Gege Mengejar Cinta in Real Life.

Di masa remaja ketika SMA gue membaca sebuah novel berjudul Gege Mengejar Cinta. Sebuah novel dengan kisah cinta segitiga yang berpusat di antara Gege, Tia, dan Caca.

Kisahnya kurang lebih; Gege suka sama Caca sejak SMP tapi enggak cukup punya keberanian untuk nembak meski sampai SMA beres. Kemudian saat kuliah mereka berpisah. Fast forward Gege satu kantor dengan Tia. Tia suka sama Gege tapi gengsi. Lalu Caca hadir lagi di hidup Gege. Tia keki. Gege berharap. Caca ya terima aja. Endingnya, semua perempuan tersebut ngejar Gege. Tapi, Gege lebih memilih Caca. Namun, sayangnya tidak ada yang berhasil memiliki siapa pun. Tidak Gege yang sudah segitunya banget menyimpan perasaannya selama bertahun-tahun. Tidak juga Tia yang sudah mengubah dan mengorbankan banyak hal dalam dirinya untuk mendapatkan perasaannya Gege.

Mereka bertiga akhirnya berpisah dalam haru dan ironi.

Gue menyukai bukunya dengan teramat sangat. Gue selalu berfikir gue adalah Gege. Gue adalah Gege untuk R. Namun, setelah bertahun-tahun berjalan semua terasa bodoh. Gue akhirnya berhasil melepas R.

Lalu, fast forward di umur gue yang dua puluh delapan tahun, di saat setahun terakhir ini tiba-tiba hidup membuat gue menjadi seorang Tia.

Tia yang gengsi tapi sekuat tenaga berusaha untuk mendapatkan perhatian Gege yang enggak cakep cakep banget tapi Tia sayang.

Tia yang sudah melakukan apa pun, mengubah dirinya, mengorbankan banyak hal di hidupnya, membuang gengsinya hanya demi membuat Gege setidaknya mau ‘stay’ bersama dia.

Namun, hidup kan terkadang memang sulit untuk beberapa orang ya. Mau diet keto sampai gajian ludes juga tetep aja kalau misalkan ditakdirkan gendut yaudah lah yaw.

Mau dipaksain ‘sebegimananya’ juga jika misalkan pada dasarnya si Gege enggak suka-suka amat sama Tia, ya enggak bakalan jadi juga.

Gue sayang banget dengan karakter Tia.

Tia yang enggak pernah meminta Gege untuk berubah hanya agar diterima dirinya.

Tia yang rela berjuang bersama Gege tanpa Gege minta.

Tia yang akan menomor satu kan Gege dengan sukarela dan akan selalu tersenyum setiap Gege mengecewakan dia.

Tapi ya Tia enggak akan pernah cukup untuk Gege. Dan perlakuan Gege ke Tia juga akan selalu kurang jika ingin seperti ekspektasi Tia.

They will hurt each other so much. They bad for each other. And it will ruin everything between them.

Namun, gue tahu Tia sudah melakukan yang terbaik dari dirinya untuk ‘mengejar’ Gege.

Tia pantas mendapatkan seseorang yang memang akan memperlakukan Tia seperti Tia mengejar Gege.

Tia pantas bahagia dengan mereka yang memang menginginkan Tia dalam hidupnya.

Gue yakin di awal-awal pahit banget. Tia sampai resign juga padahal karirnya lagi bagus-bagusnya. Gue tau banget deh Tia pasti sampai ke psikolog dan psikiater buat bisa move on dari Gege.

Ya memang lah ya kita enggak selalu bisa mendapatkan apa yang kita mau. Bukan hanya karena gulali kata yang menyatakan; ketika kita tidak mendapatkan yang kita mau, mungkin dia memang bukan untuk kita. Tuhan menjauhkan hal yang akan merusak kita.

Menyenangkan ketika mendengar kata-kata itu. Terlepas dari benar tidaknya.

