Sang Penari: Kisah Cinta Yang Merah

cb56e56a1cb96c5216b23751b3c96712

Sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. Apalagi mereka yang hidup dalam perbedaan kelas dan merasakan beratnya gesekan sosial politik di tempat yang mereka diami. Bisa dipastikan panah dewa cinta tak akan melirik sama sekali.

Dapat dibilang film Sang Penari merupakan film tentang cinta. Menceritakan kisah cinta antara Rasun dan Srintil.

Namun sayangnya, kisah cintanya tidak semembara Cinta dan Rangga. Tidak juga seharu biru Habibi Ainun.

Kisah cinta Rasun dan Srintil terasa pahit dan pilu. Jenis cerita cinta yang ketika kamu selesai menontonnya seperti ada lobang bolong merongga di dadamu. Bagai luka yang membekas dan enggan kamu obati. Karena di sana letak kenikmatannya, luka perih yang bisa kamu mainkan karena ternyata rasanya menyenangkan.

Begitu pula Rasun dan Srintil, meski cerita mereka perih dan mengoyak kalbu, namun itu tidak berarti cerita mereka tidak indah.

Keindahan kisah cinta mereka berada pada polemik dan kehancuran mereka sendiri.

Sang Penari secara jenius menggabungkan unsur adat, seni, romansa, dan panasnya situasi politik dengan presentasi yang kuat dan juga menawan.

Film diawali dengan keriuhan kampung Dukuh Paruk pasca penggerebekan oleh pihak militer. Kemudian laki-laki berbaju tentara itu menemukan bapak tua buta yang masih mengingatnya.

Cerita pun bergerak dari sana. Sebuah flashback hitam akan bagaimana ronggeng yang menjadi jantung dari Dukuh Paruk hancur karena segenggam tempe bongkrek. Dan Srintil ada di tengah-tengahnya. Menyaksikan bagaimana penari ronggeng pujaannya keracunan, dan bagaimana warga desa begitu kejam membiarkan mayat kedua orang tuanya membusuk begitu saja.

Tahun berlalu, Srintil pun menjadi perempuan dewasa yang rupawan dengan segenap hasrat untuk joget, menjadi seorang ronggeng. Siap menyuburkan kembali ekonomi kampung dan berbakti pada Eyang leluhur.

Namun jalannya tidak mudah, pertentangan hadir dari Dukun Ronggeng. Dengan penuh rasa enggan, Rasun yang awalnya menolak Srintil menjadi seorang ronggeng mau tak mau membantunya dengan memberikannya keris kecil peninggalan penari ronggeng terdahulu. Itu semua menandakan bahwa Srintil adalah penari pilihan langit. Srintil pun resmi dinobatkan sebagai penari ronggeng yang baru.

Kejayaan Srintil pun membawa kemakmuran kampung, seisi Dukuh Paruk kembali riuh dengan geliat joget Srintil. Sampai cinta Srintil dan Rasun pun diuji dengan prosesi buka kelambu.

Sebuah adat di mana keperawanan sang ronggeng dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Rasun bukan lelaki kaya. Ia hanya pekerja serabutan, sedang ada ratusan laki-laki yang siap untuk meniduri Srintil. Ia bukan pesaing.

Tetapi hati Srintil sudah terpaut pada Rasun. Keperawanannya pun ia serahkan pada Rasun. Dengan konsekuensi Rasun meninggalkannya. Karena Rasun tidak mampu melihat Srintil menjadi ronggeng. Meminjam ungkapan yang dipakai oleh Rasun, “ia tidak mau melihat Srintil seperti pohon kelapa yang siapa pun bisa menaikinya”.

Rasun pergi, menjadi seorang tentara. Sedang Srintil tetap menari.

Tahun 65 takdir membawa mereka kembali bertemu, dengan situasi yang berbeda. Panasnya peta politik antara PKI dengan negara menyeret Srintil dan Rasun pada pusaran yang sama.

Alih-alih didaftarkan menjadi penari istana seperti yang dijanjikan, Srintil yang tidak bisa membaca (pun seisi kampung Dukuh Paruk), nama mereka dijadikan simpatisan PKI. Yang nantinya daftar tersebut membawa mereka pada sang malaikat maut.

Melihat Srintil yang dibawa oleh tentara lainnya, Rusun dengan segenap kemampuannya berusaha untuk menyelamatkan Srintil. Namun semuanya terhalang. Srintil tetap pergi, kini ditangan sang maut.

Di akhir film, tahun berganti, Rasun secara tidak sengaja mendatangi bunyi gendang yang ia kenal di sebuah pinggir jalan. Di sana ia menemukan Srintil. Ia tetap perempuan yang sama yang ia kenal. Ia tetap menari. Namun saat mata mereka bertemu, Srintil kembali pergi. Kini dengan kelegaan.

Film pun ditutup dengan sangat poetik dan sinematik dengan tarian Srintil menuju ketiadaan yang panjang. Dan meninggalkan perasaan agoni dan gemetar haru saat scene tersebut usai.

