Figuran Jakarta Punya Podcast!

Berawal dari kegigihan gue untuk membuat brand sendiri bernama Figuran Jakarta, setahun yang lalu akhirnya gue membuat blog ini yang mana niat awalnya adalah mengisinya dengan cerita-cerita curhatan dari para teman-teman perantauan yang tinggal di Jakarta beserta lika-liku dan dramanya.

Nyatanya, ternyata teman gue ga banyak-banyak amat juga dan curhatannya itu-itu aja. Jadi jaranglah gue update blog ini. Tapi sebenarnya gue males aja sih. Haha. Jadilah blog ini cuma gue isi dengan review-review film ala ala saja.

Kemudian di suatu malam yang dingin karena hujan yang tak kunjung reda bertemulah gue dengan Kaka Nat, Bangkit, dan Epen yang randomly berteduh di sebuah coffee shop sepi namun nyaman di bilangan Kemang.

Dari obrolan ngalur ngidul tersebut akhirnya kami memutuskan untuk mendokumentasikan obrolan halu ini. Isu yang dibahas tentu saja tentang drama kehidupan para buruh kerah putih perantauan di Jakarta bagaimana bisa bertahan hidup dari bulan ke bulan.

Kami juga bercerita bagaimana akhirnya kami datang ke Ibu Kota ini yang katanya lebih kejam dari Presiden Trump. Semua kami ceritakan secara nyablak dan tak beraturan. Lebih banyak bersenda gurau dan tertawa riang dan lupa apa yang kami omongin sih.

Ya namanya juga buruh kurang hiburan ye kan. Ada yang lucu dikit kita ketawain aja lah.

Kemudian juga karena dari kami semua ga ada yang cakep dan bisa ngedit video, maka channel soundcloud jadi pilihan kami untuk merekam obrolan kami, soalnya pendokumentasian mudah. Modal ngerekam di handphone saja semuanya beres.

Dan di hari Kamis tanggal 07 Desember 2017, resmilah kami membuat seri podcast #FiguranJakarta tentang cerita manis, asam, asin, dan kepahitan-pahitan akan dunia perburuhan serta drama kumbara di dalamnya.

Siapa tau cerita-cerita kami dapat menghibur atau bikin kesel, ya sudah aja lah, namanya juga usaha. Tapi tetep dengerin ya please..

Jadi jangan lupa like, comment, dan subscribe (padahal gue ga tau juga cara kerja soundcloud tapi pengen ngomong gini aje).

Sampai ketemu di podcast-podcast halu lainnya.

Wassalam!

PODCASTNYA DI MARIH LOH BISA DIDENGER PEMIRSA YANG BUDIMAN!

Advertisements

2 AM Thought

When your mind speak louder and you cannot sleep then you become ‘sok filosofis’. #padahalbesokkerjapagi

Ada banyak momen di penguhujung tahun ini yang ngebuat gue agaknya seperti diam sejenak, lalu tertawa pahit. Men, I’m old.

Tahun 2017 ini gue akan berumur 27 tahun.

Angka keramat yang kalo di film 3 hari untuk selamanya, si Yusuf bilang adalah umur di mana seluruh semesta elo diobok-obok terus elo muntah dan diliatin deh tuh apa aja yg udah dilaluin sepanjang 27 tahun itu.

For some people pasti ada yg nyeletuk; ‘yaelah masih muda kali baru 27’ atau ‘sudah tua loh elo harus udah serius, nikah gih’.

Asli, bawaannya pengen gue toyor orang-orang macem gitu. Bukan hanya karena mereka sok tahu, mereka juga dengan enaknya mengenerelisasi hanya berdasarkan opini tunggal dari pengalaman mereka aja. Coy, ngane siapa berhak nentuin nasib orang?

For me, gue percaya hidup yang cuma sekali ini layak banget untuk diapresiasi. Untuk dijalankan to the fullest dan semoga berguna bagi orang lain.

Gue bangga sekaligus sedih dengan apa yg orang tua gue udah kasih ke gue. Mereka bekerja begitu keras agar anak-anaknya sekolah dan bisa makan layak. Tapi semua itu harus mereka bayar mahal dengan ngorbanin mimpi dan kebahagiaan mereka sendiri.

Mungkin orang tua gue tidak mengenal konsep YOLO seperti milenial sekarang. Orang tua gue berpedoman; biar susah sekarang tapi anak jangan sampai seperti mereka. Itu yang membuat mereka bangun tiap paginya meskipun badan mereka sudah ringsek karena capek kerja.

Ditambah lagi mereka juga harus memendam hasrat hidup mereka. Menertawakan mimpi lama mereka yg terasa tak masuk akal. Dan menjalani hari hanya untuk orang lain. Bukan diri mereka sendiri.

Apa yg mereka lakukan adalah hal yg mulia banget.

Tapi, sejujurnya gue enggak mau hidup seperti itu. Gue enggak mau hidup untuk orang lain.

I have a dream and I want to make it happen. Some people will call me selfish. Tapi buat gue, ini adalah alasan utama mengapa gue hidup. I want to make a change. Gue mau berkarya. Meskipun akan butuh waktu lama untuk sampai di titik sana. Tapi gue enggak akan menyerah.

