Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!

Advertisements

Like, Crazy (2011)

hero_EB20111102REVIEWS111109994AR

Manusia boleh berencana, namun jarak juga yang menentukan.

Mungkin seperti itu cerita film Like, Crazy (2011) dikisahkan. Dua orang yang berkenalan di semester kuliah akhir, jatuh cinta, kemudian mendapati kenyataan pahit bahwa salah satu dari mereka harus pergi karena terbatasnya masa berlaku visa pelajar.

Si perempuan harus kembali ke Inggris. Sedih. Mereka berdua sedang cinta-cintanya. Sedang masa honeymoon. Namun tidak ada yang mau mengalah untuk sebuah kesepakatan. Ya sudah, si Mbaknya pun terpaksa benar-benar pulang kampung sendiri tanpa si Masnya.

Berat.

Sisa waktu mereka berdua sebelum keberangkatan si Mbaknya pun terancam hambar. Rencana island hoping dengan perahu sewaan pun terasa mengejek. Kemewahan itu tidak memberikan kebahagian. Yang mereka berdua mau hanyalah besok bertemu lagi, lagi dan lagi. Cinta masih begitu membara bagi dua orang ini.

Setelah beberapa kali adegan ngambek dengan pertanyaan-pertanyaan klise seperti; lalu kamu maunya aku bagaimana? Ngibulin orang imigrasi?

Dari cuma ocehan asal, tetiba ide tersebut terasa masuk akal. Entah asumsi dari mana mereka berfikir bisa mengelabui imigrasi Amerika yang begitu ketat. Namun toh akhirnya mereka tetap melakukannya juga.

Aku kamu vs the world, betapa romantisnya. Mereka berdua pun menghabiskan musim panas penuh cinta bersama, yang ada hanya bercinta dan bercinta. Tahik kucing lah soal kasus visa pelajar yang jadi sumber masalah.

Cinta mereka semakin kuat, mereka seperti menginspirasi satu sama lain. Mereka merencanakan banyak hal berdua. Indah, namun kelewat indah untuk jadi nyata. Karena hidup tidak selalu merah muda, pihak imigrasi pada akhirnya tetap harus mendeportasi si perempuan. Mereka berdua berpisah secara sepihak. Tanpa diragukan lagi semesta Mbak dan Masnya jadi berantakan.

Zona waktu begitu menyebalkan, ketika di sana baru pulang kerja eh di sini sudah tengah malam buta.

Banyak pesan tak berbalas, telfon yang tidak sempat terangkat, dan akhirnya perasaan mutual yang dulu pernah ada menjadi sebuah pertanyaan mendongkol sendiri.

Seperti, benarkah yang ada di antara mereka berdua ini benar-benar nyata atau hanya summer fling semata dan ya sudah lupakan saja, lalu kembali meneruskan rutinitas hidup; kerja, nongkrong di bar, dan bertemu orang baru.

Dan ide besar dari film Like, Crazy pun akhirnya diperlihatkan atas dasar pertanyaan itu. Diteruskan atau kandas saja?

Si Mas Mbaknya ragu, si orang tua Mbakanya pengennya mereka nikah saja. Lebih murah dan punya ketahanan hukum.

Waktu berlalu. Mereka saling berkunjung satu sama lain. Namun namanya juga hidup, pasti ada saja yang bikin kesel. Lama-lama jarak dan komunikasi makin nyebelin. Kerjaan makin ribet dan rindu pun makin menyiksa.

Mereka berdua malah jadi tidak jujur satu sama lain, saling meneror, saling curiga, saling tuduh soal siapa tidur sama siapa.

Letih dengan itu semua, mereka pun mengajukan ide untuk masing-masing melakukan open relationship di saat mereka berpisah. Namun jika mereka berdua bertemu, mereka akan saling memiliki.

Tahik ya? Kesian amat yang jadi side kick si Mas dan Mbaknya pas mereka pisah. Lagian maunya jatuh cinta yang enak-enaknya saja, enggak mau tumbuh dan berjuang. Segitu baru jarak, gimana kalau beda marga sama enggak direstuin mertua.

Cinta mereka menjelma jadi egois untuk saling menguasai satu sama lain, bukan lagi karena hasrat untuk saling melengkapi. Dan meskipun mereka berdua di penghujung film akhirnya bersatu, tetapi pertanyaan besar itu tetap menggantung dalam benak masing-masing.

Layakkah semua ini?

Cinta si Mas dan Mbaknya di film ini seperti orang yang ngotot menyimpan celana jeans bekas yang sudah kekecilan, tapi sebenarnya dia tau celana itu enggak akan pernah muat dia pakai.

Pada akhirnya celana jeans tersebut bukan lagi menjadi sebuah motivasi tetapi menjelma menjadi sesuatu yang menyesakkan dan mengancam.

14a611ae1c65cf3c727d547bd6dc9fad--like-crazy-film-anton-yelchin

Tapi filmnya manis dan seru kok. Cuma aftermathnya bikin sebel aja. Nonton deh.

Review Film Wonder: So Goooooood!

Wonder-TWITTER-FB-OG

Setelah film Coco yang menguras air mata dengan lagu Remember Me, di Desember ini ada lagi lho film yang bisa bikin hati yang dingin jadi lumer lagi, in a good way of course. Film itu bernama Wonder diangkat dari novel laris dengan judul yang sama.

Wonder bercerita tentang seorang anak kecil bernama Auggie yang memiliki penyakit bernama “mandibulofacial dysostosis“. Sebuah penyakit yang membuat kondisi wajahnya berbeda dengan anak-anak seumurannya.

Orang tua Auggie sejak dini sudah membuat bubble untuk menjaga Auggie, yaitu berupa home schooling. Namun orang tua Auggie merasa bahwa Auggie perlu keluar dari bubblenya tersebut dengan mulai bersekolah dan bersosialisasi di sekolah umum seperti anak-anak seumuran lainnya.

Turbulensi itu tentu saja membuat jungkir balik dunia Auggie dan keluarganya.

Dapatkan Auggie bertahan di antara anak-anak lainnya dengan kondisi Auggie yang seperti itu?

Dari sana sudah tahu dong akan seperti apa dramanya. Meski jalan ceritanya sudah jelas arahnya, penyajian film Wonder lah yang jadi keunggulannya.

Wonder menghadirkan kisah dan suara sendiri dari masing-masing karakter dalam film tersebut. Semua kepedihan dan pergolakan batin tiap-tiap karakter dibredel satu persatu untuk memberikan alasan sebab-akibat dalam tiap-tiap tindakan mereka di film tersebut.

Film Wonder begitu hangat dalam presentasinya, pasti kamu akan merasakan sesaknya dada kamu saat menyaksikan bagaimana masing-masing orang yang dulu membully Auggie berbalik arah membela dirinya.

Atau tentang bagaimana ketulusan hati seorang anak kecil yang mau menemani Auggie makan siang tanpa alasan apa pun.

Kisah-kisah dalam film Wonder mengajarkan bahwa jika ada dua pilihan di antara menjadi benar dan menjadi baik, pilihlah menjadi si baik. Karena kita tidak tahu bahwa satu kebaikan dari diri kita akan membawa kebahagian untuk seseorang.

8e43277d39528afd10daedf8dd93a037--fun-house-th-grades

Kisah-kisah karakter Wonder memang se-klise itu; kakak yang tidak diperhatikan orang tua karena ada si adik yang butuh ekstra penjagaan, sahabat yang berubah karena popularitas di sekolah, juga lika-liku pertemanan khas anak kecil yang dibumbui rasa kecewa.

Tapi sekali lagi, Wonder membuatnya menjadi sangat menarik karena cerita di sana dibuat begitu manusia dan dekat dengan penontonnya. Maka haru biru dan kehangatan cerita di akhir film dapat terhantarkan dengan sempurna.

Film Wonder pun tidak melulu tentang drama Auggie saja, ada gambaran besar yang perlu kita bahas lebih dalam selepas keluar dari pintu bioskop. Yaitu tentang bullying. Bullying is not cool. Tapi seberapa banyak dari kita yang mau stand up dengan isu tersebut. Entah saat kita menjadi si korban atau pun saksi di dalamnya.

Jelas sekali film ini mengargumentasikan hal tersebut. Tidak ada satu orang pun yang berhak untuk merendahkan satu orang lainnya. Dan yang kerennya lagi, stakeholder di sekolah dalam film Wonder digambarkan sebagai support system yang siap memberantas bullying itu sendiri.

Menurut gue hal tersebut menjadi tambahan konten yang mendidik dalam film Wonder.

