Hal Yang Paling Berbahaya Dari Film Aruna dan Lidahnya, Dalam Sebuah Review Film

Menurut saya ada dua hal yang tidak dapat manusia tolak dalam hidupnya. Yaitu cinta dan makanan.

Screen Shot 2018-09-22 at 02.55.38

Di film Aruna dan Lidahnya, dua hal tersebut menjadi magnet paling besar yang memberikan perasaan hangat, lucu, dan menyenangkan setelah selesai menyaksikan filmnya di bioskop.

Dan sialnya menjadi lapar juga. Saya tiga kali menonton dan tiga kali pula harus berkeliaran mencari mie ayam atau nasi goreng yang masih buka di malam hari.

Aruna dan lidahnya jika diibaratkan makanan adalah sebuah sajian yang akan melengkapi segenap palet lidah bagi siapa pun yang mencicipinya. Ada rasa manis, asam, pahit, asin yang berpadu sempurna di dalam cerita, akting, musik, dan gambarnya.

Sebelumnya, saya menahan untuk tidak langsung menulis review ini sehabis menonton filmnya karena beberapa alasan.

Pertama, saya ingin melihat respon lain dari para penontonnya. Tidak hanya yang menyukainya, tapi juga yang sebaliknya.

Kedua, saya berusaha untuk menonton kedua kalinya untuk memastikan penilaian saya secara objektif.

Dan ternyata hasilnya tetap sama. Saya masih menyukainya dan tidak dapat berhenti untuk membicarakannya setelah keluar dari gedung bioskop.

Bukankah itu salah satu tanda-tanda dari film yang bagus? Ketika kita tidak bisa berhenti membicarakannya sampai seminggu ke depan dengan emosi dan semangat yang sama. Dan Aruna memiliki charm tersebut.

Tapi, seperti pepatah yang menyebutkan tak ada gading yang retak, memang harus diakui ada beberapa detail dan poin-poin yang akhirnya membuat saya sadar film Aruna dan lidahnya juga memiliki kelemahannya sendiri.

Namun, barangkali pertama-tama kita perlu membahas sebenarnya tentang apa sih film Aruna dan Lidahnya ini dan hal-hal apa saja yang bisa membuat saya jatuh cinta dengan film ini dan rela menontonnya sampai tiga kali.

Kisah Aruna dan Pencariannya

Secara garis besar cerita film Aruna dan Lidahnya terbagi atas beberapa pilar tema. Yaitu; konspirasi flu burung, petualangan makanan nusantara, persahabatan di umur 30an, dan percintaan.

Keempat cerita tersebut dibalut oleh sang sutradara, Edwin, dalam sebuah perjalanan tugas kantor Aruna yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan kemudian diikuti supervisornya Farish, dimainkan oleh Oka Antara, yang dikirim dari kantor yang berbeda untuk mengunjungi beberapa kota di Indonesia dengan misi pencocokan data akan isu kasus flu burung yang menjangkit beberapa tubuh manusia. Kota-kotanya antara lain adalah Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang.

Di sela-sela perjalanan Aruna, dua temannya, Bono seorang chef yang diperankan dengan fresh dan komikal oleh Nicholas Saputra-kenapa fresh? Karena karakter Bono jelas sangat berbeda dari peran-peran Nicholas sebelumnya-dan tentu saja idola baru saya Nad, si manusia bebas dengan segala kekerenannya yang dengan apik dimainkan oleh Hannah Al Rashid, mereka ikut dalam perjalanan Aruna dengan menyisipkan agenda kuliner mereka yang akhirnya kejadian juga.

Dari awal investigasi ini sebenarnya Aruna sudah mencium kejanggalan dalam data isu flu burung yang ada. Dimulai dari keanehan lokasi-lokasi dari data tersebut yang menurutnya terlalu berjauhan dan tidak membentuk pola wabah itu sendiri.

Dan yang makin meyakinkan Aruna adalah ketika di setiap kota para korban yang diduga menderita flu burung tersebut tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Karena memang pada dasarnya virus flu burung hanya hinggap pada unggas dan bukan entitas manusia. Lalu apa yang sebenarnya Aruna dan Farish sedang pecahkan dan hadapi dalam investigasi mereka kali ini?

Konspirasi tersebut akhirnya membuat perjalanan Aruna dan Farish menjadi penuh tanda tanya dan pelik. Tidak sampai sana, yang membuat keseluruhan cerita ini makin menarik adalah balutan komedi romantis keempat pemainnya lah yang membuat jalinan film Aruna dan Lidahnya menjadi hidup, mesra, dan menggemaskan.

Kekuatan Film Aruna

  1. Akting solid dari para pemainnya

Kekompakan akting empat pemeran utamanya adalah suguhan paling seru sepanjang film. Terutama Dian Sastro. Dian bermain dengan sangat komikal. Kesan quirky terasa begitu natural dan membuat dirinya tampil dengan begitu adorable. Bahkan imagenya lebih kuat dari karakter Cinta yang terlalu melekat dalam dirinya. Saya dibuat jatuh cinta lagi dengan akting Dian Sastro.

Sejujurnya selain film Ada Apa Dengan Cinta, Pasir Berbisik, juga Drupadi saya tidak melihat Dian memberikan hal baru dalam aktingnya dan ia hanya menjadi dirinya saja. Tanpa value yang menginspirasi saya sebagai penontonnya.

Namun, dalam film ini Dian kembali membawa jutaan alasan untuk orang-orang kembali menyembahnya sebagai seorang bintang. Tanpa banyak bicara, lewat raut wajah, gerak tubuh dan ekspresinya, ia dapat dengan sukses menghidupkan karakter Aruna yang saya yakin dapat membuat orang-orang jatuh cinta.

Apalagi dibeberapa adegan seperti saat Dian Sastro breaking the 4th wall dan saat Pak Musa, salah satu pasien yang diduga terkena isu flu burung meninggal. Dian menghadirkan situasi komedi yang begitu lucu dengan pelan-pelan memanfaat keadaan duka lewat curi-curi kesempatan menyender pada tubuh Oka Antara.

Seisi bioskop benar-benar dibuat tertawa dan gemas. Scene tersebut juga merupakan alasan saya menonton film Aruna untuk ketiga kalinya. Karena kesemuanya terasa real dan relatable buat orang-orang yang sudah lama naksir dan akhirnya bisa dekat dengan gebetannya.

Dan Hannah Al Rashid, ya Tuhan, tampil dengan begitu kuat bagai magnet. Kebebasan perempuan yang menentukan nasib hidupnya sendiri digambarkan dengan sangat apik oleh Hannah lewat keluwesan dirinya sepanjang film. Kesan cool, pintar, dan seksi diembodikan oleh Hannah dengan tepat tanpa terkesan murahan dan menyebalkan. Ia dapat membuat penonton bersimpati pada dirinya.

Dan Nicholas Saputra juga Oka Antara seperti biasa bermain dengan kapasitas yang diharapkan. Tidak hanya sebagai tempelan tampan pemeran laki-laki belaka. Namun, menyeimbangi dua kutub yang ada.

2. Dialog yang cerkas

Salut untuk Titien Wattimena, sang penulis naskah, yang dengan sempurna menghidupkan percakapan tiga sahabat yang begitu dekat dengan penontonnya. Titien berhasil memotret dialog-dialog kental khas kaum urban tanpa harus terjebak dalam tuntutan untuk memperlihatkan mereka menjadi manusia super sempurna. Semua terasa nyata dan cerkas. Celetukan-celetukan para pemain Aruna siap menyindir siapa pun yang sedang berada di posisi yang sama dengan mereka.

