Pahitnya Kolom Komentar

d54ab10f6ef5d9b8f8b209386f0effdd4ac9364f_hq.gif

Untuk saya yang bekerja di dunia digital, khususnya di social media. Bukan lagi hal asing untuk menghabiskan waktu berjam-jam mengamati tren terkini di berbagai kanal media sosial. Penting untuk saya mengikuti perkembangan demi perkembangan akan suatu berita maupun kasus yang akhirnya diperbincangkan oleh banyak orang, yang kini kemudian disebut viral dan berakhir menjadi suatu meme. Kebanyakan lucu, tapi sekarang sudah agak berkurang lucunya.

Menarik sekali bahwa media sosial yang tadinya berfungsi untuk pelarian dari kehidupan nyata. Untuk sekadar bersenang-senang; seperti sarana berkomunikasi dengan teman yang sudah lama tak bertemu, tempat rentetan update status akan curahan hati terkini, juga praktik baru dalam berbagi album foto-foto liburan dengan tagging massal, atau sekadar untuk berjualan handphone dan baju. Mendadak berevolusi menjadi arena untuk menyebar hate speech dan hoax (berita tidak benar).

Mengapa kita semua sampai di titik ini?

Saya tidak punya teori khusus, secara bebas saya pribadi berhipotesa bahwasanya fenomena ini terjadi karena pada dasarnya people love attention. Pun media sosial hadir atas dasar itu.

Karena di media sosial kita dapat mengukur secara langsung respon dan sentimen seseorang akan berita/kabar tertentu dengan cepat. Sekali posting, dalam detik berikutnya kita dapat mengetahui siapa saja yang menyukai posting tersebut. Orang berkomentar apa, dan sebagainya.

Itu sebabnya media sosial membuat orang haus dan berlomba-lomba mendapatkan like, share, dan komentar dari banyak orang. Popularitas semu itulah yang mendorong impian terpendam seseorang menjadi selebritas bisalah kini tersalurkan di media sosial. Dalam dunia media sosial, orang bebas untuk menjadi apa pun.

Kebebasan itulah yang terkadang membuat media sosial menjadi tidak terfilter. Pola yang terdahulu di mana seseorang mencari berita/kabar terkini, sekarang berganti menjadi berita/kabar yang mendatangi seseorang. Pada akhirnya kita mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita tau.

Di sanalah, ranah publik dan privat menjadi bias, bahkan cenderung hilang.

Karena orang-orang berfikir yang sudah ada di linimasa adalah sesuatu yang bersifat umum. Fenomena itu yang kini membuat kolom komentar menjadi ladang bebas kebanyakan orang yang merasa ‘memiliki hak’ berpendapat akan apa pun yang muncul di lini masa mereka. Orang-orang di media sosial kini tak lagi menghargai privasi seseorang, dalam bentuk apa pun.

Kolom komentar saat ini kebanyakan disesaki oleh  keganasan, kebengisan, dan kebebalan dari kepribadian seseorang dalam bentuk kata-kata. Kesopanan dalam berkomunikasi pun seolah tidak diperlukan, karena mungkin mereka berfikir; ‘Ini online juga, enggak tatap langsung, enggak akan ketemu orangnya juga.’

Alih-alih berpendapat sesuai konteks, kebanyakan orang cenderung untuk menyerang secara SARA dan jumping into conclusion. Logical fallacy atau kesalahan berfikir kerap kali ditemukan pada tiap topik yang memang membutuhkan analisis tajam dan referensi lebih. Dengan berbekal googling saja, mendadak orang-orang bertransformasi menjadi polisi moral, ahli kitab, dan kompeten akan banyak hal.

Dengan dorongan dan modal pemikiran, akun aing terserah aing. Seseorang lupa bahwa, aktivitas yang terjadi di media sosial tak ubahnya apa yang terjadi di dunia nyata. Bentuk komunikasi dalam bentuk unggahan foto, komentar, update status yang menyinggung seseorang, it is still hurt people. Luka tetaplah luka.

Maka tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa, kolam komentar adalah gambaran tergelap kepribadian seseorang. Karena jika ingin melihat hilangnya kemanusiaan dalam diri manusia, kolom komentar bisa jadi referensi terkini akan situasi tersebut.

Rentetan akan kebebasan berpendapat yang kebablasan dan atensi banal berlebih dari banyak orang, yang menurut saya membuat hate speech dan hoax menjadi subur berkeliaran menjadi viral di media sosial saat ini.

Saya teringat wawancara Kris Jenner di E! Online di suatu waktu, dia pernah bilang kurang lebihnya: ‘Di saat sekarang, berikan seseorang keyboard, dan mereka bisa membuat ucapan paling mengerikan di dunia ini.’

I’m not a big fan of Kardashian family, tapi kali ini saya mengamini apa yang Kris Jenner ucapkan. Mungkin itu adalah gambaran terdekat dari realitas kehidupan masyarakat online saat ini.

Advertisements