Sang Penari: Kisah Cinta Yang Merah

cb56e56a1cb96c5216b23751b3c96712

Sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. Apalagi mereka yang hidup dalam perbedaan kelas dan merasakan beratnya gesekan sosial politik di tempat yang mereka diami. Bisa dipastikan panah dewa cinta tak akan melirik sama sekali.

Dapat dibilang film Sang Penari merupakan film tentang cinta. Menceritakan kisah cinta antara Rasun dan Srintil.

Namun sayangnya, kisah cintanya tidak semembara Cinta dan Rangga. Tidak juga seharu biru Habibi Ainun.

Kisah cinta Rasun dan Srintil terasa pahit dan pilu. Jenis cerita cinta yang ketika kamu selesai menontonnya seperti ada lobang bolong merongga di dadamu. Bagai luka yang membekas dan enggan kamu obati. Karena di sana letak kenikmatannya, luka perih yang bisa kamu mainkan karena ternyata rasanya menyenangkan.

Begitu pula Rasun dan Srintil, meski cerita mereka perih dan mengoyak kalbu, namun itu tidak berarti cerita mereka tidak indah.

Keindahan kisah cinta mereka berada pada polemik dan kehancuran mereka sendiri.

Sang Penari secara jenius menggabungkan unsur adat, seni, romansa, dan panasnya situasi politik dengan presentasi yang kuat dan juga menawan.

Film diawali dengan keriuhan kampung Dukuh Paruk pasca penggerebekan oleh pihak militer. Kemudian laki-laki berbaju tentara itu menemukan bapak tua buta yang masih mengingatnya.

Cerita pun bergerak dari sana. Sebuah flashback hitam akan bagaimana ronggeng yang menjadi jantung dari Dukuh Paruk hancur karena segenggam tempe bongkrek. Dan Srintil ada di tengah-tengahnya. Menyaksikan bagaimana penari ronggeng pujaannya keracunan, dan bagaimana warga desa begitu kejam membiarkan mayat kedua orang tuanya membusuk begitu saja.

Tahun berlalu, Srintil pun menjadi perempuan dewasa yang rupawan dengan segenap hasrat untuk joget, menjadi seorang ronggeng. Siap menyuburkan kembali ekonomi kampung dan berbakti pada Eyang leluhur.

Namun jalannya tidak mudah, pertentangan hadir dari Dukun Ronggeng. Dengan penuh rasa enggan, Rasun yang awalnya menolak Srintil menjadi seorang ronggeng mau tak mau membantunya dengan memberikannya keris kecil peninggalan penari ronggeng terdahulu. Itu semua menandakan bahwa Srintil adalah penari pilihan langit. Srintil pun resmi dinobatkan sebagai penari ronggeng yang baru.

Kejayaan Srintil pun membawa kemakmuran kampung, seisi Dukuh Paruk kembali riuh dengan geliat joget Srintil. Sampai cinta Srintil dan Rasun pun diuji dengan prosesi buka kelambu.

Sebuah adat di mana keperawanan sang ronggeng dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Rasun bukan lelaki kaya. Ia hanya pekerja serabutan, sedang ada ratusan laki-laki yang siap untuk meniduri Srintil. Ia bukan pesaing.

Tetapi hati Srintil sudah terpaut pada Rasun. Keperawanannya pun ia serahkan pada Rasun. Dengan konsekuensi Rasun meninggalkannya. Karena Rasun tidak mampu melihat Srintil menjadi ronggeng. Meminjam ungkapan yang dipakai oleh Rasun, “ia tidak mau melihat Srintil seperti pohon kelapa yang siapa pun bisa menaikinya”.

Rasun pergi, menjadi seorang tentara. Sedang Srintil tetap menari.

Tahun 65 takdir membawa mereka kembali bertemu, dengan situasi yang berbeda. Panasnya peta politik antara PKI dengan negara menyeret Srintil dan Rasun pada pusaran yang sama.

Alih-alih didaftarkan menjadi penari istana seperti yang dijanjikan, Srintil yang tidak bisa membaca (pun seisi kampung Dukuh Paruk), nama mereka dijadikan simpatisan PKI. Yang nantinya daftar tersebut membawa mereka pada sang malaikat maut.