Cinta dan makanan memang akan selalu beririsan. Namun romantisasi di dalamnya adalah sesuatu yang berlebihan. Seperti yang Aruna katakan di awal film, kurang lebihnya adalah, romantisasi makanan dan cinta adalah sesuatu yang memaksakan.

“Masa harus menunggu seseorang yang tepat dulu untuk bisa menikmati semangkuk sop iga yang enak?” Punch line tersebut begitu menggugah dan sangat tepat ditaruh di awal film.

Salah satu dialog yang saya suka dan membekas adalah ketika Aruna dan Nad saling sindir terhadap situasi salah satu pasien yang ditinggal oleh suaminya karena selingkuh dan akhirnya si pasien tersebut memanfaatkan fasilitas rumah sakit untuk bisa tinggal lama di sana tanpa harus bertemu lagi suaminya yang serong.

Nad secara subtil mengkritik sikap Aruna yang dilihatnya terlalu menghakimi perempuan ketiga dalam hubungan rumah tangga si pasien tersebut. Namun dengan cepat kritik tersebut di counter oleh Aruna dengan menyatakan bahwa Nad juga belum tentu pernah merasakan berada di posisi si pasien yang ditinggal dan dikhianati oleh suaminya.

Suasana tersebut benar-benar terbangun dengan dramatisasi yang pas seperti perang dingin yang mungkin terjadi dalam sebuah pertemanan. Tidak berlebihan namun akan menghantui mereka yang mendengarnya.

3. FOOD PORN FOOD PORN EVERYWHERE

Waduh, Edwin paham betul bagaimana menyiksa seseorang secara visual. Gambar-gambar makanan yang dihadirkan begitu memikat dan benar-benar terasa begitu detail. Mulai dari uap makanan, suara kuah yang berdenting dengan sendok dan mangkuk, juga hantaman sendok yang kemudian masuk ke tenggorokan tiap-tiap pemain benar-benar mengoyak-ngoyak perut yang menontonnya.

Yang kerennya lagi, suasana ketika tiap-tiap pemainnya makan dilengkapi dengan perbincangan-perbincangan kasual yang tidak seperti sedang akting. Tapi benar-benar layaknya orang yang sedang menikmati makanan bersama teman-temannya dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing.

Berikut daftar makanan yang saya incar dari film Aruna dan Lindahnya.

a. Choi pan

Screen Shot 2018-10-03 at 10.55.13
gambar dari https://cookpad.com/id/resep/176142-chai-kwe-choi-pan

Nyebelin banget deh pas adegan munculin Choi Pan. Bayangin deh, ketika sudah tersiksa oleh deretan visual makanan yang menggoda dari awal film, di tengah-tengah film Edwin kembali menambah cobaan hidup dengan menghadirkan Choi Pan yang begitu seksi lengkap dengan sausnya yang dijilat dengan begitu semangat oleh Aruna dan Farish. Waduh warna putih kulit Choi Pan yang menempel indah di sumpit bercampur dengan saus kecoklatannya benar-benar tampak nikmat.

Sejujurnya seumur hidup saya belum pernah makan Choi Pan, saya pikir ini seperti another dim sum. Tapi dengar dari teman isinya lobak. Jadi penasaran untuk mencicipinya. Katanya di Ambasador ada yang jual. Pulang kerja jajan ah ke sana.

b. Rawon

Screen Shot 2018-10-03 at 11.06.26
Gambar diambil dari sini > https://www.resep-masakan-enak.com/2017/10/resep-cara-membuat-rawon.html

Wah parah sih ini, yang ini pelanggaran banget. Potongan dagingnya gendut-gendut banget. Saya baru lihat rawon dengan kuah yang begitu kental dan terlihat gurih sekali lengkap dengan kepalan uap lewat daging yang begitu tumpah ruah. Perut saya otomatis langsung menggelinjang kelaparan melihat momen tersebut. BAHAYA!

c. Mie Kepiting Pontianak

Screen Shot 2018-10-03 at 11.14.08
gambar dari sini > https://www.sumber.com/jalan-jalan-kuliner/kalimantan-barat/kuliner-kalimantan-barat/sumber/mie-kepiting.html

Mie Kepiting Pontianak menurut saya adalah primadona dari semua makanan yang disajikan di film Aruna dan Lidahnya. Bagaimana tidak, penggambaran deksriptif menu ini paling banyak dibanding menu-menu lainnya.

Mengutip dari ucapan Bono, teksur mie ini begitu empuk dan menelan mie kepiting ini ia bisa melihat SURGA. Duh kebayang kan enaknya? Dan ditambah lagi argumen Nad yang menyatakan bahwa harta karun dari mie kepiting ini adalah telur kepiting yang tersembunyi dan siap mengejutkan lidah mereka mereka yang memakannya.

Duh, mana potongan kepitingnya gede banget lagi pas di film. PUSING! Di Jakarta ada ga ya? 😦

d. Lorjuk

Screen Shot 2018-10-03 at 11.23.09
gambar dari > http://www.tribunnews.com/travel/2015/06/09/menu-lorjuk-kesukaan-ani-yudhoyono-dan-ibas-di-resto-ria-galeria-langganan-anang-ashanty

Lorjuk adalah sebuah makanan khas Madura dengan menu utamanya adalah kerang bambu yang hanya ada di Madura. Presentasinya yang memang challenging ini berdasarkan ungkapan Bono yang seorang chef, menyimpan kesegaran yang dapat membuat orang patah hati jadi semangat lagi. Penasaran kan….

e. Pengkang

Screen Shot 2018-10-03 at 11.26.03
Gambar dari > http://pontianak.tribunnews.com/2016/02/19/singgah-di-pondok-pengkang-makan-lempar-khas-kalbar

Kayaknya Pengkang itu lemper yang diisi daging-daging udang ya dan dibakar dengan daun pisang. Belum pernah coba juga sih, tapi dari tampilannya bikin penasaran.

f. Nasi Goreng

Screen Shot 2018-10-03 at 11.32.13
Gambar dari > https://www.kawalingpinoy.com/nasi-goreng-indonesian-fried-rice/

Nah, ini makanan basic yang bikin cerita Aruna jadi panjang banget! Aruna sampai harus ke Pontianak loh drama kabur-kaburan gitu buat nyari resep nasi goreng Mbak rumahnya tempo dulu.

Di akhir film para empat aktris itu berkumpul bersama merayakan malam yang penuh cinta dengan memasak nasi goreng bersama-sama di gerobak abang-abang pinggir jalan. Enggak kebayang sih kalau jadi si abang nasgor itu. Mimpi apa doi didatengin bintang film cakep-cakep gitu.

4. Landscape visual cantik yang siap membawa siapa pun untuk bergegas jalan-jalan

Bukan Edwin namanya jika tidak memberikan orgasme visual yang menggetarkan. Rentetan visual ibu kota lewat gedung-gedung tinggi dan kaca-kaca yang membungkus manusia-manusia di dalamnya benar-benar menghadirkan suasana malam khas Jakarta. Kemudian kontras di tiap-tiap kota yang didatangi pun dihadirkan dengan begitu berwarna dan indah.

Adegan Barongsai, penyebrangan di kapal, jalan di pasar-pasar, sampai inspeksi ke kandang-kandang terasa sangat poetic dan Instagram-able banget. Keren lah pokoknya.

Dan Edwin tetaplah Edwin, yang menampilkan simbol-simbol yang membingungkan di visualnya. Seperti dramatisasi Aruna yang berusaha mengembalikan indra pengecapannya.

