Review Film Teman Tapi Menikah: Gemas-Gemas Gimana Gitu

Screen Shot 2018-04-19 at 12.06.44 AM

Apakah laki-laki dan perempuan bisa bersatu dalam ikatan pertemanan tanpa ada rasa suka pada satu sama lain?

Pertanyaan itu mungkin sering kamu dengar atau jangan-jangan sedang kamu jalani sekarang ini?

Nah buat yang sedang berada dalam dilema tersebut ada baiknya kamu menonton film manis satu ini berjudul Teman Tapi Menikah. Film yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama karya dari pasangan selebritas yang sedang naik daun: Ditto dan Ayu Diah Bing Slamet.

Kisah film Teman Tapi Menikah sangat sederhana, tentang Ditto yang memendam perasaannya selama 12 tahun pada Ayu dan seperti spoliler di judul filmnya: mereka berdua pun berakhir menikah bersama.

Tapi tentu saja selama dua belas tahun premis tersebut tidak dijalani dengan sesederhana itu. Pasti ada banyak naik turun yang dialami Ayu dan Ditto.

Seperti saat Ditto yang sabar melihat Ayu selalu berganti pacar dan dia hanya dijadikan senderan untuk memberikan contekan dan tukang antar jemput. Yang mana dilakukan oleh Ditto dengan ikhlas sekadar untuk bisa menemani dan melihat Ayu.

Secara pribadi saya sangat menikmati menonton film ini. Tidak ada plothole yang ganggu, tidak ada aktor-aktor dengan akting yang nyebelin, atau gangguan-gangguan teknis lain. Semuanya terasa pas pada porsinya.

Film Teman Tapi Menikah memang dikhususkan untuk mereka para penyuka film romansa yang sudah mengikuti kisah Ditto dan Ayu sebelumnya lewat bukunya atau akun media sosial mereka.

Dan bagi yang tidak mengikuti sama sekali, baik di media sosial atau membaca bukunya (seperti saya), ketika menonton film ini malah menjadi tertarik untuk mengulik kisah mereka berdua lebih dalam lagi.

Yang menjadi unggulan dalam film Teman Tapi Menikah adalah keseluruhan elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari para aktornya, baik yang utama maupun pendukungnya, semua berakting dengan sangat baik. Dan tepuk tangan paling meriah tentu saja diberikan pada Adipati dan Vanesha yang berakting dengan sangat natural dan menggemaskan. Para penonton, setidaknya saya, dibuat percaya bahwa mereka adalah dua orang teman yang memiliki kedekatan yang asik.

Menonton film ini, saya seperti melihat entitas tersendiri, saya tidak tahu seperti apa Ditto dan Ayu Diah di kehidupan nyatanya. Jadi, saya melihat keduanya berakting dengan sangat baik sesuai karakter yang mereka bawakan.

Gambar-gambar yang diproduksi dalam film ini pun BAGUS sekali. Meski ada beberapa yang glossy dan kuningnya terlalu berlebihan, namun memang tujuannya untuk menghasilkan gambar yang clean dan penanda sebagai kilas balik ke masa lalu. Jadi, masih bisa ditoleransi lah.

Favorit saya adalah bagaimana film ini merekam Bandung dengan begitu indah dan gambaran kosmopolitas juga upper class keluarga Ibu Kota yang tidak berlebihan namun tetap memabukkan.

Yang paling saya soroti adalah adegan pembuka film ini saat Ditto mendengarkan detail-detail suara di sebuah cafe saat menunggu Ayu datang. Semua terasa enerjetik dan menular. Settingnya seperti iklan yang menarik. Namun, sayangnya detail-detail tersebut berhenti di awal saja. Padahal saya menunggu ada keterikatan filosofi perkusi dengan cerita film ini. Sayangnya tidak ada.

Selebihnya film ini begitu cerewet dengan dialog-dialog yang penuh tanpa memberikan jeda pada gambar-gambar diam yang sebenarnya bisa bercerita sendiri.

Seperti saat Ditto naik bus menuju rumahnya saat menyadari ia butuh membeli mobil untuk bisa pulang bersama Ayu. Atau saat Ayu merasa dikhianati oleh Ditto ketika ia menyatakan perasaan sukanya pada Ayu dan Ayu akhirnya berkubang pada perasaan sedihnya di kamar tidur.

Dua scene tersebut pengambilan gambarnya terlihat sangat poetic dan berpotensi untuk memberikan kedalaman pada cerita dengan dramatisasi yang memang pas untuk kegamangan dan kesedihan yang ada pada plotpoint penceritaan.

Jadi, saya merasa film ini terlalu berisik menuntun para penontonnya untuk mengetahui emosi dan perasaan masing-masing karakter lewat dialog-dialog yang terus menerus mengulang kata-kata yang sama. Mungkin itu untuk kebutuhan quoting caption di media sosial kali ya. Yang sebenarnya saya rasa tidak perlu-perlu amat.

Sehingga tidak ada ruang ‘theater of mind’ para penontonnya untuk menerka-nerka ke mana jalan cerita ini seterusnya akan berjalan meskipun dengan ending yang sudah mereka tahu dari awal. Tidak masalah ketika kita sudah tahu akhir dari cerita tertentu, namun setidaknya dalam drama tentu saja penonton membutuhkan twist dan kejutan-kejutan sendiri untuk membuat tensi cerita agar tetap naik dan menarik.

