2019 dan Kebodohan-Kebodohan yang Seharusnya Dihilangkan

Ketika hati berkata A dan mulut berkata lain.

Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang mengulang kesalahan yang sama. Kepahitan yang berulang yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan lagi. Entah karena mereka menyukai luka yang sama terus menerus, atau memang kontrol diri mereka selemah itu.

Dan kamu adalah jagoannya. Master dari segala kebodohan tersebut.

Selama sepuluh tahun kamu terus hidup dalam rantai yang seharusnya sudah kamu putus bertahun-tahun lalu. 

Seperti cerita usang ini, ketika kamu diam-diam membohongi diri kamu bahwa sebenarnya kamu masih butuh orang itu hadir di hidup kamu.

Bahwa hari demi hari makna dia di hidup kamu menjadi besar secara tiba-tiba tanpa kamu sadari. Mungkin kamu sadar tapi tidak mau kamu akui. Karena ketika kamu mengakuinya kamu tahu hal ini tidak akan ke mana-mana. Kamu tahu ini tidak akan menjadi apa-apa. Selalu seperti itu. Kamu hanya akan jatuh cinta sendirian. Kamu hanya akan meromansa sesuatu yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat.

Saat kamu melihat dia sedang berusaha melepasmu dan jalan dengan yang lain. Sesak rasanya dan kamu ingin sekali bilang padanya bahwa: hei, kamu tidak perlu berubah untuk jadi orang lain untuk bisa terlihat menarik di mata saya.

Bodoh.

Kamu dan selalu tentang hal-hal bodoh yang seharusnya sudah musnah di tahun yang baru ini namun masih kamu jalani, karena kamu menikmatinya.

Sebenarnya kamu benar-benar menyukainya atau hanya rasa obsesimu semata? Betapa kamu hanya ingin memilikinya, mengaturnya, memamerkannya.

Bahwa sekalipun tidak pernah ada yang berbalas dari hal-hal yang kamu lakukan untuknya.

Betapa tolol ucapmu sambil menghembuskan asap rokok terakhirmu.

Karena sebenarnya kamu tahu bahwa sekarang kamu sedang menabung sakit yang akan kamu tahu akan menyiksamu begitu parah di kemudian hari.

Sudahi saja, dunia memang tidak pernah adil untuk orang sepertimu. Dan tak akan pernah.

Advertisements

Kadang Hidup Selucu Itu

Tapi memang akan tetap pahit untuk ditelan.

Harapan adalah akar dari segala sakit hati di muka bumi ini. Gue menyesal mengetahui hal ini agak terlambat. Setelah gue menaruh banyak harapan gue pada kotak-kotak yang gue pikir akan aman. Yang gue pikir akan membuat hidup jadi lebih menyenangkan untuk dijalani.

Nyatanya, semakin bertambah umur, semakin gue menyadari bahwa kotak-kotak tersebut semakin menyempit, mengecil, bahkan hilang.

Karena rasa takut itu, kadang gue menggenggam terlalu erat kotak tersebut hingga hancur. Hingga akhirnya gue lupa alasan mengapa harapan itu gue taruh di sana.

Sampai akhirnya gue menyerah sendiri, menangis terlalu lama, dan membuang harapan-harapan yang tersisa.

Tahun berlalu dan gue mengoleksi sesuatu yang baru; kesedihan. Sesuatu yang lebih gampang dipupuk dan ditanam. Berbuahnya pun lebih cepat. Namun, memang pahit sekali rasanya.

Tapi ya, bukan berarti hidup akan terasa sesak seperti itu terus. Ini semua akan terlewati. Pelan sekali memang. Tapi akan selesai juga sih pada akhirnya.

Hidup memang tidak akan pernah adil. Terlebih untuk orang-orang seperti gue. Bukan menyalahkan tapi ya dari pengalaman memang seperti itu. Meskipun harus diakui gue memang menyumbang cukup banyak untuk membuat semua menjadi seperti ini.

Telat memang untuk baru menyadari itu semua. Ketika semuanya sudah terlanjur berantakan dan tak ada lagi yang tersisa. Siapa yang menyangka di mana pun gue berada masalahnya akan terus seperti ini. Tuhan lucu, hidup lucu, dan sepertinya mereka mengajak gue untuk tertawa dengan segala ironi ini.