Saat elo bilang gagasan itu semua ke khalayak umum. Yang elo dapet pasti cemooh dan terkadang penghakiman. Ini yang agaknya kurang gue suka dengan konsep sosial di masyarakat saat ini yg sangat memenjarakan hak privat seseorang dan tidak mendukung kesetaraan hak pribadi. I mean if they want to be “mentingin karir dibanding yg lain” just let them be. Enggak perlu usil dengan hal-hal yg memberatkan. Hidup orang udah susah. Kalo ga bisa bantu, minimal jangan bikin pusing.

Terlepas dari permasalahan sosial, masalah dalam hidup juga kerap kali muncul dalam diri sendiri. Dalam bentuk ego, nafsu konsumtif, rasa malas dan kekosongan diri.

Bagaimana mau berkomitmen, jika membuat bahagia diri sendiri saja enggak bisa.

Beratnya hidup di norma masyarakat, hausnya pengakuan dari orang lain, dan terjerat akan ego sendiri sepertinya masalah yang harus diputus di 2017 ini. Karena saat gue membuat projection keuangan selama setahun. Gue tertawa pilu. Melihat deretan angka yg harus dicari, dikeluarkan, disimpan. Gua takjub dengan kondisi bahwa angka-angka ini yang mewakili gue. Ini adalah track record atas pilihan-pilihan gue. Tenyata gue sendiri terjebak atas standar ini.

Ini salah siapa? Ya salah gue sendiri. Karena terlalu lama berkutat dengan definisi-defisini orang lain yang enggak sesuai dengan tujuan awal gue.

Dan gue ingin menyudahi itu semua. Gue ingin terlepas dari ego untuk terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Ingin tampil lebih di mata orang lain. Gue tidak mau lagi hidup atas dasar definisi itu. I don’t need to impress anyone anymore, or buying stuff that just to makes me feel belong to some click or something. Nope. I’m done with that.

Jika hidup diibaratkan seperti traveling. Elo semua bisa liat, ada banyak orang yg sampai mati akan mengkotak-kotakan; elo tim backpacker, elo tim koper, elo tim apalah. Padahal ya, yaudah aja. Jalan-jalan ya buat nyenengin diri sendiri. Bukan terperangkap pada struktur yg dibuat orang lain. Elo harus coba ini, elo harus bawa ini, elo ga boleh ini, etc. Elo fokus pada teknis dan melupakan substansi kesenangan traveling itu sendiri.

Karena pada akhirnya, inti dari sebuah perjalanan buat gue adalah tentang pengalamannya, tentang prosesnya. Mau kemanapun destinasinya. We can learn from anywhere.

Begitu pun juga hidup. Setidaknya buat gue.

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

Mengapa Sulit Sekali Untuk Berempati?

Ada yang pernah bilang pada saya, kurang lebih seperti ini: empathy before ego.

More or less orang itu menjelaskan bahwa pada situasi tertentu, yang di mana kita tidak dapat merasakan penderitaan orang lain, setidaknya kita mampu berempati untuk kesedihannya. Bukan berbuat seolah-olah tidak mau memahami yang dialaminya.

Contoh kecilnya: Seorang Ibu hamil yang berdiri di kendaraan umum (kereta, red). Kondisi kereta di jam sibuk bukanlah waktu yang ideal untuk bernyaman-nyaman. Kebanyakan isinya adalah mereka yang berangkat kerja atau pulang kerja. Semua orang sama-sama mengantuk, letih, dan berdesak-desakan. Memang, ada gerbong yang dikhususkan untuk perempuan. Namun pada praktiknya, meledaknya jumlah penumpang, dua gerbong saja tidak cukup.

Pun, di kereta sudah ada peraturan untuk tempat duduk prioritas yang dikhususkan untuk ibu hamil, manula, penyandang berkebutuhan khusus, dan ibu yang membawa anak.

Peraturan itu sudah jelas, bahwa sesama penumpang harus saling menghormati.

Untuk para lelaki pastinya tidak pernah merasakan beratnya hamil. Setidaknya, berbaikhatilah memberikan tempat duduk anda untuk perempuan tersebut. Karena, meskipun anda tidak merasakan beratnya hamil sambil berdiri berdesak-desakan. Setidaknya anda berempati untuk kondisinya. Meskipun anda dalam kondisi sangat kantuk sekalipun.

Kalahkan ego anda yang berupa kantuk untuk seseorang yang kiranya lebih membutuhkan. Tidak ada yang bilang kantuk anda tidak penting. Namun, ini pilihan di mana anda memenangkan empati atas ego anda.

Situasi ini sering sekali saya dapati di kehidupan perkeretaan. Banyak sekali anak muda laki-laki yang kurang memahami nilai tersebut. Dibanding badan bugar mereka, si ibu yang menggendong anak kecil atau bapak-bapak yang sudah sepuh, jelas lebih membutuhkan tempat duduk tersebut.

Sekali lagi, ini bukan berarti kenyamanan anda sesuatu yang tidak penting. Namun alangkah terpujinya jika anda mempraktikan hal tersebut. Membantu sesama, menghormati yang lebih tua, dan peduli pada lingkungan sekitar. Toh, jika anda melakukannya, anda sedang berbuat baik pada seseorang. Ada pahala untuk anda.