Kita semua pun dapat melihat bahwa Wonder ingin mengingatkan kita bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan sebagai manusia adalah menerima diri kita sendiri. Apa pun konteksnya. Sejelek apa pun omongan orang tentang fisik dan sesuatu yang bersifat dari sananya, mau tak mau kita berdamai dengan diri kita. Karena jika terus nunduk dan malu dengan apa yang kita punya, semuanya ga ada ujungnya say.

Pasti ada aja yang kurang. Jadi ya sudah aja lah, elo yang harus jadi orang pertama yang jatuh cinta sama diri elo sendiri. Stand up and fight for yourself!

Tapi lain cerita ya kalau emang sifat elo nyebelin dan ganggu orang-orang ya elo perlu berubah dong.

Anyway, karakter favorit gue adalah Jack Will.

Screen Shot 2017-12-13 at 1.17.04 PM

Selain kiyut, dia pun memiliki peringai yang lovable banget (gedenya calon-calon cakep sih ini). Pun akting anak-anak kecil di film ini bagus-bagus banget. Jadi berasa pengen jadi anak kecil lagi terus main sama Auggie, Summer, dan Jack Will.

Scorenya: 5/5. Jangan lupa bawa tisu saat menonton.

 

Ulasan Film My Generation: Me vs Parents

075939500_1507776200-DLR6pSWUIAAKMnc

Sebuah liburan yang merubah segalanya….

Film My Generation dibuka dengan VLOG (video blog) ke empat tokohnya; Konzi, Zeke, Suki, dan Orly. Mereka semua menatap lurus ke depan kamera dengan berapi-api, menumpahkan seluruh unek-unek dan kekesalan mereka pada ketidakadilan sistem pendidikan yang mereka jalani sebagaimana anak-anak sekolah pada umumnya. Pertanyaan berikutnya, siapa sih yang tidak?

Untuk mereka yang tumbuh dan berkembang di daerah dunia ke tiga seperti Cibinong, melihat scene awal film My Generation yang diisi dengan para pemainnya yang rupawan, stylish, dan lengkap dengan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, sudah dipastikan bahwa mereka berempat merupakan anak-anak borju yang bermasalah dengan hidupnya.

Lalu, apakah film ini kemudian akan bergerak menjadi cerita yang superficial?

Tentang anak-anak orang kaya yang manja dan tidak puas dengan privilege yang mereka miliki dibanding remaja-remaja lainnya di belahan dunia lain?

Atau film My Generation adalah film perusak moral seperti yang dibicarakan dan dikecam oleh banyak-banyak orang di media sosial?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita mulai dengan melihat motivasi dari cerita film My Generation itu sendiri.

A few years ago, kita tentu masih mengingat bagaimana rasanya menjadi seorang remaja di umur 15-17an tahun. Feeling outcast, di mana pencarian jati diri dan tekanan untuk menuju gerbang orang dewasa begitu menyiksa. Semua kita jalani dengan tertatih-tatih namun pasti. Kadang ada yang berhasil, namun banyak juga berisi kegagalan.

Semua itu terjadi karena:

  1. Kesemua nilai-nilai yang dulu tertanam oleh orangtua seakan bertolak belakang ketika menginjak masa remaja.
  2. Tidak ada les khusus untuk menjadi anak yang sempurna di dunia ini. Karena sayangnya, tidak ada yang sempurna dalam hidup. Namun masih ada orang tua yang mengharapkan kesempurnaan semu itu.
  3. Ketertarikan untuk mengeksplore tubuh, pertemanan, dan tentu saja cinta menjadi tidak terintegrasi dengan peraturan dan moral value yang orang-orang tua telah set tinggi-tinggi.
  4. Seolah semakin anak tumbuh dewasa komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anak pelan-pelan terputus dan berubah menjadi dinding besar dan dingin di antara mereka. Semacam teritori atas ketidakmengertian masing-masing individu.
  5. Orang tua menginginkan menempelkan ambisi mereka pada anak, dan anak ingin mereka dilihat sebagai diri mereka sendiri. Seutuhnya. Bukan apa yang orang tua ingin lihat dari mereka.

Dari sana masing-masing orang seolah lupa bagaimana berbicara satu sama lain tanpa harus berteriak dan berbeda pendapat.

Seperti yang diutarakan Stanley Hall, ia menjelaskan bahwa saat remaja mereka akan mengalami “storm & stress” dalam kehidupan. Jelas, semuanya tidak akan sesederhana dulu lagi.

Keseluruhan ironi itu menjadi penggerak cerita dalam film My Generation.

Kita dapat melihat bahwa film My Generation ingin menangkap momen tersebut, mengargumentasikan suara remaja di periode waktu di mana mereka merasa tidak ada yang dapat memahami mereka sendiri kecuali teman-teman mereka.

Keseluruhan film ini tentang itu semua. Eratnya persahabatan yang mengalahkan kungkungan orang tua yang konservatif dan alot.

Akting dan Set Syuting Yang Keren

Membuat film untuk para milenial tentu saja Upi harus masuk ke dalam dunia mereka. Para milenial kini lebih fasih berbahasa inggris dibanding generasi sebelumnya. Terlepas mereka adalah blasteran atau bukan, namun harus diakui bahwa ekspresi komunikasi mereka ada di sana. Dan Upi menjembati transisi bahasa itu.

Kebanyakan film ini menggunakan bahasa inggris dengan translation yang seru dan tidak kaku.

Artikulasi dan pembawaan yang keren dari para pemainnya pun membuat ruh film ini menjadi hidup dan enerjetik.

Masing-masing karakter muncul dengan keunikan masing-masing. Yang paling membekas buat saya adalah karakter Mbak Anda sebagai Orly di sini. Ia feminis muda yang percaya dengan bumi itu datar. Kekocakan kekocakan dalam tiap diskusi dirinya dan sang pacar membuat film My Generation memuat banyak konten menarik yang menggambarkan generasi sekarang lebih global dan kritis lewat cara mereka sendiri.

Akting dari para aktor-aktor muda ini dari adegan mereka bersenang-senang, sedih, dan marah tergambarkan dengan sempurna. Mereka seakan benar-benar menjadi diri mereka sendiri.

Konflik dari masing-masing karakter dalam film My Generation merupakan sesuatu yang sering terjadi di kehidupan sosial media saat ini. Jadi penting sekali untuk melihat film ini sebagai suatu potongan kehidupan para milenial yang cukup akurat.

Harus diakui bahwa menjadi remaja bukanlah hal yang paling menyenangkan di dunia ini, namun bukan berarti semua orang harus kalah dengan itu. Film My Generation menjawab keresahan itu dengan kisah orang tua yang pada akhirnya membuka pikiran mereka untuk lebih bisa menerima anak remaja mereka apa adanya.

Bahwa pada akhirnya, keluarga yang akan selalu ada. Pesan yang Upi sampaikan hadir dengan praktis tanpa bertele-tele.

Pengalaman Sinematik dalam Semesta Upi

Menonton film My Generation karya Upi seperti mengintip masuk ke dalam keseruan lika-liku dunia geng paling cool di film Indonesia setelah geng Cinta di AADC.

Seperti karya-karya Upi terdahulu, Upi sangat luwes dalam mempresentasikan keseruan anak-anak muda dan membuatnya tampak menarik. Terbaiknya film-film Upi selalu meninggalkan kesan mendalam ketika kita keluar dari pintu bioskop. Kesan itu akan lama tertinggal dan membentuk tren baru tiap masanya.

Masih teringat jelas saat saya kelas 2 SMP dulu ketika menonton film Upi berjudul 30 Hari Mencari Cinta. Betapa jenaka, hangat, dan menyesakkan di akhir.

Dari sana permainan 30 hari untuk memiliki pasangan menjadi seru untuk dilakukan. Yang mana, sudah pasti saya gagal dengan gemilang.

Persahabatan para tokoh di film-film Upi pun hadir dengan begitu meyakinkan. Baik itu dalam My Generation, Realita Cinta dan Rock n Roll ataupun My Stupid Boss. Upi piawai dalam menyajikan perfect comic timing dengan dialog-dialog nyeleneh yang membuat para penontonnya seperti melihat diri mereka sendiri dalam film-film Upi.

Upi berhasil menciptakan semestanya sendiri dan membuat penontonnya ingin menjadi seperti tokoh-tokoh yang ada di dalamnya di kehidupan nyata; seperti apa yang mereka pakai, mereka ucapkan, dsb.

