, setiap anak muda memiliki suaranya sendiri yang ingin didengar.

Selamat untuk Upi atas film My Generation! Sebuah pencapaian sinematik film remaja yang keren sekali!

 

Ulasan Film Posesif: Memaknai Kembali Sebuah Rasa dan Obsesi

17010009_1

Film Posesif hadir dengan premis yang menarik, sebuah hubungan abusive dalam cinta muda yang membara. Terlebih ini dihadirkan dalam konsep percintaan remaja tujuh belas tahun dengan pelbagai problematika kehidupan khas anak SMA.

Selanjutnya bagaimanakah cerita akan ternarasikan? Dan yang terpenting kemudian adalah, menarikkah Posesif sebagai sebuah film untuk ditonton?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian untuk mengetahui background para kreator di balik film Posesif ini.

Pertama, film ini disutradarai oleh Edwin, ia adalah sutradara yang biasa membuat film-film ekperimental art house, dari tangannya hadirlah film-film indie keren seperti; Babi Buta Ingin Terbang, Postcard From The Zoo, dan Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband. 

Tiga film itu merupakan jenis film yang jarang hadir di teater mainstream Indonesia (you can correct me if i’m wrong, maafkan jika saya salah) dan hanya diputar di bioskop-bioskop alternatif dan festival-festival film yang sifatnya terbatas.

Namun itu bukan berarti karya Edwin merupakan karya biasa karena tidak mampu tembus pasar mainstream. Malah karena film-film Edwin kemasannya begitu kuat. Pesan yang hadir begitu sarkas dan menyindir. Seakan pemaparannya akan peristiwa demi peristiwa ironis di filmnya seolah benar-benar terjadi di tengah-tengah penontonnya.

Bagaimana pedihnya nasib kaum minoritas dibalut dalam simbol visual yang memojokkan. Dapat dipastikan film-film Edwin bakal menjadi kontroversial di kalangan masyarakat yang tidak terbiasa dengan gagasan tersebut.

Namun dengan perbedaan tersebut, Edwin datang dengan alternatif tontonan yang menyegarkan.

Terutama lewat ciri khas film Edwin yang muncul dalam narasi panjang cenderung lambat dan mengekploitasi dramatisasi kebisuan para aktor dalam durasi lama yang kemudian dihentakkan dengan adegan-adegan nyeleneh tak biasa.

Seperti hubungan seksual threesome sejenis antara seorang dokter yang dianal oleh dua orang laki-laki di ruang prakteknya karena ingin membantu pasangannya masuk tivi demi masuk ke sebuah acara pencarian bakat.

Adegan itu dihadirkan Edwin dalam film Babi Buta Ingin Terbang dengan begitu kasual. Ia sisipkan adegan tersebut sebagai statement Edwin terhadap isu-isu marjinal yang jarang dibicarakan. Terpinggirnya kaum Gay dan Tionghoa.

Maka dari itu sangatlah menarik untuk melihat film Edwin yang spesifik dibuat untuk kalangan masif remaja.

Kedua, dari departemen skrip ada Gina S Noer. Penulis skrip film yang sukses dengan film-film best seller iconic seperti Habibi Ainun, Hari Untuk Amanda, dan Ayat-Ayat Cinta. Ia muncul sebagai kontras terhadap Edwin. Premis yang membuat orang penasaran, bagaimana jadinya kubu kreator indie bertemu dengan kreator film populer?

Lewat trailer film Posesif kita dapat melihat nafas sinematografi khas Edwin. Permainan dimensi warna, gambaran komposisi simetris dalam ruang kosong yang di shoot dari jarak jauh. Kesemuanya memanjakan mata bagi yang menontonnya.

Dialog-dialog yang keluar dari mulut para aktornya pun mengalir santai. Seakan lewat trailer filmnya Posesif datang dengan ekspektasi yang tinggi.

Ketiga, mari kita membahas filmnya.

Apa yang menjadi kekuatan dalam film ini?

  • Akting yang kuat dari para pemainnya. 

Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melihat film remaja yang proper di layar kaca. Dan Posesif hadir dengan paket lengkap mulai dari para dua pemain utama yang menyuguhkan akting meyakinkan sebagai pasangan yang mabuk cinta dan terobsesi satu sama lain. Adipati dan Putri memberikan akting terbaik mereka di sini. Saya sebagai penonton percaya ketika mereka sedang tersipu malu, marah, dan ketakutan. Bahkan peran-peran kecil dalam film ini matters. Semua memiliki keterikatan yang mendukung cerita satu sama lain.

Seperti Ega, sahabat Lala dengan karakter yang kocak bisa menjadi bumbu penyegar yang manis dalam film ini.

  • Scene-scene indah

Kepiawaian Edwin dalam memberikan gambar-gambar indah yang datang dari tempat sederhana benar-benar breathtaking. Favorit saya adalah ketika adegan galau Lala saat berenang. Begitu poetic. Adegan dugem dan saat Yudhis dan Lala flashback di taman bermain, kesemuanya terasa cute dan edgy khas anak muda.

Ini mengajarkan bahwa tidak perlu pergi syuting ke Eropa, jika bisa menghasilkan kualitas sebagus ini. Dibanding syuting jauh-jauh tapi film yang dibuat masih level FTV (I mean something that you can see for free).

  • Soundtrack yang mengisi moment dan mood dalam film.

Memasukkan Banda Neira, Dipha Barus, dan Sheila on 7 adalah pilihan yang brilian. Banyak banget orang yang nyanyi di bioskop saat lagu Dan Sheila on 7 diputar di film.