Secara sadar tidak sadar, nilai anda pun sebagai manusia akan bertambah. Tidak butuh gelar pendidikan tinggi untuk memahami permasalahan ini. Hanya tinggal menambah dosis kepedulian akan lingkungan disekitar saja.

Karena yang paling mengerikan dari manusia adalah ketika hilangnya kepedulian akan sesama.

Ps: Tulisan ini dibuat saat kesal melihat dua remaja laki-laki bugar bermain hape di tempat duduk, dan tidak peduli memberikan tempat duduk mereka ke ibu-ibu yang menggendong anak dan seorang bapak tua.

Tentang Dua Hal Paling Nikmat Di Jakarta

sex

Kalau ditanya ke saya, saya akan menjawab; makanan dan sex.

Dua hal itu tersedia dengan baik di Jakarta, mulai dari yang jajanan pinggir jalan sampai yang fancy packagingnya. Promo dan marketingnya pun sama-sama memikat hati. Semua bisa dilihat dengan mudah di media sosial maupun offline.

Baik makanan dan sex di Jakarta sama-sama memiliki banyak jenis dan variannya, tergantung selera si pembeli tentu saja. Interest para pembeli pun dengan apik diolah menjadi kategori tersendiri oleh sang penjual. Jadi tidak usah pusing mencari apa yang kamu mau. Tinggal ketik semua ada.

Suka dengan makanan pedas? Pasti yang disuguhkan meliputi makanan seafood atau padang.

Suka sex yang menantang? Pasti akan disuguhkan permainan S & M yang kinky-kinky.

Suka sushi yang di mix dengan cita rasa lokal? Ada kok, bisa beli yang fusion salmon dengan rendang.

Bosan dengan gerakan yang mekanistis dan ingin coba gaya lain? Bisa! Tinggal sebut fetish kamu apa, semua layanan tersedia dengan rapi dan ‘alat-alat’nya pun hadir dengan jaminan kenikmatan tiada tanding.

Semua orang di Jakarta memiliki orientasi sendiri terkait soal makanan dan sex.

Ada yang menikmatinya secara diam-diam, adapula yang terang-terangan memproklamirkannya ke banyak orang.

Enggak ada yang salah dengan itu menurut saya.

Wong, itu kan urusan pribadi.

Perut dan kelamin kan kebutuhan dasar manusia. Yang salah adalah, ketika mencoba untuk mencampuri apa yang orang lain suka, itu baru mengganggu.

Apalagi mengintervensi keintimanan momen ketika menikmatinya. Aduh, urus piring dan ranjang sendiri saja lah ya.

Kenapa pula kita, yang jelas-jelas orang lain, merasa berhak dan bertanggung jawab untuk mencampuri apa yang orang lain suka.

Lagian, jika makanan dan sex menjadi milik publik. Banyak sekali yang berkorban loh. Yang mengaku suka makanan pedas tapi sebenarnya enggak kuat makan cabai seiris. Harus terima sakit perut saat ditraktir Bos.

Dan ada juga yang ngakunya, ehem, mainstream, tapi siapa tahu dia yang paling semangat kalau lelehan lilin nempel di badan dia sambil dicambuk-cambuk.

Lalu bagaimana?

Sisanya, menurut saya adalah hak dan tanggung jawab masing-masing sebagai seorang individu manusia yang bebas. Mereka bisa memilih makanan apapun yang mereka mau, begitupun sex yang ingin mereka nikmati di malam hari. (Ya, I know, makan dan sex tidak terpaut oleh dimensi waktu dan tempat).

Semoga kamu yang membaca, menikmati makan siang dan sex kamu ya.

Demam Awkarin

Screen Shot 2016-07-26 at 3.13.41 PM

Kemarin saya janjian makan malam dengan Tania, teman kantor lama saya. Pilihan kami jatuh pada tema all you can eat ala makanan Jepang di City Walk.

“DAGING, Jem!” teriak Tania girang.

Keakraban kami terjalin karena fakta bahwa kami sama-sama karnivora kelas berat dan, ehem, suka makanan gratisan.

Saat sampai di depan resto tersebut kami tercekat ketika melihat harga menu all you can eat yang terpajang, ada perasaan ragu muncul. Seperti, “Masihkah kami bisa hidup di bulan depan?”

Lalu Tania menggunakan otak ITBnya, dengan menghitung bill makanan kami (termasuk pajak) nantinya ditambah dengan hutang-hutang kartu kredit dan cicilan, dan mendapatkan hasil bahwa dapat dipastikan sebulan ke depan menu makanan kami hanya promag di mix dengan nutrijel rasa pandan.

Tapi didorong hasrat yang besar untuk memanjakan diri, kami pun melangkah pasti memasuki resto dengan dagu terangkat saat Mbak-Mbak pramusaji berteriak lantang, ‘MARI KAKAK!!!’ ketika menyambut kami berdua. Kami kalah dengan perut sekali lagi.

Setelahnya adegan yang terjadi, seperti para karnivora soleh lainnya yang melihat daging, kami pun makan dengan kalap. Tanpa rasa malu memesan daging setiap sepuluh menit sekali.

“Kok bisa enak banget ya daging? My LOVEEE,” ujar Tania sambil mengangkat irisan tebal daging tersebut lalu mencampurnya dengan rempah-rempah (yang gue lupa namanya, tapi enak) dan keju cair yang DEMI APA PUN ENAK BANGET. Ia sebut hal tersebut sebagai kontemplasi stadium tiga. Dunia mengecil. Yang tersisa hanya dia dan daging di tangannya.