Edwin menghadirkannya dengan begitu absurd namun menarik. Bagaimana seorang Dian Sastro memeras banyak buah limon dan menyesap di lidahnya dan ketika Dian menyedot air pantai dengan sedotan panjang adalah ke-absurd-an yang begitu janggal namun begitu simbolik secara bersamaan.

5. Placement brand yang enggak maksa

Edwin dengan jitu menaruh beberapa brand dalam film dengan begitu subtil dan sesuai konteks. Seperti saat Aruna lupa untuk print tiket pesawat, kemudia Bono memberikan solusi untuk tidak perlu repot lagi karena sudah bisa lewat aplikasi.

Seisi bioskop bertepuk tangan dan mengacungkan jempol karena punch line yang diucapkan Bono.

Kecap Bango yang selalu hadir terus menerus pun semua sesuai konteks dan tidak memaksakan. Jago deh Edwin.

6. Musik yang asik

Jualan kenangan masa lalu memang paling ampuh untuk menarik simpati. Apalagi dikemas dengan asik dan bikin nagih. Pemilihan lagu-lagu di film Aruna dan Lidahnya ciamik banget. Mulai dari lagu-lagu 80an sampai 90an yang bikin orang nyanyi-nyanyi di bioskop pas lagunya diputar. Arasemen baru dari lagu-lagu seperti Antara Kita-nya RSD dan Tentang Aku- Jingga terasa begitu manis seperti memori hangatnya matahari di sore hari.

Kritik Terhadap Film Aruna dan Lidahnya

Jika film Aruna dan Lidahnya sebatas untuk hiburan dan bikin senyum-senyum manja, sebenarnya film Aruna sudah menuntaskan tugasnya. Namun, setelah saya membaca beberapa kritik akan film ini, sebenarnya masukan-masukan tersebut memberikan perspektif yang lebih kaya untuk pengembangan cerita Aruna dalam pemetaan topik yang lebih kerucut dan terfokus sebagai penggerak substansi film secara keseluruhan.

Sekali lagi, menonton film dan menerjemahkan apa yang dirasakan hasilnya akan berbeda di tiap masing-masing orang. Ada yang akan menilai suatu film dari teknisnya, ada yang mengukurnya dari segi ceritanya, dan ada yang sesederhana ketika nanti filmnya selesai ia bisa langsung ke kamar mandi dan menuntaskan kebelet yang ia tahan sepanjang film.

Karena tafsiran dan pengalaman yang berbeda-beda, maka sebuah karya seni akan bersifat personal dan intim bagi tiap-tiap orang.

Tapi secara general kita dapat menangkap bahwa film Aruna dimaksudkan untuk kalangan masif, sesuatu yang seharusnya bisa ditonton oleh banyak orang. Sehingga dari segi penceritaan mungkin akan terasa lebih light dan terselip humor dan drama cinta di sana sini lengkap dengan deretan pemain yang rupawan.

Semua formula terasa sudah lengkap, namun apa yang sebenarnya membuat film Aruna dan Lidahnya seperti terjebak dalam genre yang ia usung. Film ini terasa galau akan identitasnya.

Apakah ini genre film komedi romantis kah? Atau cerita detektif dalam memecahkan sebuah konspirasi? Atau film makanana semata?

Karena pertama, jika film ini ingin dikategorikan sebagai genre komedi romantis, porsi kisah percintaan dan jalinan dramatisasi tiga babaknya hanya terjadi di tengah-tengah saja dan back story alasan masing-masing karakter untuk jatuh cinta satu sama lain tidak tergambarkan dengan kuat. Dalam arti, apa sih yang membuat Aruna bisa sebegitunya menyukai Farish selama itu dan masih menyimpan perasaannya?

Lalu, kesubtilan perasaan platonik Bono ke Nad benar-benar terlalu tipis. Saya tidak dibuat percaya bahwa Bono benar-benar suka dengan Nad. I mean, c’mon! get real, mereka sudah berusia 30an, mabuk, berada di kamar yang sama. Dan yang terjadi hanyalan ucapan, “stay”? Really?

Kedua, cerita konspirasi isu flu burung pun yang niatnya menjadi adrenalin dalam film ini terasa malu-malu dan terkesan nanggung untuk ditunjukkan. Jika memang skalanya adalah kepemerintahan dengan budget milyaran atau triliyiunan rupiah, gambaran akan ketegangan dan perencanaan strateginya masih begitu lemah dan tertebak. Mungkinkah investigasi yang dari awal sudah dapat mengendus kebusukan sistem di dalamnya dapat dibongkar oleh oleh dua orang saja dengan data-data yang sebenarnya bisa sekali dipalsukan dari pusat.

Ketiga, kontroversi makanan yang hadir sebagai tempelan dalam film ini sebenarnya saya agak setuju sih. Karena, dari awal film kesan petualangan lidah Aruna hanya sekadar tentang Aruna yang pelan-pelan kehilangan sensitivitas dalam indra pengecapnya. Karena apa? Sejak kapan? Kok enggak dijelaskan? Lalu, apakah keseluruhan perjalanan sepanjang hampir dua jam ini tentang mencari menu rahasia dari si Mbak rumahnya masa dulu, tapi kok sampai akhir film enggak dikasih tahu apa yang membuat nasi goreng itu berbeda. Apa sih bedanya Mba Aruna aku penasaran tahu….. Sehingga substansi lidah yang berasosiasi dengan makanan tidak kuat bertautan sebagai penggerak cerita film. Beda dengan film Tabula Rasa yang memang makanan padang penjadi substansi dan filosofi akan film tersebut. Cerita bergerak progresif karena premis yang dihadirkan adalah seorang warga Papua yang belajar memasak di rumah makan Padang dan konflik hadir di sana. Nah, kalau di film Aruna dan Lidahnya, scene makanan hanya seperti turis-turis yang lagi makan saja. Tanpa value lebih di dalamnya.

Terus nih ya, yang paling nyebelin sebenarnya adalah ketika semua orang dapat menemukan Aruna di sebuah warung nasi goreng gerobak pinggiran yang antah berantah banget. KOK BISA KETEMU SIH DI ANTARA BANYAKNYA TUKANG NASI GORENG? KOK BISA TAHU ARUNA MALEM-MALEM MAMNYA NASI GORENG?

Apa Aruna punya grup Whatsapp berempatan dan langsung share loc di sana? Tapi katanya kan lagi berantem? Gengsi dong, beb! Itu semua menjadi pertanyaan besarku sampai di kamar kosan.

Namun, pada akhirnya toh film Aruna masih bisa sangat dinikmati dan diapresiasi dengan kemasannya yang begitu menggemaskan dan bikin nagih. Semua eksekusinya terberkati dengan hasil yang berkelas dan tidak main-main. Film ini perlu sekali ditonton seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya oleh penonton Indonesia lainnya.

Saya pun jadi kepikiran saat Bono sang pemuja makanan menjelaskan filosofi makanan pada Farish yang simple dan pragmatis. Farish berpendapat bahwa makanan hanya sekadar untuk kenyang saja. Titik.

Oh tentu tidak mas ganteng, saya mengamini apa yang Bono, Aruna, dan Nad percayai. Bahwa makanan adalah sebuah sumber kebahagian dan pengalaman yang dapat memperkaya manusia dan membawa penikmatnya pada titik zen yang menghubungkan dia dengan tubuhnya dan berkomunikasi dengan semesta. Karena setiap sedih, rindu rumah, atau senang pasti yang dicari manusia pasti makanan. Makan adalah sebuah budaya dan makanan adalah jati dirinya.

