Referensi Film Valentine; Cinta Enggak Selalu Berakhir Bersama Kan? [SPOILER] PART 1

Dalam hidup yang hanya 24 jam dalam sehari ini harus diakui bahwa sayangnya tidak semua individu yang bernafas dan bernyawa memiliki kisah cinta semanis Habibi-Ainun atau sefancy Raisa-Hamish dengan ending live happily ever after. (mukanya cakep-cakep pula).

Mungkin ada beberapa orang yang kisah cintanya lebih seperti karakter Kajool dalam film Kuch Kuch Hota Hai yang harus ikhlas berada dalam demografis “in love with someone you can never be with” tanpa ada akhir cerita di mana bisa bertemu anak si gebetan dari masa lalu dan luckily berakhir menikah bersama.

Sebagian lagi mungkin tiduk cukup berani untuk menyuarakan perasaannya dan mau tak mau harus bisa menerima melihat sang pujaan hati dari kejauhan yang sudah bahagia dengan orang lain dan berkata; It’s over I should move on.

Namun diam-diam tetap mantengin page social media si gebetan sampai tangan ledes dan kuota habis. Tindakan preventif yang di mana kalau-kalau ada celah untuk mengambil perhatian si gebetan kembali. *pelakor detected*

Jahatnya friendzone, pahitnya perbedaan suku/agama (yang mana di Indonesia ini matters banget), kerasnya persaingan para singlewan/singelwati (Hello, Tinder!), dan terburuknya adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan merupakan faktor penyebab banyaknya korban dari kisah cinta sendiri ini. (meminjam lirik dari lagu Kahitna).

Lalu scene bergerak ke sebuah sudut sebuah cafe di Jakarta, beberapa pekerja yang baru pulang bekerja, saling berhadapan sambil menyesap kopi, membakar batang rokok yang ke dua menandai dimulainya sesi curhat percintaan mereka.

Di Jakarta, dapat dengan mudah kita mendapati para single dengan kompleksitas kehidupan mereka. Terkadang, beberapa dari mereka ada yang membawa kesedihan ‘romantisme’ tiap harinya dan menyadari bahwa memiliki satu sama lain dengan si dia bukanlah opsi yang mereka punya.

Sampah betul orang yang bilang, kisah cinta terbaik terkadang tidak selamanya saling memiliki.

Kalau cuma suka dan enggak bisa memiliki itu namanya penyewaan, Kak. Macam rent a car atau rent a house di Airbnb. Kalau tau endingnya seperti itu, harusnya jangan dibuat jatuh cinta dari awal. (ngomel sama hati nurani sendiri)

Bilang ke Dilan, yang berat tuh bukan nahan rindu ke Milea, tapi jatuh cinta sendirian. Perih itu, Jenderal!

Ada teman saya yang menyalurkan ‘kesendiriannya’ dengan berlari di GBK sambil mendengarkan lagu-lagu EDM terbaru sambil berteriak-teriak.  Namun, untuk saya pribadi, ‘lari’ yang paling pas untuk saya adalah dengan menonton film.

Karena tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menonton film yang bisa membuat kita setelahnya menangis tersedu-sedu.

Bisa dibilang itu adalah salah satu terapi paling murah untuk merasa bahagia. Dan juga karena malas olahraga aja.

Film romantis comedy selalu sukses menghadirkan dunia yang dapat merefleksikan kehidupan percintaan dengan mengocok isi perut tanpa harus kita melaluinya terlebih dahulu.

Dan setelah layar studio berganti gelap, beberapa film tersebut ada yang mampu meninggalkan kekosongan mendalam di dada yang tidak bisa diisi oleh apa pun. Entah karena kemiripan ceritanya, akting yang kelewat memukau, atau sesederhana musik maupun lokasi yang dapat mengingatkan pada si doi.

Well, karena dari awal saya sudah menceritakan tentang bagaimana jomblo-jomblo di Jakarta bertahan dengan hebatnya.

Berikut saya buat daftar film yang mengapresiasi beberapa orang dengan demografis percintaan love someone that you cannot have.

Yang kuat ya nontonnya, kak.

Hari Untuk Amanda (2010)

Screen Shot 2018-02-15 at 1.05.10 AM

Kadang film-film romcom Indonesia masih terjebak untuk memberikan gambar-gambar bagus namun minim makna. Apalagi yang cuma mengandalkan aktor dan aktris yang cuma modal tampang saja.

Namun, film Hari Untuk Amanda bukan film yang seperti itu. Film ini berisi kepahitan yang hanya bisa dibayangkan pasangan CBK (Cinta Belum Kelar).

Dikisahkan bawah Amanda ingin memberikan undangan pernikahannya untuk sang mantan, Hari. Tujuannya untuk menyelesaikan unfinished business di antara mereka berdua yang dulu sempat berpacaran lama sejak masa SMA.

Namun, niat awal itu pun malah berubah menjadi napak tilas kisah cinta lama mereka berdua yang membuat Amanda mempertanyakan kembali untuk siapa perasaannya ini berlabuh.

Kebimbangan Amanda pun diselesaikan setelah melewati satu hari penuh turbulensi yang membawanya kembali ke masa lalu saat bersama Hari. Amanda menikmatinya, bahkan sempat ia ingin memilih Hari. Namun ketika Amanda memilih Hari dan apa yang Hari lakukan adalah lebih memilih liburan ke Lombok dibanding bertemu dengan orang tua Amanda.

Amanda tahu bahwa ia dan Hari berpisah karena satu alasan. Dan mungkin itu yang terbaik yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

Amanda pun pulang dan memilih tunangannya.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Kisah cinta yang dibangun sejak SMA adalah sesuatu yang terjadi pada banyak orang. Terlebih jika hubungan tersebut gagal ditengah jalan. Pertanyaan paling sering hadir adalah; undang mantan apa engga ya?

Menonton film ini kamu akan menemukan jawabannya. YAITU ENGGAK! HAHAHA

Dan juga di film ini kamu akan dibawa ke tempat-tempat romantis Jakarta khas anak SMA selatan.

Dialog-dialog bangsat yang begitu profound di film ini bisa sangat relatable untuk siapa pun. Dan bersiap-siaplah dikoyak masa lalu dengan begitu keji oleh Hari untuk Amanda.

Adegan Paling Ngehek:

Saat Hari ikut fitting untuk baju nikahan suaminya Amanda.

Pahit… itu pahit banget.