Terlepas dari itu, film ini cukup berhasil untuk memberikan emosi pada penontonnya ketika adegan Ditto yang akhirnya menyatakan perasaannya pada Ayu di Cafe. Umpan-umpan di awal yang sudah ditaruh untuk siap memburai emosi penonton saat Ayu menolak Ditto berhasil dengan sempurna menarik kailnya untuk dikoyak pada flashback yang asik saat Ayu akhirnya pun menyadari betapa penting arti Ditto dalam hidupnya.

Ditambah musik-musik pengiring yang hadir dengan seru. Terutama saat muncul lagu Melupakanmu dari Endah n Rhesa juga lagu yang dibawakan Iqbaal Ramadhan. Secara keseluruhan dapat mengisi momen-momen sedih, senang dan romantis dengan manis.

Saya senang sekali bisa menonton film remaja ‘cinta-cintaan’ yang dibuat dengan proper dan akhirnya menghasilkan kesinergisan antara isi cerita dan elemen-elemen lainnya. Salut untuk para kru dan aktor di film ini!

Kembali lagi ke pertanyaan awal apakah dua orang dengan gender yang berbeda bisa berteman tanpa ada ketertarikan seksual satu sama lain? Jawabannya ya cuma kamu sendiri yang tahu. Tapi jangan lupa untuk berjuang memberitahukannya kalau-kalau kamu suka.

Anyway another observation sepanjang film ini adalah:

  1. Fashion secara keseluruhan film ini tuh sudah asik, penggambaran Ditto yang kece dan gaul dengan sempurna terwakilkan dari pemilihan style dan baju yang pas dari awal sampai akhir. Tapi KENAPA WIG DI MASA SMP GANGGU BANGET SIH?
  2. Terus tiga baju terakhir yang dipakai Ayu mulai dari baju kuning di cafe, kemudian adegan dia ngasih tau pacarnya kalau Ditto menyatakan perasaan (rambut dia berantakan ga jelas juntrungannya juga anting dan dan kalung bunganya yang segede-gede gaban itu ganggu banget). Paling epik adalah baju pas dia ke Bali. Itu baju yang dipakai labil banget. Mau bikini atau levis atau apa sih? Enggak ngerti.

Selebihnya semua masih oke untuk ditonton seru-seruan bareng pacar atau teman yang lagi kamu kode-kodein.

Selamat menonton!

 

Advertisements

PART 2: Film Yang Berakhir Ngenes [SPOILER]

Setelah semua netizen sebal dengan kehadiran Hari Untuk Amanda yang mengguncang batin para jomblo di part 1, gue akan kembali memberikan daftar film-film percintaan dengan akhir yang asem dan membuat klean semua mempertanyakan eksitensi cinta yang absurd dan kadang bikin hati ngebatin.

Anyways, makin percaya cinta itu bukan buat semua orang enggak sih?

Screen Shot 2018-02-28 at 5.39.58 PM

Mari kita mulai saja pengajian patah hatinya…. 

Hello Stranger (2010)

Butuh dua tahun buat gue untuk bisa move on dari film Hello Stranger. Semenyakitkan itu menonton film Thailand satu ini dengan ending yang bisa meremuk redamkan seluruh harapan di hidup gue yang fana kala itu. Rasa-rasanya saat film tersebut dibuat gantung di akhir dan layar menjadi gelap, gue seperti bisa merasakan perihnya luka saat ditinggal orang yang lagi disayang-sayangnya.

Dikisahkan dua orang yang tadinya tidak mengenal satu sama lain bertemu secara tidak sengaja saat berlibur di Korea. Yaitu May (si perempuan) dan Dong (si cowok). Dua nama itu bukan nama asli mereka, karena dari awal mereka sudah berjanji untuk tidak memberitahukan nama masing-masing. Tujuannya sih biar mereka enggak baper dan seru-seruan aja. Hemm, padahal mah…

Pertemuan mereka di Korea ternyata membawa banyak perubahan pada diri mereka. Baik May dan Dong akhirnya berani jujur dengan masalah yang menggerogoti mereka selama ini. Mereka menghadapi dan menyelesaikan semuanya bersama-sama. Namun sayangnya ada satu hal yang tidak terselesaikan, perasaan mereka sendiri.

Masalah yang terjadi di film ini sebenarnya adalah tentang ekspektasi satu sama lain. May dan Dong adalah dua orang yang sedang patah hati, berlibur bersama, merasakan kenyamanan, dan terburu-buru untuk saling memiliki.

Saat janji manis prematur mereka dikhotbahkan sekembalinya nanti ke Thailand demi meniti kebahagian bersama. Tanpa aba-aba badai besar pun datang menerpa mereka dalam bentuk seseorang dari masa lalu Dhong. Dhong pun dengan bangsatnya memilih ke pangkuan masa lalunya dan meninggalkan si May yang harus memunguti sekali lagi hatinya yang berkeping-keping karena cinta. (CIH, MAKAN TUH CINTA!)

Seperti kata-kata bijak Bunda Dorce: Manusia boleh berencana, Tuhan juga yang menentukan.

Dan pada akhirnya mereka pun berpisah sesampainya pulang ke Thailand, melupakan segala kenangan manis mereka berdua di belakang.

hello_stranger

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa sih yang enggak pernah terjebak dengan summer fling. Saat elo menemukan sosok baru yang meskipun ia menyebalkan namun bisa ngebuat merasa nyaman dan sialnya… bahagia.

