Figuran Jakarta Punya Podcast!

Berawal dari kegigihan gue untuk membuat brand sendiri bernama Figuran Jakarta, setahun yang lalu akhirnya gue membuat blog ini yang mana niat awalnya adalah mengisinya dengan cerita-cerita curhatan dari para teman-teman perantauan yang tinggal di Jakarta beserta lika-liku dan dramanya.

Nyatanya, ternyata teman gue ga banyak-banyak amat juga dan curhatannya itu-itu aja. Jadi jaranglah gue update blog ini. Tapi sebenarnya gue males aja sih. Haha. Jadilah blog ini cuma gue isi dengan review-review film ala ala saja.

Kemudian di suatu malam yang dingin karena hujan yang tak kunjung reda bertemulah gue dengan Kaka Nat, Bangkit, dan Epen yang randomly berteduh di sebuah coffee shop sepi namun nyaman di bilangan Kemang.

Dari obrolan ngalur ngidul tersebut akhirnya kami memutuskan untuk mendokumentasikan obrolan halu ini. Isu yang dibahas tentu saja tentang drama kehidupan para buruh kerah putih perantauan di Jakarta bagaimana bisa bertahan hidup dari bulan ke bulan.

Kami juga bercerita bagaimana akhirnya kami datang ke Ibu Kota ini yang katanya lebih kejam dari Presiden Trump. Semua kami ceritakan secara nyablak dan tak beraturan. Lebih banyak bersenda gurau dan tertawa riang dan lupa apa yang kami omongin sih.

Ya namanya juga buruh kurang hiburan ye kan. Ada yang lucu dikit kita ketawain aja lah.

Kemudian juga karena dari kami semua ga ada yang cakep dan bisa ngedit video, maka channel soundcloud jadi pilihan kami untuk merekam obrolan kami, soalnya pendokumentasian mudah. Modal ngerekam di handphone saja semuanya beres.

Dan di hari Kamis tanggal 07 Desember 2017, resmilah kami membuat seri podcast #FiguranJakarta tentang cerita manis, asam, asin, dan kepahitan-pahitan akan dunia perburuhan serta drama kumbara di dalamnya.

Siapa tau cerita-cerita kami dapat menghibur atau bikin kesel, ya sudah aja lah, namanya juga usaha. Tapi tetep dengerin ya please..

Jadi jangan lupa like, comment, dan subscribe (padahal gue ga tau juga cara kerja soundcloud tapi pengen ngomong gini aje).

Sampai ketemu di podcast-podcast halu lainnya.

Wassalam!

PODCASTNYA DI MARIH LOH BISA DIDENGER PEMIRSA YANG BUDIMAN!

Advertisements

2 AM Thought

When your mind speak louder and you cannot sleep then you become ‘sok filosofis’. #padahalbesokkerjapagi

Ada banyak momen di penguhujung tahun ini yang ngebuat gue agaknya seperti diam sejenak, lalu tertawa pahit. Men, I’m old.

Tahun 2017 ini gue akan berumur 27 tahun.

Angka keramat yang kalo di film 3 hari untuk selamanya, si Yusuf bilang adalah umur di mana seluruh semesta elo diobok-obok terus elo muntah dan diliatin deh tuh apa aja yg udah dilaluin sepanjang 27 tahun itu.

For some people pasti ada yg nyeletuk; ‘yaelah masih muda kali baru 27’ atau ‘sudah tua loh elo harus udah serius, nikah gih’.

Asli, bawaannya pengen gue toyor orang-orang macem gitu. Bukan hanya karena mereka sok tahu, mereka juga dengan enaknya mengenerelisasi hanya berdasarkan opini tunggal dari pengalaman mereka aja. Coy, ngane siapa berhak nentuin nasib orang?

For me, gue percaya hidup yang cuma sekali ini layak banget untuk diapresiasi. Untuk dijalankan to the fullest dan semoga berguna bagi orang lain.

Gue bangga sekaligus sedih dengan apa yg orang tua gue udah kasih ke gue. Mereka bekerja begitu keras agar anak-anaknya sekolah dan bisa makan layak. Tapi semua itu harus mereka bayar mahal dengan ngorbanin mimpi dan kebahagiaan mereka sendiri.

Mungkin orang tua gue tidak mengenal konsep YOLO seperti milenial sekarang. Orang tua gue berpedoman; biar susah sekarang tapi anak jangan sampai seperti mereka. Itu yang membuat mereka bangun tiap paginya meskipun badan mereka sudah ringsek karena capek kerja.

Ditambah lagi mereka juga harus memendam hasrat hidup mereka. Menertawakan mimpi lama mereka yg terasa tak masuk akal. Dan menjalani hari hanya untuk orang lain. Bukan diri mereka sendiri.