  • Logika cerita yang solid.

Gina membereskan tugasnya dengan baik di sini. Motivasi tiap-tiap pemain dalam kesinambungan konflik berjalan selaras. Mulai dari awal, tengah, dan akhir. Terutama ketika clash antara Lala dan Ayahnya semua terasa tepat pada tempatnya. Kemarahan Lala, ambisi sang Ayah, tekanan Yudhis, semua memburu di film ini dengan ketajaman yang membekas.

Tapi….

Ada beberapa bagian dalam film yang mengganjal, kesan akan toxic relationshipnya masih terasa setengah-setengah. Bagian-bagian yang sebenarnya bisa di eksplore, terasa ditahan oleh Edwin. Seakan ketika seharusnya penonton dibawa dalam dunia kengerian dan impulsif Yudhis, Edwin hanya memberikan porsi kecil di sana.

Creepy thing Yudhis hanya muncul sekali dua kali. Tidak jelas apakah dia memang seorang stalker yang posesif, atau hanya anak tempramen yang mencari pelampiasan saja.

Dari situ pun letupan-letupan hubungan naik turunnya asmara antara Yudhis dan Lala juga terasa terlalu cepat. Tidak ada ruang pengenalan lebih jauh akan bagaimana Lala dan Yudhis membangun ikatan yang tak terpatahkan. Atau bagaimana tiba-tiba Lala merasakan keanehan Yudhis. Bahkan Twilight memberikan itu pada filmnya.

Juga keobsesian Yudhis ke Lala masih jadi tanda tanya. Bagian mana dari Lala yang mentrigger Yudhis untuk menjadi seseorang yang posesif? Sayangnya semuanya tak tergambarkan terlalu jelas.

Dari sanalah terlihat bagaimana film ini bermain aman. Hasrat dan letupan toxic relationship semacam ‘make up sex’ tidak muncul sebagai penyeimbang. Karena dari pengalaman teman saya yang mengalami kejadian seperti Lala, memiliki pasangan yang tukang pukul, sang pacar selalu memiliki cara untuk membuat teman saya kembali lagi kepada dirinya. Salah satunya ya itu, lewat make up sex, sesuatu yang akhirnya menggiring teman saya jatuh kembali pada luka yang ia buat sendiri. Semacam manipulasi yang tak berujung.

Keguncangan psikologis Lala pun tidak muncul, sepertinya akan lebih dramatis jika ada scene untuk Lala sendiri yang menanyakan kembali keputusannya saat ingin pergi atau kembali stay dengan Yudhis.

Karena di film ini sudut pandang Lala terkesan terombang ambing karena desakan sang Ayah, temannya, dan Yudhis sendiri. Tidak ada suara sendiri dari karakter Lala dalam menghadapi masalahnya di sepanjang film.

Kembali menjawab pertanyan awal, apakah film ini menarik untuk ditonton?

Maka jawabannya adalah sangat menarik.

Saya memberikan bintang 4,5 dari 5. Film ini begitu memukau secara keseluruhan. Seakan hadir sebagai entitas baru dalam film remaja Indonesia. Posesif bukan hanya sebuah film remaja belaka, ia merupakan suara keberanian yang dieksekusi dengan baik.

Film ini wajib untuk ditonton buat kamu kamu yang sedang berada dalam hubungan seperti Lala namun tidak berani untuk bersuara.

Karena dari film Posesif kita belajar bahwa seganteng apa pun pasangan, jika tangannya dipakai untuk memukul dan mulutnya untuk merendahkan pasangannya lewat kemarahan. Harusnya pilihan untuk pergi darinya merupakan jalan utama yang harus segera diambil.

Mengutip tagline dari sebuah iklan, karena kamu begitu berarti.

Cek Toko Sebelah: Film Komedi Terbaik

maxresdefault (1)

Ernest Prakasa sebagai seorang Sutradara di film Cek Toko Sebelah hadir dengan penyampaian cerita dan eksekusi yang lebih matang dibanding film Ngenest terdahulu. Presentase jokes hit and miss kali ini lebih banyak menghadirkan tawa, meski lagi-lagi dalam beberapa adegan Ernest sepertinya terjebak pada kewajiban untuk menampilkan satu gudang para stand up comedy dengan jokes yang, lagi-lagi, mungkin hanya dimengerti oleh mereka para penonton lama Ernest dan acara Stand Up Comedy.

Sehingga dengan keriuhan itu semua membuat fokus cerita pada karakter-karakter inti pun jadi terabaikan dan berkurang porsinya.

Motivasi workaholic Ernest, proses penolakan tawaran Ayahnya, dan proses pengembangan bisnis warung pun terasa hanya seadanya saja. Meskipun tidak bisa dibilang jelek, namun Ernest sebenarnya bisa lebih jauh lagi mengolah bagian cerita tersebut. Karena dari situ ikatan emosi antara cerita Ernest dengan penontonnya akan lebih dalam terbangun.

Namun dibalik keluputan tersebut, Ernest mengukuhkan dirinya sebagai aktor dan sutradara komedi romantis yang baik.

Paket cerita cinta yang manis dan drama keluarga yang menyentuh dengan pemilihan cast yang tepat membuat cek toko sebelah sebagai kesatuan film yang memang menghibur. Anda akan dibuat tertawa dan menangis dalam film ini.