Lalu setelah summer atau liburan itu usai, perasaan elo masih ada, diam-diam elo berharap bahwa dia masih ngeliat elo sebagai orang asing yang asik dari liburan kemarin.

Elo menginginkan dirinya lebih dari apa pun. Namun, elo pun bertanya-tanya: Apakah ia merasakan hal yang sama?

Duh konsep rasa sakit dari penolakan atas sesuatu yang hampir dimiliki namun akhirnya terhempas, adalah jenis sakit hati yang tiada duanya di pasaran loh. Thanks buat film Thailand ini yang benar-benar merayakan perasaan sakit tersebut.

tumblr_lm5b1w87k21qe7vgl

Adegan Paling Ngehek:

Tentu saja saat si Dong dan May mau pulang ke bandara namun di jalan bertemu mantan tunangannya si Dong. Memang lah perih cinta tiada dua, hanya beberapa menit  May mengenggam kebahagian dan melihat gambaran manis akan kehidupannya bersama Dong, paginya ia harus melihat Dong meninggalkannya.

SI DONG FUCKING BALIKAN LAGI SAMA MANTANNYA DI DEPAN MATA SI MAY.

HEBATNYA, MAY BISA SENYUM SELOW GITU. Kalau aing jadi dia, udah kejang-kejang macam Bu Dendy sambil lempar-lempar duit ke muka si Dong. Sambil teriak, MAKAN TUH JANJI-JANJI LO!

Memang anjink cowoknya, udah dia yang bilang suka, dia juga yang ninggalin.

Tapi gue puas banget sama cerita di ending film ini. Mampus kan si Dong kesiksa sendiri buat nyoba nyari si May dengan segenap hati.

Sampai dong dia beli ratusan cd film Thailand demi mencari nama asli si May yang katanya dulu pernah jadi figuran di sebuah film. RASAIN! Meski ngana cakep bukan berarti kamu boleh brengsek.

Quotes Paling Anzeenk!

Some people meet once, feel like know them for a long time.

You Are The Apple of My Heart (2011)

the-apple-of-my-eye3

Wadaw, bahas film ini harus siap-siap terseok-seok ke kubangan memori masa SMA dulu. Masa di mana semua terasa sederhana tanpa pretensi apa pun. You just fell in love and you enjoyed it.

Film coming of age dari Taiwan ini tidak hanya menghadirkan tawa, hangatnya persahabatan, namun juga lobang kesepian yang begitu dalam setelahnya.

Ko Ching-Teng adalah seorang bocah laki-laki kebanyakan di zaman SMA. Yang bengal dan suka melawan. Dan Shen Chia-yi adalah kebalikan dari segala hal yang ada dalam hidupnya.

Ketebak lah ya dari sana kita bisa lihat bahwa pelan-pelan cinta pun tumbuh di tengah-tengah mereka.

Lihat mereka berdua tuh kayak ngeliat temen yang kita tahu banget sejarah pacarannya dari masa PDKT, jadian, sampai putus.

Kita menjadi saksi bagaimana perasaan mereka tumbuh dan teruji. Meskipun pada akhirnya mereka tidak memiliki satu sama lain.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada merelakan seseorang yang sama-sama kita tahu bahwa you and that person are insanely perfect for each other. Tidak akan ada orang lain lagi yang bisa memahami elo atau pun dirinya kalau bukan kalian berdua.

Dan elo ngelepas orang tersebut bukan karena elo udah bete sama dia. Tapi karena elo pengen ngeliat dia bahagia aja. (ini ngetiknya sambil mewek).

tumblr_myqglkSFnr1rhpc16o7_r1_400

Adegan Paling Ngehek dan Quotesnya Anzeknya sama deh:

99a52bf4d58c8554564ad1a759e25dcf

Adegan pas mereka berdua berantem terus ada jeda lama, kemudian ada gempa yang mengguncang di Taiwan. Orang pertama yang di telfon Ching Theng adalah Shen Chia-yi, buat gue remuk banget.

Mereka pada akhirnya bisa membahas masa lalu sambil tertawa dan lebih jujur akan perasaan masing-masing. Dan saat mereka membahas tentang dunia pararel yang di mana konsep akan diri mereka menjadi pasangan dan mereka pun iri dengan fakta tersebut adalah percakapan yang bisa dijadiin pick up line siapa pun untuk ngobrol sama mantan. Fak! Film ini bagus banget. Asli!

In The Mood For Love (2000)

In The Mood for Love adalah film yang indah dari segi visualnya. Film cinta penuh rahasia dan hasrat yang membara ini membawa kita menyaksikan kisah cinta dua orang yang telah menikah namun kembali jatuh cinta dengan tetangga masing-masing.

Duet Wong Kar Wai dan Christopher Doyle berhasil merekam kisah terlarang tersebut dengan amat romantis. Gambar yang memesona dari tiap-tiap adegannya tidak membutuhkan dialog yang cerewet. Film ini kaya karena scene-scene di dalamnya.

Pengalaman sinematik yang akan membuat elo semua orgasme visual.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa pun yang pernah ‘selingkuh’ atau tanpa sadar jatuh cinta dengan seseorang yang telah menjadi milik orang lain pasti akan merasakan emosi yang sama dengan dua tokoh di film ini. Bagaimana segala keterbatasan dan halangan menjadikan kisah cinta kalian lebih menggairahkan dan selalu ditunggu.

