Tentang Satu Orang Asing di Kereta

Kala itu saya pernah berfikir bahwa manusia bergerak tiap harinya karena rasa takut.

Karena dengan rasa takut, seseorang ‘dipaksa’ untuk berusaha sebaik mungkin agar tidak tereliminasi dalam suatu sistem. Pekerjaan, komitmen, atau bahkan kehidupan.

Sehingga setiap harinya, manusia ditekan baik secara sadar maupun tidak untuk berkompetisi dengan yang lain.

Namun yang baru saya sadari, lambat laun karena semakin beratnya kompetisi itu, rasa takut tersebut kian lama menjelma menjadi sebuah ketakutan.

Perlu digaris bawahi bahwa rasa takut dan ketakutan adalah dua hal yang berbeda. Rasa takut pada dasarnya cenderung membuat orang menjadi lebih kreatif dan berfikir untuk membuat solusi. Sedangkan ketakutan, hanya akan menjadikan seseorang paranoid. Begitu jelas bahwa ketakutan dibangun berdasarkan ketidakpercayaan diri dan asumsi kosong belaka.

Itu yang menurut saya sangat berbahaya.

Blue Monday is a name given to a day in January (typically the third Monday of the month) reported to be the most depressing day of the year and January the worst month for suicides, it’s always good to talk but even better to listen. – @mssechan

 

Setiap harinya, percaya atau tidak, saya berangkat bekerja dengan perasaan ‘ketakutan’ itu. Bahwa saya tidak cukup baik dalam bekerja, bahwa saya tidak cukup pintar, bahwa saya selalu membuat kesalahan. Kemudian ditambah dengan pikiran, ‘kalau dipecat nanti cicilan bagaiamana’, ‘aduh, hutang kartu kredit belum lunas’, ‘nanti bayar internet bagaimana’. Semua pikiran negatif bergumul menjadi satu dan akhirnya menuntun saya pada suatu depresi yang bahkan saya tidak sadari sebelumnya.

Kebanyakan orang di Indonesia masih belum menyadari bahwa diri mereka sedang dilanda depresi. Yang mereka tahu, apa pun yang terjadi selama badan masih bisa bangun, mereka harus menyeret badan mereka menuju sistem yang bahkan dari awal mereka tahu mereka akan kalah. But they are keep doing it.

Termasuk saya.

Tiap harinya saya seperti orang tersesat yang kehilangan semangat dalam melakukan apa pun. Saya seperti hanya ingin tenggelam dalam kubangan perasaan kalah dan tidak ingin bangun lagi.

Berbulan-bulan saya menekan perasaan itu, dan keadaan tidak menjadi lebih baik.

Apa yang salah?

Depresi bukan sebatas rasa malas atau muram durja kesedihan yang seperti digampangkan orang-orang. Depresi layaknya penyakit lainnya. Ia menyerang seseorang dan membuat penderitanya lumpuh. Mungkin tidak terlalu kentara pada fisiknya. Namun jiwa kosong dan berbagai ketakutan itu menjadi bola salju yang mereka gopong tiap hari.

Dan satu senyuman dan ucapan terima kasih dari satu orang asing di kereta, terkadang membebaskan. Meskipun sebentar. Meskipun samar-samar. Namun kehangatannya tetap menempal sama.

Advertisements

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

Pulang

screen-shot-2016-12-11-at-2-13-05-am

Sepi bukan tamu yang baik. Ia tidak datang dengan permisi. Ia datang tiba-tiba, di Jumat malam disaat jalanan Jakarta macetnya bak neraka. Semua orang berlomba-lomba untuk mendatangi satu cafe, atau bar, atau hotel untuk berpeluh kesah dengan sahabat atau pasangan.

Tapi tidak bagi Sara. Hanya satu yang diinginkannya detik itu.

Pulang ke kosannya.

Ia sudah membayangkan tidur-tiduran di bawah AC, menikmati pedasnya empek-empek sendirian sambil menonton series maraton hingga pagi hari.

Sambil menunggu ojek online-nya datang, Sara bergabung dengan banyak karyawan lainnya di lobi bawah menanti sang driver untuk menjemput mereka.

Setidaknya kali ini ia tidak dikelilingi rasa sendiri yang menikam pelan di balik handphonenya yang kini sepi oleh pesan-pesan singkat yang dulu sering menanyakannya; kapan ia pulang, makan dimana nanti, atau hanya sekadar ucapan hati-hati di jalan. Pikir Sara.

Ia mulai gelisah dan perlahan menggigit ujung sedotan ditangannya. Kebiasaan tersebut akan refleks ia lakukan jika ia sedang takut, gelisah, maupun marah. Entah perasaan mana yang ia rasakan sekarang. Ia pun memutuskan untuk mematikan handphonenya. Namun sebelum ia sempat mencapai tombol power, ada sebuah panggilan masuk.

Dari ibu.