Saat Realita Cinta dan Rock n Roll sukses di eranya, semua anak-anak cowok di SMA kegandrungan dengan style emo  yang memamerkan tubuh lean mereka. Keberhasilan tersebut menjadikan  film-film Upi sebagai trendsetter dalam dunia fashion maupun pop culture Indonesia itu sendiri.

Harus diakui, Upi benar-benar berhasil menyuarakan suara anak muda dari jaman ke jaman dengan konsisten pada tren di tiap tiap masanya. Masalah-masalah yang tidak banyak orang bicarakan berani Upi munculkan di sana dengan gayanya sendiri.

Karena Upi tahu, setiap anak muda memiliki suaranya sendiri yang ingin didengar.

Selamat untuk Upi atas film My Generation! Sebuah pencapaian sinematik film remaja yang keren sekali!

 

Ulasan Film Posesif: Memaknai Kembali Sebuah Rasa dan Obsesi

17010009_1

Film Posesif hadir dengan premis yang menarik, sebuah hubungan abusive dalam cinta muda yang membara. Terlebih ini dihadirkan dalam konsep percintaan remaja tujuh belas tahun dengan pelbagai problematika kehidupan khas anak SMA.

Selanjutnya bagaimanakah cerita akan ternarasikan? Dan yang terpenting kemudian adalah, menarikkah Posesif sebagai sebuah film untuk ditonton?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian untuk mengetahui background para kreator di balik film Posesif ini.

Pertama, film ini disutradarai oleh Edwin, ia adalah sutradara yang biasa membuat film-film ekperimental art house, dari tangannya hadirlah film-film indie keren seperti; Babi Buta Ingin Terbang, Postcard From The Zoo, dan Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband. 

Tiga film itu merupakan jenis film yang jarang hadir di teater mainstream Indonesia (you can correct me if i’m wrong, maafkan jika saya salah) dan hanya diputar di bioskop-bioskop alternatif dan festival-festival film yang sifatnya terbatas.

Namun itu bukan berarti karya Edwin merupakan karya biasa karena tidak mampu tembus pasar mainstream. Malah karena film-film Edwin kemasannya begitu kuat. Pesan yang hadir begitu sarkas dan menyindir. Seakan pemaparannya akan peristiwa demi peristiwa ironis di filmnya seolah benar-benar terjadi di tengah-tengah penontonnya.

Bagaimana pedihnya nasib kaum minoritas dibalut dalam simbol visual yang memojokkan. Dapat dipastikan film-film Edwin bakal menjadi kontroversial di kalangan masyarakat yang tidak terbiasa dengan gagasan tersebut.

Namun dengan perbedaan tersebut, Edwin datang dengan alternatif tontonan yang menyegarkan.

Terutama lewat ciri khas film Edwin yang muncul dalam narasi panjang cenderung lambat dan mengekploitasi dramatisasi kebisuan para aktor dalam durasi lama yang kemudian dihentakkan dengan adegan-adegan nyeleneh tak biasa.

Seperti hubungan seksual threesome sejenis antara seorang dokter yang dianal oleh dua orang laki-laki di ruang prakteknya karena ingin membantu pasangannya masuk tivi demi masuk ke sebuah acara pencarian bakat.

Adegan itu dihadirkan Edwin dalam film Babi Buta Ingin Terbang dengan begitu kasual. Ia sisipkan adegan tersebut sebagai statement Edwin terhadap isu-isu marjinal yang jarang dibicarakan. Terpinggirnya kaum Gay dan Tionghoa.

Maka dari itu sangatlah menarik untuk melihat film Edwin yang spesifik dibuat untuk kalangan masif remaja.

Kedua, dari departemen skrip ada Gina S Noer. Penulis skrip film yang sukses dengan film-film best seller iconic seperti Habibi Ainun, Hari Untuk Amanda, dan Ayat-Ayat Cinta. Ia muncul sebagai kontras terhadap Edwin. Premis yang membuat orang penasaran, bagaimana jadinya kubu kreator indie bertemu dengan kreator film populer?

Lewat trailer film Posesif kita dapat melihat nafas sinematografi khas Edwin. Permainan dimensi warna, gambaran komposisi simetris dalam ruang kosong yang di shoot dari jarak jauh. Kesemuanya memanjakan mata bagi yang menontonnya.

Dialog-dialog yang keluar dari mulut para aktornya pun mengalir santai. Seakan lewat trailer filmnya Posesif datang dengan ekspektasi yang tinggi.

Ketiga, mari kita membahas filmnya.

Apa yang menjadi kekuatan dalam film ini?

  • Akting yang kuat dari para pemainnya. 

Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melihat film remaja yang proper di layar kaca. Dan Posesif hadir dengan paket lengkap mulai dari para dua pemain utama yang menyuguhkan akting meyakinkan sebagai pasangan yang mabuk cinta dan terobsesi satu sama lain. Adipati dan Putri memberikan akting terbaik mereka di sini. Saya sebagai penonton percaya ketika mereka sedang tersipu malu, marah, dan ketakutan. Bahkan peran-peran kecil dalam film ini matters. Semua memiliki keterikatan yang mendukung cerita satu sama lain.

Seperti Ega, sahabat Lala dengan karakter yang kocak bisa menjadi bumbu penyegar yang manis dalam film ini.

  • Scene-scene indah

Kepiawaian Edwin dalam memberikan gambar-gambar indah yang datang dari tempat sederhana benar-benar breathtaking. Favorit saya adalah ketika adegan galau Lala saat berenang. Begitu poetic. Adegan dugem dan saat Yudhis dan Lala flashback di taman bermain, kesemuanya terasa cute dan edgy khas anak muda.

Ini mengajarkan bahwa tidak perlu pergi syuting ke Eropa, jika bisa menghasilkan kualitas sebagus ini. Dibanding syuting jauh-jauh tapi film yang dibuat masih level FTV (I mean something that you can see for free).

  • Soundtrack yang mengisi moment dan mood dalam film.

Memasukkan Banda Neira, Dipha Barus, dan Sheila on 7 adalah pilihan yang brilian. Banyak banget orang yang nyanyi di bioskop saat lagu Dan Sheila on 7 diputar di film.

  • Logika cerita yang solid.

Gina membereskan tugasnya dengan baik di sini. Motivasi tiap-tiap pemain dalam kesinambungan konflik berjalan selaras. Mulai dari awal, tengah, dan akhir. Terutama ketika clash antara Lala dan Ayahnya semua terasa tepat pada tempatnya. Kemarahan Lala, ambisi sang Ayah, tekanan Yudhis, semua memburu di film ini dengan ketajaman yang membekas.

Tapi….

Ada beberapa bagian dalam film yang mengganjal, kesan akan toxic relationshipnya masih terasa setengah-setengah. Bagian-bagian yang sebenarnya bisa di eksplore, terasa ditahan oleh Edwin. Seakan ketika seharusnya penonton dibawa dalam dunia kengerian dan impulsif Yudhis, Edwin hanya memberikan porsi kecil di sana.

Creepy thing Yudhis hanya muncul sekali dua kali. Tidak jelas apakah dia memang seorang stalker yang posesif, atau hanya anak tempramen yang mencari pelampiasan saja.

Dari situ pun letupan-letupan hubungan naik turunnya asmara antara Yudhis dan Lala juga terasa terlalu cepat. Tidak ada ruang pengenalan lebih jauh akan bagaimana Lala dan Yudhis membangun ikatan yang tak terpatahkan. Atau bagaimana tiba-tiba Lala merasakan keanehan Yudhis. Bahkan Twilight memberikan itu pada filmnya.

Juga keobsesian Yudhis ke Lala masih jadi tanda tanya. Bagian mana dari Lala yang mentrigger Yudhis untuk menjadi seseorang yang posesif? Sayangnya semuanya tak tergambarkan terlalu jelas.

Dari sanalah terlihat bagaimana film ini bermain aman. Hasrat dan letupan toxic relationship semacam ‘make up sex’ tidak muncul sebagai penyeimbang. Karena dari pengalaman teman saya yang mengalami kejadian seperti Lala, memiliki pasangan yang tukang pukul, sang pacar selalu memiliki cara untuk membuat teman saya kembali lagi kepada dirinya. Salah satunya ya itu, lewat make up sex, sesuatu yang akhirnya menggiring teman saya jatuh kembali pada luka yang ia buat sendiri. Semacam manipulasi yang tak berujung.

Keguncangan psikologis Lala pun tidak muncul, sepertinya akan lebih dramatis jika ada scene untuk Lala sendiri yang menanyakan kembali keputusannya saat ingin pergi atau kembali stay dengan Yudhis.