Dan untuk Tia Tia di luar sana,

kamu bisa kok bahagia dengan diri kamu dan orang baru lagi. Pahit-pahitnya hidup pasca ‘move on’ dari Gege yang baru banget mungkin hanya fase yang nantinya setelah benar-benar sembuh elo akan tersenyum dan ketawa sendiri ingetnya.

Tapi, untuk sekarang ayok semangat untuk tidak berlama-lama dengan perasaan sakit itu.

Karena mau meromantisasi rasa sakit dengan amat indah pun pada akhirnya semua yang harus berakhir pasti akan berakhir juga. Jangan buang-buang waktu dengan kesedihan yang sebenarnya kalian juga tahu ini hanya akan berakhir sia-sia.

Bisa kok. Meski tetap ada retak dan patah di sana. Tapi in the end of the day, semua akan baik-baik saja.

Tinggal kamunya mau atau enggak. Bisa kan?

Advertisements

10+1 Buku Indonesia Yang Asik

Buku-buku Indonesia yang wajib kamu baca!

Hari ini di tanggal 17 Mei tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buku Nasional, yang istimewanya bertepatan dengan hari pertama puasa.

Sama seperti puasa, sebagai pembaca buku saya menganggap kegiatan membaca sama sakralnya dengan ibadah suci tersebut.

Momen saat memegang buku baru, romantisme menyiumi lembaran kertasnya, dan perasaan menggebu saat mencapai penutup cerita merupakan sebuah pengalaman yang memberikan adiksi tersendiri.

Terlebih jika cerita dalam buku tersebut mampu menyedot saya masuk ke dalam dunia baru yang asing, magis dan tidak bisa berhenti untuk dijelajahi.

Perjalanan sebagai seorang pembaca buku itu pun diawali dengan membaca majalah-majalah yang dapat saya temukan di rumah. Tumbuh di era 90an, industri cetak sedang berjaya dan diisi dengan poster-poster selebritas-selebritas dan anekdot di dalamnya. Ringan namun mampu menyihir untuk berlama-lama di sana.

Kemudian saat bersekolah keharusan untuk membaca buku-buku terbitan balai pustaka dengan konten cerita rakyat membawa saya pada dongeng-dongeng seru yang menghanyutkan.

Sejak itu apa pun bentuknya yang memiliki aksara di dalamnya akan saya habiskan dengan gembira.

Beranjak dewasa membaca menjadi momen pelarian dari dunia pubertas yang menjengkelkan dan aneh. Larut dalam kisah Harry Potter menjadi sesuatu yang menyenangkan dibanding harus berbasa-basi dengan orang lain.

Dan kebiasaan tersebut ternyata tidak pernah hilang. Kegiatan membaca tumbuh sebagai bagian dalam diri saya. Pilihan bacaan yang dulu sifaatnya hanya untuk seru-seruan berubah menjadi diskurs yang membuka pandangan akan situasi sosial sendiri. Dan dari sana membaca menjadi aktivitas yang lebih serius.

Akhirnya saya menyadari bahwa cerita dalam buku merupakan suara tersendiri dari sejarah suatu periode tertentu atau pun potret realita yang berbahasa lewat fiksi.

Maka di hari penting ini saya ingin membagikan 10+1 daftar buku Indonesia paling asik versi saya.

Tidak melulu yang menghentakan akal pikiran, namun sejatinya buku-buku yang akan saya bagikan mampu menemani dan memberikan ruang bagi suara yang patut untuk didengar.

Mari kita mulai saja daftar 10+1 daftar buku Indonesia yang paling asik tersebut:

  1. Gege Mengejar Cinta (2004, Adithya Mulya)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.13.37 PM

Tahun 2000an awal merupakan tahun di mana muncul genre baru di Indonesia setelah cengkraman reformasi yang membungkam banyak suara di negeri ini. Tahun-tahun tersebut cerita yang ditawarkan lebih beragam dan kaya.