Meskipun pada akhirnya, satu sama lain diri kalian tahu bahwa kalian hanya akan menjadi bayangan dan tidak akan pernah menjadi tokoh utama.

Adegan Paling Ngehek:

Gue suka banget adegan saat di taksi dan saat mereka ketemu diam-diam di jalan. Gue bisa ngerasain bagaimana mereka pengen nunjukin ke dunia akan cinta mereka namun semuanya tertahan karena masalah waktu. Mereka bertemu di waktu yang salah.

Quotes Paling Anzeenk!

Saat semua kerahasian itu terlalu sesak, pernah enggak sih elo bertanya-tanya bagaimana cinta itu dimulai? Apa yang elo dapet?

Sakitkah? Bahagiakah? Atau semua bergerak terlalu jauh?

in-the-mood-for-love (2)

One Day (2016)

Satu film rom-com keren lagi dari Thailand berjudul One Day.

Efek menonton film ini tidak kalah luar biasanya dari Hello, Stranger. Dikisahkan seorang karyawan IT cupu jatuh cinta dengan gadis cantik di kantornya. Mereka tidak saling mengenal, namun si karyawan IT cupu ini hafal betul segala hal tentang perempuan tersebut. Tipikal cinta platonik.

Lalu kantor mereka pun berlibur ke Jepang. Nahas buat si perempuan cantik itu yang selama ini menjadi simpanan bosnya, sang istri bos datang berkunjung untuk ikut liburan bersama suaminya.

Kaget dengan situasi yang terjadi, si perempuan cantik itu bermain ski dan kecelakaan. Untung ada si karyawan IT cupu yang creepy itu, yang diam-diam menguntitnya. Saat kecelakaan dia bisa langsung segera ditolong.

Saat dibawa ke rumah sakit, sial sekali si perempuan cantik itu hilang ingatan selama dua puluh empat jam.

Si karyawan IT cupu itu pun merasa ini satu-satunya kesempatan dirinya untuk dekat dengan perempuan cantik itu. Karena keesokannya toh si perempuan itu akan lupa semuanya.

Dari sana lah cerita asik film One Day bergulir. Bagaimana dua orang yang tidak pernah berkomunikasi sebelumnya, pada akhirnya merasakan perasaan hangat yang sama dalam durasi satu hari.

Selama dua puluh empat jam perjalanan mereka menumbuhkan sesuatu yang tidak pernah ditemukan oleh masing-masing dari mereka.

Momen pelepasan si karyawan IT cupu di film One Day benar-benar menyesakkan. Ia merelakan semuanya untuk melihat si perempuan itu bahagia. Pret ah.

maxresdefault

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

YA MENURUT NGANA SIAPA YANG ENGGAK PERNAH JATUH CINTA DIAM-DIAM SIH SAMA ORANG LAIN? YANG NGELIATIN DARI KEJAUHAN AJA RASANYA UDAH CUKUP, KAK.

Adegan Paling Ngehek:

Pas adegan di ending si perempuan itu tahu penyakitnya dan ingin merekam momen terakhir bersama si cowok itu untuk keesokan harinya dapat merasakan sisa-sisa kebahagiannya. Waduh, kak kalau hati ibarat makanan… dipotong kecil-kecil banget itu. Perih.

Taipei Story (1985)

Gue suka banget film dari Taiwan satu ini besutan Sutradara besar Edward Yang. Film Taipei Story merupakan gambaran kisah cinta tragis di sebuah kota besar dengan kompleksitas masalah masing-masing orang di dalamnya.

Dua pasangan yang dulu bersama namun sempat berpisah dan kembali lagi berjanji untuk meninggalkan Taipei dan hijrah ke Amerika. Film ini mampu memberikan gambaran terdekat akan bagaimana dua orang yang saling mencintai ternyata bukan modal yang cukup untuk membuat mereka bisa berakhir bersama.

Prioritas dan kompromi adalah dua hal yang harusnya beriringan dengan cinta yang mereka punya.

Karena, seperti di akhir film Taipei Story ini mereka berdua tidak dapat menemukan apa pun selain kehampaan.

image

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Ekspektasi adalah momok yang tidak dapat dihindari dari sebuah hubungan. Dan semakin besar ekspektasi tersebut, maka jurang dan cobaan untuk menyelesaikannya pun semakin lebar.

Dan film ini dengan indah juga menyakitkan menggambarkan itu semua. Bagaimana semua harapan pupus akan satu dua keputusan yang menggiring mereka pada kekecawaan panjang yang melukai satu sama lain.

Taipei-Story-1985-Edward-Yang-cov932-e1467380017553

Adegan Paling Ngehek:

Saat Tsai Chin melihat keluar dari sebuah gedung, mengamati jalanan Taipei yang ups and down memberikan perasaan janggal yang menghantui. Dari sana kita dapat merasakan kehilangan dan kekecewaan yang ia simpan sendiri.

Young Adult (2011)

Biasanya dalam film romantic comedy ala Hollywood kita disuguhkan karakter yang lovable gimana gitu ya. Nah, di film Young Adult kebalikannya.

Adalah si Mavis Gary, perempuan manipulatif, pasif agresif, juga nyebelin yang pulang kampung untuk merebut kembali mantan doi pas masa SMA dulu.

Brow, padahal si mantan sudah punya istri dan anak. Dia diundang untuk datang melihat baby shower tapi namanya juga masih cinta, si Mavis ini dengan liciknya membuat bagaimana caranya si mantan balikan lagi sama dia.