Kesalahan Ernest pada pembagian tempo cerita di film Ngenest terdahulu diperbaiki dengan baik, setiap babak pada film memiliki porsi yang pas dan transisinya pun lebih masuk akal.

Jadi dalam film ini tidak akan ditemukan keburu-buruan di setengah jam terakhir seperti yang ada di film Ngenest. Semua resolusi masalah diselesaikan dengan tepat oleh Ernest.

Meskipun harus diakui peran Gisel di sini agak mengganggu, dengan akting yang kaku, membuat adegan mereka ketika berantem dan scene terakhir yang harusnya romantis di antara ernest dan gisel terasa plain dan painful to watch. Padahal Ernest sudah melempar umpan yang pas, namun Gisel gagal untuk meresponnya.

Seperti, apa sih motivasi Ernest harus balikan sama karakter cewek macem gini? Pengenalan dan pendalaman tokoh Gisel masih terlalu cetek di film ini. Seperti tempelan yang tidak ada pun tidak masalah.

Andai saja peran Gisel dengan ambisi dan kegalauan dirinya dieksekusi dengan baik, dan adegan curhat Gisel dengan Adinia bisa lebih intens, sudah pasti semua motivasi para karakter di cerita Cek Toko Sebelah saling terhubung satu sama lain.

Tetapi secara keseluruhan film ini sangat menghibur. Penambahan culture keturunan tiong hoa yang memiliki usaha di Indonesia pun hadir dengan smooth dan real. Tidak ada penceramah di sini, film ini hadir sebagai media hiburan untuk mereka yang membeli tiket.

Lewat film Cek Toko Sebelah, Ernest berhasil menghadirkan wajah minoritas dengan visual yang manis dan penceritaan yang jenaka. Menjadikan gap yang selama ini ada pelan-pelan luntur, dan pada akhirnya kita belajar bahwa kita enggak akan melulu mendapatkan apa yang kita mau. Namun kita akan mendapatkan yang terbaik for the sake of greater good.

Sudah pasti ke depannya saya akan menunggu film Ernest berikutnya.

Good job, Ernest!

Mari Bicara Tentang Film Indonesia

Gegap gempita Pengabdi Setan (2017) Joko Anwar membawa saya pada pemikiran; sepertinya tren untuk me-remake film-film lama Indonesia untuk dimunculkan lagi ke kalangan generasi milenial saat ini merupakan suatu strategi marketing yang mumpuni.

Terbukti banyaknya film-film klasik dari era 50an hingga 80an kembali dihidupkan dengan nafas yang lebih modern oleh para sineas film demi menyesuaikan selera para penonton film Indonesia sekarang yang didominasi oleh para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja awal. Yang notabene demografis umurnya berada di angka 14 hingga 35 tahun* dan aktif di media sosial.

Tahun yang berbeda tentu saja menghadirkan gap tren sosial yang berbeda pula pada penonton baru dengan film asli yang dibuat di era sebelumnya.

Karena sejatinya film memang menggambarkan situasi dan fenomena isu yang terjadi di jamannya. Jika boleh saya mengandaikan, film ibarat mesin waktu yang dapat membawa kita mengintip narasi dan visual masa lalu dengan lebih estetik.

Gap tren sosial yang paling nyata adalah pembaharuan teknologi dan akses informasi dalam era digital. Yang mana di kehidupan masyarakat sekarang rasa-rasanya sulit untuk tidak menggunakan internet dan media sosial dalam keseharian. Jika tidak mau dibilang adiktif. Sesuai dengan target audience penonton film Indonesia.

Kemajuan tersebut tentu saja berefek pada pergeseran paradigma berfikir masyarakat menjadi lebih global.

Jadi, isu-isu kelas masyarakat antara si kaya dan si miskin yang dulu merupakan momok dalam masyarakat Indonesia di era 70-80an. Kini di tahun 2017 bisa dengan lebih kasual disampaikan pada penontonnya. Pun bukan menjadi sentra dan penggerak cerita, melainkan hanya background karakter belaka.

Perbedaan situasi dan tren yang saya bahas tadi dimanfaatkan beberapa film maker sebagai manuver pendekatan ke penonton milenialnya.

Contohnya seperti di film Galih & Ratna (2017) versi Lucky Kuswandi yang merupakan pembaharuan dari film sebelumnya yang berjudul Gita Cinta Dari SMA (1979)  karya Arizal yang dibintangi ikon bintang muda di masanya, Rano Karno dan Yessy Gusman.

Cerita orisinalnya mengangkat tema besar tentang perbedaan kelas sosial antara Galih si Miskin dan Ratna si Kaya. Dikotomi tersebut menjadi kentara karena isu itulah yang menjadi konflik film. Namun di film Galih & Ratna dirubah menjadi lebih ‘kekinian’ dengan esensi narasi filmnya yang berputar tentang pengakuan diri dan mengejar mimpi (eksistensialisme) pada masing-masing karakter.

Formula tersebut tentu saja mampu membuat cerita lebih dekat pada penonton milenial sekarang yang isu pada generasinya kini memang tentang berlomba-lomba menunjukkan siapa diri mereka. Hasilnya? Film Galih & Ratna ditonton lebih dari 121 ribu orang.

Namun tentu saja ada banyak formula untuk membuat sebuah film remake tetap menjadi entitas yang dapat dinikmati oleh lintas generasi. Seperti setia dengan gagasan awal film pendahulunya.

Contohnya film Ini Kisah Tiga Dara (2016) Nia Dinata dan Nagabonar Jadi 2 (2007) Deddy Mizwar yang sama-sama dibuat dengan pakem ide awal film terdahulunya dan dinamis pada karakternya.