Sejam sudah, waktu kami tinggal tiga puluh menit lagi. Sembari menunggu pesanan yang lain datang, Tania menunjukkan handphonenya kepada saya.

“Udah tau soal Awkarin? Liat videonya deh.”

Ada satu video yang berisi dua orang cewek berusia di awal dua puluhan sedang menjelaskan sesuatu soal ‘roda pasti berputar’ dan ‘semua orang pasti punya salah’ kemudian dilanjuti dengan iringan tangis histeris cewek satunya yang nantinya akan saya kenal dengan nama Awkarin.

Lalu dari satu video, Tania menunjukkan video lainnya, dan kami berakhir men-stalking Instagram Awkarin dan mantannya yang bernama Gaga (which adalah yang ia tangisi di video tadi. Gaga mutusin Awkarin sehari sebelum ulang tahun Gaga, dan Awkarin tetap buat pesta kejutan untuk Gaga, kali ini sebagai seorang teman saja, mengutip apa yang diutarakan Awkarin dalam videonya. Aw, sweet banget).

Tania pun menjelaskan dengan telaten siapa-siapa saja yang ada di dalam video-video Awkarin. Juga Tania ikut berkontribusi akan terbentuknya teori konspirasi mengapa Gaga mutusin Awkarin dan teori-teori alternatif lainnya. Dipastikan Tania menghabiskan waktu luangnya dengan sangat baik untuk menghafal rantai kehidupan sosial Awkarin.

“Dia mau ngasih kado DRONE dong ke si GAGA! Drone aja harganya minimal 13 JUTA! Gue mau ngasih kado sepatu ke pacar gue yang cuma 10 persen dari harga drone, harus nyicil enam bulan,” kata Tania heran.

“Duit dari mana ya dia?”

“Di endorse dari brand-brand di Instagram,” jawab Tania dengan ekspertnya. Seolah telah tamat membaca 101 Things About Awkarin.

Saat meneliti konten Instagram mereka berdua, sejujurnya harus diakui mereka memiliki estetika kualitas foto yang baik secara warna dan komposisi.

“Hmm, boleh juga nih anak,” puji saya. Tulus.

“Tapi, gue kalau jadi orang tua, engga mau loh anak gue kayak gini,” ucap Tania saat menghabiskan sisa daging terakhir kami.

“Itu egois engga sih? We judge her, talking shit about what she did, padahal kita saat labil-labilnya dulu engga jauh beda seperti Awkarin ya. We smoke, we got drunk, less PDA dan dronenya aja sih.”

“Bebas sih sebenarnya. Doi punya badan bagus plus sama borju juga. Kita yang kere pasti iri liatnya.”

Kami berdua tertawa miris, karena kenyataan sampai sekarang masih begini-begini aja kehidupannya.

“Tapi takut aja, ngeliat anak gue nantinya behavenya kayak gitu. Deep down gue tau, gue bukan manusia yang baik. Tapi setidaknya gue sekarang belajar untuk jadi lebih baik lagi,” aku Tania.

“Paham kok paham. Mungkin si Awkarin juga belum ke arah sana. Tapi engga adil buat dia dijadikan benchmark sebagai moral remaja di sini. Dia engga punya tanggung jawab apa-apa sih sebenarnya, terlepas banyaknya orang yang akhirnya ngikutin gaya hidup dia.”

Tania mengangkat pundaknya, “It’s her life then.”

Lalu datang Mbak-Mbak Pramusaji dengan selembar kecil total makanan kami yang ternyata engga kecil harganya.

Split bill ya, Mbak!” teriak kami kompak.

— –

Di jalan keluar, saya menumpang pulang dengan mobil Tania. Ketika hampir sampai depan kosan, kami harus memutar di depan lampu merah. Saat kami ingin berputar, dari arah depan ada satu motor yang seharusnya stay karena lampunya jelas-jelas merah, dia malah jalan selonong dengan santainya.

Kami berdua pun memaki-maki dengan kesal.

“Anak ANJING!”

“Jangan, anak anjing lucu! Kebagusan.”

“Apa dong?”

“Anak Farhat Abbas!”

Saat sampai depan kosan, saya berpamitan dengan Tania. Namun tidak beberapa lama ada sesuatu yang mengusik saya.

“Tan,” saya mengetuk kaca mobilnya.

“Apa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tania bingung.

“Elo sadar kan? Kita muterin mobil di jalan tadi juga sama salahnya dengan si pengendara motor tadi?”

“Ya kan itu jalanan terdekat ke sini, kalau muter di depan jauh.”

“Tetap salah engga sih?”

“Salah sih. Tapi udah nyampe juga. Udah gue ngantuk. Bye!”

Tania kemudian meninggalkan saya dengan lebih banyak hal mengganjal dalam kepala saya.

‘Kenapa kita harus marah padahal kita sama-sama salah? Kenapa harus ngerasa lebih baik?’

Saat sampai kamar saya mengintip kembali Instagram Awkarin kini dengan membaca beberapa komentar di postingannya. Lalu tak lupa melengkapi ke-kepoan saya dengan mensearch namanya di Google.