Film ini keren banget asli. Elo bisa ngeliat bagaimana posesifnya Mavis yang harus menelan semua gengsi dia untuk bisa kembali ke kota di mana semua lukanya berada.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Mavis Gary is my spirit animal. Gue sebenarnya sedang berada di momen seperti dia. Saat masih sesekali ngintip kehidupan si doi yang udah bahagia sama keluarga kecilnya. Saat gue iri dengan doi yang lagi sayang-sayangnya sama anaknya.

Mavis Gary menggambarkan realitas yang enggak berani gue lakuin. Maju kembali melawan masa lalu dan mengejar sesuatu yang dia mau. Tapi emang yang dia lakuin salah sih. Tapi, setidaknya dia menjadi jujur dengan perasaan dia sendiri.

Go Mavis!

Charlize-Theron-Beige-Stam-Quilted-Handbag-by-Marc-Jacobs-in-Young-Adult-Scene

Adegan Paling Ngehek:

Ketragisan dan ironi dalam misi pengejaran Mavis untuk membuat mantannya jatuh cinta lagi  terbongkar dengan fantastisnya. Bahwa fakta mantannya tidak pernah mengundangnya dan malah istrinya lah yang berinisiatif membuat momen gila itu begitu bombastis. Bayangkan, semua khayalan itu rusak dan belum lagi kegilaan yang Mavis buat di tengah acara baby shower dan ditonton satu kampung.

Gokil sih, baru kali ini gue jatuh cinta sama karakter yang rusak dan dibenci semua orang. Tapi, ketika elo pernah berada di posisi Mavis pasti elo akan bersimpati sama doi.

Cinta itu emang berat, Jenderal!

Quotes Paling Anzeenk!

tumblr_ncjjb7BcSL1ru4tifo1_500

Gimana? Kamu masih merasa bahwa ditinggal nikah itu nyakitin? Semoga dengan nonton list film ini ngebuat kamu a lot better ya. Kamu ndak sendirian kok 🙂

Sebenarnya masih ada list film lainnya, gue buat di part 3 kali ya. Ditunggu yaw!

 

Referensi Film Valentine; Cinta Enggak Selalu Berakhir Bersama Kan? [SPOILER] PART 1

Dalam hidup yang hanya 24 jam dalam sehari ini harus diakui bahwa sayangnya tidak semua individu yang bernafas dan bernyawa memiliki kisah cinta semanis Habibi-Ainun atau sefancy Raisa-Hamish dengan ending live happily ever after. (mukanya cakep-cakep pula).

Mungkin ada beberapa orang yang kisah cintanya lebih seperti karakter Kajool dalam film Kuch Kuch Hota Hai yang harus ikhlas berada dalam demografis “in love with someone you can never be with” tanpa ada akhir cerita di mana bisa bertemu anak si gebetan dari masa lalu dan luckily berakhir menikah bersama.

Sebagian lagi mungkin tiduk cukup berani untuk menyuarakan perasaannya dan mau tak mau harus bisa menerima melihat sang pujaan hati dari kejauhan yang sudah bahagia dengan orang lain dan berkata; It’s over I should move on.

Namun diam-diam tetap mantengin page social media si gebetan sampai tangan ledes dan kuota habis. Tindakan preventif yang di mana kalau-kalau ada celah untuk mengambil perhatian si gebetan kembali. *pelakor detected*

Jahatnya friendzone, pahitnya perbedaan suku/agama (yang mana di Indonesia ini matters banget), kerasnya persaingan para singlewan/singelwati (Hello, Tinder!), dan terburuknya adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan merupakan faktor penyebab banyaknya korban dari kisah cinta sendiri ini. (meminjam lirik dari lagu Kahitna).

Lalu scene bergerak ke sebuah sudut sebuah cafe di Jakarta, beberapa pekerja yang baru pulang bekerja, saling berhadapan sambil menyesap kopi, membakar batang rokok yang ke dua menandai dimulainya sesi curhat percintaan mereka.

Di Jakarta, dapat dengan mudah kita mendapati para single dengan kompleksitas kehidupan mereka. Terkadang, beberapa dari mereka ada yang membawa kesedihan ‘romantisme’ tiap harinya dan menyadari bahwa memiliki satu sama lain dengan si dia bukanlah opsi yang mereka punya.

Sampah betul orang yang bilang, kisah cinta terbaik terkadang tidak selamanya saling memiliki.

Kalau cuma suka dan enggak bisa memiliki itu namanya penyewaan, Kak. Macam rent a car atau rent a house di Airbnb. Kalau tau endingnya seperti itu, harusnya jangan dibuat jatuh cinta dari awal. (ngomel sama hati nurani sendiri)

Bilang ke Dilan, yang berat tuh bukan nahan rindu ke Milea, tapi jatuh cinta sendirian. Perih itu, Jenderal!

Ada teman saya yang menyalurkan ‘kesendiriannya’ dengan berlari di GBK sambil mendengarkan lagu-lagu EDM terbaru sambil berteriak-teriak.  Namun, untuk saya pribadi, ‘lari’ yang paling pas untuk saya adalah dengan menonton film.

Karena tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menonton film yang bisa membuat kita setelahnya menangis tersedu-sedu.

Bisa dibilang itu adalah salah satu terapi paling murah untuk merasa bahagia. Dan juga karena malas olahraga aja.

