Sarah Sechan: Tentang Semesta Era 90an dan Keunggulan Ikonnya!

Tentang analasis sotoy akan Sarah Sechan dan pengaruhnya pada hidup yang fana ini.

Advertisements

Sarah Sechan merupakan salah satu VJ MTV ASIA di era 90an yang memenangkan banyak hati penontonnya di Asia Tenggara, terlebih di Indonesia. Sepanjang karirnya di MTV ASIA, Sarah Sechan menjadi asosiasi ikon remaja dengan gayanya yang lucu dan cuek. Tak pelak, setelah dua puluh tahun lebih berlalu, Sarah Sechan masih menjadi memori paling menyenangkan pada tiap-tiap orang yang pernah menontonnya di layar kaca mereka kala itu.

Termasuk saya.

Setelah menuliskan posting-an tentang MTV dan secuil menyinggung tentang betapa pentingnya keberadaan Sarah Sechan dalam hidup saya di sini.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.40 PM

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.03 PM
Seneng banget pas tulisan direspon Teh Sarah

Ada dorongan tersendiri dari dalam diri saya untuk menjelaskan alasannya dan mengapa menurut sudut pandang saya penting sekali untuk memiliki kembali ‘Sarah Sechan’ dalam kehidupan generasi digital saat ini. At least, minimal untuk adik saya lah yang baru memasuki bangku SMA.

Awal Mengenal Sarah Sechan

Saya lahir tahun 1990 dan pertemuan pertama saya dengan Sarah Sechan adalah menontonnya di serial televisi berjudul Olga Sepatu Roda tahun 1996 atau 1997 jika saya tidak salah ingat. Om-Om saya di rumah adalah penggemar novel Lupus dan Olganya Mas Hilman Hariwijaya, dari sana lah saya jatuh cinta membaca kisah epik Olga dengan Radio Gaganya.

Saat membaca novel-novel Olga terbayang akan sosok perempuan cuek, lucu, dan super nyebelin namun kita sayang. Lalu saat melihat Sarah Sechan membawakan peran tersebut di televisi bareng dengan Cut Mini sebagai sahabatnya, Wina. Sarah Sechan sukses menghidupkan karakter Olga luar dalam.

Yang paling saya ingat tentu saja saat Sarah Sechan diam-diam kabur dari kamarnya di malam hari sambil menenteng sepatu rodanya untuk pergi siaran yang mana berakhir ketahuan dan kena omel Mamih. (Mamih tuh enggak pernah hafal nama radio Gaga. Dia kalau ngomel pasti akan bilang: YA ETA, RADIO HAHA, RADIO TATA, RADIO LALA. HAHAHA. Lucu deh si Mamih).

Screen Shot 2018-04-12 at 7.58.14 PM

Betapa dulu menonton Olga di jam empat sore selama satu tahun mendorong saya untuk merengek dibelikan sepatu roda saat kenaikan kelas (namun sampai umur sebesar ini saya tidak pernah memilikinya. Maklum sobat miskin sejak lahir).

Lalu setelah legitimasi menjadikan Sarah Sechan sebagai idola tetap di antara power ranger, Doraemon, dan Sailor Moon. Tak disangka di satu sore sebuah kejadian merubah segalanya.

Saya masih ingat dengan jelas, setelah semalam suntuk menghafal surat-surat pendek Alquran agar besoknya lulus tes duluan dan bisa pulang dengan cepat demi menonton Olga tanpa ketinggalan satu detik pun.

Saya bergegas ke ruang keluarga, mengambil kuda-kuda untuk duduk rapi di depan televisi ditemani satu piring Indomie Goreng dengan toping chiki Taro yang sudah disiapkan Ibu saya.

Dengan jantung berdebar saat logo Indosiar berganti opening theme dan lagu sinetron Olga seperti biasa, scene pertama pun diawali dari depan pintu kamar Olga saat Mamih membangunkan Olga untuk sekolah. Saat pintu kamar terbuka, Olga merengek sebal karena Mamih mengganggu tidurnya.

Ada yang aneh. Saya tidak menemukan Sarah Sechan. Namun, mengapa perempuan di televisi tersebut dipanggil Olga? Lalu setelah lima belas menit berlalu, saya baru menyadari YANG JADI OLGA BUKAN SARAH SECHAN.