Perayaan kehidupan dan cinta yang jenaka menjadi salah satunya. Para publisher menyebutnya dengan metropop, chick lit atau cerita kehidupan turbulensi para kaum urban di umur dua puluhan.

Lalu saat memasuki kelas 1 SMA di tahun 2006, saya membaca buku yang akan menjadi tonggak dasar kehidupan percintaan saya.

Buku berjudul Gege Mengejar Cinta merupakan karya kedua Adithya Mulya setelah kesuksesan novel Jomblo. Dan saya jatuh cinta dengannya.

Kisah urban para pekerja radio dan lika-liku kehidupan jomblo di usia 20an akhir memberikan warna jenaka dan sedih secara bersamaan.

Membaca buku ini seperti mengocok perut kita sendiri dan mempertanyakan sebuah keresahan paling penting dalam hidup. Mana yang akan kita pilih, seseorang yang kita cintai atau seseorang yang mencintai kita?

Silahkan dibaca buat yang mau galau meradang, sampai sekarang saya masih belum bisa move on dari buku ini meskipun sudah lewat 12 tahun. Karena sensasi yang didapat masih sama seperti pertama kali menamatkan buku ini.

Nyesek.

2. Kok Putusin Gue? (2004, Ninit Yunita)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.18.11 PM

Kalau tidak salah menjadi novel pertama dari Ninit Yunita. Kebetulan istri dari Adithya Mulya. Dari sana saya mengikuti semua buku dan blog kedua pasangan seru ini secara religiously.

Saya membaca buku ini di tahun 2005. Buku yang mengemas kisah patah hati dengan jenaka namun tetap haru. Gambaran kota Bandung dan kehidupan di dalamnya membuat saya mabuk akan romantisme Bandung yang masih saya cari seperti yang diceritakan oleh Ninit di buku ini. Tips membuat Tiramisu juga hadir dengan jenaka. Silahkan dibaca bagi yang suka menikmati kisah dengan ending ugly cry.

FYI, jangan nonton film adaptasinya. Jelek.

3. Saman (1998, Ayu Utami)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.30.34 PM

Tahun 2009 menjadi pertemuan pertama saya dengan Saman. Sebelas tahun setelah dulu ia terbit dan menjadi kontroversi di masanya.

Bab pertama buku Saman merupakan tulisan paling indah yang pernah saya baca di novel kontemporer Indonesia. Sejak itu saya menjadi pengikut Ayu Utami yang membaca habis seluruh buku dan tiap-tiap tulisan yang ia buat.

Perkenalan dengan feminisme dan kesadaran akan kesenjangan situasi sosial di Indonesia pun dimulai dari Saman.

Yang membekas tentu saja ending dari buku ini yang ditutup dengan kalimat, “Perkosa aku” yang keluar dari mulut sang pastor.

Wajib dibaca buat kamu yang ingin merasakan ketegangan dan keseksian nuansa 90an yang mencekam di negeri ini.

4. Cantik Itu Luka (2002, Eka Kurniawan)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.31.59 PM

Cukup baca dua bab buku ini dan kamu akan terperosok masuk ke dalam magisnya kisah Mas Eka Kurniawan. Pertemuan saya dengan Mas Eka dimulai di awal tahun 2016. Saat itu saya sama sekali belum pernah membaca karya beliau dan tidak pernah terbersit sedikit pun akan berjumpa langsung dengan beliau.

Kebetulan saat itu saya memenangkan kontes seminar penulisan yang dimentori oleh Mas Eka. Secara tidak langsung Mas Eka pernah membaca tulisan saya dan memilihnya dari ratusan submission yang ada.

Lalu setelah seminar tersebut saya membeli SEMUA buku beliau, dan warning saja, kalian tidak akan bisa berhenti masuk ke semesta Mas Eka yang begitu memikat, magis, dan menghujam di akhir.