Melihat Srintil yang dibawa oleh tentara lainnya, Rusun dengan segenap kemampuannya berusaha untuk menyelamatkan Srintil. Namun semuanya terhalang. Srintil tetap pergi, kini ditangan sang maut.

Di akhir film, tahun berganti, Rasun secara tidak sengaja mendatangi bunyi gendang yang ia kenal di sebuah pinggir jalan. Di sana ia menemukan Srintil. Ia tetap perempuan yang sama yang ia kenal. Ia tetap menari. Namun saat mata mereka bertemu, Srintil kembali pergi. Kini dengan kelegaan.

Film pun ditutup dengan sangat poetik dan sinematik dengan tarian Srintil menuju ketiadaan yang panjang. Dan meninggalkan perasaan agoni dan gemetar haru saat scene tersebut usai.

Membahas Sang Penari

Sang Penari bukan film yang dibuat sembarangan. Film ini diangkat dari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karangan Ahmad Tohari. Salah satu buku sastra paling penting di Indonesia.

Film ini pun memakan riset selama dua tahun untuk memberikan keontetikan situasi terutama pada scene penggerebekan kampung oleh militer yang kemudian membawa pada pembantaian masal.

Menurut saya pribadi, jika dirunut ada empat pembahasan penting dalam film sepanjang seratus menit lebih ini. Yaitu mengenai:

  • Adat
  • Kisah Cinta
  • Tubuh Perempuan
  • Politik 65

Dalam aspek adat kita dapat melihat betawa piawainya Prisia Nasution memerankan Srintil. Musik dan tariannya begitu mistis, memikat siapa pun yang menyaksikannya. Jelas sekali bahwa dari awal tujuan hidup Srintil adalah menari, meneruskan rantai budaya dan membersihkan nama baik keluarganya yang kandung rusak karena kejadian semasa ia kecil. Tidak banyak film Indonesia yang begitu otentik mengangkat budaya awal ronggeng yang ditampilkan dengan layak. Tidak hanya sekadar tempelan dan pemanis. Namun secara sadar, peran tarian di sini adalah sentral dari bergeraknya cerita dari awal hingga akhir.

Hal yang juga penting diamati lebih dalam lagi adalah bagaimana dalam konteks film ini, sebagai penari ronggeng, tubuh Srintil adalah alat. Ia kendaraan untuk mendapatkan materi. Sesuatu yang sudah tidak asing di budaya yang patriarki di Indonesia ini. Namun yang menarik adalah, tubuh Srintil pun laksana potret keagungan maha kuasa. Siapa pun yang tidur dengan Srintil niscaya akan mendapatkan kesuburan dan kesuksesan.

Fenomena ini membuat Srintil memiliki power dan kendali di sana. Ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Meskipun, sangat disadari bahwa dalam masyarakat Dukuh Paruk, otoritas tubuh Srintil hanyalah sebatas adat. Sesuatu yang bisa mereka miliki bersama. Bukan lagi sesuatu yang bersifat personal.

Membahas politik, film Sang Penari patut diacungi jempol. Dengan berani film ini membahas kisah kelam tahun 65. Isu yang jarang hadir dalam perfilman Indonesia modern.

Betapa muatan politik di film ini mengalir dengan sangat jelas dan tepat pada temponya. Kerusuhan enam lima dengan nyata digambarkan dengan todongan dan teriakan tentara pada para warga yang tidak mengetahui apa pun. Rasa takut mereka menular di film ini.

Mereka adalah korban. Korban ketidaktahuan yang diberantas karena kepentingan elit politik. Betapa adegan saat Srintil bertanya mengenai apa maksud dari namanya ditulis dalam sebuah carik kertas yang ia bahkan tidak dapat baca, adalah gambaran paling lugu mengenai keterikatan rakyat kecil dalam pusaran politik saat itu.

Korban kebanyakan di tahun enam lima mungkin adalah mereka yang sebenarnya tidak mengetahui apa itu komunisme, yang mereka tahu itu adalah partai yang memihak para petani. Dan dalam satu kali gilas, hampir jutaan korban rakyat jelata itu pun hancur dalam ketiadaan. Ini menegaskan bahwa kita, saya dan kamu, siapa pun itu adalah mahluk politik yang bisa saja terjerat konflik kapan pun.