Karena di film ini sudut pandang Lala terkesan terombang ambing karena desakan sang Ayah, temannya, dan Yudhis sendiri. Tidak ada suara sendiri dari karakter Lala dalam menghadapi masalahnya di sepanjang film.

Kembali menjawab pertanyan awal, apakah film ini menarik untuk ditonton?

Maka jawabannya adalah sangat menarik.

Saya memberikan bintang 4,5 dari 5. Film ini begitu memukau secara keseluruhan. Seakan hadir sebagai entitas baru dalam film remaja Indonesia. Posesif bukan hanya sebuah film remaja belaka, ia merupakan suara keberanian yang dieksekusi dengan baik.

Film ini wajib untuk ditonton buat kamu kamu yang sedang berada dalam hubungan seperti Lala namun tidak berani untuk bersuara.

Karena dari film Posesif kita belajar bahwa seganteng apa pun pasangan, jika tangannya dipakai untuk memukul dan mulutnya untuk merendahkan pasangannya lewat kemarahan. Harusnya pilihan untuk pergi darinya merupakan jalan utama yang harus segera diambil.

Mengutip tagline dari sebuah iklan, karena kamu begitu berarti.

Mari Bicara Tentang Film Indonesia

Gegap gempita Pengabdi Setan (2017) Joko Anwar membawa saya pada pemikiran; sepertinya tren untuk me-remake film-film lama Indonesia untuk dimunculkan lagi ke kalangan generasi milenial saat ini merupakan suatu strategi marketing yang mumpuni.

Terbukti banyaknya film-film klasik dari era 50an hingga 80an kembali dihidupkan dengan nafas yang lebih modern oleh para sineas film demi menyesuaikan selera para penonton film Indonesia sekarang yang didominasi oleh para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja awal. Yang notabene demografis umurnya berada di angka 14 hingga 35 tahun* dan aktif di media sosial.

Tahun yang berbeda tentu saja menghadirkan gap tren sosial yang berbeda pula pada penonton baru dengan film asli yang dibuat di era sebelumnya.

Karena sejatinya film memang menggambarkan situasi dan fenomena isu yang terjadi di jamannya. Jika boleh saya mengandaikan, film ibarat mesin waktu yang dapat membawa kita mengintip narasi dan visual masa lalu dengan lebih estetik.

Gap tren sosial yang paling nyata adalah pembaharuan teknologi dan akses informasi dalam era digital. Yang mana di kehidupan masyarakat sekarang rasa-rasanya sulit untuk tidak menggunakan internet dan media sosial dalam keseharian. Jika tidak mau dibilang adiktif. Sesuai dengan target audience penonton film Indonesia.

Kemajuan tersebut tentu saja berefek pada pergeseran paradigma berfikir masyarakat menjadi lebih global.

Jadi, isu-isu kelas masyarakat antara si kaya dan si miskin yang dulu merupakan momok dalam masyarakat Indonesia di era 70-80an. Kini di tahun 2017 bisa dengan lebih kasual disampaikan pada penontonnya. Pun bukan menjadi sentra dan penggerak cerita, melainkan hanya background karakter belaka.

Perbedaan situasi dan tren yang saya bahas tadi dimanfaatkan beberapa film maker sebagai manuver pendekatan ke penonton milenialnya.

Contohnya seperti di film Galih & Ratna (2017) versi Lucky Kuswandi yang merupakan pembaharuan dari film sebelumnya yang berjudul Gita Cinta Dari SMA (1979)  karya Arizal yang dibintangi ikon bintang muda di masanya, Rano Karno dan Yessy Gusman.

Cerita orisinalnya mengangkat tema besar tentang perbedaan kelas sosial antara Galih si Miskin dan Ratna si Kaya. Dikotomi tersebut menjadi kentara karena isu itulah yang menjadi konflik film. Namun di film Galih & Ratna dirubah menjadi lebih ‘kekinian’ dengan esensi narasi filmnya yang berputar tentang pengakuan diri dan mengejar mimpi (eksistensialisme) pada masing-masing karakter.

Formula tersebut tentu saja mampu membuat cerita lebih dekat pada penonton milenial sekarang yang isu pada generasinya kini memang tentang berlomba-lomba menunjukkan siapa diri mereka. Hasilnya? Film Galih & Ratna ditonton lebih dari 121 ribu orang.

Namun tentu saja ada banyak formula untuk membuat sebuah film remake tetap menjadi entitas yang dapat dinikmati oleh lintas generasi. Seperti setia dengan gagasan awal film pendahulunya.

Contohnya film Ini Kisah Tiga Dara (2016) Nia Dinata dan Nagabonar Jadi 2 (2007) Deddy Mizwar yang sama-sama dibuat dengan pakem ide awal film terdahulunya dan dinamis pada karakternya.

Nia Dinata yang memang konsisten mengangkat isu feminisme, mengartikulasikan dengan baik roh film yang diargumentasikan dalam film Tiga Dara (1956) Umar Ismail. Perempuan yang melawan untuk tunduk dalam jerat patriarki dan stigma sosial perempuan telat menikah.

Pun dalam film Nagabonar Jadi 2 (2007) besutan Deddy Mizwar, ia tetap menonjolkan marwah patriotisme dan nasionalisme yang begitu kental di filmnya. Sama seperti film pendahulunya Nagabonar (1987) karya MT Risyaf.

Memang menjual romansa nostalgia merupakan win win solution untuk mendapatkan kue lebih banyak antar lintas generasi. Yang satu ingin mengulang pengalaman terdahulu dan generasi baru ingin merasakan sensasi pertamanya.

Namun, menurut saya pribadi kadang keontetikan film terdahulu jika tidak ditempatkan dengan baik akhirnya malah menjadi boomerang sendiri yang tidak menjawab masalah tantangan perbedaan yang saya sebutkan di awal tadi.

Contoh saja film Bangun Lagi Dong Lupus (2013) Benni Setiawan, yang sayangnya tidak berhasil menghidupkan kembali ikonitas Lupus beserta jajaran karakter lainnya. Geger Lupus di masanya yang merupakan simbol anak muda yang ngocol namun kreatif, aktif, dan kritis tidak tersampaikan dengan baik. Jika tidak ingin dibilang buruk.

Lupus di film ini seakan bingung dengan dirinya sendiri yang ingin menjadi sosok baru khas anak muda masa kini atau sekadar wannabe saja. Saya merasa tidak tersentuh dengan misi Lupus maupun keseluruhan cerita di dalamnya. Pun film Catatan Harian Si Boy (2011) Putrama Tuta yang gemilang dalam eksekusinya, masih belum berhasil mengabadikan karakter Satrio sebagai regenerasi Mas Boy yang dicintai banyak orang. Baik perempuan maupun laki-laki.

Disayangkan padahal film seperti Lupus dan Mas Boy di film Catatan Si Boy berhasil menjadi ikon kondang di masanya. Seakan menjadi tolak ukur maupun potret remaja di generasinya. Sebuah pencapaian yang sukses untuk sebuah film yang berubah menjadi pop culture. Timeless.

Kini film Indonesia seakan kehilangan tokoh-tokoh karakter kuatnya yang abadi dan dekat dengan penontonnya.

Dan perlukah saya membahas Warkop DKI Reborn 1 & 2?

Beberapa Film Klasik Indonesia Yang Layak Untuk di Remake

Well, terlepas dari itu semua, sebagai penikmat film Indonesia rasa-rasanya saya bermimpi untuk mengulang pengalaman menonton beberapa film klasik Indonesia.

Deretan film ini layak untuk dihidupkan kembali berdasarkan pencapaian gemilang mereka di masa lalu dan kesesuaian cerita akan situasi krisis sosial budaya juga pergeseran nilai lokal ke global yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya kategorikan dalam beberapa genre dan tema.

Dalam kategori drama sosial, saya mengajukan film:

  1. Taksi (1990) Arifin C Noer

Taxi Jugaa

Film Taksi seolah hadir sebagai sarkasme di masanya. Seorang sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan dan mengadu nasib ke kota besar alih-alih malah menjadi seorang supir taksi. Dari sana Giyon (Rano Karno) pun mengalami turbulensi hidupnya ketika mendapati penumpangnya Desi (Meriam Bellina) meninggalkan anaknya. Lewat akting di film ini Rano Karno memenangkan aktor terbaik di Piala Citra.