Pun akhirnya gue sadar mau apa pun isinya kotak tersebut. Mau berapa banyak yang dikoleksi. Tidak akan pernah cukup untuk menyakiti sebuah hati. Hati terlalu luas untuk hanya dikerdilkan dengan harapan dan kotak-kotak kesedihan tersebut.

Perlahan, tapi gue percaya ini akan berakhir juga. Sekali lagi, gue menambah satu kotak harapan baru. Semoga yang ini lebih kuat.

Source: https://unsplash.com/photos/LkHXBKpwhZ8

Daftar Film Indonesia Terbaik Tahun 2018

2018 adalah tahun yang menyenangkan untuk film Indonesia, karena di tahun ini lahir film-film dengan tema yang lebih beragam dengan mengangkat cerita keseharian yang lebih dekat dan mengena di hati.

Saya pernah membuat ulasan untuk daftar film Indonesia terbaik tahun 2017 versi saya di sini > Daftar Film 2017.

Berikut daftar film-film Indonesia terbaik 2018 versi Figuran Djakarta:

  1. Love for Sale (Andi Bachiar Yusuf)

Seorang bujang lapuk yang telah lama sendiri mencoba sebuah aplikasi dating yang akhirnya mengubah hidupnya.

Dimainkan dengan sangat menawan oleh duo Gading Martin dan Della Dartyan, chemistry penampilan mereka yang begitu solid menghadirkan ikatan gambaran pasangan yang begitu nyata dan mengharu biru.

Semesta kesendirian dan sepinya kehidupan Gading pun ditangkap dengan begitu dalam oleh sang sutradara. Cerita Love for Sale begitu dekat dan begitu relatable bagi mereka yang masih lajang di usia 30-40an akhir.

Namun, Love for Sale bukan jenis film cinta yang akan membuat seseorang menjerit manja ketika menontonnya, film ini menyajikan spektrum berbeda yang akan memberikan lubang kosong panjang setelah selesai menyaksikannya.

Secara pribadi saya nobatkan film ini sebagai film terbaik Indonesia tahun 2018 baik dengan kelebihan dan kekurangannya.

Review lengkapnya bisa dibaca di sini > Love for Sale.

2. Sekala Niskala (Kamila Andini)

Begitu mistis, begitu mengharukan.

Cerita tentang Tantri yang kehilangan Tantra (kembarannya yang koma) dalam diam, namun tak pernah berhenti untuk berjuang dan mencari.

Karena melepaskan adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan kekuatan dan keikhlasan yang suci.

Film ini begitu kaya akan simbol dan emosi. Puncak dari film Sekala Niskala adalah ketika pertahanan Tantri berakhir dalam keputusasaan. Tantri menangis dan mengakhiri tariannya di kamar rumah sakit yang kosong.

Ia tahu ia harus melepas kepedihannya. Tantri akhirnya merelakan Tantra pada akhirnya.

Ketabahan hati Tantri yang tiada dua tersebut menggetarkan hati bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Film ini begitu menyesakkan dan indah dalam waktu bersamaan.

Review lengkapnya bisa dibaca di sini > Sekala Niskala.

3. Aruna dan Lidahnya (Edwin)

Dian Sastro menjadi bintang yang begitu menawan dan kembali mengingatkan kita mengapa dia menjadi aktris paling disukai sepanjang karirnya. Terlebih lewat aktingnya di film Aruna dan Lidahnya Dian Sastro berakting dari ujung rambut hingga detail-detail kecil yang begitu intim.

Ansamble pemain lainnya seperti Nicholas Saputra, Hannah dan Oka Antara melengkapi kekuatan dan dinamika film ini.

Cerita tentang makanan dan misteri korporasi di dalamnya membuat film ini begitu menarik untuk diikuti. Manisnya kisah cinta antar karakter menjadikan bumbu paling sedap yang pernah ada sepanjang tahun 2018.

Review lengkapnya bisa dibaca di sini > Aruna dan Lidahnya.

4. Teman Tapi Menikah (Rako Prijanto)

Diangkat dari sebuah buku, film Teman Tapi Menikah hadir dengan begitu menggemaskan dan romantis.

