2 AM Thought

When your mind speak louder and you cannot sleep then you become ‘sok filosofis’. #padahalbesokkerjapagi

Ada banyak momen di penguhujung tahun ini yang ngebuat gue agaknya seperti diam sejenak, lalu tertawa pahit. Men, I’m old.

Tahun 2017 ini gue akan berumur 27 tahun.

Angka keramat yang kalo di film 3 hari untuk selamanya, si Yusuf bilang adalah umur di mana seluruh semesta elo diobok-obok terus elo muntah dan diliatin deh tuh apa aja yg udah dilaluin sepanjang 27 tahun itu.

For some people pasti ada yg nyeletuk; ‘yaelah masih muda kali baru 27’ atau ‘sudah tua loh elo harus udah serius, nikah gih’.

Asli, bawaannya pengen gue toyor orang-orang macem gitu. Bukan hanya karena mereka sok tahu, mereka juga dengan enaknya mengenerelisasi hanya berdasarkan opini tunggal dari pengalaman mereka aja. Coy, ngane siapa berhak nentuin nasib orang?

For me, gue percaya hidup yang cuma sekali ini layak banget untuk diapresiasi. Untuk dijalankan to the fullest dan semoga berguna bagi orang lain.

Gue bangga sekaligus sedih dengan apa yg orang tua gue udah kasih ke gue. Mereka bekerja begitu keras agar anak-anaknya sekolah dan bisa makan layak. Tapi semua itu harus mereka bayar mahal dengan ngorbanin mimpi dan kebahagiaan mereka sendiri.

Mungkin orang tua gue tidak mengenal konsep YOLO seperti milenial sekarang. Orang tua gue berpedoman; biar susah sekarang tapi anak jangan sampai seperti mereka. Itu yang membuat mereka bangun tiap paginya meskipun badan mereka sudah ringsek karena capek kerja.

Ditambah lagi mereka juga harus memendam hasrat hidup mereka. Menertawakan mimpi lama mereka yg terasa tak masuk akal. Dan menjalani hari hanya untuk orang lain. Bukan diri mereka sendiri.

Apa yg mereka lakukan adalah hal yg mulia banget.

Tapi, sejujurnya gue enggak mau hidup seperti itu. Gue enggak mau hidup untuk orang lain.

I have a dream and I want to make it happen. Some people will call me selfish. Tapi buat gue, ini adalah alasan utama mengapa gue hidup. I want to make a change. Gue mau berkarya. Meskipun akan butuh waktu lama untuk sampai di titik sana. Tapi gue enggak akan menyerah.

Saat elo bilang gagasan itu semua ke khalayak umum. Yang elo dapet pasti cemooh dan terkadang penghakiman. Ini yang agaknya kurang gue suka dengan konsep sosial di masyarakat saat ini yg sangat memenjarakan hak privat seseorang dan tidak mendukung kesetaraan hak pribadi. I mean if they want to be “mentingin karir dibanding yg lain” just let them be. Enggak perlu usil dengan hal-hal yg memberatkan. Hidup orang udah susah. Kalo ga bisa bantu, minimal jangan bikin pusing.

Terlepas dari permasalahan sosial, masalah dalam hidup juga kerap kali muncul dalam diri sendiri. Dalam bentuk ego, nafsu konsumtif, rasa malas dan kekosongan diri.

Bagaimana mau berkomitmen, jika membuat bahagia diri sendiri saja enggak bisa.

Beratnya hidup di norma masyarakat, hausnya pengakuan dari orang lain, dan terjerat akan ego sendiri sepertinya masalah yang harus diputus di 2017 ini. Karena saat gue membuat projection keuangan selama setahun. Gue tertawa pilu. Melihat deretan angka yg harus dicari, dikeluarkan, disimpan. Gua takjub dengan kondisi bahwa angka-angka ini yang mewakili gue. Ini adalah track record atas pilihan-pilihan gue. Tenyata gue sendiri terjebak atas standar ini.

Ini salah siapa? Ya salah gue sendiri. Karena terlalu lama berkutat dengan definisi-defisini orang lain yang enggak sesuai dengan tujuan awal gue.

Dan gue ingin menyudahi itu semua. Gue ingin terlepas dari ego untuk terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Ingin tampil lebih di mata orang lain. Gue tidak mau lagi hidup atas dasar definisi itu. I don’t need to impress anyone anymore, or buying stuff that just to makes me feel belong to some click or something. Nope. I’m done with that.