Terlebih jika bisa berbagi makanan dengan orang yang disayang, itu semua dapat memberikan sensasi yang lebih menyenangkan dan historik dua kali lipat. Ada cerita dan perasaan yang hadir di sana.

Seperti sebuah pemeo usang yang berujar, everything taste better when you are eat together.

Mungkin kurang lebihnya seperti itu. Dan bagi saya, film Aruna dan Lidahnya adalah film drama terbaik Indonesia terbaik tahun 2018 ini. Karena begitu pop dan enak dicerna.

Ayo nonton Aruna dan Lidahnya di bioskop! SEKARANG! Dan, WARNING, jangan lupa makan dulu daripada nanti kesiksa sepanjang nonton filmnya!

PS. Mau pamer foto-foto pas dateng ke Premier filmnya hehe.

IMG_3876

57ecacd1-7b9b-46ea-b438-8de5ff8f1383
Datang sekantor, karena kantor saya salah satu sponsor film Aruna loh!
IMG_3863
Namanya Endeus.tv

Kamu bisa mengunjungi websitenya di sini > https://endeus.tv/

Jadi, Endeus.tv adalah sebuah website yang memberikan inspirasi masakan harian berupa tutorial untuk kamu-kamu yang ingin membuat masakan dengan mudah, ringkes, dan enak.

 

 

Isi Goodybag Aruna dan Lidahnya lucu dapet kecap dan kita dikasih nasi goreng Aruna yang lumayan bikin enggak laper-laper banget pas nonton. Meskipun habis selesai nonton tetap nyari makan.

IMG_3864
Ada warung lucu sebagai display foto-foto seperti di poster filmnya

dan momen terbaiknya tentu saja adalah….

IMG_3870
Bertemu para bintang filmnya yang aduhai cakep-cakep banget!

Ayo-ayo bikin satu juta orang yang nonton film Aruna dan Lidahnya!

Advertisements

Review Film Crazy Rich Asians: Lebih Dari Sekadar Dongeng! [Spoiler Sedikit]

Film Crazy Rich Asians lebih dari sekadar petualangan cerita cinta untuk mendapatkan hati sang pangeran. Tapi tentang perjuangan Rachel, tokoh utama perempuan, dalam menunjukkan dirinya yang sebenarnya pada orang-orang yang meremehkannya.

Screen Shot 2018-09-10 at 15.39.34

Akhirnya film yang paling diperbincangkan sepanjang tahun 2018 ini hadir juga di Indonesia. Crazy Rich Asian sejatinya adalah sebuah film romantis komedi yang diangkat dari novel best seller karangan Kevin Kwan. Novel yang katanya berisi tentang anekdot-anekdot para orang-orang kaya lama (old money asia) lengkap dengan segala keanehannya yang mampu bikin kita melongo tidak percaya.

Contoh kecilnya nih, ada cerita di mana para old money ini membeli sebuah gong kuno antik dari Myanmar seharga jutaan dollar Amerika tanpa alasan khusus apa pun. Ya karena kalau dipikir-pikir lagi buat apa juga itu gong kecil begitu.

Tapi pas ditanya, jawaban mereka adalah… ya karena mereka mampu saja.

HAH! Eat that shit sobat miskin!

Screen Shot 2018-09-10 at 16.32.02

Kebetulan gue belum baca novelnya, jadi kejutan-kejutan sepanjang film ini sebenarnya menjadi hiburan utama paling menyenangkan.

Film Crazy Rich Asian pun digadang-gadang menjadi sebuah kebangkitan diversity perfilman Hollywood setelah film The Joy Luck Club tahun 1993 silam.

Lama banget kan?

Karena baru di 2018 ini lah Hollywood akhirnya kembali memproduksi sebuah film yang sepenuhnya dimainkan dan dikerjakan oleh para peranakan Asia Amerika.

Mengapa ini penting?

Karena setelah begitu lama industri perfilman di Holywood dikritik atas kurangnya representasi ras Asia terhadap pemilihan para aktor dan pekerja perfilman lainnya. Kayaknya Hollywood mulai sadar deh bahwa market share Asia begitu besar dan penting dalam penjualan tiket film mereka.

Tetapi semoga tujuannya lebih dari itu ya, memang karena seharusnya penting sekali visibility dan awareness akan isu diversity ini digaungkan agar lebih banyak pintu-pintu peluang terbuka untuk orang-orang Asia hadir di kancah perfilman Hollywood.

Karena ya dari dulu tokoh utama atau jagoan di film-film Amerika pasti selalu saja orang-orang kulit putih terus. Orang-orang Asia yang muda-muda butuh juga dong figure yang bisa mereka look up dan terasa dekat karena kemiripan fisik mereka untuk dijadikan model inspirasi.

Karena sering sekali gue nonton interview para aktris Asia atau minoritas lainnya yang memerankan film besar di Hollywood berkata bahwa; betapa menyenangkannya melihat seseorang dengan fisik sama seperti diri mereka ada di layar kaca atau film. Karena dari sana mereka tidak merasa aneh di antara lautan para kaukasia di Amerika sana dan mereka merasa mampu untuk menjadi sosok itu.

Namun sialnya, sekalinya ada tokoh orang Asia di layar kaca atau film selalu saja digambarkan dengan karakter satu dimensi dengan stereotyping yang begitu kaku. Yaitu tidak menarik, geek, atau hanya dijadikan fantasi eksotisme sex belaka.

Jadi tidak berlebihan jika banyak sekali para pekerja seni Asia di Amerika yang merayakan keberadaan film Crazy Rich Asian ini. Karena akhirnya budaya mereka diperkenalkan ke khalayak yang lebih luas dengan membuka kesempatan lebih lebar lagi untuk lebih banyak representasi wajah Asia lainnya.

Jadi sebenarnya film Crazy Rich Asian tentang apa sih?

Ceritanya basic sih sebenarnya, tentang seorang pacar (Nick Young) yang mengajak ceweknya (Rachel Chu) liburan ke Singapura untuk bertemu dengan sanak keluarga dan terlebih adalah Ibunya. Nah dari sana segala drama, konflik, dan kelucuan pun muncul karena sang Ibu yang tidak menyukai pacar si anak tersebut.

Terlepas dari agenda politiknya, film Crazy Rich Asian dibuat dengan presentasi yang begitu kuat, lucu, dan sungguh menghibur. Bisa dilihat dari scene awal saja penonton sudah dibuat ketawa terpingkal dengan lelucon orang kaya yang cuma ada di khayalan kita saja. Main-main sama Eleanor karena enggak ngasih kamar hotel, eh enggak pake lama hotelnya langsung dibeli sama doi. Bukan main!

Screen Shot 2018-09-10 at 16.56.34
Eleanor jadi mirip Bu Dendy ya?

Sebenarnya porsi anekdot-anekdot dan gosip-gosip old money seperti itu di film ini enggak terlalu banyak sih. Karena dari segi cerita, fokus film Crazy Rich Asian lebih tentang bagaimana Rachel Chu yang diperankan oleh Constance Wu, berjuang untuk mendapatkan respect dari Ibu pacarnya. Yaitu si Eleanor, yang diperankan begitu apik oleh aktris veteran Michelle Yeoh. Judes-judes orang kayanya dapet banget.

Tapi serius deh, Crazy Rich Asian begitu kaya dengan karakter-karakter kocak bin ajaib jika mau dieksplore lebih jauh lagi.

Jagoan gue tentu saja keluarganya si Goh Peik Lin, yang dimainkan oleh Awkwafina. Ada saja tingkah yang bikin kita cengengesan.