Film romantis comedy selalu sukses menghadirkan dunia yang dapat merefleksikan kehidupan percintaan dengan mengocok isi perut tanpa harus kita melaluinya terlebih dahulu.

Dan setelah layar studio berganti gelap, beberapa film tersebut ada yang mampu meninggalkan kekosongan mendalam di dada yang tidak bisa diisi oleh apa pun. Entah karena kemiripan ceritanya, akting yang kelewat memukau, atau sesederhana musik maupun lokasi yang dapat mengingatkan pada si doi.

Well, karena dari awal saya sudah menceritakan tentang bagaimana jomblo-jomblo di Jakarta bertahan dengan hebatnya.

Berikut saya buat daftar film yang mengapresiasi beberapa orang dengan demografis percintaan love someone that you cannot have.

Yang kuat ya nontonnya, kak.

Hari Untuk Amanda (2010)

Screen Shot 2018-02-15 at 1.05.10 AM

Kadang film-film romcom Indonesia masih terjebak untuk memberikan gambar-gambar bagus namun minim makna. Apalagi yang cuma mengandalkan aktor dan aktris yang cuma modal tampang saja.

Namun, film Hari Untuk Amanda bukan film yang seperti itu. Film ini berisi kepahitan yang hanya bisa dibayangkan pasangan CBK (Cinta Belum Kelar).

Dikisahkan bawah Amanda ingin memberikan undangan pernikahannya untuk sang mantan, Hari. Tujuannya untuk menyelesaikan unfinished business di antara mereka berdua yang dulu sempat berpacaran lama sejak masa SMA.

Namun, niat awal itu pun malah berubah menjadi napak tilas kisah cinta lama mereka berdua yang membuat Amanda mempertanyakan kembali untuk siapa perasaannya ini berlabuh.

Kebimbangan Amanda pun diselesaikan setelah melewati satu hari penuh turbulensi yang membawanya kembali ke masa lalu saat bersama Hari. Amanda menikmatinya, bahkan sempat ia ingin memilih Hari. Namun ketika Amanda memilih Hari dan apa yang Hari lakukan adalah lebih memilih liburan ke Lombok dibanding bertemu dengan orang tua Amanda.

Amanda tahu bahwa ia dan Hari berpisah karena satu alasan. Dan mungkin itu yang terbaik yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

Amanda pun pulang dan memilih tunangannya.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Kisah cinta yang dibangun sejak SMA adalah sesuatu yang terjadi pada banyak orang. Terlebih jika hubungan tersebut gagal ditengah jalan. Pertanyaan paling sering hadir adalah; undang mantan apa engga ya?

Menonton film ini kamu akan menemukan jawabannya. YAITU ENGGAK! HAHAHA

Dan juga di film ini kamu akan dibawa ke tempat-tempat romantis Jakarta khas anak SMA selatan.

Dialog-dialog bangsat yang begitu profound di film ini bisa sangat relatable untuk siapa pun. Dan bersiap-siaplah dikoyak masa lalu dengan begitu keji oleh Hari untuk Amanda.

Adegan Paling Ngehek:

Saat Hari ikut fitting untuk baju nikahan suaminya Amanda.

Pahit… itu pahit banget.

Jahat banget deh si Amanda. Dia enggak tau apa ya ngedenger mantan yang masih disayang nikah lewat invitationnya Facebook aja rasanya udah perih banget. Kek luka yang udah kering dikopek lagi.

Lah ini malah dibuat uji nyali banget buat pura-pura ngepasin baju yang bakal dipakai pasangannya (which is ORANG LAEN) pas di hari pernikahan nanti.

Enggak ada otaknya tuh perempuan!

hari untuk amanda*Sabar ya, Mas*

Quotes Ter-Anjink

Kamu itu kayak Jakarta Har, gampang banget berubahnya. Kayak yang kamu pernah bilang ke aku, berubah tapi sebenernya gak berubah – Amanda

Celeste and Jesse Forever (2012)

080312-rashida-jones

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Setelah sekian lama bersama dan kamu baru menyadari bahwa pasangan yang selama ini berada di samping kamu adalah orang yang berbeda. Bahwa kesamaan yang selama ini ada hanyalah hasil kompromi semata. Dan pada akhirnya malah menimbun bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Film ini bertutur tentang dua pasangan suami-istri yang begitu melengkapi satu sama lain namun harus mengakhiri kisah cinta mereka karena satu prinsip yang ternyata membuka jurang paling gelap dalam hubungan mereka.

Jesse sudah melupakan Celeste, namun tidak untuk Celeste.

Segala upaya dilakukan Celeste untuk membuat Jesse kembali, namun yang ia dapat hanyalah ketiadaan. Cinta mereka telah mati. Tidak ada yang dapat dipaksakan, meski cinta itu adalah cinta yang dulu membuat mereka berjanji untuk tidak pernah berpisah satu sama lain.

Adegan Paling Ngehek:

Saya sengaja buat dua, karena memang dua adegan ini yang paling ANJEEENG!

Satu, saat Celeste ketemu dengan Jesse di pernikahan teman satu circle mereka yang dulu selalu double date bareng mereka.

Saat pesta usai, Celeste berjalan keluar, berjarak dengan banyak orang dan menyadari bahwa hidup bisa berubah dengan begitu cepat. Yang kini hanya menyisakan dirinya sendiri. Tanpa siapa pun di sampingnya.