Nia Dinata yang memang konsisten mengangkat isu feminisme, mengartikulasikan dengan baik roh film yang diargumentasikan dalam film Tiga Dara (1956) Umar Ismail. Perempuan yang melawan untuk tunduk dalam jerat patriarki dan stigma sosial perempuan telat menikah.

Pun dalam film Nagabonar Jadi 2 (2007) besutan Deddy Mizwar, ia tetap menonjolkan marwah patriotisme dan nasionalisme yang begitu kental di filmnya. Sama seperti film pendahulunya Nagabonar (1987) karya MT Risyaf.

Memang menjual romansa nostalgia merupakan win win solution untuk mendapatkan kue lebih banyak antar lintas generasi. Yang satu ingin mengulang pengalaman terdahulu dan generasi baru ingin merasakan sensasi pertamanya.

Namun, menurut saya pribadi kadang keontetikan film terdahulu jika tidak ditempatkan dengan baik akhirnya malah menjadi boomerang sendiri yang tidak menjawab masalah tantangan perbedaan yang saya sebutkan di awal tadi.

Contoh saja film Bangun Lagi Dong Lupus (2013) Benni Setiawan, yang sayangnya tidak berhasil menghidupkan kembali ikonitas Lupus beserta jajaran karakter lainnya. Geger Lupus di masanya yang merupakan simbol anak muda yang ngocol namun kreatif, aktif, dan kritis tidak tersampaikan dengan baik. Jika tidak ingin dibilang buruk.

Lupus di film ini seakan bingung dengan dirinya sendiri yang ingin menjadi sosok baru khas anak muda masa kini atau sekadar wannabe saja. Saya merasa tidak tersentuh dengan misi Lupus maupun keseluruhan cerita di dalamnya. Pun film Catatan Harian Si Boy (2011) Putrama Tuta yang gemilang dalam eksekusinya, masih belum berhasil mengabadikan karakter Satrio sebagai regenerasi Mas Boy yang dicintai banyak orang. Baik perempuan maupun laki-laki.

Disayangkan padahal film seperti Lupus dan Mas Boy di film Catatan Si Boy berhasil menjadi ikon kondang di masanya. Seakan menjadi tolak ukur maupun potret remaja di generasinya. Sebuah pencapaian yang sukses untuk sebuah film yang berubah menjadi pop culture. Timeless.

Kini film Indonesia seakan kehilangan tokoh-tokoh karakter kuatnya yang abadi dan dekat dengan penontonnya.

Dan perlukah saya membahas Warkop DKI Reborn 1 & 2?

Beberapa Film Klasik Indonesia Yang Layak Untuk di Remake

Well, terlepas dari itu semua, sebagai penikmat film Indonesia rasa-rasanya saya bermimpi untuk mengulang pengalaman menonton beberapa film klasik Indonesia.

Deretan film ini layak untuk dihidupkan kembali berdasarkan pencapaian gemilang mereka di masa lalu dan kesesuaian cerita akan situasi krisis sosial budaya juga pergeseran nilai lokal ke global yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya kategorikan dalam beberapa genre dan tema.

Dalam kategori drama sosial, saya mengajukan film:

  1. Taksi (1990) Arifin C Noer

Taxi Jugaa

Film Taksi seolah hadir sebagai sarkasme di masanya. Seorang sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan dan mengadu nasib ke kota besar alih-alih malah menjadi seorang supir taksi. Dari sana Giyon (Rano Karno) pun mengalami turbulensi hidupnya ketika mendapati penumpangnya Desi (Meriam Bellina) meninggalkan anaknya. Lewat akting di film ini Rano Karno memenangkan aktor terbaik di Piala Citra.

Taksi berhasil membicarakan hingar bingar ibu kota dengan cara menyindir dan menggambarkan situasi kondisi masyarakat ibu kota yang ikut campur dan menghakimi dengan baik di sini. Sesuatu yang layak dilihat di masa sekarang.

2. Cintaku di Rumah Susun (1987) Nya’ Abbas Akup

220px-Cintaku-di-rumah-susun

Film dramedi favorit saya. Kompleksitas dan keanekaragaman karakter yang hidup dalam satu rumah susun pasti sangatlah menarik untuk ditonton. Komedi situasi dari masing-masing background karakter yang berbeda dapat menggambarkan betapa kayanya budaya dan toleransi yang ada di Indonesia.

Lika-liku masalah masing-masing karakter pastilah akan mengundang tawa dan sindiran khas akan fenomena-fenomena sosial yang kita saksikan setiap harinya di kehidupan nyata.

3. Si Mamad (1973) Sumandjaya

Si_Mamad_(1973;_obverse;_wiki)

Memenangkan film terbaik dan aktor utama pria terbaik di FFI 1974. Bercerita tentang si PNS jujur yang terpaksa untuk korupsi kecil-kecil namun akhirnya membawa perasaan menyesal mendalam dalam kesehariannya. Film yang pastilah sangat wajib dibuat ulang mengingat banyaknya kejadian korupsi di negara ini setiap harinya.

Kategori romansa dan drama keluarga, saya mengajukan film:

  1. Boneka Dari Indiana (1990) Nya’ Abbas Akup

Boneka_Dari_India

Keluhan dari orang tua saya adalah jarangnya ia melihat cerita film Indonesia yang menggambarkan demografis dirinya. Sesosok suami istri dengan problematika yang menjerat di tengah-tengahnya.