Doi itu sahabatnya Rachel pas kuliah dulu. Kebetulan doi warga tajir Singapura juga. Meski enggak setajir pacarnya Rachel si Nick Young tapi ketajiran keluarga doi bisa bikin orang-orang bilang; OKB nih (orang kaya baru).

Ya gimana enggak, doi pas diajak ke party udah nyiapin banyak dress untuk occasion tertentu. Terus di rumah Nick doi enggak berhenti selfie sana-sini.

Awkwafina itu kalau di Indonesia semacem Fitri Tropica versi lebih slengean lagi. Doi jadi salah satu alasan mengapa gue semangat banget nonton film Crazy Rich Asian.

Screen Shot 2018-09-10 at 16.26.16
Sumpah kocak banget ini perempuan.

Tante-tante dari keluarga Nick Young pun enggak kalah heboh dan komikal. Wah, sepanjang film kita bakal dimanjain banget sama celetukan-celetukan khas keluarga Asia soal “situ dari keluarga mana?, “bisnisnya apa sih kok bisa kaya?”, “kerjaannya apa sih?”.

Kekepo-kepoan itu pasti sudah akrab banget dong ya buat kuping orang Indonesia? Jadi pas nonton film ini kita orang Indonesia bisa relate lah ya.

Lalu sinematografi dan production value dalam menggambarkan keborjuan para orang-orang kaya ini pun menurut gue sudah cukup asik. Karena adegan-adegan saat Bridal Shower dan pesta bujang pecah banget sih.

COY MEREKA PUNYA PULAU SENDIRI SAMA HELIKOPTER MASING-MASING GITU! Gusti Allah, khayalanku saja bahkan tidak seliar itu.

Dan film ini dengan komikal mewujudkan itu semua dengan penuh warna dan glorifikasi banget.

Tapi lebih jauh lagi sebenarnya film ini dengan sangat kuat menggambarkan karakter cewek keren macem Rachel dan Astrid (sepupunya Nick yang diselingkuhin suaminya karena suaminya merasa inferior dengan kekayaan Astrid).

Karena Rachel dari awal film sudah dengan konsisten menunjukkan bahwa ia mencintai Nick tanpa memandang net worth dirinya. Jadi mau senyebelin apa pun Ibunya Nick, Rachel tetap cool. Tapi ya namanya film pasti ada adegan downnya ya. Rachel enggak mau kalah dong. Sebagai seorang Profesor, Rachel pun memainkan manuver teori psikologis dengan melawan dominasi Eleanor terhadap kebahagian anaknya.

Meskipun konflik besarnya terasa generik, yaitu ke klise-an kisah romantis yang terhalang ketidaksetujuan orang tua. Tapi bagaimana Rachel menyelesaikan tiap-tiap masalahnya dan bangun dari itu semua terasa heartwarming dengan semangat yang menular.

Kamu bisa melihat kekerenan Rachel dari mulai adegan pernikahan yang ia datang dengan bantuan Goh Peik Lin lewat gaun kecenya dan malah jadi pusat perhatian dibanding cewek-cewek kaya resek. Lalu yang paling memorable tentu saja saat scene main Mahjong. Wah seru banget sih gertakan Rachel di sana terhadap Eleanor. Penuh perhitungan dan mengancam.

Harus nonton film ini?

Ya, harus banget dong! Nonton film Crazy Rich Asian itu seperti nonton The Devil Wears Prada. Enggak ngebosenin walaupun ditonton berkali-kali. Efeknya tetep nyenengin. Dan terlepas dari semua kebacotan gue di awal, sebenarnya menyenangkan sekali bisa nonton film romantic comedy yang dibuat dengan proper dan bisa ngasih efek happy setelahnya.

Pokoknya siap-siap deh ketawa seru dengan halusinasi ngebayangin ada orang kaya tajir melintir yang cakep, pinter, dan baik hati yang mau merelakan kekayaan orang tuanya buat kita. HAHAHA.

Stop halunya dan mulai beli tiket filmnya!

PS: Another observation:

  1. Di trailer Crazy Rich Asian kan ada adegan si Awkwafina bilang; you are nasty, you are nastier. Itu kok gue enggak lihat ya di film? Apa gue enggak sadar aja mungkin ya?
  2. Gue sama temen gue ngebecandain kalau Rachel pas di propose pakai cincin kecil dia nolak, eh pas dapet cincin lebih gede doi mau. Hehe. Lyfe.
  3. Kenapa si Rachel enggak kepo ya soal lakinya di medsos? Ya kali enggak nemu.

Review Film Searching [SPOILER]

Seberapa kenal elo dengan anak atau keluarga elo sendiri?

Screen Shot 2018-08-30 at 03.02.32

Pertanyaan itu lah yang muncul saat gue menyelesaikan menonton film Searching beberapa waktu lalu. Film garapan Sutradara Annesh Chaganty yang diperankan dengan sangat apik oleh John Cho sebagai David, seorang ayah yang mencari putrinya yang hilang lewat kecanggihan teknologi dan media sosial, hadir dengan intensitas tinggi dalam balutan misteri yang membuat film ini tidak hanya mencekam namun juga menularkannya dengan begitu sempurna di tiap sekuensnya.

Bagaimana tidak, adegan per adegan di film Searching dibungkus dengan keintiman pertunjukkan data file foto dan video dari komputer pribadi keluarga David. Yang dari menit pertama film Searching dimulai sebagai penonton kita sudah diajak untuk terikat dan mengikuti perjalanan mereka. Tentang bagaimana mereka memiliki windows pertamanya, lalu menyaksikan dengan haru perayaan-perayaan besar di hidup mereka, dan ikut menyelami keseharian mereka yang menyenangkan. Sampai akhirnya pada momen kehilangan menyedihkan yang terjadi di dalamnya. Saat istri David meninggal.

Semua bergerak dengan begitu repetitif, sehingga membawa penonton mau tak mau jadi bagian dan terlibat dari cerita film Searching tersebut.

Kemudian setelah keterikatan itu muncul, film Searching melakukan transisi menuju konflik dengan misteri yang mencengangkan. Sang anak hilang begitu saja dengan meninggalkan tiga telepon yang tak sempat terangkat dan membuat David mencari satu demi satu petunjuk keberadaan si anak melalui laptop pribadi si anak dan akun-akun media sosial yang ia miliki.

Namun ketika David semakin dalam mengetahui kehidupan si anak di luar sana juga menyaksikan satu persatu postingan-postingan putrinya di media sosial, makin David sadar bahwa ia sebenarnya tidak mengenal anaknya sama sekali.

Maka dari sana perjalanan pencarian anaknya pun kian dipenuhi teka-teki yang membuat tensi menonton film Searching bergerak dengan lika-liku tajam dari tiap petunjuk-petunjuk baru yang hadir. Kemudian ketika mencapai akhir film, dengan cerkas sang sutradara menyelipkan sebuah twist tentang ironi cinta orang tua yang berlebih pada anak. Begitu menyesakkan hingga membuat gue geleng kepala dan bergumam, ‘kok bisa ya?’.

Yang menarik dari film ini adalah tentu saja perihal eksekusinya. Bagaimana hampir sepanjang durasi film ini kebanyakan menggunakan rekaman percakapan lewat i-message, laptop screen recording, skype call dan cctv.

Sehingga faktor kedekatan itu muncul dengan sendirinya karena tentu saja majority penonton milenial yang akrab dengan teknologi tersebut dapat dengan mudah dan cepat beradaptasi dengan logika cerita di sepanjang pencarian petunjuk melalui beberapa platform tersebut.