Taksi berhasil membicarakan hingar bingar ibu kota dengan cara menyindir dan menggambarkan situasi kondisi masyarakat ibu kota yang ikut campur dan menghakimi dengan baik di sini. Sesuatu yang layak dilihat di masa sekarang.

2. Cintaku di Rumah Susun (1987) Nya’ Abbas Akup

220px-Cintaku-di-rumah-susun

Film dramedi favorit saya. Kompleksitas dan keanekaragaman karakter yang hidup dalam satu rumah susun pasti sangatlah menarik untuk ditonton. Komedi situasi dari masing-masing background karakter yang berbeda dapat menggambarkan betapa kayanya budaya dan toleransi yang ada di Indonesia.

Lika-liku masalah masing-masing karakter pastilah akan mengundang tawa dan sindiran khas akan fenomena-fenomena sosial yang kita saksikan setiap harinya di kehidupan nyata.

3. Si Mamad (1973) Sumandjaya

Si_Mamad_(1973;_obverse;_wiki)

Memenangkan film terbaik dan aktor utama pria terbaik di FFI 1974. Bercerita tentang si PNS jujur yang terpaksa untuk korupsi kecil-kecil namun akhirnya membawa perasaan menyesal mendalam dalam kesehariannya. Film yang pastilah sangat wajib dibuat ulang mengingat banyaknya kejadian korupsi di negara ini setiap harinya.

Kategori romansa dan drama keluarga, saya mengajukan film:

  1. Boneka Dari Indiana (1990) Nya’ Abbas Akup

Boneka_Dari_India

Keluhan dari orang tua saya adalah jarangnya ia melihat cerita film Indonesia yang menggambarkan demografis dirinya. Sesosok suami istri dengan problematika yang menjerat di tengah-tengahnya.

Semasa dulu memang sepertinya film Indonesia lebih kaya dari segi tema dan cerita. Seperti halnya di film ini. Drama romantis komedi ini menceritakan pasangan suami istri baru yang selalu didikte oleh mertuanya. Lucu sekali, menghadirkan tawa yang membuat saya merenung dan meninggalkan perasaan hangat setelahnya.

Tidak diragukan lagi Nya’ Abbas Akup merupakan sineas klasik Indonesia favorit saya yang setia dengan tema-tema dasar di sekelilingnya yang dekat dengan penontonnya.

Perlu penjelasan lagi untuk membuat film ini diremake?

2. Pacar Ketinggalan Kereta (1989) Teguh Karya

Pacar_Ketinggalan_Kereta

Kisah romantis beda kelas memang menjadi favorit di masanya. Si kaya dan si miskin yang terhalang cintanya oleh si orang tua yang memandang rendah perkara tersebut. Namun yang paling saya sukai dari film ini adalah betapa Teguh Karya mengangkat isu perempuan dengan status janda menjadi karakter yang kuat dan mandiri.

Teguh karya tidak terjebak pada generalisasi umum akan pandangan janda itu sendiri. Ia malah bermain-main di sini. Film yang sangat menghibur pun penting karena keunikannya menggambarkan irisan polemik keluarga kaya dan miskin. Cinta.

Perlu dibuat ulang karena minimnya cerita film keluarga di Indonesia.

3. Usia 18 (1980) Teguh Karya

Usia_18_(1980;_obverse;_wiki)

Menampilkan Jaya pub yang klasik lengkap dengan isinya. Cerita film ini masih berputar tentang kelas dan perbedaan ekonomi. Namun yang menjadi lucu jika disaksikan sekarang adalah betapa sepelenya penyelesaian konflik di sana jika masing-masing dari mereka memiliki telfon genggam haha.

Saya tertarik untuk melihat bagaimana film maker membuat ulang film ini yang di mana mampu menonjolkan IKJ dan pentas drama dengan gambaran yang se-epik Teguh Karya tampilkan di film ini.

4. Cintaku di Kampus Biru (1976) Ami Prijono

053305100_1432119890-rae-Cintaku_Di_Kampus_Biru_1976-c

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk ditonton. Kekuatan film ini bukan hanya pada premisnya saja, melainkan kekuatan akting antara dua tokoh utamanya yang masing-masing memberikan penampilan yang pantas untuk diperbincangkan sepanjang masa.

Menarik untuk melihat bagaimana penggambaran cinta beda usia dan kampus biru UGM dari mata film maker saat ini.

5. Ramadhan dan Ramona (1992) Chaerul Umam

ramadhan-dan-ramona

Jika Hollywood memiliki deretan nama mulai dari Julia Robert, Jennifer Lawrence, dan Rachel Adam untuk pemeran ciamik film romantis komedi. Menurut saya Indonesia juga beruntung memiliki Lydia Kandou. Akting dan wajah cantik klasiknya merupakan roda penggerak film romantis di masanya.

Kategori kisah ikon remaja, saya mengajukan film:

  1. Lupus
  2. Olga Sepatu Roda
  3. Catatan si Boy

Ketiga film ini merupakan film legendaris yang mampu membawa jutaan penonton jatuh cinta dengan tiap-tiap tokoh utamanya. Tidak hanya melahirkan satu film, dua dari film di atas mampu membuat berjilid-jilid film di tahun-tahun berikutnya yang selalu sukses.

Fenomena ketiga film remaja tersebut juga memengaruhi pergaulan di masanya. Fenomena yang sama seperti di era digital. Bedanya pengaruh budaya pop ini lahir dari sebuah karakter fiktif beserta semestanya.

Siapa yang tidak ingin jadi wartawan dan memakan permen karet seperti Lupus?

Siapa yang setelah menonton film Olga tidak ingin belajar bermain sepatu roda dan menjadi penyiar radio?

Dan siapa yang bisa menandingi Okky Alexander sebagai si Boy yang kaya, gaul, dan soleh?

Karakter-karakter tersebut akan hidup terus menerus sebagai dokumentasi gambaran akan remaja yang mampu membuat perbedaan di masanya. Atau bisa dibilang revolusioner.

Menarik sebenarnya untuk melihat bagaimana karakter-karakter tadi beradaptasi dengan situasi digital saat ini.

Apakah Lupus akan menjadi blogger? Olga menjadi vlogger? Dan Mas Boy menjadi selebgram populer karena ketampanan, kekayaan, dan pergaulannya?

Kategori cerita anak, saya mengajukan film:

  1. Harmonikaku (1979) Arifin C Noer
  2. Djendral Kantjil (1958) Nya’ Abbas Akup
  3. Si Doel Anak Betawi (1972) Sjumandjaja

Apakah kalian asing dengan ketiga film tersebut? Berarti Anda melewatkan tiga film anak-anak terbaik yang pernah ada di negeri ini. Kesamaan dari ketiga film tersebut adalah kayanya muatan cerita lokal di dalamnya.

Baik budaya dan anekdot-anekdot daerah diartikulasikan dengan penyampaian yang memang ditunjukkan pada penonton muda.

Kesan petualangan dan kedekatan tema dasar yang diangkat pun akan membuat penontonnya jatuh cinta dengan para karakter utamanya dan ingin menjadi seperti mereka dan memiliki petualangan yang sama.

Minimnya film anak pun menjadi dasar mengapa perlu sekali dibuat kembali film untuk anak-anak yang mampu menampilkan keluguan dan kekayaan konten lokal dengan penampilan karakter kuat yang menjadi idola anak-anak.

Mendukung Film Indonesia Kedepannya

Saya percaya dengan menonton film Indonesia yang memuat konten berkualitas akan membuat kepercayaan penonton kembali hidup dan bergerak aktif. Karena seperti alasan awal saat kita menonton film saat pertama kali, yang kita cari adalah pengalaman sinematiknya. Kekuatan kasat mata yang dapat membawa kita penontonnya pergi ke dimensi lain dan larut dalam semesta yang para film maker itu buat.

Dan selama beberapa jam menonton, kekuatan-kekuatan dalam elemen film (musik, akting, cerita, sinematografi, dll) menggerakan emosi kita untuk tertawa, marah, dan menangis bersama film tersebut.

Sehebat itu kekuatan sebuah film untuk saya.

Dan saya yakin sekali masih ada film Indonesia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membuat penontonnya betah untuk datang lagi dan lagi ke bioskop.

Karena film Indonesia selalu memiliki caranya sendiri untuk terus bangkit dan melawan. Ia tengah bersiap-siap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Mari bersama-sama membuat itu menjadi nyata.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya daftar film kamu sendiri yang sepertinya cocok untuk dibuat ulang?