Membahas Sang Penari

Sang Penari bukan film yang dibuat sembarangan. Film ini diangkat dari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karangan Ahmad Tohari. Salah satu buku sastra paling penting di Indonesia.

Film ini pun memakan riset selama dua tahun untuk memberikan keontetikan situasi terutama pada scene penggerebekan kampung oleh militer yang kemudian membawa pada pembantaian masal.

Menurut saya pribadi, jika dirunut ada empat pembahasan penting dalam film sepanjang seratus menit lebih ini. Yaitu mengenai:

  • Adat
  • Kisah Cinta
  • Tubuh Perempuan
  • Politik 65

Dalam aspek adat kita dapat melihat betawa piawainya Prisia Nasution memerankan Srintil. Musik dan tariannya begitu mistis, memikat siapa pun yang menyaksikannya. Jelas sekali bahwa dari awal tujuan hidup Srintil adalah menari, meneruskan rantai budaya dan membersihkan nama baik keluarganya yang kandung rusak karena kejadian semasa ia kecil. Tidak banyak film Indonesia yang begitu otentik mengangkat budaya awal ronggeng yang ditampilkan dengan layak. Tidak hanya sekadar tempelan dan pemanis. Namun secara sadar, peran tarian di sini adalah sentral dari bergeraknya cerita dari awal hingga akhir.

Hal yang juga penting diamati lebih dalam lagi adalah bagaimana dalam konteks film ini, sebagai penari ronggeng, tubuh Srintil adalah alat. Ia kendaraan untuk mendapatkan materi. Sesuatu yang sudah tidak asing di budaya yang patriarki di Indonesia ini. Namun yang menarik adalah, tubuh Srintil pun laksana potret keagungan maha kuasa. Siapa pun yang tidur dengan Srintil niscaya akan mendapatkan kesuburan dan kesuksesan.

Fenomena ini membuat Srintil memiliki power dan kendali di sana. Ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Meskipun, sangat disadari bahwa dalam masyarakat Dukuh Paruk, otoritas tubuh Srintil hanyalah sebatas adat. Sesuatu yang bisa mereka miliki bersama. Bukan lagi sesuatu yang bersifat personal.

Membahas politik, film Sang Penari patut diacungi jempol. Dengan berani film ini membahas kisah kelam tahun 65. Isu yang jarang hadir dalam perfilman Indonesia modern.

Betapa muatan politik di film ini mengalir dengan sangat jelas dan tepat pada temponya. Kerusuhan enam lima dengan nyata digambarkan dengan todongan dan teriakan tentara pada para warga yang tidak mengetahui apa pun. Rasa takut mereka menular di film ini.

Mereka adalah korban. Korban ketidaktahuan yang diberantas karena kepentingan elit politik. Betapa adegan saat Srintil bertanya mengenai apa maksud dari namanya ditulis dalam sebuah carik kertas yang ia bahkan tidak dapat baca, adalah gambaran paling lugu mengenai keterikatan rakyat kecil dalam pusaran politik saat itu.

Korban kebanyakan di tahun enam lima mungkin adalah mereka yang sebenarnya tidak mengetahui apa itu komunisme, yang mereka tahu itu adalah partai yang memihak para petani. Dan dalam satu kali gilas, hampir jutaan korban rakyat jelata itu pun hancur dalam ketiadaan. Ini menegaskan bahwa kita, saya dan kamu, siapa pun itu adalah mahluk politik yang bisa saja terjerat konflik kapan pun.

Adegan yang mencekam antara militer dan ketakutan warga kampung digambarkan begitu realis hingga saat cerita cinta yang pilu itu selesai, film Sang Penari menawarkan menu lain bagi penontonnya.

Apakah kita akan mengingat sejarah ini lalu membongkarnya? Atau hanya diam membiarkannya?

Sembari kita memikirkan jawabannya, mungkin di sana, yang pasti Srintil akan terus menari. Hingga sendi-sendi dalam tubuhnya perlahan berhenti.

Ngenest: Becanda Yang Ada Isinya

Ngenest-Poster

Semua orang pasti sepakat bahwa Ernest Prakasa adalah seorang aktor yang baik. Dia selalu menyampaikan semua dialog dengan gerakan yang nyata. Gue akan percaya dengan setiap peran yang dia mainkan. Baik di Comic 8 sebagai seorang perampok gila atau perannya menjadi karyawan nyebelin di Sabtu Bersama Bapak. Semua dia mainkan dengan sangat flawless.

Lalu di akhir tahun 2015, Ernest muncul dengan film Ngenest, karya pertamanya sebagai seorang sutradara sekaligus aktor di dalamnya. Latar belakang Ernest sebagai stand up comedian yang satu geng dengan Raditya Dika membuat gue ragu dengan film ini. Karena jujur aja, gue enggak pernah  menikmati jokes jomblo Raditya Dika yang di abuse terus menerus. Maka gue memiliki ketakutan bahwa film ini tidak akan jauh berbeda ceritanya seperti film-film Raditya yang lain, yang kisahnya hanya berputar tentang derita jomblo dan sexism cewek pas masa pacaran. Seabsurd itu, kesannya enggak ada topik lain di dunia ini yang lebih penting dibanding jadi jomblo dan cewek yang enggak bisa satu frekuensi sama elo.