Mereka mirip. Tapi OLGA bukan SARAH SECHAN.

Saya yang masih enam tahunan kala itu tidak dapat mengekspresikan betapa sedih dan jengkelnya diri saya.

Saya cuma bisa teriak-teriak memanggil Ibu saya untuk memastikan bahwa yang saya tonton adalah Sinetron dengan judul yang benar dan memang perempuan berambut panjang di televisi kala itu bukan Sarah Sechan.

Ibu saya yang melihat ketantruman anaknya tentu saja bingung, lalu ia buru-buru mengecek jadwal-jadwal sinetron yang biasa ada di koran. Setelah membaca dua kali judulnya setelah iklan, Ibu saya dengan yakin memastikan bahwa yang saya tonton adalah sinetron yang benar.

“TERUS KENAPA OLGANYA BEDA?” saya masih ingat rengekan saya kala itu.

“YA MANA MAMAH TAU! Dia sakit kali makanya diganti,” jawab Ibu saya mencoba menenangkan.

Dari situ saya pun menganggap bahwa Sarah Sechan sedang izin sejenak karena sakit dan pasti akan kembali lagi.

Seperti kejadian Bu Sarti, Guru saya waktu kelas 1 SD dulu yang pernah izin satu minggu tidak masuk mengajar dan digantikan guru lain. Lalu di hari Senin depannya kami murid-muridnya bertemu dia lagi. Mungkin akan seperti itu polanya. Pikir saya kala itu.

Namun, setelah empat episode berlalu dan saya tidak melihat Sarah Sechan kembali.

Dari sana saya pun patah hati dan berjanji tidak akan pernah menonton sinetron Olga Sepatu Roda lagi yang tidak ada Sarah Sechannya.

MTV dan Sarah Sechan

Datanglah masa di mana Tante-Tante saya menyanyikan lagu, …BABY ONE MORE TIME! berulang-ulang tanpa bosan.

Jadwal menonton televisi di rumah saat jam empat sore yang sudah lama saya tinggalkan pun tiba-tiba digeserkan oleh Tante-Tante saya.

Ada apa nih?

Penasaran saya pun ikut nonton bareng. Tante saya dan teman-temannya yang sudah SMA kelas akhir kala itu berbisik-bisik centil tentang peruntungan zodiak dia dan pacarnya.

“Apa sih itu ZODIAK? Apa sih itu pacar?” tanya saya bingung.

Karena berisik, mereka pun mengusir saya.

Lalu saat mereka sudah siap mencatat apa yang ada di televisi, saya melihat satu perempuan berambut hitam panjang dengan bulu-bulu putih di lehernya.

ITU KAN SARAH SECHAN!

Saya pun ikut meriung ke tempat di mana Tante-Tante saya dan teman-temannya mencatat dengan khidmat apa yang diucapkan oleh Sarah Sechan.

Ini semacam kisi-kisi ujian EBTANAS apa gimana sih? Pikir saya.

Tapi bodo amat lah. Saya akhirnya bisa melihat Sarah Sechan kembali di layar televisi.

Sejak itu setiap harinya di ANTV, diiringi dengan video-video lagu dari luar negeri dan band-band lokal. Dengan khusuk saya menyaksikan Sarah Sechan ngebanyol dengan Jamie Aditya di MTV Land. Mewancari penyanyi-penyanyi luar seperti GIL, SHANIA TWAIN, dan RICKY MARTIN dengan bahasa inggris yang lancar dan gimmik-gimmik lucu.

Tidak ada yang berubah dari Sarah Sechan, ia tetap menghibur meskipun namanya bukan lagi Olga dan ketika dia ngomong entah kenapa tiba-tiba muncul teks berjalan di bawahnya.

Sebagai anak kecil yang terlanjur ngefans saya sih senang-senang saja melihat Sarah Sechan lagi meskipun sebenarnya saya tidak terlalu paham juga apa yang ia bicarakan dan teks berjalan itu tulis sih. Hehe.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.16 PM

Bukan Melulu Tentang Kecantikan

Mengapa Sarah Sechan bisa begitu ikonik di masanya bahkan sampai sekarang?

Apa sih yang membuatnya disukai banyak orang dan keunggulannya dibanding presenter-presenter lainnya?