Jika hidup diibaratkan seperti traveling. Elo semua bisa liat, ada banyak orang yg sampai mati akan mengkotak-kotakan; elo tim backpacker, elo tim koper, elo tim apalah. Padahal ya, yaudah aja. Jalan-jalan ya buat nyenengin diri sendiri. Bukan terperangkap pada struktur yg dibuat orang lain. Elo harus coba ini, elo harus bawa ini, elo ga boleh ini, etc. Elo fokus pada teknis dan melupakan substansi kesenangan traveling itu sendiri.

Karena pada akhirnya, inti dari sebuah perjalanan buat gue adalah tentang pengalamannya, tentang prosesnya. Mau kemanapun destinasinya. We can learn from anywhere.

Begitu pun juga hidup. Setidaknya buat gue.

Advertisements

THE MACCABEES

Hujan di Jakarta begitu mengerikan. Dengan petir dan awan hitamnya yang mengamuk, membuat semua orang ngeri untuk keluar. Bahkan tak ada anak kecil yang sudi bermain dengan lebat airnya. Dari balik kaca kantor, saya melihat buliran-buliran air yang tidak berhenti turun.

Cradle me

I’ll cradle you

I’ll win your heart with a woop-a-woo

Pulling shapes just for your eyes

Tiba-tiba dari Spotify, satu lagu yang dulu saya dengar tiap harinya berputar dengan santainya.

Dengan beberapa detik musik intro tersebut, berhasil membawa saya pada satu memori sekitar empat tahun silam. Satu keping cerita tentang saya dan D.

Kala itu hujan begitu lebat, kami sedang berada di hotel sekitaran Depok. Ada acara pernikahan dan saya mengajaknya untuk menjadi fotografer menemani saya. Saat acara selesai kami berdua pergi menuju ke satu kamar hotel yang sudah disediakan.

Lelah memotret seharian, kami memutuskan untuk langsung tidur. Saya yang tidak tidur semalaman tentu saja menjadikan momen ini sebagai pembalasan. Saya ingin tidur senyenyak-nyenyaknya sebelum check out jam sembilan malam nanti.

Lima belas menit berlalu, kami hanya menghabiskan waktu dalam diam. D akhirnya hanya bermain game di handphonenya. Dari samping saya mengamati wajahnya yang begitu serius, dia sedang melepas kaca matanya. Garis mukanya yang bundar dan hidungnya yang besar terlihat seperti tokoh di komik-komik. Lalu bulu matanya yang lentik membuat saya tidak bisa berhenti tersenyum.

Di mata saya, dia sempurna kala itu. Dia sempurna dengan ketidaksempurnaannya.

Dan saat itu, saya begitu jatuh cinta dengannya.

Kami yang akhirnya bersama dan tidak terpisahkan jarak delapan jam di kereta ekonomi tentu saja jadi kebahagiaan tersendiri buat saya.

Saya mendekat ke arahnya, menempelkan kepala saya di badannya. Saya menggapai wajahnya perlahan. Kami berciuman sesaat, dan ia pun melanjutkan permainanya kembali.

 Saya berbisik lirih padanya, ‘I hope it’s gonna last forever’.

 So with toothpaste kisses and lines

I’ll be yours and you’ll be

Lay with me, I’ll lay with you

We’ll do the things that lovers do

Put the stars in our eyes

Dia menaruh handphonenya, menatap mata saya dengan senyum jahilnya. Kemudian kami pun kembali berciuman. Kali ini lebih lama, mata kami terpejam, nafas kami bertaut menjadi satu. Saya masih ingat bagaimana wangi parfum lavendernya yang menelusuk ke hidung saya saat itu, meninggalkan jejak memori seperti sekarang. Setiap detail kulit kami yang bersentuhan, bagaimana rasa asam dan manis dari bibirnya, dan bunyi deras hujan dari luar menjadikan momen itu begitu intim. Dunia mengecil dan hanya menyisakan kami berdua.

Setelah selesai dia hanya berkata, ‘tidur saja sekarang, you haven’t sleep all day’.

Dan di tengah hujan yang deras, yang menjaganya untuk tidak pulang, dia berada tepat di jangkauan tangan saya. Saya masih ingat panas tubuhya yang menghangatkan, jugapelukan tangannya ditubuh saya.