Betapa kita paham bahwa pelarian utama seorang anak untuk mencurahkan perasaannya adalah di media sosial. Bagaimana seseorang mencari justifikasi dan support dari orang-orang baru yang tidak mengenal mereka.

Tapi sebenarnya ada beberapa hal yang membuat gue dan teman gue berdebat akan beberapa hal yang sepertinya bisa diselesaikan dengan cepat di film Searching ini. Seperti:

  1. Bukankah di iPhone ada aplikasi find my iPhone? Mengapa aplikasi itu tidak dimunculkan sama sekali di sepanjang film?
  2. Di Indonesia ketika handphone hilang kita bisa menghubungi provider yang digunakan untuk melacak lokasi terakhir kali sebuah telepon dibuat. Ini bisa banget digunakan ketika si anak melakukan miscall tiga kali ke handphone David.
  3. Ketika cctv mobil putrinya ditunjukkan oleh si detektif, sebenarnya sudah kelihatan ada dua mobil yang jalan dari pom bensin tersebut dan saling mengikuti. Mengapa tidak ada kecurigaan di situ?
  4. Tentang fish_n_chips dan dengan mudahnya si detektif bilang dia sudah mengeceknya, mengapa David tidak meminta bukti fisiknya dan malah langsung percaya? Dan tidak mengeceknya secara langsung padahal David dari awal sudah dengan canggih mengecek satu persatu teman putrinya?

Dan sebenarnya hint-hint bahwa ada something fishy di detektifnya itu sudah terlihat dari bagaimana dia memproteksi anaknya agar tidak terlihat oleh David di tiap kali mereka melakukan skype call.

Juga ini personal opinion aja sih, adegan si putri David yang masih hidup itu betul memang bagus untuk happy ending. Tapi sebenarnya jika dibuat meninggal sepertinya akan bagus karena keironisan yang menyesakkan. Toh pertanyaannya yang kemudian hadir adalah bagaimana bisa seseorang masih hidup setelah jatuh ke jurang tinggi gitu.

Namun, secara keseluruhan film Searching benar-benar sebuah hiburan sinematik yang menarik dan menegangkan. Membuat menontonnya langsung di layar besar dengan sound bioskop menjadikan keseluruhan ketegangan di film Searching terasa dua kali lebih asik.

Dan gue juga merasakan bagaimana film ini menyentil relasi kedekatan keluarga di era digital sekarang ini. Sebagai orang tua (atau yang lebih tua) sudahkah kita memonitor apa yang anak-anak lakukan di media sosial? Dan lebih jauh lagi adalah sudahkah orang tua menjadi medium yang lebih aman untuk bercerita selain media sosial itu sendiri?

Karena tanpa disadari bahwa hal yang paling klasik namun esensial dalam suatu hubungan di keluarga yang seringkali luput adalah komunikasi. Sudahkah kita mencapai itu semua?

Kerennya lagi, film Searching juga mengukuhkan peta perpolitikan representatif wajah asia di perfilman Hollywood. Dan pas gue tahu budget bikin film ini adalah satu jutaan dolar, bikin gue mikir bahwa film bagus enggak melulu harus big budget dengan segambreng para aktor mahal.

Oh iya satu lagi sebuah scene lucu yang membuat gue merasa bahwa film ini real banget mengcapture kehidupan media sosial, yaitu ketika David menanyakan ke salah satu rekan kelompok biologi anaknya, si rambut keriting yang sok banget itu, dengan tegas si cewek rambut keriting itu bilang bahwa ia tidak dekat dengan putrinya. Tapi saat tragedi ini makin besar dan diliput media maka dengan alamiahnya ia mengupload sebuah video di internet dan menyatakan betapa dia merindukan si putri david itu dan menangis tersedu-sedu mengatakan bahwa betapa mereka begitu dekat sebagai seorang sahabat. Girl, please…..

Dari Rental CD Sampai ke Jennifer Lopez

Untuk seorang anak yang tinggal dan tumbuh di daerah nanggung bernama Cibinong dan enggak punya cukup uang jajan, akses untuk mendapatkan hiburan itu terasa lumayan sulit dan kalau pun tersedia itu juga harus menempuh jarak yang lumayan banget.

Dulu saat masih SMA di tahun 2005 sampai 2008, hasrat untuk menonton film dan nonton konser itu lagi tinggi-tingginya. Meski saat itu media sosial baru mentok di Friendster dan IMRC dan belum bisa pamer apa-apa karena handphone juga masih poliponik. Tapi ya umur-umur segitu ya kan, rasanya pengen mingle dan tampil aja.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.50.17
Modal update lagu-lagu terkini karena ada fitur radionya. Dulu berasa asik sendiri aja karena sok bisa denger radio sambil jalan ke mana-mana.

Tingginya keinginan gue pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk pergi nonton Pensi kudu banget ke Jakarta. Dulu tuh berasa jutaan kilo jauhnya kalau mau ke Jakarta plus gue engga tau jalan. Kalau maksain, nyasar yang ada.

Dan kalau mau nonton ke bioskop harus pergi ke Bogor Kota yang mana trayek angkotnya dari Cibinong mentok cuma sampai di Jambu Dua aja. Jadilah jarak menjadi tantangan dan hambatan buat gue.

Mohon maap, harap dicatat bahwa di tahun tersebut masih belum ada ojek online. Transportasi yang ada cuma angkot dan bus yang wasalam banget deh. Tapi demi gaya dan up to date, dipaksa-paksain aja dong ke Bogor naik angkot berkali-kali cuma buat lihat ciuman Shandy Aulia sama Samuel Rizal di film Apa Artinya Cinta.

Pilihan bioskop di Bogor saat itu mulai dari bisokop Galaksi (Tajur), Mall Elos aka Eka Lokasari (Sukasari) dan Dewi Sartika (Biasa disebut DS, lokasi di Pasar Anyar). Atau kalau mau jauhan dikit dan harga tiket lebih murah bisa ke daerah Depok, yang kalau enggak salah dulu cuma ada di Detos (Depok Town Square).

Berarti untuk sampai ke bioskop dari Cibinong gue harus ngelanjutin perjalanan berikutnya dari Jambu Dua naik angkot trayek baru lagi.

Nungguin lagi deh abangnya ngetem. Duh, kebayang kan tuh berapa tahun cahaya yang harus dihabiskan demi nyampe ke bioskop.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.30.19
Angkot “SEXY” (angkot yang ada tempelan stiker sexy) adalah angkot andalan, karena komplit ada sound sytem dan lebih bersih. Favorit deh.

Makanya asli gue suka gedeg banget kalau ke bioskop terus film yang ditonton tuh jelek. Duh, KZL.

Soalnya coy pengorbanan gue buat nonton ngabisin waktu perjalanan dua-tiga jam di jalan aja neh. Belum lagi ada bonus adegan nyium semriwing wewangian ketek orang-orang yang beradu di hidung.

Udah deh bubar jalan semua kekecean modal minyak wangi gatsby yang disemprot sana sini. Semua berubah jadi paduan keringet matahari dan besi angkot.

Tapi gue percaya Tuhan enggak bakal ngasih ujian ke umat yang enggak bisa mereka jalani. Lalu gue bertemanlah dengan Jeje, dari doi gue diberikan solusi praktis untuk memenuhi tingginya kebutuhan gue menonton film.

Yaitu dengan menyewa film ke rental CD. Saat itu di Cibinong ada dua tempat rental CD film.

Anyway, jadi life before internet, netflix, torrent dan Indo xxi merajarela seperti sekarang yang membuat nonton film jadi gampang banget. Rental film itu dulu semacam getaway buat nikmatin film dari yang jadul sampai yang terbaru (hitungan terbarunya adalah setelah 3 bulan film itu turun layar di bioskop) dalam bentuk CD.