Ironi-ironi paling sial muncul di setiap plot poin buku Cantik Itu Luka. Bagaimana bisa sebuah kecantikan bisa membawa sengsara pemiliknya, hanya Mas Eka yang bisa menuliskannya dengan tajam.

Cerita kehidupan kolonial dan kemerdekaan awal Indonesia berhamburan dengan seru, mencekam, dan sesekali lucu.

WARNING: Baca buku Mas Eka berarti harus siap-siap jatuh cinta dengannya.

5. Sihir Perempuan (2005, Intan Paramadhita)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.33.25 PM

Membaca buku Mbak Intan kebetulan beriringan dengan membaca karya-karya Mas Eka di tahun 2016 lalu. Buku Sihir Perempuan merupakan advokasi Mbak Intan terhadap paradigma buruk pada perempuan. Terlebih para stereotipe perempuan yang termarjinalkan.

Penuturan yang indah dengan balutan kisah-kisah yang dapat ditemukan sehari-hari membuat buku ini sangat sayang untuk dilewatkan. Baca segera dan kamu akan tersihir karenanya.

6. Raden Mandasia Si Pencuri Daging (2016, Yusi Avianto)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.35.03 PM

BUKUNYA BAGUS BANGET.

Sudah baca saja buat kamu yang suka cerita petualangan yang dibalut dengan kisah kolosal, kuliner, dan politik kerajaan macam Game of Thrones.

Beli segera dan jangan lupa beli kumpulan cerpen-cerpen Om Yusi sekalian. TIDAK AKAN MENYESAL!

7. Lupus (1986-2015, Hilman)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.44.20 PM

Perks sebagai kelahiran 90 adalah saya dapat menikmati kisah-kisah ngocol yang benar-benar lucu dan memiliki kedalaman cerita yang mendorong saya untuk belajar menulis dengan baik seperti Hilman.

Kisah Lupus benar-benar kaya dengan kemajemukan karakter-karakter di dalamnya dengan plot paling engaging sepanjang sejarah novel kontemporer Indonesia.

Novel lupus sudah dibaca oleh jutaan orang dengan seri-seri yang ditunggu oleh banyak orang di masanya.

Lupus pun bertransformasi menjadi ikon anak muda yang menjadi representasi masanya.

Ayo baca Lupus kembali dan siap-siap bernostalgia dengan jokes singkatan-singkatan yang mungkin sekarang akan terdengar garing.

8. Olga Si Sepatu Roda (1990-2002, Hilman)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.44.43 PM

Kamu akan jatuh cinta dengan cerita Olga dan kehidupan sehari-harinya. Sebagai seorang protagonis Olga hadir dengan karakter yang membuat orang ingin berteman dengannya atau menjadi seperti dirinya.

Menurut saya itulah kesuksesan Hilman sebagai seorang penulis. Membuat karakter dan narasinya hidup melintasi zaman.

9. Filosofi Kopi (2006, Dee Lestari)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.46.14 PM

Membuat daftar buku terbaik tanpa memasukkan karya Dewi Lestari merupakan sebuah dosa besar!

Lewat kumpulan cerpen ini, Dewi Lestari mencuat sebagai cerpenis andal dengan kedalam teknik bercerita lewat layer-layer misteri yang menonjok di akhir.

Mencari Herman masih menjadi cerpen favorit saya.

10. Pulang (2003, Leila S Chudori)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.47.06 PM

Buku babon yang ditulis dan diriset selama enam tahun oleh Leila Chudori merupakan sebuah pencapaian tertinggi dalam karya sastra Indonesia kontemporer yang mengangkat kisah perpetaan politik lewat dua zaman. 1965 dan 1998.

Dua tahun paling mencekam di negara Indonesia ini dibuat dengan sangat puitis dan romantis. Leila Chudori membuat sebuah karya yang tidak ingin siapa pun untuk diakhiri.