 Semua masih begitu jelas, meski hingga saat ini.

 ‘Do you love me,’ tanya saya.

‘I’m afraid I don’t love you,’ jawabnya jahil.

‘Really? Please, please, please love me,’

Menyedihkan, kami berdua tertawa dengan alasan yang berbeda.

Mata saya tak kuasa menahan lebih lama lagi. Detik berikutnya saya akhirnya terlelap dengan damainya.

Beberapa jam kemudian, saya terbangun dengan suara pintu yang terbuka, dalam kondisi masih setengah kantuk, saya tidak tahu apa ini dalam mimpi atau betulan. Saya melihat D pergi, membawa semua barangnya, tak menyisakan apa pun.

Dalam kondisi setengah sadar, saya mengucapkan, ‘jangan pergi’, mungkin gaungnya begitu lirih hingga D tidak dapat mendengarnya.

Malamnya saya terbangun, melihat tidak ada siapa pun di kamar hotel tersebut. Tidak ada pesan selamat tinggal atau apa pun. Hanya kekosongan yang menganga dari dalam. Harum wangi lavender masih menempel di bantal di samping saya.Hujan yang deras di luar sana, dinginnya AC kamar, ditambah saya hanya seorang diri, mendadak menjadi serangan rasa sepi yang begitu dalam.

Ia pergi lagi. Hanya itu yang berputar di kepala saya. Saya mengulang kata tersebut dalam diam.

Saya akhirnya keluar dari kamar dengan pertanyaan yang tersisa, apakah D benar-benar mencintai saya?

And with heart shaped bruises

And late night kisses, divine

So with toothpaste kisses and lines

Stay with me, I’ll stay with you

Doin’ things that lovers do

What else to do?

Saya kembali ke masa sekarang. Di depan laptop yang berisi banyak list pekerjaan dengan deadline hari ini. Saya pun menyudahi throwback dengan D. Mengganti lagu di playlist Spotify saya. Tapi sayangnya hujan masih begitu deras meradang.

Saat hendak mengambil minum, terbesit pemikiran di benak saya, secuil pertanyaan, apakah yang terjadi saat itu; ciuman kami, canda kami, adalah nyata atau hanya terjadi dalam mimpi saya saja?

 Entahlah.

Tentang Dua Hal Paling Nikmat Di Jakarta

sex

Kalau ditanya ke saya, saya akan menjawab; makanan dan sex.

Dua hal itu tersedia dengan baik di Jakarta, mulai dari yang jajanan pinggir jalan sampai yang fancy packagingnya. Promo dan marketingnya pun sama-sama memikat hati. Semua bisa dilihat dengan mudah di media sosial maupun offline.

Baik makanan dan sex di Jakarta sama-sama memiliki banyak jenis dan variannya, tergantung selera si pembeli tentu saja. Interest para pembeli pun dengan apik diolah menjadi kategori tersendiri oleh sang penjual. Jadi tidak usah pusing mencari apa yang kamu mau. Tinggal ketik semua ada.

Suka dengan makanan pedas? Pasti yang disuguhkan meliputi makanan seafood atau padang.

Suka sex yang menantang? Pasti akan disuguhkan permainan S & M yang kinky-kinky.

Suka sushi yang di mix dengan cita rasa lokal? Ada kok, bisa beli yang fusion salmon dengan rendang.

Bosan dengan gerakan yang mekanistis dan ingin coba gaya lain? Bisa! Tinggal sebut fetish kamu apa, semua layanan tersedia dengan rapi dan ‘alat-alat’nya pun hadir dengan jaminan kenikmatan tiada tanding.

Semua orang di Jakarta memiliki orientasi sendiri terkait soal makanan dan sex.

Ada yang menikmatinya secara diam-diam, adapula yang terang-terangan memproklamirkannya ke banyak orang.

Enggak ada yang salah dengan itu menurut saya.

Wong, itu kan urusan pribadi.

Perut dan kelamin kan kebutuhan dasar manusia. Yang salah adalah, ketika mencoba untuk mencampuri apa yang orang lain suka, itu baru mengganggu.

Apalagi mengintervensi keintimanan momen ketika menikmatinya. Aduh, urus piring dan ranjang sendiri saja lah ya.

Kenapa pula kita, yang jelas-jelas orang lain, merasa berhak dan bertanggung jawab untuk mencampuri apa yang orang lain suka.