Jahat banget deh si Amanda. Dia enggak tau apa ya ngedenger mantan yang masih disayang nikah lewat invitationnya Facebook aja rasanya udah perih banget. Kek luka yang udah kering dikopek lagi.

Lah ini malah dibuat uji nyali banget buat pura-pura ngepasin baju yang bakal dipakai pasangannya (which is ORANG LAEN) pas di hari pernikahan nanti.

Enggak ada otaknya tuh perempuan!

hari untuk amanda*Sabar ya, Mas*

Quotes Ter-Anjink

Kamu itu kayak Jakarta Har, gampang banget berubahnya. Kayak yang kamu pernah bilang ke aku, berubah tapi sebenernya gak berubah – Amanda

Celeste and Jesse Forever (2012)

080312-rashida-jones

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Setelah sekian lama bersama dan kamu baru menyadari bahwa pasangan yang selama ini berada di samping kamu adalah orang yang berbeda. Bahwa kesamaan yang selama ini ada hanyalah hasil kompromi semata. Dan pada akhirnya malah menimbun bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Film ini bertutur tentang dua pasangan suami-istri yang begitu melengkapi satu sama lain namun harus mengakhiri kisah cinta mereka karena satu prinsip yang ternyata membuka jurang paling gelap dalam hubungan mereka.

Jesse sudah melupakan Celeste, namun tidak untuk Celeste.

Segala upaya dilakukan Celeste untuk membuat Jesse kembali, namun yang ia dapat hanyalah ketiadaan. Cinta mereka telah mati. Tidak ada yang dapat dipaksakan, meski cinta itu adalah cinta yang dulu membuat mereka berjanji untuk tidak pernah berpisah satu sama lain.

Adegan Paling Ngehek:

Saya sengaja buat dua, karena memang dua adegan ini yang paling ANJEEENG!

Satu, saat Celeste ketemu dengan Jesse di pernikahan teman satu circle mereka yang dulu selalu double date bareng mereka.

Saat pesta usai, Celeste berjalan keluar, berjarak dengan banyak orang dan menyadari bahwa hidup bisa berubah dengan begitu cepat. Yang kini hanya menyisakan dirinya sendiri. Tanpa siapa pun di sampingnya.

I mean, SIAPA SIH YANG ENGGAK PERNAH KETEMU MANTAN DI KAWINAN? TERUS YOU MAU APA KALAU KETEMU? NYAPA? NGOBROL BASA-BASI?

YA ENGGAK LAH! APALAGI KALAU DIA SUDAH BAWA PASANGAN BARUNYA! YA BYE BYE DEH!

caleste and jesse forever

Dua, ini adegan sakit sih! Momen di mana Celeste *mengemis* cintanya yang usang pada Jesse. Karena sebelumnya mereka masih ketemu karena asas jatah mantan.  Tapi si Celeste baper, she wants more. Sayangnya, Jesse enggak bisa ngasih itu.

Quotes Ter-Anjink

Why you don’t change for me?

YES! WHY? WHY??????

The Lunch Box (2014)

Bittersweet adalah kunci dari semua daftar film ini. Di awal begitu manis dan diakhiri dengan kepahitan yang menyesakkan. Begitupun dengan film India satu ini.

Berawal dari kesalahan bekal makan siang yang tertukar, seorang duda paruh baya dan perempuan muda yang baru menikah akhirnya menjalin hubungan janggal yang mengasikkan.

Mereka bertukar surat di dalam bekal makan siang yang terus menerus tertukar. Mulai dari berbagi resep makanan hingga curhat masalah personal mereka masing-masing.

Cinta itu tumbuh dengan malu-malu sampai mereka memutuskan untuk kopi darat. Sayangnya saat si perempuan sudah hadir di tempat mereka janjian, sang duda paruh baya itu malu sendiri lalu memutuskan mundur dan pergi meninggalkan perempuan itu sendiri dengan penuh pertanyaan.

Dan seperti kisah kopi darat lainnya, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain. Namun cinta dan perasaan mereka pun akan selalu terkenang manis pada sebuah kotak makan siang.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

I mean, siapa sih yang enggak pernah cinta dengan orang asing yang dikenal dengan super random. I did sih. Transformasi dari orang yang dulu kita bahkan enggak tahu nama belakangnya apa, musik favoritnya apa, dll malah berubah menjadi satu orang paling penting dalam hidup kita. Dan pahitnya adalah ketika saat semuanya tidak bisa bersatu dan orang itu menjadi sosok yang asing kembali namun kini penuh dengan kenangan. Satu hal yang sayangnya tidak bisa kita hindari.

Adegan Paling Ngehek:

Tentu saja saat mereka saling bertukar pesan. Seru dan engaging banget untuk tahu nasib masing-masing karakter sampai akhir.

lunch box

lunchbox2

Quotes Ter-Anjink

Sometimes the wrong train takes you to the right destination.

Call Me By Your Name (2017)

Satu musim panas yang merubah semuanya. Saya tidak bisa menggambarkan lebih banyak lagi. Film Call me by your name adalah jenis film yang hanya perlu kita tonton dan hayati. Karena dengan itu kita dapat menikmati keindahannya yang menyesakkan.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Katanya setiap orang dalam hidupnya akan mengalami fase tiga kali jatuh cinta. 1) Jatuh cinta pertama kali, 2) Jatuh cinta yang toxic dan menyakitkan, 3) Jatuh cinta yang mendewasakan.

Khusus untuk Elio sepertinya adalah jatuh cinta untuk pertama kali, namun yang akan membekas dalam pada hidupnya.

CMBYN

Adegan Paling Ngehek:

Saat di akhir film Elio menerima telefon dari Oliver dan memberitahukannya bahwa ia akan menikah. Saat telefon ditutup, Elio bergegas menuju meja makan dan berakhir menatap sedih pada perapian. Seakan dari kesedihan Elio, kita dapat merasakan betapa sakit saat seseorang yang dulu begitu penting dan berharga pergi dari hidup kita. Saksikan scene tersebut dan saya yakin kamu akan tercabik setelahnya.

call-me-by-your-name

Quotes Ter-Anjenk

What you two had, had everything and nothing to do with intelligence. He was good, and you were both lucky to have found each other, because… you too are good.

Fallen Angels (1995)

Wong Kar Wai adalah salah satu Sutradara yang karyanya begitu romantis dan meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Fallen Angels adalah karya terbaik dia.