Tapi ternyata Ngenest hadir di luar ekspektasi, ia muncul sebagai film komedi yang renyah namun memiliki statement yang kuat. Ngenest menampilkan kisah menjadi minoritas di Indonesia. Dengan mostly karakter di filmnya adalah keturunan Cina.

Sesuatu yang bisa dibilang jarang ada di Indonesia, karena biasanya tokoh dan karakter Cina berhenti sebagai kokoh penjual barang klontong saja. Tapi di sini, sebagai film coming age, Ernest menawarkan kisah menarik dari betapa tidak enaknya menjadi etnis Cina di Indonesia. Bagi siapa saja yang menontonnya, baik itu pribumi atau memang peranakan Cina, pasti pernah bergesekan dengan isu ini. Suka tidak suka, beberapa tampilan adegan di film ini berusaha menyentil kita bahwa menjadi berbeda itu tidak enak dan tidak seharusnya diperparah dengan hinaan yang malah memperparah semuanya. Tenang, seperti yang gue bilang tadi, semuanya dibalut komedi.

Cerita di mulai dari masa pembulian Ernest dari bangku sekolah, ia dengan fisik yang berbeda dengan anak-anak lainnya membuatnya menjadi sasaran bully dan kolekan yang empuk. Lambat laun, muak dengan nasibnya, ia pun memiliki pikiran bahwa untuk memutus tali kesengsaraan minoritas ini adalah dengan memperbaiki keturunan. Yaitu dengan menikahi cewek pribumi.

Semua pun terwujud dengan Ernest menikahi Mei, cewek yang ia temui secara tidak sengaja di tempat les bahasa Cina saat ia kuliah di Bandung. Mei diperankan dengan sangat apik oleh Lala Karmela.

Lalu setelah satu jam berlalu, konflik cerita muncul dengan ketakutan Ernest jika nanti anaknya terlahir sebagai Cina juga. Turbulensi yang menggoyang semesta sempurna hidup Ernest. Dan film pun diakhiri dengan win win solution di mana Ernest memiliki anak perempuan Cina, namun dengan kondisi di mana ia sudah menerima fakta bahwa, it is okay to have anak sipit, asal dia selalu ada buat anaknya, dan enggak lari dari dia. Tamat.

Film berdurasi satu jam dua puluh delapan menit itu berhasil membuat gue penasaran akan nasib masing-masing karakter di film Ngenest. Akting semua karakternya pun enggak ganggu. Pas. Bahkan mereka dapat mendeliver jokes dengan timing yang tepat. Meski ada beberapa jokes yang hit and miss. Tapi ya, bikin film komedi emang susah kan, jadi gue manut aja.

Tapi yang sangat mengganggu buat gue adalah akan tempo narasi film ini. Karena selama satu jam awal, film terlalu banyak mengenalkan karakter, selain Ernest, semua orang tidak memiliki konflik yang berarti.

Fragmen demi fragmen Ernest pun berjalan terlalu mulus, yang padahal gue berharap akan ada ironi-ironi pahit yang dijalani karakter Ernest di film yang membuat karakternya tumbuh dan berubah. Dan kealfaan itu pun diperparah dengan munculnya konflik krusial di babak terakhir tentang kegamangan Ernest, yang seharusnya bisa diurai dan menimbulkan simpati, tapi sayangnya semuanya diselesaikan dengan terburu-buru selama dua puluh menit saja.

Lalu yang buat gue rolling eyes adalah peran side kick si Patrick, Ernest membuat konfliknya mengambang begitu saja. Padahal, sahabatnya mandul. Fucking mandul. Kalau di dunia nyata elo ngedenger tetangga elo ngaku mandul, elo pasti udah iba seibanya manusia. Lah, ini sahabat dari kecil gitu, bro for life, tapi si Ernest lempeng aja gitu responnya.

Don’t get me start dengan peran-peran pendukung lain, teman-teman Ernest di kantor dan kuliah pun, Ernest tidak berusaha untuk mengenalkannya. Mereka cuma kayak lalu lalang untuk hadir ngejokes tanpa penontonnya tahu fungsi mereka sebenarnya apa dalam cerita tersebut.

Dengan tempo dan dosis scene yang terlalu terburu-buru, membuat film Ngenest yang kuat di premis menjadi goyang di departemen ceritanya.

Padahal, jika diberikan ruang dan durasi yang lebih lama untuk menyampaikan kisah sentral tentang ketakutan Ernest memiliki keturunan Cina yang akan mengalami nasib yang sama dengannya. Gue rasa film Ngenest bisa jadi film komedi yang padat dan membekas. Tidak menggantung hampa seperti jokes penyanyi kawinan Koh Hengki yang membuat gue mengerenyitkan dahi.

Tapi over all, cerita di film Ngenest lebih solid dibanding kesemua film-film absurd Raditya Dika dijadi satu.