Kisah cinta terpendam khas remaja menjadi jalinan plot yang mungkin gampang ditebak namun sulit untuk ditolak.

Akhirnya untuk sekian lama Indonesia memiliki film romantic comedy yang tidak menjijikan dan cukup manis pada porsinya. Duet Vannesa dan Adipati pun layak untuk diberikan acungan jempol.

Review lengkapnya bisa dibaca di sini > Teman Tapi Menikah.

5. Hoax/Rumah dan Musim Hujan (Ifa Isfansyah)

Film paling seru, cerdas, dan mencekam yang pernah saya saksikan sepanjang 2018.

Kisah-kisah janggal di dalamnya akan membuat siapa pun akan marah dan semakin bertanya-tanya ketika selesai menontonnya. Misteri yang dibalut dalam tiap framenya memberikan efek seru yang membekas dan tidak akan berhenti membahasnya.

Film ini bisa menjadi sajian yang menarik bagi yang menyukai film misteri dan drama horor di dalamnya.

Review lengkapnya bisa dibaca di sini > Hoax/Rumah dan Musim Hujan

6. Tengkorak (Yusron Fuadi)

Film Tengkorak terasa sekali sebagai film eksperimen yang penuh dengan lika liku konspirasi politik dan ilmu pengetahuan dengan action yang berlari-larian.

Premis film ini adalah tentang perebuatan akan pengetahuan yang berada pada fosil raksasa di Yogyakarta. Dengan lapisan plot yang penuh dengan data dan kemungkinan-kemungkinan politik yang menggemparkan, film Tengkorak berhasil mengedepankan kecemasan dan ketegangan cerita lewat eksekusi-eksekusi yang lugas meski kadang berulang.

Akan ada kekurangan-kekurangan di sana sini yang begitu gampang ditemukan. Namun visi film Tengkorak begitu mengena dengan pertaruhan rasa kemanusiaan yang dicoba ejek dalam film ini.

Film Tengkorak mampu hadir sebagai tontonan alternatif yang akan menyegarkan perfilman Indonesia.

7. Kulari ke Pantai (Riri Riza)

Miles mungkin berusaha untuk mengulang kesuksesan terdahulunya yaitu Petualangan Sherina. Film anak yang begitu bagus dan menjadi tanda akan kebangkitan film nasional tahun 2000 silam.

Kulari ke Pantai bukan film yang buruk. Narasi yang disampaikan jelas tentang bagaimana kontras antara dua anak yang terdiskoneksi satu sama lain. Yang satu berusaha untuk tampil sangat hip dan satu lagi begitu natural dan bersatu dengan alam. Dan sepanjang film kita akan menyaksikan bagaimana dua anak tersebut berusaha untuk memahami satu sama lain menuju tujuan mereka masing-masing.

Filmnya lucu dan mengena di hati. Hangat dengan sentuhan cerita keluarga dan riang dengan nyanyian yang seru.

Namun, demografis yang dicoba direkam oleh film ini masih berada dalam kelas perkotaan dan tidak terlalu mengena pada lingkup lebih broad yang berhasil ditangkap oleh film Petualangan Sherina.

Belum lagi beberapa tempelan tentang aktivitas girlband dll terlalu terasa sangat memaksakan.

Namun film ini tetap menarik untuk disaksikan bersama keluarga dan si kecil.

8. Milly & Mamet (Ernest Prakasa)

Ernest Praksa hadir dengan begitu gemilang lewat cerita dalam film Milly & Mamet. Kelucuan dalam film ini terasa pas dengan komposisi drama yang lebih memikat lewat kehebatan akting dua tokohnya Sissy Priscillia dan Dennis Adhiswara.

Kekosongan dalam plot akan bagaimana Milly dan Mamet bersama dikisahkan dengan begitu romantis dan dekat dengan para penontonnya.

Tidak ada yang berlebihan dalam film ini, semua terasa membumi dan masuk akal terlebih bagi mereka para pasangan muda yang baru memiliki anak.

Film ini menutup 2018 dengan keseruan dan kehangatan khas film-film Ernest terdahulu.

Nantikan review lengkap saya tentang film Milly & Mamet di postingan selanjutnya ya!

Selamat tahun baru 2019 dan semoga di 2019 nanti makin banyak film-film Indonesia yang makin seru dan berkualitas!