Sara mengangkat telfon tersebut dengan malas. Hal yang paling ia tidak suka dari Ibunya adalah ia tidak suka ditolak. Yang berarti jika detik ini si Ibu memintanya untuk ia bergegas naik taxi dan pulang ke rumah dan menjaga si adik yang dengan mati-matian ia coba hindari, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Ia harus langsung pulang. Sekarang. Sesegera mungkin. Konsep yang ia tidak suka selama beberapa tahun terakhir.

Ia membayangkan melewati macet yang teramat tidak masuk akal, ia menembus jalanan Sudirman menuju Rawamangun. Rumah lamanya.

Tempat yang dulu pernah ia sebut rumah.

Tempat pertama kali ia membawa pulang mantan pacarnya dan memperkenalkannya pada Ibu dan adiknya. Ia kembali teringat laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata malah berpacaran dengan adiknya.

Kembali ia menggerutu dan menggigit sedotannya.

Benci mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Sara terhadap adiknya Sena. Entahlah, jika ada kata yang tepat untuk menggambarkan kekesalan, perasaan kecewa, marah, tertipu, terkhianati berkumpul menjadi satu.

Sena.

Sena si cantik, Sena si berbadan lebih langsing dibanding dirinya, Sena yang selalu menarik dikalangan laki-laki. Sena, adiknya sendiri, yang dengan sengaja mengiyakan ajakan pacarnya untuk berpacaran. Kemudian menikah hanya dalam hitungan empat bulan.

Sedangkan saat bersamanya, ia butuh waktu setahun untuk si laki-laki brengsek itu mau datang ke rumah bertemu dengan orang tuanya.

Brengsek. Ucapnya kesal. Mungkin agak terlalu keras hingga beberapa orang menatapnya bingung.

‘Ada apa sih? Memang suaminya ke mana?’ tanya Sara kesal.

‘Tabrakan, Kak. Koma. Kamu ke rumah ya. Kasihan, sedang hamil pula. Mamah masih di rumah sakit ngurus bareng papah.’

Setelah kalimat itu usai, Sara mencoba mencernanya secara perlahan. Menit kemudian, driver ojek onlinenya datang, dan dia mengganti destinationnya ke arah Rawamangun.

Ketika sampai di depan gerbang rumahnya, si adik menyambutnya dengan tatapan sedang-apa-kau-disini? Mereka hanya bertatapan beberapa detik, kemudian Sara memilih masuk ke kamarnya. Tanpa menyapa Sena.

Ia menatap ke sekeliling ke kamar lamanya. Ia masih melihat foto-foto semasa ia remaja sampai kuliah. Beberapa buku yang dulu ia baca di pojok kamarnya sambil melihat keluar. Lalu sampailah ia pada tumpukan cd dan kaset usangnya. Masa di mana memutar kaset dan cd adalah cara umum untuk menikmati sebuah musik.

Ia tersenyum sendiri saat melihat label-label pada deretan cd dan kasetnya.

Seleksi sebelum berangkat sekolah. Seleksi minggu sore. Seleksi patah hati.

Tangannya pun menarik satu kaset dalam seleksi patah hati dan menaruhnya di dalam walkman di sampingnya. Ia masukkan baterai cadangan yang tercecer di kotak sebelahnya.

Awalnya agak tersedat sedikit, namun ia dapat mendengar alunan musik masuk ke kedua telinganya.

Nobody does it better
Makes me feel sad for the rest
Nobody does it half as good as you
Baby, you’re the best

Akumulasi patah hati dan kesendiriannya menggerakannya untuk menyanyikan lagu tersebut. Lebih tepatnya menjerit-jerit.

Entah dari mana datangnya, air mata membasahi seluruh wajahnya, dadanya terlalu sesak dengan memori masa lalu. Ia terus berteriak hingga ia lupa bahwa Sena telah berada di belakangnya. Mengamatinya sedari tadi ketika Sara mulai mengganti fungsi sisir menjadi mikrofon khayalannya.

Sara membalikkan badannya, kemudian ada jeda beberapa detik diantara mereka. Tanpa perhitungan yang pas ia bergegas menuju adiknya. Berhamburan memeluknya.

Tidak pernah ia seintim ini dengan Sena. Tidak pernah sekalipun ia memikirkan hal tersebut.

‘Saya takut ia meninggal, saya takut kamu sendirian. Sendirian itu enggak enak.’ Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil ia menangis sesegukan.

Sena terdiam. Beberapa detik tanpa reaksi. Sara terus melanjutkan tangisannya.

‘Maafkan saya. Untuk semuanya,’ ucap Sena pelan. Ia membelai rambut Sara dan membalas pelukan kakaknya.

Sara terus menangis, yang entah mengapa ia tidak bisa untuk menghentikannya.

‘Tenang. Kamu sudah di rumah,’

Pelukan itu semakin erat, kehangatan menjalar ke tubuh mereka berdua.

Mungkin ini yang Sara butuhkan. Mungkin ini yang Sena butuhkan.

Ditemani.

Malam ini.

Cukup.

Hanya itu.

Dan pelan-pelan perasaan kesepian itu pun berganti menjadi sedikit bernada.

And nobody does it better
Though sometimes I wish someone could
Nobody does it quite the way you do
Why’d you have to be so good?