Sarah Sechan memiliki keotentikan dirinya yang membuatnya diingat oleh banyak orang. Lewat celetukannya yang khas, pemikiran-pemikiran terbukanya yang diutarakan lewat bahasa simple dan lugas, juga pembawaan personalitynya yang menyenangkan membuat dirinya menjadi ‘suara’ akan generasinya.

Generasi yang sedang berada dalam transisi reformasi kala itu, ia menjadi pembebas di sana. Ia si perempuan modern yang melihat sesuatu dengan sudut pandang yang kosmopolitan namun tetap ajeg dengan kearifan lokal yang ada.

Meskipun berbahasa inggris dengan lancar, namun bukan berarti ia melupakan budayanya. Sarah Sechan hadir dengan perpaduan itu semua.

Kepercayaan dirinya, etos kerjanya, juga kemandiriannya memberikan sesuatu yang sudah jarang ditemukan di era digital ini. Ia perempuan yang berpegang kuat pada prinsip. Dapat kita temukan lewat tindakan-tindakannya seperti: saat pernikahan pertamanya ia tidak mau media meliputnya, saat ia menutup akun media sosialnya, dsb.

Ketika semua orang berlomba-lomba menjadi si cantik dan menjadi ‘sama’. Dari dulu Sarah Sechan berusaha untuk mencari apa yang menjadikannya berbeda, spesial, dan dekat dengan banyak orang.

Formula tersebutlah yang membuat Sarah Sechan terus dikenang oleh banyak orang. Sarah Sechan terasa dekat karena kebodorannya. Ia tidak berusaha menjadi si paling cantik, namun menjadi teman yang menemani siapa pun yang menontonnya. Namun, secara bersamaan aura bintangnya pun keluar lewat talentnya yang memang membuat orang nyaman berlama-lama menontonnya dan berlomba-lomba ingin menjadi temannya atau menjadi seperti dirinya.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.00 PM

Saya rasa kualitas itu lah yang membuat Sarah Sechan unggul daripada yang lain.

Semesta Era Tahun 90an

Tahun 90an adalah era di mana televisi menguasai tiap-tiap ruang di rumah banyak orang. Media pesaingnya kala itu adalah radio dan printed media (majalah dan koran).

Semesta yang terbentuk kala itu adalah informasi yang datang yaitu secara berkala dan harus dicari. Itu membuat beberapa selebritas memiliki misterinya sendiri. Termasuk Sarah Sechan.

Sampai sekarang saya masih penasaran, seperti apa sih konten yang Sarah Sechan bawakan saat menjadi penyiar radio pagi hari di bawah arahan Mutia Kasim?

Media kala itu membentuk glorifikasi akan kemodernan lewat pembangunan kota Jakarta yang megah dan artis-artis yang rupawan.

Vibe tahun 90an memang gempar dengan pemberontakan dan hedonisme modern.

Dan Sarah Sechan berada di dalamnya dengan konsep yang banyak orang inginkan. Anak muda yang sukses lewat karir entertainment. Menjadi penyiar radio, VJ, dan pemain sinetron.

Khayalan dan ilusi akan semesta 90an tersebut membuat orang-orang menyimpan mimpi tersebut dan berkeinginan bahwa jika dewasa nanti, atau sesukses nanti, mereka ingin menjadi seperti Sarah Sechan.

Setidaknya untuk saya kala itu. Mimpi menjadi VJ atau penyiar radio menjadi bucket list yang saya simpan diam-diam.

Sarah Sechan VS Generasi Now!

Seperti yang saya singgung sebelumnya, yang membuat Sarah Sechan mencuat dan membekas adalah ia menjadi suara untuk generasinya. Ia adalah representasi anak muda modern dengan pemikiran terbuka.

Yang mana pemikiran-pemikirannya kala itu mengubah dan menginfluence banyak orang. Ada kedalaman berfikir yang membuatnya dihargai dan bertahan hingga sekarang.

Jika dibandingkan dengan mereka yang berada dalam semesta digital. Sesungguhnya perbedaan tersebut kontras sekali.

Kini, pengukuran akan ‘influence’ hanya dilihat dari angka dan bukan bobot maupun kualitas kontennya.