Semasa dulu memang sepertinya film Indonesia lebih kaya dari segi tema dan cerita. Seperti halnya di film ini. Drama romantis komedi ini menceritakan pasangan suami istri baru yang selalu didikte oleh mertuanya. Lucu sekali, menghadirkan tawa yang membuat saya merenung dan meninggalkan perasaan hangat setelahnya.

Tidak diragukan lagi Nya’ Abbas Akup merupakan sineas klasik Indonesia favorit saya yang setia dengan tema-tema dasar di sekelilingnya yang dekat dengan penontonnya.

Perlu penjelasan lagi untuk membuat film ini diremake?

2. Pacar Ketinggalan Kereta (1989) Teguh Karya

Pacar_Ketinggalan_Kereta

Kisah romantis beda kelas memang menjadi favorit di masanya. Si kaya dan si miskin yang terhalang cintanya oleh si orang tua yang memandang rendah perkara tersebut. Namun yang paling saya sukai dari film ini adalah betapa Teguh Karya mengangkat isu perempuan dengan status janda menjadi karakter yang kuat dan mandiri.

Teguh karya tidak terjebak pada generalisasi umum akan pandangan janda itu sendiri. Ia malah bermain-main di sini. Film yang sangat menghibur pun penting karena keunikannya menggambarkan irisan polemik keluarga kaya dan miskin. Cinta.

Perlu dibuat ulang karena minimnya cerita film keluarga di Indonesia.

3. Usia 18 (1980) Teguh Karya

Usia_18_(1980;_obverse;_wiki)

Menampilkan Jaya pub yang klasik lengkap dengan isinya. Cerita film ini masih berputar tentang kelas dan perbedaan ekonomi. Namun yang menjadi lucu jika disaksikan sekarang adalah betapa sepelenya penyelesaian konflik di sana jika masing-masing dari mereka memiliki telfon genggam haha.

Saya tertarik untuk melihat bagaimana film maker membuat ulang film ini yang di mana mampu menonjolkan IKJ dan pentas drama dengan gambaran yang se-epik Teguh Karya tampilkan di film ini.

4. Cintaku di Kampus Biru (1976) Ami Prijono

053305100_1432119890-rae-Cintaku_Di_Kampus_Biru_1976-c

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk ditonton. Kekuatan film ini bukan hanya pada premisnya saja, melainkan kekuatan akting antara dua tokoh utamanya yang masing-masing memberikan penampilan yang pantas untuk diperbincangkan sepanjang masa.

Menarik untuk melihat bagaimana penggambaran cinta beda usia dan kampus biru UGM dari mata film maker saat ini.

5. Ramadhan dan Ramona (1992) Chaerul Umam

ramadhan-dan-ramona

Jika Hollywood memiliki deretan nama mulai dari Julia Robert, Jennifer Lawrence, dan Rachel Adam untuk pemeran ciamik film romantis komedi. Menurut saya Indonesia juga beruntung memiliki Lydia Kandou. Akting dan wajah cantik klasiknya merupakan roda penggerak film romantis di masanya.

Kategori kisah ikon remaja, saya mengajukan film:

  1. Lupus
  2. Olga Sepatu Roda
  3. Catatan si Boy

Ketiga film ini merupakan film legendaris yang mampu membawa jutaan penonton jatuh cinta dengan tiap-tiap tokoh utamanya. Tidak hanya melahirkan satu film, dua dari film di atas mampu membuat berjilid-jilid film di tahun-tahun berikutnya yang selalu sukses.

Fenomena ketiga film remaja tersebut juga memengaruhi pergaulan di masanya. Fenomena yang sama seperti di era digital. Bedanya pengaruh budaya pop ini lahir dari sebuah karakter fiktif beserta semestanya.

Siapa yang tidak ingin jadi wartawan dan memakan permen karet seperti Lupus?

Siapa yang setelah menonton film Olga tidak ingin belajar bermain sepatu roda dan menjadi penyiar radio?

Dan siapa yang bisa menandingi Okky Alexander sebagai si Boy yang kaya, gaul, dan soleh?

Karakter-karakter tersebut akan hidup terus menerus sebagai dokumentasi gambaran akan remaja yang mampu membuat perbedaan di masanya. Atau bisa dibilang revolusioner.

Menarik sebenarnya untuk melihat bagaimana karakter-karakter tadi beradaptasi dengan situasi digital saat ini.

Apakah Lupus akan menjadi blogger? Olga menjadi vlogger? Dan Mas Boy menjadi selebgram populer karena ketampanan, kekayaan, dan pergaulannya?

Kategori cerita anak, saya mengajukan film:

  1. Harmonikaku (1979) Arifin C Noer
  2. Djendral Kantjil (1958) Nya’ Abbas Akup
  3. Si Doel Anak Betawi (1972) Sjumandjaja

Apakah kalian asing dengan ketiga film tersebut? Berarti Anda melewatkan tiga film anak-anak terbaik yang pernah ada di negeri ini. Kesamaan dari ketiga film tersebut adalah kayanya muatan cerita lokal di dalamnya.

Baik budaya dan anekdot-anekdot daerah diartikulasikan dengan penyampaian yang memang ditunjukkan pada penonton muda.

Kesan petualangan dan kedekatan tema dasar yang diangkat pun akan membuat penontonnya jatuh cinta dengan para karakter utamanya dan ingin menjadi seperti mereka dan memiliki petualangan yang sama.