Apa yg mereka lakukan adalah hal yg mulia banget.

Tapi, sejujurnya gue enggak mau hidup seperti itu. Gue enggak mau hidup untuk orang lain.

I have a dream and I want to make it happen. Some people will call me selfish. Tapi buat gue, ini adalah alasan utama mengapa gue hidup. I want to make a change. Gue mau berkarya. Meskipun akan butuh waktu lama untuk sampai di titik sana. Tapi gue enggak akan menyerah.

Saat elo bilang gagasan itu semua ke khalayak umum. Yang elo dapet pasti cemooh dan terkadang penghakiman. Ini yang agaknya kurang gue suka dengan konsep sosial di masyarakat saat ini yg sangat memenjarakan hak privat seseorang dan tidak mendukung kesetaraan hak pribadi. I mean if they want to be “mentingin karir dibanding yg lain” just let them be. Enggak perlu usil dengan hal-hal yg memberatkan. Hidup orang udah susah. Kalo ga bisa bantu, minimal jangan bikin pusing.

Terlepas dari permasalahan sosial, masalah dalam hidup juga kerap kali muncul dalam diri sendiri. Dalam bentuk ego, nafsu konsumtif, rasa malas dan kekosongan diri.

Bagaimana mau berkomitmen, jika membuat bahagia diri sendiri saja enggak bisa.

Beratnya hidup di norma masyarakat, hausnya pengakuan dari orang lain, dan terjerat akan ego sendiri sepertinya masalah yang harus diputus di 2017 ini. Karena saat gue membuat projection keuangan selama setahun. Gue tertawa pilu. Melihat deretan angka yg harus dicari, dikeluarkan, disimpan. Gua takjub dengan kondisi bahwa angka-angka ini yang mewakili gue. Ini adalah track record atas pilihan-pilihan gue. Tenyata gue sendiri terjebak atas standar ini.

Ini salah siapa? Ya salah gue sendiri. Karena terlalu lama berkutat dengan definisi-defisini orang lain yang enggak sesuai dengan tujuan awal gue.

Dan gue ingin menyudahi itu semua. Gue ingin terlepas dari ego untuk terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Ingin tampil lebih di mata orang lain. Gue tidak mau lagi hidup atas dasar definisi itu. I don’t need to impress anyone anymore, or buying stuff that just to makes me feel belong to some click or something. Nope. I’m done with that.

Jika hidup diibaratkan seperti traveling. Elo semua bisa liat, ada banyak orang yg sampai mati akan mengkotak-kotakan; elo tim backpacker, elo tim koper, elo tim apalah. Padahal ya, yaudah aja. Jalan-jalan ya buat nyenengin diri sendiri. Bukan terperangkap pada struktur yg dibuat orang lain. Elo harus coba ini, elo harus bawa ini, elo ga boleh ini, etc. Elo fokus pada teknis dan melupakan substansi kesenangan traveling itu sendiri.

Karena pada akhirnya, inti dari sebuah perjalanan buat gue adalah tentang pengalamannya, tentang prosesnya. Mau kemanapun destinasinya. We can learn from anywhere.

Begitu pun juga hidup. Setidaknya buat gue.

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

Mengapa Sulit Sekali Untuk Berempati?

Ada yang pernah bilang pada saya, kurang lebih seperti ini: empathy before ego.

More or less orang itu menjelaskan bahwa pada situasi tertentu, yang di mana kita tidak dapat merasakan penderitaan orang lain, setidaknya kita mampu berempati untuk kesedihannya. Bukan berbuat seolah-olah tidak mau memahami yang dialaminya.

Contoh kecilnya: Seorang Ibu hamil yang berdiri di kendaraan umum (kereta, red). Kondisi kereta di jam sibuk bukanlah waktu yang ideal untuk bernyaman-nyaman. Kebanyakan isinya adalah mereka yang berangkat kerja atau pulang kerja. Semua orang sama-sama mengantuk, letih, dan berdesak-desakan. Memang, ada gerbong yang dikhususkan untuk perempuan. Namun pada praktiknya, meledaknya jumlah penumpang, dua gerbong saja tidak cukup.

Pun, di kereta sudah ada peraturan untuk tempat duduk prioritas yang dikhususkan untuk ibu hamil, manula, penyandang berkebutuhan khusus, dan ibu yang membawa anak.

Peraturan itu sudah jelas, bahwa sesama penumpang harus saling menghormati.

Untuk para lelaki pastinya tidak pernah merasakan beratnya hamil. Setidaknya, berbaikhatilah memberikan tempat duduk anda untuk perempuan tersebut. Karena, meskipun anda tidak merasakan beratnya hamil sambil berdiri berdesak-desakan. Setidaknya anda berempati untuk kondisinya. Meskipun anda dalam kondisi sangat kantuk sekalipun.