Vibe Hongkong di tahun 90an sangat terasa lewat warna, musik, fashion dan apa pun yang ada di dalamnya. Dikisahkan tiga tokoh sentral yang mencari aktualisasi romantisme mereka dalam seseorang yang tidak bisa mereka miliki.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa yang tidak pernah menjadi helpless romantic dan mencintai seseorang sebatas satu dua hal yang kita tahu? Dan film ini menggambarkan itu semua dengan begitu cantik. Akan keputusasan dan ironi bahwa masing-masing dari yang mengharap tidak akan mendapatkan apa pun selain rasa kehilangan.

Screen Shot 2017-11-14 at 6.06.24 PM

Adegan Paling Ngehek:

Saat si agent pembunuh bayaran itu masuk ke dalam kamarnya, menggunakan seluruh peralatan pribadinya dan merasakan sensasi bahwa benda-benda yang ia pegang adalah yang pernah pembunuh bayaran itu sentuh. Ia ingin menghadirkan sosok tersebut tanpa pernah benar-benar ada secara nyata. Platonic tingkat dewa.

Screen Shot 2017-11-14 at 6.02.36 PM

Quotes Ter-Anjenk

Most people fall in love for the first time as teenagers. I guess I’m a late bloomer. Maybe I’m too picky. On May 30, 1995, I finally fell in love for the first time. It was raining that night. When I looked at her, I suddenly felt like I was a store. And she was me. Without any warning, she suddenly enters the store. I don’t know how long she’ll stay. The longer the better, of course.

 

Panjang ya… pegel pemirsa ngetiknya. Nanti akan dilanjutkan di PART 2 dan PART 3 ya.

 

Advertisements

Ulasan Film: ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’

marlina-the-murderer-in-four-acts

Markus datang tanpa permisi, menerobos masuk, kemudian mengintai sekeliling. Setelah cukup menerka, ia pun duduk pada pusaran.

Tanpa berlama-lama ia dekati Marlina dan membisikkan ancaman serta godaan yang Markus tahu tidak akan bisa Marlina tolak.

Markus menyunggingkan senyum kemenangannya. Pahit bagi Marlina.

Namun, sayangnya, kali ini Markus salah. Dalam diam Marlina tahu apa yang harus dia lakukan. Ingin segera ia hapus senyum sialan itu di wajah Markus.

Dan setelahnya petualangan Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak pun dimulai.

Film Marlina besutan Mouly Surya mengedepankan pertaruhan yang besar; premisnya tentang perempuan yang melawan kejahatan laki-laki.

Seakan menjadi simbol feminisme sendiri dalam menghancurkan kuku-kuku tajam patriarki di lingkup domestik. Sesuatu yang sebenarnya sering terjadi dalam keseharian.

Berlokasi di Sumba, Marlina ditangkap melalui gambar-gambar wide yang cenderung ekstrim. Menjadikan Marlina sebaga film Indonesia paling cantik tahun ini. Hamparan sabana yang luas membuat Marlina tampak begitu kecil. Seolah ingin mengkomunikasikan bahwa kini ia hanya tinggal sendiri melawan semuanya.

Dalam film ini, narasi perlawanan perempuan di tiap babaknya dengan spektakuler diargumentasikan dengan cerdik oleh Mouly.

Ia menghadirkan isu pemerkosaan, sesuatu yang selama ini masih membelit para korbannya di Indonesia.

Scene tersebut dimunculkan Mouly dengan kontras yang mengulur-ngulur. Menggambarkan dengan jelas akan bagaimana sistem birokrasi, terutama kepolisian, merespon isu tersebut.

Betapa tersiksanya saya ketika menonton adegan Marlina yang menunggu panggilan dari Polisi yang sedang bergantian bermain pingpong. Sesuatu yang sangat tidak relevan.

Emosi penonton pun terjerat akan akting cemerlang Marsha Timoty yang diembodikan tanpa meluap-luap namun akan menghantui tiap-tiap kepala yang menontonnya.

Teror akan kesakitan korban pemerkosaan seolah tidak berhenti, Sang Polisi yang mencatat laporan Marlina bertindak tanpa sensitivitas yang ajek.

Seakan trauma dan kesakitan yang Marlina hadapi hanyalah bersifat naratif dan numerik.

Berapa banyak yang memerkosa? Bagaimana semua berlangsung? Mengapa kamu mau diperkosa oleh yang lebih tua?

Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Polisi tersebut terasa sangat bebal, jika tidak mau dibilang bodoh. Scene tersebut begitu nyata. Begitu dekat.

Kesemuanya seakan menyayat peluru terakhir Marlina. Tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri dan mungkin Novi. Sahabatnya.

Yang ternyata bernasib sama sialnya dengan dirinya. Novi terkena stigma lama akan tubuhnya. Kehamilannya diperdebatkan banyak orang, karena sudah lewat 10 bulan sang anak diprediksi sungsang.

Sebuah indikasi akan ketidakpatuhan perempuan terhadap laki-laki. Alasan yang datang karena ia dan sang suami sudah tidak berhubungan badan selama tiga bulan terakhir. Kecurigaan itu muncul dari sana dan tentu saja lidah tajam sang mertua.

Layaknya Marlina, Novi pun bertahan. Berjuang dalam ketidakadilan.

Sayangnya dalam film Marlina, babak demi babak berjalan dengan pelan tanpa konflik yang berarti pada antar karakter di tiap babaknya. Sepinya gesekan tersebut membuat satu jam terakhir film ini terasa datar, meski tidak hambar, namun pengulangan-pengulangan scene yang sudah terjadi di awal tidak membuat saya terkesan. Kekurangan tersebut bagi saya pribadi gagal dalam menggugurkan ekspektasi tinggi akan film Marlina.

Kedalaman emosi dan konflik Marlina serta Novi sebenarnya bisa tuntas dengan cepat tanpa membutuhkan waktu selama satu setengah jam.

Meski begitu, eksekusi dan presentasi Marlina tak diragukan lagi. Gambarnya kelas dunia! Semua yang hadir di dalamnya begitu poetic dan membekas. Sup ayam dan sate kambing seolah menjadi simbol ketakutan tersendiri setelah menyaksikan film ini.

Terlebih ditambah musik yang menggetarkan dari tangan Zeke yang mampu mengisi nuansa ketegangan mencekam di dalam film ini.

Akhir kata, kekuatan Marlina seolah bukan karena ia menenteng-nenteng kepala pemerkosanya dan berkendara dengan kuda. Marlina lebih besar daripada simbol maskulinitas seperti itu.