Adegan yang mencekam antara militer dan ketakutan warga kampung digambarkan begitu realis hingga saat cerita cinta yang pilu itu selesai, film Sang Penari menawarkan menu lain bagi penontonnya.

Apakah kita akan mengingat sejarah ini lalu membongkarnya? Atau hanya diam membiarkannya?

Sembari kita memikirkan jawabannya, mungkin di sana, yang pasti Srintil akan terus menari. Hingga sendi-sendi dalam tubuhnya perlahan berhenti.

Ngenest: Becanda Yang Ada Isinya

Ngenest-Poster

Semua orang pasti sepakat bahwa Ernest Prakasa adalah seorang aktor yang baik. Dia selalu menyampaikan semua dialog dengan gerakan yang nyata. Gue akan percaya dengan setiap peran yang dia mainkan. Baik di Comic 8 sebagai seorang perampok gila atau perannya menjadi karyawan nyebelin di Sabtu Bersama Bapak. Semua dia mainkan dengan sangat flawless.

Lalu di akhir tahun 2015, Ernest muncul dengan film Ngenest, karya pertamanya sebagai seorang sutradara sekaligus aktor di dalamnya. Latar belakang Ernest sebagai stand up comedian yang satu geng dengan Raditya Dika membuat gue ragu dengan film ini. Karena jujur aja, gue enggak pernah  menikmati jokes jomblo Raditya Dika yang di abuse terus menerus. Maka gue memiliki ketakutan bahwa film ini tidak akan jauh berbeda ceritanya seperti film-film Raditya yang lain, yang kisahnya hanya berputar tentang derita jomblo dan sexism cewek pas masa pacaran. Seabsurd itu, kesannya enggak ada topik lain di dunia ini yang lebih penting dibanding jadi jomblo dan cewek yang enggak bisa satu frekuensi sama elo.

Tapi ternyata Ngenest hadir di luar ekspektasi, ia muncul sebagai film komedi yang renyah namun memiliki statement yang kuat. Ngenest menampilkan kisah menjadi minoritas di Indonesia. Dengan mostly karakter di filmnya adalah keturunan Cina.

Sesuatu yang bisa dibilang jarang ada di Indonesia, karena biasanya tokoh dan karakter Cina berhenti sebagai kokoh penjual barang klontong saja. Tapi di sini, sebagai film coming age, Ernest menawarkan kisah menarik dari betapa tidak enaknya menjadi etnis Cina di Indonesia. Bagi siapa saja yang menontonnya, baik itu pribumi atau memang peranakan Cina, pasti pernah bergesekan dengan isu ini. Suka tidak suka, beberapa tampilan adegan di film ini berusaha menyentil kita bahwa menjadi berbeda itu tidak enak dan tidak seharusnya diperparah dengan hinaan yang malah memperparah semuanya. Tenang, seperti yang gue bilang tadi, semuanya dibalut komedi.

Cerita di mulai dari masa pembulian Ernest dari bangku sekolah, ia dengan fisik yang berbeda dengan anak-anak lainnya membuatnya menjadi sasaran bully dan kolekan yang empuk. Lambat laun, muak dengan nasibnya, ia pun memiliki pikiran bahwa untuk memutus tali kesengsaraan minoritas ini adalah dengan memperbaiki keturunan. Yaitu dengan menikahi cewek pribumi.

Semua pun terwujud dengan Ernest menikahi Mei, cewek yang ia temui secara tidak sengaja di tempat les bahasa Cina saat ia kuliah di Bandung. Mei diperankan dengan sangat apik oleh Lala Karmela.

Lalu setelah satu jam berlalu, konflik cerita muncul dengan ketakutan Ernest jika nanti anaknya terlahir sebagai Cina juga. Turbulensi yang menggoyang semesta sempurna hidup Ernest. Dan film pun diakhiri dengan win win solution di mana Ernest memiliki anak perempuan Cina, namun dengan kondisi di mana ia sudah menerima fakta bahwa, it is okay to have anak sipit, asal dia selalu ada buat anaknya, dan enggak lari dari dia. Tamat.