Mereka-mereka yang pamer harta lewat kehidupan sehari-hari akhirnya menjadi sampah pikiran yang menjadi lucu-lucuan semata. Namun, pada praktiknya tidak memberikan efek berarti pada generasi yang menontonnya.

Apa sih sumbangsihnya? Apa sih legacynya pada nantinya?

Sedangkan di tahun 90an, kebebasan untuk berekspresi seperti itu bagi anak muda adalah sesuatu yang mahal. Dan Sarah Sechan dengan jelas menggerakkan anak-anak muda di masanya untuk bereksperimen dengan pemikirannya, terbuka dengan hal yang baru, banyak membaca dan berani mengutarakannya.

Ketika kepekaan dan humanisme bersuara dalam diri Sarah Sechan tetap ada, maka ia akan relevan sampai kapan pun.


Kekhawatiran saya mungkin berlebihan, namun menemukan role model yang dapat memotivasi untuk menjadi lebih baik adalah sesuatu yang mahal di masa sekarang. Kebanyakan mereka-mereka di semesta digital muncul bagaikan toxic dengan drama yang membuat orang berteriak: APAAN SIH YANG BEGINIAN KOK BANYAK YANG NONTON!

Mungkin zaman berganti, trend bergeser, tapi yang coba ingin saya sampaikan sebenarnya sesederhana jika tidak bisa menjadi NADYA HUTAGALUNG, jadilah SARAH SECHAN.

Kita semua tidak harus menjadi sama kok. Semua memiliki keunikannya sendiri dan berbanggalah dengan itu.


Jika dulu Sarah Sechan biasa membacakan surat anak nongkrong MTV di acara MTV Most Wanted. Anggap saja tulisan ini adalah surat yang tidak pernah terkirim dari seorang penggemarnya yang dulu sering curi-curi menonton idolanya saat disuruh mengaji meskipun saat menonton ia tidak terlalu mengerti apa isinya.

Namun, yang pasti ia merasakan sesuatu yang ketika besar nanti ia akan mengerti artinya. Namanya kebahagian. Dan kini mengenang Sarah Sechan tidak akan lepas dari kebahagiaan itu sendiri.

Terima kasih Sarah Sechan untuk masa kecil yang seru mulai dari Olga Sepatu Roda dan MTVnya. I love you, Teh 🙂

Salam,

Figuran Jakarta.

MTV Gue Banget

Jadi gue punya ritual yang gue enggak sadar bahwa gue telah membuat ritual itu sendiri. Ngorek-ngorek pop culture masa gue kecil dulu. Sesuatu yang dulu hadir sepotong-sepotong gitu, dan alhamdulilah dengan kemajuan teknologi bisa gue hadirkan kembali.

Ini  berjalan sekitar satu setengah tahun yang lalu saat gue baru pindah kerja dan teman-teman gue yang biasa ada untuk ngabisin waktu weekend bersama tiba-tiba pergi satu persatu. (Ada yang ngelanjutin study abroad, nikah, atau simply hilang aja).

Jadilah gue lebih banyak ngabisin waktu dengan diri gue sendiri bersama laptop yang selalu setia ini.

Aktivitas favorit tentu saja nonton. Baik itu berupa bokep, film/series dan mantengin Youtube. Milenial sekarang kan punya slogan, Youtube lebih dari Tivi, jadi yaudah lah ya remaja basian ini kepincut binge watching Youtube juga.

Dengan dua hari yang ada gue selalu jumping dari satu video ke video lain di Youtube sampai enggak sadar udah seharian dan mendapati kuota internet hampir habis.

Awalnya gue cuma mau nonton video konser Radiohead yang jadul jadul, lama kelamaan dengan alogaritma Youtube gue end up dengan medapati video ini.

Video campaignnya Mtv Exit tentang human trafficking, dan ada Radiohead nyanyi lagu All I need di sini. Tanpa diragukan lagi pesan di video ini kuat banget. Saking kuatnya ngebawa gue ke memori tahun 2008 silam, saat awal-awal gue masuk kuliah dulu dan inget pernah lihat video ini sebelumnya di tivi teman gue Andika. Karena dia borju sekali dan sudah pasang Indovision di saat orang-orang lain belum kenal tivi kabel.

Well anyways, despite powerful message-nya, yang sebenarnya bikin gue ke hooked adalah MTVnya.