Dengan jelas terpampang bahwa kekuatan Marlina berasal dari keengganannya untuk tunduk dalam ancaman dan kelaliman. Terlebih jika itu datang dari laki-laki.

Ulasan Film Posesif: Memaknai Kembali Sebuah Rasa dan Obsesi

17010009_1

Film Posesif hadir dengan premis yang menarik, sebuah hubungan abusive dalam cinta muda yang membara. Terlebih ini dihadirkan dalam konsep percintaan remaja tujuh belas tahun dengan pelbagai problematika kehidupan khas anak SMA.

Selanjutnya bagaimanakah cerita akan ternarasikan? Dan yang terpenting kemudian adalah, menarikkah Posesif sebagai sebuah film untuk ditonton?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian untuk mengetahui background para kreator di balik film Posesif ini.

Pertama, film ini disutradarai oleh Edwin, ia adalah sutradara yang biasa membuat film-film ekperimental art house, dari tangannya hadirlah film-film indie keren seperti; Babi Buta Ingin Terbang, Postcard From The Zoo, dan Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband. 

Tiga film itu merupakan jenis film yang jarang hadir di teater mainstream Indonesia (you can correct me if i’m wrong, maafkan jika saya salah) dan hanya diputar di bioskop-bioskop alternatif dan festival-festival film yang sifatnya terbatas.

Namun itu bukan berarti karya Edwin merupakan karya biasa karena tidak mampu tembus pasar mainstream. Malah karena film-film Edwin kemasannya begitu kuat. Pesan yang hadir begitu sarkas dan menyindir. Seakan pemaparannya akan peristiwa demi peristiwa ironis di filmnya seolah benar-benar terjadi di tengah-tengah penontonnya.

Bagaimana pedihnya nasib kaum minoritas dibalut dalam simbol visual yang memojokkan. Dapat dipastikan film-film Edwin bakal menjadi kontroversial di kalangan masyarakat yang tidak terbiasa dengan gagasan tersebut.

Namun dengan perbedaan tersebut, Edwin datang dengan alternatif tontonan yang menyegarkan.

Terutama lewat ciri khas film Edwin yang muncul dalam narasi panjang cenderung lambat dan mengekploitasi dramatisasi kebisuan para aktor dalam durasi lama yang kemudian dihentakkan dengan adegan-adegan nyeleneh tak biasa.

Seperti hubungan seksual threesome sejenis antara seorang dokter yang dianal oleh dua orang laki-laki di ruang prakteknya karena ingin membantu pasangannya masuk tivi demi masuk ke sebuah acara pencarian bakat.

Adegan itu dihadirkan Edwin dalam film Babi Buta Ingin Terbang dengan begitu kasual. Ia sisipkan adegan tersebut sebagai statement Edwin terhadap isu-isu marjinal yang jarang dibicarakan. Terpinggirnya kaum Gay dan Tionghoa.

Maka dari itu sangatlah menarik untuk melihat film Edwin yang spesifik dibuat untuk kalangan masif remaja.

Kedua, dari departemen skrip ada Gina S Noer. Penulis skrip film yang sukses dengan film-film best seller iconic seperti Habibi Ainun, Hari Untuk Amanda, dan Ayat-Ayat Cinta. Ia muncul sebagai kontras terhadap Edwin. Premis yang membuat orang penasaran, bagaimana jadinya kubu kreator indie bertemu dengan kreator film populer?

Lewat trailer film Posesif kita dapat melihat nafas sinematografi khas Edwin. Permainan dimensi warna, gambaran komposisi simetris dalam ruang kosong yang di shoot dari jarak jauh. Kesemuanya memanjakan mata bagi yang menontonnya.

Dialog-dialog yang keluar dari mulut para aktornya pun mengalir santai. Seakan lewat trailer filmnya Posesif datang dengan ekspektasi yang tinggi.

Ketiga, mari kita membahas filmnya.

Apa yang menjadi kekuatan dalam film ini?

  • Akting yang kuat dari para pemainnya. 

Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melihat film remaja yang proper di layar kaca. Dan Posesif hadir dengan paket lengkap mulai dari para dua pemain utama yang menyuguhkan akting meyakinkan sebagai pasangan yang mabuk cinta dan terobsesi satu sama lain. Adipati dan Putri memberikan akting terbaik mereka di sini. Saya sebagai penonton percaya ketika mereka sedang tersipu malu, marah, dan ketakutan. Bahkan peran-peran kecil dalam film ini matters. Semua memiliki keterikatan yang mendukung cerita satu sama lain.

Seperti Ega, sahabat Lala dengan karakter yang kocak bisa menjadi bumbu penyegar yang manis dalam film ini.

  • Scene-scene indah

Kepiawaian Edwin dalam memberikan gambar-gambar indah yang datang dari tempat sederhana benar-benar breathtaking. Favorit saya adalah ketika adegan galau Lala saat berenang. Begitu poetic. Adegan dugem dan saat Yudhis dan Lala flashback di taman bermain, kesemuanya terasa cute dan edgy khas anak muda.

Ini mengajarkan bahwa tidak perlu pergi syuting ke Eropa, jika bisa menghasilkan kualitas sebagus ini. Dibanding syuting jauh-jauh tapi film yang dibuat masih level FTV (I mean something that you can see for free).

  • Soundtrack yang mengisi moment dan mood dalam film.

Memasukkan Banda Neira, Dipha Barus, dan Sheila on 7 adalah pilihan yang brilian. Banyak banget orang yang nyanyi di bioskop saat lagu Dan Sheila on 7 diputar di film.

  • Logika cerita yang solid.

Gina membereskan tugasnya dengan baik di sini. Motivasi tiap-tiap pemain dalam kesinambungan konflik berjalan selaras. Mulai dari awal, tengah, dan akhir. Terutama ketika clash antara Lala dan Ayahnya semua terasa tepat pada tempatnya. Kemarahan Lala, ambisi sang Ayah, tekanan Yudhis, semua memburu di film ini dengan ketajaman yang membekas.

Tapi….

Ada beberapa bagian dalam film yang mengganjal, kesan akan toxic relationshipnya masih terasa setengah-setengah. Bagian-bagian yang sebenarnya bisa di eksplore, terasa ditahan oleh Edwin. Seakan ketika seharusnya penonton dibawa dalam dunia kengerian dan impulsif Yudhis, Edwin hanya memberikan porsi kecil di sana.