Film berdurasi satu jam dua puluh delapan menit itu berhasil membuat gue penasaran akan nasib masing-masing karakter di film Ngenest. Akting semua karakternya pun enggak ganggu. Pas. Bahkan mereka dapat mendeliver jokes dengan timing yang tepat. Meski ada beberapa jokes yang hit and miss. Tapi ya, bikin film komedi emang susah kan, jadi gue manut aja.

Tapi yang sangat mengganggu buat gue adalah akan tempo narasi film ini. Karena selama satu jam awal, film terlalu banyak mengenalkan karakter, selain Ernest, semua orang tidak memiliki konflik yang berarti.

Fragmen demi fragmen Ernest pun berjalan terlalu mulus, yang padahal gue berharap akan ada ironi-ironi pahit yang dijalani karakter Ernest di film yang membuat karakternya tumbuh dan berubah. Dan kealfaan itu pun diperparah dengan munculnya konflik krusial di babak terakhir tentang kegamangan Ernest, yang seharusnya bisa diurai dan menimbulkan simpati, tapi sayangnya semuanya diselesaikan dengan terburu-buru selama dua puluh menit saja.

Lalu yang buat gue rolling eyes adalah peran side kick si Patrick, Ernest membuat konfliknya mengambang begitu saja. Padahal, sahabatnya mandul. Fucking mandul. Kalau di dunia nyata elo ngedenger tetangga elo ngaku mandul, elo pasti udah iba seibanya manusia. Lah, ini sahabat dari kecil gitu, bro for life, tapi si Ernest lempeng aja gitu responnya.

Don’t get me start dengan peran-peran pendukung lain, teman-teman Ernest di kantor dan kuliah pun, Ernest tidak berusaha untuk mengenalkannya. Mereka cuma kayak lalu lalang untuk hadir ngejokes tanpa penontonnya tahu fungsi mereka sebenarnya apa dalam cerita tersebut.

Dengan tempo dan dosis scene yang terlalu terburu-buru, membuat film Ngenest yang kuat di premis menjadi goyang di departemen ceritanya.

Padahal, jika diberikan ruang dan durasi yang lebih lama untuk menyampaikan kisah sentral tentang ketakutan Ernest memiliki keturunan Cina yang akan mengalami nasib yang sama dengannya. Gue rasa film Ngenest bisa jadi film komedi yang padat dan membekas. Tidak menggantung hampa seperti jokes penyanyi kawinan Koh Hengki yang membuat gue mengerenyitkan dahi.

Tapi over all, cerita di film Ngenest lebih solid dibanding kesemua film-film absurd Raditya Dika dijadi satu.

Ang Lee: Father Knows Best

Jadi berawal dari menonton film ini saya jadi penasaran dengan film-film lainnya dari Ang Lee. Yang baru saya tahu bahwa film Eat, Drink, Man, Woman (1994) adalah trilogi Father Know Bests-nya Ang Lee. Jadilah saya menonton ke dua film sebelumnya, yaitu: Pushing Hand (1992) dan The Wedding Banquet (1993).

pushing hand.jpg
Pushing Hand (1992)

Menonton film-film awal Ang Lee sebelum bertandang ke Hollywood merupakan sebuah pengalaman flash back romantis ke awal tahun sembilan puluhan dengan narator witty yang siap menyindir apa pun. And you will laugh with it. Either you are the one who get mocked or you just simply get amuse with it.

Ketiga film dalam Trilogi Father Knows Best milik Ang Lee memiliki beberapa elemen penting yang terus ada dan diputar berulang. Yaitu: hubungan orang tua dengan anak (terutama Ayah dengan anaknya), kontras akulturasi antara budaya barat dan timur, konsepsi seks di budaya timur dan pornonya penyajian makanan yang membuat siapa pun akan menelan ludah saat menonton ke tiga film tersebut.

Cerita-cerita dalam ketiga film Ang Lee berpusat pada benturan dan permasalahan dalam keluarga asia. Dengan cekatan ia sampaikan dengan visual dan adegan yang menontonnya akan merasa dekat dengan masalah tersebut.

Akar permasalahan kesemuanya sebenarnya bagi kebanyakan keluarga asia adalah tentang bagaimana anak berkomunikasi dengan orang tua terutama karakter Ayah yang memang dikenal sebagai sosok sentral dalam sebuah keluarga. Beranjak dewasa sosok Ayah tersebut berubah menjadi tokoh keramat yang setiap titahnya adalah kebenaran.

