Review Film Wonder: So Goooooood!

Wonder-TWITTER-FB-OG

Setelah film Coco yang menguras air mata dengan lagu Remember Me, di Desember ini ada lagi lho film yang bisa bikin hati yang dingin jadi lumer lagi, in a good way of course. Film itu bernama Wonder diangkat dari novel laris dengan judul yang sama.

Wonder bercerita tentang seorang anak kecil bernama Auggie yang memiliki penyakit bernama “mandibulofacial dysostosis“. Sebuah penyakit yang membuat kondisi wajahnya berbeda dengan anak-anak seumurannya.

Orang tua Auggie sejak dini sudah membuat bubble untuk menjaga Auggie, yaitu berupa home schooling. Namun orang tua Auggie merasa bahwa Auggie perlu keluar dari bubblenya tersebut dengan mulai bersekolah dan bersosialisasi di sekolah umum seperti anak-anak seumuran lainnya.

Turbulensi itu tentu saja membuat jungkir balik dunia Auggie dan keluarganya.

Dapatkan Auggie bertahan di antara anak-anak lainnya dengan kondisi Auggie yang seperti itu?

Dari sana sudah tahu dong akan seperti apa dramanya. Meski jalan ceritanya sudah jelas arahnya, penyajian film Wonder lah yang jadi keunggulannya.

Wonder menghadirkan kisah dan suara sendiri dari masing-masing karakter dalam film tersebut. Semua kepedihan dan pergolakan batin tiap-tiap karakter dibredel satu persatu untuk memberikan alasan sebab-akibat dalam tiap-tiap tindakan mereka di film tersebut.

Film Wonder begitu hangat dalam presentasinya, pasti kamu akan merasakan sesaknya dada kamu saat menyaksikan bagaimana masing-masing orang yang dulu membully Auggie berbalik arah membela dirinya.

Atau tentang bagaimana ketulusan hati seorang anak kecil yang mau menemani Auggie makan siang tanpa alasan apa pun.

Kisah-kisah dalam film Wonder mengajarkan bahwa jika ada dua pilihan di antara menjadi benar dan menjadi baik, pilihlah menjadi si baik. Karena kita tidak tahu bahwa satu kebaikan dari diri kita akan membawa kebahagian untuk seseorang.

8e43277d39528afd10daedf8dd93a037--fun-house-th-grades

Kisah-kisah karakter Wonder memang se-klise itu; kakak yang tidak diperhatikan orang tua karena ada si adik yang butuh ekstra penjagaan, sahabat yang berubah karena popularitas di sekolah, juga lika-liku pertemanan khas anak kecil yang dibumbui rasa kecewa.

Tapi sekali lagi, Wonder membuatnya menjadi sangat menarik karena cerita di sana dibuat begitu manusia dan dekat dengan penontonnya. Maka haru biru dan kehangatan cerita di akhir film dapat terhantarkan dengan sempurna.

Film Wonder pun tidak melulu tentang drama Auggie saja, ada gambaran besar yang perlu kita bahas lebih dalam selepas keluar dari pintu bioskop. Yaitu tentang bullying. Bullying is not cool. Tapi seberapa banyak dari kita yang mau stand up dengan isu tersebut. Entah saat kita menjadi si korban atau pun saksi di dalamnya.

Jelas sekali film ini mengargumentasikan hal tersebut. Tidak ada satu orang pun yang berhak untuk merendahkan satu orang lainnya. Dan yang kerennya lagi, stakeholder di sekolah dalam film Wonder digambarkan sebagai support system yang siap memberantas bullying itu sendiri.

Menurut gue hal tersebut menjadi tambahan konten yang mendidik dalam film Wonder.

Kita semua pun dapat melihat bahwa Wonder ingin mengingatkan kita bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan sebagai manusia adalah menerima diri kita sendiri. Apa pun konteksnya. Sejelek apa pun omongan orang tentang fisik dan sesuatu yang bersifat dari sananya, mau tak mau kita berdamai dengan diri kita. Karena jika terus nunduk dan malu dengan apa yang kita punya, semuanya ga ada ujungnya say.

Pasti ada aja yang kurang. Jadi ya sudah aja lah, elo yang harus jadi orang pertama yang jatuh cinta sama diri elo sendiri. Stand up and fight for yourself!

Tapi lain cerita ya kalau emang sifat elo nyebelin dan ganggu orang-orang ya elo perlu berubah dong.

Anyway, karakter favorit gue adalah Jack Will.