Creepy thing Yudhis hanya muncul sekali dua kali. Tidak jelas apakah dia memang seorang stalker yang posesif, atau hanya anak tempramen yang mencari pelampiasan saja.

Dari situ pun letupan-letupan hubungan naik turunnya asmara antara Yudhis dan Lala juga terasa terlalu cepat. Tidak ada ruang pengenalan lebih jauh akan bagaimana Lala dan Yudhis membangun ikatan yang tak terpatahkan. Atau bagaimana tiba-tiba Lala merasakan keanehan Yudhis. Bahkan Twilight memberikan itu pada filmnya.

Juga keobsesian Yudhis ke Lala masih jadi tanda tanya. Bagian mana dari Lala yang mentrigger Yudhis untuk menjadi seseorang yang posesif? Sayangnya semuanya tak tergambarkan terlalu jelas.

Dari sanalah terlihat bagaimana film ini bermain aman. Hasrat dan letupan toxic relationship semacam ‘make up sex’ tidak muncul sebagai penyeimbang. Karena dari pengalaman teman saya yang mengalami kejadian seperti Lala, memiliki pasangan yang tukang pukul, sang pacar selalu memiliki cara untuk membuat teman saya kembali lagi kepada dirinya. Salah satunya ya itu, lewat make up sex, sesuatu yang akhirnya menggiring teman saya jatuh kembali pada luka yang ia buat sendiri. Semacam manipulasi yang tak berujung.

Keguncangan psikologis Lala pun tidak muncul, sepertinya akan lebih dramatis jika ada scene untuk Lala sendiri yang menanyakan kembali keputusannya saat ingin pergi atau kembali stay dengan Yudhis.

Karena di film ini sudut pandang Lala terkesan terombang ambing karena desakan sang Ayah, temannya, dan Yudhis sendiri. Tidak ada suara sendiri dari karakter Lala dalam menghadapi masalahnya di sepanjang film.

Kembali menjawab pertanyan awal, apakah film ini menarik untuk ditonton?

Maka jawabannya adalah sangat menarik.

Saya memberikan bintang 4,5 dari 5. Film ini begitu memukau secara keseluruhan. Seakan hadir sebagai entitas baru dalam film remaja Indonesia. Posesif bukan hanya sebuah film remaja belaka, ia merupakan suara keberanian yang dieksekusi dengan baik.

Film ini wajib untuk ditonton buat kamu kamu yang sedang berada dalam hubungan seperti Lala namun tidak berani untuk bersuara.

Karena dari film Posesif kita belajar bahwa seganteng apa pun pasangan, jika tangannya dipakai untuk memukul dan mulutnya untuk merendahkan pasangannya lewat kemarahan. Harusnya pilihan untuk pergi darinya merupakan jalan utama yang harus segera diambil.

Mengutip tagline dari sebuah iklan, karena kamu begitu berarti.

Mari Bicara Tentang Film Indonesia

Gegap gempita Pengabdi Setan (2017) Joko Anwar membawa saya pada pemikiran; sepertinya tren untuk me-remake film-film lama Indonesia untuk dimunculkan lagi ke kalangan generasi milenial saat ini merupakan suatu strategi marketing yang mumpuni.

Terbukti banyaknya film-film klasik dari era 50an hingga 80an kembali dihidupkan dengan nafas yang lebih modern oleh para sineas film demi menyesuaikan selera para penonton film Indonesia sekarang yang didominasi oleh para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja awal. Yang notabene demografis umurnya berada di angka 14 hingga 35 tahun* dan aktif di media sosial.

Tahun yang berbeda tentu saja menghadirkan gap tren sosial yang berbeda pula pada penonton baru dengan film asli yang dibuat di era sebelumnya.

Karena sejatinya film memang menggambarkan situasi dan fenomena isu yang terjadi di jamannya. Jika boleh saya mengandaikan, film ibarat mesin waktu yang dapat membawa kita mengintip narasi dan visual masa lalu dengan lebih estetik.

Gap tren sosial yang paling nyata adalah pembaharuan teknologi dan akses informasi dalam era digital. Yang mana di kehidupan masyarakat sekarang rasa-rasanya sulit untuk tidak menggunakan internet dan media sosial dalam keseharian. Jika tidak mau dibilang adiktif. Sesuai dengan target audience penonton film Indonesia.

Kemajuan tersebut tentu saja berefek pada pergeseran paradigma berfikir masyarakat menjadi lebih global.

Jadi, isu-isu kelas masyarakat antara si kaya dan si miskin yang dulu merupakan momok dalam masyarakat Indonesia di era 70-80an. Kini di tahun 2017 bisa dengan lebih kasual disampaikan pada penontonnya. Pun bukan menjadi sentra dan penggerak cerita, melainkan hanya background karakter belaka.

Perbedaan situasi dan tren yang saya bahas tadi dimanfaatkan beberapa film maker sebagai manuver pendekatan ke penonton milenialnya.

Contohnya seperti di film Galih & Ratna (2017) versi Lucky Kuswandi yang merupakan pembaharuan dari film sebelumnya yang berjudul Gita Cinta Dari SMA (1979)  karya Arizal yang dibintangi ikon bintang muda di masanya, Rano Karno dan Yessy Gusman.

Cerita orisinalnya mengangkat tema besar tentang perbedaan kelas sosial antara Galih si Miskin dan Ratna si Kaya. Dikotomi tersebut menjadi kentara karena isu itulah yang menjadi konflik film. Namun di film Galih & Ratna dirubah menjadi lebih ‘kekinian’ dengan esensi narasi filmnya yang berputar tentang pengakuan diri dan mengejar mimpi (eksistensialisme) pada masing-masing karakter.

Formula tersebut tentu saja mampu membuat cerita lebih dekat pada penonton milenial sekarang yang isu pada generasinya kini memang tentang berlomba-lomba menunjukkan siapa diri mereka. Hasilnya? Film Galih & Ratna ditonton lebih dari 121 ribu orang.

Namun tentu saja ada banyak formula untuk membuat sebuah film remake tetap menjadi entitas yang dapat dinikmati oleh lintas generasi. Seperti setia dengan gagasan awal film pendahulunya.

Contohnya film Ini Kisah Tiga Dara (2016) Nia Dinata dan Nagabonar Jadi 2 (2007) Deddy Mizwar yang sama-sama dibuat dengan pakem ide awal film terdahulunya dan dinamis pada karakternya.