Dan itu menjadi hal yang coba Ang Lee advokasikan dalam filmnya. Tentang sejauh mana peran orang tua dalam kehidupan anaknya yang sudah dewasa. Apakah perbedaan demi perbedaan akan mengeliminasi makna keluarga yang pernah ada sebelumnya? Atau malah menguatkan?

Lalu lebih dalam lagi, dalam ketiga film tersebut, Ang Lee pun menyorot kegagapan budaya Barat dalam memproses pemahaman akan budaya Timur itu sendiri. Ada banyak momen-momen yang secara canggih Ang Lee argumentasikan dalam filmnya.

Seperti dalam film Pushing Hand, cerita yang berpusat tentang seorang Ayah pensiunan yang tinggal di Amerika yang harus beradapatasi dengan istri anaknya yang kebetulan seorang bule. Bule yang so typical banget, merasa superior dengan teknologi dan sistem yang mereka punya. Seolah dunia hanya berputar tentang dia saja. Sehingga tidak merasa perlu untuk tahu tentang background sang Ayah mertuanya.

Jika di keluarga Asia, semua anak dididik untuk menghormati kedua orang tuanya, dan merawat orang tuanya yang sudah sepuh sebagaimana mereka dulu merawat mereka di kala kecil dulu. A payback concept yang sepertinya tidak terintegrasi dalam otak si perempuan bule dalam film Pushing Hand. Dan konflik itu lah yang menjadi jalan cerita menarik dalam film Pushing Hand. Geger budaya beda negara yang tidak teruraikan dengan baik.

Lain lagi dengan film The Wedding Banquet (1993). Filmnya dibungkus dengan humor yang menggelitik namun tidak berlebihan. Film yang mengangkat tema gay ini menurut saya sangat maju di eranya. Konsepsi seksual yang tabu itu dibredel Ang Lee dengan jenaka dan terbuka.

Scene gay di film ini dibuat dengan sangat kasual dan tetap memanusiakan mereka. Mereka tidak menjadi alien yang memiliki sejuta perbedaan dengan yang ‘straight’. Di film The Wedding Banquet (1993) permasalahan adalah tentang takutnya si anak laki-laki yang gay untuk mengakui seksualitasnya dan akhirnya membuat pernikahaan palsu demi membuat orang tuanya tenang. Terlebih umurnya yang sudah tiga puluhan, karena di Asia menikah adalah sesuatu yang sangat wajib. Sayangnya, apa pun yang berangkat dari kebohongan tidak akan berjalan baik. Termasuk dalam film ini.

Si anak terjebak dengan kebohongannya dan akhirnya malah menjauh dengan pacar gaynya. Seolah orbit bergerak terlalu jauh dari substansi awal yaitu semua kebohongan ini dibuat untuk menyelamatkan hubungan mereka berdua, alih-alih malah membuat semuanya jadi kacau.

the-wedding-banquet-movie-poster-1993-1020243569

Yang lebih keren lagi di film The Wedding Banquet ini adalah tentang sikap kedua orang tua tentang menanggapi isu anaknya yang gay. Keabu-abuan itu masih sangat terasa, apalagi dalam scene melihat album pernikahan. Sikap sang ibu tetap menentang namun tidak berusaha untuk menyakiti perasaan anaknya sendiri.

Sedang sang Ayah, yang awalnya sangat ditakuti, malah jadi orang yang dengan legowo menerima itu semua. Yang bukannya memang seharus itu bukan?

Saya teringat puisi Anakmu Bukan Milikmu, Kahlil Gibran. Ada baitnya yang berbunyi

…Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak yang meluncur.

Dengan jelas Khalil mengungkapkan bahwa anak adalah tetap manusia, yang bebas memilih pilihannya, dan akan hidup di kakinya sendiri nanti. Maka biarkanlah ia meluncur bebas, menjadi apa pun yang ia mau.

Elemen terakhir adalah tentang makanan, jika di film Eat, Drink, Man, Woman (1994) makanan memang menjadi sentra cerita, di kedua film Pushing Hand dan The Wedding Banquet, makanan menjadi elemen cantik yang membuat penonton berdecak lapar. Kemewahan makanan Asia sangat andal Ang Lee tampilkan dengan bulir minyak daging bebek yang lezat dan dumpling yang so-oh-yummy to eat.