Lagian, jika makanan dan sex menjadi milik publik. Banyak sekali yang berkorban loh. Yang mengaku suka makanan pedas tapi sebenarnya enggak kuat makan cabai seiris. Harus terima sakit perut saat ditraktir Bos.

Dan ada juga yang ngakunya, ehem, mainstream, tapi siapa tahu dia yang paling semangat kalau lelehan lilin nempel di badan dia sambil dicambuk-cambuk.

Lalu bagaimana?

Sisanya, menurut saya adalah hak dan tanggung jawab masing-masing sebagai seorang individu manusia yang bebas. Mereka bisa memilih makanan apapun yang mereka mau, begitupun sex yang ingin mereka nikmati di malam hari. (Ya, I know, makan dan sex tidak terpaut oleh dimensi waktu dan tempat).

Semoga kamu yang membaca, menikmati makan siang dan sex kamu ya.

Sex and Sushi

nakedsushi.0

Di suatu jam makan siang setelah melalui meeting pagi yang melelahkan bersama klien. Saya, Kalula, Bian, dan Rei memutuskan untuk makan sushi di Lotte.

Alasannya karena, pertama kami baru gajian, kedua Lotte dekat dengan kantor kami, dan terakhir saya sudah merengek dari awal bulan ingin mencoba resto sushi baru yang konon chefnya adalah orang Jepang asli. Banyak yang datang ke sana dan bilang lidah mereka dimanjakan dengan keontetikan rasanya. Saya pun penasaran dibuatnya.

Saya, Bian dan Rei berangkat terlebih dahulu menggunakan Uber, sedang Kalula menyusul dengan gebetan-nya (do people still use term ‘gebetan’?). Saat sampai di resto sushi sushi tersebut, ternyata antriannya panjang minta ampun. Tiga puluh menit sudah kami menunggu, baik panggilan guest listatau kehadiran Kalula pun masih belum kunjung datang.

“Semoga sushi ini se-worthy itu untuk ditungguin,” desah Rei kesal.

“Pak Brian, silakan di meja lima,” panggil si Mba pramusaji kemudian. Kami akhirnya masuk dengan perut lapar dan hati yang berdebar karena jam 1:30 PM kami harus kembali ke kantor. Kami hanya punya waktu tiga puluh menit untuk makan.

Setelah sampai di meja, kami meneliti daftar menu yang sesuai dengan selera dan budget (karena masih ada 29 hari yang harus dilewati setelah gajian), akhirnya kami memutuskan untuk memesan dua sashimi mentah yang berisi lima slice besar salmon, dua piring toro, tiga volcano roll, tigaocha dingin, empat sake aburi (I’m so obsessed with it), dan tiga cawan musi.

Sambil menunggu pesanan datang, Brian menelfon Kalula menanyakan keberadaannya.

“Dia bilang sudah di depan, sendiri. Engga sama si gebetannya,” terang Brian.

“Loh, dia kan misah berangkatnya tadi karena mau jemput si Andra kan?” tanya Rei bingung.

I dunno, but thats what she said.

“Tau gitu dia bareng kita aja, bill Ubernya bisa di split empat orang, lebih murah,” ujar Rei kesal.

Kami bertiga mengagguk setuju, kemudian tertawa geli.

Kemudian tepat saat pesanan kami datang, muncul Kalula dari depan kami lalu duduk dengan air muka yang aneh.

“Mba, saya pesan sakenya ya satu. Tidak pake lama,” kata Kalula dengan nada tinggi.

“Kenapa sih?” tanya saya bingung.

“Emang anjing tuh cowok. Udah disamperin, udah gue dandan cakep gini, udah gue ikut Zumba sama diet mayo sampai pusing, eh dia masih loh enggak mau ngenalin gue ke teman-teman kantornya.”

Kalula memukul meja di depannya, membuat semua mata di tempat ini memandang ke arah kami. But sure, I can feel her pain through her shaking voice.

“Gue pikir, setelah beberapa bulan ini, its enough for him to choose me, rather than his girlfriend.” Sake pun datang, Kalula segera menegaknya.

“Kita laper, curhatnya nanti ya di kantor,” Bian mencoba melawak untuk mencarikan suasana.

It works. Kalula kemudian melampirkan senyuman diwajahnya. Lalu kami pun mulai memakan dengan brutal satu persatu sushi di depan kami.