Nia Dinata yang memang konsisten mengangkat isu feminisme, mengartikulasikan dengan baik roh film yang diargumentasikan dalam film Tiga Dara (1956) Umar Ismail. Perempuan yang melawan untuk tunduk dalam jerat patriarki dan stigma sosial perempuan telat menikah.

Pun dalam film Nagabonar Jadi 2 (2007) besutan Deddy Mizwar, ia tetap menonjolkan marwah patriotisme dan nasionalisme yang begitu kental di filmnya. Sama seperti film pendahulunya Nagabonar (1987) karya MT Risyaf.

Memang menjual romansa nostalgia merupakan win win solution untuk mendapatkan kue lebih banyak antar lintas generasi. Yang satu ingin mengulang pengalaman terdahulu dan generasi baru ingin merasakan sensasi pertamanya.

Namun, menurut saya pribadi kadang keontetikan film terdahulu jika tidak ditempatkan dengan baik akhirnya malah menjadi boomerang sendiri yang tidak menjawab masalah tantangan perbedaan yang saya sebutkan di awal tadi.

Contoh saja film Bangun Lagi Dong Lupus (2013) Benni Setiawan, yang sayangnya tidak berhasil menghidupkan kembali ikonitas Lupus beserta jajaran karakter lainnya. Geger Lupus di masanya yang merupakan simbol anak muda yang ngocol namun kreatif, aktif, dan kritis tidak tersampaikan dengan baik. Jika tidak ingin dibilang buruk.

Lupus di film ini seakan bingung dengan dirinya sendiri yang ingin menjadi sosok baru khas anak muda masa kini atau sekadar wannabe saja. Saya merasa tidak tersentuh dengan misi Lupus maupun keseluruhan cerita di dalamnya. Pun film Catatan Harian Si Boy (2011) Putrama Tuta yang gemilang dalam eksekusinya, masih belum berhasil mengabadikan karakter Satrio sebagai regenerasi Mas Boy yang dicintai banyak orang. Baik perempuan maupun laki-laki.

Disayangkan padahal film seperti Lupus dan Mas Boy di film Catatan Si Boy berhasil menjadi ikon kondang di masanya. Seakan menjadi tolak ukur maupun potret remaja di generasinya. Sebuah pencapaian yang sukses untuk sebuah film yang berubah menjadi pop culture. Timeless.

Kini film Indonesia seakan kehilangan tokoh-tokoh karakter kuatnya yang abadi dan dekat dengan penontonnya.

Dan perlukah saya membahas Warkop DKI Reborn 1 & 2?

Beberapa Film Klasik Indonesia Yang Layak Untuk di Remake

Well, terlepas dari itu semua, sebagai penikmat film Indonesia rasa-rasanya saya bermimpi untuk mengulang pengalaman menonton beberapa film klasik Indonesia.

Deretan film ini layak untuk dihidupkan kembali berdasarkan pencapaian gemilang mereka di masa lalu dan kesesuaian cerita akan situasi krisis sosial budaya juga pergeseran nilai lokal ke global yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya kategorikan dalam beberapa genre dan tema.

Dalam kategori drama sosial, saya mengajukan film:

  1. Taksi (1990) Arifin C Noer

Taxi Jugaa

Film Taksi seolah hadir sebagai sarkasme di masanya. Seorang sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan dan mengadu nasib ke kota besar alih-alih malah menjadi seorang supir taksi. Dari sana Giyon (Rano Karno) pun mengalami turbulensi hidupnya ketika mendapati penumpangnya Desi (Meriam Bellina) meninggalkan anaknya. Lewat akting di film ini Rano Karno memenangkan aktor terbaik di Piala Citra.

Taksi berhasil membicarakan hingar bingar ibu kota dengan cara menyindir dan menggambarkan situasi kondisi masyarakat ibu kota yang ikut campur dan menghakimi dengan baik di sini. Sesuatu yang layak dilihat di masa sekarang.

2. Cintaku di Rumah Susun (1987) Nya’ Abbas Akup

220px-Cintaku-di-rumah-susun

Film dramedi favorit saya. Kompleksitas dan keanekaragaman karakter yang hidup dalam satu rumah susun pasti sangatlah menarik untuk ditonton. Komedi situasi dari masing-masing background karakter yang berbeda dapat menggambarkan betapa kayanya budaya dan toleransi yang ada di Indonesia.

Lika-liku masalah masing-masing karakter pastilah akan mengundang tawa dan sindiran khas akan fenomena-fenomena sosial yang kita saksikan setiap harinya di kehidupan nyata.

3. Si Mamad (1973) Sumandjaya

Si_Mamad_(1973;_obverse;_wiki)

Memenangkan film terbaik dan aktor utama pria terbaik di FFI 1974. Bercerita tentang si PNS jujur yang terpaksa untuk korupsi kecil-kecil namun akhirnya membawa perasaan menyesal mendalam dalam kesehariannya. Film yang pastilah sangat wajib dibuat ulang mengingat banyaknya kejadian korupsi di negara ini setiap harinya.

Kategori romansa dan drama keluarga, saya mengajukan film:

  1. Boneka Dari Indiana (1990) Nya’ Abbas Akup

Boneka_Dari_India

Keluhan dari orang tua saya adalah jarangnya ia melihat cerita film Indonesia yang menggambarkan demografis dirinya. Sesosok suami istri dengan problematika yang menjerat di tengah-tengahnya.

Semasa dulu memang sepertinya film Indonesia lebih kaya dari segi tema dan cerita. Seperti halnya di film ini. Drama romantis komedi ini menceritakan pasangan suami istri baru yang selalu didikte oleh mertuanya. Lucu sekali, menghadirkan tawa yang membuat saya merenung dan meninggalkan perasaan hangat setelahnya.

Tidak diragukan lagi Nya’ Abbas Akup merupakan sineas klasik Indonesia favorit saya yang setia dengan tema-tema dasar di sekelilingnya yang dekat dengan penontonnya.

Perlu penjelasan lagi untuk membuat film ini diremake?

2. Pacar Ketinggalan Kereta (1989) Teguh Karya

Pacar_Ketinggalan_Kereta

Kisah romantis beda kelas memang menjadi favorit di masanya. Si kaya dan si miskin yang terhalang cintanya oleh si orang tua yang memandang rendah perkara tersebut. Namun yang paling saya sukai dari film ini adalah betapa Teguh Karya mengangkat isu perempuan dengan status janda menjadi karakter yang kuat dan mandiri.