I mean, SIAPA SIH YANG ENGGAK PERNAH KETEMU MANTAN DI KAWINAN? TERUS YOU MAU APA KALAU KETEMU? NYAPA? NGOBROL BASA-BASI?

YA ENGGAK LAH! APALAGI KALAU DIA SUDAH BAWA PASANGAN BARUNYA! YA BYE BYE DEH!

caleste and jesse forever

Dua, ini adegan sakit sih! Momen di mana Celeste *mengemis* cintanya yang usang pada Jesse. Karena sebelumnya mereka masih ketemu karena asas jatah mantan.  Tapi si Celeste baper, she wants more. Sayangnya, Jesse enggak bisa ngasih itu.

Quotes Ter-Anjink

Why you don’t change for me?

YES! WHY? WHY??????

The Lunch Box (2014)

Bittersweet adalah kunci dari semua daftar film ini. Di awal begitu manis dan diakhiri dengan kepahitan yang menyesakkan. Begitupun dengan film India satu ini.

Berawal dari kesalahan bekal makan siang yang tertukar, seorang duda paruh baya dan perempuan muda yang baru menikah akhirnya menjalin hubungan janggal yang mengasikkan.

Mereka bertukar surat di dalam bekal makan siang yang terus menerus tertukar. Mulai dari berbagi resep makanan hingga curhat masalah personal mereka masing-masing.

Cinta itu tumbuh dengan malu-malu sampai mereka memutuskan untuk kopi darat. Sayangnya saat si perempuan sudah hadir di tempat mereka janjian, sang duda paruh baya itu malu sendiri lalu memutuskan mundur dan pergi meninggalkan perempuan itu sendiri dengan penuh pertanyaan.

Dan seperti kisah kopi darat lainnya, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain. Namun cinta dan perasaan mereka pun akan selalu terkenang manis pada sebuah kotak makan siang.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

I mean, siapa sih yang enggak pernah cinta dengan orang asing yang dikenal dengan super random. I did sih. Transformasi dari orang yang dulu kita bahkan enggak tahu nama belakangnya apa, musik favoritnya apa, dll malah berubah menjadi satu orang paling penting dalam hidup kita. Dan pahitnya adalah ketika saat semuanya tidak bisa bersatu dan orang itu menjadi sosok yang asing kembali namun kini penuh dengan kenangan. Satu hal yang sayangnya tidak bisa kita hindari.

Adegan Paling Ngehek:

Tentu saja saat mereka saling bertukar pesan. Seru dan engaging banget untuk tahu nasib masing-masing karakter sampai akhir.

lunch box

lunchbox2

Quotes Ter-Anjink

Sometimes the wrong train takes you to the right destination.

Call Me By Your Name (2017)

Satu musim panas yang merubah semuanya. Saya tidak bisa menggambarkan lebih banyak lagi. Film Call me by your name adalah jenis film yang hanya perlu kita tonton dan hayati. Karena dengan itu kita dapat menikmati keindahannya yang menyesakkan.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Katanya setiap orang dalam hidupnya akan mengalami fase tiga kali jatuh cinta. 1) Jatuh cinta pertama kali, 2) Jatuh cinta yang toxic dan menyakitkan, 3) Jatuh cinta yang mendewasakan.

Khusus untuk Elio sepertinya adalah jatuh cinta untuk pertama kali, namun yang akan membekas dalam pada hidupnya.

CMBYN

Adegan Paling Ngehek:

Saat di akhir film Elio menerima telefon dari Oliver dan memberitahukannya bahwa ia akan menikah. Saat telefon ditutup, Elio bergegas menuju meja makan dan berakhir menatap sedih pada perapian. Seakan dari kesedihan Elio, kita dapat merasakan betapa sakit saat seseorang yang dulu begitu penting dan berharga pergi dari hidup kita. Saksikan scene tersebut dan saya yakin kamu akan tercabik setelahnya.

call-me-by-your-name

Quotes Ter-Anjenk

What you two had, had everything and nothing to do with intelligence. He was good, and you were both lucky to have found each other, because… you too are good.

Fallen Angels (1995)

Wong Kar Wai adalah salah satu Sutradara yang karyanya begitu romantis dan meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Fallen Angels adalah karya terbaik dia.

Vibe Hongkong di tahun 90an sangat terasa lewat warna, musik, fashion dan apa pun yang ada di dalamnya. Dikisahkan tiga tokoh sentral yang mencari aktualisasi romantisme mereka dalam seseorang yang tidak bisa mereka miliki.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa yang tidak pernah menjadi helpless romantic dan mencintai seseorang sebatas satu dua hal yang kita tahu? Dan film ini menggambarkan itu semua dengan begitu cantik. Akan keputusasan dan ironi bahwa masing-masing dari yang mengharap tidak akan mendapatkan apa pun selain rasa kehilangan.

Screen Shot 2017-11-14 at 6.06.24 PM

Adegan Paling Ngehek:

Saat si agent pembunuh bayaran itu masuk ke dalam kamarnya, menggunakan seluruh peralatan pribadinya dan merasakan sensasi bahwa benda-benda yang ia pegang adalah yang pernah pembunuh bayaran itu sentuh. Ia ingin menghadirkan sosok tersebut tanpa pernah benar-benar ada secara nyata. Platonic tingkat dewa.