Kesemuanya menjadikan film Ang Lee sebagai representasi Asia yang modern dan moderat menjadi tidak berlebihan. Semuanya begitu canggih dan heartwarming di waktu bersamaan.

Jika Wong Kar Wai adalah seorang sutradara art house romantis paling keren di Asia, Asghar Farhadi dengan andalan drama psikologisnya yang mencekam, maka Ang Lee hadir sebagai narator canggih dengan narasi yang dalam akan kehidupan.

Tak lupa, ada satu lagi yang saya belajar dari film-film Ang Lee ini, lewat filosofi Tai Chi Ang Lee mengajarkan bahwa keseimbangan, betapapun sangat berbeda pada tiap elemennya dan begitu menganggu, sangatlah perlu dalam hidup.

Karena toh hidup memang tentang itu semua. Hasrat, tekanan, pelepasan, dan penerimaan. Dan kesemuanya akan berjalan beriringan dengan harmonis jika kita mengizinkannya.

Eat, Drink, Man, Woman: Kehangatan dan Kelezatan Kasih Sayang Ayah

eat-drink-man-woman_poster_goldposter_com_9-jpg0o_0l_400w_70q

Ang Lee memang tidak pernah sembarangan dalam membuat film. Terbukti film besutannya di tahun 1994 ini benar-benar menggambarkan dirinya sebagai pencerita ulung dengan simbol-simbol visual yang menggetarkan.

Eat, drink, man, woman adalah gambaran dasar seorang manusia. Kita semua lahir dengan naluri makan dan bercinta. Dan film ini mengangkat dua tema besar itu: Makanan dan Cinta.

Sepanjang film, dengan sabar Ang Lee menggambarkan kekakuan seorang Ayah dan tiga putrinya. Semua aksi-reaksinya ternarasikan dengan sangat nyata lewat keheningan dan jarak kamera. Ditambah dengan kepiawaian gerakan dan emosi yang sangat luwes dibuat oleh para pemainnya membuat kita yang menyaksikan film ini seperti dibawa masuk ke dalam pintu rumah mereka dan seolah menyaksikan scene tiap scene-nya secara langsung.

Kegetiran masing-masing tokoh juga sangat tajam ditampilkan, seperti kecemasan ketiga anak perempuan yang hidup ‘rawan’ dengan standar sosial budaya Cina yang tidak jauh-jauh dari masalah perkawinan. Drama percintaan masing-masing anak perempuan dikisahkan dengan mood yang berbeda-beda. Kontras dari perawan tua, perempuan mandiri, dan cewek remaja alurnya sangat nyaman untuk diikuti. Meskipun akhirnya toh masing-masing mendapatkan cinta. Yang untungnya bukan sekadar kebutuhan, namun pelengkap yang batin.

Makanan dalam film ini pun tidak serta merta sebagai pemanis visual atau tempelan di awal saja. Melainkan sangat detail dan otentik. Terkukuhkan sebagai kendaraan dan saluran komunikasi antar masing-masing karakter. Sebagaimana pembahasa emosi seorang Master Chef Chu yang kehilangan indra pengecapnya, juga keringkuhan dirinya atas tiap-tiap pengumuman di tiap tradisi makan malam besar keluarga bersama ketiga putrinya setiap hari Minggu.

vlcsnap-dinner-girls

Yang terbaik, ironi dalam konflik di akhir film tidak saja membuat film ini menjadi sebuah romansa melankoli drama keluarga tok. Tetapi juga sebagai potret jujur dari kebanyakan hubungan Ayah dan anak yang membeku terhalang umur dan perbedaan. Tapi tetap kita tidak kehilangan rasa manisnya yang berlebihan.

Karena sejatinya dari film ini kita dapat melihat bahwa; tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayang seorang pria, seperti kasih sayang seorang Ayah pada putrinya.

Dan, seperti apa yang dikatakan Master Chef Chu, hidup bukanlah seperti memasak yang harus menunggu banyak hal datang. Namun yang terpenting adalah tentang rasa dari isi hidup itu sendiri.