Kamu wajiib membacanya sebagai sebuah kesadaran zaman bahwa di Indonesia kita pernah memiliki sebuah masa yang begitu tragis dan memberikan luka yang belum terobati sampai sekarang.

+ 1

24 Jam Bersama Gaspar (2017, Sabda Armandio)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.48.01 PM

Saya membaca buku ini sepanjang perjalanan kerja saya selama dua hari saat naik Commuter Line, Bojong Gede-Tanah Abang. Jadi selama dua jam dalam sehari saya baca buku ini.

Dibuka dengan rencanan pencurian yang mencekam namun jenaka, membuat saya jadi penasaran akan ke mana arah cerita buku ini.

Seolah, membaca buku ini seperti ikut dalam proses pemecahan teka teki menyebalkan tersebut. Naratornya kadang cerewet, Gaspar seperti anak kecil gendut yang rewel namun tetap menggemaskan.

Setiap kejadian di dalam buku ini dipikirkan dengan matang dan detail. Dan tiba pada akhir buku sang penulis yang sudah memasang kail yang sudah dirajutnya dari awal awal bab dan vice verca, dalam sekali paragraf deduktif khas detektif, di akhir cerita kailnya siap menarik pembacanya pada perasaan psikologis mendalam pada titik paling rendah. Menelanjangi mereka dan ringsek dalam kehampaan.

Sialan. Gerutu saya sambil menyeka air mata yang tak henti turun saat Gaspar menjelaskan tentang si tetangga perempuan masa kecilnya itu. Dalam kereta pula, yang penuh orang.  Menutup buku ini, mengakhiri segala kisah random interview polisi dan flashback teman-teman Gaspar membuat dada saya sesak, after tastenya bikin galau, seperti kehilangan teman yang selalu ingin dimiliki namun keburu pergi entah ke mana.

Perhatian saja, membaca buku ini berarti pembaca harus siap dengan segala konsekuensi turbulensi yang ada di dalamnya.

Jika penulisnya mengklasifikasikan bukunya sebagai cerita detektif, sayangnya tidak untuk saya. Buku ini lebih mencuat sebagai surat cinta romantis dengan tambahan ironi yang satir di akhir. Tidak manis dan tidak pahit. Hanya pekat menyesakkan yang membuat lubang kosong di dada.


Membaca memang merupakan sebuah perjalanan tanpa henti. Menumbuhkan kecintaan pada membaca pun tidak melulu harus dimulai dengan sesuatu yang kesannya ‘berat’ dan kelewat ‘sastra eksklusif’.

Dimulai dengan menamatkan kisah Paman Gober pun tak mengapa. Atau Oki dan Nirmala di majalah Bobo juga masih oke.

Yang terpenting adalah pemahaman bahwa membaca dapat membukakan jendela yang menghubungkan pikiran dengan dunia adalah sebuah keharusan.

Karena ketika sudah sekali merasakan nikmatnya membaca, dapat dipastikan tidak akan bisa dihentikan.

Karena lewat membaca kita tidak hanya memperoleh pengetahuan, namun juga kekayaan imajinasi yang kini terasa mahal untuk didapatkan.

Jadi, buku Indonesia favorit kamu apa?

Review Buku Aroma Karsa: Petualangan Aroma yang Memabukkan

Menuju weekend ada baiknya mengonsumsi bacaan seru @deelestari terbaru yaitu #aromakarsa yang bisa membawamu pada petualangan yang tak ingin kamu hentikan!

Processed with VSCO with 6 preset

Cendana dan melati tak pernah gagal membengkokkan ruang dan waktu.

Sebuah pembuka yang langsung membawa imaji para pembacanya masuk ke dalam dunia keluarga kaya Prayagung dengan segala rahasia di dalamnya.

Novel terbaru Dee Lestari yang cukup tebal, sebanyak 700-an halaman, mengangkat tema baru dalam perbukuan Indonesia. Yaitu dunia aroma.