Banyak yang mendedikasikan tulisan tentang Awkarin, namun isinya lebih ke arah memojokan dan menyayangkan transformasi Awkarin yang sekarang.

Saya pun terpancing ketika membaca kemurkaan para penggiat moral internet yang merasa Awkarin bertanggung jawab atas tren gaya hidup ‘hedon vulgar, dan kebarat-baratan’ yang diikuti banyak anak muda di Indonesia. Sebuah kontra atas konon budaya timur yang sangat dijunjung tinggi di Indonesia ini. Entah deh budaya timur yang mana yang mereka bicarakan.

Karena serius deh. Memangnya Awkarin minta semua anak remaja di Indonesia ngeblonde-in rambutnya sambil teriak-teriak bilang anjing sambil ngerokok?

Engga toh?

Para anak-anak itu secara sukarela mengikuti Awkarin, seharusnya jika mereka considering apa yang Awkarin lakukan dianggap salah, adalah tugas para orang tua untuk meningkatkan komunikasi ke anak-anak mereka. Saya yakin, banyak orang tua yang sudah jarang mengecek dan berkomunikasi dengan anaknya jika membahas isu seperti ini.

Lalu salah siapa?

Ya enggak salah siapa-siapa.

Kita semua pasti pernah menjadi Awkarin di umur yang sedang ranum-ranumnya. Yang ingin mencoba banyak hal yang dulu dilarang oleh orang tua. Explore our body and sexuality.

About proudly doing stupid things for the sake of love, Sure we had an up and down moments when it’s about coping with hard break up. Also sometimes, we want to look badass by smoking, drinking alcohol and etc. We’ve been there before.

Bedanya sekarang di 2016 ini ada tren media sosial yang menghadirkan teknologi bernama Instagram dan aplikasi chat lainnya. Yang membuat Awkarin bisa memamerkan kehidupan pribadinya yang paling mikroskopik sekalipun.

Tapi mengapa dibanykanya anak muda yang juga sama seperti Awkarin, malah dia yang paling dikenal?

Karena ada demands yang tinggi. Semua orang diam-diam menyukai Awkarin. Seperti Tania. Di depan berkelakar, padahal dibelakang sebenarnya tahu betul apa yang akan dia lakukan di series vlog-vlog berikutnya.

Kenyataan bahwa di media sosial orang bisa bebas berkomentar apa pun yang mereka mau tanpa peduli dia kenal atau tidak dengan orang tersebut. Tinggal ketik di keyboard, mereka bisa mengetik hal-hal paling kejam, bengis, dan judgmental yang pernah ada. Seolah mereka yang memberi komentar menjelma menjadi nabi yang merasa memliki kehidupan lebih suci dibanding Awkarin.

Karena, siapa sih kita yang akhirnya memutuskan apa yang terbaik buat Awkarin? Liat saldo tengah bulan aja nangis, peduli amat ngurusin hidup orang. Biar itu jadi tugas orang tuanya dan Awkarin sendiri. Karena itu hak Awkarin sepenuhnya untuk menjadi seperti apa dirinya nanti. Bukan menuruti apa yang ‘society’ inginkan.

We do not walk in her shoes, so we know nothing about it. Tidak adil rasanya dengan semena-mena memberikan hujatan tanpa dasar pada dirinya.

Jangan-jangan kita sebenarnya tidak lebih baik dibanding Awkarin, jelas-jelas Awkarin tidak malu untuk menunjukan siapa dirinya, showing her true skin. Sedang kita, tak lebih dari orang yang tahu bahwa itu salah, terus melakukannya, lalu menutupinya dalam-dalam.

“Tapi, gue setuju. Gue engga mau anak gue nantinya kayak Awkarin. Anak gue harus kayak Maudy Ayunda,” saya mengirimkan chat tersebut ke Tania.

Menyedihkan bahwa kebanyakan dari kita menuntut seseorang menjadi sebersih Nabi, tapi diam-diam menikmati peran sebagai pendosa.

Yeah, life.

Sex and Sushi

nakedsushi.0

Di suatu jam makan siang setelah melalui meeting pagi yang melelahkan bersama klien. Saya, Kalula, Bian, dan Rei memutuskan untuk makan sushi di Lotte.

Alasannya karena, pertama kami baru gajian, kedua Lotte dekat dengan kantor kami, dan terakhir saya sudah merengek dari awal bulan ingin mencoba resto sushi baru yang konon chefnya adalah orang Jepang asli. Banyak yang datang ke sana dan bilang lidah mereka dimanjakan dengan keontetikan rasanya. Saya pun penasaran dibuatnya.

Saya, Bian dan Rei berangkat terlebih dahulu menggunakan Uber, sedang Kalula menyusul dengan gebetan-nya (do people still use term ‘gebetan’?). Saat sampai di resto sushi sushi tersebut, ternyata antriannya panjang minta ampun. Tiga puluh menit sudah kami menunggu, baik panggilan guest listatau kehadiran Kalula pun masih belum kunjung datang.

“Semoga sushi ini se-worthy itu untuk ditungguin,” desah Rei kesal.

“Pak Brian, silakan di meja lima,” panggil si Mba pramusaji kemudian. Kami akhirnya masuk dengan perut lapar dan hati yang berdebar karena jam 1:30 PM kami harus kembali ke kantor. Kami hanya punya waktu tiga puluh menit untuk makan.