Di daerah Cikaret ada yang namanya Aster Disc. Dia bangunannya ruko dua lantai dan pilihan filmnya lebih yang artsy dan kebanyakan adalah pemenang-pemenang Oscar gitu. Terus ada Ultra Disc, lokasinya deket SMA gue dulu di daerah Ciriung. Film-film di Ultra Disc lebih up to date dari Aster Disc.

 

Jadi, enggak perlu lagi deh jalan jauh-jauh ke Bogor atau Depok. Akhirnya buat nonton film gue cukup ke Cikaret atau Ciriung (yang mana cuma 10 menit naik motor), di sana ada ratusan judul film yang udah menanti buat disewa.

Nah dari history film-film yang gue pinjem, lama kelamaan kebentuk interest genre film yang gue suka. Yaitu di romantic comedy. Kisah-kisah unyu ala-ala FTV yang ceritanya berfokus pada percintaan cewek dan cowok yang enggak sengaja ketemu lewat adegan ketabrak dan akhirnya mereka kenalan deh, turns out salah satu dari mereka tajir. Ada bumby drama sana sini tapi pada akhirnya mereka live happily ever after.

Saat itu cerita-cerita macem gitu merupakan hiburan yang menyenangkan buat sobat miskin macem gue buat ngayal babu.

Yang menarik lagi dari rental-rental film itu, penjaganya tau banget soal film. Dari Mbaknya gue akhirnya bisa berkenalan dengan film-film Jennifer Lopez. Si seksi yang hitz banget di MTV saat itu lewat lagu If You Had My Love, Love Don’t Cost a Thing, dan No Me Ames ternyata punya film-film yang asik buat ditonton.

Akting Jennifer Lopez yang selow tapi asik dan cerita filmnya yang udahlah enggak usah didebat banget, karena yang memang too good to be true. Bisa banget ditonton di malam minggu kelabu buat jadi obat haha hihi ber-aw aw romantis ringan baik sendiri atau nonton bersama sobat-sobat jomblo lainnya.

Berikut gue buat daftar lima film doi yang paling asoy:

1. Maid in Manhattan (2002)

Ini ceritanya udah halu banget. Pegawai hotel yang akhirnya pacaran sama tamu tajirnya. Ya bukannya enggak mungkin, tapi peluang untuk terjadi di dunia nyata kan kecil ya.

Tapi di antara semua film romantic comedy Jennifer Lopez, ini yang paling gue suka. Mulai dari soundtracknya yang kacau enak-enak banget, sukses mengisi mood film dari yang happy sampai ke sedih. Terus duet akting Jennifer Lopez dan si Voldemort berasa nyata banget.

Asli, sedih beneran gue pas si Jennifer Lopez ketawan ngebohong dan galau di kereta pas pulang kerja.

Mana ditambah ada lagu Norah Jones, don’t know why diputer, ibarat luka udah perih dipeperin jeruk nipis. Nyes…… perih tsay.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.12.43 AM

Jennifer Lopez di film ini super cantik banget dengan balutan gaun nudenya. Effortless aja bentukannya. Pokoknya dia jago banget deh meng-embody peran-peran perempuan susah yang bisa dikasihani penonton dan digebet orang-orang kaya. Macem gold digger tapi lebih alus gitu mainnya.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.05 AM

Ya tapi mohon maap ya, Jennifer Lopez enggak didandanin juga tetep cantik aja tuh.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.35.21 AM

2. The Wedding Planner (2001)

Nah, kalau film yang ini lebih ngeselin lagi. Premisnya tentang wedding planner yang akhirnya nikah sama suami kliennya.

Lah brengsek banget kan ya.

Tapi ya enggak dibuat ala-ala pelakor gitu. Doi berdua ketemu sebelum si cowok tau kalau si Jennifer Lopez adalah wedding planner pernikahan doi.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.50 AM

Untuk segi cerita, film ini paling lambat pergerakannya, enggak sedinamis dan semenarik film-film romantic comedy Jennifer Lopez lainnya. Tapi akting-akting aktor yang ada di sini juara semua.

Adegan meet cute atau ketemuan antara Jennifer Lopez dan Matthew McConaughey cukup halu sih. Di situ digambarin Jennifer Lopez lebih milih sepatu Gucci barunya dibanding nyawanya. Untung banget kan di sana ada dokter tulang yang ganteng yang bantu doi.

What a coincidence.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.16.06 AM

3. Monster in Law (2005)

Nah menurut gue di antara semua film Jennifer Lopez yang gue tonton, film Monster in Law itu paling kocak. Asli seru abis ngeliat perang dingin antara mertua dan menatu yang dimainkan begitu apik oleh Jane Fonda.

Seru banget ini filmnya. Meski romantisnya cuma tempelan aja ya. Karena karakter cowoknya kayak enggak penting gitu. Cuma hadir sekali dua kali. Yang bikin seru film ini ya kegilaan mertuanya yang lagi krisis kehidupan yang udah enggak laku di pertelevisian dan harus menghadapi anak kesayangannya mau nikah sama perempuan muda yang pekerjaannya cuma penjaga anjing.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.29 AM

Terus ngana tau Jennifer Lopez sama cowoknya ketemuannya gimana?

Enggak sengaja ngeliat di pantai terus tabrakan di Starbucks. Terus abis itu mereka jadi sering ketemuan secara enggak sengaja gitu.

Life is so easy ya?

Screen Shot 2018-07-23 at 16.11.02.png

4. Shall We Dance? (2004)

Film yang diadaptasi dari film Jepang dengan judul yang sama, Shall We Dance adalah sebuah film yang manis banget. Meski karakter Jennifer Lopez dan Richard Gere tidak berakhir jadian (yang mana membuat film ini lebih manis lagi) tapi cerita di film ini disampaikan dengan lebih matang dan seksi.

Kombinasi kegundahan pria paruh baya dan kekuatan karakter Jennifer Lopez yang dimunculkan lewat gerakan dance doi yang gokil banget bikin elo akan tersedot dan berdoa buat mereka agar menang di dance competition yang mereka incar.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.00 AM

5. The Back Up Plan (2010)

Kalau film yang ini udah di era download. Tapi tetap gue masukin karena ceritanya memang kocak banget. Meski lagi-lagi, jangan terlalu serius untuk memasukan logika pada setiap adegan di film ini. Karena balik lagi ya filmnya enak buat halu-haluan aja.

Jennifer Lopez yang sedang hamil di film ini digambarkan dengan begitu kocak karena dia harus mengalami fase naik turun hormon yang bikin sekuens-sekuens di film The Back Up Plan jadi lucu banget.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.18.39 AM

Memang sih film dengan genre romantic comedy itu terkadang formulanya hit and miss. Tapi di kelima film Jennifer Lopez yang ini doi aktingnya enggak asal dan ngotot pengen tampil bagus sendirian. Doi bisa ngeblend banget sama aktor-aktor yang lain. Tektoknya dapet.

Kebayang sih mungkin pas dari awal si Jennifer Lopez udah di brief sama sutradaranya buat pembawaannya lebih asik dan lovable. Karena toh memang film doi bukan buat Oscar material. Tapi ngejar dapet penonton banyak. Dan tanpa diragukan lagi Jennifer Lopez bisa ngasih itu semua dengan begitu baik.

Selamat menonton!