Alasan mengapa Dee mengangkat tema tersebut karena ia merasa masih sedikitnya narasi cerita yang mendeskripsikan aroma sebagai kekuatan bercerita.

Kisah sentral Aroma Karsa berada pada pencarian Puspa Karsa. Sebuah kekuatan yang mampu memberikan pemiliknya kelanggengan kekuasaan.

Dari sana Raras Prayagung, pemilik perusahaan parfum terkemuka di Indonesia bernama Kemara, dengan sabar merencanakan ekspedisi tersebut selama berpuluh-puluh tahun. Sampai akhirnya Raras menemukan dua orang yang diramalkan dapat membantunya menemukan Puspa Karsa mengandalkan keistimewaan bakat mereka.

Mereka adalah Jati Wesi dan Suma.

Dua orang yang hidup dengan kontras kelas sosial berbeda namun memiliki satu persamaan yang mengunci mereka dari kebanyakan interaksi sosial orang pada umumnya.

Jati dan Suma dilahirkan dengan penciuman super yang sering kali menyiksa mereka dan dialienasi dari kesederhanaan hidup.

Dari sana konflik, petualangan, juga misteri menuju Gunung Lawu menjadi santapan bergizi untuk dibaca tanpa henti.

Seperti layaknya kisah petualangan, seiring berjalannya cerita satu persatu tabir peristiwa yang mencekam pun mengejar mereka.

Apakah ekspedisi pencarian Puspa Karsa akan berhasil?

Temukan jawabannya dengan membaca novel Aroma Karsa ya!

Saya sebagai pembaca di awal cerita sangat asik dibawa pada perkenalan kikuk antara Jati dan Suma. Meskipun sengit namun romansa melankolia Jati ke Suma sangat mengharu biru.

Mulai dari surat-surat cinta Jati yang tak pernah sampai, pembuatan parfum atas wangi tubuh Suma, juga keintiman yang dirasakan lewat kesamaan nasib melahirkan obsesi satu sama lain yang membuat kisah Jati dan Suma begitu manis juga pahit secara bersamaan.

Pembaca dibuat mabuk juga gemas dengan tingkah mereka berdua.

Dan bukan Dee Lestari namanya jika tidak melakukan riset mendalam untuk melahirkan tiap-tiap karya yang ia buat. Dee sampai pergi ke Singapura untuk mengikuti kelas pembuatan parfum dan berkunjung ke daerah Bantar Gebang untuk melihat langsung bebauan dan situasi yang ada di sana.

Sehingga dalam buku Aroma Karsa narasi dan deskripsi Dee yang begitu detail dan kaya akan dunia aroma terasa hidup hingga ke hidung pembacanya.

Namun, sejujurnya yang agak mengganjal buat saya sebenarnya ada di seperempat akhir halaman. Ketika tensi ekspedisi ke Gunung Lawu dimulai. Saya mengharapkan ada sesuatu yang besar terjadi. Seperti pertempuran epik atau pun tragedi-tragedi dengan drama yang meremukkan bak di cerita Game of Thrones.

Konspirasi yang dijahit dari awal cerita pun saat menuju akhir terhempas begitu cepat dan terkesan terburu-buru.

Terlepas dari itu semua, saat menamatkan cerita Aroma Karsa diri saya masih dihinggapi perasaan bungah yang menyenangkan. Petualangan setebal 700 halaman ini menciptakan sebuah dunia yang tidak pernah disadari sebelumnya. Dan rasa cinta saya pada karya Dee Lestari pun semakin mendalam.

Yang mau saya saluti dari peluncuran novel Aroma Karsa adalah strategi marketing yang dijalankan oleh Dee Lestari and co. Lewat campaign ‘menghidupkan kembali nuansa cerita bersambung’, Dee beserta segenap tim Bookslife membentuk komunitas yang bisa menjadi agen voluntir tersendiri untuk menyebarkan kekuatan Aroma Karsa ke banyak orang.