Iya, MTV. Music Televison. Sebuah channel yang semasa gue SD sampai SMP dulu (kira-kira 1996-2004)  menjadi tontonan wajib anak muda di zamannya karena cuma di channel itu gue bisa nonton video klip artis-artis favorit gue dan ketawa ngakak ngeliat tingkah Mas dan Mbak VJ yang jadi panutanque. (Cie, generasi 90an, actually gue baru engeh sama MTV di hidup gue pas tahun 97an pas liat Sarah Sechan si olga sepatu roda jadi VJ di sana)

Mtv pertama kali gue tonton ada di Antv, terus pindah ke Global Tv, dan sekarang MTV Indonesia sudah die 😦

Mungkin bagi para remaja dan orang-orang dua puluhan awal ikatannya enggak sekenceng bagi mereka yang sekarang udah umur 27 ke 40an (ini asumsi ya pemirsa jangan sensitif kalau gue salah) karena dulu MTV hadir selama DUA PULUH EMPAT JAM dan acara-acaranya emang kece-kece berat. (Means, mereka beda dari acara-acara mainstream di tivi-tivi nasional tempo itu). So, siapa yang enggak ke hooked sama MTV masa itu?

Elo pulang sekolah nonton MTV Most Wanted ngeliatin VJ Donita atau MTV Ampuh sama Mbak Shanty, terus pulang ngaji dari TPA abis ngapalin janji santri lo ngeliat muka Sarah Sechan dan Jamie Aditya di MTV Land, atau sampai bosen bisa hafal artis-artis mana aja yang ada di tangga lagu acara TLC yang diulang-ulang terus.

Tapi selain acara musik, MTV punya beberapa program sendiri yang konsepnya ngehek banget. Ini jadi semacam benih untuk ngedidik gue jadi si nyinyir yang bermulut kotor dan selalu sinis ngeliat hidup.

Menu acaranya semacem:

  1. Celebrity Death Match

Screen Shot 2017-09-29 at 12.15.26 AM

Acara bangke yang pertama kali gue tonton dulu gue kira adalah sebuah acara kartun ye kan. Kiyut dengan lilin-lilin macem kisah nabi di TPI dulu. Taunya emang nyebelin aja.

Jadi acaranya tentang artis-artis yang di kehidupan nyata yang emang rival-an terus di sini dibuat berantem beneran. Karakternya dari lilin dan mereka berantem di ring tinju ditonton oleh lilin-lilin yang lain. Berantemnya bener-bener sadis yang darah ngocor ke mana-mana, terus kalau tulangnya patah, patahan tulangnya bener-bener diliatin dan dijadiin mainan. Terus yang lucunya adalah mereka pas lagi berantem pasti bacot-bacotan yang kocak banget. Ngatain masing-masing orang dengan gosip-gosip yang mereka deny di dunia nyata. Pokoknya belajar sarkas dari sini deh.

Jaman dulu pas nonton beginian ya ketawa-ketawa aja entah kenapa, enggak ada linu-linunya. Episode paling epic yang gue inget pas Britney Spears vs Christina Aguilera.

Ya 2000an dulu kisah catfight mereka kan kenceng banget. Pas nonton episode itu kayak terpuaskan banget. Yes, akhirnya mereka berdua berantem juga. Hahaha.

Acara Celebrity Death Match ini gue rasa terinspirasi dari SmackDown deh. Karena kan dulu acara berantem-beranteman hype banget. Dari sanalah kata-kata ajaib seperti: Gue sleding tekel juga nih nenek lo itu hadir.

2. Beavis and Butthead

Kalau elo ngerasa juri dangdut d’academy udah bacot banget, elo harus liat dua orang ini. Mereka savage in the new level. Kalau enggak suka sama satu video klip band atau artis tertentu mereka bakal nyinyir dan bilang. Ini jelek banget! In your face dude. Mati ga lo.

Mereka semacam bisa ngucapin sesuatu yang orang-orang nyata ga berani atau males ngomong karena takut ngundang masalah. Tapi karena konsepnya kartun jadi mereka woles aja.