*Data lebih lengkap bisa dilihat di sini -> http://journal.unair.ac.id/filerPDF/7-13_3.pdf

Sang Penari: Kisah Cinta Yang Merah

cb56e56a1cb96c5216b23751b3c96712

Sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. Apalagi mereka yang hidup dalam perbedaan kelas dan merasakan beratnya gesekan sosial politik di tempat yang mereka diami. Bisa dipastikan panah dewa cinta tak akan melirik sama sekali.

Dapat dibilang film Sang Penari merupakan film tentang cinta. Menceritakan kisah cinta antara Rasun dan Srintil.

Namun sayangnya, kisah cintanya tidak semembara Cinta dan Rangga. Tidak juga seharu biru Habibi Ainun.

Kisah cinta Rasun dan Srintil terasa pahit dan pilu. Jenis cerita cinta yang ketika kamu selesai menontonnya seperti ada lobang bolong merongga di dadamu. Bagai luka yang membekas dan enggan kamu obati. Karena di sana letak kenikmatannya, luka perih yang bisa kamu mainkan karena ternyata rasanya menyenangkan.

Begitu pula Rasun dan Srintil, meski cerita mereka perih dan mengoyak kalbu, namun itu tidak berarti cerita mereka tidak indah.

Keindahan kisah cinta mereka berada pada polemik dan kehancuran mereka sendiri.

Sang Penari secara jenius menggabungkan unsur adat, seni, romansa, dan panasnya situasi politik dengan presentasi yang kuat dan juga menawan.

Film diawali dengan keriuhan kampung Dukuh Paruk pasca penggerebekan oleh pihak militer. Kemudian laki-laki berbaju tentara itu menemukan bapak tua buta yang masih mengingatnya.

Cerita pun bergerak dari sana. Sebuah flashback hitam akan bagaimana ronggeng yang menjadi jantung dari Dukuh Paruk hancur karena segenggam tempe bongkrek. Dan Srintil ada di tengah-tengahnya. Menyaksikan bagaimana penari ronggeng pujaannya keracunan, dan bagaimana warga desa begitu kejam membiarkan mayat kedua orang tuanya membusuk begitu saja.

Tahun berlalu, Srintil pun menjadi perempuan dewasa yang rupawan dengan segenap hasrat untuk joget, menjadi seorang ronggeng. Siap menyuburkan kembali ekonomi kampung dan berbakti pada Eyang leluhur.

Namun jalannya tidak mudah, pertentangan hadir dari Dukun Ronggeng. Dengan penuh rasa enggan, Rasun yang awalnya menolak Srintil menjadi seorang ronggeng mau tak mau membantunya dengan memberikannya keris kecil peninggalan penari ronggeng terdahulu. Itu semua menandakan bahwa Srintil adalah penari pilihan langit. Srintil pun resmi dinobatkan sebagai penari ronggeng yang baru.

Kejayaan Srintil pun membawa kemakmuran kampung, seisi Dukuh Paruk kembali riuh dengan geliat joget Srintil. Sampai cinta Srintil dan Rasun pun diuji dengan prosesi buka kelambu.

Sebuah adat di mana keperawanan sang ronggeng dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Rasun bukan lelaki kaya. Ia hanya pekerja serabutan, sedang ada ratusan laki-laki yang siap untuk meniduri Srintil. Ia bukan pesaing.

Tetapi hati Srintil sudah terpaut pada Rasun. Keperawanannya pun ia serahkan pada Rasun. Dengan konsekuensi Rasun meninggalkannya. Karena Rasun tidak mampu melihat Srintil menjadi ronggeng. Meminjam ungkapan yang dipakai oleh Rasun, “ia tidak mau melihat Srintil seperti pohon kelapa yang siapa pun bisa menaikinya”.

Rasun pergi, menjadi seorang tentara. Sedang Srintil tetap menari.

Tahun 65 takdir membawa mereka kembali bertemu, dengan situasi yang berbeda. Panasnya peta politik antara PKI dengan negara menyeret Srintil dan Rasun pada pusaran yang sama.

Alih-alih didaftarkan menjadi penari istana seperti yang dijanjikan, Srintil yang tidak bisa membaca (pun seisi kampung Dukuh Paruk), nama mereka dijadikan simpatisan PKI. Yang nantinya daftar tersebut membawa mereka pada sang malaikat maut.

Melihat Srintil yang dibawa oleh tentara lainnya, Rusun dengan segenap kemampuannya berusaha untuk menyelamatkan Srintil. Namun semuanya terhalang. Srintil tetap pergi, kini ditangan sang maut.

Di akhir film, tahun berganti, Rasun secara tidak sengaja mendatangi bunyi gendang yang ia kenal di sebuah pinggir jalan. Di sana ia menemukan Srintil. Ia tetap perempuan yang sama yang ia kenal. Ia tetap menari. Namun saat mata mereka bertemu, Srintil kembali pergi. Kini dengan kelegaan.

Film pun ditutup dengan sangat poetik dan sinematik dengan tarian Srintil menuju ketiadaan yang panjang. Dan meninggalkan perasaan agoni dan gemetar haru saat scene tersebut usai.

Membahas Sang Penari

Sang Penari bukan film yang dibuat sembarangan. Film ini diangkat dari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karangan Ahmad Tohari. Salah satu buku sastra paling penting di Indonesia.

Film ini pun memakan riset selama dua tahun untuk memberikan keontetikan situasi terutama pada scene penggerebekan kampung oleh militer yang kemudian membawa pada pembantaian masal.

Menurut saya pribadi, jika dirunut ada empat pembahasan penting dalam film sepanjang seratus menit lebih ini. Yaitu mengenai:

  • Adat
  • Kisah Cinta
  • Tubuh Perempuan
  • Politik 65

Dalam aspek adat kita dapat melihat betawa piawainya Prisia Nasution memerankan Srintil. Musik dan tariannya begitu mistis, memikat siapa pun yang menyaksikannya. Jelas sekali bahwa dari awal tujuan hidup Srintil adalah menari, meneruskan rantai budaya dan membersihkan nama baik keluarganya yang kandung rusak karena kejadian semasa ia kecil. Tidak banyak film Indonesia yang begitu otentik mengangkat budaya awal ronggeng yang ditampilkan dengan layak. Tidak hanya sekadar tempelan dan pemanis. Namun secara sadar, peran tarian di sini adalah sentral dari bergeraknya cerita dari awal hingga akhir.

Hal yang juga penting diamati lebih dalam lagi adalah bagaimana dalam konteks film ini, sebagai penari ronggeng, tubuh Srintil adalah alat. Ia kendaraan untuk mendapatkan materi. Sesuatu yang sudah tidak asing di budaya yang patriarki di Indonesia ini. Namun yang menarik adalah, tubuh Srintil pun laksana potret keagungan maha kuasa. Siapa pun yang tidur dengan Srintil niscaya akan mendapatkan kesuburan dan kesuksesan.

Fenomena ini membuat Srintil memiliki power dan kendali di sana. Ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Meskipun, sangat disadari bahwa dalam masyarakat Dukuh Paruk, otoritas tubuh Srintil hanyalah sebatas adat. Sesuatu yang bisa mereka miliki bersama. Bukan lagi sesuatu yang bersifat personal.

Membahas politik, film Sang Penari patut diacungi jempol. Dengan berani film ini membahas kisah kelam tahun 65. Isu yang jarang hadir dalam perfilman Indonesia modern.

Betapa muatan politik di film ini mengalir dengan sangat jelas dan tepat pada temponya. Kerusuhan enam lima dengan nyata digambarkan dengan todongan dan teriakan tentara pada para warga yang tidak mengetahui apa pun. Rasa takut mereka menular di film ini.

Mereka adalah korban. Korban ketidaktahuan yang diberantas karena kepentingan elit politik. Betapa adegan saat Srintil bertanya mengenai apa maksud dari namanya ditulis dalam sebuah carik kertas yang ia bahkan tidak dapat baca, adalah gambaran paling lugu mengenai keterikatan rakyat kecil dalam pusaran politik saat itu.

Korban kebanyakan di tahun enam lima mungkin adalah mereka yang sebenarnya tidak mengetahui apa itu komunisme, yang mereka tahu itu adalah partai yang memihak para petani. Dan dalam satu kali gilas, hampir jutaan korban rakyat jelata itu pun hancur dalam ketiadaan. Ini menegaskan bahwa kita, saya dan kamu, siapa pun itu adalah mahluk politik yang bisa saja terjerat konflik kapan pun.

Adegan yang mencekam antara militer dan ketakutan warga kampung digambarkan begitu realis hingga saat cerita cinta yang pilu itu selesai, film Sang Penari menawarkan menu lain bagi penontonnya.

