Review Buku Lengking Burung Kasuari: Kehangatan Kisah Anak Kecil Bernama Asih di Tanah Timur Indonesia

Revie Novel Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016

Advertisements

Processed with VSCO with a6 preset

Akhirnya setelah tidak terganggu dengan menonton series atau distraksi dari konten Netflix lainnya saya kembali memiliki waktu untuk membaca dan menamatkan buku yang masuk ke daftar #bacaanserufiguranjakarta.

Kali ini judul buku yang dibaca adalah Lengking Burung Kasuari karya Nunuk Y Kusmiana terbitan Gramedia tahun 2017 yang menjadi salah satu pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ tahun 2016 silam.

Novel ini begitu memikat dengan narasi yang disampaikan dari sudut pandang anak berusia enam tahun bernama Asih.

Novel setebal 224 halaman ini menceritakan kisah hidup masa kecil Asih selama di Irian pada tahun 70an.

Terakhir kali saya membaca buku jenis seperti ini dengan konten yang kaya akan deskripsi sosial dari keluguan mata anak kecil adalah sewaktu SD dulu. Buku-buku terbitan Balai Pustaka berkisah dengan nada yang sama.

Di buku Lengking Burung Kasuari ini sang penulis menghadirkan kedekatan realita remeh domestik yang dapat ditemukan sehari-hari namun dengan kedalaman deskriptif yang membuai.

Yang paling saya soroti adalah kehebatan penulisnya dalam memasukkan unsur ‘kemajemukkan’ jika tidak mau disebut perbedaan pada tiap-tiap penghuni di lingkungan Asih tinggal dengan sentuhan yang sama. Tidak ada yang lebih riuh maupun rendah.

Gesekan budaya dan perbedaan agama mewarnai keseharian Asih namun tidak secara normatif. Perbedaan itu hadir, tertutup rapat, namun ia dapat merasakannya.

Perspektif yang membuat pembaca muda agar mengingat bahwa perbedaan itu hadir secara biasa, normal, sampai ketika manusia beranjak dewasa dan mereka memperumit semuanya.

Intrik dan drama yang disajikan pun kadang begitu lucu karena masalah yang terjadi di dalamnya berada dalam semesta berfikir anak kecil. Terkadang semuanya selesai secara pragmatis dan sederhana atau membawa perubahan dalam hidupnya yang tidak Asih mengerti. Karena keputusan politik rumah berada di tangan orang tuanya.

Namun yang jelas, membaca buku ini, saya sebagai pembaca dibawa dengan asyik ke keseharian Asih yang selalu ditinggal pergi oleh Ibunya yang berjuang dengan berdagang dan Ayahnya yang seorang ABRI.

Keceriaan Asih hadir ketika dapat melihat Ibunya di siang hari atau bisa dengan tenang mendengarkan dongeng Ayahnya sebelum tidur.

Tak pelak, kadang kesepian Asih membawanya pada petualangan-petualangan baru yang mewarnai hidupnya bersama Tutik sang adik.

Mereka akan menelusuri jalan-jalan panas beraspal selama dua jam hanya demi menemui Ibunya di toko yang begitu jauh dari rumahnya. Atau bersungut dengan Sendi tetangganya yang merupakan temannya satu satunya demi memakan buah dari pohon kersen dan berpotensi dikejar-kejar burung kasuari dengan paruh yang lumayan jika kena patok nanti.

Tak hanya keluguan anak kecil saja yang muncul, namun juga keresahan pun dialami Asih. Ketidaknyamanan akan ancaman tetangganya, Tante Tamb, adalah perjuangan tersendiri baginya. Bagaimana dengan segala konflik di dalamnya ia berusaha menghindari keblingsatan tetangganya tersebut.

Buku ini meninggalkan kehangatan yang sederhana. Seperti kembali ke masa lalu, di usia muda, dengan permasalahan yang berjarak antara di suruh mandi, tidur siang, dan mengerjakan PR.

Dan ketika mengakhiri kisah Asih dengan menutup buku ini, saya menyadari bahwa kecantikan Buruh Kasuari yang jarang dilihat Asih menjadi begitu memesona sampai Asih meninggalkannya dan tidak pernah melihatnya lagi. Seperti banyak keindahan lainnya yang terlambat untuk disadari dan sudah terlanjur hilang.

Buku yang bagus. Selamat membaca!