Minimnya film anak pun menjadi dasar mengapa perlu sekali dibuat kembali film untuk anak-anak yang mampu menampilkan keluguan dan kekayaan konten lokal dengan penampilan karakter kuat yang menjadi idola anak-anak.

Mendukung Film Indonesia Kedepannya

Saya percaya dengan menonton film Indonesia yang memuat konten berkualitas akan membuat kepercayaan penonton kembali hidup dan bergerak aktif. Karena seperti alasan awal saat kita menonton film saat pertama kali, yang kita cari adalah pengalaman sinematiknya. Kekuatan kasat mata yang dapat membawa kita penontonnya pergi ke dimensi lain dan larut dalam semesta yang para film maker itu buat.

Dan selama beberapa jam menonton, kekuatan-kekuatan dalam elemen film (musik, akting, cerita, sinematografi, dll) menggerakan emosi kita untuk tertawa, marah, dan menangis bersama film tersebut.

Sehebat itu kekuatan sebuah film untuk saya.

Dan saya yakin sekali masih ada film Indonesia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membuat penontonnya betah untuk datang lagi dan lagi ke bioskop.

Karena film Indonesia selalu memiliki caranya sendiri untuk terus bangkit dan melawan. Ia tengah bersiap-siap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Mari bersama-sama membuat itu menjadi nyata.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya daftar film kamu sendiri yang sepertinya cocok untuk dibuat ulang?

*Data lebih lengkap bisa dilihat di sini -> http://journal.unair.ac.id/filerPDF/7-13_3.pdf

Review Film: 5 Hal Ganggu Dari Nonton Film Pengabdi Setan Joko Anwar

Film Pengabdi Setan punya tempat sendiri di hati Joko Anwar, karena setiap kali ditanya oleh wartawan tentang film apa sih yang paling dia suka dan pengen dia remake. Dengan semangat dan mantap dia bilang film ini.

pengabdi-setan-1

Picture from Kapanlagi.com

Gongnya adalah tahun ini saat media mengabarkan Joko Anwar akan beneran buat film Pengabdi Setan versi dia. WOW banget! Bisa kebayang sih happynya Joko Anwar.

Sekilas info: Sebelum memutuskan nonton film Pengabdi Setan, setahun lalu gue sama Oci, sobat nonton film Indonesia gue, kami menonton film The Copy Of My Mind. Film Joko Anwar yang digadang-gadang sebagai film terbaik dan sebagai surat cinta yang kelam buat Indonesia. Time capsule di masanya.

Nonton lah kami berdua dengan ekspektasi yang bisa dikatakan tinggi. Mengingat film-film dia sebelumnya enggak ada yang gagal.

Setelah satu setengah jam film berjalan dan layar bioskop jadi gelap, gue dan Oci cuma liat-liatan dan dengan parau ngomong, “Ini kita abis nonton film apa sih?”.

Yes, we just don’t get it tentang apa film ACOMM tersebut. Jadi pas Pengabdi Setan muncul, ada sedikit keragu-raguan buat nonton film tersebut. Namun karena marketingnya yang setiap hari muncul di media sosial ya akhirnya gue penasaran juga buat tau filmnya seperti apa.

28 September malem yang bertepatan dengan malam Jumat, gue dan adik gue memberanikan diri nonton film tersebut.

Dan menurut gue ada lima hal yang paling ganggu saat nonton film Pengabdi Setan:

  1. Penonton di belakang gue hobinya nendang-nendang bangku bioskop gue setiap semenit sekali karena ketakutan pas denger bunyi lonceng dan pas musik film tiba-tiba jadi serem. Makin serem scenenya intensitas nendangnya pun makin tinggi. Tingkat ganggunya -> Bikin gue ngedumel ke dia buat berhenti nendang-nendang. Dia minta maaf. Tapi pas klimaks film di akhir-akhir dia enggak bisa nahan dirinya jadi ya udahlah ya.
  2. Penonton di samping gue narik-narik tangan gue, padahal kita ENGGAK KENAL SAMA SEKALI. Ini ganggu banget karena elo pengen banget khusuk nonton filmnya. Tapi ke distract dengan adanya tangan orang asing yang bikin baju lo melar. Tingkat ganggunya bikin gue melotot dan minta dia pindah tempat duduk.
  3. Seisi bioskop pada teriak semua. Berisik. Dan bikin film tambah jadi horor kan. Aing takut.
  4. Penonton depan gue ngejengkang, ngejelimet, nutup-nutupin muka sepanjang film sambil baca-baca alfatihah. Lah dikira pengajian kali ah.
  5. FILMNYA KENAPA BERASA SEBENTAR BANGET!!!! I WANT MORE!

Yes, segokil itu Joko Anwar buat film Pengabdi Setan. Dia benar-benar mateng banget untuk eksekusi film ini. Semua aspek di dalemnya dia pikirin banget. Dan hasilnya: KELAS DUNIA. Berasa banget Joko Anwar menikmati membuat film ini.

Peduli amat sama review-review jelek tentang film ini yang bilang Bang Joko comot scene dan cerita film horor sana sini. Karena pada akhirnya konsep dan eksekusi film Pengabdi Setan berhasil ngebuat suasana horor effortlessly hadir dalam tiap suara dan akting pemainnya. Dan after tastenya tidak meninggalkan bekas serupa seperti film-film comotan sana sini yang si julid-julid itu review.