Apakah kita akan mengingat sejarah ini lalu membongkarnya? Atau hanya diam membiarkannya?

Sembari kita memikirkan jawabannya, mungkin di sana, yang pasti Srintil akan terus menari. Hingga sendi-sendi dalam tubuhnya perlahan berhenti.

Ngenest: Becanda Yang Ada Isinya

Ngenest-Poster

Semua orang pasti sepakat bahwa Ernest Prakasa adalah seorang aktor yang baik. Dia selalu menyampaikan semua dialog dengan gerakan yang nyata. Gue akan percaya dengan setiap peran yang dia mainkan. Baik di Comic 8 sebagai seorang perampok gila atau perannya menjadi karyawan nyebelin di Sabtu Bersama Bapak. Semua dia mainkan dengan sangat flawless.

Lalu di akhir tahun 2015, Ernest muncul dengan film Ngenest, karya pertamanya sebagai seorang sutradara sekaligus aktor di dalamnya. Latar belakang Ernest sebagai stand up comedian yang satu geng dengan Raditya Dika membuat gue ragu dengan film ini. Karena jujur aja, gue enggak pernah  menikmati jokes jomblo Raditya Dika yang di abuse terus menerus. Maka gue memiliki ketakutan bahwa film ini tidak akan jauh berbeda ceritanya seperti film-film Raditya yang lain, yang kisahnya hanya berputar tentang derita jomblo dan sexism cewek pas masa pacaran. Seabsurd itu, kesannya enggak ada topik lain di dunia ini yang lebih penting dibanding jadi jomblo dan cewek yang enggak bisa satu frekuensi sama elo.

Tapi ternyata Ngenest hadir di luar ekspektasi, ia muncul sebagai film komedi yang renyah namun memiliki statement yang kuat. Ngenest menampilkan kisah menjadi minoritas di Indonesia. Dengan mostly karakter di filmnya adalah keturunan Cina.

Sesuatu yang bisa dibilang jarang ada di Indonesia, karena biasanya tokoh dan karakter Cina berhenti sebagai kokoh penjual barang klontong saja. Tapi di sini, sebagai film coming age, Ernest menawarkan kisah menarik dari betapa tidak enaknya menjadi etnis Cina di Indonesia. Bagi siapa saja yang menontonnya, baik itu pribumi atau memang peranakan Cina, pasti pernah bergesekan dengan isu ini. Suka tidak suka, beberapa tampilan adegan di film ini berusaha menyentil kita bahwa menjadi berbeda itu tidak enak dan tidak seharusnya diperparah dengan hinaan yang malah memperparah semuanya. Tenang, seperti yang gue bilang tadi, semuanya dibalut komedi.

Cerita di mulai dari masa pembulian Ernest dari bangku sekolah, ia dengan fisik yang berbeda dengan anak-anak lainnya membuatnya menjadi sasaran bully dan kolekan yang empuk. Lambat laun, muak dengan nasibnya, ia pun memiliki pikiran bahwa untuk memutus tali kesengsaraan minoritas ini adalah dengan memperbaiki keturunan. Yaitu dengan menikahi cewek pribumi.

Semua pun terwujud dengan Ernest menikahi Mei, cewek yang ia temui secara tidak sengaja di tempat les bahasa Cina saat ia kuliah di Bandung. Mei diperankan dengan sangat apik oleh Lala Karmela.

Lalu setelah satu jam berlalu, konflik cerita muncul dengan ketakutan Ernest jika nanti anaknya terlahir sebagai Cina juga. Turbulensi yang menggoyang semesta sempurna hidup Ernest. Dan film pun diakhiri dengan win win solution di mana Ernest memiliki anak perempuan Cina, namun dengan kondisi di mana ia sudah menerima fakta bahwa, it is okay to have anak sipit, asal dia selalu ada buat anaknya, dan enggak lari dari dia. Tamat.

Film berdurasi satu jam dua puluh delapan menit itu berhasil membuat gue penasaran akan nasib masing-masing karakter di film Ngenest. Akting semua karakternya pun enggak ganggu. Pas. Bahkan mereka dapat mendeliver jokes dengan timing yang tepat. Meski ada beberapa jokes yang hit and miss. Tapi ya, bikin film komedi emang susah kan, jadi gue manut aja.

Tapi yang sangat mengganggu buat gue adalah akan tempo narasi film ini. Karena selama satu jam awal, film terlalu banyak mengenalkan karakter, selain Ernest, semua orang tidak memiliki konflik yang berarti.

Fragmen demi fragmen Ernest pun berjalan terlalu mulus, yang padahal gue berharap akan ada ironi-ironi pahit yang dijalani karakter Ernest di film yang membuat karakternya tumbuh dan berubah. Dan kealfaan itu pun diperparah dengan munculnya konflik krusial di babak terakhir tentang kegamangan Ernest, yang seharusnya bisa diurai dan menimbulkan simpati, tapi sayangnya semuanya diselesaikan dengan terburu-buru selama dua puluh menit saja.

Lalu yang buat gue rolling eyes adalah peran side kick si Patrick, Ernest membuat konfliknya mengambang begitu saja. Padahal, sahabatnya mandul. Fucking mandul. Kalau di dunia nyata elo ngedenger tetangga elo ngaku mandul, elo pasti udah iba seibanya manusia. Lah, ini sahabat dari kecil gitu, bro for life, tapi si Ernest lempeng aja gitu responnya.

Don’t get me start dengan peran-peran pendukung lain, teman-teman Ernest di kantor dan kuliah pun, Ernest tidak berusaha untuk mengenalkannya. Mereka cuma kayak lalu lalang untuk hadir ngejokes tanpa penontonnya tahu fungsi mereka sebenarnya apa dalam cerita tersebut.

Dengan tempo dan dosis scene yang terlalu terburu-buru, membuat film Ngenest yang kuat di premis menjadi goyang di departemen ceritanya.

Padahal, jika diberikan ruang dan durasi yang lebih lama untuk menyampaikan kisah sentral tentang ketakutan Ernest memiliki keturunan Cina yang akan mengalami nasib yang sama dengannya. Gue rasa film Ngenest bisa jadi film komedi yang padat dan membekas. Tidak menggantung hampa seperti jokes penyanyi kawinan Koh Hengki yang membuat gue mengerenyitkan dahi.

Tapi over all, cerita di film Ngenest lebih solid dibanding kesemua film-film absurd Raditya Dika dijadi satu.

Ang Lee: Father Knows Best

Jadi berawal dari menonton film ini saya jadi penasaran dengan film-film lainnya dari Ang Lee. Yang baru saya tahu bahwa film Eat, Drink, Man, Woman (1994) adalah trilogi Father Know Bests-nya Ang Lee. Jadilah saya menonton ke dua film sebelumnya, yaitu: Pushing Hand (1992) dan The Wedding Banquet (1993).

pushing hand.jpg
Pushing Hand (1992)

Menonton film-film awal Ang Lee sebelum bertandang ke Hollywood merupakan sebuah pengalaman flash back romantis ke awal tahun sembilan puluhan dengan narator witty yang siap menyindir apa pun. And you will laugh with it. Either you are the one who get mocked or you just simply get amuse with it.

Ketiga film dalam Trilogi Father Knows Best milik Ang Lee memiliki beberapa elemen penting yang terus ada dan diputar berulang. Yaitu: hubungan orang tua dengan anak (terutama Ayah dengan anaknya), kontras akulturasi antara budaya barat dan timur, konsepsi seks di budaya timur dan pornonya penyajian makanan yang membuat siapa pun akan menelan ludah saat menonton ke tiga film tersebut.

Cerita-cerita dalam ketiga film Ang Lee berpusat pada benturan dan permasalahan dalam keluarga asia. Dengan cekatan ia sampaikan dengan visual dan adegan yang menontonnya akan merasa dekat dengan masalah tersebut.

Akar permasalahan kesemuanya sebenarnya bagi kebanyakan keluarga asia adalah tentang bagaimana anak berkomunikasi dengan orang tua terutama karakter Ayah yang memang dikenal sebagai sosok sentral dalam sebuah keluarga. Beranjak dewasa sosok Ayah tersebut berubah menjadi tokoh keramat yang setiap titahnya adalah kebenaran.

Dan itu menjadi hal yang coba Ang Lee advokasikan dalam filmnya. Tentang sejauh mana peran orang tua dalam kehidupan anaknya yang sudah dewasa. Apakah perbedaan demi perbedaan akan mengeliminasi makna keluarga yang pernah ada sebelumnya? Atau malah menguatkan?