 

Review Film Teman Tapi Menikah: Gemas-Gemas Gimana Gitu

Screen Shot 2018-04-19 at 12.06.44 AM

Apakah laki-laki dan perempuan bisa bersatu dalam ikatan pertemanan tanpa ada rasa suka pada satu sama lain?

Pertanyaan itu mungkin sering kamu dengar atau jangan-jangan sedang kamu jalani sekarang ini?

Nah buat yang sedang berada dalam dilema tersebut ada baiknya kamu menonton film manis satu ini berjudul Teman Tapi Menikah. Film yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama karya dari pasangan selebritas yang sedang naik daun: Ditto dan Ayu Diah Bing Slamet.

Kisah film Teman Tapi Menikah sangat sederhana, tentang Ditto yang memendam perasaannya selama 12 tahun pada Ayu dan seperti spoliler di judul filmnya: mereka berdua pun berakhir menikah bersama.

Tapi tentu saja selama dua belas tahun premis tersebut tidak dijalani dengan sesederhana itu. Pasti ada banyak naik turun yang dialami Ayu dan Ditto.

Seperti saat Ditto yang sabar melihat Ayu selalu berganti pacar dan dia hanya dijadikan senderan untuk memberikan contekan dan tukang antar jemput. Yang mana dilakukan oleh Ditto dengan ikhlas sekadar untuk bisa menemani dan melihat Ayu.

Secara pribadi saya sangat menikmati menonton film ini. Tidak ada plothole yang ganggu, tidak ada aktor-aktor dengan akting yang nyebelin, atau gangguan-gangguan teknis lain. Semuanya terasa pas pada porsinya.

Film Teman Tapi Menikah memang dikhususkan untuk mereka para penyuka film romansa yang sudah mengikuti kisah Ditto dan Ayu sebelumnya lewat bukunya atau akun media sosial mereka.

Dan bagi yang tidak mengikuti sama sekali, baik di media sosial atau membaca bukunya (seperti saya), ketika menonton film ini malah menjadi tertarik untuk mengulik kisah mereka berdua lebih dalam lagi.

Yang menjadi unggulan dalam film Teman Tapi Menikah adalah keseluruhan elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari para aktornya, baik yang utama maupun pendukungnya, semua berakting dengan sangat baik. Dan tepuk tangan paling meriah tentu saja diberikan pada Adipati dan Vanesha yang berakting dengan sangat natural dan menggemaskan. Para penonton, setidaknya saya, dibuat percaya bahwa mereka adalah dua orang teman yang memiliki kedekatan yang asik.

Menonton film ini, saya seperti melihat entitas tersendiri, saya tidak tahu seperti apa Ditto dan Ayu Diah di kehidupan nyatanya. Jadi, saya melihat keduanya berakting dengan sangat baik sesuai karakter yang mereka bawakan.

Gambar-gambar yang diproduksi dalam film ini pun BAGUS sekali. Meski ada beberapa yang glossy dan kuningnya terlalu berlebihan, namun memang tujuannya untuk menghasilkan gambar yang clean dan penanda sebagai kilas balik ke masa lalu. Jadi, masih bisa ditoleransi lah.

Favorit saya adalah bagaimana film ini merekam Bandung dengan begitu indah dan gambaran kosmopolitas juga upper class keluarga Ibu Kota yang tidak berlebihan namun tetap memabukkan.

Yang paling saya soroti adalah adegan pembuka film ini saat Ditto mendengarkan detail-detail suara di sebuah cafe saat menunggu Ayu datang. Semua terasa enerjetik dan menular. Settingnya seperti iklan yang menarik. Namun, sayangnya detail-detail tersebut berhenti di awal saja. Padahal saya menunggu ada keterikatan filosofi perkusi dengan cerita film ini. Sayangnya tidak ada.

Selebihnya film ini begitu cerewet dengan dialog-dialog yang penuh tanpa memberikan jeda pada gambar-gambar diam yang sebenarnya bisa bercerita sendiri.

Seperti saat Ditto naik bus menuju rumahnya saat menyadari ia butuh membeli mobil untuk bisa pulang bersama Ayu. Atau saat Ayu merasa dikhianati oleh Ditto ketika ia menyatakan perasaan sukanya pada Ayu dan Ayu akhirnya berkubang pada perasaan sedihnya di kamar tidur.

Dua scene tersebut pengambilan gambarnya terlihat sangat poetic dan berpotensi untuk memberikan kedalaman pada cerita dengan dramatisasi yang memang pas untuk kegamangan dan kesedihan yang ada pada plotpoint penceritaan.

Jadi, saya merasa film ini terlalu berisik menuntun para penontonnya untuk mengetahui emosi dan perasaan masing-masing karakter lewat dialog-dialog yang terus menerus mengulang kata-kata yang sama. Mungkin itu untuk kebutuhan quoting caption di media sosial kali ya. Yang sebenarnya saya rasa tidak perlu-perlu amat.

Sehingga tidak ada ruang ‘theater of mind’ para penontonnya untuk menerka-nerka ke mana jalan cerita ini seterusnya akan berjalan meskipun dengan ending yang sudah mereka tahu dari awal. Tidak masalah ketika kita sudah tahu akhir dari cerita tertentu, namun setidaknya dalam drama tentu saja penonton membutuhkan twist dan kejutan-kejutan sendiri untuk membuat tensi cerita agar tetap naik dan menarik.

Terlepas dari itu, film ini cukup berhasil untuk memberikan emosi pada penontonnya ketika adegan Ditto yang akhirnya menyatakan perasaannya pada Ayu di Cafe. Umpan-umpan di awal yang sudah ditaruh untuk siap memburai emosi penonton saat Ayu menolak Ditto berhasil dengan sempurna menarik kailnya untuk dikoyak pada flashback yang asik saat Ayu akhirnya pun menyadari betapa penting arti Ditto dalam hidupnya.

Ditambah musik-musik pengiring yang hadir dengan seru. Terutama saat muncul lagu Melupakanmu dari Endah n Rhesa juga lagu yang dibawakan Iqbaal Ramadhan. Secara keseluruhan dapat mengisi momen-momen sedih, senang dan romantis dengan manis.

Saya senang sekali bisa menonton film remaja ‘cinta-cintaan’ yang dibuat dengan proper dan akhirnya menghasilkan kesinergisan antara isi cerita dan elemen-elemen lainnya. Salut untuk para kru dan aktor di film ini!

Kembali lagi ke pertanyaan awal apakah dua orang dengan gender yang berbeda bisa berteman tanpa ada ketertarikan seksual satu sama lain? Jawabannya ya cuma kamu sendiri yang tahu. Tapi jangan lupa untuk berjuang memberitahukannya kalau-kalau kamu suka.

Anyway another observation sepanjang film ini adalah:

  1. Fashion secara keseluruhan film ini tuh sudah asik, penggambaran Ditto yang kece dan gaul dengan sempurna terwakilkan dari pemilihan style dan baju yang pas dari awal sampai akhir. Tapi KENAPA WIG DI MASA SMP GANGGU BANGET SIH?
  2. Terus tiga baju terakhir yang dipakai Ayu mulai dari baju kuning di cafe, kemudian adegan dia ngasih tau pacarnya kalau Ditto menyatakan perasaan (rambut dia berantakan ga jelas juntrungannya juga anting dan dan kalung bunganya yang segede-gede gaban itu ganggu banget). Paling epik adalah baju pas dia ke Bali. Itu baju yang dipakai labil banget. Mau bikini atau levis atau apa sih? Enggak ngerti.

Selebihnya semua masih oke untuk ditonton seru-seruan bareng pacar atau teman yang lagi kamu kode-kodein.

Selamat menonton!