Teguh karya tidak terjebak pada generalisasi umum akan pandangan janda itu sendiri. Ia malah bermain-main di sini. Film yang sangat menghibur pun penting karena keunikannya menggambarkan irisan polemik keluarga kaya dan miskin. Cinta.

Perlu dibuat ulang karena minimnya cerita film keluarga di Indonesia.

3. Usia 18 (1980) Teguh Karya

Usia_18_(1980;_obverse;_wiki)

Menampilkan Jaya pub yang klasik lengkap dengan isinya. Cerita film ini masih berputar tentang kelas dan perbedaan ekonomi. Namun yang menjadi lucu jika disaksikan sekarang adalah betapa sepelenya penyelesaian konflik di sana jika masing-masing dari mereka memiliki telfon genggam haha.

Saya tertarik untuk melihat bagaimana film maker membuat ulang film ini yang di mana mampu menonjolkan IKJ dan pentas drama dengan gambaran yang se-epik Teguh Karya tampilkan di film ini.

4. Cintaku di Kampus Biru (1976) Ami Prijono

053305100_1432119890-rae-Cintaku_Di_Kampus_Biru_1976-c

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk ditonton. Kekuatan film ini bukan hanya pada premisnya saja, melainkan kekuatan akting antara dua tokoh utamanya yang masing-masing memberikan penampilan yang pantas untuk diperbincangkan sepanjang masa.

Menarik untuk melihat bagaimana penggambaran cinta beda usia dan kampus biru UGM dari mata film maker saat ini.

5. Ramadhan dan Ramona (1992) Chaerul Umam

ramadhan-dan-ramona

Jika Hollywood memiliki deretan nama mulai dari Julia Robert, Jennifer Lawrence, dan Rachel Adam untuk pemeran ciamik film romantis komedi. Menurut saya Indonesia juga beruntung memiliki Lydia Kandou. Akting dan wajah cantik klasiknya merupakan roda penggerak film romantis di masanya.

Kategori kisah ikon remaja, saya mengajukan film:

  1. Lupus
  2. Olga Sepatu Roda
  3. Catatan si Boy

Ketiga film ini merupakan film legendaris yang mampu membawa jutaan penonton jatuh cinta dengan tiap-tiap tokoh utamanya. Tidak hanya melahirkan satu film, dua dari film di atas mampu membuat berjilid-jilid film di tahun-tahun berikutnya yang selalu sukses.

Fenomena ketiga film remaja tersebut juga memengaruhi pergaulan di masanya. Fenomena yang sama seperti di era digital. Bedanya pengaruh budaya pop ini lahir dari sebuah karakter fiktif beserta semestanya.

Siapa yang tidak ingin jadi wartawan dan memakan permen karet seperti Lupus?

Siapa yang setelah menonton film Olga tidak ingin belajar bermain sepatu roda dan menjadi penyiar radio?

Dan siapa yang bisa menandingi Okky Alexander sebagai si Boy yang kaya, gaul, dan soleh?

Karakter-karakter tersebut akan hidup terus menerus sebagai dokumentasi gambaran akan remaja yang mampu membuat perbedaan di masanya. Atau bisa dibilang revolusioner.

Menarik sebenarnya untuk melihat bagaimana karakter-karakter tadi beradaptasi dengan situasi digital saat ini.

Apakah Lupus akan menjadi blogger? Olga menjadi vlogger? Dan Mas Boy menjadi selebgram populer karena ketampanan, kekayaan, dan pergaulannya?

Kategori cerita anak, saya mengajukan film:

  1. Harmonikaku (1979) Arifin C Noer
  2. Djendral Kantjil (1958) Nya’ Abbas Akup
  3. Si Doel Anak Betawi (1972) Sjumandjaja

Apakah kalian asing dengan ketiga film tersebut? Berarti Anda melewatkan tiga film anak-anak terbaik yang pernah ada di negeri ini. Kesamaan dari ketiga film tersebut adalah kayanya muatan cerita lokal di dalamnya.

Baik budaya dan anekdot-anekdot daerah diartikulasikan dengan penyampaian yang memang ditunjukkan pada penonton muda.

Kesan petualangan dan kedekatan tema dasar yang diangkat pun akan membuat penontonnya jatuh cinta dengan para karakter utamanya dan ingin menjadi seperti mereka dan memiliki petualangan yang sama.

Minimnya film anak pun menjadi dasar mengapa perlu sekali dibuat kembali film untuk anak-anak yang mampu menampilkan keluguan dan kekayaan konten lokal dengan penampilan karakter kuat yang menjadi idola anak-anak.

Mendukung Film Indonesia Kedepannya

Saya percaya dengan menonton film Indonesia yang memuat konten berkualitas akan membuat kepercayaan penonton kembali hidup dan bergerak aktif. Karena seperti alasan awal saat kita menonton film saat pertama kali, yang kita cari adalah pengalaman sinematiknya. Kekuatan kasat mata yang dapat membawa kita penontonnya pergi ke dimensi lain dan larut dalam semesta yang para film maker itu buat.

Dan selama beberapa jam menonton, kekuatan-kekuatan dalam elemen film (musik, akting, cerita, sinematografi, dll) menggerakan emosi kita untuk tertawa, marah, dan menangis bersama film tersebut.

Sehebat itu kekuatan sebuah film untuk saya.

Dan saya yakin sekali masih ada film Indonesia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membuat penontonnya betah untuk datang lagi dan lagi ke bioskop.

Karena film Indonesia selalu memiliki caranya sendiri untuk terus bangkit dan melawan. Ia tengah bersiap-siap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Mari bersama-sama membuat itu menjadi nyata.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya daftar film kamu sendiri yang sepertinya cocok untuk dibuat ulang?

*Data lebih lengkap bisa dilihat di sini -> http://journal.unair.ac.id/filerPDF/7-13_3.pdf

Ang Lee: Father Knows Best

Jadi berawal dari menonton film ini saya jadi penasaran dengan film-film lainnya dari Ang Lee. Yang baru saya tahu bahwa film Eat, Drink, Man, Woman (1994) adalah trilogi Father Know Bests-nya Ang Lee. Jadilah saya menonton ke dua film sebelumnya, yaitu: Pushing Hand (1992) dan The Wedding Banquet (1993).

pushing hand.jpg
Pushing Hand (1992)

Menonton film-film awal Ang Lee sebelum bertandang ke Hollywood merupakan sebuah pengalaman flash back romantis ke awal tahun sembilan puluhan dengan narator witty yang siap menyindir apa pun. And you will laugh with it. Either you are the one who get mocked or you just simply get amuse with it.