When you just a same person that you used to hate

Nothing is changed.

I’m still as stupid as I was before. I’m still being a selfish bitch that always wanna winning arguments over everyone else. Got envy frequently for stupid things. And the worst is I do same mistakes all over again.

I don’t even know what is going on right now, my head is full with some crappy thought about quitting and just let go everything.

I lose my focus and forgot about my aim. I hate when I say things that I really don’t mean.

I hate when I must surrounded by people who said were my friends but in fact it only makes me even lonelier.

I feel like is no one cares more than before. I feel like my attitude will gonna destroy the good things that I have right now.

Because what I know;

I hate being outcast. I hate being an outsider. I hate when I lose control over something. I hate when people told me they don’t need to update lil thing about everything to me especially when it comes from someone that I really care. I hate when I don’t make a small talk. I hate when I realized I need something/someone more than it should. 

I hate when I need to swallow my pride.

And I hate when I must let go my feelings because of in the end of the day I will know that person will never know about what I felt and only consider me as no one. Like the way it used to be.

Because above all makes me realize that I still am a loser. And will always be.

But, good news about it, no one cares.

Lauh Mahfuz: Ketika Perasaan Sedekat Nafas Namun Terpisah Rasa

Seorang teman pernah berkata, tidak apa mencinta sesuatu yang tidak dapat dimiliki, karena setidaknya ia pernah berada dalam Lauh Mahfuz seseorang tersebut.

Kami tengah makan siang di suatu akhir pekan, suasana restoran yang santai membuat otak saya bekerja lebih lambat dari biasanya. Yang saya dengar keluar dari mulut teman saya adalah: LO MAMPUS. Marah dong saya. Lalu untuk memastikan, saya bertaya kembali pada teman saya tentang apa yang tadi ia katakan sebelumnya.

Secara perlahan teman saya menyebutkan Lauh Mahfuz dengan begitu khidmat. Seperti ada kerinduan dalam ucapannya. Namanya begitu cantik dan misterius. Ternyata Lauh Mahfuz memiliki arti yang begitu dalam.

Pic from: https://unsplash.com/photos/67rnodKzsRQ

Secara bebas Lauh Mahfuz adalah sebuah kitab kehidupan yang sudah ditulis Tuhan bahkan sebelum manusia itu sendiri lahir.

Dalam kitab tersebut berisi kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh siapa saja yang akan hadir sepanjang manusia itu hidup.

Teman saya meyakini bahwa kehadiran dirinya di dalam hidup seseorang yang ia cintai selama enam tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Ia ada karena sesuatu dan memiliki maknanya sendiri. Meskipun kecil. Dan baginya itu semua sudah cukup. Ia berbahagia karenanya.

Dengan mengetahui fakta tersebut membuat teman saya sedikitnya merasa lebih ikhlas ketika tidak dapat memilikinya.

Karena mungkin cinta memiliki banyak bentuknya. Mungkin cinta dengan versi yang teman saya punya adalah yang terbaik yang bisa ia dapat. Keikhlasan untuk tidak menguasai dan memiliki, namun berbahagia karenanya. Keegoisan lebur dalam kekagumannya. Sesederhana itu. 

Setelah kami menghabiskan menu terakhir kami, ada dorongan yang menyesakkan dalam diri saya untuk menghapus nomor R di handphone saya.

Karena dalam versi saya, entah bentuk cinta apa yang saya punya, pada akhirnya dalam cerita yang saya miliki yang tersisa hanya rasa sakit berkepanjangan yang membosankan.

Dan saya tidak butuh kitab apa pun untuk mengingatkan saya bahwa tidak ada siapa pun yang menginginkan saya berada dalam hidup mereka.

Mungkin ada satu bentuk cinta yang saya butuhkan untuk sekarang. Kedamaian akan rasa sendiri yang tak lagi merongrong mengejek, namun membebaskan.

Karena pada akhirnya tidak semua orang memiliki keberuntungan untuk bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Hidup tidak semudah dan seadil itu. Dan tak akan pernah.

Jika tidak dapat memiliki seseorang yang saya inginkan, setidaknya saya bisa merasa diinginkan meskipun itu hanya dengan diri saya sendiri.