Mengumpulkan pembaca avid pada satu kanal merupakan langkah yang tepat. Karena dengan berinteraksi di sana ada suatu eksklusifitas yang mampu menggerakkan para anggota untuk menjalin keterikatan lebih dalam dari sekadar teknik marketing PO dan bonus tanda tangan belaka.

Saya pernah membahas lebih detail tentang pengalaman tribe digital Aroma Karsa di sini.

Ditilik lebih dalam lagi menurut kaca mata marketing digital, peluncuran Aroma Karsa dalam bentuk cerbung lewat sebuah paltform Bookslife membuktikan bahwa adaptasi adalah motor menuju penyelesaian jurang masalah.

Mengejar awareness di kalangan milenial akan terasa lebih mudah dijangkau karena toh mereka memang yang lebih ramah teknologi.

Media baru (yang meskipun banyak ditemukan bugs dll) tersebut berhasil menimbulkan behaviour yang diinginkan dari awal. Semangat menunggu membaca cerita bersambung. Ketika atensi dan word of mouth didapat, maka pergerakkan penjualan Aroma Karsa akan naik pula. Karena audience pool sudah ada, maka tinggal bagaimana me-retain user tersebut untuk tetap kembali.

Kejeniusan ini dapat dilihat akan bagaimana moderasi Dee Lestari yang turun secara langsung menjadikan semangat tersendiri para anggotanya untuk terus berinteraksi dalam kanal tersebut.

Fanbase memang mutlak sesuatu yang dibutuhkan dalam mempromosikan sebuah produk. Namun, terlepas sekeren apa pun gimmik marketing yang ada jika karyanya tidak mumpuni semua akan terasa sia-sia.

Beruntungnya Dee memeiliki kesemua formula tersebut: Karya yang bagus+fanbase kuat+teknik marketing komunitas = Another hits dari Dee Lestari.

 

Well, anyway, di Instagram saya membuat hashtag #bacaanserufiguranjakarta yang mengulas buku-buku seru yang siapa tahu bisa menemani me time kalian. Feel free untuk dilihat ya!

Screen Shot 2018-03-23 at 10.02.25 AM

Akhir kata sukses buat Dee Lestari untuk novel terbarunya dan untuk teman pembaca sekalian jangan lupa untuk membeli bukunya dan mulai membaui petualangan mencari Puspa Karsa. Siapa tahu kalian yang beruntung mendapatkannya 🙂

Semacam Review Film Jomblo Jika Tidak Salah

Tahun itu 2006, gue berumur enam belas tahun dan masih duduk di bangku kelas dua SMA. Banyaknya waktu yang ada kala itu membawa gue membaca novel berjudul Jomblo karya Adithya Mulya.

Bukunya bagus. Banget. Dan sejak itu gue ngefans sama Adithya Mulya. Lalu gue pun membaca buku keduanya, Gege Mengejar Cinta. Tidak ada yang lebih indah dan menyakitkan daripada membaca buku tersebut.

Adithya Mulya mampu membuat gue ketawa dan nangis di waktu bersamaan. Begitu kuat, sampai meyakinkan diri gue selama bertahun-tahun yang datang bahwa gue ingin menjadi sosok pria seperti Gege. Yang menantikan cinta dengan sabar dan hati-hati.

Hingga pada akhirnya, sepuluh tahun sudah, cinta yang gue nantikan dengan sabar dan hati-hati itu tidak pernah hadir dan hanya berupa kepingan-kepingan cerita picisan yang usang seiringnya waktu. Janur kuning sudah menyilang dan semua sudah berubah.

Tidak ada Gege, tidak ada cinta yang berbalas, persis seperti yang diceritakan Adithya Mulya. Hanya menyisakan gue yang betul-betul menjelma menjadi si hopeless romantic. Bedanya gue dengan Gege, gue sinis, apatis, dan lebih judes.