Film ini secara keseluruhan menghadirkan pengalaman sinematik yang kaya mulai dari segi warna filmnya, efek make upnya yang kacau kerennya, musik yang membuat atmosfir jadi merinding disko, dialog yang kaya akan emosi, juga yang paling memorable adalah scene-scene keren yang bikin elo mikir, “ini beneran nih syuting di Indonesia?”

Film pengabdi setan benar-benar berhasil membuat transisi dari mencekam ke lucu terus ke mencekam lagi dengan ketukan yang pas.

Dan favorit gue dari film ini adalah AKTING PARA PEMAINNYA.

ASLI GUE JATUH CINTA LAGI SAMA TARA BASRO DI SINI. Setelah dengan ketidakjelasan dia di film ACOMM. Di film ini dia muncul lagi dengan akting natural namun pas seperti di film-film dia sebelumnya macem Hi5teria dan film pendek Joko Anwar yang close up move on itu. Asik banget liat Tara Basro di Pengabdi Setan.

Namun selain Tara Basro, seluruh cast di film ini tampil dengan luar biasa. Enggak ada satu pun cast yang sia-sia. Mereka hadir dengan kunci dan cerita masing-masing. Nilai A sih untuk casting directornya.

Pas selesai nonton film Pengabdi Setan pengen banget liat spin off cerita Ian dan Bondi. Mereka gemas sekali. Asli. Please buat Bang Joko!

RMJsuC6GNX

Picture from MetroTvNews

Jadi kalau elo masih ragu buat nonton film ini. Gue kasih tau sama elo, semua yang ada di film Pengabdi Setan bisa dinikmati sebagai tontonan yang menghibur dan estetik. Film Indonesia mana coba yang bisa bikin scene masak telor ceplok secakep ini.

Nilai 10 sempurna deh buat film Pengabdi Setan. Semoga ada kelanjutannya ya. Dan IAN, WHY YOU SO CUTE KIDDO????!

So guys datang ke Bioskop terdekat buat nonton film ini bareng keluarga elo atau temen-temen elo rame-rame dan belajarlah untuk mencari posisi enak yang tidak membuat elo terganggu dengan penonton yang lain.

Selamat menonton!

Sang Penari: Kisah Cinta Yang Merah

cb56e56a1cb96c5216b23751b3c96712

Sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. Apalagi mereka yang hidup dalam perbedaan kelas dan merasakan beratnya gesekan sosial politik di tempat yang mereka diami. Bisa dipastikan panah dewa cinta tak akan melirik sama sekali.

Dapat dibilang film Sang Penari merupakan film tentang cinta. Menceritakan kisah cinta antara Rasun dan Srintil.

Namun sayangnya, kisah cintanya tidak semembara Cinta dan Rangga. Tidak juga seharu biru Habibi Ainun.

Kisah cinta Rasun dan Srintil terasa pahit dan pilu. Jenis cerita cinta yang ketika kamu selesai menontonnya seperti ada lobang bolong merongga di dadamu. Bagai luka yang membekas dan enggan kamu obati. Karena di sana letak kenikmatannya, luka perih yang bisa kamu mainkan karena ternyata rasanya menyenangkan.

Begitu pula Rasun dan Srintil, meski cerita mereka perih dan mengoyak kalbu, namun itu tidak berarti cerita mereka tidak indah.

Keindahan kisah cinta mereka berada pada polemik dan kehancuran mereka sendiri.

Sang Penari secara jenius menggabungkan unsur adat, seni, romansa, dan panasnya situasi politik dengan presentasi yang kuat dan juga menawan.

Film diawali dengan keriuhan kampung Dukuh Paruk pasca penggerebekan oleh pihak militer. Kemudian laki-laki berbaju tentara itu menemukan bapak tua buta yang masih mengingatnya.

Cerita pun bergerak dari sana. Sebuah flashback hitam akan bagaimana ronggeng yang menjadi jantung dari Dukuh Paruk hancur karena segenggam tempe bongkrek. Dan Srintil ada di tengah-tengahnya. Menyaksikan bagaimana penari ronggeng pujaannya keracunan, dan bagaimana warga desa begitu kejam membiarkan mayat kedua orang tuanya membusuk begitu saja.

Tahun berlalu, Srintil pun menjadi perempuan dewasa yang rupawan dengan segenap hasrat untuk joget, menjadi seorang ronggeng. Siap menyuburkan kembali ekonomi kampung dan berbakti pada Eyang leluhur.

Namun jalannya tidak mudah, pertentangan hadir dari Dukun Ronggeng. Dengan penuh rasa enggan, Rasun yang awalnya menolak Srintil menjadi seorang ronggeng mau tak mau membantunya dengan memberikannya keris kecil peninggalan penari ronggeng terdahulu. Itu semua menandakan bahwa Srintil adalah penari pilihan langit. Srintil pun resmi dinobatkan sebagai penari ronggeng yang baru.

Kejayaan Srintil pun membawa kemakmuran kampung, seisi Dukuh Paruk kembali riuh dengan geliat joget Srintil. Sampai cinta Srintil dan Rasun pun diuji dengan prosesi buka kelambu.

Sebuah adat di mana keperawanan sang ronggeng dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Rasun bukan lelaki kaya. Ia hanya pekerja serabutan, sedang ada ratusan laki-laki yang siap untuk meniduri Srintil. Ia bukan pesaing.

Tetapi hati Srintil sudah terpaut pada Rasun. Keperawanannya pun ia serahkan pada Rasun. Dengan konsekuensi Rasun meninggalkannya. Karena Rasun tidak mampu melihat Srintil menjadi ronggeng. Meminjam ungkapan yang dipakai oleh Rasun, “ia tidak mau melihat Srintil seperti pohon kelapa yang siapa pun bisa menaikinya”.