Ketiga film dalam Trilogi Father Knows Best milik Ang Lee memiliki beberapa elemen penting yang terus ada dan diputar berulang. Yaitu: hubungan orang tua dengan anak (terutama Ayah dengan anaknya), kontras akulturasi antara budaya barat dan timur, konsepsi seks di budaya timur dan pornonya penyajian makanan yang membuat siapa pun akan menelan ludah saat menonton ke tiga film tersebut.

Cerita-cerita dalam ketiga film Ang Lee berpusat pada benturan dan permasalahan dalam keluarga asia. Dengan cekatan ia sampaikan dengan visual dan adegan yang menontonnya akan merasa dekat dengan masalah tersebut.

Akar permasalahan kesemuanya sebenarnya bagi kebanyakan keluarga asia adalah tentang bagaimana anak berkomunikasi dengan orang tua terutama karakter Ayah yang memang dikenal sebagai sosok sentral dalam sebuah keluarga. Beranjak dewasa sosok Ayah tersebut berubah menjadi tokoh keramat yang setiap titahnya adalah kebenaran.

Dan itu menjadi hal yang coba Ang Lee advokasikan dalam filmnya. Tentang sejauh mana peran orang tua dalam kehidupan anaknya yang sudah dewasa. Apakah perbedaan demi perbedaan akan mengeliminasi makna keluarga yang pernah ada sebelumnya? Atau malah menguatkan?

Lalu lebih dalam lagi, dalam ketiga film tersebut, Ang Lee pun menyorot kegagapan budaya Barat dalam memproses pemahaman akan budaya Timur itu sendiri. Ada banyak momen-momen yang secara canggih Ang Lee argumentasikan dalam filmnya.

Seperti dalam film Pushing Hand, cerita yang berpusat tentang seorang Ayah pensiunan yang tinggal di Amerika yang harus beradapatasi dengan istri anaknya yang kebetulan seorang bule. Bule yang so typical banget, merasa superior dengan teknologi dan sistem yang mereka punya. Seolah dunia hanya berputar tentang dia saja. Sehingga tidak merasa perlu untuk tahu tentang background sang Ayah mertuanya.

Jika di keluarga Asia, semua anak dididik untuk menghormati kedua orang tuanya, dan merawat orang tuanya yang sudah sepuh sebagaimana mereka dulu merawat mereka di kala kecil dulu. A payback concept yang sepertinya tidak terintegrasi dalam otak si perempuan bule dalam film Pushing Hand. Dan konflik itu lah yang menjadi jalan cerita menarik dalam film Pushing Hand. Geger budaya beda negara yang tidak teruraikan dengan baik.

Lain lagi dengan film The Wedding Banquet (1993). Filmnya dibungkus dengan humor yang menggelitik namun tidak berlebihan. Film yang mengangkat tema gay ini menurut saya sangat maju di eranya. Konsepsi seksual yang tabu itu dibredel Ang Lee dengan jenaka dan terbuka.

Scene gay di film ini dibuat dengan sangat kasual dan tetap memanusiakan mereka. Mereka tidak menjadi alien yang memiliki sejuta perbedaan dengan yang ‘straight’. Di film The Wedding Banquet (1993) permasalahan adalah tentang takutnya si anak laki-laki yang gay untuk mengakui seksualitasnya dan akhirnya membuat pernikahaan palsu demi membuat orang tuanya tenang. Terlebih umurnya yang sudah tiga puluhan, karena di Asia menikah adalah sesuatu yang sangat wajib. Sayangnya, apa pun yang berangkat dari kebohongan tidak akan berjalan baik. Termasuk dalam film ini.

Si anak terjebak dengan kebohongannya dan akhirnya malah menjauh dengan pacar gaynya. Seolah orbit bergerak terlalu jauh dari substansi awal yaitu semua kebohongan ini dibuat untuk menyelamatkan hubungan mereka berdua, alih-alih malah membuat semuanya jadi kacau.

the-wedding-banquet-movie-poster-1993-1020243569

Yang lebih keren lagi di film The Wedding Banquet ini adalah tentang sikap kedua orang tua tentang menanggapi isu anaknya yang gay. Keabu-abuan itu masih sangat terasa, apalagi dalam scene melihat album pernikahan. Sikap sang ibu tetap menentang namun tidak berusaha untuk menyakiti perasaan anaknya sendiri.

Sedang sang Ayah, yang awalnya sangat ditakuti, malah jadi orang yang dengan legowo menerima itu semua. Yang bukannya memang seharus itu bukan?

Saya teringat puisi Anakmu Bukan Milikmu, Kahlil Gibran. Ada baitnya yang berbunyi

…Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak yang meluncur.

Dengan jelas Khalil mengungkapkan bahwa anak adalah tetap manusia, yang bebas memilih pilihannya, dan akan hidup di kakinya sendiri nanti. Maka biarkanlah ia meluncur bebas, menjadi apa pun yang ia mau.

Elemen terakhir adalah tentang makanan, jika di film Eat, Drink, Man, Woman (1994) makanan memang menjadi sentra cerita, di kedua film Pushing Hand dan The Wedding Banquet, makanan menjadi elemen cantik yang membuat penonton berdecak lapar. Kemewahan makanan Asia sangat andal Ang Lee tampilkan dengan bulir minyak daging bebek yang lezat dan dumpling yang so-oh-yummy to eat.

Kesemuanya menjadikan film Ang Lee sebagai representasi Asia yang modern dan moderat menjadi tidak berlebihan. Semuanya begitu canggih dan heartwarming di waktu bersamaan.

Jika Wong Kar Wai adalah seorang sutradara art house romantis paling keren di Asia, Asghar Farhadi dengan andalan drama psikologisnya yang mencekam, maka Ang Lee hadir sebagai narator canggih dengan narasi yang dalam akan kehidupan.

Tak lupa, ada satu lagi yang saya belajar dari film-film Ang Lee ini, lewat filosofi Tai Chi Ang Lee mengajarkan bahwa keseimbangan, betapapun sangat berbeda pada tiap elemennya dan begitu menganggu, sangatlah perlu dalam hidup.

Karena toh hidup memang tentang itu semua. Hasrat, tekanan, pelepasan, dan penerimaan. Dan kesemuanya akan berjalan beriringan dengan harmonis jika kita mengizinkannya.