Kalahkan ego anda yang berupa kantuk untuk seseorang yang kiranya lebih membutuhkan. Tidak ada yang bilang kantuk anda tidak penting. Namun, ini pilihan di mana anda memenangkan empati atas ego anda.

Situasi ini sering sekali saya dapati di kehidupan perkeretaan. Banyak sekali anak muda laki-laki yang kurang memahami nilai tersebut. Dibanding badan bugar mereka, si ibu yang menggendong anak kecil atau bapak-bapak yang sudah sepuh, jelas lebih membutuhkan tempat duduk tersebut.

Sekali lagi, ini bukan berarti kenyamanan anda sesuatu yang tidak penting. Namun alangkah terpujinya jika anda mempraktikan hal tersebut. Membantu sesama, menghormati yang lebih tua, dan peduli pada lingkungan sekitar. Toh, jika anda melakukannya, anda sedang berbuat baik pada seseorang. Ada pahala untuk anda.

Secara sadar tidak sadar, nilai anda pun sebagai manusia akan bertambah. Tidak butuh gelar pendidikan tinggi untuk memahami permasalahan ini. Hanya tinggal menambah dosis kepedulian akan lingkungan disekitar saja.

Karena yang paling mengerikan dari manusia adalah ketika hilangnya kepedulian akan sesama.

Ps: Tulisan ini dibuat saat kesal melihat dua remaja laki-laki bugar bermain hape di tempat duduk, dan tidak peduli memberikan tempat duduk mereka ke ibu-ibu yang menggendong anak dan seorang bapak tua.

Tentang Dua Hal Paling Nikmat Di Jakarta

sex

Kalau ditanya ke saya, saya akan menjawab; makanan dan sex.

Dua hal itu tersedia dengan baik di Jakarta, mulai dari yang jajanan pinggir jalan sampai yang fancy packagingnya. Promo dan marketingnya pun sama-sama memikat hati. Semua bisa dilihat dengan mudah di media sosial maupun offline.

Baik makanan dan sex di Jakarta sama-sama memiliki banyak jenis dan variannya, tergantung selera si pembeli tentu saja. Interest para pembeli pun dengan apik diolah menjadi kategori tersendiri oleh sang penjual. Jadi tidak usah pusing mencari apa yang kamu mau. Tinggal ketik semua ada.

Suka dengan makanan pedas? Pasti yang disuguhkan meliputi makanan seafood atau padang.

Suka sex yang menantang? Pasti akan disuguhkan permainan S & M yang kinky-kinky.

Suka sushi yang di mix dengan cita rasa lokal? Ada kok, bisa beli yang fusion salmon dengan rendang.

Bosan dengan gerakan yang mekanistis dan ingin coba gaya lain? Bisa! Tinggal sebut fetish kamu apa, semua layanan tersedia dengan rapi dan ‘alat-alat’nya pun hadir dengan jaminan kenikmatan tiada tanding.

Semua orang di Jakarta memiliki orientasi sendiri terkait soal makanan dan sex.

Ada yang menikmatinya secara diam-diam, adapula yang terang-terangan memproklamirkannya ke banyak orang.

Enggak ada yang salah dengan itu menurut saya.

Wong, itu kan urusan pribadi.

Perut dan kelamin kan kebutuhan dasar manusia. Yang salah adalah, ketika mencoba untuk mencampuri apa yang orang lain suka, itu baru mengganggu.

Apalagi mengintervensi keintimanan momen ketika menikmatinya. Aduh, urus piring dan ranjang sendiri saja lah ya.

Kenapa pula kita, yang jelas-jelas orang lain, merasa berhak dan bertanggung jawab untuk mencampuri apa yang orang lain suka.

Lagian, jika makanan dan sex menjadi milik publik. Banyak sekali yang berkorban loh. Yang mengaku suka makanan pedas tapi sebenarnya enggak kuat makan cabai seiris. Harus terima sakit perut saat ditraktir Bos.

Dan ada juga yang ngakunya, ehem, mainstream, tapi siapa tahu dia yang paling semangat kalau lelehan lilin nempel di badan dia sambil dicambuk-cambuk.

Lalu bagaimana?

Sisanya, menurut saya adalah hak dan tanggung jawab masing-masing sebagai seorang individu manusia yang bebas. Mereka bisa memilih makanan apapun yang mereka mau, begitupun sex yang ingin mereka nikmati di malam hari. (Ya, I know, makan dan sex tidak terpaut oleh dimensi waktu dan tempat).

Semoga kamu yang membaca, menikmati makan siang dan sex kamu ya.