Terus yang diomongin bokep muluk. Tapi mereka enggak berani ngelakuin. Haha. Typical remaja lah. Dulu pas nonton ini gue rada ga ngerti dan masih ngeraba-raba maksud omongan mereka apa sih. Dan acara ini disiarin tengah malem terus. Jadi memori gue akan mereka agak samar-samar.

the-best-mtv-cartoons-you-ll-never-forget-u1.jpeg

3. Daria

Screen Shot 2017-09-29 at 12.55.38 AM

Nih perempuan bener-bener deh. Semua salah aja di mata dia. Dia definisi judes bin julid. Tapi kata-kata dia tuh kadang emang bener. Entah karena pembelaan dia aja yang emang males bersosialisasi atau dia kelewat peka. Hahaha.

Tapi gue suka banget sama konten remaja yang sarkas versi dia. Waktu nonton jaman dulu masih ga paham kenapa sih nih cewek kok males banget hidupnya kayaknya. Tapi pas gue re-wathced sekarang, tiap omongannya doi dan gambaran karakter-karakter yang lain kece abis. Mereka berhasil buat nyinggung dan bahas isu-isu penting yang remaja saat itu enggak kepikiran atau males bahas. Dan dibungkusnya pop banget, jadi ga ngeguruin atau keras banget. Lucunya masih dapet pas nonton.

Tema episode Daria bisa bahas tekanan remaja kulit hitam untuk tampil sempurna dan ga end up jadi kriminal, atau pandangan Daria tentang pendidikan dan gap kelas sosial di pergaulannya yang dia pretelin satu persatu. Pokoknya bikin orang bangun dari mimpinya.

Karena dia jujur dan enggak mau ngabisin waktu dia untuk jadi orang yang pada akhirnya bohong sama diri sendiri. Ini ngebuat doi disebelin orang-orang sih. But most of the time dia emang resting bitch aja yang don’t give a fuck sama hidup. And I like it.

Selain program-program tivi itu, tentu saja yang jadi daya darik MTV seperti yang gue jelaskan di awal adalah VJnya.

Dan favorit gue adalah……..

Screen Shot 2017-09-29 at 1.01.13 AM

The one and only Sarah Sechan. Gue bakal buat satu postingan sendiri sih tentang doi sepertinya.

Pertama kali liat dia itu di serial Olga Sepatu Roda, untuk anak umur enam tahun cerita Olga itu menghibur banget. Dan Sarah Sechan juga Cut Mini mainin karakternya enak banget. Gue inget pernah ngambek enggak ngaji TPA gara-gara enggak liat Sarseh di Olga dan digantiin sama Melly Manuhutu. Hahaha. Ya maklum namanya juga anak kecil.

Dan heboh banget lah gue pas ganti-ganti channel nemu Mbak Sarseh di Antv. Hal yang paling gue inget dari doi adalah: dia tuh lucu dengan kelucuan yang enggak lo bisa tebak dia serius apa becanda.

Dengan candaan yang tidak berlebihan dan enggak ngehina fisik orang. Doi ga butuh teriak-teriak buat terlihat lucu dan narik perhatian orang. Dia semacam punya teknik sendiri yang buat elo betah nonton dia dan ngeliat dia bawain sesuatu serasa simple dan cool banget. Berkelas deh.

Dan terbukti untuk yang pernah nonton dia di acara MTV pasti akan mengingat dia sebagai personality paling menyenangkan di layar kaca kita.

Terkadang masa alay dulu, gue sering berkhayal bisa bawain acara atau siaran radio dengan gaya dia yang asik dan simple banget itu. Sampe ya, semua cewek senior gue di SD dan SMP dulu dengan alaynya pas ngenalin diri make nama belakang sechan. HAHAHA. Balik lagi, ya namanya juga anak kecil.

Tapi ya mau gimana lagi, masa itu tuh nonton MTV jadi semacam benchmark buat anak muda berasa gaul dan hitz. Karena ya elo ngerasa internasional banget aja dengan niru ngomong indo-inggrisnya para VJ. Atau deg-degan pas nungguin karya kerajinan tangan elo dibacain atau enggak di MTV Most Wanted buat request Celine Dion nyanyiin lagu soundtracknya Titanic yang diputer-puter tiap 5 menit sekali di tivi masa itu. Tapi amazingnya elo ga bosen-bosen loh.