Screen Shot 2017-12-13 at 1.17.04 PM

Selain kiyut, dia pun memiliki peringai yang lovable banget (gedenya calon-calon cakep sih ini). Pun akting anak-anak kecil di film ini bagus-bagus banget. Jadi berasa pengen jadi anak kecil lagi terus main sama Auggie, Summer, dan Jack Will.

Scorenya: 5/5. Jangan lupa bawa tisu saat menonton.

 

Advertisements

Sang Penari: Kisah Cinta Yang Merah

cb56e56a1cb96c5216b23751b3c96712

Sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. Apalagi mereka yang hidup dalam perbedaan kelas dan merasakan beratnya gesekan sosial politik di tempat yang mereka diami. Bisa dipastikan panah dewa cinta tak akan melirik sama sekali.

Dapat dibilang film Sang Penari merupakan film tentang cinta. Menceritakan kisah cinta antara Rasun dan Srintil.

Namun sayangnya, kisah cintanya tidak semembara Cinta dan Rangga. Tidak juga seharu biru Habibi Ainun.

Kisah cinta Rasun dan Srintil terasa pahit dan pilu. Jenis cerita cinta yang ketika kamu selesai menontonnya seperti ada lobang bolong merongga di dadamu. Bagai luka yang membekas dan enggan kamu obati. Karena di sana letak kenikmatannya, luka perih yang bisa kamu mainkan karena ternyata rasanya menyenangkan.

Begitu pula Rasun dan Srintil, meski cerita mereka perih dan mengoyak kalbu, namun itu tidak berarti cerita mereka tidak indah.

Keindahan kisah cinta mereka berada pada polemik dan kehancuran mereka sendiri.

Sang Penari secara jenius menggabungkan unsur adat, seni, romansa, dan panasnya situasi politik dengan presentasi yang kuat dan juga menawan.

Film diawali dengan keriuhan kampung Dukuh Paruk pasca penggerebekan oleh pihak militer. Kemudian laki-laki berbaju tentara itu menemukan bapak tua buta yang masih mengingatnya.

Cerita pun bergerak dari sana. Sebuah flashback hitam akan bagaimana ronggeng yang menjadi jantung dari Dukuh Paruk hancur karena segenggam tempe bongkrek. Dan Srintil ada di tengah-tengahnya. Menyaksikan bagaimana penari ronggeng pujaannya keracunan, dan bagaimana warga desa begitu kejam membiarkan mayat kedua orang tuanya membusuk begitu saja.

Tahun berlalu, Srintil pun menjadi perempuan dewasa yang rupawan dengan segenap hasrat untuk joget, menjadi seorang ronggeng. Siap menyuburkan kembali ekonomi kampung dan berbakti pada Eyang leluhur.

Namun jalannya tidak mudah, pertentangan hadir dari Dukun Ronggeng. Dengan penuh rasa enggan, Rasun yang awalnya menolak Srintil menjadi seorang ronggeng mau tak mau membantunya dengan memberikannya keris kecil peninggalan penari ronggeng terdahulu. Itu semua menandakan bahwa Srintil adalah penari pilihan langit. Srintil pun resmi dinobatkan sebagai penari ronggeng yang baru.

Kejayaan Srintil pun membawa kemakmuran kampung, seisi Dukuh Paruk kembali riuh dengan geliat joget Srintil. Sampai cinta Srintil dan Rasun pun diuji dengan prosesi buka kelambu.

Sebuah adat di mana keperawanan sang ronggeng dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Rasun bukan lelaki kaya. Ia hanya pekerja serabutan, sedang ada ratusan laki-laki yang siap untuk meniduri Srintil. Ia bukan pesaing.

Tetapi hati Srintil sudah terpaut pada Rasun. Keperawanannya pun ia serahkan pada Rasun. Dengan konsekuensi Rasun meninggalkannya. Karena Rasun tidak mampu melihat Srintil menjadi ronggeng. Meminjam ungkapan yang dipakai oleh Rasun, “ia tidak mau melihat Srintil seperti pohon kelapa yang siapa pun bisa menaikinya”.

Rasun pergi, menjadi seorang tentara. Sedang Srintil tetap menari.

Tahun 65 takdir membawa mereka kembali bertemu, dengan situasi yang berbeda. Panasnya peta politik antara PKI dengan negara menyeret Srintil dan Rasun pada pusaran yang sama.

Alih-alih didaftarkan menjadi penari istana seperti yang dijanjikan, Srintil yang tidak bisa membaca (pun seisi kampung Dukuh Paruk), nama mereka dijadikan simpatisan PKI. Yang nantinya daftar tersebut membawa mereka pada sang malaikat maut.

Melihat Srintil yang dibawa oleh tentara lainnya, Rusun dengan segenap kemampuannya berusaha untuk menyelamatkan Srintil. Namun semuanya terhalang. Srintil tetap pergi, kini ditangan sang maut.