Setelah sampai di meja, kami meneliti daftar menu yang sesuai dengan selera dan budget (karena masih ada 29 hari yang harus dilewati setelah gajian), akhirnya kami memutuskan untuk memesan dua sashimi mentah yang berisi lima slice besar salmon, dua piring toro, tiga volcano roll, tigaocha dingin, empat sake aburi (I’m so obsessed with it), dan tiga cawan musi.

Sambil menunggu pesanan datang, Brian menelfon Kalula menanyakan keberadaannya.

“Dia bilang sudah di depan, sendiri. Engga sama si gebetannya,” terang Brian.

“Loh, dia kan misah berangkatnya tadi karena mau jemput si Andra kan?” tanya Rei bingung.

I dunno, but thats what she said.

“Tau gitu dia bareng kita aja, bill Ubernya bisa di split empat orang, lebih murah,” ujar Rei kesal.

Kami bertiga mengagguk setuju, kemudian tertawa geli.

Kemudian tepat saat pesanan kami datang, muncul Kalula dari depan kami lalu duduk dengan air muka yang aneh.

“Mba, saya pesan sakenya ya satu. Tidak pake lama,” kata Kalula dengan nada tinggi.

“Kenapa sih?” tanya saya bingung.

“Emang anjing tuh cowok. Udah disamperin, udah gue dandan cakep gini, udah gue ikut Zumba sama diet mayo sampai pusing, eh dia masih loh enggak mau ngenalin gue ke teman-teman kantornya.”

Kalula memukul meja di depannya, membuat semua mata di tempat ini memandang ke arah kami. But sure, I can feel her pain through her shaking voice.

“Gue pikir, setelah beberapa bulan ini, its enough for him to choose me, rather than his girlfriend.” Sake pun datang, Kalula segera menegaknya.

“Kita laper, curhatnya nanti ya di kantor,” Bian mencoba melawak untuk mencarikan suasana.

It works. Kalula kemudian melampirkan senyuman diwajahnya. Lalu kami pun mulai memakan dengan brutal satu persatu sushi di depan kami.

I was romanticise everything about him, I do,” Kalula menyalakan rokoknya. Memulai prolognya sekali lagi.

“Seolah apa yang dia lakuin ke gue itu yang paling hebat. Dan ngebuat gue ngerasa, gue spesial. Padahal kenyataannya, dia emang gitu aja ke semua cewek. Dia cuma nganggep gue sekadar, women who cool to hang out with and easily to fuck with. Fuck my ass.

“Udah pernah back door? Sakit enggak? Pakai lubricant kan?” tanya Bian penasaran yang kemudian diriingi lemparan sumpit oleh Kalula.

Manajer kami sudah menelfon Bian. Kami pun memanggil Mba pramusaji untuk minta tagihannya.

Split bill atau gimana?” tanya Rei.

“Pakai kartu kredit gue dulu deh, nanti gue email detail tagihannya kayak biasa.” Brian memberikan kartu kreditnya.

Saat kami tengah sibuk dengan handphone masing-masing yang berisi chat dari teman sekantor minta dititipkan pesanan sushi juga. Kalula mengeluarkan alat make upnya. Menghapus eyeliner yang terpatri di matanya.

“I don’t believe in romance anymore. I think there is no such thing about romance. Because, romance only a pseudo projections of visual perception created by imaginations. I mean… people only made romance with good looking people, and shitnya gue ngelakuin itu ke dia,kata Kalula berapi-api.

“Am I right?” tanya Kalula penuh kekalutan setelah tidak ada respon dari teman-temannya.

“Excuse me, what are you just saying?” jawab kami bertiga kompak.

Whatever,” Kalula mengibaskan tangannya.

Lalu kami pun keluar dari Lotte dengan tenang. Tanpa Kalula yang berapi-api, atau imajinasi Bian yang sudah masuk ke klasifikasi porno.

Karena supir Uber tidak mau mengangkut empat penumpang, akhirnya kami berempat berpisah. Saya dan Kalula terpaksa harus naik taksi.

Di dalam taksi, Kalula tidak banyak bicara. Ia memandang kosong ke jendela. Riuh dengan isi kepalanya sendiri atas apa yang terjadi siang tadi.

“Gue udah pakai eyeliner, Jem. Sejam gue dandan di kamar mandi tadi. Elo tau kan artinya?” tanya Kalula tiba-tiba.

“Bahwa elo tadi telat ngumpulin report?” jawab saya sekenanya.

Kalula tersenyum tipis. Ini adalah yang seharusnya ia dengar, dibanding kata-kata racun seperti you’ve fallin’ for him.

“I can feel you, La. It happens to best of us, you falling with him who made butterfly on your stomach, you romanticise all things about that person. About the way he look, the way he talk, or what ever when he speak up his mind. Everything that comes out of his mouth feels like song in your head.”

Kalula masih menatap ke luar mobil, entah mendengarkan atau tidak.

“I was set all high expectation till I realised, he just not that good. He just like rest of us who have flaw and could harm me. And when I’ve get hurt, there’s no such good thing about alien or stupid dragon from his favourite series anymore.” Kalula meneteskan air matanya. Sepertinya ini bukan sekadar masalah tidak dikenalkan oleh teman-teman Andra.