Semacem lihat fenomena ponakan-ponakan kita bisa back to back dengerin lagu Let it go – Frozen selama setahun penuh. Rasanya ya tiap elo denger itu lagu muncul di dalem mobil atau mall, bawaannya pengen elo tembak pake tombak aja itu speaker.

Tapi ya, aing kangen masa-masa itulah. Simple life. Di saat drama hidup cuma ulangan sekolah dan acara OSIS. Kalau ada masalah saat itu ya obatnya adalah cukup dengan duduk depan tivi sambil makan ciki Taro terus ngeliatin Mbak Sarah Sechan yang kocak meski kadang aku ndak ngerti doi ngomong apa (kadang enggak ada translate-annya pas doi ngomong). Hidup rasanya beres aja gitu. Sambil ketawa-ketawa sendiri pas nungguin doi bacain zodiak di MTV Getar Cinta.

Sebenarnya banyak banget memori seru selama delapan tahun nonton MTV, tapi ini yang paling ngebekas. Harus diakui MTV telah membentuk sejarah pop culturenya sendiri. Hingga orang bisa menyebut diri mereka generasi MTV, karena kesamaan akan pengalaman mereka.

Mulai dari pergeseran komunikasi yang digunakan dalam percakapan, gue perhatiin acara-acara di tivi yang dulunya menggunakan kata-kata baku, mereka coba untuk lebih rileks dan ngikutin mode-nya MTV pake gue-elo dan copy-an panggilan anak nongkrong. Disehari-hari pun kayaknya kalau elo enggak bisa bahasa inggris saat itu ya kayaknya kampung dan cupu banget. Gue inget banget sampe minta les sama nyokap biar keliatan tampil aja gitu. NIH GUE BISA NGEMENG ENGGRES. (yang padahal belepotan juga haha tapi waktu itu lo bisa ngartiin lagu I have a dream Westlife udah berasa megang banget deh).

MTV juga ngebentuk the way anak remaja berfikir jadi lebih berani dan nyeleneh. Karena memang kata MTV masa itu bisa diartikan sebagai sesuatu yang bersifat rebel. Dan asosiasi tersebut akan menempel bagi yang menontonnya. Elo jadi super kreatif aja kalau nonton acara-acara MTV.

MTV juga berhasil menghadirkan semestanya sendiri tentang gemerlap dunia seleb yang ga kesentuh (Remember Mtv Cribs, a day with… dan Pimp My Ride?). Mereka tuh ngebuat artis jadi semacam dewa yang harus disembah. Kesempurnaan fisik mereka, kekayaan hartanya, pergaulan A-list dengan event-event dunia yang megah, pasti ngebuat elo bisa ngayal babu pengen jadi bagian di dalamnya. Meski cuma sekecil ketombe mereka. Demam selebritis muncul dari sana.

MTV juga berhasil membawa peta permusikan ke level yang baru. Para penyanyi yang beken di radio, step up the game dengan ngebuat video klip yang berharap bisa sepowerful musik mereka. Kadang ada yang berhasil, tapi ada juga yang gagal. Dari MTV banyak banget video-video musik jenius yang hadir. Ngebuat yang nonton wanna have a piece of everything yang ada di sana. Tapi dari situ pula cemoohan artis-artis yang modal tampang doang mulai diperbincangkan. Asal lo cakep, semok, elo bisa masuk tivi buat nyanyi. Terlepas lo bisa nyanyi atau enggak. Apalagi ya degradasi perempuan untuk di overly sexualized ya dari MTV juga sih. You can see boobs and ass everywhere di Youtube sekarang ini ya karena MTV.

Dan soal musik, berkat MTV gue jadi tahu musik-musik alternatif yang enak didenger dan seru untuk ditonton di MTV Unplugged. The Cure, Nirvana, Lauryn Hill. Artis-artis yang emang bukan beredar di pasar mainstream bisa punya pasarnya sendiri karena MTV.

Tapi ya masa-masa itu udah lewat dan bisa dilihat acara-acara musik di Indonesia kacrut semua. Mereka bahkan ga bahas musik sama sekali. Beruntung banget gue bisa spend my childhood dengan nonton MTV. Hence, MTV akan tetap di hati dan tentu saja Mtv gue banget deh.

Jadi, momen MTV apa yang paling elo inget di hidup elo?