Di akhir film, tahun berganti, Rasun secara tidak sengaja mendatangi bunyi gendang yang ia kenal di sebuah pinggir jalan. Di sana ia menemukan Srintil. Ia tetap perempuan yang sama yang ia kenal. Ia tetap menari. Namun saat mata mereka bertemu, Srintil kembali pergi. Kini dengan kelegaan.

Film pun ditutup dengan sangat poetik dan sinematik dengan tarian Srintil menuju ketiadaan yang panjang. Dan meninggalkan perasaan agoni dan gemetar haru saat scene tersebut usai.

Membahas Sang Penari

Sang Penari bukan film yang dibuat sembarangan. Film ini diangkat dari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karangan Ahmad Tohari. Salah satu buku sastra paling penting di Indonesia.

Film ini pun memakan riset selama dua tahun untuk memberikan keontetikan situasi terutama pada scene penggerebekan kampung oleh militer yang kemudian membawa pada pembantaian masal.

Menurut saya pribadi, jika dirunut ada empat pembahasan penting dalam film sepanjang seratus menit lebih ini. Yaitu mengenai:

  • Adat
  • Kisah Cinta
  • Tubuh Perempuan
  • Politik 65

Dalam aspek adat kita dapat melihat betawa piawainya Prisia Nasution memerankan Srintil. Musik dan tariannya begitu mistis, memikat siapa pun yang menyaksikannya. Jelas sekali bahwa dari awal tujuan hidup Srintil adalah menari, meneruskan rantai budaya dan membersihkan nama baik keluarganya yang kandung rusak karena kejadian semasa ia kecil. Tidak banyak film Indonesia yang begitu otentik mengangkat budaya awal ronggeng yang ditampilkan dengan layak. Tidak hanya sekadar tempelan dan pemanis. Namun secara sadar, peran tarian di sini adalah sentral dari bergeraknya cerita dari awal hingga akhir.

Hal yang juga penting diamati lebih dalam lagi adalah bagaimana dalam konteks film ini, sebagai penari ronggeng, tubuh Srintil adalah alat. Ia kendaraan untuk mendapatkan materi. Sesuatu yang sudah tidak asing di budaya yang patriarki di Indonesia ini. Namun yang menarik adalah, tubuh Srintil pun laksana potret keagungan maha kuasa. Siapa pun yang tidur dengan Srintil niscaya akan mendapatkan kesuburan dan kesuksesan.

Fenomena ini membuat Srintil memiliki power dan kendali di sana. Ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Meskipun, sangat disadari bahwa dalam masyarakat Dukuh Paruk, otoritas tubuh Srintil hanyalah sebatas adat. Sesuatu yang bisa mereka miliki bersama. Bukan lagi sesuatu yang bersifat personal.

Membahas politik, film Sang Penari patut diacungi jempol. Dengan berani film ini membahas kisah kelam tahun 65. Isu yang jarang hadir dalam perfilman Indonesia modern.

Betapa muatan politik di film ini mengalir dengan sangat jelas dan tepat pada temponya. Kerusuhan enam lima dengan nyata digambarkan dengan todongan dan teriakan tentara pada para warga yang tidak mengetahui apa pun. Rasa takut mereka menular di film ini.

Mereka adalah korban. Korban ketidaktahuan yang diberantas karena kepentingan elit politik. Betapa adegan saat Srintil bertanya mengenai apa maksud dari namanya ditulis dalam sebuah carik kertas yang ia bahkan tidak dapat baca, adalah gambaran paling lugu mengenai keterikatan rakyat kecil dalam pusaran politik saat itu.

Korban kebanyakan di tahun enam lima mungkin adalah mereka yang sebenarnya tidak mengetahui apa itu komunisme, yang mereka tahu itu adalah partai yang memihak para petani. Dan dalam satu kali gilas, hampir jutaan korban rakyat jelata itu pun hancur dalam ketiadaan. Ini menegaskan bahwa kita, saya dan kamu, siapa pun itu adalah mahluk politik yang bisa saja terjerat konflik kapan pun.

Adegan yang mencekam antara militer dan ketakutan warga kampung digambarkan begitu realis hingga saat cerita cinta yang pilu itu selesai, film Sang Penari menawarkan menu lain bagi penontonnya.

Apakah kita akan mengingat sejarah ini lalu membongkarnya? Atau hanya diam membiarkannya?

Sembari kita memikirkan jawabannya, mungkin di sana, yang pasti Srintil akan terus menari. Hingga sendi-sendi dalam tubuhnya perlahan berhenti.