Mau gimana lagi? Hidup di Jakarta kalau enggak gitu bisa stress kali.

Lalu di tengah malam minggu di Juli 2017 yang random, padahal besok pagi-paginya gue harus dokumentasiin tunangannya Firman. Gue memilih begadang dan membuka file-file film di hardisc dan menemukan film Jomblo. Tidak disengaja tentu saja.

Jomblo menurut gue merupakan karya terbaik Hanung Bramantyo dalam mengadaptasi cerita dari novel dan meneterjemahkannya ke bentuk visual. Dulu film ini begitu iconic, sampai membawa nama Ringgo Agus menjadi bintang film besar. Akting Ringgo yang memiliki kemampuan komedi yang khas membuat adegan saat ia memakai kostum ayam mengelilingi kampus menjadi scene yang menggemaskan.

Seperti melihat cowok nerdy khas Michael Cera. Kalau adegan itu di reproduksi ulang dan yang main adalah Raditya Dika atau para komika-komika gengnya, hasil yang didapat mungkin adalah candaan yang dipaksakan dan ngebuat gue mau muntah. Like, “Nyet ape sih!”.

Namun di film Jomblo semua terasa effortlessly, menandakan bahwa pembuatannya tidak main-main.

Setelah beres nonton filmnya, after taste yang didapat masih sama. Film Jomblo masih menyisakan perasaan sesak setelahnya. Menandakan bahwa film Jomblo memang sebuah karya dengan presentasi yang baik.

Masih di tahun yang sama, saat DVD filmnya keluar si R langsung membelinya dan kita berdua nonton di kamarnya dengan khidmat.

Di tengah-tengah film, ia kemudian berkomentar, “Gue harus kuliah di Bandung, punya geng seperti di film ini.”

Menarik, film selalu mampu menggerakan orang untuk menjelma menjadi salah satu karakter di dalamnya atau hidup dalam narasi cerita yang mereka sukai.

“Bagian mana yang elo suka?” tanya gue setelahnya.

“Konsep pacarannya, kuliah di Bandung bebas ya,” jawabnya sederhana.

Memang. Bahkan hubungan Lani dan Agus begitu ideal untuk dimiliki.

Lalu, saat kami berdua masuk waktu kuliah. Tidak ada satu pun di antara kami yang berkuliah di Bandung. R masuk jurusan Teknik seperti yang ada di film Jomblo, R berpacaran dan berselingkuh, R memutuskan hubungan beberapa kali, R berhubungan sex pada akhirnya, dan R menjadi jomblo lagi. Namun kini mengganti referensi filmnya.

Gue?

Dulu mencintai R, melupakan R, jika sedang sendiri kadang kangen dengan R, lalu bertemu D, D punya pacar lain, R hadir lagi, R brengsek lagi, dan voila kami tidak berbicara selama bertahun-tahun. Namun kadang rindu itu masih ada.

Tapi kini di umur 27, gue menyadari bahwa obsesi kami untuk menghidupkan narasi Jomblo dan segenap sekuens di dalamnya atau mengingingkan menjadi atau menemukan karakter persis seperti di film tersebut adalah sebuah usaha kesia-siaan.

Karena yang kami lupa, semua itu hanya film. Semua hanya rekaan. Dan mungkin propaganda.

Seperti menyesap kepahitan yang menempel di lidah, jika dalam satu waktu berkunjung ke Bandung atau menyebut salah satu keyword yang berhubungan dengan film atau novel Jomblo. Rasa sakit dan perihnya masih ada.

Mengingatkan gue dengan sedikit mengejek bahwa gue pernah sebodoh itu percaya bahwa sex harus menunggu saat nikah dan cinta adalah milik semua orang.

Karena kenyataannya, kedua-duanya hanya bohong belaka.

fictions_jombloadit