Film ini menjadi film ‘makanan’ favorit saya sejauh ini. Saya rekomendasikan ditonton bersama Ayah atau putri Anda sambil menyantap bebek peking dan dimsum panas bersama-sama. Rasa-rasanya akan menyenangkan.

Review Film – Freelance ห้ามป่วย, Memaknai Ulang “Hidup Untuk Makan, atau Makan Untuk Hidup”

freelance

Di sebuah pantai, saat matahari hampir tenggelam dengan sempurna, Yoon menatap ke sampingnya dengan penuh rasa heran. Bertanya-tanya atas apa yang tengah ia saksikan. Dari tempatnya duduk sekarang, ia melihat dengan jelas seseorang yang dengan santai tertidur pulas berjam-jam di pinggir pantai tanpa melakukan apa pun. Perasaan bingung menghinggapinya, proverb Italia tentang the pleasure of doing nothing seolah tidak terintegrasi dalam dna Yoon.

‘Apa ia tidak khawatir dengan waktunya yang terbuang sia-sia? Apa ia tidak memiliki pekerjaan yang menunggunya?’ pikiran itu melayang-melayang dalam benak Yoon, meninggalkan lebih banyak pertanyaan lagi, yang kini ia tanyakan pada dirinya sendiri.

Mana yang lebih benar untuk dilakukan. Bersantai seperti ini di pinggir pantai sambil menyaksikan seseorang yang asik tertidur pulas atau pulang dan kembali ke kamarnya lalu menyelesaikan editan fotonya yang masih tersisa?

Kurang lebih monolog seperti itu yang akan dirasakan saat menonton film Thailand berdurasi dua jam lebih ini. Sebuah kisah pergulatan akan kehidupan seorang freelancer Graphic Designer bernama Yoon dalam usaha memaknai ulang kehidupannya.

Cerita dimulai saat semua dalam hidup Yoon berjalan baik-baik saja. Ia memiliki pekerjaan yang ia suka, gelar master design yang dielu-elukan banyak orang, atau sesederhana ketika ia tanpa was-was bisa menikmati makanan Thai Shrimp 7-11 favoritnya.

Namun semua berubah sampai penyakit alergi menginfeksinya dan memaksanya untuk berobat ke rumah sakit umum. Karena bekerja sebagai seorang freelancer, Yoon tidak memiliki asuransi kesehatan seperti kebanyakan pekerja swasta pada umumnya.

Di rumah sakit umum tersebut ia bertemu dengan dokter Im. Dokter muda cantik yang bersemangat untuk mengobatinya. Siapa sangka, pertemuan dengan dokter Im merupakan satu dari banyak turbulansi dalam hidup Yoon.

Dengan sederet obat antibiotik dan pantangan yang bertentangan dengan gaya hidup Yoon sebagai seorang candu kerja. Ia merasa apa yang dokter Im pinta adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Padahal yang dokter Im pinta hanya Yoon untuk tidur tidak lebih dari jam sembilan malam. Alih-alih beristirahat, Yoon malah mengambil lebih banyak pekerjaan yang membuatnya bekerja lebih larut lagi.

Kandung penyakitnya tidak berangsur sembuh, kondisi Yoon malah semakin parah. Alergi ditubuhnya makin menghasilkan ruam yang bertambah banyak. Mengharuskannya untuk check-up rutin ke rumah sakit setiap bulan.

Dokter Im yang hampir putus asa dengan ketidakberubahan dalam perilaku Yoon. Juga hasrat sebagai pembuktian seorang dokter muda, akhirnya membuatnya dengan tulus meminta Yoon untuk lebih memperhatikan kehidupannya yang hanya datang satu kali ini. Dan mengajak Yoon untuk bersama-sama menjadi partner untuk bisa melawan penyakitnya.

Perhatian dokter Im perlahan mecairkan sisi manusia dalam diri Yoon yang sudah lama tertutup oleh layar komputer dan deadline.

Akhirnya, mana yang akan Yoon pilih. Berusaha untuk sembuh namun mengorbankan karirnya atau tetap bekerja seperti orang gila dan meresikokan nyawanya?