I mad at that person. But, actually I mad with myself. Because, the only person that I can blame is myself. Andra engga pernah minta buat gue jadi selingannya,” Kalula dengan kasar menghapus segera genangan air yang keluar dari matanya.

Kami sampai di kantor dengan perut kenyang, tapi Kalula membawa jiwanya yang kosong bersamanya.

Hey, how about the sushi?” tanya seorang teman saat sampai di meja kerja.

“Hmm, sushinya biasa aja. Engga seheboh apa kata orang-orang,”

Lalu saya tersadar. Mengutip apa yang Kalula bilang, ‘manusia cenderung untuk meromantisasi apa pun. Dan melupakan rasa aslinya’. Jangan-jangan orang-orang yang datang ke resto sushi itu sebenarnya merasakan apa yang saya rasakan juga, biasa saja. Tapi karena semua orang terlanjur bilang enak, dan ini menjadi tempat wajib orang-orang gaul, mereka terjebak untuk melanjutkan kebohongan romantisasi rasa itu.

Pada akhirnya, yang dinikmati bukan sushinya, melainkan imaji kenikmatannya. Tidak ada yang lebih meyedihkan ketika hidup bahagia dalam suatu ketiadaan.

Terkadang, Ada Rasa Sakit Yang Bisa Dimaklumi

i
pic from tumblr

Hampir satu tahun saya tidak bertemu dengan teman saya satu ini, namanya Jeihan, seorang teman yang datang dari asas ‘dikenalin’ teman lain. Sebuah pola umum rantai pertemanan di Jakarta.

But, surprisingly we can get along. Karena Jeihan teman yang asik.

Asik karena Jeihan bisa diajak ngobrol topik receh tentang gosip underground para artis-artis Ibu Kota, siapa yang jadi simpenan siapa, sampai ke obrolan soal, ‘kenapa jadi single di Jakarta kok berat banget ya? Mungkin karena pengaruh kosmik dan konspirasi Yahudi di dalamnya ya, kak!’

Obrolan-obrolan random semacam itu lah.

Malam-malam kami ditemani dengan beberapa gelas bir dan batang rokok yang melegitimasi kami seolah menjadi bagian dari yang katanya masyarakat kelas menengah ‘ngehek’ Jakarta.

Oh, tak lupa untuk mengupdatenya di social media tentu saja.

(Tapi kenyataannya kami lebih banyak mengonsumsi martabak keju pinggir jalan sembari menyeduh kopi sasetan di kosan. Penjelasan yang tadi biar terlihat keren saja).

Talking about her, Jeihan dulu seorang penyiar di radio paling terkenal di kota Lampung. Pendengar dia banyak, karena seperti yang tadi saya singgung di awal. Jeihan seorang pribadi yang asik.

Time goes by, Jeihan dan beberapa teman dari Lampung memutuskan untuk hijrah melewati selat sunda, mengadu nasib di Ibu Kota Jakarta. Sampai semesta membawa Jeihan menjadi Mba-Mba kantoran, tepatnya sebagai Account Executive di salah satu radio swasta Jakarta yang sasaran pendengarnya para ‘pekerja muda’.

“Masih sama-sama di radio, Jem,” ujarnya suatu waktu.

Di kosan barunya yang berisi dua temannya yang lain (biar hemat katanya). Jeihan memasak pempek kesukaan saya (sebagai hadiah sudah lama tidak berjumpa, dia tahu betul saya penggila pempek). Sepanjang memasak (Jeihan memasak-saya update SnapChat) kami saling bercerita tentang apa saja yang kami lewatkan selama setahun terakhir.

Banyak yang terjadi, beberapa berubah, tapi ada hal yang masih tetap sama.

Jeihan menjadi satu-satunya orang lama di kantornya yang bertahan, di saat beberapa teman sejawatnya memilih untuk resign atau diberhentikan. Salah satu alasan mengapa Jeihan masih bertahan karena dia senang menjadi pusat perhatian. Ketika presentasi di depan calon klien, ia mendapatkan sensasi di mana semua mata memandang dirinya, semua telinga mendengarkan detail-detail yang ia ucapkan.

That’s the best feeling in the world, Jem,” akunya.

Good, if you do what you love.

Kemudian Jeihan berfikir sejenak.

“Sama dikejar target sih, Jem. Kalau hidup enggak ada target, pasti basi banget. Plain aja gitu.”

Ia memotong dengan telaten pempek yang sudah membatu dari freezer kulkas.

“Kalau target nikah gimana, Han?” tanya saya memberanikan diri.

Dia tertawa mendengar pertanyaan saya. Jeihan kini berusia dua puluh delapan tahun, dan masih single.

I already gave a chance to my ex-boyfriend to fix our relationship. But, ketika semua sudah dicoba. Dia tetap enggak berubah. Then, we decided to end our relationship.”

Ada jeda di sana. Kami melakukan platting ala-ala, kami memiliki ide menghias piring dengan beberapa cireng goreng.

“Tapi, beberapa bulan lalu. Something happened,” Jeihan mengangkat pempek yang sudah masak lalu menaruhnya di piring yang penuh dengan cireng goreng dan genangan cuko khas Lampung. (Bahkan saat menuliskannya saja, saya menelan air liur saya, saking nikmatnya).