Lalu lebih dalam lagi, dalam ketiga film tersebut, Ang Lee pun menyorot kegagapan budaya Barat dalam memproses pemahaman akan budaya Timur itu sendiri. Ada banyak momen-momen yang secara canggih Ang Lee argumentasikan dalam filmnya.

Seperti dalam film Pushing Hand, cerita yang berpusat tentang seorang Ayah pensiunan yang tinggal di Amerika yang harus beradapatasi dengan istri anaknya yang kebetulan seorang bule. Bule yang so typical banget, merasa superior dengan teknologi dan sistem yang mereka punya. Seolah dunia hanya berputar tentang dia saja. Sehingga tidak merasa perlu untuk tahu tentang background sang Ayah mertuanya.

Jika di keluarga Asia, semua anak dididik untuk menghormati kedua orang tuanya, dan merawat orang tuanya yang sudah sepuh sebagaimana mereka dulu merawat mereka di kala kecil dulu. A payback concept yang sepertinya tidak terintegrasi dalam otak si perempuan bule dalam film Pushing Hand. Dan konflik itu lah yang menjadi jalan cerita menarik dalam film Pushing Hand. Geger budaya beda negara yang tidak teruraikan dengan baik.

Lain lagi dengan film The Wedding Banquet (1993). Filmnya dibungkus dengan humor yang menggelitik namun tidak berlebihan. Film yang mengangkat tema gay ini menurut saya sangat maju di eranya. Konsepsi seksual yang tabu itu dibredel Ang Lee dengan jenaka dan terbuka.

Scene gay di film ini dibuat dengan sangat kasual dan tetap memanusiakan mereka. Mereka tidak menjadi alien yang memiliki sejuta perbedaan dengan yang ‘straight’. Di film The Wedding Banquet (1993) permasalahan adalah tentang takutnya si anak laki-laki yang gay untuk mengakui seksualitasnya dan akhirnya membuat pernikahaan palsu demi membuat orang tuanya tenang. Terlebih umurnya yang sudah tiga puluhan, karena di Asia menikah adalah sesuatu yang sangat wajib. Sayangnya, apa pun yang berangkat dari kebohongan tidak akan berjalan baik. Termasuk dalam film ini.

Si anak terjebak dengan kebohongannya dan akhirnya malah menjauh dengan pacar gaynya. Seolah orbit bergerak terlalu jauh dari substansi awal yaitu semua kebohongan ini dibuat untuk menyelamatkan hubungan mereka berdua, alih-alih malah membuat semuanya jadi kacau.

the-wedding-banquet-movie-poster-1993-1020243569

Yang lebih keren lagi di film The Wedding Banquet ini adalah tentang sikap kedua orang tua tentang menanggapi isu anaknya yang gay. Keabu-abuan itu masih sangat terasa, apalagi dalam scene melihat album pernikahan. Sikap sang ibu tetap menentang namun tidak berusaha untuk menyakiti perasaan anaknya sendiri.

Sedang sang Ayah, yang awalnya sangat ditakuti, malah jadi orang yang dengan legowo menerima itu semua. Yang bukannya memang seharus itu bukan?

Saya teringat puisi Anakmu Bukan Milikmu, Kahlil Gibran. Ada baitnya yang berbunyi

…Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak yang meluncur.

Dengan jelas Khalil mengungkapkan bahwa anak adalah tetap manusia, yang bebas memilih pilihannya, dan akan hidup di kakinya sendiri nanti. Maka biarkanlah ia meluncur bebas, menjadi apa pun yang ia mau.

Elemen terakhir adalah tentang makanan, jika di film Eat, Drink, Man, Woman (1994) makanan memang menjadi sentra cerita, di kedua film Pushing Hand dan The Wedding Banquet, makanan menjadi elemen cantik yang membuat penonton berdecak lapar. Kemewahan makanan Asia sangat andal Ang Lee tampilkan dengan bulir minyak daging bebek yang lezat dan dumpling yang so-oh-yummy to eat.

Kesemuanya menjadikan film Ang Lee sebagai representasi Asia yang modern dan moderat menjadi tidak berlebihan. Semuanya begitu canggih dan heartwarming di waktu bersamaan.

Jika Wong Kar Wai adalah seorang sutradara art house romantis paling keren di Asia, Asghar Farhadi dengan andalan drama psikologisnya yang mencekam, maka Ang Lee hadir sebagai narator canggih dengan narasi yang dalam akan kehidupan.

Tak lupa, ada satu lagi yang saya belajar dari film-film Ang Lee ini, lewat filosofi Tai Chi Ang Lee mengajarkan bahwa keseimbangan, betapapun sangat berbeda pada tiap elemennya dan begitu menganggu, sangatlah perlu dalam hidup.

Karena toh hidup memang tentang itu semua. Hasrat, tekanan, pelepasan, dan penerimaan. Dan kesemuanya akan berjalan beriringan dengan harmonis jika kita mengizinkannya.

Eat, Drink, Man, Woman: Kehangatan dan Kelezatan Kasih Sayang Ayah

eat-drink-man-woman_poster_goldposter_com_9-jpg0o_0l_400w_70q

Ang Lee memang tidak pernah sembarangan dalam membuat film. Terbukti film besutannya di tahun 1994 ini benar-benar menggambarkan dirinya sebagai pencerita ulung dengan simbol-simbol visual yang menggetarkan.

Eat, drink, man, woman adalah gambaran dasar seorang manusia. Kita semua lahir dengan naluri makan dan bercinta. Dan film ini mengangkat dua tema besar itu: Makanan dan Cinta.

Sepanjang film, dengan sabar Ang Lee menggambarkan kekakuan seorang Ayah dengan ketiga putrinya. Semua aksi-reaksinya ternarasikan lewat keheningan suara dan jarak kamera. Ditambah dengan kepiawaian gerakan dan emosi yang sangat luwes dibuat oleh para pemainnya membuat kita yang menyaksikan film ini seperti dibawa masuk ke dalam pintu rumah mereka dan seolah menyaksikan scene tiap scene-nya secara langsung.

Kegetiran masing-masing tokoh juga dengan tajam ditampilkan, seperti kecemasan ketiga anak perempuan yang hidup ‘rawan’ dengan standar sosial budaya Cina yang tidak jauh-jauh dari masalah perkawinan.

Dari sana drama percintaan masing-masing anak perempuan dikisahkan dengan mood yang berbeda-beda. Kontras mulai dari perawan tua, perempuan mandiri, dan cewek remaja yang memiliki alurnya sendiri namun tetap nyaman untuk diikuti.

Meskipun akhirnya toh masing-masing mendapatkan cinta. Yang untungnya bukan sekadar kebutuhan, namun pelengkap yang batin.

Makanan dalam film ini pun tidak serta merta sebagai pemanis visual atau tempelan di awal saja. Melainkan sebagai detail film dan begitu otentik. Di film ini makanan terkukuhkan sebagai kendaraan dan saluran komunikasi antar masing-masing karakter.

Sebagaimana makanan merupakan pembahasa emosi seorang Master Chef Chu yang kehilangan indra pengecapnya dengan orang disekitarnya. Makanan juga yang menjadi medium penengan dalam keringkuhan dirinya atas tiap-tiap pengumuman di tiap tradisi makan malam besar keluarga bersama ketiga putrinya setiap hari Minggu.

vlcsnap-dinner-girls

Yang terbaik, ironi dalam konflik di akhir film tidak saja membuat film ini menjadi sebuah romansa melankoli drama keluarga tok. Tetapi juga sebagai potret jujur dari kebanyakan hubungan Ayah dan anak yang membeku terhalang umur dan perbedaan di negara Asia kebanyakan. Tapi tetap kita tidak kehilangan rasa manisnya drama ini yang tak berlebihan.

Karena sejatinya dari film ini kita dapat melihat bahwa; tidak ada yang dapat mengalahkan kasih sayang seorang pria, seperti kasih sayang seorang Ayah pada putrinya.

Dan, seperti apa yang dikatakan Master Chef Chu: hidup bukanlah seperti memasak yang harus menunggu banyak hal datang. Namun yang terpenting adalah tentang rasa dari isi hidup itu sendiri.

Film ini menjadi film ‘makanan’ favorit saya sejauh ini. Saya rekomendasikan ditonton bersama Ayah atau putri Anda sambil menyantap bebek peking dan dimsum panas bersama-sama. Rasa-rasanya akan menyenangkan.