Screen Shot 2017-11-14 at 6.02.36 PM

Quotes Ter-Anjenk

Most people fall in love for the first time as teenagers. I guess I’m a late bloomer. Maybe I’m too picky. On May 30, 1995, I finally fell in love for the first time. It was raining that night. When I looked at her, I suddenly felt like I was a store. And she was me. Without any warning, she suddenly enters the store. I don’t know how long she’ll stay. The longer the better, of course.

 

Panjang ya… pegel pemirsa ngetiknya. Nanti akan dilanjutkan di PART 2 dan PART 3 ya.

 

Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!

Like, Crazy (2011)

hero_EB20111102REVIEWS111109994AR

Manusia boleh berencana, namun jarak juga yang menentukan.

Mungkin seperti itu cerita film Like, Crazy (2011) dikisahkan. Dua orang yang berkenalan di semester kuliah akhir, jatuh cinta, kemudian mendapati kenyataan pahit bahwa salah satu dari mereka harus pergi karena terbatasnya masa berlaku visa pelajar.

Si perempuan harus kembali ke Inggris. Sedih. Mereka berdua sedang cinta-cintanya. Sedang masa honeymoon. Namun tidak ada yang mau mengalah untuk sebuah kesepakatan. Ya sudah, si Mbaknya pun terpaksa benar-benar pulang kampung sendiri tanpa si Masnya.

Berat.

Sisa waktu mereka berdua sebelum keberangkatan si Mbaknya pun terancam hambar. Rencana island hoping dengan perahu sewaan pun terasa mengejek. Kemewahan itu tidak memberikan kebahagian. Yang mereka berdua mau hanyalah besok bertemu lagi, lagi dan lagi. Cinta masih begitu membara bagi dua orang ini.

Setelah beberapa kali adegan ngambek dengan pertanyaan-pertanyaan klise seperti; lalu kamu maunya aku bagaimana? Ngibulin orang imigrasi?

Dari cuma ocehan asal, tetiba ide tersebut terasa masuk akal. Entah asumsi dari mana mereka berfikir bisa mengelabui imigrasi Amerika yang begitu ketat. Namun toh akhirnya mereka tetap melakukannya juga.

Aku kamu vs the world, betapa romantisnya. Mereka berdua pun menghabiskan musim panas penuh cinta bersama, yang ada hanya bercinta dan bercinta. Tahik kucing lah soal kasus visa pelajar yang jadi sumber masalah.

Cinta mereka semakin kuat, mereka seperti menginspirasi satu sama lain. Mereka merencanakan banyak hal berdua. Indah, namun kelewat indah untuk jadi nyata. Karena hidup tidak selalu merah muda, pihak imigrasi pada akhirnya tetap harus mendeportasi si perempuan. Mereka berdua berpisah secara sepihak. Tanpa diragukan lagi semesta Mbak dan Masnya jadi berantakan.

Zona waktu begitu menyebalkan, ketika di sana baru pulang kerja eh di sini sudah tengah malam buta.

Banyak pesan tak berbalas, telfon yang tidak sempat terangkat, dan akhirnya perasaan mutual yang dulu pernah ada menjadi sebuah pertanyaan mendongkol sendiri.

Seperti, benarkah yang ada di antara mereka berdua ini benar-benar nyata atau hanya summer fling semata dan ya sudah lupakan saja, lalu kembali meneruskan rutinitas hidup; kerja, nongkrong di bar, dan bertemu orang baru.

Dan ide besar dari film Like, Crazy pun akhirnya diperlihatkan atas dasar pertanyaan itu. Diteruskan atau kandas saja?

Si Mas Mbaknya ragu, si orang tua Mbakanya pengennya mereka nikah saja. Lebih murah dan punya ketahanan hukum.

Waktu berlalu. Mereka saling berkunjung satu sama lain. Namun namanya juga hidup, pasti ada saja yang bikin kesel. Lama-lama jarak dan komunikasi makin nyebelin. Kerjaan makin ribet dan rindu pun makin menyiksa.

Mereka berdua malah jadi tidak jujur satu sama lain, saling meneror, saling curiga, saling tuduh soal siapa tidur sama siapa.

Letih dengan itu semua, mereka pun mengajukan ide untuk masing-masing melakukan open relationship di saat mereka berpisah. Namun jika mereka berdua bertemu, mereka akan saling memiliki.

Tahik ya? Kesian amat yang jadi side kick si Mas dan Mbaknya pas mereka pisah. Lagian maunya jatuh cinta yang enak-enaknya saja, enggak mau tumbuh dan berjuang. Segitu baru jarak, gimana kalau beda marga sama enggak direstuin mertua.

Cinta mereka menjelma jadi egois untuk saling menguasai satu sama lain, bukan lagi karena hasrat untuk saling melengkapi. Dan meskipun mereka berdua di penghujung film akhirnya bersatu, tetapi pertanyaan besar itu tetap menggantung dalam benak masing-masing.

Layakkah semua ini?

Cinta si Mas dan Mbaknya di film ini seperti orang yang ngotot menyimpan celana jeans bekas yang sudah kekecilan, tapi sebenarnya dia tau celana itu enggak akan pernah muat dia pakai.

Pada akhirnya celana jeans tersebut bukan lagi menjadi sebuah motivasi tetapi menjelma menjadi sesuatu yang menyesakkan dan mengancam.

14a611ae1c65cf3c727d547bd6dc9fad--like-crazy-film-anton-yelchin

Tapi filmnya manis dan seru kok. Cuma aftermathnya bikin sebel aja. Nonton deh.