I was romanticise everything about him, I do,” Kalula menyalakan rokoknya. Memulai prolognya sekali lagi.

“Seolah apa yang dia lakuin ke gue itu yang paling hebat. Dan ngebuat gue ngerasa, gue spesial. Padahal kenyataannya, dia emang gitu aja ke semua cewek. Dia cuma nganggep gue sekadar, women who cool to hang out with and easily to fuck with. Fuck my ass.

“Udah pernah back door? Sakit enggak? Pakai lubricant kan?” tanya Bian penasaran yang kemudian diriingi lemparan sumpit oleh Kalula.

Manajer kami sudah menelfon Bian. Kami pun memanggil Mba pramusaji untuk minta tagihannya.

Split bill atau gimana?” tanya Rei.

“Pakai kartu kredit gue dulu deh, nanti gue email detail tagihannya kayak biasa.” Brian memberikan kartu kreditnya.

Saat kami tengah sibuk dengan handphone masing-masing yang berisi chat dari teman sekantor minta dititipkan pesanan sushi juga. Kalula mengeluarkan alat make upnya. Menghapus eyeliner yang terpatri di matanya.

“I don’t believe in romance anymore. I think there is no such thing about romance. Because, romance only a pseudo projections of visual perception created by imaginations. I mean… people only made romance with good looking people, and shitnya gue ngelakuin itu ke dia,kata Kalula berapi-api.

“Am I right?” tanya Kalula penuh kekalutan setelah tidak ada respon dari teman-temannya.

“Excuse me, what are you just saying?” jawab kami bertiga kompak.

Whatever,” Kalula mengibaskan tangannya.

Lalu kami pun keluar dari Lotte dengan tenang. Tanpa Kalula yang berapi-api, atau imajinasi Bian yang sudah masuk ke klasifikasi porno.

Karena supir Uber tidak mau mengangkut empat penumpang, akhirnya kami berempat berpisah. Saya dan Kalula terpaksa harus naik taksi.

Di dalam taksi, Kalula tidak banyak bicara. Ia memandang kosong ke jendela. Riuh dengan isi kepalanya sendiri atas apa yang terjadi siang tadi.

“Gue udah pakai eyeliner, Jem. Sejam gue dandan di kamar mandi tadi. Elo tau kan artinya?” tanya Kalula tiba-tiba.

“Bahwa elo tadi telat ngumpulin report?” jawab saya sekenanya.

Kalula tersenyum tipis. Ini adalah yang seharusnya ia dengar, dibanding kata-kata racun seperti you’ve fallin’ for him.

“I can feel you, La. It happens to best of us, you falling with him who made butterfly on your stomach, you romanticise all things about that person. About the way he look, the way he talk, or what ever when he speak up his mind. Everything that comes out of his mouth feels like song in your head.”

Kalula masih menatap ke luar mobil, entah mendengarkan atau tidak.

“I was set all high expectation till I realised, he just not that good. He just like rest of us who have flaw and could harm me. And when I’ve get hurt, there’s no such good thing about alien or stupid dragon from his favourite series anymore.” Kalula meneteskan air matanya. Sepertinya ini bukan sekadar masalah tidak dikenalkan oleh teman-teman Andra.

I mad at that person. But, actually I mad with myself. Because, the only person that I can blame is myself. Andra engga pernah minta buat gue jadi selingannya,” Kalula dengan kasar menghapus segera genangan air yang keluar dari matanya.

Kami sampai di kantor dengan perut kenyang, tapi Kalula membawa jiwanya yang kosong bersamanya.

Hey, how about the sushi?” tanya seorang teman saat sampai di meja kerja.

“Hmm, sushinya biasa aja. Engga seheboh apa kata orang-orang,”

Lalu saya tersadar. Mengutip apa yang Kalula bilang, ‘manusia cenderung untuk meromantisasi apa pun. Dan melupakan rasa aslinya’. Jangan-jangan orang-orang yang datang ke resto sushi itu sebenarnya merasakan apa yang saya rasakan juga, biasa saja. Tapi karena semua orang terlanjur bilang enak, dan ini menjadi tempat wajib orang-orang gaul, mereka terjebak untuk melanjutkan kebohongan romantisasi rasa itu.

Pada akhirnya, yang dinikmati bukan sushinya, melainkan imaji kenikmatannya. Tidak ada yang lebih meyedihkan ketika hidup bahagia dalam suatu ketiadaan.