Jawaban dari pertanyaan itu dengan cerdas digiring oleh sang sutradara ke banyak adegan-adegan yang memperlihatkan pergolakan dalam diri Yoon. Isu akan kerasnya lingkungan dan etos bekerja para freelancer ditampilkan dengan apik dalam film ini. Seperti dalam banyak adegan di mana Yoon dan Je membopong-bopong iMac ke mana-mana. Atau dengan komikalnya saat Yoon berkunjung ke pemakaman Ayah temannya dan ia menanyakan password wifi di kuil tersebut untuk mengirim file design client. Seolah merangkum pola freelancer graphic designer pada kesehariannya.

Tidak hanya sukses menampilkan dark comedy yang pekat tentang makna tujuan bekerja. Film ini pun dengan luwesnya memberikan aksen romantis yang tidak berlebihan di antara Yoon dan dokter Im. Setelah tiga puluh menit berlalu, ruang periksa dokter yang sempit dan tidak menarik di awal film itu pun mendadak berubah menjadi romantis. Warna putih dan gerakan one handy cam menjadi sinematografis yang membuat penonton berdegup sendu dan biru.

Gerak-gerik malu-malu masing-masing karakter dibawakan dengan sempurna, ditambah percakapan yang mengalir natural antara Yoon dan dokter Im membawa penonton jatuh cinta dan ikut bersemangat untuk melihat setiap kedatangan Yoon ke rumah sakit tiap bulannya.

Konflik dalam film ini pun terasa tepat dan tidak dipaksakan, when people fall in love, they are doing stupid things. Termasuk Yoon. Yoon menggantikan perasaan patah hatinya dengan bekerja tanpa kenal waktu, yang akhirnya membawa penyakit alergi ke tubuhnya lebih parah lagi.

Scene favorit saya adalah ketika di akhir film Yoon merancang pemakamannya sendiri di saat kondisi koma. Ia memutar ulang kembali makna orang-orang terdekat dalam hidupnya. Keraguan untuk memilih mati atau melanjutkan hidupnya lagi divisualisasikan dengan baik dalam flash back gerakan slow motion tiap-tiap pemain. Seolah, penonton dibawa untuk merasakan kesendirian, kehampaan dan kepasrahan Yoon dalam menyambut kematian yang telah lama ia nantikan.

Film ini tidak hanya berhasil menghadirkan character driven yang kuat, tapi juga narasi dan dialog yang solid. Seolah film ini tidak hanya menyembuhkan keterasingan Yoon dalam menikmati indahnya hidup.

Tapi juga dengan cerkas menyadarkan banyak orang yang telah lama tertidur dalam tumpukan pekerjaan dan lupa akan menikmati serunya sekadar bermain badminton di malam hari atau berjam-jam bersandar pada gumpalan pasir untuk memandang matahari tenggelam tanpa melakukan apa pun.

Tidak ada klise romantic comedy khas Hollywood, ini hanya kisah romantis seseorang yang tidak sengaja jatuh cinta di rumah sakit umum biasa. Tanpa pretensi berlebihan, dan seks yang bombatis. Semua sesederhana itu.

Film ini berhasil memotret kisah hidup kaum urban kreatif yang mengagungkan pekerjaan dan terkadang melupakan esensi hidup itu sendiri. Kesepian di kota besar, ketumpulan relasi sosial akan sesama manusia, juga tekanan pekerjaan setiap harinya hadir menjadi poin cerita yang membuat penonton betah duduk selama dua jam untuk mengetahui ending dari kisah Yoon.

Dan film ini pun membuktikan, space of romance masih dibutuhkan dalam kehidupan siapa pun.

Empat dari lima bintang untuk film Thailand satu ini. Fim ini pun wajib ditonton oleh para pekerja kreatif yang ada di lingkungan agency ataupun freelance. Karena keterdekatan relasi film dengan mereka yang setiap harinya berjibaku dengan revisi, deadline yang ketat, dan permintaan klien yang tidak masuk akal.

Dan bonusnya, ada satu lagu bagus yang dapat merepresentasikan kisah sendu seorang penyendiri yang menyibukkan diri dalam bekerja. Please enjoy the music here ->

https://www.youtube.com/watch?v=Xlv1tm2h7pY&index=7&list=PLb_MnY6csE5QaTJzrgSwdwGfOppOtwueE

Selamat menikmati filmnya 🙂