Rasun pergi, menjadi seorang tentara. Sedang Srintil tetap menari.

Tahun 65 takdir membawa mereka kembali bertemu, dengan situasi yang berbeda. Panasnya peta politik antara PKI dengan negara menyeret Srintil dan Rasun pada pusaran yang sama.

Alih-alih didaftarkan menjadi penari istana seperti yang dijanjikan, Srintil yang tidak bisa membaca (pun seisi kampung Dukuh Paruk), nama mereka dijadikan simpatisan PKI. Yang nantinya daftar tersebut membawa mereka pada sang malaikat maut.

Melihat Srintil yang dibawa oleh tentara lainnya, Rusun dengan segenap kemampuannya berusaha untuk menyelamatkan Srintil. Namun semuanya terhalang. Srintil tetap pergi, kini ditangan sang maut.

Di akhir film, tahun berganti, Rasun secara tidak sengaja mendatangi bunyi gendang yang ia kenal di sebuah pinggir jalan. Di sana ia menemukan Srintil. Ia tetap perempuan yang sama yang ia kenal. Ia tetap menari. Namun saat mata mereka bertemu, Srintil kembali pergi. Kini dengan kelegaan.

Film pun ditutup dengan sangat poetik dan sinematik dengan tarian Srintil menuju ketiadaan yang panjang. Dan meninggalkan perasaan agoni dan gemetar haru saat scene tersebut usai.

Membahas Sang Penari

Sang Penari bukan film yang dibuat sembarangan. Film ini diangkat dari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karangan Ahmad Tohari. Salah satu buku sastra paling penting di Indonesia.

Film ini pun memakan riset selama dua tahun untuk memberikan keontetikan situasi terutama pada scene penggerebekan kampung oleh militer yang kemudian membawa pada pembantaian masal.

Menurut saya pribadi, jika dirunut ada empat pembahasan penting dalam film sepanjang seratus menit lebih ini. Yaitu mengenai:

  • Adat
  • Kisah Cinta
  • Tubuh Perempuan
  • Politik 65

Dalam aspek adat kita dapat melihat betawa piawainya Prisia Nasution memerankan Srintil. Musik dan tariannya begitu mistis, memikat siapa pun yang menyaksikannya. Jelas sekali bahwa dari awal tujuan hidup Srintil adalah menari, meneruskan rantai budaya dan membersihkan nama baik keluarganya yang kandung rusak karena kejadian semasa ia kecil. Tidak banyak film Indonesia yang begitu otentik mengangkat budaya awal ronggeng yang ditampilkan dengan layak. Tidak hanya sekadar tempelan dan pemanis. Namun secara sadar, peran tarian di sini adalah sentral dari bergeraknya cerita dari awal hingga akhir.

Hal yang juga penting diamati lebih dalam lagi adalah bagaimana dalam konteks film ini, sebagai penari ronggeng, tubuh Srintil adalah alat. Ia kendaraan untuk mendapatkan materi. Sesuatu yang sudah tidak asing di budaya yang patriarki di Indonesia ini. Namun yang menarik adalah, tubuh Srintil pun laksana potret keagungan maha kuasa. Siapa pun yang tidur dengan Srintil niscaya akan mendapatkan kesuburan dan kesuksesan.

Fenomena ini membuat Srintil memiliki power dan kendali di sana. Ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Meskipun, sangat disadari bahwa dalam masyarakat Dukuh Paruk, otoritas tubuh Srintil hanyalah sebatas adat. Sesuatu yang bisa mereka miliki bersama. Bukan lagi sesuatu yang bersifat personal.

Membahas politik, film Sang Penari patut diacungi jempol. Dengan berani film ini membahas kisah kelam tahun 65. Isu yang jarang hadir dalam perfilman Indonesia modern.

Betapa muatan politik di film ini mengalir dengan sangat jelas dan tepat pada temponya. Kerusuhan enam lima dengan nyata digambarkan dengan todongan dan teriakan tentara pada para warga yang tidak mengetahui apa pun. Rasa takut mereka menular di film ini.

Mereka adalah korban. Korban ketidaktahuan yang diberantas karena kepentingan elit politik. Betapa adegan saat Srintil bertanya mengenai apa maksud dari namanya ditulis dalam sebuah carik kertas yang ia bahkan tidak dapat baca, adalah gambaran paling lugu mengenai keterikatan rakyat kecil dalam pusaran politik saat itu.

Korban kebanyakan di tahun enam lima mungkin adalah mereka yang sebenarnya tidak mengetahui apa itu komunisme, yang mereka tahu itu adalah partai yang memihak para petani. Dan dalam satu kali gilas, hampir jutaan korban rakyat jelata itu pun hancur dalam ketiadaan. Ini menegaskan bahwa kita, saya dan kamu, siapa pun itu adalah mahluk politik yang bisa saja terjerat konflik kapan pun.

Adegan yang mencekam antara militer dan ketakutan warga kampung digambarkan begitu realis hingga saat cerita cinta yang pilu itu selesai, film Sang Penari menawarkan menu lain bagi penontonnya.

Apakah kita akan mengingat sejarah ini lalu membongkarnya? Atau hanya diam membiarkannya?

Sembari kita memikirkan jawabannya, mungkin di sana, yang pasti Srintil akan terus menari. Hingga sendi-sendi dalam tubuhnya perlahan berhenti.