“Apa tuh, kak?”

I met this guy. The perfect guy. Cowok paling cakep sepanjang karir percintaan gue.”

“SIAPA KAK? LIHAT DONG FOTONYA!” teriak saya antusias.

Dia lalu memamerkan foto si perfect guy itu, (tipikal cowok tampan di akhir dua puluhan, putih-rapih-badan berotot, tapi yes dia cakep) diringi seringai bangga tentu saja.

“Terus, doi ke mana?”

“Nikah sama pacarnya,” jawab Jeihan kasual sembari mengambil satu sendok pempek di piringnya.

“Perih kak.”

Kami kemudian beranjak menuju ruang santai di dekat AC. Berebut memakan pempek kapal selam yang dibanjiri cukonya yang pedas.

“Tapi, itu adalah tiga bulan terbaik sepanjang hidup gue,” kata Jeihan. Tulus.

“Karena…..”

“Di kasurnya enak, bok!” Kami tertawa girang sekali.

“Masa sih cuma perkara cakep doang?” tanya saya penasaran.

“Gue cocok sama dia, selera musik kami sama. Dia denger PANAMA, Jem. Jarang yang tau band itu padahal loh. Terus so on and so on. Sampai gue waktu itu harus masuk Rumah Sakit. Puji Tuhan semua di cover sama kantor, ENAM FUCKIN JUTA soalnya. Pedihnya, gue ke Rumah Sakit sendirian, daftar sendirian, sampai resepsionisnya bilang, langsung ke UGD aja. Dan itu pun gue masuk ke UGD sendirian. Hahaha. Nasib jadi single.”

“Terus”

“Dia telfon gue. Gue masih inget suara panik dia. Saat itu dia belum bilang tentang perasaannya ke gue, I’m still considering him as a good friend aja. Pas gue kasih tau gue stay di UGD. Engga pake lama dia langsung nyusul ke Rumah Sakit.”

Thing you do for love.”

“Hahaha. Love? Really?” Jeihan tertawa sinis, agak ragu dengan term ‘Love’ yang saya maksud.

“Dari situ dia baru bilang, dia suka gue, dan takut kehilangan gue. Dan best partnya adalah, I already knew dia udah punya calon buat dinikahin. Kenapa gue bilang best part, karena asli deh. Cewek, kalau dipuji-puji lebih baik dibanding cewek lainnya, dijamin langsung klepek-klepek.”

Then..

“Ya sudah, kami sering jalan bareng. Intens, sepanjang tiga bulan itu. Sampai di mana, hari pernikahan dia. And we say goodbye. Properly. No drama.

Really? Se-casual itu?”

“Sangat! Bahkan sampai dia bilang, abis dia nikah beberapa bulan terus bakal divorce sama istrinya, I say NO.”

“Kenapa? Bukannya elo suka dia?”

I believe Karma does exist, bitch!” Kami mengangguk mengamini.

Perut saya pun mulai bereaksi, penuh dengan tumpukan pempek dan cerita Jeihan. Tersisa dua potong pempek di piring kami.

“Habisin, Jem.”

“Kenyang, Kak!”

Sembari menunggu perut rehat sejenak, Jeihan memainkan handphonenya lalu memutar satu buah lagu.

You say it used to be different, mmm mhm mhm
I know it’s safe but won’t you take me home
You know it could have been different, mmm mhm mhm
You say you wish that it was over 
— Panama.

“Ini our theme song,” jelasnya.

“Masih kangen ya?”

“Sangat, Jem!”

“Sepi ya kasur?” Tawa kami mengisi seisi ruangan.

One of the biggest reason, perhaps, I was fallin for him because of his look. Gue masih random lihat-lihat foto berdua sama dia yang dulu-dulu. Tapi engga, ada memori di mana kami benar-benar terkoneksi. Perasaan itu mutual. Sayangnya, ada periode berakhirnya. Tak ubahnya seperti pempek ini”

“Kenapa jadi ke pempek deh?”

“Ya itu. Ibaratnya, perut elo udah kenyang banget, mau dipaksain juga buat makan tuh pempek elo bakalan engga mau. Sesuka apa pun elo sama pempek itu. Karena bukan cuma elo bakalan sakit perut, tapi porsi untuk enaknya bakalan ilang. Karena memang udah kenyang aja. Jadi yang elo pengen inget enaknya aja,” Jeihan terdiam.

“Paham kan elo?”

Saya menganggukkan kepala.

We just two people who fallin in love in the wrong time. Sayangnya dia mau nikah, bukan mau sunatan.”

Kami berdua kemudian melupakan sisa pempek di piring kami. Ada spasi kosong beberapa menit kemudian, di mana pikiran kami berkhayal ke satu imaji membayangkan ketika kami memiliki kekuatan super untuk dapat mengkristalkan suatu momen atau mengulang kembali momen singkat terbaik dalam hidup kami.

“Gue balik ya! Besok masih harus ngeburuh.” Jeihan ada di dapur sedang mencuci piring kotor bekas pempek tadi.

“Kadang yang enak harus dibersihin juga ya, Jem. Hahaha. Hati-hati, Jem.”

Kemudian saya pun pulang, saat pintu kosan Jeihan tertutup saya membawa satu pertanyaan yang tersisa,

‘Seandainya……’.